Hari
ini Sandara bangun pagi – pagi. Dia segera membereskan tempat tidurnya dan
bergegas mandi. Seusai mandi dia segera sholat, selesai sholat dia memasak
makanan untuk sarapan dan segera sarapan.
Terdengar
pintu terbuka, tampak wajah ibu.
“Wah,
kau sudah bangun, nak?” tanya ibu.
“Sudah
bu. Eh, ayo bu sarapan bareng Dara.” ajak Sandara.
Ibu
dan Sandara pun sarapan bersama.
“Ibu
berencana membelikanmu seekor kuda karena sebagai rasa terimakasih ibu padamu
sekalian, untuk hadiah ulang tahunmu sebentar lagi.” jelas ibu.
“Hahaha...
ibu lucu sekali! Ulang tahunku kan masih 10 hari lagi!” tawa Sandara.
Ibu
hanya tersenyum kecil.
Seusai
sarapan, mereka berjalan kaki bersama menuju perternakan kuda. Sandara
mencari-cari kuda yang dia sukai. Sandara memilih kuda berwarna putih nan
gagah. Kuda itu sudah dilatih oleh pemiliknya. Sehingga tidak liar lagi.
Sandara memberi nama kuda itu Chiwhi. Yang berarti Chibi White. Dalam bahasa
Jepang, Chibi berarti kecil. Maksudnya, kuda putih yang kecil. Karena, walau
kuda itu gagah, diantara kuda - kuda yang dijualnya disitu, Whitelah yang
paling kecil. Tapi Sandara memanggilnya White.
Semingguan
itu, Sandara dan White selalu bermain bersama. Hingga akhirnya tibalah hari
ulang tahun Sandara yang ketiga belas.
“Happy
birthday, nak!” ucap ibu memberi selamat.
“Terimakasih
ibu.” jawab Sandara.
“Semoga
menjadi anak yang sholehah. Berbakti pada orangtua.” ibu mendo’akan.
“Amin...”
jawab Sandara.
Tiba
– tiba, ibu teringat akan sesuatu. Tiba – tiba saja ibu tertunduk lesu dan
sedih.
“Ada
apa bu?” tanya Sandara heran.
“I...
ibu... ingin memberitahukanmu sesuatu nak.” ibu menarik tangan Sandara,
mengajaknya memasuki gudang. Dan ibu mengambil sesuatu. Sebuah keranjang
cantik, sebuah kalung, dan sepucuk surat. “Bacalah!” pinta ibu.
untuk: Tuan Putri Sandara
Dari: pengawal kerajaan
Sebelumnya
hamba meminta maaf yang sebesar – besarnya. Hamba terpaksa membuang Tuan supaya
Tuan tidak di bunuh oleh seseorang yang tidak menyukai kelahiran Tuan di kerajaan. Hamba tak dapat menyebutkan namanya. Tapi hamba
mohon Tuan, maafkan hamba. Jangan pecat hamba, hamba tidak bersalah... hamba
hanya terpaksa...
Dan,
dengan adanya surat ini, menjelaskan bahwa Tuan Putri adalah anak dari
Raja dan Ratu Alicia, Alicia adalah putri pertama atau kakak tuan. Sekian
dari hamba, dan terimakasih .
Sandara
tersentak kaget dan tak dapat berucap apa – apa.
“Maafkan
ibu nak. Ibu hanya menjalankan tugas. Pengawal kerajaan hanya memberitahukan
bahwa, ibu hanya boleh memberitahukanmu akan hal ini setelah kamu tumbuh
menjadi dewasa.” jelas ibu Siti.
Sandara
segera menangis dan memeluk ibu angkatnya itu. “Ibu tidak salah! Ibu tidak
salah! Terimakasih atas semua yang ibu lakukan untukku. Aku sayang ibu, aku
menganggap ibu adalah ibu kandungku. Aku tidak akan melupakanmu ibu. Aku tidak
ingin berpisah denganmu ibu...”
“Tidak
Tuan Putri. Tuan harus segera kembali ke Istana. Kerajaan dan negeri ini, semua
bergantung padamu, Tuan. Tuan tidak boleh disini.” jelas ibu Siti.
“Mengapa
begitu?” tanya Putri Sandara.
“Dahulu,
terdapat ramalan mengenai kerajaan ini. Dan ramalan itu mengatakan, bahwa akan
ada seorang putri yang kelak akan memimpin kerajaan ini sehingga berhasil. Dan
putri dalam ramalan itu adalah Tuan. Jika di sini terus, rakyat akan
menderita Tuan.” jelas ibu Siti.
“Tapi...
jika aku tinggalkan ibu, ibu akan tinggal dengan siapa? Siapa yang membantu
ibu?” tanya Putri Sandara.
“Tak
masalah Tuan, hamba akan tinggal sendiri seperti dulu. Lagi pula, suatu
kehormatan bagi hamba dapat merawat dan membesarkan Tuan hingga menjadi seperti
ini. Hamba senang dapat membesarkan Tuan Putri.” jawab ibu Siti.
Mungkin
ini sudah nasibku untuk menjadi seorang Putri bangsawan yang harus membina,
mengatur, dan menjaga kerajaanku beserta rakyatnya. Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengurus negri ini beserta
isinya. Jika aku berhasil, ibu akan bangga. Dan
mungkin, ini adalah pertemuan terakhirku dengan ibu yang selama ini merawat dan
mengasuhku. Terimakasih ibuku tercinta. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar