Namaku Kanaya, aku sudah duduk di kelas
7 SMP. Aku memiliki seorang adik bernama Kirana. Aku sering dijuluki Miss Late. Aku dijuluki Miss Late karena aku sering jam karet alias tidak tepat waktu.
Oh ya, yang memberikan julukan itu adalah musuh bebuyutanku, Marcell. Tapi
julukan itu dulu lho... sekarang, aku sudah berubah. Hehehe... mau tahu kenapa
aku dijuluki Miss Late? Dan apa yang membuatku berubah? Baca saja cerita
berikut ini!
“Kanaya...
bangun Kanaya... Kanaya... bangun Kanaya...” ujar ibu sambil mengguncangkan
tubuhku.
“Ntar
ah, bu!” jawabku.
“KAK
KANAYA!!! BANGUN!!! Nanti aku telat! Hari ini hari Senin kak...” pekik Kirana,
adikku yang sudah duduk di kelas 6 SD ini. Aku dan adikku memang hanya berbeda
1 tahun.
“Iya...”
jawabku, malas. Tapi belum juga bangun.
“Kalau
tiduran melulu
nanti ketiduran...” kata Kirana. Adikku memang cerewet soal kedisiplinan dan
kerajinan. Ku akui, dia memang lebih disiplin dan rajin dibanding aku. Aku ini agak pemalas. Kirana setiap
pagi selalu bangun jam 04.30 untuk mandi dan sholat subuh. Lalu merapikan
tempat tidur dan membantu ibu menyiapkan makanan. Oh ya, satu lagi, adikku ini
tidak pernah ketinggalan sholat 5 waktu, selalu mengerjakan PR, dan selalu
belajar.
Sedangkan
aku? Aku setiap hari selalu bangun jam 06.00 dan selalu lupa sholat subuh. Aku
jarang belajar. Bahkan jika ulangan pun selalu lupa. Aku baru belajar dan
mengerjakan PR bila ibu mengingatkanku. Jika ada tugas di rumah teman, aku selalu
terlambat. Bila ada tugas praktek, terkadang aku lupa membawa bahan – bahannya.
Sebenarnya,
dulu sikapku tidak seperti itu. Dulu aku anak yang rajin, bahkan lebih rajin
daripada Kirana. Tapi entah kenapa semakin dewasa aku semakin malas. Ibu pernah
menasihatiku seperti ini.
“Kanaya,
kamu kan
sudah semakin besar, seharusnya semakin rajin dong! Kok semakin hari semakin
pemalas?” tanya ibu.
“He-eh...
hehehehe...” jawabku, bingung.
“Kembalilah
seperti semula, menjadi Kanaya yang rajin dan menjadi panutan untuk Kirana,
bukan sebaliknya.” nasihat ibu.
“Kanaya
tidak bisa berubah...” kataku, pesimis.
“Jika
dulu kamu bisa rajin, kenapa
sekarang tidak bisa?”
kata ibu.
“Bu,
hari ini Kirana yang diantar duluan ke sekolah, ya!” kata Kirana, karena
jengkel denganku yang tidak kunjung bangun.
“Oke,
selama seminggu, Kirana akan diantar ke sekolah duluan.” kata ibu, supaya aku
semakin rajin bangun pagi. Namun aku tak peduli, mau telat, mau dihukum, mau
disuruh pulang. Yang penting aku ingin tidur. Ya, aku memang hobi tidur.
“Oke,
oke aku bangun...” kataku, bangun juga.
Seminggu
ini, aku datang telat. Musuh bebuyutanku, Marcell selalu meledekku.
“Eh,
Miss Late... telat mulu... senin
dihukum scot jump, selasa dihukum sit up, rabu dihukum push up, hari ini disuruh lari lapangan,
jangan – jangan besok jadi OB kali.
Hahaha...” ledek Marcell.
Membuatku
malu, walau bu guru menegur Marcell tetap saja aku malu.
Teet!
Teet! Teet! Bel istirahat berbunyi.
Anak
– anak berhamburan keluar kelas.
“Naya!
Tunggu!” panggil Cindy. Aku menoleh.
“Cindy...”
kataku.
“Naya,
lusa jadi kan kita nonton The Lorax?”
tanya Cindy.
“Jadilaah...”
jawabku.
“Aku
tunggu jam 10.00 ya!” kata Cindy.
“Oke!”
Yang
benar saja, keesokan harinya, aku telat lagi. Dan lagi – lagi Marcell meledekku
dan membuatku malu. Bu guru memberiku
hukuman double, yaitu lari keliling lapangan 3 kali dan membersihkan kamar
mandi.
Hari
Sabtu tiba. Aku bangun pukul 09.30. Aku hampir lupa dengan janjiku dengan
Cindy. Aku langsung bergegas mandi dan sarapan. Yang benar saja, aku telat 30
menit dengan waktu yang ku janjikan.
“Sorry
ya, Cind... aku telat...” kataku.
Dengan
wajah kesal, Cindy membuang mukanya. Aku sangat sedih, selain karena aku dan
Cindy tidak jadi menonton film The Lorax,
Cindy juga marah padaku. Waah... bagaimana caraku meminta maaf?
Sepulangnya
dari mall, ibu menghampiriku.
“Ada
apa? Kok tidak jadi nonton film?” tanya ibu.
“Tadi,
Kanaya datang telat, bu. Cindy marah sama Kanaya karena dia sudah menunggu
lama. Kanaya bingung bagaimana caranya meminta maaf.” ceritaku, sedih.
“Kalau
menurut ibu, sifatmu itu harus diubah, Naya... tidak semua orang dapat
memaklumi sifatmu itu... ibu yakin, bila kamu mengubah sifatmu itu dan berjanji
tidak akan mengulanginya serta meminta maaf pada Cindy, pasti Cindy akan
memaafkanmu.” jawab ibu.
“Tapi
bu... susah bu... Kanaya hobi tidur... lagipula Kanaya capai sehabis belajar di
sekolah...” belaku.
“Adikmu
jauh lebih capai. Sebab, adikmu kan bimbel sampai jam 14.30. Sedangkan kamu?
Kamu kan pulang jam 14.00. Belum bila adikmu ada Try Out. Yaa... bisa dibilang, rasa capainya seperti kamu dulu.”
kata ibu.
Aku
terdiam sesaat merenungi nasihat dari ibu.
“Begini
saja, ibu akan memberikan uang saku tambahan bila kamu bangun lebih pagi
daripada adikmu, bagaimana?” tanya ibu.
“Yaah...
ibu... pasti Kanaya gak bisa laah...” keluhku.
“Karena
itu, never give up! Ibu yakin, kamu
ini anak rajin. Dan bisa rajin seperti adikmu.” kata ibu. “Ibu juga mau kasih
tips niih... kamu sebaiknya cepat – cepatan datang ke sekolah sama temanmu.
Dengan begitu, kamu akan semakin rajin dan bersemangat bangun pagi.” ujar ibu,
lagi.
“Oke
bu... Kanaya akan berusaha!” kataku, mantap.
Pada
awalnya, sulit juga siih bangun pagi. Beberapa hari aku kalah dengan Kirana.
Tapi aku sudah bangun lebih cepat daripada hari sebelumnya. Aku juga sudah
tidak pernah lupa sholat, belajar, mengerjakan PR, dan pastinya tak pernah
telat masuk sekolah.
“Cindy!
Maafin aku ya! Aku janji tidak akan mengulangi sifat burukku itu lagi...
buktinya, sekarang aku sudah disiplin...” kataku pada Cindy saat jam istirahat.
“Baiklah,
aku akan memaafkanmu. Tapi… jangan
diulang lagi yaa...” jawab Cindy sambil tersenyum.
Semenjak
saat itu aku selalu disiplin. Aku tidak mau dijuluki Miss Late. Dan lambat laun, aku terbiasa dengan hidup disiplin. Dan
julukan Miss Late itu menghilang. Eh iya, ada kejadian yang hampir ku lupakan
untuk ku ceritakan.
“Maaf
bu, saya telat!” kata Marcell. Sudah 4 hari ini dia datang telat.
Bu
guru hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah
Marcell.
“Eh,
Mr. Late... telat mulu... senin
dihukum scot jump, selasa dihukum sit up, rabu dihukum push up, hari ini disuruh lari lapangan,
jangan – jangan besok jadi OB kali.
Hahaha...” kataku, gantian meledek.
Kini justru Marcell yang malu dan seisi kelas
tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar