Hari
ini aku masuk ke dalam kelas dengan wajah tertunduk lesu menahan tangis.
Badanku sudah lemah sekali. Tiba – tiba Chelsea, salah satu sahabatku dan juga
teman sebangkuku mendekatiku.
“Hai,
Ren. Ada apa denganmu? Mengapa kamu murung sekali?” tanya Chelsea padaku.
Aku
menaruh tasku di bangku, bukannya menjawab aku malah menangis. Teman – teman
mendekatiku.
“Ada
apa dengan, Karen?” tanya Lilo.
“Tidak
tahu.” jawab Chelsea. “Apakah kamu mau bercerita padaku?” tanya Chelsea
berpaling padaku.
Aku
mengangguk, “Nanti saja saat jam istirahat.” jawabku pelan hampir tidak
terdengar oleh Chelsea.
Teet!!!
Teet!!! Teet!!! Bel istirahat berbunyi.
Murid
– murid berhamburan keluar kelas tak terkecuali aku dan Chelsea. Seusai jajan,
Chelsea bertanya padaku, “Sebenarnya apa yang terjadi sih, Ren? Hingga kamu
menangis?”
“Tadi
malam, aku terbangun dari tidur karena kedua orangtuaku bertengkar keras
sekali. Aku, kakakku, dan adikku sampai terbangun juga mendengarnya. Padahal,
besok adalah hari ulangtahun
pernikahan mereka...” ceritaku sendu. Tak ku duga air mata mengalir deras di
pipiku.
Chelsea
segera memelukku. “Sabar ya!” hiburnya. “Sudah berapa lama orangtuamu
bertengkar?”
“Aku
tak tahu, sudah cukup lama. Ada kali 9 malam.” jawabku.
“Mungkin
orangtuamu sedang capek kali. Jadi, untuk melampiaskannya dengan marah-marah.”
“Apakah
kau punya ide?” tanyaku masih tetap menangis.
“Untuk
saat ini aku tak tahu, tapi, aku yakin, pasti malam ini kedua orangtuamu akan
berbaikan kok!” jelas Chelsea.
“Terimakasih
ya, Chel.” jawabku. Semoga saja begitu. Batinku, masih sedih.
Sepulang
sekolah, aku segera pulang ke rumah di jemput mama.
“Ma,
mama kok gak kerja? Biasanya kan yang jemput aku pak Didi.” kataku pada mama
yang sedang menyetir mobil. Oh ya, pak Didi adalah supirku.
“Mang
Didi lagi nganterin papamu ke Bekasi. Ada urusan penting.” jawab mama.
“Urusan
apa?” tanyaku lagi.
“Mama
gak tahu! Jangan tanya mama dong! Tanya papa aja sendiri!” jawab mama dengan
nada kesal.
Aku
hanya diam saja. Mungkin mama masih kesal dengan kejadian semalam yang membuat
mereka bertengkar. Pikirku. Lagi – lagi dengan pikiran itu, hampir membuatku
menangis.
Sepanjang
perjalanan, aku diam saja sambil cemberut.
Sesampainya
di rumah, aku membanting pintu mobil dan berlari memasuki rumah. Aku segera
ganti baju dan menyalakan AC di
kamarku dan tertidur pulas. Hingga pukul 16.00, aku baru bangun. Aku segera
keluar kamar. Ku lihat mama sedang membaca koran di ruang keluarga, aku segera
menghampiri mama.
“Ma,
papa belum pulang, ma?” tanyaku.
“Belum.”
jawab mama singkat.
“Papa
pulang jam berapa, ma?” tanyaku lagi.
“Gak
tahu ah! SMS aja sana!” lagi – lagi mama menjawab dengan nada kesal.
“Ya
udah, pinjem HP mama ya!” kataku sambil meraih handphone mama.
“Eh,
jangan! jangan! Mama lagi
nunggu balesan dari teman mama... Ng... kamu kan bisa pakai HP kamu sendiri...
Ada pulsanya kan?” cegah mama buru – buru sambil merebut hanphonenya dari
tanganku.
“Eh,
iya deh ma.” jawabku sambil berlari menuju kamarku. Aku segera memasuki kamarku
dan membanting pintu kamar. Aku mengunci kamarku. Aku segera membenamkan
kepalaku di bawah bantal. Aku memang terbiasa seperti ini kalau ingin menangis.
Ada
apa dengan mama dan papa? Kenapa mereka berubah? Ya Allah... aku ingin mereka
kembali seperti mereka yang dulu... Ya Allah... tunjukkan padaku jalan
keluarnya dari masalah ini... batinku sedih.
Pukul
19.30 malam, papa baru pulang dari Bekasi. Mama tidak menyiapkan makanan untuk
papa, akhirnya akulah yang berinisiatif mengambilkan nasi dan lauk untuk makan
malam papa.
“Pa,
mama kenapa sih?” tanyaku, pada saat papa makan malam.
“Aduuuh...
jangan tanya papa dong! Tanya mama aja... papa gak tahu... papa aja baru pulang
dari Bekasi.” jawab papa.
Aku
tak berani bertanya banyak lagi. Ingin rasanya bertanya apa yang terjadi tadi
malam? Apa yang membuat mereka bertengkar? Tapi tentu aku tak berani berucap
seperti itu. Bisa-bisa mereka akan memarahiku. Lagipula aku tahu jawabannya
kok! Kalau aku tanya ke papa, pasti papa jawab, “Tak ada apa – apa kok, nak.”
kalau tanya ke mama lebih parah lagi, “Mau tahu urusan orang saja siih? Kamu
kan masih kecil. Hal yang jadi utama adalah belajar.” Besok hari ulangtahun
pernikahan mereka, tapi mereka saja belum berbaikan.
Lagi
– lagi malam ini aku terbangun kaget karena terdengar suara benda terjatuh,
bahkan pecah. Adikku yang ketakutan menangis, kakakku langsung memeluk adikku.
Sementara aku menutup kedua telingaku dengan bantal dan aku sendiri berada di
bawah bantal menangis memohon kepada Allah supaya do’aku cepat dikabulkan dan
mereka cepat berbaikan. Atau ada cara agar mereka berbaikan.
Jam
pelajaran SBK hari ini adalah menggambar! Menggambar adalah hobiku! Kali ini bu
Rena memberikan tema buah – buahan. Aku segera menggunakan khayalanku untuk
menggambar. Ku goreskan pensil di sana
dan di sini.
Lalu ku warnai gambarku dengan sangat hati-hati. Aku membuat gambar berbagai
macam buah – buahan yang ada di dalam sebuah keranjang cantik. Dan untuk backgroundnya aku beri warna gradasi. Selesai sudah! Saat aku
membereskan peralatan menggambarku, Chelsea menghampiriku.
“Wow!
Gambarmu keren sekali Karen!” puji Chelsea kagum.
“Hehe...
terimakasih, bagaimana dengan gambarmu sendiri?” tanyaku.
“Hmm...
sudah selesai, tapi tidak terlalu bagus. Kau tahu, aku ini hobi menulis bukan
menggambar.” jawab Chelsea.
“Iya,
iya...”
“Eh,
by the way... bagaimana dengan
orangtuamu? Sudah tidak bertengkar lagikan?” tanya Chelsea.
Aku
tertunduk lesu.
“Ada
apa? Ada apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Chelsea.
“Mereka
belum berbaikan... malahan pertengkaran mereka semakin parah. Aku takut
Chel...” ucapku sedih.
Raut
muka Chelsea seperti berpikir keras. “Aha! Aku punya ide!” katanya.
“Ide
apa, Chel?” tanyaku.
“Begini,
kau kan jago menggambar. Kamu buat kartu dari karton dengan gambar papa dan
mamamu sedang bergandengan tangan dan tuliskan di atasnya, misalnya,
“FOREVER LOVE.” atau “ALWAYS TOGETHER FOREVER.” dan di belakang kartu itu
tuliskan dengan indah keinginanmu bahwa kamu, adikmu dan kakakmu tidak ingin
mereka bertengkar lagi. Ungkapkan bahwa kamu, adikmu dan kakakmu sedih bila
mereka bertengkar terus – terusan. Bagaimana? hebatkan?” usul Chelsea.
“Waah!
Benar! Idemu hebat sekali Chelsea. Thank
you so much! You are my best friend
forever...” jawabku sembari memeluk Chelsea.
Sepulang
sekolah, ku lihat ke kamar papa dan mama. Hmm... papa dan mama tidak ada
rupanya. Di kamar juga tidak ada kakak dan adik. Sepertinya mereka belum pulang
atau bermain ke rumah teman mereka dulu. Aku lalu segera mengambil gunting,
krayon, spidol dan tentunya karton. Sreet... Sreet... selesai sudah!
Aku
membuat kartu berbentuk hati yang di tengahnya terdapat gambar mama dan papa sedang
berpegangan tangan di bawahnya tertulis Mom
& Dad. Di dalamnya tertulis begini:
Untuk: Mama dan papa
Ma,
pa, SELAMAT HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN YANG KE-13 YA! semoga semakin rukun.
Kami ingin kalian berbaikan lagi seperti dulu.
I
LOVE MOM AND DAD FOREVER...
Dari: Farhan, Karen dan Alifah
Setelah
selesai, kartu yang ku buat ku tempel di lemari pakaian papa dan mama.
“Semoga
dengan ini mereka dapat rukun kembali.”
harapku sambil berbisik.
Hingga
malam hari, mama dan papa tidak kunjung datang juga. Akhirnya, aku, kakak dan
adik tertidur.
Keesokkan
harinya, aku melihat papa dan mama sudah bangun dan menunggu di ruang makan.
“Eh,
kalian sudah bangun rupanya... ada yang ingin mama dan papa bicarakan.” kata
mama ramah. Saat aku, kakak dan adik bangun tidur.
“Ada
apa, ma?” tanya kakak.
“Mama
dan papa menemukan kartu ini di tempel di lemari pakaian.” jawab papa.
Aku
menunduk begitu juga kakak dan adikku. Kami takut bila kami akan dimarahi. Tapi
ternyata tidak.
“Maafkan
mama dan papa ya bila selama ini berubah. Mama dan papa sama sekali tidak
menyangka kalian akan tahu pertengkaran kami dan membuat kalian sedih selama
ini. Sesungguhnya, mama dan papa tidak bermaksud membuat kalian sedih. Tapi...
hanya saja... mama dan papa kali ini
berbeda pendapat mengenai akan dimasukkan ke SMP
mana Karen saat lulus
SD bulan Mei nanti dan Farhan akan masuk SMA juga kan. Kami sadar kesalahan
kami, selanjutnya terserah kalian akan mendaftar ke sekolah mana ”
jelas mama.
“Dan
maafkan mama dan papa ya bila pertengkaran ini malah membuat konsentrasi kalian
dalam belajar terganggu.” tambah papa.
“Sini!
Biar mama dan papa peluk kalian.” kata mama.
Kami
segera berhamburan kepelukan mama dan papa. Kami sangat senang mereka sudah
berbaikan. Sehingga tak ku sangka air mata mengalir. Tapi kali ini bukan air
mata kesedihan, tapi air mata kebahagian dan tangis haru.
Terimakasih
Chelsea... telah membantuku menyelesaikan masalah ini. Terimakasih ya Allah...aku tau Kau pasti mengabulkan do’aku.
“Tapi
semua ini terjadi karena papa yang memulai!” ucap mama mulai lagi.
“Enggak...
semua ini gara – gara mama...” bantah papa.
Hh...
mulai lagi deh! Batinku.
“JANGAN
BERTENGKAR LAGI, PLEASE!!!” pekikku berbarengan dengan kakak dan adik.
Kini
giliran papa dan mama tertawa jahil
menggoda kami...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar