Sabtu, 04 Oktober 2014

Jangan Bertengkar Lagi, Please!

   Hari ini aku masuk ke dalam kelas dengan wajah tertunduk lesu menahan tangis. Badanku sudah lemah sekali. Tiba – tiba Chelsea, salah satu sahabatku dan juga teman sebangkuku mendekatiku.

   “Hai, Ren. Ada apa denganmu? Mengapa kamu murung sekali?” tanya Chelsea padaku.
   Aku menaruh tasku di bangku, bukannya menjawab aku malah menangis. Teman – teman mendekatiku.
   “Ada apa dengan, Karen?” tanya Lilo.
   “Tidak tahu.” jawab Chelsea. “Apakah kamu mau bercerita padaku?” tanya Chelsea berpaling padaku.
   Aku mengangguk, “Nanti saja saat jam istirahat.” jawabku pelan hampir tidak terdengar oleh Chelsea.
   Teet!!! Teet!!! Teet!!! Bel istirahat berbunyi.
   Murid – murid berhamburan keluar kelas tak terkecuali aku dan Chelsea. Seusai jajan, Chelsea bertanya padaku, “Sebenarnya apa yang terjadi sih, Ren? Hingga kamu menangis?”
   “Tadi malam, aku terbangun dari tidur karena kedua orangtuaku bertengkar keras sekali. Aku, kakakku, dan adikku sampai terbangun juga mendengarnya. Padahal, besok adalah hari ulangtahun pernikahan mereka...” ceritaku sendu. Tak ku duga air mata mengalir deras di pipiku.
   Chelsea segera memelukku. “Sabar ya!” hiburnya. “Sudah berapa lama orangtuamu bertengkar?”
   “Aku tak tahu, sudah cukup lama. Ada kali 9 malam.” jawabku.
   “Mungkin orangtuamu sedang capek kali. Jadi, untuk melampiaskannya dengan marah-marah.”
   “Apakah kau punya ide?” tanyaku masih tetap menangis.
   “Untuk saat ini aku tak tahu, tapi, aku yakin, pasti malam ini kedua orangtuamu akan berbaikan kok!” jelas Chelsea.
   “Terimakasih ya, Chel.” jawabku. Semoga saja begitu. Batinku, masih sedih.
   Sepulang sekolah, aku segera pulang ke rumah di jemput mama.
   “Ma, mama kok gak kerja? Biasanya kan yang jemput aku pak Didi.” kataku pada mama yang sedang menyetir mobil. Oh ya, pak Didi adalah supirku.
   “Mang Didi lagi nganterin papamu ke Bekasi. Ada urusan penting.” jawab mama.
   “Urusan apa?” tanyaku lagi.
   “Mama gak tahu! Jangan tanya mama dong! Tanya papa aja sendiri!” jawab mama dengan nada kesal.
   Aku hanya diam saja. Mungkin mama masih kesal dengan kejadian semalam yang membuat mereka bertengkar. Pikirku. Lagi – lagi dengan pikiran itu, hampir membuatku menangis.
   Sepanjang perjalanan, aku diam saja sambil cemberut.
   Sesampainya di rumah, aku membanting pintu mobil dan berlari memasuki rumah. Aku segera ganti baju dan menyalakan AC di kamarku dan tertidur pulas. Hingga pukul 16.00, aku baru bangun. Aku segera keluar kamar. Ku lihat mama sedang membaca koran di ruang keluarga, aku segera menghampiri mama.
   “Ma, papa belum pulang, ma?” tanyaku.
   “Belum.” jawab mama singkat.
   “Papa pulang jam berapa, ma?” tanyaku lagi.
   “Gak tahu ah! SMS aja sana!” lagi – lagi mama menjawab dengan nada kesal.
   “Ya udah, pinjem HP mama ya!” kataku sambil meraih handphone mama.
   “Eh, jangan! jangan! Mama lagi nunggu balesan dari teman mama... Ng... kamu kan bisa pakai HP kamu sendiri... Ada pulsanya kan?” cegah mama buru – buru sambil merebut hanphonenya dari tanganku.
   “Eh, iya deh ma.” jawabku sambil berlari menuju kamarku. Aku segera memasuki kamarku dan membanting pintu kamar. Aku mengunci kamarku. Aku segera membenamkan kepalaku di bawah bantal. Aku memang terbiasa seperti ini kalau ingin menangis.
   Ada apa dengan mama dan papa? Kenapa mereka berubah? Ya Allah... aku ingin mereka kembali seperti mereka yang dulu... Ya Allah... tunjukkan padaku jalan keluarnya dari masalah ini... batinku sedih.
   Pukul 19.30 malam, papa baru pulang dari Bekasi. Mama tidak menyiapkan makanan untuk papa, akhirnya akulah yang berinisiatif mengambilkan nasi dan lauk untuk makan malam papa.
   “Pa, mama kenapa sih?” tanyaku, pada saat papa makan malam.
   “Aduuuh... jangan tanya papa dong! Tanya mama aja... papa gak tahu... papa aja baru pulang dari Bekasi.” jawab papa.
   Aku tak berani bertanya banyak lagi. Ingin rasanya bertanya apa yang terjadi tadi malam? Apa yang membuat mereka bertengkar? Tapi tentu aku tak berani berucap seperti itu. Bisa-bisa mereka akan memarahiku. Lagipula aku tahu jawabannya kok! Kalau aku tanya ke papa, pasti papa jawab, “Tak ada apa – apa kok, nak.” kalau tanya ke mama lebih parah lagi, “Mau tahu urusan orang saja siih? Kamu kan masih kecil. Hal yang jadi utama adalah belajar.” Besok hari ulangtahun pernikahan mereka, tapi mereka saja belum berbaikan.
   Lagi – lagi malam ini aku terbangun kaget karena terdengar suara benda terjatuh, bahkan pecah. Adikku yang ketakutan menangis, kakakku langsung memeluk adikku. Sementara aku menutup kedua telingaku dengan bantal dan aku sendiri berada di bawah bantal menangis memohon kepada Allah supaya do’aku cepat dikabulkan dan mereka cepat berbaikan. Atau ada cara agar mereka berbaikan.
   Jam pelajaran SBK hari ini adalah menggambar! Menggambar adalah hobiku! Kali ini bu Rena memberikan tema buah – buahan. Aku segera menggunakan khayalanku untuk menggambar. Ku goreskan pensil di sana dan di sini. Lalu ku warnai gambarku dengan sangat hati-hati. Aku membuat gambar berbagai macam buah – buahan yang ada di dalam sebuah keranjang cantik. Dan untuk backgroundnya aku beri warna gradasi. Selesai sudah! Saat aku membereskan peralatan menggambarku, Chelsea menghampiriku.
   “Wow! Gambarmu keren sekali Karen!” puji Chelsea kagum.
   “Hehe... terimakasih, bagaimana dengan gambarmu sendiri?” tanyaku.
   “Hmm... sudah selesai, tapi tidak terlalu bagus. Kau tahu, aku ini hobi menulis bukan menggambar.” jawab Chelsea.
   “Iya, iya...”
   “Eh, by the way... bagaimana dengan orangtuamu? Sudah tidak bertengkar lagikan?” tanya Chelsea.
   Aku tertunduk lesu.
   “Ada apa? Ada apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Chelsea.
   “Mereka belum berbaikan... malahan pertengkaran mereka semakin parah. Aku takut Chel...” ucapku sedih.           
   Raut muka Chelsea seperti berpikir keras. “Aha! Aku punya ide!” katanya.
   “Ide apa, Chel?” tanyaku.
   “Begini, kau kan jago menggambar. Kamu buat kartu dari karton dengan gambar papa dan mamamu sedang bergandengan tangan dan tuliskan di atasnya, misalnya, “FOREVER LOVE.” atau “ALWAYS TOGETHER FOREVER.” dan di belakang kartu itu tuliskan dengan indah keinginanmu bahwa kamu, adikmu dan kakakmu tidak ingin mereka bertengkar lagi. Ungkapkan bahwa kamu, adikmu dan kakakmu sedih bila mereka bertengkar terus – terusan. Bagaimana? hebatkan?” usul Chelsea.
   “Waah! Benar! Idemu hebat sekali Chelsea. Thank you so much! You are my best friend forever...” jawabku sembari memeluk Chelsea.
   Sepulang sekolah, ku lihat ke kamar papa dan mama. Hmm... papa dan mama tidak ada rupanya. Di kamar juga tidak ada kakak dan adik. Sepertinya mereka belum pulang atau bermain ke rumah teman mereka dulu. Aku lalu segera mengambil gunting, krayon, spidol dan tentunya karton. Sreet... Sreet... selesai sudah!
   Aku membuat kartu berbentuk hati yang di tengahnya terdapat gambar mama dan papa sedang berpegangan tangan di bawahnya tertulis Mom & Dad. Di dalamnya tertulis begini:

Untuk: Mama dan papa

   Ma, pa, SELAMAT HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN YANG KE-13 YA! semoga semakin rukun. Kami ingin kalian berbaikan lagi seperti dulu.
   I LOVE MOM AND DAD FOREVER...
Dari: Farhan, Karen dan Alifah

   Setelah selesai, kartu yang ku buat ku tempel di lemari pakaian papa dan mama.
   “Semoga dengan ini mereka dapat rukun kembali.” harapku sambil berbisik.
   Hingga malam hari, mama dan papa tidak kunjung datang juga. Akhirnya, aku, kakak dan adik tertidur.
   Keesokkan harinya, aku melihat papa dan mama sudah bangun dan menunggu di ruang makan.
   “Eh, kalian sudah bangun rupanya... ada yang ingin mama dan papa bicarakan.” kata mama ramah. Saat aku, kakak dan adik bangun tidur.
   “Ada apa, ma?” tanya kakak.
   “Mama dan papa menemukan kartu ini di tempel di lemari pakaian.” jawab papa.
   Aku menunduk begitu juga kakak dan adikku. Kami takut bila kami akan dimarahi. Tapi ternyata tidak.
   “Maafkan mama dan papa ya bila selama ini berubah. Mama dan papa sama sekali tidak menyangka kalian akan tahu pertengkaran kami dan membuat kalian sedih selama ini. Sesungguhnya, mama dan papa tidak bermaksud membuat kalian sedih. Tapi... hanya saja... mama dan papa kali ini berbeda pendapat mengenai akan dimasukkan ke SMP mana Karen saat lulus SD bulan Mei nanti dan Farhan akan masuk SMA juga kan. Kami sadar kesalahan kami, selanjutnya terserah kalian akan mendaftar ke sekolah mana ” jelas mama.
   “Dan maafkan mama dan papa ya bila pertengkaran ini malah membuat konsentrasi kalian dalam belajar terganggu.” tambah papa.
   “Sini! Biar mama dan papa peluk kalian.” kata mama.
   Kami segera berhamburan kepelukan mama dan papa. Kami sangat senang mereka sudah berbaikan. Sehingga tak ku sangka air mata mengalir. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagian dan tangis haru.
   Terimakasih Chelsea... telah membantuku menyelesaikan masalah ini. Terimakasih ya Allah...aku tau Kau pasti mengabulkan do’aku.
   “Tapi semua ini terjadi karena papa yang memulai!” ucap mama mulai lagi.
   “Enggak... semua ini gara – gara mama...” bantah papa.
   Hh... mulai lagi deh! Batinku.
   “JANGAN BERTENGKAR LAGI, PLEASE!!!” pekikku berbarengan dengan kakak dan adik.

   Kini giliran papa dan mama tertawa jahil menggoda kami...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar