“Rind... ada surat tuh untukmu!” jelas mama. Ketika Rinda sedang
bermalas – malasan di kamarnya. Rinda tak menjawabnya. Dengan langkah malas,
Rinda segera mengambil surat itu dan membacanya. Seketika mata Rinda berbinar –
binar! Rupanya itu surat dari Lula, lalu juga ada surat dari Gladis dan
Fatimah.
Rinda menimang – nimang ketiga surat itu. Mana yang harus ku baca
duluan yaa? Tanyanya, dalam hati. Akhirnya dia menetapkan untuk membuka surat
dari Lula terlebih dahulu, begini isinya.
Hai Rind, apa kabar?
Ku Harap kau baik – baik saja. Bagaimana dengan sekolahmu yang sekarang?
Bagaimana dengan teman – temanmu di sana? Baik – baik kan? Walau mungkin tidak
ada yang seperti diriku. Hehehe... semoga kau kerasan yaa bersekolah di sana.
Aku merindukanmu,
Rind. Kapan kau akan berkunjung ke sekolahmu yang dulu? Aku harap, dalam waktu
dekat ini, kita dapat bertemu dan berkumpul kembali. Aku harap, hubungan kita
tidak pernah terputus yaa hingga dewasa nanti dan kita akan tetap bersahabat.
Oh ya, aku sengaja
mengirim surat untukmu sebab, aku ingin membuat sedikit kejutan untukmu jadi...
kau tidak perlu sedih dan berat berpisah dengan kami yaa! Hehehe...
Sekian ya, Rind. Ku
tunggu balasan surat darimu.
Lula Andiani Cantika
Rinda jadi terharu membacanya, namun, karena rasa penasarannya
dengan surat dari Gladis dan Fatimah, dia pun belum menulis jawaban untuk Lula.
Dia pun segera membaca surat dari Gladis.
Rindaaa... Apa kabar? Selalu baik kan?
Hehehe... aku dan teman – teman yang lain kangen lho denganmu... Oh iya,
sekarang, aku dan Faitmah sudah tidak menjadi rival lagi lho! Sekarang kita
selalu akrab dan bekerja sama dalam hal positif. Gimana di sekolah barumu? Aku
penasaran deh dengan suasana kelas, bangunan sekolahnya, dan seragam yang
sekarang kamu kenakan. Hehehe...
Sekian
surat dariku, aku bingung harus bertanya apa lagi. Hahaha... Aku tunggu jawaban
dan cerita dari mu yaa! Bye!
Salam Kangen,
Gladis CahyaW
Lalu, Rinda segera membaca surat terakhir, surat dari Fatimah.
Hai
Rinda, apa kabar? Bagaimana suasana di Bekasi? Mengenakan tidak? Semoga kau
kerasan yaa di sana. Tapi jangan pernah lupakan teman – teman lama-mu lho!
Hehehe...
Aku
ingin deeh suatu hari nanti, saat liburan panjang, mengunjungi rumahmu bersama
Lula dan Gladis. Kau tidak keberatan kan? Kebetulan aku memiliki saudara dekat
di sana, jadi, setiap liburan, aku selalu ke Bekasi untuk mengunjungi rumah
saudaraku. By the way, Rumahmu di Bekasi Barat atau di Bekasi Timur, Rind?
Semoga
suatu saat nanti, kita bisa melakukan hal – hal yang kita lakukan seperti biasa
bersama yaa! Aku selalu merindukan dan mengenang saat – saat indah itu, Rind.
Hehehe...
Sekian
surat dariku, jangan lupa untuk membalasnya yaa!
Fatimah Nurhaliza H
Rinda terharu membacanya. Rupanya sahabat – sahabatnya sangat
peduli padanya dan tetap memperhatikannya dari jauh. Bahkan, mereka rela
mengirimi Rinda surat hanya untuk sebuah kejutan kecil. Pantas saja Rinda
meng-SMS Lula, Gladis, dan Fatimah tidak mereka jawab. Rinda segera memasukkan
ketiga surat itu ke dalam kotak ‘harta karun’ miliknya. Kotak itu lho yang
berisi album foto kenangan Rinda bersama teman – temannya, surat – surat dari
Lula semasa liburan, benda kenangan yang diberikan teman – temannya sebelum
Rinda pindah, dan tentu saja diary Rinda yang kini sudah jarang Rinda buka
karena sibuk belajar dan karena Rinda belum menemukan sahabat sebaik Lula,
Gladis, dan Fatimah.
Rinda pun segera membalas ketiga surat itu dalam kertas yang sama
dan nantinya, Rinda akan mengirimkannya kepada Lula.
Hai sahabat – sahabat terbaikku,
terimakasih ya sudah mau mengirimiku surat dan memberikan kejutan kecil
untukku. Aku sangat bahagia dan terharu karenanya. Ternyata kalian masih
mempedulikanku dan memperhatikanku.
Pantas
saja aku meng-SMS kalian, tidak kalian balas. Aku kirim mention dan DM (Direct
Message) di Twitter, juga tidak kalian balas. Aku kirim inbox di FB juga tidak
kalian balas. Ternyata... oh ternyata... hahaha...
Kabarku
alhamdulillah baik, di sekolahku yang sekarang, aku masih berusaha beradaptasi
dengan lingkungannya. Teman – temannya sih baik, tapi belum ada yang bisa ku
percaya seperti kalian. Guru – gurunya killer dan tegas, tapi baik dan ramah.
Tentu
saja jika ada waktu, aku akan berusaha mengunjungi kalian. Karena aku ingin
kita tidak lost contact dan tetap berhubungan baik dengan cara bersilaturahmi
satu sama lain walau jarak memisahkan kita.
Aku
ingin kita bisa bersama – sama kembali seperti dulu. Jika kalian ingin
mengunjungiku, aku akan memberikan alamatnya tapi, izin dulu yaa! Dan beri tahu
aku, sebab, aku takut aku sedang keluar. Hehehe... Oh ya, rumahku di Bekasi
Barat ya, saay... hehehe...
Semoga
saja, kalian di sana selalu bekerja sama dalam hal positif yaa! Salam untuk
teman – teman yang lainnya! Oh ya, bagaimana dengan Gloria, Vian, dan Vivi?
Sikapnya sudah berubah kan? Hehehe...
Aku
tunggu jawaban dari kalian, maaf aku tidak bisa membalas satu persatu dan aku
menjawabnya dalam satu surat. Ku harap kalian mengerti dan memakluminya.
Hehehe... terimakasih.
Rinda Mutiara Murni
Setelah selesai menulis surat itu, dia memasukaknya ke dalam
amplop yang sudah dituliskan alamatnya. Lalu, dia segera menempel prangko pada
amplop itu. Dia pun segera keluar dari kamarnya mencari pembantunya.
“Mbak, mau keluar rumah?” tanya Rinda.
“Iya, neng. Ada apa?” mbak bertanya balik.
“Rinda boleh nitip pos-in surat ini nggak?” tanya Rinda.
“Boleh, memangnya untuk siapa, non?” tanya mbak.
“Untuk sahabat Rinda, mbak. Hmm... makasih yaa!” kata Rinda.
“Sama – sama, non.” Jawab mbak sambil berlalu untuk mengantarkan
surat itu. Kini hati Rinda tenang, dia sudah tidak sabar menunggu ketiga
sahabatnya itu membaca jawaban darinya dan membalas suratnya. Rinda lalu
kembali ke kamarnya, dia membuka kotak ‘harta karun’ miliknya itu. Dia mencari
– cari diary miliknya lalu menulisnya.
Letter
from My Best Friend
Hari
ini aku senang sekali! Karena Lula, Gladis, dan Fatimah masing – masing
mengirimiku surat. Mereka menanyakan keadaanku sekarang dan bagaimana
perasaanku di Bekasi. Rupanya, mereka sengaja mengirimiku surat dan tidak
membalas pesan yang ku kirim melalui SMS atau pun internet karena mereka ingin
membuat surprise kecil untukku. Aku jadi terharu sekaligus bahagia karenannya.
Ku
pikir aku tidak akan menemukan sahabat sebaik mereka. Sebenarnya sih aku juga
kangen sekali dengan mereka, tapi, aku belum libur sekolah, jadi, tidak bisa
datang ke Jakarta untuk mengunjungi mereka.
Oh
ya, by the way... kalau dipikir – pikir, sudah lama yaa aku tidak membuka dan
membaca diary ini? Ya, semenjak aku sedih karena harus pindah dan berpisah
dengan teman – temanku. Untung saja mereka mengirimiku surat dan mengingatkanku
pada diary ini. Aku janji aku tidak akan berhenti menulis diary ini karena
dapat mengasah bakatku dalam menulis. Ya, aku harus membuka lembaran yang baru
dalam diary ini.
Rinda Mutiara Murni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar