Hari
ini hari senin, seperti biasa, aku masuk sekolah dengan perasaan senang. Sebab,
sabtu kemarin, aku baru memenangkan lomba menulis cerita tingkat provinsi. Aku
sangat gembira, selain bisa
membanggakan keluarga dan guruku, aku juga bisa mengharumkan nama sekolahku
yang sangat ku cintai.
Aku
menaruh tasku ditempat dudukku, lalu bercerita
seru bersama teman-temanku yang lain. Saat sedang seru
– serunya bercakap – cakap, ketua kelas kami, Fatur berucap, “Segera ke
lapangan!”
Kami
pun menurut, aku mengambil topiku dan mengenakannya. Aku siap untuk upacara.
Upacara berlangsung
cukup cepat. Kini... saatnya amanat kepala sekolah.
“Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh...”
sapa pak kepala sekolah.
“Walaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh...”
jawab semua peserta upacara.
“Pada
pagi hari ini, pak kepala sekolah dengan bangganya ingin mengumumkan sesuatu.
Pada hari sabtu kemarin, salah satu murid SD ini memenangkan lomba menulis
cerita tingkat provinsi. Tepuk tangan semuanya...” pinta pak kepala sekolah.
Plok!
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!
“Dan
siswi yang memenangkannya adalah Sophie Bellina.
Silakan maju Sophie...” kata pak kepala sekolah.
Dengan
malu dan wajah yang menunduk, aku melangkah maju ke depan. Diikuti tepuk tangan
yang meriah. Pak kepala sekolah masih mengucapkan banyak kata. Setelah itu,
upacara selesai, aku dan teman – teman kembali ke kelas.
“Selamat
ya, Sop...” ujar Olive,
sahabatku.
“Selamat
ya, Sop...” ujar Nanda,
sahabatku yang lain.
“Terimakasih
ya, Live, Nan.”
jawabku.
Jam
pelajaran pertama seusai upacara adalah Matematika. Pelajaran yang sedang
diajarkan mengenai skala. Aku kurang mengerti. Aku pun bertanya pada Nadine.
Nadine duduk di bangku depanku. Dia memang pintar pelajaran Matematika. Bahkan
dia pernah menjuarai berbagai olimpiade Matematika.
“Nad, kamu kan pintar Matematika.
Ajarkan aku dong!” pintaku.
“Salahmu
tidak perhatikan saat guru menjelaskan!” jawab Nadine, ketus. Lalu langsung
menyerahkan tugasnya yang sudah selesai. Dia memang pintar.
Hh...
mungkin Nadine sedang ada masalah... tapi tumben – tumbenan dia berbicara
dengan nada seperti itu, ada apa ya? ya sudah, aku coba lihat rumusnya saja
deh! Kataku sambil membuka buku paket dan buku catatan Matematikaku.
“Nanti kita main
galasin seperti kemarin ya!” kata Chika.
“Chik,
nanti main galasinnya diulang atau melanjutkan yang kemarin?” tanyaku.
“Yang
main cuma tim inti. Kamu kan bukan tim inti...” kata Chika.
Ngapain
sih harus pakai tim inti segala? Kenapa gak sekelas main seperti kemarin saja?
Bukannya lebih seru dan lebih ramai? Batinku kesal. Lalu, kenapa aku tidak
diperbolehkan ikutan main? Padahal, aku selalu lolos dari tangkapan. Hh... ada
apa ya? Kenapa tiba – tiba teman – teman berubah gini?
Yang
benar saja saat istirahat, hanya aku yang ada di kelas. Aku sangat sedih karena
sepertinya teman – teman menjauh dariku, entah karena apa. Aku merasa aku tak
punya salah apa pun pada mereka. Tapi aku tetap berusaha sabar dan tegar.
Seusai
istirahat, pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia. Bu Susi menjelaskan
pelajaran mengenai puisi selama 5 menit.
“Anak
– anak... buatlah sebuah puisi dengan tema bebas. Lalu hafalkanlah dan maju ke
depan kelas untuk mengambil nilai! Puisi harus selesai jam 10.20 dan harus
diafalkan selama 10 menit. Ada yang belum jelas?” perintah bu Susi, guru
pelajaran bahasa Indonesia. Semua murid mengangguk – angguk tanda mengerti.
Lalu kami semua mulai menulis.
Membuat
puisi cukup mudah. Aku berusaha membuat puisi yang singkat, supaya aku mudah
menghafalkannya.
Tak
terasa 25 menit berlalu.
“Kumpulkan!
Ibu akan mengacak bukunya, buku yang ibu ambil dan nama yang ibu sebutkan harap
maju!” jelas bu guru.
Kelas
hening seketika. Aku yakin setiap murid takut namanya akan disebut oleh ibu
Susi. Aku yakin mereka semua belum siap sama seperti apa yang kurasakan saat
ini.
“Sophie
Bellina.” panggil bu Susi.
Yang
benar saja, aku dipanggil pertama kali oleh bu Susi. Olive dan Nanda mensupport dan memberiku acungan jempol. Aku sangat
gugup. Aku berdo’a dalam hati. Lalu aku berdiri dan melangkah menuju depan
kelas.
Piano
Alunanmu
terdengar sangat merdu
hingga...
Ku merasa bahagia
Piano...
dentinganmu penuh
arti...
Menghibur
banyak orang
Piano...
Denganmu
kau beri arti sebuah lagu
Plok!
Plok! Plok! Plok! Plok! ku lihat Nanda dan Olive bertepuk tangan, juga bu Susi.
Tapi teman – teman yang lain... tak ada yang bertepuk tangan untukku? bete juga...
“Tepuk
tangan untuk Sophie!” perintah bu Susi.
Plok!
Plok! Plok! Plok! Plok! Barulah teman – teman yang lain ikut bertepuk tangan, namun ku lihat wajah mereka cemberut.
“Sekolah
kita seharusnya bangga memiliki anak murid seperti Sophie. Dia sering
mengharumkan nama sekolah kita, bukan hanya satu bidang yang Sophie tekuni.
Buktinya, selain menulis cerita, dia juga pandai membaca dan menulis puisi.”
puji bu Susi.
Aku
hanya tersenyum kecil. “terima kasih...”ujarku
“Kalau
kalian mau belajar menulis cerita atau puisi, minta Sophie ajarkan. Ibu yakin, Sophie tidak akan keberatan.”
puji bu Susi lagi. Membuatku jadi menunduk malu. Sepertinya, bu Susi terlalu berlebihan... Lalu aku
dipersilakan duduk kembali. Aku memperhatikan teman – teman yang maju. Tak
jarang aku memberi pujian dan tepuk tangan kepada mereka yang maju.
Tapi,
teman – temanku yang lain hanya berucap, “He-eh... ng... terimakasih.” mereka
pun berucap demikian tanpa tersenyum. Benar – benar aneh! Ada apa dengan
mereka?
Seusai
pelajaran Bahasa Indonesia, adalah pelajaran IPS. Aku juga menyukai pelajaran
IPS. Hehehe... (penulisnya atau si Sophie yang suka Bahasa Indonesia sama IPS
niih? Hehehe...)
Teet!
Teet! Teet! Bel istirahat kedua berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas
menuju mushola.
Tak ku lihat Olive atau
pun Nanda, sepertinya mereka sudah jalan duluan ke mushola. Aku pun bertanya
pada Siska, “Sis, lihat Olive sama Nanda gak?” tanyaku.
“Gak! Cari aja
sendiri.” jawab Siska sinis lalu pergi meninggalkanku.
“Makasih!” kataku
setengah berteriak.
Akhirnya aku berjalan sendiri
menuju mushola dengan setengah kesal.
Tiba – tiba... BRUUKKK!!!
“Aaw...”
Aku menabrak Lita.
“Ups... sorry ya,
Lit... kamu gak apa – apakan?” tanyaku lembut.
“Gak apa – apa! Makanya
kalau jalan tuh liat – liat! Punya mata gak sih?” jawab Lita, judes. Lalu pergi.
Tak ku hiraukan Lita.
Aku segera berjalan ke mushola. Di mushola, lagi – lagi aku tak melihat Olive
atau Nanda. Mungkin mereka sedang jajan. Pikirku. Tapi, hingga sholat hendak
dimulai, mereka belum juga muncul. Aku tak tahu mereka ke mana. Tak ada teman
sekelasku yang berada di sampingku. Aku pun maju ke barisan dekat Vania.
Baru saja aku melangkah
ke depan. Vania menatapku dengan wajah tidak suka dan sinis. “Ngapain kamu ikut
– ikutan ke sini?”
tanyanya sinis. Lagi – lagi Vania menjauh dariku.
Argh!!! Gak Nadine, gak
Chika, gak Siska, gak Lita, gak Vania, sama aja! Apa sih maunya teman – teman
sekelas? Kenapa jadi berubah seperti ini? Apa salahku? Kalau memang aku ada
salah jujur aja... aku gak akan marah kok! Lalu, kenapa harus menjauh dari aku
seperti ini sih? pekikku dalam hati karena geram. Hari ini bener – bener MY BAD
DAY!!!!! pekikku, masih dalam hati.
Tapi,
aku tetap berusaha menahan supaya tidak marah – marah di depan teman – teman
sekelasku. Apa jadinya kalau aku marah – marah di depan mereka? Mereka akan
semakin menjauhiku. Aku juga berusaha tidak menceritakan masalahku ini kepada
bu Nurul. Ibu guru yang paling dekat denganku. Biasanya, kalau aku ada masalah,
aku selalu cerita kepada beliau.
“Kok
tumben gak main sama yang lain? Lagi berantem ya?” tanya bu Nurul, saat aku
sedang makan bakso di kelas.
“Ng...
Eh, Ah, enggak bu... aku lagi mau sendiri aja...” jawabku berbohong.
“Ooh...
begitu... kalau ada masalah apa – apa... cerita dong sama ibu...” kata bu
Nurul, lagi.
“Iya
bu... tenang aja.” jawabku.
Hari
ini adalah hari Rabu, hari ini jadwalnya olahraga. Rasanya pagi – pagi malas
sekali berangkat sekolah, jangankan berangkat sekolah, sarapan, mandi dan
bangun tidur saja malas. Mama, papa, kakak, dan adik sampai bingung melihat sikapku.
“Kamu
gak apa – apa, sayang?” tanya mama, saat sedang sarapan.
“Nggak
apa – apa kok, ma. Sophie cuma mengantuk...” jawabku, berbohong.
“Kalau
ada apa – apa cerita dong... siapa tahu, mama bisa bantu menyelesaikan
masalahmu. Oke?” kata mama.
“Tenang
aja ma...” jawabku.
“Neng sakit?” tanya mang Urip, supirku. Saat
mengantarku ke sekolah.
“Nggak
kok, mang. Sophie cuma mengantuk.” jawabku, berbohong.
“Ooh...
mang kira, neng sakit.” kata mang urip.
Sesampainya
di sekolah, Nanda dan Olive langsung menarikku.
“Sop, aku udah bilang sama
Chika, nanti kita main bareng – bareng lagi.” kata Olive, dengan ekspresi
senang. Diikuti anggukan Nanda.
“Kata
Chika, udah gak ada tim inti lagi. Kita bebas main deh!” kata Nanda.
“Ooh...”
jawabku, singkat.
“Lho,
kok cuma ‘Ooh...’? Gak ada kata lain ya selain ‘Oh’?” tanya Olive, bingung.
“Terus,
aku harus gimana lagi? Seneng?” jawabku.
Teet!
Teet! Teet! Teet! Bel masuk kelas berbunyi. Seusai berbaris, anak – anak
berhamburan ke dalam kelas. Lalu kami sekelas langsung membaca do’a. Seusai
membaca do’a Al-Fatihah, beberapa
surat pendek, dan do’a belajar. Chika langsung maju ke depan kelas.
“Nanti
istirahat main galasin lanjutin yang kemarin, ya!” katanya.
Olive
dan Nanda langsung berdiri.
“Mana
janjimu? Kau bilang nanti main seperti biasa?” kata Olive, kesal.
“Memangnya
aku pernah berjanji seperti itu?” tanya Chika.
“Dasar
pembual!” kata Nanda, geram.
“Oh
ya, buat Sophie, jangan harap deh! Kamu bisa main galasin sama kita – kita
kayak dulu.” kata Chika padaku.
Aku
langsung berdiri, “Siapa yang berharap main sama
kalian?
Emang aku seneng main sama kalian? Main sama kalian tuh udah kayak gak ada
kerjaan aja... Aku udah muak dan males main sama kalian semua!” jawabku, tajam.
Seisi
kelas terdiam, lalu aku kembali duduk. Lalu tak berselang lama, bu guru masuk
kelas. Hingga istirahat tiba, aku tidak mengajak bicara teman – temanku. Aku
sudah bisa menerka, mereka pasti tak akan menjawabnya atau malah seperti
kejadian yang kemarin. Aku hanya berbicara pada bu guru, Olive, dan Nanda.
Teet!
Teet! Teet! Bel istirahat berbunyi. Anak – anak berhamburan keluar kelas. Aku
sungguh kesal dengan teman – teman, sehingga sehabis jajan, aku langsung ke
perpustakaan. Aku tak peduli dengan teman – temanku. Aku tiduran di karpet perpustakaan.
Tiba
– tiba, Olive menghampiriku.
“Uuh!
Aku kesal sama teman – teman! Mainnya curang!” tuturnya.
Nanda
pun datang, “Tahu tuh!”
“Ya
sudah... biarkan aja...” jawabku enteng.
Tiba
– tiba, Chika masuk ke perpustakaan.
“Sop, Live, Nan, maafin aku dan teman
– teman ya! Buat Sophie maaf, kita ini sebenarnya iri sama kamu... Soalnya kamu
pintar dan selalu dipuji para guru. aku
tahu aku salah... Aku yang membuat pertengkaran dan permasalahan ini... Tolong
maafkan kami ya! Sekarang, kami butuh kalian, kalian boleh kok main galasin
lagi bareng kami...” pinta Chika.
Aku,
Nanda, dan Olive tersenyum. “Baiklah, tapi jangan iri dan curang lagi ya! No body
perfect! Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.” kataku.
Akhirnya,
masalahku dan teman – teman selesai deh! Dan kami bermain bersama lagi dengan senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar