“Berikutya, Ristiani Madani...Lulus dengan jumlah NEM
27,50!” ujar bu guru membacakan pengumuman kelulusan di depan lapangan.
“Yee... horee... Alhamdulillah...
aku mendapat NEM yang baik... aku tidak menyangkanya... terimakasih ya Allah...
usahaku tidak sia – sia...” sorakku senang hampir menangis bahagia dan tak percaya.
Aku segera melangkah ke depan lapangan diikuti iringan
tepuk tangan yang riuh.
Aku jadi malu niih... aku lalu mengambil surat pemberitahuan NEM itu dan salam
kepada guru – guru yang tersenyum bangga dan memberiku ucapan selamat. Rasanya
hari itu adalah hari yang sangat membanggakan dan mengembirakan. Rasanya hari itu, dunia berputar 180° deeh! Hehehe...
Rasanya aku ingin cepat – cepat pulang dan menunjukkan
hasil NEM-ku yang cukup memuaskan itu kepada kedua orangtuaku. Memang siih...
aku tidak mendapat NEM paling
tinggi di kelas, tapi rasanya bangga sekali bisa membahagiakan dan membanggakan
kedua orangtua. Dan juga berarti, semua orang tidak akan melihatku sebelah mata lagi.
Ya, selama ini, aku terkenal nakal, jahil, susah diberi
nasihat. Semua orang menganggapku bodoh dan seolah tak ada. Banyak yang
meremehkanku dan yakin bahwa aku akan mendapatkan nilai yang buruk, jika
sekarang aku bisa mendapat nilai 27,50 berarti itu sebuah perubahan besar dan
mengejutkan semua orang termaksud aku sendiri. Bahkan aku pernah terancam tidak naik kelas dan dikeluarkan.
Aku tak peduli dengan cibiran teman – temanku yang iri,
yang mendapat nilai di bawahku. Mereka menuduhku menyontek. Yang penting aku
selama ini walau terkenal jahil aku
tidak pernah menyontek. Karena aku selalu memiliki prinsip. Lebih baik mendapat
nilai 10 dengan hasil murni daripada mendapat nilai 100 dengan hasil menyontek.
Sepulang sekolah, aku
menghampiri mamaku.
“Assalamualaikum...” sapaku.
“Walaikumsalam... eeh Risti, sudah pulang, ya?” sahut
mamaku dari dalam rumah. Aku segera mencium
tangan mama.
“Bagaimana
hasil NEM-mu?” tanya mama.
“Alhamdulillah baik, ma. Walaupun Risti tidak mendapat
nilai paling tinggi di kelas, setidaknya, ini hasil yang cukup baik untukku.
Semoga mama tidak kecewa, deh!” jawabku sambil menyodorkan kertas berisi hasil
NEM-ku.
“Tidak, kok! Mama tidak kecewa. Mama justru bangga.
Ternyata usaha mama nge-lesin kamu kesana kemari tidak sia – sia. Selama itu
hasil Risti murni kenapa mama harus kecewa?” jawab mama sambil mencium dan memelukku erat – erat. “Maaf,
ya! Mama tidak bisa hadir tadi. Sebab, pagi – pagi sekali ada urusan mendadak
tadi juga ada meeting sebentar.”
“Aah... tak apa kok, ma, hmm... teman – teman yang lain
juga banyak kok yang orangtuanya nggak datang.” jawabku sambil tersenyum.
Malamnya, saat papa pulang kantor.
“Risti, papa sudah lihat NEM-mu. NEM-mu sangat jauh di
luar dugaan papa. Papa sangat tidak menyangkanya. Sebagai bentuk hadiahnya,
minggu besok, papa dan mama akan mengajakmu ke mall untuk membeli handphone
yang kamu inginkan.” ujar papa.
“Serius pa? Asyiik... terimakasih ya, pa! Risti mau
handphone android...” jawabku, cepat.
“Lho, papa kira kamu mau handphone blackberry yang sedang nge-tren?” papa kaget.
Aku tertawa, “Aku ingin LDL. Lain dari yang lain, pa!”
Papa dan mama tersenyum. Menurutku, jika kita tidak menyukai hal yang sedang nge-tren atau kita
merasa tidak cocok untuk apa diikuti?
“Eit... tapi... tentu saja ada
persyaratannya... kamu harus tetap mempertahankan nilai baikmu di SMP nanti dan
tidak malas belajar. Bagaimana?” tanya papa sambil mengerdipkan sebelah
matanya.
“Apa pun persyaratannya itu, aku
akan berusaha untuk memenuhinya, pa.” Jawabku, bersemangat.
Hari minggu pun tiba.
Di mall sangat ramai, banyak sekali orang – orang yang datang berkunjung.
Maklum, hari itukan hari libur, hari minggu pula. Lengkap deeh! Hehehe...
Toko yang menjual handphone android
ada di lantai paling atas, aku langsung menuju lantai teratas menggunakan
eskalator. Aku berjalan setengah berlari karena tak sabar untuk memilih
handphoneku dan aku yakin papa mamaku tak kalah gesit mengikutiku dari
belakang. Sesampainya di toko itu, aku berucap, “Pa, aku ingin beli yang ini!”
seruku sambil menunjuk salah satu handphone android.
Pedagang yang berjualan di toko itu
terlihat heran padaku. Aku lalu mengernyitkan dahi dan menghadap ke arah
belakang. Namun, saat aku menghadap ke belakang, tidak ku lihat mama atau pun
papa. Tentu saja aku panik. Di mall yang besar dengan orang sebanyak itu tentu
membuatku kebingungan.
Aku segera berkeliling mall dan
mencari kedua orangtuaku, tapi, aku tak bisa menemukannya. Aku yakin sekali
papa dan mama tentu panik juga.
Sementara itu, mama dan papa panik
karena kehilangan aku dan segera mencariku. Mama bahkan hingga menangis dan
terus memanggil – manggil namaku.
“Sebaiknya kita melapor kepada
satpam.” Usul papa. Mama pun mengangguk.
Aku bingung sekali harus berbuat
apa, mau kembali ke lapangan parkir, tentu papa dan mama akan semakin panik dan
sulit mencariku. Aku bingung harus bagaimana dan ke mana. Saat aku terdiam dan
termenung hampir menangis karena panik, terdengar suatu pengumuman.
“PERHATIAN – PERHATIAN! BAGI
PENGUNJUNG MALL YANG BERNAMA RISTIANI MADANI ATAU RISTI DAN BERUMUR 12 TAHUN
DITUNGGU ORANGTUANYA DI PINTU MASUK SELATAN. SAYA ULANGI LAGI, BAGI PENGUNJUNG
MALL YANG BERNAMA RISTIANI MADANI ATAU RISTI DAN BERUMUR 12 TAHUN DITUNGGU
ORANGTUANYA DI PINTU MASUK SELATAN. TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA.”
Waah... itu namaku! Tentu saja kedua
orangtuaku akan melaporkan kehilanganku kepada satpam. Sebaiknya aku segera
menghampiri mereka supaya mereka tidak panik dan khawatir.
Aku segera berlari menuju eskalator
dan menuju lantai dasar. Aku segera menuju pintu masuk selatan dan di sana
sudah ada kedua orangtuaku. Aku segera melesat memeluk mereka. Mama segera
memelukku erat.
“Ke mana saja kamu? Tadi jalanmu
cepat sekali diantara banyak orang, mama papa kewalahan deh mengikutimu. Kamu
tidak dengar mama memanggilmu ya?. Mama sangat khawatir padamu, naak...” ujar
mama sambil menghapus sisa air matanya.
“Maafkan Risti, ma, pa... Risti
telah membuat kalian khawatir dan panik.” Jawabku.
Mama dan papa tersenyum lalu
mengangguk.
“Tapi... kita jadi kan membeli
handphone?” tanyaku.
“Jadi dong! tapi sebaiknya kita
makan siang dulu, yuk! Sudah waktunya makan niih, perut papa sampai keroncongan
mencarimu...” jawab papa sambil mengejekku.
“Oke paa.., aku juga lapar karena
panik” jawabku sambil tertawa.
Pengalaman ini takkan pernah aku
lupakan selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar