Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 9

   Memasuki masa SMP... Banyak hal yang berubah dari Yuki. Mulai dari pergaulannya, teman – temannya, pelajarannya, gurunya, semuanya. Yuki mengenal tidak hanya teman sekelasnya tapi juga teman lain kelas. Yuki juga mulai menyukai teman cowok di kelasnya yang juga ketua kelasnya. Namanya Hamra. Hamra terkenal pintar, baik, dan ramah. Yuki cukup dekat dengan Hamra. Namun, Yuki selalu merahasiakan hal ini dari siapa pun. Walau menyukai Hamra, Yuki tidak seperti perempuan pada umumnya yang mayoritas caper dengan orang yang disukai. *Caper = Cari perhatian. Yuki hanya berbicara pada Hamra jika perlu.

   Suatu pagi, ketika Yuki baru memasuki kelas, dia melihat teman – temannya sedang mengerumuni papan info di kelasnya. Yuki jadi penasaran dibuatnya, dia pun mencoba melihat, namun hasilnya nihil. Akhirnya Yuki menaruh tasnya dan bertanya pada Reyna.
   “Rey, ada apa sih?” tanya Yuki.
   “Ada apa, apanya, Ki?” tanya Reyna, tak mengerti.
   “Itu... kenapa teman – teman mengerubuti papan info?” tanya Yuki.
   “Ooh itu... Anak – anak OSIS menyelenggarakan pertandingan pencak silat antar kelas.” Terang Reyna.
   “Ooh... kamu ikut, gak?” tanya Yuki. Reyna hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.
   “Kan Hamra ikut...” jawabnya, malu.
   “Apa hubungannya dengan Hamra?” tanya Yuki, menyelidik.
   “Ng... gak apa – apa siih... cumaa... yaa... gitu deeh!” Reyna menjawab tidak jelas membuat Yuki semakin tak mengerti. Jangan – jangan... Reyna juga mengagumi Hamra... Jantung Yuki berdegup kencang.
   “Ka... Kamu suka sama Hamra?” tanya Yuki dengan ekspresi datar.
   “Eh, ng...” Reyna mengangguk. “Siapa sih yang gak suka sama dia? Udah baik, pinter, ramah, ganteng pula.” Kata Reyna. Yuki diam saja.
   “Emangnya, kamu tahu dari mana Hamra ikut?” tanya Yuki.
   “Aku tanya langsung ke dialaah...” jawab Reyna.
   “Oh ya Rey, yang mau ikut daftar ke mana?” tanya Yuki.
   “Ke anak – anak OSIS.” Jawab Reyna.
   “Kamu udah daftar belum, Rey?” tanya Yuki.
   “Nanti pas istirahat...” jawab Reyna.
   “Ooh... ya udah... nanti bareng yaa!” kata Yuki.
   “Iya, tenang aja.” Jawab Reyna sambil mengangguk.
   Ketika istirahat, seusai jajan, Yuki dan Reyna segera mencari salah satu anak OSIS.
   “Kak, aku mau daftar lomba pencak silat antar kelas dong!” kata Reyna.
   “Oh, ya sebentar...” kata kakak OSIS itu sambil masuk ke dalam kelasnya dan mengeluarkan buku catatan OSIS miliknya.
   “Siapa nama lengkapmu?” tanya kakak itu.
   “Aku Reynanda Swardhana kelas 7.9 dan ini Yuki Sifyantika kelas 7.9 juga.” Jawab Reyna. Kakak OSIS itu menulis dengan cepat diselembar kertas.
   “Baiklah... sudah kakak tulis. Terimakasih sudah mendaftar, ya!” ujar kakak OSIS tersebut.
   “Makasih ya, kak!” kata Reyna. Lalu, Yuki dan Reyna pun kembali ke kelas.
   “Gimana? Udah daftar belum?” tanya Hamra kepada Yuki. Yuki hanya mengangguk.       “Ooh... kirain belum...” jawab Hamra.
   “Kamu udah daftar, Ham?” tanya Reyna, nimbrung.
   “Belum... Hehehe...” jawab Hamra sambil cekikikan.
   “Yaah... kalau gitu tadi aku daftarin...” jawab Reyna.
   “Eh, gak perlu... makasih... aku bisa daftar sendiri kok sama temen – temen yang lain.” Jawab Hamra.
   Yuki pun melihat papan info. Lomba akan diadakan setiap sabtu dan minggu hingga lomba selesai dari pukul 10.00 – 16.00.
   “Hmm... sekarang hari senin, berarti masih ada banyak waktu untuk latihan.” Gumam Yuki.
   Sepulang dari sekolah, Yuki segera ganti baju dan makan siang.
   “Bu, ada lomba pencak silat! Aku sudah  mendaftar! Lomba diadakan setiap hari sabtu dan minggu hingga lomba selesai. Aku boleh ikut kan?” tanya Yuki.
   “Yaah... selama kamu bisa membagi waktu dengan belajar siih ibu izinkan.” Jawab ibu, santai.
   “Yee... makasih bu...” sorak Yuki, senang.
   Setelah makan siang, dia bersiap untuk ke rumah pak Yuda.
   “Bu, Yuki ke rumah pak Yuda dan bu Yurika dulu ya!” pamit Yuki.
   “Iya, hati – hati ya!” pesan ibu. Yuki pun berlari menuju rumah pak Yuda dan bu Yurika. Dengan cepat dia menyusuri pasar, dan dia pun sampai di rumah pak Yuda dan bu Yurika.
   “Assalamualaikum...” sapa Yuki.
   “Walaikumsalam... silakan masuk, Yuki.” Sahut bu Yurika. Yuki pun masuk lalu mencium tangan bu Yurika.
   “Bu, ada kabar baik! Aku ikut lomba pencak silat! Dan lombanya diadakan sabtu besok!” cerita Yuki, berapi – api.
   “Oh ya? Bagus deh kalau begitu. Berarti, kamu bisa menyalurkan bakat dan minatmu dong!” komentar bu Yurika. Yuki mengangguk, “Ngomong – ngomong, pak Yuda mana, bu? Kok dari tadi Yuki tidak melihat beliau, ya?” tanya Yuki.
   “Itu dia masalahnya, Ki. Pak Yuda sedang sakit. Akhir – akhir ini, pak Yuda terlalu letih bekerja. Mungkin kamu harus latihan sendiri dulu hingga keadaan pak Yuda kembali normal.” Jelas bu Yurika. Yuki hanya mengangguk, dia diam saja tidak menjawab ucapan bu Yurika itu. Bu Yurika pun bangkit dari tempat duduknya menuju dapur, lalu, tak berselang lama, dia keluar dari dapur sambil membawakan semangkuk bubur untuk Yuki.
   “Nah, sebaiknya, sebelum latihan, kamu makan bubur ayam buatan ibu saja. Supaya semakin semangat latihannya.” Ujar bu Yurika.
   “Terimakasih, bu...” jawab Yuki, singkat. Bu Yurika pun tersenyum.
   “Hmm... enak  sekali... masakan ibu memang selalu enak!” komentar Yuki. Seusai makan, Yuki segera bangkit dari tempat duduknya dan latihan pencak silat sendiri hingga pukul 5 sore, lalu, dia izin untuk pulang. Sesampainya di rumah, dia mandi dan masuk ke kamarnya.
   Tok! Tok! Tok! Bunyi pintu kamar Yuki diketuk. “Masuk!”
   “Dek... tadi waktu kamu pergi ada yang datang mengembalikan buku IPS kamu.” Kata kak Sandy.
   “Oh ya? Siapa namanya, kak?” tanya Yuki. Sejujurnya dia memang lupa memasukkan buku IPS miliknya ke dalam tas ketika hendak pulang dan tadi, sepulang sekolah, dia sempat sibuk mencarinya di kamar hingga membuat kamarnya berantakan dan seperti kapal pecah.
   “Ng... kalau gak salah... Namanya Alhamra Hehanussa deh!” kak Sandy mengingat – ingat.
   “Sekarang bukunya di mana?” tanya Yuki.
   “Tuh di atas meja belajarmu!” jawab kak Sandy.
   “Ooh... ya udah... keluar sana! Gak ada kepentingan lainnya kan?” usir Yuki.
   “Ngusir nih ceritanya?” tanya kak Sandy dengan nada sinis.
   “Iya, kenapa? Masalah buat lo?” jawab Yuki.
   Kak Sandy hanya diam sambil cemberut lalu keluar dari kamar Yuki sambil membanting pintu.
   Keesokkannya di sekolah, Yuki menemui Hamra.
   “Ham... Makasih yaa udah bawa bukuku pulang.” Ujar Yuki.
   “Eh, iya, gak apa – apa kok! Hehehe...” Hamra tidak tahu harus menjawab apa.
   “Ng... eh ya... kamu tahu rumahku dari siapa?” tanya Yuki.
   “Ng... aku... tanya ke temen – temen... kan banyak yang tahu rumahmu.” Jawab Hamra, gugup. Tepat seusai Hamra berbicara, bel masuk berbunyi, Yuki pun duduk di bangkunya.
   Sepulang sekolah, Yuki segera ganti baju dan makan siang. Setelah itu, dia belajar dulu. Lalu segera pergi ke rumah pak Yuda untuk latihan. Dia berpikir pak Yuda pasti sudah sembuh.
   “Assalamualaikum...” sapa Yuki.
   “Walaikumsalam... Eh, Yuki... silakan masuk! Ibu sedang membuat soto ayam.” Sahut bu yurika. Yuki pun masuk.
   “Bu, pak Yuda sudah sembuh?” tanya Yuki.
   “Belum, nak. Kondisinya sama seperti kemarin. Ibu juga tidak tahu... karena itu akhirnya ibu membuatkan bapak soto ayam sesuai permintaannya.” Bu Yurika tampak khawatir.
   “Ooh... semoga pak Yuda cepat sembuh, deh!” jawab Yuki.
   “Mau soto ayam?” tawar bu Yurika.
   “Boleh! Apa sih yang dimasak bu Yurika yang aku tolak? Hehehe...” goda Yuki. Akhirnya, Yuki memakan soto ayam itu. Seusai makan, Yuki pun memutuskan untuk latihan sendiri hingga pukul 5 sore seperti kemarin. Lalu ia pulang dan mandi. Ketika makan malam, Yuki bercerita pada ibunya.
   “Bu, kasihan sekali pak Yuda... Beliau sakit beberapa akhir ini. Jadi, aku latihan sendiri, deh!” cerita Yuki, sendu.
   “Semoga saja beliau cepat sembuh, ya!” jawab ibu.
   Keesokkan harinya, pak Yuda belum juga sembuh, hari berikutnya pun sama hingga tibalah hari jumat.
   “Bu, Yuki ke rumah pak Yuda dulu, ya!” kata Yuki sembari mengikat tali sepatunya.
   “Iya, be careful.” Jawab ibu, singkat.
   Dengan cepat, Yuki pun sudah sampai di depan rumah pak Yuda.
   “Assalamualaikum...” sapa Yuki.
   “Walaikumsalam... Yuki... silakan masuk!” jawab bu Yurika. Yuki pun masuk ke rumah pak Yuda dan mencium tangan bu Yurika.
   “Bu, apakah pak Yuda sudah sembuh?” tanya Yuki, pada bu Yurika dengan wajah iba.
   “Sayang sekali, belum nak... malahan sepertinya, sakitnya semakin parah.” Jawab bu Yurika, sendu.
   “Apakah sudah diperiksa ke dokter?” tanya Yuki.
   “Beliau menolaknya, nak.” Jawab bu Yurika.
   “Kenapa tidak dipaksakan saja, bu? Kasihan pak Yuda kalau begini terus...” jelas Yuki. “Jujur saja, sebenarnya, aku datang ke sini untuk memberitahu bapak dan ibu, besok, pertandingan dimulai pukul 10 pagi hingga 6 sore, aku berharap siih... kalian ikut datang untuk mendukung dan menyaksikanku. Tapi... karena pak Yuda masih sakit yaa... apa boleh buat?”
   “Terimakasih ya Yuki...” jawab bu Yurika sambil tersenyum dan membelai rambut Yuki, lembut. Ada rasa haru di hatinya. Dalam hatinya, dia membenarkan apa yang Yuki katakan. Setelah latihan hingga pukul 5 sore seperti biasa, Yuki pun pulang.
   Sebenarnya, Yuki sedih juga karena pak Yuda tidak bisa melihat pertandingannya secara langsung, padahal selama ini, pak Yuda-lah yang berjasa dan mengajari Yuki hingga seperti ini. Keesokkan harinya di sekolah...
   “Peserta yang mengikuti lomba ini ada 96 murid dari 27 kelas yang ada... Setengah diantaranya adalah anggota ekskul pencak silat. Beri sambutan yang meriah!” kata host laki – laki lomba tersebut. Semua orang yang hadir pun bertepuk tangan.
   “Dari 96 anak yang mendaftar, 48 diantaranya adalah perempuan dan 48 sisanya laki – laki. Nantinya, dari 96 anak akan disaring menjadi 48 anak, lalu disaring lagi menjadi 24, lalul disaring lagi menjadi 12, lalu menjadi 6.” Ujar host yang perempuan.
   “Dan dengan ini, lomba pencak silat antar kelas yang diseleggarakan oleh para anggota OSIS resmi dibuka!” ujar kedua host, bersamaan. Tepuk tangan riuh rendah mengiringi irama musik yang ada. Sangat meriah!
   “Dan tentu saja, pemenang perempuan dan pemenang laki – laki akan dibedakan. Dalam lomba ini, perempuan tidak akan melawan laki – laki maupun sebaliknya. Dan para peserta, akan membawa nama kelas mereka masing – masing.” Jelas host laki – laki.
   “Oh ya, karena ada perlombaan perempuan dan ada perlombaan laki – laki, lapangan ini diberikan pembatas yang memisahkan arena pertandingan perempuan dengan laki – laki. Jadi, dua pertandingan di pertandingkan secara sama – sama setiap harinya.” Terang host perempuan.
   “Dan piala di depan saya ini berisikan, juara 1, juara 2, juara 3, harapan 1, harapan 2, harapan 3, juara terfavorit, juara sportifitas, juara partisipasi, dan tentu saja piagam JUARA UMUM untuk kelas yang paling banyak mendapatkan penghargaan.” Jelas kedua host bersama – sama. Semua pengunjung dan penonton bertepuk tangan riuh sekali.
   Lalu perlombaan pun dimulai. Tentu saja pertandingan sangat seru dan menegangkan.
   “Peserta kali ini adalah Yuki Sifyantika dari kelas 7.9 melawan Melva Harinda Noviansari dari kelas 7.7. Beri tepuk tangan yang meriah untuk mereka semua...” ujar host perempuan.
   “Yuki.. ada kabar buruk...” kata kak Sandy yang berlari menghampiri Yuki.
   “Aduh kak Sandy... namaku sudah dipanggil... cepat jelaskan... ada apa?” tanya Yuki.
   “Pak Yuda masuk rumah sakit...” kata kak Sandy.
   “Benarkah?! Kakak tahu dari siapa?” tanya Yuki.
   “Yuki.. cepat Yuki... Namamu sudah dipanggil dari tadi...” kata Reyna.
   “Tahu dari bu Yurika, Ki. Nanti, sepulang dari pertandingan, kita akan langsung menjenguknya.” Kata kak Sandy.
Lalu sambil sedikit berlari, Yuki menuju arena pertandingan. Sebelum pertandingan dimulai, Yuki memberi hormat kepada lawannya. Sambil membatin di dalam hati, ini semua, pertandingan ini, semuanya ku persembahkan untuk pak Yuda. Batin Yuki. Lalu, pertandingan pun dimulai. Yuki dengan mudah menguasai pertandingan. Yuki tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang sehingga lawannya kewalahan menghadapi serangan dari Yuki.
   “Dan pertandingan dimenangkan oleh Yuki Sifyantika dari kelas 7.9.” kata host perempuan.
   “Selamat, ya! Kau hebat!” puji Melva, lawan tanding Yuki.
   “Kau juga hebat kok, Mel...” jawab Yuki, merendah. Lalu, Yuki pun kembali naik ke atas kursi penonton.
   “Selamat ya, Ki...” ujar Reyna.
   “Makasih ya, Rey...” jawab Yuki. “Good luck, ya!” kata Yuki sambil menepuk pundak Reyna. Reyna hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi perkataan Yuki tersebut.
   Yuki dan Reyna berhasil lolos ke babak 48 besar. Begitu juga dengan Hamra.
   “Ingat semuanya... perlombaan akan dilanjutkan besok pada jam yang sama... Terimakasih semua hadirin dan peserta yang sudah datang. Bagi peserta yang belum lolos, jangan berkecil hati, cobalah lagi di tahun depan.” Ujar kedua host acara perlombaan tersebut secara bersama – sama diakhir acara.
   Lalu, Yuki dan keluarganya segera pergi menuju rumah sakit tempat pak Yuda dirawat.
   “Kau mau ke mana, Ki?” tanya Reyna yang melihat Yuki cepat – cepat ingin pulang.
   “Aku mau menjenguk guruku. Beliau dirawat di rumah sakit.” Jawab Yuki, terburu – buru sambil membereskan barang bawaannya.
   “Oh, ya sudah deh! Semoga gurumu itu cepat sembuh, ya!” jawab Reyna. Yuki hanya tersenyum sambil mengangguk. Mobil yang ditumpangi ayah, ibu, kak Sandy, dan Yuki pun melaju cepat menuju rumah sakit tempat pak Yuda dirawat. Setelah sampai di rumah sakit, ayah, ibu, kak Sandy, dan Yuki mencari kamar yang dimaksud. Setelah menemukan kamar yang dicari, ayah, ibu, kak Sandy, dan Yuki pun masuk ke dalamnya. Di kamar rumah sakit, tampak pak Yuda tidak sadarkan diri sedang berbaring lemah di atas ranjang.

   “Yuki...” ujar bu Yurika bangkit dari tempat duduknya karena kaget dengan kehadiran Yuki dan keluarganya. “Ibu kira kamu...”
   “Kita kemari setelah aku bertanding, bu. Dan alhamdulillah, aku lolos.” Potong Yuki sambil mencium tangan bu Yurika.
   “Bagaimana keadaan pak Yuda, bu?” tanya kak Sandy pada bu Yurika.
   “Kondisinya melemah.” Jawab bu Yurika.
   “Apa dari tadi pak Yuda tak sadarkan diri?” tanya ibu.
   “Tidak bu, pak Yuda sedang tidur. Tadi pak Yuda sempat bangun dan makan siang lalu tidur kembali.” Jelas bu Yurika.
   “Memangnya, pak Yuda sakit apa, bu?” tanya ayah.
   “Penyakitnya belum jelas, masih dipertanyakan. Dugaan sementara jantung.” Jawab bu Yurika.
   “Sudah sejak kapan pak Yuda di rumah sakit, bu?” tanya Yuki.
   “Kemarin, setelah Yuki pulang, ibu berpikiran bahwa benar apa yang Yuki katakan. Lalu, ibu segera menelpon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.” Jawab bu Yurika.
   “Syukurlah kalau begitu...” ujar ibu.
   “Emangnya, kamu ngomong apa, dek?” bisik kak Sandy.
   “Ih, kepo banget deh!” goda Yuki.    
   “Serius...” desak kak Sandy.
   “Aku dua rius...” jawab Yuki.
   “Ini cius loh!” kata kak Sandy.
   “Iya deh, iyaaa.... nanti ngambek lagi... Hehehe... aku bilang lebih baiknya, pak Yuda dibawa ke rumah sakit saja daripada sakitnya semakin parah.” Jawab Yuki.
   “Ooh... kirain... gitu kenapa dari tadi? Jadi gak perlu bertele – tele, gak perlu lama – lama...” jawab kak Sandy, kesal.
   “Kan mau buat kakak makin kesal...” jawab Yuki sambil menjulurkan lidah.
   “Oke deh bu Yurika, kita pamit pulang dulu, semoga pak Yuda bisa cepat sembuh, ya!” jelas ayah.
   “Ya, supaya bisa melihat pertandinganku di final...” tambah Yuki.
   “Pede banget bakal masuk final...” celetuk kak Sandy.
   “Apa sih kakak... syirik aja sama adiknya yang cantik ini...” jawab Yuki, enteng.
   “Idiih... pedenya badai daah! Takut gue...” jawab kak Sandy.         
   “Iya, iya, bu Yurika berharap bisa melihat Yuki di final bersama pak Yuda, ya!” kata bu Yurika.
   “Asyiik... aku ada yang bela... kakak nggak...” Yuki melompat kegirangan dan menjulurkan lidah ke kak Sandy. Ayah, ibu, dan bu Yurika hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Yuki dan kakaknya. Lalu, Yuki mencium tangan bu Yurika dan pulang bersama keluarganya. Yuki bersiap – siap untuk esok hari. Dimana, 48 peserta akan disaring menjadi 24.
   “Berarti... dua minggu lagi sudah final ya, bu?” tnaya Yuki.
   “Mungkin..., ibu juga tidak tahu. Memangnya, ibu panitia penyelenggaranya?” jawab ibu, santai. Esoknya, Yuki pun bersemangat menuju sekolah bersama keluarganya. Namun, ayah dan ibu tidak bisa menonton, hanya bisa mengantar dan menjemput saja. Yang mensupport Yuki hanyalah kak Sandy.
   “Maka selanjutnya, Yuki Sifyantika dari kelas 7.9 melawan Oktav Varina Ananda dari kelas 7.2. Mana tepuk tangannya?” ajak host perempuan. Yuki pun turun ke arena pertandingan. Setelah memberi hormat, pertandingan pun dimulai. Yuki mengambil nafas dalam – dalam lalu mengeluarkannya dengan tenang demi mengatur jantung supaya tidak berdegup kencang.
   Kali ini, walau Yuki berhasil menguasai pertandingan, dia sempat terkecoh dan hampir saja lengah. Untung saja dia kembali berkonsentrasi. Ronde pertama Yuki menangkan. Walau sempat kesulitan menyerah dan mencari titik lemah lawannya, Yuki akhirnya berhasil menyerang Oktav hingga Oktav terjatuh dan Yuki dinobatkan sebagai pemenang. Yuki pun lolos ke babak selanjutnya. Begitu juga dengan Reyna dan Hamra.
   “Selamat ya, Ki...” kata Reyna.
   “Selamat ya, Rey...” jawab Yuki.
   “Yuki, selamat ya!” ujar Hamra.
   “Oh iya, sama – sama. Selamat juga, Ham.” Jawab Yuki.
“Eh ya, Ki, gimana kabar gurumu itu?” tanya Reyna, mengalihkan pembicaraan karena ternyata Hamra tidak memberinya ucapan selamat.
“Kemarin aku menjenguknya dan dia sedang tidur. Dugaan sementara jantung.” Jawab Yuki.
“Ooh...”
Rasanya seminggu ini terasa sepi tanpa mengunjungi rumah pak Yuda dan mencicipi masakan bu Yurika. Yuki pun terpaksa berlatih sendiri. Walau terkadang ditemani oleh kak Sandy, tapi tetap saja rasnaya berbeda. Untung saja hal itu tidak membuat Yuki sedih dan menyerah. Dia justru ingin berlatih lebih keras untuk menunjukkan kepada pak Yuda usaha dan kerja kerasnya selama ini tidak sia – sia. Ya, walau pun pak Yuda tidak bisa menonton dan mensupport Yuki secara langsung, Yuki tahu pak Yuda tetap melihattnya dari jauh dan berharap dirinya bisa menang.
Tak terasa, hari sabtu pun tiba...
“Dek, tunjukkan yang terbaik! Jangan biarkan hal sekecil apa pun mengganggu pikiran adek, ya!” pesan kak Sandy sebelum Yuki turun ke arena pertandingan.
“Iya kak, makasih!” jawab Yuki lalu segera turun ke lapangan. Lawan Yuki kali ini adalah anak dari kelas 7.4. Walau pun lawannya ini terbilang sulit, dengan semangat yang membara di hati Yuki, Yuki terus menyerang dan mendesak lawannya keluar dari pertandingan. Yuki juga berusaha supaya lawannya itu terjatuh. Dan usahanya itu berhasil! Yuki pun memenangkan pertandingan dan masuk ke 12 besar.
“Selamat ya, Ki... kamu memang hebat!” puji lawan main Yuki kali itu.
“Sama – sama... kau juga hebat kok! Aku juga tadi kewalahan melawanmu...” jawab Yuki, merendah.
“Selamat ya, Ki...” puji Reyna.
“Selamat juga, Rey...” jawab Yuki, sambil tersenyum.
“Selamat ya, Ki...” kata Hamra.
“Selamat juga, Ham...” jawab Yuki.
Di situ, batin Reyna berkata, ‘Kok Hamra nggak kasih aku selamat juga sih? Aku kan juga masuk 12 besar?’ Yuki melihat Reyna dan langsung mengalihkan pembicaraan.
“Eh ya, Ham... Reyna kan juga masuk 12 besar...” Yuki mengingatkan.
“Oh ya? Selamat ya, Rey.. Sorry telat... aku tadi gak lihat pas kamu tampil siih... Hehehe... Sorry banget yaa!” kata Hamra.
“I... iya, makasih...ga apa, kok!” jawab Reyna malu. Ada rasa sedih dan senang di hatinya. Sedih karena ternyata Hamra tidak memperhatikannya selama ini, Hamra justru memperhatikan Yuki. Sedangkan dia senang karena Hamra memberikan ucapan selamat walau pun itu juga Yuki yang mengingatkan. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, ketika Hamra hanya memberikan ucapan selamat pada Yuki, tidak pada Reyna. Reyna mulai merasa iri dengan Yuki.
“Eh, udah dulu ya! Aku mau pulang untuk bersiap – siap buat besok! Bye!” kata Yuki lalu segera berlari menyusul kak Sandy.
Keesokkan harinya... Yuki berangkat ke sekolahnya bersama kak Sandy, karena ayah dan ibu sudah kedatangan banyak pelanggan di kedai sejak pagi. Mereka berangkat ke sekolah Yuki naik sepeda. Yuki membonceng di belakang. Untung saja ketika itu, lomba belum dimulai.
“Peserta pertama... Yuki Sifyantika dari kelas 7.9 melawan Stefani Karlina dari kelas 7.1. ujar host perempuan. Yuki pun turun ke lapangan. Sebelum pertandingan dimulai, mereka memberi hormat terlebih dahulu seperti biasa. Lalu, dia segera menarik nafas dalam – dalam sambil membatin, ‘Apa pun yang terjadi, baik atau buruk, yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin.’
Priiiiit... pertandingan pun dimulai. Yuki sempat terdesak hingga perutnya tertendang dengan sangat keras, tentu sakitnya terasa amat sangat. Namun, dia dengan cepat menguasai pertandingan dan kembali bangkit. Hingga dia pun berhasil menang.
“Dan Yuki adalah peserta perempuan pertama yang masuk grand final! Selamat untuk Yuki...” ujar host perempuan.
“Oh ya, sekedar info, grand final akan berlangsung sabtu minggu depan! Dan diharapkan peserta yang berhasil lolos ke grand final untuk membawa peralatan pencak silat yang dikuasai dan mempraktikkan jurus – jurus dengan menggunakan peralatan pencak silat mau pun tanpa menggunakan peralatan. Peserta juga harus mampu memecahkan kayu dan bata dengan tendangan. Terimakasih.” Yuki kembali ke atas kursi penonton sambil menahan sakit perutnya sehabis ditendang.
“ Ciee yang berhasil lolos ke grand final... selamat ya, Ki...” puji Hamra.
“Terimakasih, Ham... Good luck ya! Semoga kita bisa bersama – sama membawa penghargaan untuk kelas kita.” Jawab Yuki.
“Amin...” jawab Hamra. Namun, Reyna tak berkomentar apa – apa. Tanpa sepatah kata pun dia pergi meninggalkan Yuki. Dia sama sekali tidak peduli pada Yuki. Berbasa – basi sedikit pun tidak. Biasanya, seusai Yuki bertanding, dialah yang pertama kali memberinya ucapan selamat. Bahkan sebelum bertanding pun dia yang mensupport Yuki.
 Tetapi, rasa sakit Yuki sudah berkurang semenjak Hamra menyambut kemenangannya dengan pujian. Rasa sakit karena Reyna yang berubah sikapnya juga rasa sakit diperut Yuki ketika pertandingan tadi.
Good luck ya, Rey...” dukung Yuki.
“Hemm...” jawab Reyna sambil berlalu tanpa tersenyum sedikit pun. Yuki kaget dan tak  mengerti kenapa sikap Reyna seperti itu. Ah, mungkin Reyna terburu – buru. Namun, ketika Reyna selesai bertanding dan memenangkan pertandingan...
“Selamat ya, Rey... Good job!” puji Yuki.
“Hemm...” jawab Reyna, kaku dan sinis sambil meninggalkan Yuki.

Reyna kenapa sih? Kok sikapnya berubah begitu yaa? Jadi dingin sama aku? Batin Yuki mendesir. Ah, mungkin perasaanku saja, atau mungkin dia lelah. Pikir Yuki, lagi. Namun, Yuki tidak terlalu memikirkannya, dia pun memutuskan untuk segera pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar