Sabtu, 04 Oktober 2014

Miss Late

     Namaku Kanaya, aku sudah duduk di kelas 7 SMP. Aku memiliki seorang adik bernama Kirana. Aku sering dijuluki Miss Late. Aku dijuluki Miss Late karena aku sering jam karet alias tidak tepat waktu. Oh ya, yang memberikan julukan itu adalah musuh bebuyutanku, Marcell. Tapi julukan itu dulu lho... sekarang, aku sudah berubah. Hehehe... mau tahu kenapa aku dijuluki Miss Late? Dan apa yang membuatku berubah? Baca saja cerita berikut ini!

   “Kanaya... bangun Kanaya... Kanaya... bangun Kanaya...” ujar ibu sambil mengguncangkan tubuhku.
   “Ntar ah, bu!” jawabku.
   “KAK KANAYA!!! BANGUN!!! Nanti aku telat! Hari ini hari Senin kak...” pekik Kirana, adikku yang sudah duduk di kelas 6 SD ini. Aku dan adikku memang hanya berbeda 1 tahun.
   “Iya...” jawabku, malas. Tapi belum juga bangun.
   “Kalau tiduran melulu nanti ketiduran...” kata Kirana. Adikku memang cerewet soal kedisiplinan dan kerajinan. Ku akui, dia memang lebih disiplin dan rajin dibanding aku. Aku ini agak pemalas. Kirana setiap pagi selalu bangun jam 04.30 untuk mandi dan sholat subuh. Lalu merapikan tempat tidur dan membantu ibu menyiapkan makanan. Oh ya, satu lagi, adikku ini tidak pernah ketinggalan sholat 5 waktu, selalu mengerjakan PR, dan selalu belajar.
   Sedangkan aku? Aku setiap hari selalu bangun jam 06.00 dan selalu lupa sholat subuh. Aku jarang belajar. Bahkan jika ulangan pun selalu lupa. Aku baru belajar dan mengerjakan PR bila ibu mengingatkanku. Jika ada tugas di rumah teman, aku selalu terlambat. Bila ada tugas praktek, terkadang aku lupa membawa bahan – bahannya.
   Sebenarnya, dulu sikapku tidak seperti itu. Dulu aku anak yang rajin, bahkan lebih rajin daripada Kirana. Tapi entah kenapa semakin dewasa aku semakin malas. Ibu pernah menasihatiku seperti ini.
   “Kanaya, kamu kan sudah semakin besar, seharusnya semakin rajin dong! Kok semakin hari semakin pemalas?” tanya ibu.
   “He-eh... hehehehe...” jawabku, bingung.
   “Kembalilah seperti semula, menjadi Kanaya yang rajin dan menjadi panutan untuk Kirana, bukan sebaliknya.” nasihat ibu.
   “Kanaya tidak bisa berubah...” kataku, pesimis.
   “Jika dulu kamu bisa rajin, kenapa sekarang tidak bisa?” kata ibu.
   “Bu, hari ini Kirana yang diantar duluan ke sekolah, ya!” kata Kirana, karena jengkel denganku yang tidak kunjung bangun.
   “Oke, selama seminggu, Kirana akan diantar ke sekolah duluan.” kata ibu, supaya aku semakin rajin bangun pagi. Namun aku tak peduli, mau telat, mau dihukum, mau disuruh pulang. Yang penting aku ingin tidur. Ya, aku memang hobi tidur.
   “Oke, oke aku bangun...” kataku, bangun juga.
   Seminggu ini, aku datang telat. Musuh bebuyutanku, Marcell selalu meledekku.
   “Eh, Miss Late... telat mulu... senin dihukum scot jump, selasa dihukum sit up, rabu dihukum push up, hari ini disuruh lari lapangan, jangan – jangan besok jadi OB kali. Hahaha...” ledek Marcell.
   Membuatku malu, walau bu guru menegur Marcell tetap saja aku malu.
   Teet! Teet! Teet! Bel istirahat berbunyi.
   Anak – anak berhamburan keluar kelas.
   “Naya! Tunggu!” panggil Cindy. Aku menoleh.
   “Cindy...” kataku.
   “Naya, lusa jadi kan kita nonton The Lorax?” tanya Cindy.
   “Jadilaah...” jawabku.
   “Aku tunggu jam 10.00 ya!” kata Cindy.
   “Oke!”
   Yang benar saja, keesokan harinya, aku telat lagi. Dan lagi – lagi Marcell meledekku dan  membuatku malu. Bu guru memberiku hukuman double, yaitu lari keliling lapangan 3 kali dan membersihkan kamar mandi.
   Hari Sabtu tiba. Aku bangun pukul 09.30. Aku hampir lupa dengan janjiku dengan Cindy. Aku langsung bergegas mandi dan sarapan. Yang benar saja, aku telat 30 menit dengan waktu yang ku janjikan.
   “Sorry ya, Cind... aku telat...” kataku.
   Dengan wajah kesal, Cindy membuang mukanya. Aku sangat sedih, selain karena aku dan Cindy tidak jadi menonton film The Lorax, Cindy juga marah padaku. Waah... bagaimana caraku meminta maaf?
   Sepulangnya dari mall, ibu menghampiriku.
   “Ada apa? Kok tidak jadi nonton film?” tanya ibu.
   “Tadi, Kanaya datang telat, bu. Cindy marah sama Kanaya karena dia sudah menunggu lama. Kanaya bingung bagaimana caranya meminta maaf.” ceritaku, sedih.
   “Kalau menurut ibu, sifatmu itu harus diubah, Naya... tidak semua orang dapat memaklumi sifatmu itu... ibu yakin, bila kamu mengubah sifatmu itu dan berjanji tidak akan mengulanginya serta meminta maaf pada Cindy, pasti Cindy akan memaafkanmu.” jawab ibu.
   “Tapi bu... susah bu... Kanaya hobi tidur... lagipula Kanaya capai sehabis belajar di sekolah...” belaku.
   “Adikmu jauh lebih capai. Sebab, adikmu kan bimbel sampai jam 14.30. Sedangkan kamu? Kamu kan pulang jam 14.00. Belum bila adikmu ada Try Out. Yaa... bisa dibilang, rasa capainya seperti kamu dulu.” kata ibu.
   Aku terdiam sesaat merenungi nasihat dari ibu.
   “Begini saja, ibu akan memberikan uang saku tambahan bila kamu bangun lebih pagi daripada adikmu, bagaimana?” tanya ibu.
   “Yaah... ibu... pasti Kanaya gak bisa laah...” keluhku.
   “Karena itu, never give up! Ibu yakin, kamu ini anak rajin. Dan bisa rajin seperti adikmu.” kata ibu. “Ibu juga mau kasih tips niih... kamu sebaiknya cepat – cepatan datang ke sekolah sama temanmu. Dengan begitu, kamu akan semakin rajin dan bersemangat bangun pagi.” ujar ibu, lagi.
   “Oke bu... Kanaya akan berusaha!” kataku, mantap.
   Pada awalnya, sulit juga siih bangun pagi. Beberapa hari aku kalah dengan Kirana. Tapi aku sudah bangun lebih cepat daripada hari sebelumnya. Aku juga sudah tidak pernah lupa sholat, belajar, mengerjakan PR, dan pastinya tak pernah telat masuk sekolah.
   “Cindy! Maafin aku ya! Aku janji tidak akan mengulangi sifat burukku itu lagi... buktinya, sekarang aku sudah disiplin...” kataku pada Cindy saat jam istirahat.
   “Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi… jangan diulang lagi yaa...” jawab Cindy sambil tersenyum.
   Semenjak saat itu aku selalu disiplin. Aku tidak mau dijuluki Miss Late. Dan lambat laun, aku terbiasa dengan hidup disiplin. Dan julukan Miss Late itu menghilang. Eh iya, ada kejadian yang hampir ku lupakan untuk ku ceritakan.
   “Maaf bu, saya telat!” kata Marcell. Sudah 4 hari ini dia datang telat.
   Bu guru hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah Marcell.
   “Eh, Mr. Late... telat mulu... senin dihukum scot jump, selasa dihukum sit up, rabu dihukum push up, hari ini disuruh lari lapangan, jangan – jangan besok jadi OB kali. Hahaha...” kataku, gantian meledek.
   Kini justru Marcell yang malu dan seisi kelas tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar