Sabtu, 04 Oktober 2014

Unknown Number

   Aku merebahkan tubuhku di kasur rumah seusai sepulang sekolah. Aku kesal sekali pada hari ini. Tadi, di sekolah, aku bertengkar dengan sahabatku, Era. Gara – garanya, aku dituduhnya mensontek ketika ulangan dari sebuah kertas. Memang siih ku akui itu benar, tapi dia tak perlu mengadukan perbuatanku itu kepada pengawas kan? Sehingga aku harus menanggung malu di depan pengawas dan teman – teman yang lain. Beruntung pengawas tidak mengambil lembar jawabanku. Aku pun memusuhinya dan memutuskan untuk belajar dan pulang sendiri.

   Sebenarnya, aku menyadari dan mengakui bahwa sikapku akhir – akhir ini memang semakin buruk. Ya, aku sering membentak – bentak sopir, pembantu, tukang kebon, hingga adikku. Berkali – kali orangtuaku mengingatkanku, tapi aku tak pernah mengindahkannya.
   Namun tiba – tiba, handphoneku berbunyi. Dengan langkah malas, aku meraih handphoneku. Hu-uh! Siapa lagi siih yang meng-SMS-ku? Customer service? Menyebalkan! Tapi ternyata SMS dari orang yang tak ku kenal karena nama maupun nomer yang tidak tercetak di handphoneku.

Unknown number: Maafkanlah Era. Dia kan mengingatkanmu, dia tidak bermaksud buruk kok!
Aku: Maaf, ini siapa?

Namun, tidak deliverd. Aneh! Lalu, aku mencoba untuk melepon nomer itu, namun juga tidak bisa. Ku coba untuk meng-SMS sekali lagi namun gagal. Aku pun akhirnya menyerah. Lalu, orang itu kembali meng-SMS-ku,

Unknown number: Kau tidak bisa menelponku. Jika kau ingin meng-SMS-ku, janganlah bertanya aku siapa, karena percuma saja. Tak akan berhasil.

Aku jadi geram dibuatnya. Ini siapa sih? Mengacau saja! Mengganggu banget! Jangan – jangan dia suruhan dari Era untuk meng-SMS-ku dan memaafkannya! Dasar Era yang menyebalkan! Besok aku akan bertemu padanya dan berbicara mengenai unknown number ini! Ak pun membalas SMS orang itu,

Aku: Kalau gak kenal dan gak mau ngasih tahu siapa, gak usah sok kenal! Ngerti?
Tapi orang itu justru membalas,
Unknown number: Aku mengenalmu! Kau adalah Anneke Syah Putri kelas 7-B. Ya, kan?

   “Er, tolong ya! Jangan ganggu aku pakai cara SMS gak penting.” Kataku keesokkan harinya di sekolah karena geram.
   “Maksudnya apa, An?” tanya Era, tak mengerti.
   “Gak usah pura – pura gak tahu deh! Basi tahu! Kamu nyuruh orang kan untuk SMS aku dan suruh aku maafin kamu?” jawabku, sengit. Wajah Era terlihat bingung, “Apa yang kamu maksud, An? Aku benar – benar tidak mengerti. Aku tidak menyuruh orang untuk meng-SMS-mu dan memaafkanku.”
   “Oh ya? Wow!” jawabku kesal, sambil berlalu meninggalkan Era karena ternyata Era tidak mau jujur dan mengakui kesalahannya.
   Sepulang sekolah, aku kembali pulang sendiri. Selama di perjalanan, rasanya sangat sepi karena tidak ada Era yang biasa berceloteh riang di sampingku. Setibanya di rumah, lagi – lagi HP-ku berbunyi dan ada SMS dari unknown number itu. Begini isinya,

Unknown number: Anneke, aku bukan pesuruh Era. Percayalah padaku! Ku harap kau mau meminta maaf pada Era karena dia benar – benar tulus dan jujur. Kamu tidak akan menemukan sahabat sebaik Era lagi jika kamu memutuskan tali persahabatan kalian. Kamu akan sangat menyesal.
   Aku pun membalas SMS-nya,
Aku: Bagaimana aku bisa tahu dan yakin bahwa kau bukan pesuruh Era?
Dengan cepat, orang itu pun menjawab,
Unknown number: Kau sering mencubit dan menjewer telinga adikmu, Dimas. Tapi yang terparah ketika ayah dan ibumu sedang tidak di rumah. Hanya karena Dimas mencari krayon di lemarimu hingga membuat lemarimu yang memang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Kau menyuruh Dimas untuk tutup mulut soal ini dan tidak berbicara pada siapa – siapa.
Deg! Jantungku serasa berhenti. Bagaimana orang ini tahu rahasiaku dan Dimas? Juga rahasiaku dengan Era? Dikeluargaku, tidak ada yang mengetahui masalahku dengan Era di sekolah, jangankan yang di sekolah, masalahku dengan Dimas pun tak ada yang tahu. Aku memang selalu tutup mulut tentang masalahku selama ini karena pasti mereka tidak peduli atau justru menyalahkanku. Masih gemetaran, aku menjawabnya,
Aku: Bagaimana kau bisa tahu semua rahasia dan masalahku? Oke, aku percaya padamu. Tapi, jika aku memaafkan Era dan meminta maaf kepada adikku, apakah kau akan memberitahu siapa dirimu sebenarnya dan bagaimana caramu mengetahuinya?
Kali ini orang misterius itu menjawab singkat,
Unknown number: Tentu, aku janji.

Namun tiba – tiba dibenakku muncul suatu siasat. ‘Aah... Baiknya kau berpura – pura sudah memaafkan Era dan meminta maaf pada Dimas saja. Toh dia tidak akan mengetahuinya.’ Batinku, sambil tersenyum licik.

Aku: Baiklah, aku SMS Era dulu, ya!
Selang beberapa menit, aku kembali meng-SMS orang aneh itu,
Aku: Aku sudah memaafkan Era dan aku baru saja meminta maaf kepada adikku. Sekarang, kau harus menepati janjimu.
Orang itu menjawab,
Unknown number: Tepati dulu janjimu, baru aku akan tepati janjiku.

Aku tersentak kaget, ‘Bagaimana dia mengetahui bahwa aku berbohong padanya?’ Karena malu, aku tak berani menjawabnya apa – apa lagi. Aku menelan ludah. Ini harus benar – benar ku lakukan, jika aku ingin tahu siapa yang meng-SMS-ku dan bagaimana dia mengetahuinya.
   Esoknya, sesampainya di sekolah, aku segera memeluk Era. Sambil menangis, aku mengungkapkan semua penyesalanku, “Er, maafin aku Er... Aku menyesal memusuhimu. Aku tahu aku yang salah dan kamu memang benar. Aku tahu bahwa niatmu sebenarnya baik, yakni mengingatkanku. Maafkan aku karena tidak memberimu maaf. Kamu adalah sahabat terbaikku selama ini...” Era tersenyum, dia membalas memelukku dengan erat.
   Sepulang dari sekolah, aku segera mencari adikku, Dimas.
   “Dim..” panggilku. Dimas pun muncul dari ambang pintu kamarnya, “Ada apa kak?” tanyanya.
   “Maafin kakak yaa! Kakak selama ini bertingkah buruk padamu. Kakak selama ini selalu bertingkah kasar padamu. Kini, kakak menyesal, dek. Kakak janji takkan mengulangnya lagi dan akan mengubah sikap jelek kakak ini.” Jelasku, kehabisan kata – kata lagi untuk meminta maaf.
   “Tak apa kak... Aku sudah memaafkan kakak kok! Mungkin juga... selama ini... Dimas berlebihan dengan kakak. Kalau Dimas ada salah dengan kakak,  Dimas minta maaf juga ya!” jawab Dimas, sambil tersenyum. Aku segera membalas senyumnya.
   Setelah itu, aku berencana untuk meng-SMS unknown number itu. Tapi.. ketika aku mencari SMS dari orang misterius itu...
   “Kok SMS-nya nggak ada semua siih? Aku yakin sudah menyimpannya dan tidak menghapusnya.” Tanyaku, panik sambil terus mengutak – atik handphoneku.
   “Dim, kamu tadi mainin handphone kakak yaa?” tudingku, curiga.
   Dimas mengernyitkan dahi lalu menggeleng, “Emangnya kenapa, kak? Ada apa?”
   “Eh, nggak kok... SMS dari teman kakak yang di luar negeri gak ada... padahal kakak yakin sudah menyimpannya dan tidak meng-hapus SMS-nya.” Jawabku, berbohong.
   Dimas mengangkat pundak, “Lha, handphone itu kan dipassword sama kakak dan cuma kakak yang tahu passwordnya, bagaiama orang lain bisa membukanya coba?” Jawab Dimas dengan santai sambil berlalu meninggalkan diriku yang kebingungan.

   ‘Iya yaah... benar apa yang Dimas bilang. Untung dia mengingatkanku. Jadi... unknown number itu siapa dong?’ tanyaku, masih penuh misteri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar