Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 13

   “Rind... ada surat tuh untukmu!” jelas mama. Ketika Rinda sedang bermalas – malasan di kamarnya. Rinda tak menjawabnya. Dengan langkah malas, Rinda segera mengambil surat itu dan membacanya. Seketika mata Rinda berbinar – binar! Rupanya itu surat dari Lula, lalu juga ada surat dari Gladis dan Fatimah.

   Rinda menimang – nimang ketiga surat itu. Mana yang harus ku baca duluan yaa? Tanyanya, dalam hati. Akhirnya dia menetapkan untuk membuka surat dari Lula terlebih dahulu, begini isinya.

Hai Rind, apa kabar? Ku Harap kau baik – baik saja. Bagaimana dengan sekolahmu yang sekarang? Bagaimana dengan teman – temanmu di sana? Baik – baik kan? Walau mungkin tidak ada yang seperti diriku. Hehehe... semoga kau kerasan yaa bersekolah di sana.
Aku merindukanmu, Rind. Kapan kau akan berkunjung ke sekolahmu yang dulu? Aku harap, dalam waktu dekat ini, kita dapat bertemu dan berkumpul kembali. Aku harap, hubungan kita tidak pernah terputus yaa hingga dewasa nanti dan kita akan tetap bersahabat.
Oh ya, aku sengaja mengirim surat untukmu sebab, aku ingin membuat sedikit kejutan untukmu jadi... kau tidak perlu sedih dan berat berpisah dengan kami yaa! Hehehe...
Sekian ya, Rind. Ku tunggu balasan surat darimu.

Lula Andiani Cantika

   Rinda jadi terharu membacanya, namun, karena rasa penasarannya dengan surat dari Gladis dan Fatimah, dia pun belum menulis jawaban untuk Lula. Dia pun segera membaca surat dari Gladis.

   Rindaaa... Apa kabar? Selalu baik kan? Hehehe... aku dan teman – teman yang lain kangen lho denganmu... Oh iya, sekarang, aku dan Faitmah sudah tidak menjadi rival lagi lho! Sekarang kita selalu akrab dan bekerja sama dalam hal positif. Gimana di sekolah barumu? Aku penasaran deh dengan suasana kelas, bangunan sekolahnya, dan seragam yang sekarang kamu kenakan. Hehehe...
   Sekian surat dariku, aku bingung harus bertanya apa lagi. Hahaha... Aku tunggu jawaban dan cerita dari mu yaa! Bye!

Salam Kangen,
Gladis CahyaW

   Lalu, Rinda segera membaca surat terakhir, surat dari Fatimah.

   Hai Rinda, apa kabar? Bagaimana suasana di Bekasi? Mengenakan tidak? Semoga kau kerasan yaa di sana. Tapi jangan pernah lupakan teman – teman lama-mu lho! Hehehe...
   Aku ingin deeh suatu hari nanti, saat liburan panjang, mengunjungi rumahmu bersama Lula dan Gladis. Kau tidak keberatan kan? Kebetulan aku memiliki saudara dekat di sana, jadi, setiap liburan, aku selalu ke Bekasi untuk mengunjungi rumah saudaraku. By the way, Rumahmu di Bekasi Barat atau di Bekasi Timur, Rind?
   Semoga suatu saat nanti, kita bisa melakukan hal – hal yang kita lakukan seperti biasa bersama yaa! Aku selalu merindukan dan mengenang saat – saat indah itu, Rind. Hehehe...
   Sekian surat dariku, jangan lupa untuk membalasnya yaa!

Fatimah Nurhaliza H

   Rinda terharu membacanya. Rupanya sahabat – sahabatnya sangat peduli padanya dan tetap memperhatikannya dari jauh. Bahkan, mereka rela mengirimi Rinda surat hanya untuk sebuah kejutan kecil. Pantas saja Rinda meng-SMS Lula, Gladis, dan Fatimah tidak mereka jawab. Rinda segera memasukkan ketiga surat itu ke dalam kotak ‘harta karun’ miliknya. Kotak itu lho yang berisi album foto kenangan Rinda bersama teman – temannya, surat – surat dari Lula semasa liburan, benda kenangan yang diberikan teman – temannya sebelum Rinda pindah, dan tentu saja diary Rinda yang kini sudah jarang Rinda buka karena sibuk belajar dan karena Rinda belum menemukan sahabat sebaik Lula, Gladis, dan Fatimah.
   Rinda pun segera membalas ketiga surat itu dalam kertas yang sama dan nantinya, Rinda akan mengirimkannya kepada Lula.

   Hai sahabat – sahabat terbaikku, terimakasih ya sudah mau mengirimiku surat dan memberikan kejutan kecil untukku. Aku sangat bahagia dan terharu karenanya. Ternyata kalian masih mempedulikanku dan memperhatikanku.
   Pantas saja aku meng-SMS kalian, tidak kalian balas. Aku kirim mention dan DM (Direct Message) di Twitter, juga tidak kalian balas. Aku kirim inbox di FB juga tidak kalian balas. Ternyata... oh ternyata... hahaha...
   Kabarku alhamdulillah baik, di sekolahku yang sekarang, aku masih berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. Teman – temannya sih baik, tapi belum ada yang bisa ku percaya seperti kalian. Guru – gurunya killer dan tegas, tapi baik dan ramah.
   Tentu saja jika ada waktu, aku akan berusaha mengunjungi kalian. Karena aku ingin kita tidak lost contact dan tetap berhubungan baik dengan cara bersilaturahmi satu sama lain walau jarak memisahkan kita.
   Aku ingin kita bisa bersama – sama kembali seperti dulu. Jika kalian ingin mengunjungiku, aku akan memberikan alamatnya tapi, izin dulu yaa! Dan beri tahu aku, sebab, aku takut aku sedang keluar. Hehehe... Oh ya, rumahku di Bekasi Barat ya, saay... hehehe...
   Semoga saja, kalian di sana selalu bekerja sama dalam hal positif yaa! Salam untuk teman – teman yang lainnya! Oh ya, bagaimana dengan Gloria, Vian, dan Vivi? Sikapnya sudah berubah kan? Hehehe...
   Aku tunggu jawaban dari kalian, maaf aku tidak bisa membalas satu persatu dan aku menjawabnya dalam satu surat. Ku harap kalian mengerti dan memakluminya. Hehehe... terimakasih.
Rinda Mutiara Murni

   Setelah selesai menulis surat itu, dia memasukaknya ke dalam amplop yang sudah dituliskan alamatnya. Lalu, dia segera menempel prangko pada amplop itu. Dia pun segera keluar dari kamarnya mencari pembantunya.
   “Mbak, mau keluar rumah?” tanya Rinda.
   “Iya, neng. Ada apa?” mbak bertanya balik.
   “Rinda boleh nitip pos-in surat ini nggak?” tanya Rinda.
   “Boleh, memangnya untuk siapa, non?” tanya mbak.
   “Untuk sahabat Rinda, mbak. Hmm... makasih yaa!” kata Rinda.
   “Sama – sama, non.” Jawab mbak sambil berlalu untuk mengantarkan surat itu. Kini hati Rinda tenang, dia sudah tidak sabar menunggu ketiga sahabatnya itu membaca jawaban darinya dan membalas suratnya. Rinda lalu kembali ke kamarnya, dia membuka kotak ‘harta karun’ miliknya itu. Dia mencari – cari diary miliknya lalu menulisnya.

Letter from My Best Friend

   Hari ini aku senang sekali! Karena Lula, Gladis, dan Fatimah masing – masing mengirimiku surat. Mereka menanyakan keadaanku sekarang dan bagaimana perasaanku di Bekasi. Rupanya, mereka sengaja mengirimiku surat dan tidak membalas pesan yang ku kirim melalui SMS atau pun internet karena mereka ingin membuat surprise kecil untukku. Aku jadi terharu sekaligus bahagia karenannya.
   Ku pikir aku tidak akan menemukan sahabat sebaik mereka. Sebenarnya sih aku juga kangen sekali dengan mereka, tapi, aku belum libur sekolah, jadi, tidak bisa datang ke Jakarta untuk mengunjungi mereka.
   Oh ya, by the way... kalau dipikir – pikir, sudah lama yaa aku tidak membuka dan membaca diary ini? Ya, semenjak aku sedih karena harus pindah dan berpisah dengan teman – temanku. Untung saja mereka mengirimiku surat dan mengingatkanku pada diary ini. Aku janji aku tidak akan berhenti menulis diary ini karena dapat mengasah bakatku dalam menulis. Ya, aku harus membuka lembaran yang baru dalam diary ini.


Rinda Mutiara Murni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar