Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 4

   Hari ini Sandara bangun pagi – pagi. Dia segera membereskan tempat tidurnya dan bergegas mandi. Seusai mandi dia segera sholat, selesai sholat dia memasak makanan untuk sarapan dan segera sarapan.

   Terdengar pintu terbuka, tampak wajah ibu.
   “Wah, kau sudah bangun, nak?” tanya ibu.
   “Sudah bu. Eh, ayo bu sarapan bareng Dara.” ajak Sandara.
   Ibu dan Sandara pun sarapan bersama.
   “Ibu berencana membelikanmu seekor kuda karena sebagai rasa terimakasih ibu padamu sekalian, untuk hadiah ulang tahunmu sebentar lagi.” jelas ibu.
   “Hahaha... ibu lucu sekali! Ulang tahunku kan masih 10 hari lagi!” tawa Sandara.
   Ibu hanya tersenyum kecil.
   Seusai sarapan, mereka berjalan kaki bersama menuju perternakan kuda. Sandara mencari-cari kuda yang dia sukai. Sandara memilih kuda berwarna putih nan gagah. Kuda itu sudah dilatih oleh pemiliknya. Sehingga tidak liar lagi. Sandara memberi nama kuda itu Chiwhi. Yang berarti Chibi White. Dalam bahasa Jepang, Chibi berarti kecil. Maksudnya, kuda putih yang kecil. Karena, walau kuda itu gagah, diantara kuda - kuda yang dijualnya disitu, Whitelah yang paling kecil. Tapi Sandara memanggilnya White.
   Semingguan itu, Sandara dan White selalu bermain bersama. Hingga akhirnya tibalah hari ulang tahun Sandara yang ketiga belas.
   “Happy birthday, nak!” ucap ibu memberi selamat.
   “Terimakasih ibu.” jawab Sandara.
   “Semoga menjadi anak yang sholehah. Berbakti pada orangtua.” ibu mendo’akan.
   “Amin...” jawab Sandara.
   Tiba – tiba, ibu teringat akan sesuatu. Tiba – tiba saja ibu tertunduk lesu dan sedih.
   “Ada apa bu?” tanya Sandara heran.
   “I... ibu... ingin memberitahukanmu sesuatu nak.” ibu menarik tangan Sandara, mengajaknya memasuki gudang. Dan ibu mengambil sesuatu. Sebuah keranjang cantik, sebuah kalung, dan sepucuk surat. “Bacalah!” pinta ibu.

untuk: Tuan Putri Sandara
Dari: pengawal kerajaan

   Sebelumnya hamba meminta maaf yang sebesar – besarnya. Hamba terpaksa membuang Tuan supaya Tuan tidak di bunuh oleh seseorang yang tidak menyukai kelahiran Tuan di  kerajaan. Hamba  tak dapat menyebutkan namanya. Tapi hamba mohon Tuan, maafkan hamba. Jangan pecat hamba, hamba tidak bersalah... hamba hanya terpaksa...
   Dan, dengan adanya surat ini, menjelaskan bahwa Tuan Putri adalah anak dari Raja  dan Ratu Alicia, Alicia adalah putri pertama atau kakak tuan. Sekian dari hamba, dan terimakasih .

   Sandara tersentak kaget dan tak dapat berucap apa – apa.
   “Maafkan ibu nak. Ibu hanya menjalankan tugas. Pengawal kerajaan hanya memberitahukan bahwa, ibu hanya boleh memberitahukanmu akan hal ini setelah kamu tumbuh menjadi dewasa.” jelas ibu Siti.
   Sandara segera menangis dan memeluk ibu angkatnya itu. “Ibu tidak salah! Ibu tidak salah! Terimakasih atas semua yang ibu lakukan untukku. Aku sayang ibu, aku menganggap ibu adalah ibu kandungku. Aku tidak akan melupakanmu ibu. Aku tidak ingin berpisah denganmu ibu...”
   “Tidak Tuan Putri. Tuan harus segera kembali ke Istana. Kerajaan dan negeri ini, semua bergantung padamu, Tuan. Tuan tidak boleh disini.” jelas ibu Siti.
   “Mengapa begitu?” tanya Putri Sandara.
   “Dahulu, terdapat ramalan mengenai kerajaan ini. Dan ramalan itu mengatakan, bahwa akan ada seorang putri yang kelak akan memimpin kerajaan ini sehingga berhasil. Dan putri dalam ramalan itu adalah Tuan. Jika di sini terus, rakyat akan menderita Tuan.” jelas ibu Siti.
   “Tapi... jika aku tinggalkan ibu, ibu akan tinggal dengan siapa? Siapa yang membantu ibu?” tanya Putri Sandara.
   “Tak masalah Tuan, hamba akan tinggal sendiri seperti dulu. Lagi pula, suatu kehormatan bagi hamba dapat merawat dan membesarkan Tuan hingga menjadi seperti ini. Hamba senang dapat membesarkan Tuan Putri.” jawab ibu Siti.

   Mungkin ini sudah nasibku untuk menjadi seorang Putri bangsawan yang harus membina, mengatur, dan menjaga kerajaanku beserta rakyatnya. Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengurus negri ini beserta isinya. Jika aku berhasil, ibu akan bangga. Dan mungkin, ini adalah pertemuan terakhirku dengan ibu yang selama ini merawat dan mengasuhku. Terimakasih ibuku tercinta. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar