Sementara
itu, keesokkan harinya...
TING...
TONG... TING... TONG...
Pelayan
membukakan pintu.
“Iya,
ada yang bisa saya bantu?” tanya sang pelayan.
“Kami
dipanggil dalam surat ini.” kata tamu tersebut menyerahkan sepucuk surat.
Sang
pelayan membaca surat itu dengan seksama dan dengan sungguh - sungguh. “Baiklah
anda boleh masuk.” kata pelayan itu akhirnya. “Silakan menunggu di ruang tunggu
sebentar, biar saya panggil para putri kerajaan.” kata pelayan itu lagi.
Dan pelayan tersebut menuju kamar kak Sandra
di mana,
keempat putri tersebut tengah asyik bermain.
Tok!
Tok! Tok!
“Masuk!”
“Tuan
Putri Sandara, ada yang mencari Tuan.” katanya sambil membungkukan badan dan
menunduk.
Sandara
berpaling ke ketiga saudaranya sambil mengangkat bahu. “Siapa, ya?”
“Oh
ya, terimakasih nyonya. Saya akan segera
kesana.” jawab Sandara halus. Sandara keluar menuju ruang tunggu diikuti ketiga
saudaranya. Saat pintu terbuka dia sungguh senang dan segera berlari memeluk bu
Siti yang datang bersama Sally, dan Clara.
“Sungguh
aku tak menyangka dapat bertemu kalian kembali. Apa kabar kalian semua?” tanya
Sandara.
“Kabar
kami baik, putri.” jawab mereka sambil membungkuk.
“Tak
perlu begitu... panggil saja Sandara.” jawab Sandara. “Oh ya, perkenalkan, ini
kakak – kakakku. Ini kak Alicia, ini kak Sandra, dan ini Jessica.” ujar Sandara
memperkenalkan.
“Salam
kenal putri.” jawab mereka lagi – lagi sambil membungkuk.
“Aah...
tak enak rasanya, bila ada rakyat yang membungkuk dihadapan kami... Jangan
panggil putri. Panggil saja nama kami.” ujar kak Alicia malu.
“Oh
ya, perkenalkan kak! Ini Sally, dan ini Clara. Ibu ini adalah bu Siti. Yang
mengasuhku selama ini.
Mereka
pun bersalaman. Kak Alicia, kak Sandra, dan Jessica tak sungkan mencium tangan
bu Siti.
“Oh
ya, kalian kemari untuk bertemu ayah dan ibuku. Mari kita ke ruangannya
langsung.” ajak Sandara sambil menarik tangan mereka.
Tok!
Tok! Tok!
“Masuk!”
“Ayah,
ibu. Maaf menganggu, perkenalkan. Ini bu Siti, dan kedua sahabatku, Sally dan
Clara. Mereka ingin bertemu kalian.” seru Sandara.
“Oh
tentu, terimakasih nak. Kau bisa pergi sekarang.” ujar ayahanda raja.
Setelah
ibu Siti, Sally dan Clara keluar dari kamar ayahanda raja dan ibunda ratu,
Sandara segera bertanya pada Sally dan Clara.
“Eh
Sally, Clara! Tadi ayahku bilang apa sama kalian?” tanya Sandara penasaran
diikuti anggukan ketiga saudaranya.
“Rahasia...”
Clara menggoda.
“Aah...
Clara... Kasih tahu dong!” rengek Sandara.
“Adda
ajja...” iseng Clara.
“Please
Ra...” pinta Sandara sambil memohon.
“Kasih
tahu gak ya?” canda Clara.
“Please...”
mohon Sandara.
“Oke
deh! Ayah kamu gak bilang apa – apa kok! Cuma bilang kenakalan Sandara selama
ini waktu tinggal sama kita dan bilang terimakasih sudah mau merawat dan
menjaga Sandara.” jawab Clara.
“Ooh...
gitu doang? Kirain apa... capek deh...” seru keempat putri.
“Hahaha...”
mereka pun tertawa bersama. Setelah itu mereka bermain bersama. Awalnya mereka
bermain petak umpet, karena halaman istana mau dibersihkan, jadi mereka bermain
boneka. Mereka pun berdandan dan mengenakan pakaian putri, mereka bermain putri
– putrian. Siapa putri yang paling cantik dia yang menang, tentu saja Jessica
yang menang, kedua Sandara lalu Sally. Mereka juga bermain perang bantal.
Pokoknya, kamar kak Sandra yang biasanya sudah berantakan dibuat lebih
berantakan dari biasanya. Setelah bosan bermain di kamar kak Sandra dan kamar
kak Sandra mendapat giliran dibersihkan, mereka menunggang kuda menuju sungai
di tengah hutan.
Disaat
sedang berkeliling – keliling sendirian mengikuti aliran sungai, Sandara
bertemu dengan sosok laki yang amat ia kenal dia segera memanggil Adam.
“ADAAAM!!!”
pekik Sandara girang.
Adam
menoleh, lalu tersenyum saat melihat Sandara. “Sedang apa kau Sandara?” tanya
Adam.
“Bermain
– main di sungai
bersama saudara – saudaraku dan teman - temanku.” jawab Sandara. “Oh, biar aku
ke sana!”
Sandara
berlari dengan terburu – buru menghampiri Adam. Sehingga ia menginjak gaunnya
sendiri dan terjatuh.
“Aduh
sakit...” Sandara meringis kesakitan, hampir saja ia menangis.
“Seseorang
mengajarkanku harus menolong sesama, dan harus tabah dan sabar saat terluka.
Tapi ternyata dia sendiri tak bisa. Sini, biar ku bantu kau berdiri dan
membersihkan lukamu!” kata Adam sambil mengulurkan tangannya.
Sandara
tersenyum lalu tertawa. Ia menyambut uluran tangan Adam itu. “Thanks ya, Dam!
Kau selalu membantuku di saat
aku butuh.”
Setelah
mencuci kakinya dan mengobati kakinya, Sandara memperkenalkan Adam pada saudara
– saudaranya dan teman – temannya.
Kesenangan
Sandara bertambah saat seminggu setelah itu, kamarnya telah usai di renovasi.
Sungguh besar dan indah. Dengan uang saku yang diberikan kedua orangtuanya
untuk sebulan. Ia membeli beberapa hewan dan bunga. Dia membeli hewan kucing,
kelinci, hamster, kura – kura, burung,
ikan, dan anjing. Semua hewan itu di tempatkan di dalam kandang dan diberi
makanan khusus. Sementara, di balkon kamarnya yang cukup besar dia menanam
banyak bunga dalam pot. Sementara, bunga melati di taruh di vas kamarnya. Jika
layu, dia memetik bunga melati yang lain untuk menggantikannya.
Dan
yang terpenting baginya adalah alat menenun ada di kamarnya, kapan pun dia bisa
menenun di kamarnya tersebut sambil memperhatikan hewan – hewan peliharaannya
dan membuka pintu kamar menuju balkon agar suasana sejuknya memasuki kamar.
Oh
ya, kalian pasti penasaran dengan Chibi White alias ChiWhi kan? ChiWhi baik – baik saja dan
tetap diurus Sandara meskipun Sandara memiliki pelayan. ChiWhi di pelihara dengan
baik di sebuah kandang penuh kuda. Walau pun di kandang tersebut banyak kuda –
kuda lain yang lebih gagah, bagi Sandara, ChiWhi adalah yang terbaik dan tetap akan
jadi yang terbaik diantara mereka semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar