“Lila...
kamu jangan sering – sering makan cokelat, cokelat itu tidak baik karena dapat
menyebabkan gigi berlubang.” nasihat kakakku.
“Nyatanya,
selama ini setiap aku periksa gigi 6 bulan sekali ke dokter, tidak ada gigiku
yang berlubangkan, kak? Jadi, kakak tenang saja. Aku kan rajin menggosok
gigiku.” jawabku.
Kakakku
hanya geleng – geleng kepala sambil bergumam “Dasar anak keras kepala!”
Kakakku
berbeda denganku, bila aku fanatik
cokelat, dia anti banget sama yang namanya cokelat. Menurutnya, cokelat itu
dapat membuat gigi berlubang, sakit tenggorokan dan lain–lain. Katanya cokelat
itu pahit, tidak enak. Tapi menurutku itu semua salah. Berkali – kali kakakku
mengingatkanku untuk tidak makan cokelat, tapi nasihat itu hanya masuk telinga
kiri dan keluar telinga kanan.
Kakakku
lebih suka stroberi, keju, atau pun vanilla. Kalau pun dia disuruh milih antara
minum susu cokelat atau harus minum kopi, dia lebih milih minum kopi dari pada
harus minum susu cokelat. Aneh ya? Setiap kali kakakku meminum susu cokelat
atau makan – makanan berunsur cokelat, selalu saja kakakku muntah.
“Kak,
Lila pergi dulu ya!” izinku.
“Kamu
mau kemana?” tanya kakakku.
“Mau
jajan.” jawabku.
Aku
segera ngeluyur keluar rumah sambil mengenakan sepatu dan aku segera menaiki
sepedaku menuju sebuah mini market yang cukup jauh dari rumah. Maklum, di
kompleksku tidak ada warung. Kalau pun harus membeli sesuatu harus ke mini
market yang berada di luar kompleks.
Sesampainya di mini
market, aku memarkir sepedaku. Lalu aku masuk ke dalam mini market. Aku
mengambil keranjang belanjaan dan mulai berbelanja. Aku mengambil beberapa macam wafer cokelat, beberapa
kotak susu cokeat, 1 kotak es krim cokelat, beberapa potong permen cokelat
batangan dan...ah sudah cukuplah itu untuk persediaan ngemilku lagipula uangku
tidak cukup banyak.
Setelah
membayar semuanya, aku menaruh belanjaanku di keranjang sepeda dan kembali
pulang ke rumah. Sesampainya di rumah...
“Apa
yang kau beli, nak?” tanya mami.
Akhirnya
mami membantuku membawakan belanjaanku tadi.
Mami membuka isi
belanjaanku itu.
“Astagfirullah Lila... buat apa kamu
belanja cokelat sebanyak ini? Siapa yang mau memakannya?” pekik mama.
“Ya,
ya... Lila tahu, memang Lila gila membeli segini banyak cokelat, tapi cokelat
ini gak hanya buat Lila kok! Kalau mama dan papa mau ambil saja di lemari es,
kan lumayan aku bisa bawa ke sekolah cokelat – cokelat ini, atau aku kemil saat
sedang belajar, nonton Tv, saat sedang lapar dan tak ada makanan, atau saat
membaca majalah. Saat pergi keluar juga aku bisa membawa sebagian makanan ini
untuk mengemil di perjalanan kan?” kataku.
“Tapi
kamu kira – kira dong sayang... ini terlalu banyak...” jelas papa.
“Tenang
aja, pa. Kan bisa Lila bagi – bagikan pada teman – teman di sekolah.” kataku.
“Baiklah,
tapi tanggung sendiri ya
bila cokelat – cokelat itu tidak habis!” terang
papa.
“Baik,
baik. Oke, oke...” jawabku.
Beberapa
hari ini aku sakit batuk tidak sembuh -
sembuh. Sudah ke dokter sana sini tapi tetap
saja tidak sembuh – sembuh. Sudah sebulan lebih aku tidak boleh minum es,
padahal, selain cokelat, aku suka sekali dengan es.
“Jangan
– jangan kamu sakit paru – paru lagi... Hiiii.... serem...” goda kakakku.
Membuatku
takut dan cemberut.
“Sudah,
sudah. Lila, hari ini kita ke pijat
refleksi saja ya! Siapa tahu dengan di pijat
batukmu dapat sembuh.” ujar mama.
Aku
siih... manggut – manggut saja...
Aku sudah hopeless banget....
Hingga
suatu hari, aku dibawa ke seorang yang
ahli pijat
refleksi. Orang
itu berkata pada orangtuaku bahwa aku bukan terkena
penyakit batuk tapi aku batuk di karenakan
sesuatu yang berlebihan dikonsumsi.
“Jadi,
cokelat yang kamu makan berlebihan dan
sulit dicerna, mungkin juga kamu kurang minum air putih setelahnya, akhirnya
membuatmu batuk. Kamu tahukan sifat cokelat bagaimana? Lengket.” ujar tukang
pijat itu.
“Terus,
bagaimana caranya dong biar aku gak sakit batuk lagi?” tanyaku meringis sedih
karena ternyata cokelat menghianatiku. Eh, maksudku bila kita mengonsumsi
cokelat kebanyakan ada bahayanya juga ya?
“Caranya?
Minum singkong parut dan puasa makan cokelat.” jawab tukang pijat itu.
Terus...
gimana aku jajan dong? Kan kebanyakan di kantin – kantin, di warung – warung
dan di mana
pun yang di jual itu cokelat? batinku.
“Tuh
dengerin!” kata kakak padaku, membuatku malu dan menyesal. “Mungkin kamu harus
jajan makanan yang mengandung unsur keju. Hihihi...” kakak meledekku karena
kakakku tahu aku tidak suka keju. Soalnya keju itu rasanya asin banget... ini
kataku, ya?
“Aku
gak mau jajan keju...” tangisku tiba – tiba, soalnya aku membayangkan betapa
malangnya nasibku tidak boleh jajan cokelat yang sangat aku sukai. Kan sudah aku bilang...
I
can’t
life without chocolate.
“Jangan
nangis, sayang...” hibur mama sembari memelukku.
Setelah
itu kami pulang ke rumah.
Aku
masih termenung sambil memandangi luar mobil lewat jendela yang sedang di
turuni hujan. Bumi juga bersedih karena aku tidak boleh makan cokelat sekarang.
Semua orang juga tahu bahwa aku harus berusaha menang
dalam peperanganku melawan cokelat. Pikirku.
“Makanya,
kalau orang ngasih nasihat tuh di dengerin...” nasihat papa.
Aku
diam saja sambil manyun.
Sesampainya
di rumah, mama langsung memarutkanku singkong dan memerasnya sehingga menjadi
bentuk cairan. Aku pun diminta meminumnya. Ku kira rasanya enak seperti santan
atau susu. Tapi saat diminum rasanya...
hiaaak!!!! pahit banget... astagfirullah... Kalau gak percaya coba aja sendiri... pasti
rasanya anyir. Setelah sembuh nanti
aku kurangi makan cokelat deh! Biar gak harus puasa makan cokelat dan minum
singkong parut.
Oh
ya, aku dapat satu hikmah lagi, aku harus mendengarkan nasihat kakakku selain
untuk menghormati yang lebih tua, kakak juga lebih tahu daripada aku, karena
nasihat kakak ternyata berguna untuk kesehatan diriku sendiri. Walau aku malu untuk mengakuinya. Terimakasih,
kak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar