Sabtu, 04 Oktober 2014

My Bad Day

   Hari ini hari senin, seperti biasa, aku masuk sekolah dengan perasaan senang. Sebab, sabtu kemarin, aku baru memenangkan lomba menulis cerita tingkat provinsi. Aku sangat gembira, selain bisa membanggakan keluarga dan guruku, aku juga bisa mengharumkan nama sekolahku yang sangat ku cintai.

   Aku menaruh tasku ditempat dudukku, lalu bercerita seru bersama teman-temanku yang lain. Saat sedang seru – serunya bercakap – cakap, ketua kelas kami, Fatur berucap, “Segera ke lapangan!”
   Kami pun menurut, aku mengambil topiku dan mengenakannya. Aku siap untuk upacara.
Upacara berlangsung cukup cepat. Kini... saatnya amanat kepala sekolah.
   “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...” sapa pak kepala sekolah.
   “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...” jawab semua peserta upacara.
   “Pada pagi hari ini, pak kepala sekolah dengan bangganya ingin mengumumkan sesuatu. Pada hari sabtu kemarin, salah satu murid SD ini memenangkan lomba menulis cerita tingkat provinsi. Tepuk tangan semuanya...” pinta pak kepala sekolah.
   Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!
   “Dan siswi yang memenangkannya adalah Sophie Bellina. Silakan maju Sophie...” kata pak kepala sekolah.
   Dengan malu dan wajah yang menunduk, aku melangkah maju ke depan. Diikuti tepuk tangan yang meriah. Pak kepala sekolah masih mengucapkan banyak kata. Setelah itu, upacara selesai, aku dan teman – teman kembali ke kelas.
   “Selamat ya, Sop...” ujar Olive, sahabatku.
   “Selamat ya, Sop...” ujar Nanda, sahabatku yang lain.
   “Terimakasih ya, Live, Nan.” jawabku.
   Jam pelajaran pertama seusai upacara adalah Matematika. Pelajaran yang sedang diajarkan mengenai skala. Aku kurang mengerti. Aku pun bertanya pada Nadine. Nadine duduk di bangku depanku. Dia memang pintar pelajaran Matematika. Bahkan dia pernah menjuarai berbagai olimpiade Matematika.
   “Nad, kamu kan pintar Matematika. Ajarkan aku dong!” pintaku.
   “Salahmu tidak perhatikan saat guru menjelaskan!” jawab Nadine, ketus. Lalu langsung menyerahkan tugasnya yang sudah selesai. Dia memang pintar.
   Hh... mungkin Nadine sedang ada masalah... tapi tumben – tumbenan dia berbicara dengan nada seperti itu, ada apa ya? ya sudah, aku coba lihat rumusnya saja deh! Kataku sambil membuka buku paket dan buku catatan Matematikaku.
   “Nanti kita main galasin seperti kemarin ya!” kata Chika.
   “Chik, nanti main galasinnya diulang atau melanjutkan yang kemarin?” tanyaku.
   “Yang main cuma tim inti. Kamu kan bukan tim inti...” kata Chika.
   Ngapain sih harus pakai tim inti segala? Kenapa gak sekelas main seperti kemarin saja? Bukannya lebih seru dan lebih ramai? Batinku kesal. Lalu, kenapa aku tidak diperbolehkan ikutan main? Padahal, aku selalu lolos dari tangkapan. Hh... ada apa ya? Kenapa tiba – tiba teman – teman berubah gini?
   Yang benar saja saat istirahat, hanya aku yang ada di kelas. Aku sangat sedih karena sepertinya teman – teman menjauh dariku, entah karena apa. Aku merasa aku tak punya salah apa pun pada mereka. Tapi aku tetap berusaha sabar dan tegar.
   Seusai istirahat, pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia. Bu Susi menjelaskan pelajaran mengenai puisi selama 5 menit.
   “Anak – anak... buatlah sebuah puisi dengan tema bebas. Lalu hafalkanlah dan maju ke depan kelas untuk mengambil nilai! Puisi harus selesai jam 10.20 dan harus diafalkan selama 10 menit. Ada yang belum jelas?” perintah bu Susi, guru pelajaran bahasa Indonesia. Semua murid mengangguk – angguk tanda mengerti. Lalu kami semua mulai menulis.
   Membuat puisi cukup mudah. Aku berusaha membuat puisi yang singkat, supaya aku mudah menghafalkannya.
   Tak terasa 25 menit berlalu.
   “Kumpulkan! Ibu akan mengacak bukunya, buku yang ibu ambil dan nama yang ibu sebutkan harap maju!” jelas bu guru.
   Kelas hening seketika. Aku yakin setiap murid takut namanya akan disebut oleh ibu Susi. Aku yakin mereka semua belum siap sama seperti apa yang kurasakan saat ini.
   “Sophie Bellina.” panggil bu Susi.
   Yang benar saja, aku dipanggil pertama kali oleh bu Susi. Olive dan Nanda mensupport dan memberiku acungan jempol. Aku sangat gugup. Aku berdo’a dalam hati. Lalu aku berdiri dan melangkah menuju depan kelas.




Piano

Alunanmu terdengar sangat merdu
hingga...
Ku merasa bahagia

Piano...
dentinganmu penuh arti...
Menghibur banyak orang

Piano...
Denganmu
kau beri arti sebuah lagu


   Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! ku lihat Nanda dan Olive bertepuk tangan, juga bu Susi. Tapi teman – teman yang lain... tak ada yang bertepuk tangan untukku? bete juga...
   “Tepuk tangan untuk Sophie!” perintah bu Susi.
   Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Barulah teman – teman yang lain ikut bertepuk tangan, namun ku lihat wajah mereka cemberut.
   “Sekolah kita seharusnya bangga memiliki anak murid seperti Sophie. Dia sering mengharumkan nama sekolah kita, bukan hanya satu bidang yang Sophie tekuni. Buktinya, selain menulis cerita, dia juga pandai membaca dan menulis puisi.” puji bu Susi.
   Aku hanya tersenyum kecil. “terima kasih...”ujarku
   “Kalau kalian mau belajar menulis cerita atau puisi, minta Sophie ajarkan. Ibu yakin, Sophie tidak akan keberatan.” puji bu Susi lagi. Membuatku jadi menunduk malu. Sepertinya, bu Susi terlalu berlebihan... Lalu aku dipersilakan duduk kembali. Aku memperhatikan teman – teman yang maju. Tak jarang aku memberi pujian dan tepuk tangan kepada mereka yang maju.
   Tapi, teman – temanku yang lain hanya berucap, “He-eh... ng... terimakasih.” mereka pun berucap demikian tanpa tersenyum. Benar – benar aneh! Ada apa dengan mereka?
   Seusai pelajaran Bahasa Indonesia, adalah pelajaran IPS. Aku juga menyukai pelajaran IPS. Hehehe... (penulisnya atau si Sophie yang suka Bahasa Indonesia sama IPS niih? Hehehe...)
   Teet! Teet! Teet! Bel istirahat kedua berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas menuju mushola.
Tak ku lihat Olive atau pun Nanda, sepertinya mereka sudah jalan duluan ke mushola. Aku pun bertanya pada Siska, “Sis, lihat Olive sama Nanda gak?” tanyaku.
“Gak! Cari aja sendiri.” jawab Siska sinis lalu pergi meninggalkanku.
“Makasih!” kataku setengah berteriak.
Akhirnya aku berjalan sendiri menuju mushola dengan setengah kesal. Tiba – tiba... BRUUKKK!!!
“Aaw...”
Aku menabrak Lita.
“Ups... sorry ya, Lit... kamu gak apa – apakan?” tanyaku lembut.
“Gak apa – apa! Makanya kalau jalan tuh liat – liat! Punya mata gak sih?” jawab Lita, judes. Lalu pergi.
Tak ku hiraukan Lita. Aku segera berjalan ke mushola. Di mushola, lagi – lagi aku tak melihat Olive atau Nanda. Mungkin mereka sedang jajan. Pikirku. Tapi, hingga sholat hendak dimulai, mereka belum juga muncul. Aku tak tahu mereka ke mana. Tak ada teman sekelasku yang berada di sampingku. Aku pun maju ke barisan dekat Vania.
Baru saja aku melangkah ke depan. Vania menatapku dengan wajah tidak suka dan sinis. “Ngapain kamu ikut – ikutan ke sini?” tanyanya sinis. Lagi – lagi Vania menjauh dariku.
Argh!!! Gak Nadine, gak Chika, gak Siska, gak Lita, gak Vania, sama aja! Apa sih maunya teman – teman sekelas? Kenapa jadi berubah seperti ini? Apa salahku? Kalau memang aku ada salah jujur aja... aku gak akan marah kok! Lalu, kenapa harus menjauh dari aku seperti ini sih? pekikku dalam hati karena geram. Hari ini bener – bener MY BAD DAY!!!!! pekikku, masih dalam hati.
   Tapi, aku tetap berusaha menahan supaya tidak marah – marah di depan teman – teman sekelasku. Apa jadinya kalau aku marah – marah di depan mereka? Mereka akan semakin menjauhiku. Aku juga berusaha tidak menceritakan masalahku ini kepada bu Nurul. Ibu guru yang paling dekat denganku. Biasanya, kalau aku ada masalah, aku selalu cerita kepada beliau.
   “Kok tumben gak main sama yang lain? Lagi berantem ya?” tanya bu Nurul, saat aku sedang makan bakso di kelas.
   “Ng... Eh, Ah, enggak bu... aku lagi mau sendiri aja...” jawabku berbohong.
   “Ooh... begitu... kalau ada masalah apa – apa... cerita dong sama ibu...” kata bu Nurul, lagi.
   “Iya bu... tenang aja.” jawabku.
   Hari ini adalah hari Rabu, hari ini jadwalnya olahraga. Rasanya pagi – pagi malas sekali berangkat sekolah, jangankan berangkat sekolah, sarapan, mandi dan bangun tidur saja malas. Mama, papa, kakak, dan adik sampai bingung melihat sikapku.
   “Kamu gak apa – apa, sayang?” tanya mama, saat sedang sarapan.
   “Nggak apa – apa kok, ma. Sophie cuma mengantuk...” jawabku, berbohong.
   “Kalau ada apa – apa cerita dong... siapa tahu, mama bisa bantu menyelesaikan masalahmu. Oke?” kata mama.
   “Tenang aja ma...” jawabku.
    “Neng sakit?” tanya mang Urip, supirku. Saat mengantarku ke sekolah.
   “Nggak kok, mang. Sophie cuma mengantuk.” jawabku, berbohong.
   “Ooh... mang kira, neng sakit.” kata mang urip.
   Sesampainya di sekolah, Nanda dan Olive langsung menarikku.
   “Sop, aku udah bilang sama Chika, nanti kita main bareng – bareng lagi.” kata Olive, dengan ekspresi senang. Diikuti anggukan Nanda.
   “Kata Chika, udah gak ada tim inti lagi. Kita bebas main deh!” kata Nanda.
   “Ooh...” jawabku, singkat.
   “Lho, kok cuma ‘Ooh...’? Gak ada kata lain ya selain ‘Oh’?” tanya Olive, bingung.
   “Terus, aku harus gimana lagi? Seneng?” jawabku.
   Teet! Teet! Teet! Teet! Bel masuk kelas berbunyi. Seusai berbaris, anak – anak berhamburan ke dalam kelas. Lalu kami sekelas langsung membaca do’a. Seusai membaca do’a Al-Fatihah, beberapa surat pendek, dan do’a belajar. Chika langsung maju ke depan kelas.
   “Nanti istirahat main galasin lanjutin yang kemarin, ya!” katanya.
   Olive dan Nanda langsung berdiri.
   “Mana janjimu? Kau bilang nanti main seperti biasa?” kata Olive, kesal.
   “Memangnya aku pernah berjanji seperti itu?” tanya Chika.
   “Dasar pembual!” kata Nanda, geram.
   “Oh ya, buat Sophie, jangan harap deh! Kamu bisa main galasin sama kita – kita kayak dulu.” kata Chika padaku.
   Aku langsung berdiri, “Siapa yang berharap main sama kalian? Emang aku seneng main sama kalian? Main sama kalian tuh udah kayak gak ada kerjaan aja... Aku udah muak dan males main sama kalian semua!” jawabku, tajam.
   Seisi kelas terdiam, lalu aku kembali duduk. Lalu tak berselang lama, bu guru masuk kelas. Hingga istirahat tiba, aku tidak mengajak bicara teman – temanku. Aku sudah bisa menerka, mereka pasti tak akan menjawabnya atau malah seperti kejadian yang kemarin. Aku hanya berbicara pada bu guru, Olive, dan Nanda.
   Teet! Teet! Teet! Bel istirahat berbunyi. Anak – anak berhamburan keluar kelas. Aku sungguh kesal dengan teman – teman, sehingga sehabis jajan, aku langsung ke perpustakaan. Aku tak peduli dengan teman – temanku. Aku tiduran di karpet perpustakaan.
   Tiba – tiba, Olive menghampiriku.
   “Uuh! Aku kesal sama teman – teman! Mainnya curang!” tuturnya.
   Nanda pun datang, “Tahu tuh!”
   “Ya sudah... biarkan aja...” jawabku enteng.
   Tiba – tiba, Chika masuk ke perpustakaan.
   “Sop, Live, Nan, maafin aku dan teman – teman ya! Buat Sophie maaf, kita ini sebenarnya iri sama kamu... Soalnya kamu pintar dan selalu dipuji para guru. aku tahu aku salah... Aku yang membuat pertengkaran dan permasalahan ini... Tolong maafkan kami ya! Sekarang, kami butuh kalian, kalian boleh kok main galasin lagi bareng kami...” pinta Chika.
   Aku, Nanda, dan Olive tersenyum. “Baiklah, tapi jangan iri dan curang lagi ya! No body perfect! Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.” kataku.

   Akhirnya, masalahku dan teman – teman selesai deh! Dan kami bermain bersama lagi dengan senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar