“Ayo
kita segera ke perpustakaan kerajaan!” ajak kak Alicia.
“Sebaiknya
aku di sini
saja, bagaimana jika ibu melihat aku bermain dengan kalian?” tanya Jessica.
“Hmm...
gini saja...” kata kak Alicia sambil membisikkan suatu rencananya.
Kak
Alicia dan kak Sandra keluar dari kamar Sandara. Mereka mencari – cari tante
Shareen. Dan mereka mendapati tante Shareen sedang berada di taman kerajaan.
Wajah tante Shareen seperti memikirkan sesuatu, tapi tampak juga kesedihan.
“Hai
tante, lagi apa?” tanya kak Alicia sambil menghampiri tante Shareen.
“Tante
sedang melihat – lihat tanaman di taman kerajaan.” jawab tante Shareen ramah
dengan senyum palsu.
“Ooh...
sepertinya tante tampak sedih dan memikirkan sesuatu? Ada apa tante?” tanya kak
Sandra penuh perhatian dan ramah, walau aslinya itu hanya berpura – pura.
“Ooh...
begini... tante sedih karena kangen dengan suami tante... tante harus
bagaimana?” tanya tante Shareen.
“Begini
saja, tante harus berkeliling negeri ini, dengan begitu rasa rindu tante akan
terobati.” usul kak Alicia. “Melihat dan memperhatikan tumbuh kembangnya tanaman
bunga tidak bisa mengobati
rasa rindu tante...”
Tanpa
menunggu jawaban dari tante Shareen, kak Alicia dan kak Sandra segera menarik
dan memasukkan tante Shareen ke dalam kereta kuda dan mengunci pintunya.
Tante
Shareen mengetok – ngetok pintu kereta kuda, meronta – ronta untuk dikeluarkan.
“Keluarkan
tante! Tante sudah tidak sedih lagi!
Cepat keluarkan tante dari sini!”
Sayangnya
kak Alicia dan kak Sandra terlanjur berbicara pada pak kusir untuk membawanya
berkeliling negeri hingga diperintahkan oleh kak Alicia untuk dibawa kembali ke
kerajaan.
Setelah
kereta kuda itu pergi, kak Alicia dan kak Sandra masuk kembali ke kamar
Sandara.
“Sudah
beres!” ucap kak Alicia sambil mengerdipkan mata dan mengacungkan jempol.
“Thanks,
kak!” kata Jessica.
Mereka
lalu bersama – sama menuju ruang perpustakaan kerajaan.
Mereka
membongkar buku – buku yang ada di sana hingga perpustakaan kerajaan tampak
berantakan sekali. Banyak sekali bukunya! Sangat sulit untuk mereka menemukan
buku yang mereka maksud.
“Aku
kira bakal mudah menemukannya...” keluh Jessica
“Ya,
ku pikir juga begitu...” timpal kak Sandra.
“Kita
tidak boleh menyerah dong!” Sandara mengingatkan.
“Iya,
iya... tapi... sebanyak inikah?” tanya Jessica.
“Eh,
ngomong – ngomong, kak Alicia mana?” tanya kak Sandra.
“Kak
Alicia??? Di mana
kau???” panggil mereka membuat suasana perpustakaan yang biasanya sepi menjadi
gaduh.
“Sst...
diam! Kan ada larangan untuk tidak berisik di dalam perpustakaan!” kata kak
Alicia tiba – tiba muncul sambil mengingatkan dan menaruh telunjuk di bibir.
“Hh...
kak Alicia ini... mengkagetkan saja... ku kira siapa...” kata Sandara kaget.
“Hehehe...
sorry, sorry... ada kabar baik lho...” kata kak Alicia.
“Biar
ku tebak! Pasti kau sudah
menemukan bukunya!” tebak kak Sandra.
“Benar
sekali! Seratus untuk Sandra!” jawab kak Alicia.
“Kutu
buku gitu... pasti cepat ketemu...” goda Sandara.
“Bisa
aja...” kak Alicia tersipu malu.
“Cepat
kita buka buku ini dan mencari orangnya!” ajak Jessica. Tanpa membuang waktu
mereka segera membuka buku itu.
Halaman
demi halaman mereka buka bersama. Tapi belum menemukan pengawal yang dimaksud.
“Dia!
Ini dia pengawal yang dimaksud!” tunjuk kak Sandra mengagetkan mereka semua.
“Aku ingat sekali!” kata kak Sandra lagi.
“Sepertinya
memang dia orangnya.” kata kak Alicia.
“Kalau
begitu cepat sobek kertasnya! Kita akan menunggang kuda untuk pergi ke
rumahnya!” ajak Jessica.
“Tapi
siapa pun otak dibalik
penculikan Sandara, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Setuju?” tanya
kak Alicia.
“Setuju!!!”
jawab semuanya.
Mereka
pun menunggang kuda mencari alamat yang dimaksud. Setelah sampai di depan rumah
yang tertera di biodata tersebut...
“Assalamualaikum...”
sapa keempat putri tersebut.
“Walaikumsalam...
eh, Tuan Putri... ada apa kemari?” tanya seorang ibu – ibu yang membukakan
pintu untuk mereka. “Eh, silakan masuk Tuan Putri...”
Keempat
putri itu pun masuk.
“Maaf,
apakah benar ini rumah pak Achmad yang pernah menjadi pengawal setia kerajaan?”
tanya Sandara sopan.
“Oh,
ya benar. Tunggu ya, biar hamba panggilkan.” kata ibu itu.
Tak
berselang lama, orang yang dimaksud itu datang. Ibu itu juga kembali sambil membawakan
empat cangkir gelas dan beberapa cemilan.
“Ada
apa, Tuan mencari hamba?” tanya pak Achmad.
“Apakah bapak yang
mengirimkan surat ini?” tanya Sandara sembari menyerahkan dua pucuk surat itu.
Pak Achmad membuka
surat tersebut. Dan terbelalak kaget.
“A... Apakah... Tuan
ini... Tuan... Pu... Put... ri... Sandara?” tanya pak Achmad tergagap–gagap
ketakutan, takut dimarahi oleh Sandara.
“Ya, apakah benar bapak
yang menulis surat tersebut?” tanya Sandara.
“I... i... ya...” jawab
pak Achmad masih ketakutan.
“Kalau begitu, terima
kasih yang sebesar – besarnya ya, pak! Berkat bapak, akhirnya aku bisa kembali
ke pelukkan orangtua kandungku.” kata Sandara.
Pak Achmad tercengang
kaget, “Tapi mengapa hamba tidak Tuan marahi?”
“Marahi? Untuk apa?
Hahaha... Bapak ini aneh – aneh saja...” tawa Sandara.
“Kami justru ingin
menanyakan sesuatu pada bapak, sebenarnya... siapa sih yang menyuruh bapak
membuang, Sandara?” tanya kak Alicia.
“Ma... ma... maafkan
bapak... ba... ba... bapak... terpaksa... bapak
saat itu takut bila... ada yang diperintahkan untuk membunuh Tuan putri
Sandara. Dan yang menyuruh hal tersebut adalah... “
pak Achmad tergagap – gagap ketakutan.
“Siapa pak?” desak
Jessica ingin segera tahu pelakunya.
“Nyo... Nyo...
Nyonya... A... A... Shareen... An... An... Kurniawati...” jawab pak Achmad.
Tak terasa Jessica
mengeluarkan air mata, ibu? batinnya. Sudah kuduga pasti ibu. Batinnya lagi.
BRUUUKKK!!! PRAAANG!!! Tiba – tiba saja Jessica jatuh pingsan dan gelas kaca
yang dipegangnya jatuh dan pecah berhamburan.
“JESSICA!!!” pekik
semuanya.
“Apakah dia tak apa –
apa?” tanya pak Achmad.
“A... Aku... Tak..
Apa... apa...” ucap Jessica lirih. “Pak, tolong ceritakan yang sebenarnya
terjadi!” pinta Jessica lemah.
“Ba... baik! Wa...
waktu itu... Nyonya Shareen memintaku datang ke sebuah kastil miliknya... hamba pun
menurut dan datang. Nyonya Shareen menyuruh hamba untuk membunuh Tuan Putri
Sandara karena beliau iri Tuan Putri Sandara adalah anak dalam ramalan itu.
Awalnya hamba menolak, tapi beliau memaksa hamba dan beliau berkata bila hamba
tidak mengerjakan perintah dan tugasnya, hamba akan dipecat malahan akan
dibunuh, akhirnya dengan terpaksa dan berat hati, hamba melakukannya. Di malam
sebuah acara syukuran di istana, hamba pergi di tengah hutan, karena tak tega membunuh
Tuan Putri juga saya sangat sayang pada Tuan Putri hingga menganggap Tuan Putri
anak sendiri, dan supaya Nyonya Shareen tak tahu hamba tidak membunuh Tuan
Putri, hamba membuang Tuan Putri di hutan dekat sebuah desa yang sangat jauh
dari kerajaan. Sebelum membuang dan meninggalkan Tuan Putri, Hamba menyelipkan
dua pucuk surat. Itulah yang sebenarnya terjadi. Keesokkannya, setelah Tuan
Putri hilang, saya mengundurkan diri dari pengawal. Karena saya takut bila
Nyonya Shareen akan meminta saya lagi untuk melakukan
hal buruk. Saya sangat senang dan bersyukur begitu
saya tahu Tuan Putri masih hidup.” cerita pak Achmad panjang lebar dan sambil
menangis.
“Ooh, sekarang... kami
sudah tahu hal yang sebenarnya... terima kasih ya, pak!” ujar mereka berempat.
Keempat Putri itu pun
berpamitan dan sebelum mereka pergi mereka berbincang–bincang sebentar.
“Bagaimana ini?” bisik
kak Sandra pada kak Alicia.
“Terpaksa kita
adakan... RAPAT EMPAT PUTRI.” kata kak Alicia. Di kerajaan itu, memang hanya
putri tertua yang berhak mengadakan rapat, musyawarah, diskusi, tukar pikiran,
pertemuan atau jajak pendapat.
Kak Sandra, Sandara dan
Jessica terbelalak kaget. Ini bakal jadi rapat empat putri yang pertama! Belum
pernah mereka mengadakan rapat seperti ini sebelumnya!
“Hah?!
Kakak serius? Pasti kakak bercanda kan?” tanya kak Sandra kaget dan tak
percaya.
“Tidak,
kakak sangat serius.” jawab kak Alicia lalu menaiki kudanya.
Kak
Sandra naik juga ke kudanya, begitu juga dengan Sandara. Sementara Jessica
seperti biasa membonceng pada Sandara.
Jessica
menangis di tengah perjalanan. Sandara tak mengerti harus menghibur Jessica
dengan cara bagaimana lagi.
Sesampainya
di istana, mereka segera menuju ruang pertemuan. Sementara itu, Jessica tak
henti – hentinya menangis.
“Bisakah
kau hentikan sebentar tangismu Jessica?” tanya Sandara, sabar.
“Aku
berusaha dari tadi untuk menghentikan tangisku, tapi tetap saja tidak bisa...”
isak Jessica.
Sandara
yang duduk di dekat Jessica segera mengelus – ngelus punggung Jessica.
“Sabar ya, Jess... kami
tahu pasti menyedihkan dan tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi?” hibur kak
Sandra.
“You can’t understand
me!” Jessica menggeleng.
Kak Alicia bangkit.
“Kalau maumu menangis saja seenaknya, tak usah ikut penyelidikan ini! Bukannya kita sudah setuju sejak awal siapapun pelakunya
kita terima dengan lapang dada. Lagipula, Sandara sudah memaafkan ibumu kan?”
bentak kak Alicia.
Jessica terdiam.
Tangisnya mereda.
“Kamu harus berani
tanggung jawab! Kamu harus bisa menepatinya!” tegas kak Alicia. Kak Alicia
memang kalau sudah marah, ketegasannya akan keluar. Tapi kak Alicia selalu adil
dan bijaksana. Jika ada yang bertengkar, kak Alicia tidak pernah memihak.
Jessica hanya
menundukkan kepala.
“Kami tahu kok rasanya,
betapa tidak enaknya! Aku juga sampai tak percaya! Tapi... kita harus
memutuskan sesuatu. Mengapa aku mengadakan rapat? Supaya kita bisa memutuskan,
harus bagaimana supaya tante Shareen tidak dihukum begitu berat.” jelas kak
Alicia pelan.
“A... aku mengerti
kak... maafkan aku... aku salah...” pinta Jessica.
“Tak perlu minta maaf,
aku hanya ingin kamu sadar dan mengerti.” kata kak Alicia. Kak Alicia dan
Jessica berpelukkan.
Rapat pun dimulai.
“Pertama, aku ingin
bertanya dan meminta pendapat kalian, haruskah kita mengadukan tante Shareen ke
pihak kerajaan yang berwenang?” tanya kak Alicia.
Jessica angkat tangan
terlebih dahulu.
“Ya, Jessica.” kata kak
Alicia.
“Ibuku harus tetap
diadukan, karena menurutku dia telah berhati jahat dan hampir membuat kita
kehilangan Sandara. Putri yang dianggap dapat mengganti kakek di masa depan. Jika tidak ada Sandara, kerajaan beserta isinya akan
hancur.” Jessica memberikan pendapat.
Sandara berdiri dan
mengacungkan tangan.
“Ya, Sandara.” kata kak
Alicia.
“Menurutku, tidak perlu
mempermasalahkan diriku. Karena sekarang aku kan sudah kembali dengan kalian.
Jadi menurutku, agar Jessica tidak sedih dan menangis lagi karena ditinggal
ibunya, sebaiknya tidak perlu. Kalau boleh terus terang aku sangat kasihan
dengan Jessica.” kata Sandara.
“Aku lebih setuju
dengan pendapat Jessica. Karena yang ditakutkan tante Shareen akan mengulangi
hal yang hampir sama pada Sandara atau mungkin sama buruknya.” kata kak Alicia
tenang. “Jika ayahanda raja dan ibunda ratu memperbolehkan kita memberi hukuman
yang tepat untuk tante Shareen, hukuman apakah itu?” lanjutnya.
Jessica angkat tangan
pertama kali lagi.
“Ya, Jessica.” kata kak
Alicia.
“Di turunkan dari
jabatannya menjadi penasihat kerajaan. Soalnya, jika beliau tak lagi menjadi
penasihat kerajaan beliau tak akan berusaha menjatuhkan raja dan ratu. Dan tak
bisa memberitahu apa pun pada raja dan ratu. Beliau juga tak bisa mendapat
informasi tentang apa pun.” jelas Jessica memberikan pendapatnya.
“Hmm... boleh juga...”
ucap kak Alicia.
Kak Sandra berdiri dan
mengacungkan tangan.
“Ya, Sandra.” kak Alicia
mengizinkan.
“Aku lebih setuju bila
beliau di masukkan ke penjara selama setahun. Supaya beliau bisa tersadar akan
perbuatannya sendiri dan malu.” pendapat kak Sandra terdengar simple, jelas dan
cukup masuk akal.
“Aku paling suka caramu
menyampaikan pendapatmu Sandra.” puji kak Alicia.
“Terimakasih kak...”
ucap kak Sandra.
Sandara berdiri dan
mengacungkan tangan.
“Ya, Sandara.” Kata kak
Alicia.
“Aku lebih setuju bila
beliau di denda saja menurut peraturan yang berlaku. Sebab, bila di turunkan
dari posisinya, kasihan beliau. Beliau sudah lama dan butuh usaha untuk
mendapatkan posisi sebagai penasihat kerajaan. Pasti beliau sangat sedih walau
dia yang bersalah. Karena sesungguhnya tak ada hubungannya kejahatan yang
dilakukan beliau dengan diturunkannya beliau. Dan bila dimasukkan ke penjara
selama setahun... rasanya kasihan bila Jessica ditinggal sendiri oleh ibunya.
Ibu adalah peran utama dalam sebuah keluarga. Jessica pasti juga kangen dengan
ibunya dan butuh tempat curhat dan kasih sayang ibunya.” jelas Sandara.
“Hmm... cara berpikirmu
ku akui hebat.” puji kak Alicia.
Sandara tersenyum.
“Terimakasih kak...”
“Tapi... sayangnya aku
lebih setuju dengan pendapat Sandra.”
Setelah rapat selesai,
kak Alicia menelpon kusir kereta kerajaan terlebih dahulu supaya tante Shareen
segera sampai ke kerajaan. Kak Alicia
membisikkan rencananya kepada ketiga saudaranya. Tak
berselang lama kemudian, kusir kereta kerajaan datang membawa tante Shareen.
Kak Alicia membuka
kunci pintu kereta.
“Hai tante! Bagaimana
dengan jalan – jalannya? Apakah tante merasa lebih baik sekarang?” tanya kak
Alicia sok ramah.
“He – eh, iya Alicia
yang baik hati, tante sudah lebih baik sekarang.” jawab tante Shareen.
“Tentu, itu pasti
karena solusi yang ku berikan pada tante. Nah sekarang, biar ku tuntun tante
masuk ke dalam istana.” kata kak Alicia menggandeng tangan tante Shareen.
Kak Alicia membawa
tante Shareen ke ruang makan istana.
“Tunggu dulu ya
tante... akan Alicia buatkan teh.” kata Alicia. Sementara kak Alicia bersama
tante Shareen, kak Sandra dan Jessica
menuju kamar raja dan ratu untuk mengadukan tante Shareen.
“Ayah... ayah harus
dengar aku, aku tahu siapa pelaku penculikan Sandara sekaligus membuang
Sandara.” kata kak Sandra.
“Hahaha... jangan
mengada – ngada... kau pasti hanya bermimpi di siang bolong, nak.”
ujar ayahanda raja sambil tertawa.
“KAMI TIDAK BOHONG,
YAH!” ucap kak Sandra dan Jessica bersama – sama. Kok Jessica jadi panggil ayah
ya? Hahaha...
“Kalau begitu mana
buktinya?” tanya ayahanda raja tegas.
“Ini!” Jessica
menyerahkan dua pucuk surat milik Sandara pada ayahanda raja.
“Huh! Hanya ini! Ini
tidak menunjukkan bukti apapun, hanya sedikit!” ucap ayahanda raja.
Sementara
itu, Sandara menunggang kuda dengan cepat dan tangkas telah sampai di rumah pak
Achmad, dia segera menjemput pak Achmad sebagai saksi. Dan kuda Sandara maupun
kuda pak Achmad melesat
dengan sangat kencang. Sehingga mereka sudah sampai di istana. Mereka segera
turun dari kuda dan berlari memasuki istana.
Tap!
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! Tap! bunyi langkah mereka.
“Hanya
ini saja? Ini hanya petunjuk kecil! Bagaimana kalian bisa tahu siapa pelakunya?
Jangan bercanda... apakah ini sebuah
permainan? Atau bahkan ini sebuah lelucon kecil?”
tawa ayahanda raja.
“Apakah
ada petunjuk lainnya?” tanya ibunda ratu.
“Eh...
ng... ng...” kak Sandra dan Jessica panik, mereka berharap Sandara dan pak
Achmad segera memasuki kamar.
“Saya
bertanya, apakah ada petunjuk lainnya?” tanya ibunda ratu.
“ADA!
Bukan petunjuk, tapi SAKSI!” Sandara masuk ke kamar ayahanda raja dan ibunda
ratu.
“Dia
adalah saksinya.” kata Sandara.
“Mengapa
kau lama sekali, Ra? Hampir saja kami mati dimarahi ayah dan ibu. Untung saja
kau cepat datang, kalau tidak...” bisik kak Sandra.
“Sorry,
sorry...” bisik Sandara.
“Dia
adalah yang menulis surat itu!” tunjuk Sandara.
“Hmm...
apakah benar, kamu yang menulis surat ini? Lalu... siapa yang menyuruhmu?”
tanya ayahanda raja, tegas.
“Nyo...
nyo... nyonya... Shareen Kurniawati, tuan.” jawab pak Achmad.
“Huahahahahahaha...
tak mungkin! Huahahahahaha... tak mungkin dia! Shareen adalah adik kandungku!
Tidak mungkin dia rela dan kejam melakukan hal itu! Dia sangat baik hati!
Bahkan saat Sandara hilang, dia membantuku mencarinya. Apakah ada lelucon lain?
Ini sama sekali tidak lucu... berbohong di depan raja.” Tawa ayahanda raja dan ibunda ratu.
Tiba
– tiba kak Alicia dan tante Shareen masuk ke kamar.
“Aku
dan kak Sandra saksinya! Aku melihat tante Shareen menyerahkan sejumlah uang
pada pak Achmad setelah Sandara menghilang! Apakah itu tidak cukup bukti?” tegas
kak Alicia.
Ayahanda
raja tercengang kaget, begitu ibunda ratu. Ayahanda raja menoleh pada kak
Alicia dengan tatapan tak percaya, lalu berpaling ke tante Shareen dengan
tatapan ragu tapi benci dan kesal.
“Apakah
ayah masih tak percaya dengan putri – putri kerajaan yang tak lain adalah anak
dan keponakan ayah sendiri?” tanya kak Alicia.
Ayahanda
menggeleng. “Ayah... Ayah... percaya pada kalian...” jawab ayahanda pelan.
“Apakah
itu benar Shareen?” tanya ibunda ratu pelan.
“I...
i... iya... benar kak...” jawab tante Shareen sambil menunduk.
“Kalau
boleh kami meminta hukuman untuk tante Shareen... Kami hanya ingin, tante di
penjara selama setahun saja. Soalnya kami yakin tante akan sadar dan tak akan
mengulanginya lagi. Kami yakin, tante akan menyesal. Kami tahu di dalam hati
tante Shareen, sebenarnya tante Shareen itu baik, manis dan cantik. Tante hanya
terpaksa karena ingin mendapatkan kekuasaan. Itu wajar kok! Semua juga ingin
mendapatkan kekuasaan.” jelas Sandara pelan.
“Kami
akan merindukanmu, tante. Hingga tante kembali. Terutama Jessica.” kata kak
Sandra.
“Terimakasih
anak – anak. Maafkan tante, kalian telah mengingatkan tante. Sekali lagi
terimakasih. Terutama untuk Sandara. Tolong jaga Jessica selama tante di
penjara.” bisik tante Shareen pelan saat hendak dibawa ke penjara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar