Hobiku adalah
menulis cerita. Sehari tanpa menulis cerita bagiku terasa hambar dan
membosankan. Sebab, aku sangat suka berkhayal. Hampir setiap hari aku duduk
diam sambil menatap laptop.
Berkali – kali kedua orangtuaku
menegurku, supaya berteman dengan teman – teman sekitar rumah, tapi, selalu ada
alasan untuk tidak bermain bersama mereka.
“Mira, jangan bermain dengan laptop-mu
terus. Sekali – sekali, bermainlah dengan mereka.” Ujar papa sambil menunjuk
anak – anak yang bermain di luar pagar rumahku.
“Huh! Kalau keluar panas – panas
begini kulitku bisa menghitam dan mungkin aku bisa mimisan.” Gerutuku sambil
asyik mengetik tanpa memperhatikan papa.
“Benar tuh kata papa, Mir. Olahraga
sedikit laah... kelihatannya, mereka semua menyenangkan.” Tambah mama yang tiba
– tiba saja datang.
“Hu-uh! Itu kan menurut mama!
Menurut Almira, mereka semua sombong dan tidak menyenangkan!” dengusku, kesal.
“Lho, lho... kok Almira berpikir
seperti itu?” tanya mama, kaget.
“Kalau memang mereka ramah, sudah
pasti mereka mengajakku untuk bermain bersama.” Cerusku.
“Ma, papa yakin, sebenarnya anak –
anak itu tidak keberatan ada anak lain yang bergabung dengan mereka. Tapi kalau
anaknya nge-putihin kulit terus, siapa yang tahu di dalam rumah ini ada anak –
anak atau tidak?” sindir papa.
Aku jadi jengkel dan memindahkan
laptop ke kamarku. Bagiku, menulis
adalah segalanya. Dengan hobiku ini, aku berhasil memenangkan beberapa
lomba menulis, ceritaku pernah beberapa kali dimuat di majalah anak, dan
kumpulan cerpenku pernah diterbitkan oleh penerbit. Uang hasil itu semua sudah
ku belikan laptop, sebagian kusumbang ke anak yatim piatu dan sisanya ku
tabung.
Bahkan, aku
bercita – cita menjadi penulis teerkenal seperti Enid Blyton dan J.K Rowling.
Aku sangat mengagumi mereka, karya mereka disukai segala kalangan, mereka juga
sudah menulis berbagai macam buku dengan berbagai macam cerita. Cerita yang
mereka buat pun unik dan tidak pasaran. Nama mereka sudah melegendaris di
seluruh dunia. Siapa sih yang tidak mengenal mereka?
Di rumah, aku
memang malas bergaul dengan teman – teman di sekitar kompleksku. Aku hanya
menyapa mereka sepintas bila bertatap muka, itu pun jarang. Menurutku, mereka
hanya membuang – buang waktu dan membosankan. Tentu saja lebih enak menulis
cerita daripada bermain dengan mereka.
Suatu hari di hari minggu, seluruh
anggota keluargaku sedang libur dan berkumpul.
“Papa!!! Papa!!! Pa!!! Papa!!!”
panggilku dari kamar.
Dengan tergopoh – gopoh, papa
menghampiriku. “Ada apa, nak?”
“Ini laptopku, kok aku nggak bisa
buka dokumen cerita – ceritaku? Lihat
gambar aja nggak bisa.” Jawabku, panik dan cemas.
“Waah... ini mah kena virus.” Jawab
papa.
“Hah?! Virus?! Apaan tuh? Kayak
penyakit aja.” Tanyaku, bingung dan kaget.
“Semua file dan data – data yang
kamu simpan di komputer hilang semua.” Ujar papa, tanpa menjawab rasa
penasaranku tadi.
“Te... te... te... terus... gi... gi...
gimana dong?” tanyaku, panik. Tak ku sangka air mata mengucur dari sudut
mataku. Bagaimana dengan cerita – ceritaku yang sudah ku ketik berbulan –
bulan? Apalagi ada 5 buah naskah novel dengan jumlah masing – masing 60 halaman
yang hendak ku kirim ke penerbit. Belum cerita yang ingin ku kirim ke majalah
dan lomba. Oh my God! Batas
pengiriman lomba minggu depan lagi! Tidak mungkin komputerku dengan cepat
selesai begitu saja.
“Tulis saja semuanya dari awal.
Gampang kan?” jawab kak Vicky, enteng. Seolah ini masalah kecil. Tentu ini
masalah BESAR!
“Enak saja! Memangnya semudah itu
apa?” pekikku, kesal. “Apa tidak ada jalan lain, pa?” tanyaku, berpaling pada
papa.
“”Hmm... bila kamu ingin laptopmu
kembali beserta data dan program – programnya, kamu harus menservice-nya ke tukang service komputer.
Kebetulan papa punya kenalan seorang service komputer dan papa bisa
mengantarkannya padamu.” Jawab papa.
“Lalu, nanti file – file-ku
kembali?” tanyaku, penuh harap.
“Semoga.” Jawab papa singkat
membuatku jadi tidak semangat. Huff... desahku, panjang.
Rasanya dunia ini berputar 180° deh
semenjak laptop-ku rusak. Setiap hari rasanya bete, jenuh, dan bosan. Setiap ada ide cerita, selalu kutuang pada
sebuah binder. Terpaksa cerita yang hendak kukirim untuk diikut sertakan dalam
lomba ku tulis ulang dengan tangan. Pasalnya, uang tabunganku hanya tersisa Rp.
10.000. Sedangkan, untuk menservice laptop dibutuhkan uang sekitar Rp. 70.000.
Kini, harapanku pupus sudah, satu – satunya harapan untuk membenahi laptopku
hanyalah lomba menulis cerita itu. Ya, semoga saja aku berhasil menang.
Kedua orangtuaku tidak mau
membantuku untuk bisa membenahi laptopku. Sebab, menurut mereka, laptop itu
sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Beruntung sekali papa masih mau
memberitahuku tempat service laptop, coba kalau tidak?
“Hei... tolong ambilkan layangan
kami, dong!” ujar seorang anak yang bermain di depan rumahku.
Aku mengambilnya lalu terdiam
sejenak sambil berpikir. Anak – anak itu pun heran.
“Hei... cepat berikan pada kami...”
ujar salah seorang dari anak – anak itu. Aku pun berlari menghampiri mereka di
pagar dan memberikan layangan itu ke mereka.
“Terimakasih, ya!” ujar mereka.
“Um... em... ng... maaf... hm...
bolehkah aku ikut bermain dengan kalian?” tanyaku, ragu.
“Boleh!” jawab mereka, cepat. “Tapi
sebaiknya, kamu ikut mereka saja.” Mereka menunjuk ke arah sekerumunan
perempuan yang sedang bermain lompat tali. Aku tersenyum lalu menghampiri
mereka, aku memperkenalkan diriku pada mereka. Semenjak saat itu, aku selalu
bermain dengan mereka setiap sore. Aku menulis cerita hanya dikala aku tidak
bermain atau malam tiba. Aku tidak terlalu ingin laptop cepat – cepat dibenahi.
Ternyata benar apa kata mama dan papa. Enak juga bermain dengan mereka selain
menulis cerita, mereka juga ramah dan tidak sombong. Mereka juga mendukungku
dalam hal tulis – menulis. Ternyata memiliki banyak teman itu menyenangkan, ya!
Pengalaman dan cerita mereka bisa ku tuang menjadi sebuah cerita.
Ku kira bermain dan berteman dengan
mereka membosankan. Ku kira bila bermain bersama mereka akan membuat waktuku
untuk menulis berkurang. Ku kira mereka tidak asyik. Ternyata semuanya salah.
Aku berjanji dalam hati, bila aku nantinya menang lomba, dan laptopku selesai
dibenahi, aku tidak akan sombong dan lupa pada mereka. Aku akan tetap ramah dan
bermain dengan mereka.
Aku justru mendapat banyak teman.
Aku mendapat banyak ide cerita. Dan hidupku yang tadinya membosankan ketika tak
ada laptop di sisi menjadi berwarna karena mereka. Terimakasih virus di
laptopku. Berkatmu, aku jadi tahu arti pertemanan yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar