Aku merebahkan tubuhku di kasur rumah seusai sepulang sekolah. Aku
kesal sekali pada hari ini. Tadi, di sekolah, aku bertengkar dengan sahabatku,
Era. Gara – garanya, aku dituduhnya mensontek ketika ulangan dari sebuah
kertas. Memang siih ku akui itu benar, tapi dia tak perlu mengadukan
perbuatanku itu kepada pengawas kan? Sehingga aku harus menanggung malu di
depan pengawas dan teman – teman yang lain. Beruntung pengawas tidak mengambil
lembar jawabanku. Aku pun memusuhinya dan memutuskan untuk belajar dan pulang
sendiri.
Sebenarnya, aku menyadari dan mengakui bahwa sikapku akhir – akhir
ini memang semakin buruk. Ya, aku sering membentak – bentak sopir, pembantu,
tukang kebon, hingga adikku. Berkali – kali orangtuaku mengingatkanku, tapi aku
tak pernah mengindahkannya.
Namun tiba – tiba, handphoneku berbunyi. Dengan langkah malas, aku
meraih handphoneku. Hu-uh! Siapa lagi siih yang meng-SMS-ku? Customer service?
Menyebalkan! Tapi ternyata SMS dari orang yang tak ku kenal karena nama maupun
nomer yang tidak tercetak di handphoneku.
Unknown number: Maafkanlah Era.
Dia kan mengingatkanmu, dia tidak bermaksud buruk kok!
Aku: Maaf, ini siapa?
Namun, tidak
deliverd. Aneh! Lalu, aku mencoba untuk melepon nomer itu, namun juga tidak
bisa. Ku coba untuk meng-SMS sekali lagi namun gagal. Aku pun akhirnya
menyerah. Lalu, orang itu kembali meng-SMS-ku,
Unknown number: Kau tidak bisa
menelponku. Jika kau ingin meng-SMS-ku, janganlah bertanya aku siapa, karena
percuma saja. Tak akan berhasil.
Aku jadi geram
dibuatnya. Ini siapa sih? Mengacau saja! Mengganggu banget! Jangan – jangan dia
suruhan dari Era untuk meng-SMS-ku dan memaafkannya! Dasar Era yang
menyebalkan! Besok aku akan bertemu padanya dan berbicara mengenai unknown
number ini! Ak pun membalas SMS orang itu,
Aku: Kalau gak kenal dan gak
mau ngasih tahu siapa, gak usah sok kenal! Ngerti?
Tapi orang itu
justru membalas,
Unknown number: Aku mengenalmu!
Kau adalah Anneke Syah Putri kelas 7-B. Ya, kan?
“Er, tolong ya! Jangan ganggu aku pakai cara SMS gak penting.”
Kataku keesokkan harinya di sekolah karena geram.
“Maksudnya apa, An?” tanya Era, tak mengerti.
“Gak usah pura – pura gak tahu deh! Basi tahu! Kamu nyuruh orang
kan untuk SMS aku dan suruh aku maafin kamu?” jawabku, sengit. Wajah Era
terlihat bingung, “Apa yang kamu maksud, An? Aku benar – benar tidak mengerti.
Aku tidak menyuruh orang untuk meng-SMS-mu dan memaafkanku.”
“Oh ya? Wow!” jawabku kesal, sambil berlalu meninggalkan Era
karena ternyata Era tidak mau jujur dan mengakui kesalahannya.
Sepulang sekolah, aku kembali pulang sendiri. Selama di
perjalanan, rasanya sangat sepi karena tidak ada Era yang biasa berceloteh
riang di sampingku. Setibanya di rumah, lagi – lagi HP-ku berbunyi dan ada SMS
dari unknown number itu. Begini isinya,
Unknown number: Anneke, aku
bukan pesuruh Era. Percayalah padaku! Ku harap kau mau meminta maaf pada Era
karena dia benar – benar tulus dan jujur. Kamu tidak akan menemukan sahabat
sebaik Era lagi jika kamu memutuskan tali persahabatan kalian. Kamu akan sangat
menyesal.
Aku pun membalas SMS-nya,
Aku: Bagaimana aku bisa tahu
dan yakin bahwa kau bukan pesuruh Era?
Dengan cepat,
orang itu pun menjawab,
Unknown number: Kau sering
mencubit dan menjewer telinga adikmu, Dimas. Tapi yang terparah ketika ayah dan
ibumu sedang tidak di rumah. Hanya karena Dimas mencari krayon di lemarimu
hingga membuat lemarimu yang memang sudah berantakan menjadi semakin
berantakan. Kau menyuruh Dimas untuk tutup mulut soal ini dan tidak berbicara
pada siapa – siapa.
Deg! Jantungku
serasa berhenti. Bagaimana orang ini tahu rahasiaku dan Dimas? Juga rahasiaku
dengan Era? Dikeluargaku, tidak ada yang mengetahui masalahku dengan Era di
sekolah, jangankan yang di sekolah, masalahku dengan Dimas pun tak ada yang
tahu. Aku memang selalu tutup mulut tentang masalahku selama ini karena pasti
mereka tidak peduli atau justru menyalahkanku. Masih gemetaran, aku
menjawabnya,
Aku: Bagaimana kau bisa tahu
semua rahasia dan masalahku? Oke, aku percaya padamu. Tapi, jika aku memaafkan
Era dan meminta maaf kepada adikku, apakah kau akan memberitahu siapa dirimu
sebenarnya dan bagaimana caramu mengetahuinya?
Kali ini orang
misterius itu menjawab singkat,
Unknown number: Tentu, aku
janji.
Namun tiba –
tiba dibenakku muncul suatu siasat. ‘Aah... Baiknya kau berpura – pura sudah
memaafkan Era dan meminta maaf pada Dimas saja. Toh dia tidak akan
mengetahuinya.’ Batinku, sambil tersenyum licik.
Aku: Baiklah, aku SMS Era dulu,
ya!
Selang
beberapa menit, aku kembali meng-SMS orang aneh itu,
Aku: Aku sudah memaafkan Era
dan aku baru saja meminta maaf kepada adikku. Sekarang, kau harus menepati janjimu.
Orang itu
menjawab,
Unknown number: Tepati dulu
janjimu, baru aku akan tepati janjiku.
Aku tersentak
kaget, ‘Bagaimana dia mengetahui bahwa aku berbohong padanya?’ Karena malu, aku
tak berani menjawabnya apa – apa lagi. Aku menelan ludah. Ini harus benar –
benar ku lakukan, jika aku ingin tahu siapa yang meng-SMS-ku dan bagaimana dia
mengetahuinya.
Esoknya, sesampainya di sekolah, aku segera memeluk Era. Sambil
menangis, aku mengungkapkan semua penyesalanku, “Er, maafin aku Er... Aku
menyesal memusuhimu. Aku tahu aku yang salah dan kamu memang benar. Aku tahu
bahwa niatmu sebenarnya baik, yakni mengingatkanku. Maafkan aku karena tidak
memberimu maaf. Kamu adalah sahabat terbaikku selama ini...” Era tersenyum, dia
membalas memelukku dengan erat.
Sepulang dari sekolah, aku segera mencari adikku, Dimas.
“Dim..” panggilku. Dimas pun muncul dari ambang pintu kamarnya,
“Ada apa kak?” tanyanya.
“Maafin kakak yaa! Kakak selama ini bertingkah buruk padamu. Kakak
selama ini selalu bertingkah kasar padamu. Kini, kakak menyesal, dek. Kakak
janji takkan mengulangnya lagi dan akan mengubah sikap jelek kakak ini.”
Jelasku, kehabisan kata – kata lagi untuk meminta maaf.
“Tak apa kak... Aku sudah memaafkan kakak kok! Mungkin juga...
selama ini... Dimas berlebihan dengan kakak. Kalau Dimas ada salah dengan
kakak, Dimas minta maaf juga ya!” jawab
Dimas, sambil tersenyum. Aku segera membalas senyumnya.
Setelah itu, aku berencana untuk meng-SMS unknown number itu.
Tapi.. ketika aku mencari SMS dari orang misterius itu...
“Kok SMS-nya nggak ada semua siih? Aku yakin sudah menyimpannya
dan tidak menghapusnya.” Tanyaku, panik sambil terus mengutak – atik
handphoneku.
“Dim, kamu tadi mainin handphone kakak yaa?” tudingku, curiga.
Dimas mengernyitkan dahi lalu menggeleng, “Emangnya kenapa, kak?
Ada apa?”
“Eh, nggak kok... SMS dari teman kakak yang di luar negeri gak
ada... padahal kakak yakin sudah menyimpannya dan tidak meng-hapus SMS-nya.”
Jawabku, berbohong.
Dimas mengangkat pundak, “Lha, handphone itu kan dipassword sama
kakak dan cuma kakak yang tahu passwordnya, bagaiama orang lain bisa membukanya
coba?” Jawab Dimas dengan santai sambil berlalu meninggalkan diriku yang
kebingungan.
‘Iya yaah... benar apa yang Dimas bilang. Untung dia
mengingatkanku. Jadi... unknown number itu siapa dong?’ tanyaku, masih penuh
misteri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar