Sabtu, 04 Oktober 2014

Terima Kasih Virus

    Hobiku adalah menulis cerita. Sehari tanpa menulis cerita bagiku terasa hambar dan membosankan. Sebab, aku sangat suka berkhayal. Hampir setiap hari aku duduk diam sambil menatap laptop.

            Berkali – kali kedua orangtuaku menegurku, supaya berteman dengan teman – teman sekitar rumah, tapi, selalu ada alasan untuk tidak bermain bersama mereka.
            “Mira, jangan bermain dengan laptop-mu terus. Sekali – sekali, bermainlah dengan mereka.” Ujar papa sambil menunjuk anak – anak yang bermain di luar pagar rumahku.
            “Huh! Kalau keluar panas – panas begini kulitku bisa menghitam dan mungkin aku bisa mimisan.” Gerutuku sambil asyik mengetik tanpa memperhatikan papa.
            “Benar tuh kata papa, Mir. Olahraga sedikit laah... kelihatannya, mereka semua menyenangkan.” Tambah mama yang tiba – tiba saja datang.
            “Hu-uh! Itu kan menurut mama! Menurut Almira, mereka semua sombong dan tidak menyenangkan!” dengusku, kesal.
            “Lho, lho... kok Almira berpikir seperti itu?” tanya mama, kaget.
            “Kalau memang mereka ramah, sudah pasti mereka mengajakku untuk bermain bersama.” Cerusku.
            “Ma, papa yakin, sebenarnya anak – anak itu tidak keberatan ada anak lain yang bergabung dengan mereka. Tapi kalau anaknya nge-putihin kulit terus, siapa yang tahu di dalam rumah ini ada anak – anak atau tidak?” sindir papa.
            Aku jadi jengkel dan memindahkan laptop ke kamarku. Bagiku, menulis  adalah segalanya. Dengan hobiku ini, aku berhasil memenangkan beberapa lomba menulis, ceritaku pernah beberapa kali dimuat di majalah anak, dan kumpulan cerpenku pernah diterbitkan oleh penerbit. Uang hasil itu semua sudah ku belikan laptop, sebagian kusumbang ke anak yatim piatu dan sisanya ku tabung.
Bahkan, aku bercita – cita menjadi penulis teerkenal seperti Enid Blyton dan J.K Rowling. Aku sangat mengagumi mereka, karya mereka disukai segala kalangan, mereka juga sudah menulis berbagai macam buku dengan berbagai macam cerita. Cerita yang mereka buat pun unik dan tidak pasaran. Nama mereka sudah melegendaris di seluruh dunia. Siapa sih yang tidak mengenal mereka?         
Di rumah, aku memang malas bergaul dengan teman – teman di sekitar kompleksku. Aku hanya menyapa mereka sepintas bila bertatap muka, itu pun jarang. Menurutku, mereka hanya membuang – buang waktu dan membosankan. Tentu saja lebih enak menulis cerita daripada bermain dengan mereka.
            Suatu hari di hari minggu, seluruh anggota keluargaku sedang libur dan berkumpul.
            “Papa!!! Papa!!! Pa!!! Papa!!!” panggilku dari kamar.
            Dengan tergopoh – gopoh, papa menghampiriku. “Ada apa, nak?”
            “Ini laptopku, kok aku nggak bisa buka dokumen  cerita – ceritaku? Lihat gambar aja nggak bisa.” Jawabku, panik dan cemas.
            “Waah... ini mah kena virus.” Jawab papa.
            “Hah?! Virus?! Apaan tuh? Kayak penyakit aja.” Tanyaku, bingung dan kaget.
            “Semua file dan data – data yang kamu simpan di komputer hilang semua.” Ujar papa, tanpa menjawab rasa penasaranku tadi.
            “Te... te... te... terus... gi... gi... gimana dong?” tanyaku, panik. Tak ku sangka air mata mengucur dari sudut mataku. Bagaimana dengan cerita – ceritaku yang sudah ku ketik berbulan – bulan? Apalagi ada 5 buah naskah novel dengan jumlah masing – masing 60 halaman yang hendak ku kirim ke penerbit. Belum cerita yang ingin ku kirim ke majalah dan lomba. Oh my God! Batas pengiriman lomba minggu depan lagi! Tidak mungkin komputerku dengan cepat selesai begitu saja.
            “Tulis saja semuanya dari awal. Gampang kan?” jawab kak Vicky, enteng. Seolah ini masalah kecil. Tentu ini masalah BESAR!
            “Enak saja! Memangnya semudah itu apa?” pekikku, kesal. “Apa tidak ada jalan lain, pa?” tanyaku, berpaling pada papa.
            “”Hmm... bila kamu ingin laptopmu kembali beserta data dan program – programnya, kamu harus menservice-nya ke tukang service komputer. Kebetulan papa punya kenalan seorang service komputer dan papa bisa mengantarkannya padamu.” Jawab papa.
            “Lalu, nanti file – file-ku kembali?” tanyaku, penuh harap.
            “Semoga.” Jawab papa singkat membuatku jadi tidak semangat. Huff... desahku, panjang.
            Rasanya dunia ini berputar 180° deh semenjak laptop-ku rusak. Setiap hari rasanya bete, jenuh, dan bosan. Setiap ada ide cerita, selalu kutuang pada sebuah binder. Terpaksa cerita yang hendak kukirim untuk diikut sertakan dalam lomba ku tulis ulang dengan tangan. Pasalnya, uang tabunganku hanya tersisa Rp. 10.000. Sedangkan, untuk menservice laptop dibutuhkan uang sekitar Rp. 70.000. Kini, harapanku pupus sudah, satu – satunya harapan untuk membenahi laptopku hanyalah lomba menulis cerita itu. Ya, semoga saja aku berhasil menang.
            Kedua orangtuaku tidak mau membantuku untuk bisa membenahi laptopku. Sebab, menurut mereka, laptop itu sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Beruntung sekali papa masih mau memberitahuku tempat service laptop, coba kalau tidak?
            “Hei... tolong ambilkan layangan kami, dong!” ujar seorang anak yang bermain di depan rumahku.
            Aku mengambilnya lalu terdiam sejenak sambil berpikir. Anak – anak itu pun heran.
            “Hei... cepat berikan pada kami...” ujar salah seorang dari anak – anak itu. Aku pun berlari menghampiri mereka di pagar dan memberikan layangan itu ke mereka.
            “Terimakasih, ya!” ujar mereka.
            “Um... em... ng... maaf... hm... bolehkah aku ikut bermain dengan kalian?” tanyaku, ragu.
            “Boleh!” jawab mereka, cepat. “Tapi sebaiknya, kamu ikut mereka saja.” Mereka menunjuk ke arah sekerumunan perempuan yang sedang bermain lompat tali. Aku tersenyum lalu menghampiri mereka, aku memperkenalkan diriku pada mereka. Semenjak saat itu, aku selalu bermain dengan mereka setiap sore. Aku menulis cerita hanya dikala aku tidak bermain atau malam tiba. Aku tidak terlalu ingin laptop cepat – cepat dibenahi. Ternyata benar apa kata mama dan papa. Enak juga bermain dengan mereka selain menulis cerita, mereka juga ramah dan tidak sombong. Mereka juga mendukungku dalam hal tulis – menulis. Ternyata memiliki banyak teman itu menyenangkan, ya! Pengalaman dan cerita mereka bisa ku tuang menjadi sebuah cerita.
            Ku kira bermain dan berteman dengan mereka membosankan. Ku kira bila bermain bersama mereka akan membuat waktuku untuk menulis berkurang. Ku kira mereka tidak asyik. Ternyata semuanya salah. Aku berjanji dalam hati, bila aku nantinya menang lomba, dan laptopku selesai dibenahi, aku tidak akan sombong dan lupa pada mereka. Aku akan tetap ramah dan bermain dengan mereka.

            Aku justru mendapat banyak teman. Aku mendapat banyak ide cerita. Dan hidupku yang tadinya membosankan ketika tak ada laptop di sisi menjadi berwarna karena mereka. Terimakasih virus di laptopku. Berkatmu, aku jadi tahu arti pertemanan yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar