Sabtu, 04 Oktober 2014

Chocolate Addicted

   “Lila... kamu jangan sering – sering makan cokelat, cokelat itu tidak baik karena dapat menyebabkan gigi berlubang.” nasihat kakakku.

   “Nyatanya, selama ini setiap aku periksa gigi 6 bulan sekali ke dokter, tidak ada gigiku yang berlubangkan, kak? Jadi, kakak tenang saja. Aku kan rajin menggosok gigiku.” jawabku.
   Kakakku hanya geleng – geleng kepala sambil bergumam “Dasar anak keras kepala!”
   Kakakku berbeda denganku, bila aku fanatik cokelat, dia anti banget sama yang namanya cokelat. Menurutnya, cokelat itu dapat membuat gigi berlubang, sakit tenggorokan dan lain–lain. Katanya cokelat itu pahit, tidak enak. Tapi menurutku itu semua salah. Berkali – kali kakakku mengingatkanku untuk tidak makan cokelat, tapi nasihat itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
   Kakakku lebih suka stroberi, keju, atau pun vanilla. Kalau pun dia disuruh milih antara minum susu cokelat atau harus minum kopi, dia lebih milih minum kopi dari pada harus minum susu cokelat. Aneh ya? Setiap kali kakakku meminum susu cokelat atau makan – makanan berunsur cokelat, selalu saja kakakku muntah.
   “Kak, Lila pergi dulu ya!” izinku.
   “Kamu mau kemana?” tanya kakakku.
   “Mau jajan.” jawabku.
   Aku segera ngeluyur keluar rumah sambil mengenakan sepatu dan aku segera menaiki sepedaku menuju sebuah mini market yang cukup jauh dari rumah. Maklum, di kompleksku tidak ada warung. Kalau pun harus membeli sesuatu harus ke mini market yang berada di luar kompleks.
Sesampainya di mini market, aku memarkir sepedaku. Lalu aku masuk ke dalam mini market. Aku mengambil keranjang belanjaan dan mulai berbelanja. Aku mengambil beberapa macam wafer cokelat, beberapa kotak susu cokeat, 1 kotak es krim cokelat, beberapa potong permen cokelat batangan dan...ah sudah cukuplah itu untuk persediaan ngemilku lagipula uangku tidak cukup banyak. 
   Setelah membayar semuanya, aku menaruh belanjaanku di keranjang sepeda dan kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah...
   “Apa yang kau beli, nak?” tanya mami.
   Akhirnya mami membantuku membawakan belanjaanku tadi.
   Mami membuka isi belanjaanku itu.
   “Astagfirullah Lila... buat apa kamu belanja cokelat sebanyak ini? Siapa yang mau memakannya?” pekik mama.
   “Ya, ya... Lila tahu, memang Lila gila membeli segini banyak cokelat, tapi cokelat ini gak hanya buat Lila kok! Kalau mama dan papa mau ambil saja di lemari es, kan lumayan aku bisa bawa ke sekolah cokelat – cokelat ini, atau aku kemil saat sedang belajar, nonton Tv, saat sedang lapar dan tak ada makanan, atau saat membaca majalah. Saat pergi keluar juga aku bisa membawa sebagian makanan ini untuk mengemil di perjalanan kan?” kataku.
   “Tapi kamu kira – kira dong sayang... ini terlalu banyak...” jelas papa.
   “Tenang aja, pa. Kan bisa Lila bagi – bagikan pada teman – teman di sekolah.” kataku.
   “Baiklah, tapi tanggung sendiri ya bila cokelat – cokelat itu tidak habis!” terang  papa.
   “Baik, baik. Oke, oke...” jawabku.
   Beberapa hari ini aku sakit batuk tidak sembuh - sembuh. Sudah ke dokter sana sini tapi tetap saja tidak sembuh – sembuh. Sudah sebulan lebih aku tidak boleh minum es, padahal, selain cokelat, aku suka sekali dengan es.
   “Jangan – jangan kamu sakit paru – paru lagi... Hiiii.... serem...” goda kakakku.
   Membuatku takut dan cemberut.
   “Sudah, sudah. Lila, hari ini kita ke pijat refleksi saja ya! Siapa tahu dengan di pijat batukmu dapat sembuh.” ujar mama.
   Aku siih... manggut – manggut saja... Aku sudah hopeless banget....
   Hingga suatu hari, aku dibawa ke seorang yang ahli pijat refleksi. Orang itu berkata pada orangtuaku bahwa aku bukan terkena penyakit batuk tapi aku batuk di karenakan sesuatu yang berlebihan dikonsumsi.
   “Jadi, cokelat yang kamu makan berlebihan dan sulit dicerna, mungkin juga kamu kurang minum air putih setelahnya, akhirnya membuatmu batuk. Kamu tahukan sifat cokelat bagaimana? Lengket.” ujar tukang pijat itu.
   “Terus, bagaimana caranya dong biar aku gak sakit batuk lagi?” tanyaku meringis sedih karena ternyata cokelat menghianatiku. Eh, maksudku bila kita mengonsumsi cokelat kebanyakan ada bahayanya juga ya?
   “Caranya? Minum singkong parut dan puasa makan cokelat.” jawab tukang pijat itu.
   Terus... gimana aku jajan dong? Kan kebanyakan di kantin – kantin, di warung – warung dan di mana pun yang di jual itu cokelat? batinku.
   “Tuh dengerin!” kata kakak padaku, membuatku malu dan menyesal. “Mungkin kamu harus jajan makanan yang mengandung unsur keju. Hihihi...” kakak meledekku karena kakakku tahu aku tidak suka keju. Soalnya keju itu rasanya asin banget... ini kataku, ya?
   “Aku gak mau jajan keju...” tangisku tiba – tiba, soalnya aku membayangkan betapa malangnya nasibku tidak boleh jajan cokelat yang sangat aku sukai. Kan sudah aku bilang...
I cant life without chocolate.
   “Jangan nangis, sayang...” hibur mama sembari memelukku.
   Setelah itu kami pulang ke rumah.
   Aku masih termenung sambil memandangi luar mobil lewat jendela yang sedang di turuni hujan. Bumi juga bersedih karena aku tidak boleh makan cokelat sekarang. Semua orang juga tahu bahwa aku harus berusaha menang dalam peperanganku melawan cokelat. Pikirku.
   “Makanya, kalau orang ngasih nasihat tuh di dengerin...” nasihat papa.
   Aku diam saja sambil manyun.
   Sesampainya di rumah, mama langsung memarutkanku singkong dan memerasnya sehingga menjadi bentuk cairan. Aku pun diminta meminumnya. Ku kira rasanya enak seperti santan atau susu. Tapi saat diminum rasanya... hiaaak!!!! pahit banget... astagfirullah... Kalau gak percaya coba aja sendiri... pasti rasanya anyir. Setelah sembuh nanti aku kurangi makan cokelat deh! Biar gak harus puasa makan cokelat dan minum singkong parut.

   Oh ya, aku dapat satu hikmah lagi, aku harus mendengarkan nasihat kakakku selain untuk menghormati yang lebih tua, kakak juga lebih tahu daripada aku, karena nasihat kakak ternyata berguna untuk kesehatan diriku sendiri. Walau aku malu untuk mengakuinya. Terimakasih, kak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar