Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 2

   Sementara itu sejam setelah lampu rumah Yuki dimatikan, di luar rumah, tak jauh dari rumah Yuki, tiga orang menaiki mobil sambil memperhatikan rumah Yuki.

   “Bagus, lampu sudah dipadamkan! Saatnya kalian beraksi!” tukas seseorang dari mereka. Jumlah mereka ada 3 orang, seorang menyetir dan dua orang lainnya ada di belakang.
   Dua orang itu pun menurut dan turun dari mobil, mereka mengendap–endap dan berjalan berjingkat – jingkat supaya tidak terdengar langkahnya.
   Krek!!! Krek!!! Krek!!! Pintu kios telah berhasil terbuka, suaranya cukup keras. Mereka pun menyelinap masuk dengan hati – hati. Baju yang mereka kenakan berwarna hitam menggunakan penutup mulut dan kopiah berwarna hitam pula.
   Namun, tiba – tiba… lampu rumah menyala terang.
   “Hei! Apa yang kalian lakukan! Berhenti!” seru ayah.
   Belum sempat si pelaku mengambil sejumlah uang dikasir, ayah dan kak Sandy sudah menyerang pelaku terlebih dahulu.
   Terjadi perkelahian. Yuki terbangun dan kaget mendapati perkelahian antara ayah dan kakak melawan perampok.
   Namun tiba – tiba salah satu perampok menondongkan pisau pada Yuki.
   Yuki tentu panik sekali dia berteriak. “Ayah… ibu… kakak… tolong aku!” teriaknya sembari menangis.
   Ayah menoleh pada Yuki.
   “Jika kalian ingin anak ini selamat, serahkan uang kalian!” perintah perampok itu.
   “JANGAN ayah!!!” pekik Yuki.
   “Diam kau!” perintah perampok itu.
   Untungnya Yuki memiliki otak yang cukup encer, dia segera menendang kaki si perampok dengan beraninya dan dari belakang, kak Sandy memukul kepala si perampok dengan vas bunga hingga vas bunga itu pecah. Perampok itu pingsan, begitu juga perampok lainnya yang sudah di kalahkan oleh ayah.
   “Hh… syukurlah tidak terjadi apa – apa…” kata ibu sambil memeluk Yuki penuh khawatir. Yuki masih tetap menangis takut.
   “Sandy! Cepat telpon polisi! Sementara itu, ayah akan mengikat para perampok ini.” Perintah ayah.
   Kak Sandy menurut. Ayah sedikit kelelahan. Keluarga Yuki juga lelah karena mereka belum tidur malam. Tapi mereka lega karena kejahatan bisa teratasi. Dan tidak ada uang yang berhasil di curi. Mereka malah menangkap dua orang perampok.
   “Sebaiknya ayah memeriksa keadaan di luar sembari memeriksa gembok kios yang harus diperbaiki besok.” Seru ayah.
   Sementara itu, seorang yang berada didalam mobil yang mengangkut kedua perompak itu menjadi heran apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semua lampu menyala, kenapa terdengar suara gaduh dan kenapa kedua temannya itu lama sekali merampok uang.
   “Merampok uang saja lama sekali!” katanya kesal. “Kalau begitu aku akan memeriksa ke dalam, mungkin aku harus tunjukkan pada mereka bahwa aku perampok handal dengan sendirian saja cepat dan mudah mengambil uang di kasir.”
   Perampok itu turun dari mobil dan mendekati kios itu. Di dekat pintu kios, dia mengintip.
   Wah, teman – temanku sudah tertangkap rupanya, dan pastinya pemilik kios ini akan segera memeriksa keluar. Pikir perampok itu. Perampok itu mengambil kayu yang tergeletak di tanah. Setelah bayangan mendekat.
   BUKKK!!! Suaranya terdengar keras sekali.
   Yuki melepas pelukkan ibunya dan berlari menuju asal suara itu, begitu pula kak Sandy dan ibu.
   “Hah! Itu perampok lainnya!” pekik Yuki.
   Dengan cekatan, kak Sandy mengalahkan perampok itu dengan beberapa jurus andalannya. Walau pun sedikit kewalahan, tetapi perampok itu bisa segera dikalahkan kak Sandy.
   “Huh! Perampok lemah! Amatir!” kata kak Sandy. Lalu segera mengikat perampok yang sudah pingsan itu.
   “Ayaah..!” seru Yuki berlari mendekati ayahnya dan berjongkok di samping ayahnya.
   “Ayaaah…!pekik ibu dan kak Sandy.
   “Kita harus menelpon ambulans.” Seru ibu.
   Tak berselang lama, polisi datang disusul dengan ambulans. Setelah perampok itu tertangkap kepala polisi datang dan mengatakan sesuatu pada ibu. Yuki dan kak Sandy berlari mendekati ibunya.
   “Terimakasih ya nak… mungkin tanpa bantuan kalian perampok yang masih buron itu tidak akan tertangkap. Kami akan memberikan imbalan untuk kalian.” ujar kepala polisi itu.
   “Maaf pak, bukannya kami menolak. Kami hanya butuh uang untuk biaya berobat ayah kami sebab biayanya pasti mahal. Dan kami tidak mempunyai banyak uang.” Jawab kak Sandy polos.
   “Ooh.. begitu yaa, nanti saya bantu bicarakan dengan pihak rumah sakit.… baiklah… kami juga akan berikan biaya ganti rugi untuk kunci kios kalian yang rusak itu. Terimakasih ya bu, anak – anak. Saya permisi dulu..” Seru kepala polisi itu.
   “Iya terimakasih banyak, pak...” seru ibu. Lalu kepala polisi itu berlalu.
   Ibu, Yuki, dan kak Sandy diantar naik mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat untuk menemani ayahnya.
   Selama pemeriksaan, ibu, Yuki, dan kak Sandy menunggu di luar kamar. Lalu, dokter keluar dari kamar ayah.
   “Hm… kondisi terluka di kepala karena terkena pukulan cukup keras sehingga  beliau belum siuman. Do’akan saja yang terbaik untuknya. Saya permisi dulu.” Kata dokter itu sambil tersenyum.
   “Terimakasih dokter…” seru ibu seraya tersenyum. Setelah dokter berlalu Yuki dan keluarganya memasuki kamar ayahnya.
   Di kamar ayahnya, Yuki duduk bersebelahan dengan kakaknya.
   “Kak, kenapa sih kak, kok kakak dan ayah bisa mengalahkan para perampok?” tanya Yuki.
   “Hahaha… itu lho dek… kakakkan belajar ilmu bela diri, namanya pencak silat.” Beber kakaknya.
   “Hah?! pencak silat? Apa itu kak?” tanya Yuki.
   “Pencak silat? Pencak silat itu ilmu bela diri lho… itu lebih cenderung ke penyerangan dibanding pertahanan. Tapi juga diajari jurus pertahanan sih. Itukan bela diri asli dari Indonesia.” Jelas kak Sandy, sedikit bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Yuki.
   “Ooh… tingkatnya menurut apa?” tanya Yuki.
   “Ng…yaa menurut kemampuannya dan ada ujiannya… kalau pemula itu memakai sabuk putih. Selain putih, ada sabuk merah, hitam, cokelat, dan masih banyak lagi, deeh! Kakak siih... gak tahu banyak tentang sabuk, dek.” Jelas kak Sandy.
   “Ooh… kalau kakak sudah sabuk warna apa?” tanya Yuki.
   “Aku? Aku baru merah. Aku baru mulai sejak kelas 4.” Jawab kak Sandy.
   “Kalau ayah?” tanya Yuki lagi.
   “Hitam.” Jawab kak Sandy.
   “Wow!” kata Yuki kagum. Saking dinginnya AC di kamar ayah, Yuki sampai tertidur berselimut selimut putih yang hangat.
   Yuki terbangun saat ibu membuka gordin jendela hingga sinar matahari memenuhi seisi kamar.
   “Cepat bangun! Pagi ini pagi yang cerah!” seru ibu. Yuki segera bangun walau masih terus menguap. Dia melipat selimutnya dan menaruhnya di tasnya.
   Lalu tiba – tiba, terlihat mata ayahnya yang terpejam sudah terbuka.
   “Ayah!!!” pekik Yuki. Yuki dan kak Sandy segera memeluk ayahnya.
   “Ooh… kami kira ayah akan tak kunjung siuman. Perampok memukul kepala ayah dengan keras sehingga terdengar… menyakitkan.” Cerita Yuki.
   “Oh, anak – anak… apa kabar?” tanya ayah.
   “Kabar kami baik yah!” jawab Yuki dan kak Sandy.
   “Bagaimana kepala ayah? Apakah sudah baikan? Atau… masih terasa sakit?” tanya kak Sandy.
   “E… Kepala ayah masih sedikit sakit. Ayah belum pulih sepenuhnya. Jadi, kemungkinan besar ayah belum bisa pulang untuk mengelola kios. Jika kalian mau, pulanglah, dan jagalah kios sekaligus rumah. Tidak usah menemani ayah hingga besok, semoga besok ayah sudah kembali ke rumah!” Ujar ayah.
   “Tapi, kalau terjadi apa – apa, ayah tidak mungkin sendiri.” Bantah ibu.
   “Hmm… benar juga.” Pikir ayah.
   “Begini saja, bagaimana bila ibu yang akan menemani ayah. Kan kamu dan Sandy sudah besar, Yuki. Jadi, kalian yang jaga rumah dan kios. Sehari… saja…” Usul ibu.
   “Oke…” jawab kak Sandy.
   “Tapi, ibu akan mengantarkan kalian pulang dulu, setelah itu, ibu akan kembali ke rumah sakit.” Jelas ibu. Yuki dan kak Sandy mengangguk.
   Yuki senang karena ayahnya sudah siuman dan kondisinya juga sudah membaik. Walau pun terlihat jelas bahwa wajah sang ayah masih pucat, lemas, dan kesehatannya belum kembali normal tapi dia yakin bahwa ayahnya mungkin besok akan kembali ke rumah. Walau pun mungkin ayahnya tidak akan membantu berjualan di kios dulu sampai beberapa hari.
   Yuki keluar rumah sakit bersama kak Sandy dan ibu. Lalu menaiki angkutan umum untuk menuju desa mereka. Sementara itu di rumah, masih terlihat garis batas polisi, dan beberapa warga termasuk pak RT, dan pak kepala desa yang datang mengerumuni. Polisi pun masih memeriksa dan mencari barang bukti atau pun bahan berbahaya yang ditinggalkan perampok.
   Para warga menunggu kedatangan mereka dengan tegang. Setiba di rumah semua warga menyambut dengan suka cita, dan saling menyapa, mereka bertanya kabar mereka, keadaan mereka, kondisi mereka, dan semuanya. Mereka turut berduka saat mendengar kabar ayah Yuki masuk rumah sakit.
   “Biarlah kalian menjaga kios sekaligus rumah. Ibu percaya pada kalian, hati – hati di rumah. Jangan menyetel lagu, radio, dan TV terlalu keras. Jangan biarkan orang yang kalian tidak kenal masuk.” Nasihat ibu.
   “Oke bu!” jawab mereka berdua lalu berpelukkan pada ibunya. Ibu juga mencium pipi dan kening kedua anaknya itu.
   “Ibu akan kembali ke rumah sakit bersama siapa? Sendiri?” tanya kak Sandy.
   “Sama beberapa tetangga yang hendak menjenguk ayahmu.” Jelas ibu.
   “Ooh… hati – hati di jalan ya bu…” kata Yuki.

   “Iya sayang… terimakasih… ibu pergi dulu ya… sudah banyak warga yang menunggu.” Jelas ibu. Yuki dan kak Sandy mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar