Sementara
itu sejam setelah lampu rumah
Yuki dimatikan, di luar rumah, tak jauh dari rumah Yuki, tiga orang menaiki
mobil sambil memperhatikan rumah Yuki.
“Bagus,
lampu sudah dipadamkan! Saatnya kalian beraksi!” tukas seseorang dari mereka.
Jumlah mereka ada 3 orang, seorang menyetir dan dua orang lainnya ada di
belakang.
Dua
orang itu pun menurut dan turun dari mobil, mereka mengendap–endap dan berjalan
berjingkat – jingkat supaya tidak terdengar langkahnya.
Krek!!!
Krek!!! Krek!!! Pintu kios telah berhasil terbuka, suaranya cukup keras. Mereka
pun menyelinap masuk dengan hati – hati. Baju yang mereka kenakan berwarna
hitam menggunakan penutup mulut dan kopiah berwarna hitam pula.
Namun,
tiba – tiba… lampu rumah menyala
terang.
“Hei!
Apa yang kalian lakukan! Berhenti!” seru ayah.
Belum
sempat si pelaku mengambil sejumlah uang dikasir, ayah dan kak Sandy sudah
menyerang pelaku terlebih dahulu.
Terjadi
perkelahian. Yuki terbangun dan kaget mendapati perkelahian antara ayah dan
kakak melawan perampok.
Namun
tiba – tiba salah satu perampok menondongkan pisau pada Yuki.
Yuki
tentu panik sekali dia berteriak. “Ayah… ibu… kakak… tolong aku!” teriaknya
sembari menangis.
Ayah
menoleh pada Yuki.
“Jika
kalian ingin anak ini selamat, serahkan uang kalian!” perintah perampok itu.
“JANGAN
ayah!!!” pekik Yuki.
“Diam
kau!” perintah perampok itu.
Untungnya
Yuki memiliki otak yang cukup encer, dia segera menendang kaki si perampok
dengan beraninya dan dari belakang, kak Sandy memukul kepala si perampok dengan
vas bunga hingga vas bunga itu pecah. Perampok itu pingsan, begitu juga
perampok lainnya yang sudah di kalahkan oleh ayah.
“Hh…
syukurlah tidak terjadi apa – apa…” kata ibu sambil memeluk Yuki penuh khawatir.
Yuki masih tetap menangis takut.
“Sandy!
Cepat telpon polisi! Sementara itu, ayah akan mengikat para perampok ini.”
Perintah ayah.
Kak
Sandy menurut. Ayah sedikit kelelahan. Keluarga Yuki juga lelah karena mereka
belum tidur malam. Tapi mereka lega karena kejahatan bisa teratasi. Dan tidak
ada uang yang berhasil di curi. Mereka malah menangkap dua orang perampok.
“Sebaiknya
ayah memeriksa keadaan di luar sembari memeriksa gembok kios yang harus
diperbaiki besok.” Seru ayah.
Sementara
itu, seorang yang berada didalam mobil
yang mengangkut kedua perompak itu menjadi heran apa yang sebenarnya terjadi,
kenapa semua lampu menyala, kenapa terdengar suara gaduh dan kenapa kedua
temannya itu lama sekali merampok uang.
“Merampok
uang saja lama sekali!” katanya kesal. “Kalau begitu aku akan memeriksa ke
dalam, mungkin aku harus tunjukkan pada mereka bahwa aku perampok handal dengan
sendirian saja cepat dan mudah mengambil uang di kasir.”
Perampok
itu turun dari mobil dan mendekati kios itu. Di dekat pintu kios, dia
mengintip.
Wah,
teman – temanku sudah tertangkap rupanya, dan pastinya pemilik kios ini akan
segera memeriksa keluar. Pikir perampok itu. Perampok itu mengambil kayu yang
tergeletak di tanah. Setelah bayangan mendekat.
BUKKK!!!
Suaranya terdengar keras sekali.
Yuki
melepas pelukkan ibunya dan berlari menuju asal suara itu, begitu pula kak
Sandy dan ibu.
“Hah!
Itu perampok lainnya!” pekik Yuki.
Dengan
cekatan, kak Sandy mengalahkan perampok itu dengan beberapa jurus andalannya.
Walau pun sedikit kewalahan, tetapi perampok itu bisa segera dikalahkan kak
Sandy.
“Huh!
Perampok lemah! Amatir!” kata kak Sandy. Lalu segera mengikat perampok yang
sudah pingsan itu.
“Ayaah..!” seru Yuki
berlari mendekati ayahnya dan berjongkok di samping ayahnya.
“Ayaaah…!” pekik ibu dan kak Sandy.
“Kita
harus menelpon ambulans.” Seru ibu.
Tak
berselang lama, polisi datang disusul dengan ambulans. Setelah perampok itu
tertangkap kepala polisi datang dan mengatakan sesuatu pada ibu. Yuki dan kak
Sandy berlari mendekati ibunya.
“Terimakasih
ya nak… mungkin tanpa bantuan kalian perampok yang masih buron itu tidak akan
tertangkap. Kami akan memberikan imbalan untuk kalian.” ujar kepala polisi itu.
“Maaf
pak, bukannya kami menolak. Kami hanya
butuh uang untuk biaya berobat ayah kami sebab
biayanya pasti mahal. Dan kami tidak mempunyai banyak uang.” Jawab kak Sandy
polos.
“Ooh..
begitu yaa, nanti saya bantu bicarakan dengan pihak rumah
sakit.… baiklah… kami juga akan berikan biaya
ganti rugi untuk kunci kios kalian yang rusak itu. Terimakasih ya bu, anak –
anak. Saya permisi dulu..” Seru kepala polisi itu.
“Iya
terimakasih banyak, pak...”
seru ibu. Lalu kepala polisi itu berlalu.
Ibu,
Yuki, dan kak Sandy diantar naik mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat
untuk menemani ayahnya.
Selama
pemeriksaan, ibu, Yuki, dan kak Sandy menunggu di luar kamar. Lalu, dokter
keluar dari kamar ayah.
“Hm…
kondisi terluka di kepala karena
terkena pukulan cukup keras sehingga beliau belum siuman.
Do’akan saja yang terbaik untuknya. Saya permisi dulu.” Kata dokter itu sambil
tersenyum.
“Terimakasih
dokter…” seru ibu seraya tersenyum. Setelah dokter berlalu Yuki dan keluarganya
memasuki kamar ayahnya.
Di
kamar ayahnya, Yuki duduk bersebelahan dengan kakaknya.
“Kak,
kenapa sih kak, kok kakak dan ayah bisa mengalahkan para perampok?” tanya Yuki.
“Hahaha…
itu lho dek… kakakkan belajar ilmu bela diri,
namanya pencak silat.” Beber kakaknya.
“Hah?! pencak silat? Apa itu
kak?” tanya Yuki.
“Pencak
silat? Pencak silat itu ilmu bela diri lho… itu lebih cenderung ke penyerangan
dibanding pertahanan. Tapi juga diajari
jurus pertahanan sih. Itukan bela diri asli dari Indonesia.”
Jelas kak Sandy, sedikit bingung
bagaimana cara menjelaskannya kepada Yuki.
“Ooh… tingkatnya menurut
apa?” tanya Yuki.
“Ng…yaa menurut kemampuannya dan ada ujiannya…
kalau pemula itu memakai sabuk putih. Selain putih, ada sabuk merah, hitam, cokelat, dan
masih banyak lagi, deeh! Kakak siih... gak tahu banyak tentang sabuk, dek.”
Jelas kak Sandy.
“Ooh…
kalau kakak sudah sabuk warna apa?” tanya Yuki.
“Aku?
Aku baru merah. Aku baru mulai sejak kelas 4.”
Jawab kak Sandy.
“Kalau
ayah?” tanya Yuki lagi.
“Hitam.”
Jawab kak Sandy.
“Wow!”
kata Yuki kagum. Saking dinginnya AC di kamar ayah, Yuki sampai tertidur
berselimut selimut putih yang hangat.
Yuki
terbangun saat ibu membuka gordin jendela hingga sinar matahari memenuhi seisi
kamar.
“Cepat
bangun! Pagi ini pagi yang cerah!” seru ibu. Yuki segera bangun walau masih
terus menguap. Dia melipat selimutnya dan menaruhnya di tasnya.
Lalu
tiba – tiba, terlihat mata ayahnya yang terpejam sudah terbuka.
“Ayah!!!”
pekik Yuki. Yuki dan kak Sandy segera memeluk ayahnya.
“Ooh…
kami kira ayah akan tak kunjung siuman. Perampok memukul kepala ayah dengan
keras sehingga terdengar… menyakitkan.” Cerita Yuki.
“Oh,
anak – anak… apa kabar?” tanya ayah.
“Kabar
kami baik yah!” jawab Yuki dan kak Sandy.
“Bagaimana
kepala ayah? Apakah sudah baikan? Atau… masih terasa sakit?” tanya kak Sandy.
“E…
Kepala ayah masih sedikit sakit. Ayah belum pulih sepenuhnya. Jadi, kemungkinan
besar ayah belum bisa pulang untuk mengelola kios. Jika kalian mau, pulanglah,
dan jagalah kios sekaligus rumah. Tidak usah menemani ayah hingga besok, semoga besok ayah sudah
kembali ke rumah!” Ujar ayah.
“Tapi,
kalau terjadi apa – apa, ayah tidak mungkin sendiri.” Bantah ibu.
“Hmm…
benar juga.” Pikir ayah.
“Begini
saja, bagaimana bila ibu yang akan menemani ayah. Kan kamu dan Sandy sudah
besar, Yuki. Jadi, kalian yang jaga rumah dan kios. Sehari… saja…” Usul ibu.
“Oke…”
jawab kak Sandy.
“Tapi,
ibu akan mengantarkan kalian pulang dulu, setelah itu, ibu akan kembali ke
rumah sakit.” Jelas ibu. Yuki dan kak Sandy mengangguk.
Yuki
senang karena ayahnya sudah siuman dan kondisinya juga sudah membaik. Walau pun
terlihat jelas bahwa wajah sang ayah masih pucat,
lemas, dan kesehatannya belum kembali normal tapi dia yakin bahwa ayahnya
mungkin besok akan kembali ke rumah. Walau pun mungkin ayahnya tidak akan
membantu berjualan di kios dulu sampai beberapa hari.
Yuki
keluar rumah sakit bersama kak Sandy dan ibu. Lalu menaiki angkutan umum untuk
menuju desa mereka. Sementara itu di rumah, masih terlihat garis batas polisi, dan beberapa warga termasuk
pak RT, dan pak kepala desa yang datang
mengerumuni. Polisi pun masih memeriksa dan mencari barang bukti atau pun bahan
berbahaya yang ditinggalkan perampok.
Para
warga menunggu kedatangan mereka dengan tegang. Setiba di rumah semua warga
menyambut dengan suka cita, dan saling menyapa, mereka bertanya kabar mereka,
keadaan mereka, kondisi mereka, dan semuanya. Mereka turut berduka saat
mendengar kabar ayah Yuki masuk rumah sakit.
“Biarlah
kalian menjaga kios sekaligus rumah. Ibu percaya pada kalian, hati – hati di
rumah. Jangan menyetel lagu, radio, dan TV
terlalu keras. Jangan biarkan orang yang kalian tidak kenal masuk.” Nasihat
ibu.
“Oke
bu!” jawab mereka berdua lalu berpelukkan pada ibunya. Ibu juga mencium pipi
dan kening kedua anaknya itu.
“Ibu
akan kembali ke rumah sakit bersama siapa? Sendiri?” tanya kak Sandy.
“Sama
beberapa tetangga yang hendak menjenguk ayahmu.” Jelas ibu.
“Ooh…
hati – hati di jalan ya bu…” kata Yuki.
“Iya
sayang… terimakasih… ibu pergi dulu ya… sudah banyak warga yang
menunggu.” Jelas ibu. Yuki dan kak Sandy mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali
masuk ke dalam rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar