Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 6

   “Ayah…” seru Yuki.
   “Nanti, ayah dan ibu ingin berbicara sebentar padamu.” Kata ayah.
   “Oh, tentu. Iya yah! Saat makan malam saja ya!” seru Yuki.
   Sepulang dari sekolah, Yuki mencuci tangan, kaki, dan mukanya. Lalu makan siang, sholat zhuhur, dan tidur siang. Sorenya dia belajar, mengerjakan PR, menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawanya besok, dan sholat ashar. Malamnya, seusai sholat mahgrib, mereka makan malam bersama.

   “Apa sih yang ingin ayah dan ibu sampaikan?” tanya Yuki penasaran dan tidak sabaran.
   “Sebenarnya, mendekati UASBN kami hendak melarang kamu untuk latihan pencak silat. Untuk sementara, agar kamu lebih fokus dan konsentrasi pada UASBN. Tentu UASBN lebih penting dibandingkan dengan latihan pencak silat. Kami kira kamu akan tidak bisa menerima hal ini, tapi kamu pasti akan menerimanya kan?” tanya ayah.
   Mendadak sikap Yuki berubah, dia melemas, lesu.
   “Kamu tidak apa – apa kan sayang?” tanya ibu.
   “Aku memang tidak bisa menerima hal ini ibu, tapi Yuki akan berusaha menerimanya.” Jawab Yuki dengan lesu.
   Ibu hanya tersenyum. Seusai makan malam, Yuki mencuci piringnya, lalu sholat Isya, dan langsung tidur di kamarnya.
   Sebenarnya Yuki tidak tidur, dia malah terus menahan kantuk dan tangis. Kenapa sih aku dari dulu sampai sekarang tidak diperbolehkan belajar bela diri pencak silat? Buktinya sekarang saja aku dilarang? Apakah ini memang sudah nasibku? Tapi menurut peraturan bila janji harus dipenuhi tuh! Baru beberapa hari peraturan berjalan tapi, kini saja sudah dikekang. Hari ini memang aku tidak latihan pencak silat, sebab pak Yuda dan ibu Yurika sedang pergi keluar kota, sekalian berdagang kata mereka. Yuki merasa tidak bisa tidur karena terus memikirkan larangan orangtuanya itu. Oh, andai saja pak guru dan ibu guru tahu hal ini pasti mereka akan memberikan solusinya. Hmm… bagaimana besok aku cerita saja pada mereka? Kata mereka kemarin, besok mereka sudah pulang tuh! Benar juga. Sekarang aku harus tidur.
   Tiba – tiba pintu kamar Yuki terbuka, bayangan ibu terlihat.
   “Yuki, apakah kamu sudah tidur?” tanya ibu.
   “Belum bu, ada apa?” jawab Yuki lirih.
   “Kau tidak apa kan dengan keputusan tadi?” tanya ibu lagi.
   “Tidak apa bu. Yuki setuju dengan keputusan yang diambil ayah dan ibu kok.” Jawab Yuki biasa saja.
   “Benar?” tanya ibu meyakinkan. Yuki hanya menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya.
   “Oh ya sudah… ibu kira kamu tidak setuju, sebab sikapmu berubah sih sejak makan malam tadi. Ya sudah ya sayang… have a nice dream, I love you!” ucap ibu sambil mencium pipi Yuki.
   “Selamat malam juga bu!” jawab Yuki lalu setelah ibu keluar Yuki segera mengenakan selimut dan tertidur pulas.
   Keesokkan harinya Yuki menjalankan aktifitas seperti biasa namun tampak sekali dirinya lesu. Pertama – tama dia mandi, gosok gigi, dan sholat subuh, selesai itu dia sarapan pagi, minum susu cokelat dan segera bersiap pergi ke sekolah.
   “Ayah… ibu… Yuki berangkat dulu ya!” pamit Yuki.
   “Iya nak, hati – hati di jalan ya! Nanti mau dijemput atau tidak?” tanya ibu.
   “Terserah ayah sama ibu deh!” jawab Yuki.
    Yuki berjalan menuju rumah sampai ke sekolah. Di sekolah, Yuki belajar, bermain, dan bercanda bersama dengan teman – temannya. Sepulang sekolah, dia ganti baju, makan, sholat zhuhur, dan tidur siang. Sorenya…
   “Bu, Yuki pergi sebentar ya!” pamit Yuki.
   “Kemana?” tanya ibu.
   “Ke rumah temen, ada PR sekaligus tugas kelompok.” Jawab Yuki berbohong.
   “Oh... ya sudah… jangan latihan pencak silat ya!” pesan ibu.
   “Tenang aja kok bu… Yuki nggak akan berbohong. Yuki janji. Assalamualaikum…” jawab Yuki.
   “Walaikumsalam…”
   “Assalamualaikum…” sahut Yuki dari luar sesampainya di rumah pak Yuda.
   “Walaikumsalam… eh Yuki… mau latihan?” tanya bu Yurika.
   “Enggak bu, tidak untuk hari ini, Yuki hanya ingin bercerita alias curhat.” Jawab Yuki.
   “Ooh, ya sudah… ibu buatkan teh ya! Pak Yuda lagi di taman, sedang melukis. Oya, silakan masuk!” ajak bu Yurika. Yuki melepas sandal yang dikenakannya dan mencium tangan bu Yurika. Lalu masuk.
   “Eh pak Yuda… apa kabar?” tanya Yuki sambil mencium tangan pak Yuda.
   “Eh Yuki, kabar bapak  baik. Bagaimana kabarmu sendiri?” tanya pak Yuda.
   “Baik. Lagi melukis apa, pak?” tanya Yuki.
   “Lagi melukis pemandangan aja… bagaimana sekolahmu?” tanya pak Yuda.
   “Alhamdulillah baik… pak, Yuki mau curhat deh! Sekalian minta pendapat bapak.” Jelas Yuki.
   “Ada apa?” tanya pak Yuda.
   “Gini, sebenarnya… Yuki dilarang sama orangtua Yuki untuk latihan pencak silat sampai Yuki selesai UASBN. Yuki sampai berpendapat bahwa keluargaku memang dari awal tidak mau aku ikut bela diri pencak silat.” Cerita Yuki.
   “Tapi kenyataannya bolehkan?” tanya pak Yuda sambil tetap melukis. Yuki diam sejenak lalu mengangguk.
   “Coba sekarang kamu berpikir positif, apa salahnya meninggalkan bela diri pencak silat untuk hal yang lebih penting. UASBN bukan hal yang buruk, UASBN untuk masa depanmu. Coba kamu pikir, kerja kerasmu selama 6 tahun akan sia – sia bila kamu mengalahkan UASBN dibandingkan pencak silat. Orangtuamu hanya tidak mau kau tidak bisa menjawab soal UASBN dengan mudah dan mendapatkan NEM yang rendah.” Nasihat pak Yuda.
   “Apa tidak ada cara lain? Aku masih tetap ingin belajar bela diri pencak silat pak guru…” tanya Yuki.
   “Ada, tunjukkan bahwa kamu tidak menomor duakan UASBN dari pada pencak silat. Dengan begitu mereka pasti memperbolehkanmu. Tapi resikonya tinggi juga, bila begitu bisa-bisa NEM-mu cukup baik bukan baik.” Jawab bu Yurika yang tiba – tiba datang sembari menaruh teh hangat di antara mereka. “Silakan diminum tehnya…”
   “Ini semua tergantung dirimu sendiri Yuki…” jelas pak Yuda.
   “Hm… aku akan menerima usul dari ibu Yurika. Kini, aku latihan hanya hari Jum’at dan dihari sabtu dengan waktu setengah jam saja.. Bagaimana?” tanya Yuki.
   “Kami menerima keputusanmu, tapi kamu sungguh anak perempuan yang ngeyel…” kata bu Yurika. Yuki hanya cengar – cengir sambil tersenyum. Setelah menghabiskan tehnya dan berbincang – bincang sebentar, Yuki pamit dan kembali ke rumahnya untuk pulang. Malamnya…
   “Ayah, ibu… aku ingin bernegosiasi dengan kalian.” kata Yuki.
   “Ada apa nak?” tanya ayah.
   “Yuki ingin tetap latihan pencak silat tapi waktunya dikurangi, latihannya jadi setiap hari jum’at hingga sabtu dan hanya setengah jam. Apakah kalian setuju?” tanya Yuki.
   “Hm… kalau ayah siih setuju, setuju saja…” kata ayah sembari menangguk-anggukkan kepala.
   “Tapi bagaimana jika NEMnya tidak cukup tinggi?” ibu tampak khawatir.
   “Tenang ibu… Yuki berani tanggung jawab kok dengan apa yang Yuki lakukan. Yuki kan sudah besar. Seharusnya ayah dan ibu harus percaya dong pada Yuki!” kata Yuki sambil memberikan jempol dan mengerdipkan mata.
   “Ooh… baiklah…” jawab ibu akhirnya setuju.
   “Benarkah ayah dan ibu setuju? Oh… senang sekali aku! Terimakasih ayah, ibu… aku cinta kalian.” kata Yuki sembari memeluk mereka.
   “Kakak keberatan!” tiba – tiba kak Sandy angkat bicara. “Tahun lalu, kakak tidak boleh tuh latihan pencak silat sebelum lulus UASBN! Masa Yuki yang lebih muda dan bahkan perempuan diperbolehkan? Zaman Yuki sekarang sudah berbeda, UASBN-nya tentu lebih sulit.” kata kak Sandy mengutarakan keberatannnya.
   “Itu karena kakak tidak benar – benar dan tidak tulus latihan pencak silat! Kakak hanya terpaksakan? Lagi pula, apa kakak bisa bertanggung jawab?” bantah Yuki. Kak Sandy terdiam mendengar jawaban dari Yuki.
   “Sudah, sudah… Sandy… jangan suka memulai duluan, tapi keputusan tidak bisa diganggu gugat. Ayah dan ibu setuju dengan usulan Yuki kok!” jawab ayah.
   Itu membuat kak Sandy manyun dan cemberut. Yuki menjulurkan lidahnya. “Salahnya tidak pandai bernegosiasi... Malang nasibmu, nak...” ejek Yuki.
   “Huh! Gak adil!” pekik kak Sandy kesal lalu menuju kamarnya.
   Yuki hanya cekikan saja, akibatnya dia jadi tersedak.
   “Makanya… jangan makan sambil tertawa.” Nasihat ibu sembari menyodorkan segelas air minum untuk Yuki.
   Beberapa minggu sebelum UASBN, Yuki belajar dengan giat dan tekun tapi dia tetap latihan pencak silat. Yuki terlalu giat belajar dan berlatih sehingga kadang – kadang dia tumbang karena sakit, dia juga sering kelelahan. Namun, semangatnya tidak pernah surut.
   Hari yang ditetapkan untuk mengikuti UASBN pun tiba, hati Yuki sendiri agak cenat-cenut. Terbayang di otaknya, apakah nanti aku bisa? Nanti soalnya susah atau mudah? Apakah aku bisa menjawabnya? Ataukah tidak? Namun, sebelum memulainya, Yuki membaca do’a terlebih dahulu, sehingga dirinya menjadi tenang. Cukup banyak soal yang diajukan namun bisa terjawab oleh Yuki.
   Hari – hari tak terasa terlewati dengan cepat. Yuki lega karena tesnya berhasil dia jawab dengan benar dan tenang. Yuki hanya tinggal berharap dirinya mendapatkan NEM cukup bagus.
   Suatu malam saat makan malam, ayah bertanya pada Yuki.
   “Yuki, kamu ingin masuk SMP mana?” tanya ayah.
“Hmm… SMP mana? Waduh! Yuki bingung tuh yah! Yuki  tidak tahu banyak SMP di daerah sini, Yuki kan jarang bermain keluar! Paling cuma latihan pencak silat aja atau belajar di rumah temen!” jawab Yuki menunjukkan wajah bingung.
   “Kalau inginnya masuk SMP swasta atau negri?” tanya ayah lagi.
   “Hmm… mana ya? terserah ayah sama ibu aja! Swasta boleh, negri boleh… yang penting kualitas sekolahnya bagus saja, aku bisa belajar dengan baik bila kualitas sekolahnya baik. Iya gak?” tanya Yuki.
   “Itu siih... tergantung kamu sendiri... kalau kualitas sekolahnya bagus kamunya nggak mau belajar gimana? Hmm… kamu pinginnya SMP seperti apa?” tanya ayah lagi.
   “Hm… kayak apa ya? Yuki bingung yah kalau ditanyain tentang SMP. Tapi, yang jelas, Yuki mau mengusahakan masuk SMP yang ada bela diri pencak silatnya, jadi, Yuki bisa latihan di situ, Yuki lama – lama kasihan juga siih sama pak Yuda dan ibu Yurika kalau terus – terusan mengajari Yuki. Mungkin waktu latihan bersama pak Yuda dan bu Yurika dikurangi, misalnya, biasanya 4 hari, ini jadi 3 hari saja.” Jelas Yuki.
   “Kenapa?” tanya ayah.
   “Lagian… mereka sudah tua… kalau ada apa – apa, Yuki panik, takut Yuki tak bisa membantu mereka kalau mereka tiba – tiba jatuh sakit, nanti Yuki lagi yang disalahin.” Jawab Yuki polos.
   “Tapi, hubungan silaturahmi kalian jangan sampai putus ya!” pesan ibu.
   “Iya bu.” Jawab Yuki. “Tapi yah, kok ayah tanya begitu sih?” Yuki berpaling pada ayahnya.
   “Iya, sebabnya kamukan sebentar lagi mau lulus SD, malu dong! Kamu sudah besar masa tidak tahu mau masuk SMP mana?” jawab ayah.
   “Mmh… gini aja… bagaimana, jika kalian keliling-liling mencari SMP yang bagus, jadi, Yuki tahu SMP yang dia sukai.” Usul ibu.
   “Benar juga usul ibu, baiklah! Cepat tidur Yuki! Besok ikut ayah keliling  mencari SMP yang baik untukmu!” perintah ayah.
   “Iya yah… selamat malam!!!” jawab Yuki dan kak Sandy berbarengan.
   “Selamat malam juga sayang. Have a nice dream…” jawab ayah dan ibu berbarengan.
   Yuki dan kak Sandy memasuki kamar mereka masing – masing dan tak berselang lama mereka tertidur, ayah dan ibu belum tertidur, mereka masih asyik mengobrol dan menonton acara televisi malam.
   “Ayah, apakah ayah sudah mengetahui, akan dimasukkan kemana Yuki bila NEMnya memuaskan?” tanya ibu khawatir.
   “Tenang saja bu… Ayah sudah menemukan sekolah yang baik, yang pantas, yang layak dan pasti Yuki bakalan suka sekolah itu.” Jawab ayah.
   “Ayah yakin?” tanya ibu mencoba meyakinkan.
   “Tentu, tapi itu bila NEM yang didapatkan Yuki baik, bila tidak, ayah akan mengurungkan niat memasukkan Yuki di sekolah itu.” Jelas ayah.
   “Hmm… terus, rencana ayah bagaimana?” tanya ibu.
   “Ayah besok tetap akan membawa jalan – jalan Yuki. Tapi, ayah akan merahasiakan sekolah itu, anggap saja ini ujian untuk Yuki. Kita lihat apakah ada sekolah lain yang berkenan di hati Yuki atau tidak. Sementara itu, sekolah pilihan ayah akan ayah sembunyikan darinya, tapi ayah akan terus memantau dan mencari informasi – informasi penting tentang sekolah itu. Anggap sajalah sekolah pilihan ayah itu adalah sebagai surprise atau hadiah atas NEM Yuki nanti, bagaimana? Apakah ibu setuju?” tanya ayah memberikan usulnya.
   “Hm… ibu setuju…” jawab ibu sembari mengangguk – anggukkan kepalanya tanda setuju.
   “Nah, sudah malam, mari kita tidur!” ajak ayah. Ayah memadamkan lampu ruang keluarga lalu ayah dan ibu masuk ke dalam kamar mereka.
   Keesokkan harinya, Yuki bangun seperti biasa, dia mandi, gosok gigi, dan sholat subuh. Seusai sholat dia langsung membangunkan ayahnya.
   “Yah… ayah… bangun ayah… jadi kan mengantar Yuki keliling  untuk mencari SMP yang baik?” kata Yuki bersemangat sembari membangunkan ayahnya.
   Ayahnya masih mengucek – ucek matanya. “Ini jam berapa sayang?” tanya ayah.
   “Masih jam 07.00 pagi yah…” jawab Yuki.
   “Masih pagi sayang… nanti dulu… ayah masih ngantuk.” Jawab ayah malas.
   “Apa salahnya sih bangun lebih awal untuk bersiap – siap?” kata Yuki membuka selimut sang ayah lalu membuka gordin jendela kamar sehingga sinarnya masuk ke kamar sang ayah.
   “Baik, baik, sayang… tunggu dulu ya!” kata ayah lalu akhirnya mau bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Yuki tersenyum puas.
   Pertama, Yuki diajak ke SMPN 1 di desa Yuki yang cukup dekat. Itu adalah usul dari pak Yuda. Yuki tidak mau masuk sekolah itu nantinya. Dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
   Kedua, Yuki diajak ke SMPN 2 di desa Yuki. SMPN ini adalah usul dari ibu Yurika. Namun Yuki menolaknya.
   Ketiga, Yuki datang ke SMPN 3, SMPN terfavorit di daerahnya. Ini adalah usul dari ayahnya. Namun Yuki masih sama saja tak setuju.
   Giliran SMPN 4 yang ia datangi, itu usulan dari ibunya, namun, ternyata SMP ini tidak berkenan di hatinya.
   Usulan terakhir adalah usulan dari kakaknya, pilihan terakhir yang di tunjukkan ayah, yaitu SMPN 5 tempat kak Sandy sekolah. Namun, Yuki masih saja menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
   Ayah sudah kelelahan mengantar Yuki bolak – balik, ke sana kemari. Tapi hasilnya percuma saja, tidak ada sekolah pun yang memikat hati Yuki. Memang susah syarat yang diberikan Yuki, Yuki menginginkan di sekolahnya nanti ada ekskul pencak silat. Sudah semua orang membujuknya untuk menghentikan syarat itu dan menerima apa adanya. Namun, Yuki tetap kukuh pada pendiriannya.
   “Yuki, kenapa kau tidak mencari syarat lain saja?” usul ibu.
   “Tidak bu! Yuki tidak mau mengubahnya sama sekali! Yuki terlalu cinta akan pencak silat!” jawab Yuki.
   “Pilihlah salah satu sekolah yang menurutmu pantas di antara semua usul itu dek…” nasihat kak Sandy.
   “Maaf kak! Tidak ada yang aku suka! Yang pantas menjadi sekolahku adalah SMP yang mengadakan ekskul bela diri pencak silat tak ada yang lain.” Jawab Yuki.
   Hebat sekali dia! Tidak terbujuk oleh rayuan dan usulan keluarganya yang usulannya pun baik, dia tetap pada pendiriannya bahwa dia hanya ingin masuk sekolah yang memiliki ekskul pencak silat, namun, pada zaman segini susah mencari sekolah yang mempunyai ekskul seperti itu, sebab, perempuan masih tetap dilarang belajar bela diri, semua sekolah tentu takut kehilangan murid dan ditutup oleh pemerintah kan? Ayahnya diam saja sambil membatin.
   “Ayah! Bagaiamana ini yah? Kalau… kalau… Yuki tidak mau memilih SMP – SMP negri yang baik yang telah diusulkan oleh semua anggota keluarga? Dia mau masuk SMP mana?” tanya ibunya cemas dan khawatir.
   “Hm… begini saja, kita lihat hasil NEM Yuki nanti! Bila NEMnya rendah dia terpaksa masuk SMP yang tidak ada ekskul pencak silat, namun, bila NEMnya tinggi, ayah akan berusaha mencari SMP yang memiliki ekskul bela diri pencak silat. Bagaimana?” usul ayah.
   Mau tidak mau Yuki menurut saja, dia hanya bisa berharap mendapatkan NEM yang tinggi sehingga keinginannnya bisa dipenuhi. Sorenya…
   “Bu, Yuki mau pergi latihan ya!” pamit Yuki.
   “Iya Ki… hati – hati di jalan ya Ki! Titip salam buat pak Yuda dan ibu Yurika ya!!!” pesan ibu.
   “Baik bu, Yuki pergi dulu ya! Dah! Assalamualaikum…” kata Yuki.
   “Walaikumsalam…” jawab ibu.
   Yuki berlari menuju rumah pak Yuda dan ibu Yurika.
   Sesampainya di depan rumah mereka, tercium aroma makanan yang lezat.
   “Hm… enak sekali aromanya!” kata Yuki. “Assalamualaikum!!!”
   “Walaikumsalam… silakan masuk Ki!” kata suara dari dalam.
   Yuki melepaskan sandalnya dan menaruhnya di luar.
   “Hm… aromanya enak sekali! Ibu guru lagi memasak apa?” tanya Yuki.
   “Masak sup! Belum jadi, tapi, nanti kamu harus coba ya Ki!” kata ibu Yurika.
   “Pasti bu… oh ya, tadi ibu titip salam buat ibu guru.” Ujar Yuki sembari mencium tangan ibu Yurika.
   “Walaikumsalam…” jawab ibu Yurika sembari tersenyum.
   “Ibu, pak Yuda mana?” tanya Yuki.
   “Di taman belakang, lagi melukis! Datangi aja!” jawab ibu Yurika.
   Yuki lalu menghampiri pak Yuda, setelah salam, mereka latihan pencak silat seperti biasa. Kali ini pelajarannya beda, jurusnya sedikit lebih rumit. Sehingga beberapa kali Yuki salah meniru. Namun, dengan cepat, Yuki menguasai jurus tersebut.
   “Waktunya istirahat!” seru ibu Yurika. “Silakan dimakan supnya!”
   “Terimakasih bu… saya coba ya!” kata Yuki sembari memakan supnya.
   “Hm… enak!” komentar Yuki.
   “Terimakasih…” jawab ibu Yurika.
   “Pak Yuda, ibu Yurika, Yuki boleh cerita sedikit gak?” tanya Yuki.
   “Tentu boleh, ada apa sayang?” tanya bu Yurika.
   “Begini, aku pingiiin… banget masuk sekolah yang mempunyai ekskul bela diri pencak silat. Soalnya biar pencak silatku semakin maju. Tapi, ternyata, sejauh aku mencari sekolah, gak ada sekolah disini yang terdapat ekskul bela diri pencak silat.” Cerita Yuki sendu.
   “Tentu, karena peraturan belum diubah.” Jawab pak Yuda. “Lalu?”
   “Kata ayahku, kalau NEM-ku rendah, aku terpaksa masuk SMPN yang tidak ada ekskul bela diri pencak silatnya. Sedangkan, kalau tinggi, ayahku mau mencari SMP yang memiliki ekskul bela diri pencak silatnya walau pun jauh. Nah, Yuki takut pak. Takut NEM Yuki rendah. Andai saja Yuki tahu hal ini akan terjadi, Yuki pasti akan belajar lebih giat lagi.” Cerita Yuki lagi.
   “Menyesal itu memang selalu datang terlambat, namun, tidak baik lho menyesal sampai menyalahkan diri sendiri. Lupakan saja masalah ini. Lagi pula bukannya kamu anak yang bisa bertanggung jawab?” Nasihat ibu Yurika sambil mengelus lembut punggung Yuki.
   “Tenang aja Yuki… asalkan kamu yakin NEM kamu tinggi dan kamu yakin kamu pantas dan pasti akan masuk SMP yang mempunyai ekskul pencak silat, niscaya kamu pasti akan masuk SMP itu. Itu tergantung keyakinan di hatimu saja. Yakinlah bahwa kamu bisa. Bela diri seluruhnya mengajarkan hal itu. Kalau kamu gak yakin bisa mematahkan kayu dengan satu tendangan pasti kamu tidak akan bisa, sebaliknya, kalau kamu yakin, pasti kamu bisa.” Jelas pak Yuda.
   “Mm… benar juga ya! terimakasih ya pak, ibu.” Kata Yuki sembari tersenyum. Yuki lalu menghabiskan sup dan meminum teh yang juga sudah disediakan. Lalu latihan pencak silat sebentar dan pamit pulang.
   “Terimakasih pak Yuda, bu Yurika. Ini adalah pelajaran yang penting untuk diriku bahwa bila kita sudah berusaha dan yakin, pasti kita bisa.” Kata Yuki sebelum pulang.
   “Sama – sama nak…” jawab bu Yurika sembari tersenyum dan melambaikan tangan. “Hati – hati di jalan ya!” pesan bu Yurika.
   “Iya! Daah!” jawab Yuki sembari tersenyum pada mereka dan berlari pulang.
   Hari pembagian NEM pun datang. Ternyata NEM Yuki 27,50. Cukup memuaskan. Tapi Yuki bingung akan masuk SMP mana.
   “Selamat ya Ki… kamu mau masuk SMP mana Ki?” tanya Angel, sahabat Yuki.
   “Sama – sama Ngel… selamat juga! Aku sedih kita harus berpisah tapi ini demi masa depan kita. Oya… aku gak tahu bakal masuk SMP di mana nih!” jawab Yuki.
   “Semoga kita satu sekolah yaa dan kamu bisa masuk di SMP yang diinginkan.” Do’a Angel.
   “Terimakasih Ngel… semoga saja…” kata Yuki. Mereka lalu berpelukkan. “Kau ingin masuk SMP mana, Ngel?”
   “Rencananya siih masuk SMP 3. SMP terfavorit .” Jelas Angel.
   “Ooh, aku tahu... sekolahnya memang keren. Semoga saja kau diterima yaa!” terang Yuki.
   “Bye! Aku duluan ya!” kata Angel pamit.
   “Ya, daah!” kata Yuki sembari melambaikan tangan. Yuki pulang ke rumah.
   “Assalamualaikum!” sahut Yuki dari depan.
   “Walaikumsalam… eh Yuki silakan masuk!” jawab ibu.
   “Kamu dapat NEM berapa?” tanya kak Sandy tidak sabaran.
   “Sabar dong! Yuki kan masih capek sepulang dari sekolah…” nasihat ibu.
   “Tak apa bu, alhamdulillah Yuki dapat NEM 27,50.” Kata Yuki sembari memberikan selembaran kertas yang bertuliskan hasil Yuki.
   “Alhamdulillah…” kata ibu sembari memeluk Yuki. Malamnya saat makan malam…
   “Ayah, ibu… sebenarnya Yuki mau dimasukkan di SMP mana siih?” tanya Yuki saking penesarannya.
   “Sabar ya Ki… pasti kamu suka sekolah itu.” Jelas ayah.
   Hari berganti hari… ada kabar gembira!
   “Yuki… kamu diterima di sekolah yang ayah pilih!” seru ayah dan ibu bahagia sembari memeluk dan mencium pipi Yuki.
   “Alhamdulillah…” kata Yuki sambil bersujud syukur.
   Kabar itu juga sampai ke telinga pak Yuda dan bu Yurika. Mereka ikut bergembira mendengar kabar itu. Suatu malam…
   “Ayah, ibu terimakasih atas pilihan sekolah kalian. Omong – omong kapan Yuki masuk ke sekolah baru Yuki itu?” tanya Yuki saat makan malam.
   “Minggu depan! Ayah yang akan mengantarkanmu! Kami juga berterimakasih padamu, sebab berkatmu, sekarang anak perempuan di daerah ini bisa belajar bela diri. Kamu pasti bakal senang  karena memiliki banyak teman perempuan yang bisa bela diri juga.” Jawab ayah.
   “Oh ya? Wow! Betapa senangnya aku! Mengapa aku tidak tahu?” tanya Yuki dengan raut wajah gembira dan mata yang berseri – seri.
   “Ayah juga baru diberitahukan pemerintah kemarin tentang penghapusan peraturan yang mengatakan bahwa perempuan tidak boleh belajar bela diri. Kamulah inspirasi semuanya. Kamu anak dalam ramalan itu! Ayah dan ibu tidak menyangka kaulah orangnya. Sekarang daerah kita sedang kembali bangkit. Semua warga sedang bersemangat membangun kembali sarana dan prasarana olahraga yang sudah rusak. Nah, kak Sandy dan kamu harus serta merta membantunya.” Jelas ayah.
   “Pasti! Yuki juga jadi tambah semangat belajar!” kata Yuki menghabisi makanannya.
   Hari senin pun tiba.
   Pagi itu, Yuki bersiap – siap dengan menggunakan seragam. Seragam yang ia masih  kenakan semasa dia SD.
   “Wow! Kamu cantik sekali Yuki.” puji ibu.
   “Terimakasih, bu.” jawab Yuki.
   “Ibu yakin kamu pasti akan sangat kerasan sekolah di sana.” kata ibu.
   “Tapi bu, Yuki sangat gugup hingga deg – degan.” kata Yuki.
   “Tenang saja Yuki... Ibu mendo’akanmu kok! Oh ya hari ini belum belajar, kamu masih diperkenalkan dengan para OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), guru dan tempat–tempat penting di sekolahmu. Kamu juga akan memperkenalkan diri dan berkenalan dengan teman – teman barumu. Tiga hari pertama ini kamu melakukan MOS (Masa Orientasi Siswa).” jelas ibu.
   “Berarti selama tiga hari ini aku MOS ya, bu?”
   “Hmm... ya, mungkin... barangkali begitu.” aneh jawaban ibu. “Ya sudah, sekarang kamu berangkat dulu ya! Nanti kamu telat lho! Sayang kalau telat! Bukankah kau tak sabar ingin segera melihat dan sampai di sekolahmu?” tanya ibu.
   “Iya deh bu, Yuki pamit dulu, ya!” ucap Yuki sembari mencium tangan ibunya.
   “Hati – hati di jalan ya, Ki.” pesan ibu.
   “Iya, bu.” jawab Yuki.
Ayah mengantar Yuki masuk ke sekolah barunya.
   “SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KHUSUS BELA DIRI!” baca Yuki tak percaya. Dia membaca sekali lagi untuk meyakinkan hatinya “SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KHUSUS BELA DIRI!” baca Yuki tak percaya dan ternyata benar! Ini bukan mimpi. Dia mempekik kegeringan sembari melompat – lompat tak habis – habisnya dia bersyukur dan berterimakasih pada ayahnya.
   “Terimakasih ayah! I love you!” kata Yuki sembari memeluk sang ayah.
   “Sama – sama nak… semoga kamu berprestasi di akademik dan pencak silat juga... belajar yang giat ya!” pesan ayahnya.
   “Iya yah! Pasti, Yuki janji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu! Itu adalah janji Yuki sebagai tanda terimakasih Yuki terhadap kalian selama ini.” kata Yuki.
   Yuki pun pamit pada ayahnya lalu setelah ayahnya pulang, Yuki memasuki sekolahnya yang besar itu. Perasaannya sangat senang. Wajahnya berseri – seri membayangkan hal itu seolah mimpi. Halaman sekolahnya luas untuk latihan, dan berbagai piala atas kejuaraan pencak silat tingkat kecamatan hingga nasional didapatkan.
   Wow! Bisakah aku menyumbangkan satu saja piala untuk sekolah ini? Hm… mungkin bisa, tapi itu bisa terjadi bila aku benar – benar tekun berlatih dan belajar. Batin Yuki.
   Sepulang sekolah... Yuki pergi menuju rumah pak Yuda dan bu Yurika.
   “Assalamualaikum!!!” sahut Yuki.
   “Walaikumsalam...” jawab pak Yuda dan bu Yurika. “Eh, Yuki... silakan masuk! Ada apa kemari?”
   “Bapak, ibu! Yuki masuk sekolah yang memiliki ekskul bela diri pencak silat!” cerita Yuki senang.
   “Alhamdulillah... selamat ya Yuki!” kata bu Yurika.

   “Jadi sekarang, Yuki mungkin kemari hanya 3 kali dalam seminggu. Tak apa, kan?” tanya Yuki. Bu Yurika tersenyum sambil mengangguk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar