Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 8

   Sementara itu, keesokkan harinya...
   TING... TONG... TING... TONG...
   Pelayan membukakan pintu.
   “Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang pelayan.
   “Kami dipanggil dalam surat ini.” kata tamu tersebut menyerahkan sepucuk surat.
   Sang pelayan membaca surat itu dengan seksama dan dengan sungguh - sungguh. “Baiklah anda boleh masuk.” kata pelayan itu akhirnya. “Silakan menunggu di ruang tunggu sebentar, biar saya panggil para putri kerajaan.” kata pelayan itu lagi.

 Dan pelayan tersebut menuju kamar kak Sandra di mana, keempat putri tersebut tengah asyik bermain.
   Tok! Tok! Tok!
   “Masuk!”
   “Tuan Putri Sandara, ada yang mencari Tuan.” katanya sambil membungkukan badan dan menunduk.
   Sandara berpaling ke ketiga saudaranya sambil mengangkat bahu. “Siapa, ya?”
   “Oh ya, terimakasih nyonya. Saya akan segera kesana.” jawab Sandara halus. Sandara keluar menuju ruang tunggu diikuti ketiga saudaranya. Saat pintu terbuka dia sungguh senang dan segera berlari memeluk bu Siti yang datang bersama Sally, dan Clara.
   “Sungguh aku tak menyangka dapat bertemu kalian kembali. Apa kabar kalian semua?” tanya Sandara.
   “Kabar kami baik, putri.” jawab mereka sambil membungkuk.
   “Tak perlu begitu... panggil saja Sandara.” jawab Sandara. “Oh ya, perkenalkan, ini kakak – kakakku. Ini kak Alicia, ini kak Sandra, dan ini Jessica.” ujar Sandara memperkenalkan.
   “Salam kenal putri.” jawab mereka lagi – lagi sambil membungkuk.
   “Aah... tak enak rasanya, bila ada rakyat yang membungkuk dihadapan kami... Jangan panggil putri. Panggil saja nama kami.” ujar kak Alicia malu.
   “Oh ya, perkenalkan kak! Ini Sally, dan ini Clara. Ibu ini adalah bu Siti. Yang mengasuhku selama ini.
   Mereka pun bersalaman. Kak Alicia, kak Sandra, dan Jessica tak sungkan mencium tangan bu Siti.
   “Oh ya, kalian kemari untuk bertemu ayah dan ibuku. Mari kita ke ruangannya langsung.” ajak Sandara sambil menarik tangan mereka.
   Tok! Tok! Tok!
   “Masuk!”
   “Ayah, ibu. Maaf menganggu, perkenalkan. Ini bu Siti, dan kedua sahabatku, Sally dan Clara. Mereka ingin bertemu kalian.” seru Sandara.
   “Oh tentu, terimakasih nak. Kau bisa pergi sekarang.” ujar ayahanda raja.
   Setelah ibu Siti, Sally dan Clara keluar dari kamar ayahanda raja dan ibunda ratu, Sandara segera bertanya pada Sally dan Clara.
   “Eh Sally, Clara! Tadi ayahku bilang apa sama kalian?” tanya Sandara penasaran diikuti anggukan ketiga saudaranya.
   “Rahasia...” Clara menggoda.
   “Aah... Clara... Kasih tahu dong!” rengek Sandara.
   “Adda ajja...” iseng Clara.
   “Please Ra...” pinta Sandara sambil memohon.
   “Kasih tahu gak ya?” canda Clara.
   “Please...” mohon Sandara.
   “Oke deh! Ayah kamu gak bilang apa – apa kok! Cuma bilang kenakalan Sandara selama ini waktu tinggal sama kita dan bilang terimakasih sudah mau merawat dan menjaga Sandara.” jawab Clara.
   “Ooh... gitu doang? Kirain apa... capek deh...” seru keempat putri.
   “Hahaha...” mereka pun tertawa bersama. Setelah itu mereka bermain bersama. Awalnya mereka bermain petak umpet, karena halaman istana mau dibersihkan, jadi mereka bermain boneka. Mereka pun berdandan dan mengenakan pakaian putri, mereka bermain putri – putrian. Siapa putri yang paling cantik dia yang menang, tentu saja Jessica yang menang, kedua Sandara lalu Sally. Mereka juga bermain perang bantal. Pokoknya, kamar kak Sandra yang biasanya sudah berantakan dibuat lebih berantakan dari biasanya. Setelah bosan bermain di kamar kak Sandra dan kamar kak Sandra mendapat giliran dibersihkan, mereka menunggang kuda menuju sungai di tengah hutan.
   Disaat sedang berkeliling – keliling sendirian mengikuti aliran sungai, Sandara bertemu dengan sosok laki yang amat ia kenal dia segera memanggil Adam.
   “ADAAAM!!!” pekik Sandara girang.
   Adam menoleh, lalu tersenyum saat melihat Sandara. “Sedang apa kau Sandara?” tanya Adam.
   “Bermain – main di sungai bersama saudara – saudaraku dan teman - temanku.” jawab Sandara. “Oh, biar aku ke sana!”
   Sandara berlari dengan terburu – buru menghampiri Adam. Sehingga ia menginjak gaunnya sendiri dan terjatuh.
   “Aduh sakit...” Sandara meringis kesakitan, hampir saja ia menangis.
   “Seseorang mengajarkanku harus menolong sesama, dan harus tabah dan sabar saat terluka. Tapi ternyata dia sendiri tak bisa. Sini, biar ku bantu kau berdiri dan membersihkan lukamu!” kata Adam sambil mengulurkan tangannya.
   Sandara tersenyum lalu tertawa. Ia menyambut uluran tangan Adam itu. “Thanks ya, Dam! Kau selalu membantuku di saat aku butuh.”
   Setelah mencuci kakinya dan mengobati kakinya, Sandara memperkenalkan Adam pada saudara – saudaranya dan teman – temannya.
   Kesenangan Sandara bertambah saat seminggu setelah itu, kamarnya telah usai di renovasi. Sungguh besar dan indah. Dengan uang saku yang diberikan kedua orangtuanya untuk sebulan. Ia membeli beberapa hewan dan bunga. Dia membeli hewan kucing, kelinci, hamster,  kura – kura, burung, ikan, dan anjing. Semua hewan itu di tempatkan di dalam kandang dan diberi makanan khusus. Sementara, di balkon kamarnya yang cukup besar dia menanam banyak bunga dalam pot. Sementara, bunga melati di taruh di vas kamarnya. Jika layu, dia memetik bunga melati yang lain untuk menggantikannya.
   Dan yang terpenting baginya adalah alat menenun ada di kamarnya, kapan pun dia bisa menenun di kamarnya tersebut sambil memperhatikan hewan – hewan peliharaannya dan membuka pintu kamar menuju balkon agar suasana sejuknya memasuki kamar.

   Oh ya, kalian pasti penasaran dengan Chibi White alias ChiWhi kan? ChiWhi baik – baik saja dan tetap diurus Sandara meskipun Sandara memiliki pelayan. ChiWhi di pelihara dengan baik di sebuah kandang penuh kuda. Walau pun di kandang tersebut banyak kuda – kuda lain yang lebih gagah, bagi Sandara, ChiWhi adalah yang terbaik dan tetap akan jadi yang terbaik diantara mereka semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar