Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 7

   “Ayo kita segera ke perpustakaan kerajaan!” ajak kak Alicia.
   “Sebaiknya aku di sini saja, bagaimana jika ibu melihat aku bermain dengan kalian?” tanya Jessica.
   “Hmm... gini saja...” kata kak Alicia sambil membisikkan suatu rencananya.
   Kak Alicia dan kak Sandra keluar dari kamar Sandara. Mereka mencari – cari tante Shareen. Dan mereka mendapati tante Shareen sedang berada di taman kerajaan. Wajah tante Shareen seperti memikirkan sesuatu, tapi tampak juga kesedihan.

   “Hai tante, lagi apa?” tanya kak Alicia sambil menghampiri tante Shareen.
   “Tante sedang melihat – lihat tanaman di taman kerajaan.” jawab tante Shareen ramah dengan senyum palsu.
   “Ooh... sepertinya tante tampak sedih dan memikirkan sesuatu? Ada apa tante?” tanya kak Sandra penuh perhatian dan ramah, walau aslinya itu hanya berpura – pura.
   “Ooh... begini... tante sedih karena kangen dengan suami tante... tante harus bagaimana?” tanya tante Shareen.
   “Begini saja, tante harus berkeliling negeri ini, dengan begitu rasa rindu tante akan terobati.” usul kak Alicia. “Melihat dan memperhatikan tumbuh kembangnya tanaman bunga tidak bisa mengobati rasa rindu tante...”
   Tanpa menunggu jawaban dari tante Shareen, kak Alicia dan kak Sandra segera menarik dan memasukkan tante Shareen ke dalam kereta kuda dan mengunci pintunya.
   Tante Shareen mengetok – ngetok pintu kereta kuda, meronta – ronta untuk dikeluarkan.
   “Keluarkan tante! Tante sudah tidak sedih  lagi! Cepat keluarkan tante dari sini!”
   Sayangnya kak Alicia dan kak Sandra terlanjur berbicara pada pak kusir untuk membawanya berkeliling negeri hingga diperintahkan oleh kak Alicia untuk dibawa kembali ke kerajaan.
   Setelah kereta kuda itu pergi, kak Alicia dan kak Sandra masuk kembali ke kamar Sandara.
   “Sudah beres!” ucap kak Alicia sambil mengerdipkan mata dan mengacungkan jempol.
   “Thanks, kak!” kata Jessica.
   Mereka lalu bersama – sama menuju ruang perpustakaan kerajaan.
   Mereka membongkar buku – buku yang ada di sana hingga perpustakaan kerajaan tampak berantakan sekali. Banyak sekali bukunya! Sangat sulit untuk mereka menemukan buku yang mereka maksud.
   “Aku kira bakal mudah menemukannya...” keluh Jessica      
   “Ya, ku pikir juga begitu...” timpal kak Sandra.
   “Kita tidak boleh menyerah dong!” Sandara mengingatkan.
   “Iya, iya... tapi... sebanyak inikah?” tanya Jessica.
   “Eh, ngomong – ngomong, kak Alicia mana?” tanya kak Sandra.
   “Kak Alicia??? Di mana kau???” panggil mereka membuat suasana perpustakaan yang biasanya sepi menjadi gaduh.
   “Sst... diam! Kan ada larangan untuk tidak berisik di dalam perpustakaan!” kata kak Alicia tiba – tiba muncul sambil mengingatkan dan menaruh telunjuk di bibir.
   “Hh... kak Alicia ini... mengkagetkan saja... ku kira siapa...”  kata Sandara kaget.
   “Hehehe... sorry, sorry... ada kabar baik lho...” kata kak Alicia.
   “Biar ku tebak! Pasti kau sudah menemukan bukunya!” tebak kak Sandra.
   “Benar sekali! Seratus untuk Sandra!” jawab kak Alicia.
   “Kutu buku gitu... pasti cepat ketemu...” goda Sandara.
   “Bisa aja...” kak Alicia tersipu malu.
   “Cepat kita buka buku ini dan mencari orangnya!” ajak Jessica. Tanpa membuang waktu mereka segera membuka buku itu.
   Halaman demi halaman mereka buka bersama. Tapi belum menemukan pengawal yang dimaksud.
   “Dia! Ini dia pengawal yang dimaksud!” tunjuk kak Sandra mengagetkan mereka semua. “Aku ingat sekali!” kata kak Sandra lagi.
   “Sepertinya memang dia orangnya.” kata kak Alicia.
   “Kalau begitu cepat sobek kertasnya! Kita akan menunggang kuda untuk pergi ke rumahnya!” ajak Jessica.
   “Tapi siapa pun otak dibalik penculikan Sandara, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Setuju?” tanya kak Alicia.
   “Setuju!!!” jawab semuanya.
   Mereka pun menunggang kuda mencari alamat yang dimaksud. Setelah sampai di depan rumah yang tertera di biodata tersebut...
   “Assalamualaikum...” sapa keempat putri tersebut.
   “Walaikumsalam... eh, Tuan Putri... ada apa kemari?” tanya seorang ibu – ibu yang membukakan pintu untuk mereka. “Eh, silakan masuk Tuan Putri...”
   Keempat putri itu pun masuk.
   “Maaf, apakah benar ini rumah pak Achmad yang pernah menjadi pengawal setia kerajaan?” tanya Sandara sopan.
   “Oh, ya benar. Tunggu ya, biar hamba panggilkan.” kata ibu itu.
   Tak berselang lama, orang yang dimaksud itu datang. Ibu itu juga kembali sambil membawakan empat cangkir gelas dan beberapa cemilan.
   “Ada apa, Tuan mencari hamba?” tanya pak Achmad.
“Apakah bapak yang mengirimkan surat ini?” tanya Sandara sembari menyerahkan dua pucuk surat itu.
Pak Achmad membuka surat tersebut. Dan terbelalak kaget.
“A... Apakah... Tuan ini... Tuan... Pu... Put... ri... Sandara?” tanya pak Achmad tergagap–gagap ketakutan, takut dimarahi oleh Sandara.
“Ya, apakah benar bapak yang menulis surat tersebut?” tanya Sandara.
“I... i... ya...” jawab pak Achmad masih ketakutan.
“Kalau begitu, terima kasih yang sebesar – besarnya ya, pak! Berkat bapak, akhirnya aku bisa kembali ke pelukkan orangtua kandungku.” kata Sandara.
Pak Achmad tercengang kaget, “Tapi mengapa hamba tidak Tuan marahi?”
“Marahi? Untuk apa? Hahaha... Bapak ini aneh – aneh saja...” tawa Sandara.
“Kami justru ingin menanyakan sesuatu pada bapak, sebenarnya... siapa sih yang menyuruh bapak membuang, Sandara?” tanya kak Alicia.
“Ma... ma... maafkan bapak... ba... ba... bapak... terpaksa... bapak saat itu takut bila... ada yang diperintahkan untuk membunuh Tuan putri Sandara. Dan yang menyuruh hal tersebut adalah... “ pak Achmad tergagap – gagap ketakutan.
“Siapa pak?” desak Jessica ingin segera tahu pelakunya.
“Nyo... Nyo... Nyonya... A... A... Shareen... An... An... Kurniawati...” jawab pak Achmad.
Tak terasa Jessica mengeluarkan air mata, ibu? batinnya. Sudah kuduga pasti ibu. Batinnya lagi. BRUUUKKK!!! PRAAANG!!! Tiba – tiba saja Jessica jatuh pingsan dan gelas kaca yang dipegangnya jatuh dan pecah berhamburan.
“JESSICA!!!” pekik semuanya.
“Apakah dia tak apa – apa?” tanya pak Achmad.
“A... Aku... Tak.. Apa... apa...” ucap Jessica lirih. “Pak, tolong ceritakan yang sebenarnya terjadi!” pinta Jessica lemah.
“Ba... baik! Wa... waktu itu... Nyonya Shareen memintaku datang ke sebuah kastil miliknya... hamba pun menurut dan datang. Nyonya Shareen menyuruh hamba untuk membunuh Tuan Putri Sandara karena beliau iri Tuan Putri Sandara adalah anak dalam ramalan itu. Awalnya hamba menolak, tapi beliau memaksa hamba dan beliau berkata bila hamba tidak mengerjakan perintah dan tugasnya, hamba akan dipecat malahan akan dibunuh, akhirnya dengan terpaksa dan berat hati, hamba melakukannya. Di malam sebuah acara syukuran di istana, hamba pergi di tengah hutan, karena tak tega membunuh Tuan Putri juga saya sangat sayang pada Tuan Putri hingga menganggap Tuan Putri anak sendiri, dan supaya Nyonya Shareen tak tahu hamba tidak membunuh Tuan Putri, hamba membuang Tuan Putri di hutan dekat sebuah desa yang sangat jauh dari kerajaan. Sebelum membuang dan meninggalkan Tuan Putri, Hamba menyelipkan dua pucuk surat. Itulah yang sebenarnya terjadi. Keesokkannya, setelah Tuan Putri hilang, saya mengundurkan diri dari pengawal. Karena saya takut bila Nyonya Shareen akan meminta saya lagi untuk melakukan hal buruk. Saya sangat senang dan bersyukur begitu saya tahu Tuan Putri masih hidup.” cerita pak Achmad panjang lebar dan sambil menangis.
“Ooh, sekarang... kami sudah tahu hal yang sebenarnya... terima kasih ya, pak!” ujar mereka berempat.
Keempat Putri itu pun berpamitan dan sebelum mereka pergi mereka berbincang–bincang sebentar.
“Bagaimana ini?” bisik kak Sandra pada kak Alicia.
“Terpaksa kita adakan... RAPAT EMPAT PUTRI.” kata kak Alicia. Di kerajaan itu, memang hanya putri tertua yang berhak mengadakan rapat, musyawarah, diskusi, tukar pikiran, pertemuan atau jajak pendapat.
Kak Sandra, Sandara dan Jessica terbelalak kaget. Ini bakal jadi rapat empat putri yang pertama! Belum pernah mereka mengadakan rapat seperti ini sebelumnya!
   “Hah?! Kakak serius? Pasti kakak bercanda kan?” tanya kak Sandra kaget dan tak percaya.
   “Tidak, kakak sangat serius.” jawab kak Alicia lalu menaiki kudanya.
   Kak Sandra naik juga ke kudanya, begitu juga dengan Sandara. Sementara Jessica seperti biasa membonceng pada Sandara.
   Jessica menangis di tengah perjalanan. Sandara tak mengerti harus menghibur Jessica dengan cara bagaimana lagi.
   Sesampainya di istana, mereka segera menuju ruang pertemuan. Sementara itu, Jessica tak henti – hentinya menangis.
   “Bisakah kau hentikan sebentar tangismu Jessica?” tanya Sandara, sabar.
   “Aku berusaha dari tadi untuk menghentikan tangisku, tapi tetap saja tidak bisa...” isak Jessica.
   Sandara yang duduk di dekat Jessica segera mengelus – ngelus punggung Jessica.
“Sabar ya, Jess... kami tahu pasti menyedihkan dan tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi?” hibur kak Sandra.
“You can’t understand me!” Jessica menggeleng.
Kak Alicia bangkit. “Kalau maumu menangis saja seenaknya, tak usah ikut penyelidikan ini! Bukannya kita sudah setuju sejak awal siapapun pelakunya kita terima dengan lapang dada. Lagipula, Sandara sudah memaafkan ibumu kan?” bentak kak Alicia.
Jessica terdiam. Tangisnya mereda.
“Kamu harus berani tanggung jawab! Kamu harus bisa menepatinya!” tegas kak Alicia. Kak Alicia memang kalau sudah marah, ketegasannya akan keluar. Tapi kak Alicia selalu adil dan bijaksana. Jika ada yang bertengkar, kak Alicia tidak pernah memihak.
Jessica hanya menundukkan kepala.
“Kami tahu kok rasanya, betapa tidak enaknya! Aku juga sampai tak percaya! Tapi... kita harus memutuskan sesuatu. Mengapa aku mengadakan rapat? Supaya kita bisa memutuskan, harus bagaimana supaya tante Shareen tidak dihukum begitu berat.” jelas kak Alicia pelan.
“A... aku mengerti kak... maafkan aku... aku salah...” pinta Jessica.
“Tak perlu minta maaf, aku hanya ingin kamu sadar dan mengerti.” kata kak Alicia. Kak Alicia dan Jessica berpelukkan.
Rapat pun dimulai.
“Pertama, aku ingin bertanya dan meminta pendapat kalian, haruskah kita mengadukan tante Shareen ke pihak kerajaan yang berwenang?” tanya kak Alicia.
Jessica angkat tangan terlebih dahulu.
“Ya, Jessica.” kata kak Alicia.
“Ibuku harus tetap diadukan, karena menurutku dia telah berhati jahat dan hampir membuat kita kehilangan Sandara. Putri yang dianggap dapat mengganti kakek di masa depan. Jika tidak ada Sandara, kerajaan beserta isinya akan hancur.” Jessica memberikan pendapat.
Sandara berdiri dan mengacungkan tangan.
“Ya, Sandara.” kata kak Alicia.
“Menurutku, tidak perlu mempermasalahkan diriku. Karena sekarang aku kan sudah kembali dengan kalian. Jadi menurutku, agar Jessica tidak sedih dan menangis lagi karena ditinggal ibunya, sebaiknya tidak perlu. Kalau boleh terus terang aku sangat kasihan dengan Jessica.” kata Sandara.
“Aku lebih setuju dengan pendapat Jessica. Karena yang ditakutkan tante Shareen akan mengulangi hal yang hampir sama pada Sandara atau mungkin sama buruknya.” kata kak Alicia tenang. “Jika ayahanda raja dan ibunda ratu memperbolehkan kita memberi hukuman yang tepat untuk tante Shareen, hukuman apakah itu?” lanjutnya.
Jessica angkat tangan pertama kali lagi.
“Ya, Jessica.” kata kak Alicia.
“Di turunkan dari jabatannya menjadi penasihat kerajaan. Soalnya, jika beliau tak lagi menjadi penasihat kerajaan beliau tak akan berusaha menjatuhkan raja dan ratu. Dan tak bisa memberitahu apa pun pada raja dan ratu. Beliau juga tak bisa mendapat informasi tentang apa pun.” jelas Jessica memberikan pendapatnya.
“Hmm... boleh juga...” ucap kak Alicia.
Kak Sandra berdiri dan mengacungkan tangan.
“Ya, Sandra.” kak Alicia mengizinkan.
“Aku lebih setuju bila beliau di masukkan ke penjara selama setahun. Supaya beliau bisa tersadar akan perbuatannya sendiri dan malu.” pendapat kak Sandra terdengar simple, jelas dan cukup masuk akal.
“Aku paling suka caramu menyampaikan pendapatmu Sandra.” puji kak Alicia.
“Terimakasih kak...” ucap kak Sandra.
Sandara berdiri dan mengacungkan tangan.
“Ya, Sandara.” Kata kak Alicia.
“Aku lebih setuju bila beliau di denda saja menurut peraturan yang berlaku. Sebab, bila di turunkan dari posisinya, kasihan beliau. Beliau sudah lama dan butuh usaha untuk mendapatkan posisi sebagai penasihat kerajaan. Pasti beliau sangat sedih walau dia yang bersalah. Karena sesungguhnya tak ada hubungannya kejahatan yang dilakukan beliau dengan diturunkannya beliau. Dan bila dimasukkan ke penjara selama setahun... rasanya kasihan bila Jessica ditinggal sendiri oleh ibunya. Ibu adalah peran utama dalam sebuah keluarga. Jessica pasti juga kangen dengan ibunya dan butuh tempat curhat dan kasih sayang ibunya.” jelas Sandara.
“Hmm... cara berpikirmu ku akui hebat.” puji kak Alicia.
Sandara tersenyum. “Terimakasih kak...”
“Tapi... sayangnya aku lebih setuju dengan pendapat Sandra.”
Setelah rapat selesai, kak Alicia menelpon kusir kereta kerajaan terlebih dahulu supaya tante Shareen segera sampai ke kerajaan. Kak Alicia membisikkan rencananya kepada ketiga saudaranya. Tak berselang lama kemudian, kusir kereta kerajaan datang membawa tante Shareen.
Kak Alicia membuka kunci pintu kereta.
“Hai tante! Bagaimana dengan jalan – jalannya? Apakah tante merasa lebih baik sekarang?” tanya kak Alicia sok ramah.
“He – eh, iya Alicia yang baik hati, tante sudah lebih baik sekarang.” jawab tante Shareen.
“Tentu, itu pasti karena solusi yang ku berikan pada tante. Nah sekarang, biar ku tuntun tante masuk ke dalam istana.” kata kak Alicia menggandeng tangan tante Shareen.
Kak Alicia membawa tante Shareen ke ruang makan istana.
“Tunggu dulu ya tante... akan Alicia buatkan teh.” kata Alicia. Sementara kak Alicia bersama tante Shareen, kak Sandra dan Jessica menuju kamar raja dan ratu untuk mengadukan tante Shareen.
“Ayah... ayah harus dengar aku, aku tahu siapa pelaku penculikan Sandara sekaligus membuang Sandara.” kata kak Sandra.
“Hahaha... jangan mengada – ngada... kau pasti hanya bermimpi di siang bolong, nak.” ujar ayahanda raja sambil tertawa.
“KAMI TIDAK BOHONG, YAH!” ucap kak Sandra dan Jessica bersama – sama. Kok Jessica jadi panggil ayah ya? Hahaha...
“Kalau begitu mana buktinya?” tanya ayahanda raja tegas.
“Ini!” Jessica menyerahkan dua pucuk surat milik Sandara pada ayahanda raja.
“Huh! Hanya ini! Ini tidak menunjukkan bukti apapun, hanya sedikit!” ucap ayahanda raja.
   Sementara itu, Sandara menunggang kuda dengan cepat dan tangkas telah sampai di rumah pak Achmad, dia segera menjemput pak Achmad sebagai saksi. Dan kuda Sandara maupun kuda pak Achmad melesat dengan sangat kencang. Sehingga mereka sudah sampai di istana. Mereka segera turun dari kuda dan berlari memasuki istana.
   Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! bunyi langkah mereka.
   “Hanya ini saja? Ini hanya petunjuk kecil! Bagaimana kalian bisa tahu siapa pelakunya? Jangan bercanda... apakah ini sebuah permainan? Atau bahkan ini sebuah lelucon kecil?” tawa ayahanda raja.
   “Apakah ada petunjuk lainnya?” tanya ibunda ratu.
   “Eh... ng... ng...” kak Sandra dan Jessica panik, mereka berharap Sandara dan pak Achmad segera memasuki kamar.
   “Saya bertanya, apakah ada petunjuk lainnya?” tanya ibunda ratu.
   “ADA! Bukan petunjuk, tapi SAKSI!” Sandara masuk ke kamar ayahanda raja dan ibunda ratu.
   “Dia adalah saksinya.” kata Sandara.
   “Mengapa kau lama sekali, Ra? Hampir saja kami mati dimarahi ayah dan ibu. Untung saja kau cepat datang, kalau tidak...” bisik kak Sandra.
   “Sorry, sorry...” bisik Sandara.
   “Dia adalah yang menulis surat itu!” tunjuk Sandara.
   “Hmm... apakah benar, kamu yang menulis surat ini? Lalu... siapa yang menyuruhmu?” tanya ayahanda raja, tegas.
   “Nyo... nyo... nyonya... Shareen Kurniawati, tuan.” jawab pak Achmad.
   “Huahahahahahaha... tak mungkin! Huahahahahaha... tak mungkin dia! Shareen adalah adik kandungku! Tidak mungkin dia rela dan kejam melakukan hal itu! Dia sangat baik hati! Bahkan saat Sandara hilang, dia membantuku mencarinya. Apakah ada lelucon lain? Ini sama sekali tidak lucu... berbohong di depan raja.” Tawa ayahanda raja dan ibunda ratu.
   Tiba – tiba kak Alicia dan tante Shareen masuk ke kamar.
   “Aku dan kak Sandra saksinya! Aku melihat tante Shareen menyerahkan sejumlah uang pada pak Achmad setelah Sandara menghilang! Apakah itu tidak cukup bukti?” tegas kak Alicia.
   Ayahanda raja tercengang kaget, begitu ibunda ratu. Ayahanda raja menoleh pada kak Alicia dengan tatapan tak percaya, lalu berpaling ke tante Shareen dengan tatapan ragu tapi benci dan kesal.
   “Apakah ayah masih tak percaya dengan putri – putri kerajaan yang tak lain adalah anak dan keponakan ayah sendiri?” tanya kak Alicia.
   Ayahanda menggeleng. “Ayah... Ayah... percaya pada kalian...” jawab ayahanda pelan.
   “Apakah itu benar Shareen?” tanya ibunda ratu pelan.
   “I... i... iya... benar kak...” jawab tante Shareen sambil menunduk.
   “Kalau boleh kami meminta hukuman untuk tante Shareen... Kami hanya ingin, tante di penjara selama setahun saja. Soalnya kami yakin tante akan sadar dan tak akan mengulanginya lagi. Kami yakin, tante akan menyesal. Kami tahu di dalam hati tante Shareen, sebenarnya tante Shareen itu baik, manis dan cantik. Tante hanya terpaksa karena ingin mendapatkan kekuasaan. Itu wajar kok! Semua juga ingin mendapatkan kekuasaan.” jelas Sandara pelan.
   “Kami akan merindukanmu, tante. Hingga tante kembali. Terutama Jessica.” kata kak Sandra.

   “Terimakasih anak – anak. Maafkan tante, kalian telah mengingatkan tante. Sekali lagi terimakasih. Terutama untuk Sandara. Tolong jaga Jessica selama tante di penjara.” bisik tante Shareen pelan saat hendak dibawa ke penjara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar