Sabtu, 04 Oktober 2014

Lost in Mall

          “Berikutya, Ristiani Madani...Lulus dengan jumlah NEM 27,50!” ujar bu guru membacakan pengumuman kelulusan di depan lapangan.

            “Yee... horee... Alhamdulillah... aku mendapat NEM yang baik... aku tidak menyangkanya... terimakasih ya Allah... usahaku tidak sia – sia...” sorakku senang hampir menangis bahagia dan tak percaya.
            Aku segera melangkah ke depan lapangan diikuti iringan tepuk tangan yang riuh. Aku jadi malu niih... aku lalu mengambil surat pemberitahuan NEM itu dan salam kepada guru – guru yang tersenyum bangga dan memberiku ucapan selamat. Rasanya hari itu adalah hari yang sangat membanggakan dan mengembirakan. Rasanya hari itu, dunia berputar 180° deeh! Hehehe...
            Rasanya aku ingin cepat – cepat pulang dan menunjukkan hasil NEM-ku yang cukup memuaskan itu kepada kedua orangtuaku. Memang siih... aku tidak mendapat NEM paling tinggi di kelas, tapi rasanya bangga sekali bisa membahagiakan dan membanggakan kedua orangtua. Dan juga berarti, semua orang tidak akan melihatku sebelah mata lagi.
            Ya, selama ini, aku terkenal nakal, jahil, susah diberi nasihat. Semua orang menganggapku bodoh dan seolah tak ada. Banyak yang meremehkanku dan yakin bahwa aku akan mendapatkan nilai yang buruk, jika sekarang aku bisa mendapat nilai 27,50 berarti itu sebuah perubahan besar dan mengejutkan semua orang termaksud aku sendiri. Bahkan aku pernah terancam tidak naik kelas dan dikeluarkan.
            Aku tak peduli dengan cibiran teman – temanku yang iri, yang mendapat nilai di bawahku. Mereka menuduhku menyontek. Yang penting aku selama ini walau terkenal jahil aku tidak pernah menyontek. Karena aku selalu memiliki prinsip. Lebih baik mendapat nilai 10 dengan hasil murni daripada mendapat nilai 100 dengan hasil menyontek.
Sepulang sekolah, aku menghampiri mamaku.
            “Assalamualaikum...” sapaku.
            “Walaikumsalam... eeh Risti, sudah pulang, ya?” sahut mamaku dari dalam rumah. Aku segera mencium tangan mama.
            “Bagaimana hasil NEM-mu?” tanya mama.
            “Alhamdulillah baik, ma. Walaupun Risti tidak mendapat nilai paling tinggi di kelas, setidaknya, ini hasil yang cukup baik untukku. Semoga mama tidak kecewa, deh!” jawabku sambil menyodorkan kertas berisi hasil NEM-ku.
            “Tidak, kok! Mama tidak kecewa. Mama justru bangga. Ternyata usaha mama nge-lesin kamu kesana kemari tidak sia – sia. Selama itu hasil Risti murni kenapa mama harus kecewa?” jawab mama sambil mencium dan memelukku erat – erat. “Maaf, ya! Mama tidak bisa hadir tadi. Sebab, pagi – pagi sekali ada urusan mendadak tadi juga ada meeting sebentar.”
            “Aah... tak apa kok, ma, hmm... teman – teman yang lain juga banyak kok yang orangtuanya nggak datang.” jawabku sambil tersenyum.
            Malamnya, saat papa pulang kantor.
            “Risti, papa sudah lihat NEM-mu. NEM-mu sangat jauh di luar dugaan papa. Papa sangat tidak menyangkanya. Sebagai bentuk hadiahnya, minggu besok, papa dan mama akan mengajakmu ke mall untuk membeli handphone yang kamu inginkan.” ujar papa.
            “Serius pa? Asyiik... terimakasih ya, pa! Risti mau handphone android...” jawabku, cepat.
            “Lho, papa kira kamu mau handphone blackberry yang sedang nge-tren?” papa kaget.
            Aku tertawa, “Aku ingin LDL. Lain dari yang lain, pa!”
            Papa dan mama tersenyum. Menurutku, jika kita tidak menyukai hal yang sedang nge-tren atau kita merasa tidak cocok untuk apa diikuti?
            “Eit... tapi... tentu saja ada persyaratannya... kamu harus tetap mempertahankan nilai baikmu di SMP nanti dan tidak malas belajar. Bagaimana?” tanya papa sambil mengerdipkan sebelah matanya.
            “Apa pun persyaratannya itu, aku akan berusaha untuk memenuhinya, pa.” Jawabku, bersemangat.
            Hari minggu pun tiba. Di mall sangat ramai, banyak sekali orang – orang yang datang berkunjung. Maklum, hari itukan hari libur, hari minggu pula. Lengkap deeh! Hehehe...
            Toko yang menjual handphone android ada di lantai paling atas, aku langsung menuju lantai teratas menggunakan eskalator. Aku berjalan setengah berlari karena tak sabar untuk memilih handphoneku dan aku yakin papa mamaku tak kalah gesit mengikutiku dari belakang. Sesampainya di toko itu, aku berucap, “Pa, aku ingin beli yang ini!” seruku sambil menunjuk salah satu handphone android.
            Pedagang yang berjualan di toko itu terlihat heran padaku. Aku lalu mengernyitkan dahi dan menghadap ke arah belakang. Namun, saat aku menghadap ke belakang, tidak ku lihat mama atau pun papa. Tentu saja aku panik. Di mall yang besar dengan orang sebanyak itu tentu membuatku kebingungan.
            Aku segera berkeliling mall dan mencari kedua orangtuaku, tapi, aku tak bisa menemukannya. Aku yakin sekali papa dan mama tentu panik juga.
            Sementara itu, mama dan papa panik karena kehilangan aku dan segera mencariku. Mama bahkan hingga menangis dan terus memanggil – manggil namaku.
            “Sebaiknya kita melapor kepada satpam.” Usul papa. Mama pun mengangguk.
            Aku bingung sekali harus berbuat apa, mau kembali ke lapangan parkir, tentu papa dan mama akan semakin panik dan sulit mencariku. Aku bingung harus bagaimana dan ke mana. Saat aku terdiam dan termenung hampir menangis karena panik, terdengar suatu pengumuman.
            “PERHATIAN – PERHATIAN! BAGI PENGUNJUNG MALL YANG BERNAMA RISTIANI MADANI ATAU RISTI DAN BERUMUR 12 TAHUN DITUNGGU ORANGTUANYA DI PINTU MASUK SELATAN. SAYA ULANGI LAGI, BAGI PENGUNJUNG MALL YANG BERNAMA RISTIANI MADANI ATAU RISTI DAN BERUMUR 12 TAHUN DITUNGGU ORANGTUANYA DI PINTU MASUK SELATAN. TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA.”
            Waah... itu namaku! Tentu saja kedua orangtuaku akan melaporkan kehilanganku kepada satpam. Sebaiknya aku segera menghampiri mereka supaya mereka tidak panik dan khawatir.
            Aku segera berlari menuju eskalator dan menuju lantai dasar. Aku segera menuju pintu masuk selatan dan di sana sudah ada kedua orangtuaku. Aku segera melesat memeluk mereka. Mama segera memelukku erat.
            “Ke mana saja kamu? Tadi jalanmu cepat sekali diantara banyak orang, mama papa kewalahan deh mengikutimu. Kamu tidak dengar mama memanggilmu ya?. Mama sangat khawatir padamu, naak...” ujar mama sambil menghapus sisa air matanya.
            “Maafkan Risti, ma, pa... Risti telah membuat kalian khawatir dan panik.” Jawabku.
            Mama dan papa tersenyum lalu mengangguk.
            “Tapi... kita jadi kan membeli handphone?” tanyaku.
            “Jadi dong! tapi sebaiknya kita makan siang dulu, yuk! Sudah waktunya makan niih, perut papa sampai keroncongan mencarimu...” jawab papa sambil mengejekku.
            “Oke paa.., aku juga lapar karena panik” jawabku sambil tertawa.

            Pengalaman ini takkan pernah aku lupakan selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar