Di sekolah Asma, banyak
sekali teman – temannya yang menggunakan handphone Blackberry. Hampir semuanya
menggunakan Blackberry. Diam – diam, Asma juga menginginkan handphone itu
Hh... aku ingin sekali bisa BBM-an sama teman – teman. Huh! pasti seru! Selain itu, aku juga bisa Twitter-an dan Facebook-an seperti teman – teman yang lain. Hh... sepulang sekolah nanti, aku akan bilang kepada ayah dan bunda, pasti mereka akan langsung setuju dan akan segera membelikannya untuk hadiah ulang tahunku yang tinggal hitungan hari lagi, batin Asma. Asma jadi melamun dan senyum – senyum sendiri. Ya, teman – teman di sekolah Asma suka bermain Blackberry saat sedang belajar di sekolah. Padahal, hal itu tidak diperkenankan oleh guru. Pernah suatu ketika, teman Asma tertangkap basah sedang memainkan handphone-nya ketika jam pelajaran, handphone-nya pun disita oleh guru. Dan hanya orang tua yang boleh mengambilnya ke sekolah.
“Asma! Perhatikan saat guru sedang menjelaskan!” tegur bu guru.
“Ooh... i... iya, bu! Ma... maaf!” jawab Asma kaget.
Seisi kelas pun tertawa karena tingkah Asma tadi. Asma jadi malu setengah mati.
Sepulang sekolah... Asma segera mencari bundanya.
“Bunda, bunda! Lusa kan ulang tahun Asma, Asma kepingin
deh punya handphone Blackberry seperti teman – teman yang lain. Boleh, ya?”
pinta Asma.
“Asma sayang, perbaiki dulu nilai ulanganmu. Bunda
melihat nilai ulangan Matematika kamu yang kemarin mendapat nilai 4.5.
Sebelumnya, 5. Apa itu nilai yang baik?” ujar bunda, lembut.
“Tapi bunda... Matematika itu susah, bund... semua teman
– teman Asma juga dapat nilai jelek, kok!” bela Asma.
“Bunda tidak mau menuruti permintaanmu sebelum kamu
melaksanakan permintaan bunda! Jangan mengikuti teman – temanmu yang lain! Kamu
harus memiliki pendirian!” tegas bunda dengan nada tinggi, lalu pergi
meninggalkan Asma.
“Hmm... baiklah... kalau bunda menolak, aku akan meminta
ayah saja. Mungkin ayah akan menuruti permintaanku.” gumamku, lalu segera
menghampiri ayah.
“Yah, kan lusa ulang tahun Asma, boleh tidak Asma
dibelikan Blackberry?” pinta Asma.
“Apa yang kamu suka dari Blackberry?” tanya ayah tanpa
menatapku, karena sedang sibuk mengotak – atik laptopnya.
“Yaa... enak, yah! Ada BBM-nya... selain itu kita bisa
buka Google, Facebook, dan Twitter. Soalnya, hampir sekelas memiliki
Blackberry, yah! Masa cuma Asma sih yang tidak punya Blackberry? Asma-kan
malu... nanti Asma dikira kamseupay
lagi sama teman – teman.” ujar Asma.
Kamseupay = Kampungan Sekali Udik Payah.
“Kamu ingin memiliki Blackberry atas keinginanmu
sendiri?” tanya ayah, lagi.
“Hmm... Asma siih... cuma mau ikut – ikutan saja, yah!
kan Blackberry lagi nge-trend. Biar Asma kelihatan keren gitu, yah!” jawab
Asma, jujur.
“Berapa nilai ulanganmu yang kemarin?” tanya ayah.
“Hmm... matematika 4.5, bahasa Indonesia 6, bahasa
Inggris 5, Agama 6.5, IPA 5.5, IPS 4.5, Budi Pekerti 7.5, SBK 7.5, Komputer 7,
Penjas 6, dan PKn 4.” jawab Asma sambil berpikir.
“Apa kamu bangga dengan nilai segitu? Apa itu nilai yang
baik? hanya Budi Pekerti dan SBK saja kan yang cukup baik? Itupun baru 7.5.
Asma sayang... kamu itu sudah kelas 6. Apa kamu mau mendapat nilai jelek saat
UAN nanti? Lagi pula kalau kamu hanya menyukai Blackberry karena ikut – ikutan,
apalagi ayah dengar - dengar... teman – temanmu juga sering melanggar aturan
karena bermain Blackberry di jam
pelajaran, lebih baik ayah tidak membelikanmu handphone Blackberry.” jawab
ayah, lembut.
“Tapi yah... teman – teman yang lain dibelikan
Blackberry... masa Asma sendiri yang nggak pakai Blackberry?” pinta Asma,
memelas.
“Apakah teman
– temanmu mendapat nilai yang baik
sehingga dibelikan?” jawab ayah, santai.
“Tapi yah teman – teman
yang lain juga seperti Asma, malahan...” Asma mencoba membela.
“Ingat, Asma. Jangan suka meniru orang lain, apalagi
meniru hal yang negatif. Lebih baik kamu berbeda sendiri dengan mereka.
Bagaimana kalau tiba – tiba Blackberry sudah tidak trend lagi? Apa kamu mau
ganti handphone lagi? Mengerti?” potong ayah.
Huh! Bete
banget... kesel banget... kenapa sih gak bunda, gak ayah, sama aja. Giliran
kakak saja dibelikan Blackberry. Batin Asma, kesal.
“APA AKU DIBEDAKAN DENGAN KAKAK? KAKAK MINTA BLACKBERRY
LANGSUNG DIBELIKAN HARI ITU JUGA, TAPI AKU? AKU JUSTRU DINASIHATI YANG MACAM –
MACAM!” pekikku dari kamarku yang berada di lantai dua.
Bunda pun datang menghampiriku, “Asma sayang... tidak ada
orangtua yang pilih kasih... Ayah dan bunda membelikan kakakmu handphone
Blackberry sebagian dari hasil tabungan
kakak kemudian ditambah uang ayah dan karena dia sudah dewasa dan mampu untuk bertanggung jawab dalam menggunakannya.
Sekali – sekali, contohlah kakakmu itu. Bila kamu ingin mendapatkan Blackberry,
janjilah untuk menggunakannya dengan tanggung jawab, rajin menabung dan berjanjilah
pada ayah dan bunda bahwa nilaimu akan terus membaik. Ayah dan bunda juga
sebenarnya mau kok membelikanmu handphone Blackberry. Tapi ya... dengan syarat
tadi.”
“Tapi memang benar, ayah dan bunda tidak mau membelikanku
Blackberry! Kalau aku bisa menepati syarat tersebut, pasti ayah dan bunda tetap
tidak mau membelikanku Blackberry!” pekik Asma.
“Kalau begitu, buktikan bahwa kamu bisa menepati syarat
tadi.” jawab bunda, santai. Lalu beliau pergi meninggalkan Asma.
Huh! Sungguh menjengkelkan! Batin Asma, kesal.
Di hari ulang tahun Asma. Semua anggota keluarga
berkumpul untuk memberikan kado dan ucapan selamat. Asma sudah tidak sabar, dia
sangat menunggu, apakah orangtuanya akan membelikannya Blackberry atau tidak. Namun
ternyata, hal yang diinginkannya tidak terwujud.
Ya, ternyata ayahnya membelikan handphone Android bukan Blackberry yang sangat dia
idam – idamkan. Dalam seketika, raut wajah Asma berubah menjadi kesal.
“Huh! Kenapa sih dibelikan handphone Android! bukan
Blackberry yang Asma inginkan?” keluh Asma.
“Eh Asma, handphone Android juga lagi nge-trend kali...”
tegur kak Sofa, kakak Asma.
“Tapi di kelas Asma kan nggak ada yang pakai handphone
Android!” jawab Asma.
“Ya sudah kalau tidak mau, buat kakak saja...” ujar kak
Sofa, mencoba mencairkan suasana.
Asma hanya terdiam, dia segera meletakkan handphone
Android yang masih dalam kotaknya itu di atas meja, lalu pergi menuju kamarnya.
Di kamarnya, dia menangis meraung – raung. “Asma maunya handphone Blackberry
seperti teman – teman... Asma tidak mau handphone Android!” pekiknya.
“Asma sayang...” ujar bunda, dari luar.
“Asma maunya Blackberry!!!” pekiknya, lagi.
“Lalu, mau kau apakan handphone Android itu? Hargailah
ayah yang telah susah payah membelikannya untukmu, dek! Kakak lihat, ayah
pulang malam demi membeli handphone itu.” nasihat kak Sofa, dari luar.
“Pokoknya Asma tidak mau! Asma maunya handphone
Blackberry kayak teman – teman!” pekik Asma.
“Oke, terserah kamu sajalah...” ujar kak Sofa.
Hmm... kak Sofa dibelikan Blackberry oleh ayah dan bunda.
Sedangkan aku justru dibelikan handphone Android yang justru sedang tidak
nge-trend dibanding handphone Blackberry. Aha! Bagaimana kalau besok, sebelum
berangkat sekolah, aku memohon kepada kakak supaya kakak mau menggunakan
handphone Android-ku, ya, sedangkan handphone Blackberry-nya akan jatuh di
tanganku! Aku akan coba saja besok, semoga saja berhasil! Batin Asma.
Keesokkan harinya, saat mau berangkat sekolah, Asma
menghampiri kakaknya yang sedang bersiap di kamarnya.
“Kak, Asma mau ngomong.” ujar Asma.
“Mau ngomong apa, sayang?” tanya kak Sofa. Aku dan kak
Sofa duduk di tempat tidurnya.
“Mau nggak kak, kakak sama aku tukeran handphone? Kakak
tahukan, aku tidak suka dengan handphone Android? Daripada tidak digunakan,
lebih baik kakak yang pakai, sedangkan aku pakai handphone Blackberry kakak?
Bagaimana? Kakakkan tahu kalau aku kepingin banget punya handphone Blackberry.
Handphone Android-nya masih di dalam kotaknya, lho! Berarti masih bagus,
sedangkan, handphone Blackberry-kan sudah lama.” rayu Asma.
“Hmm... bagaimana, ya? Kakak tahu, kakak kepingin banget
punya handphone Android, tapi...” ucapan kak Sofa terputus.
“Tapi apa, kak?” tanya Asma.
“Kakak nggak mau berpisah dengan handphone Blackberry
ini. Soalnya... handphone ini tuh kakak dapat karena berhasil lulus SMA dengan
nilai memuaskan, juga karena berhasil masuk perguruan tinggi di Jakarta.
Rasanya... kakak sayang banget kalau benda berharga ini diberikan kepada orang
lain. Apalagi, ayah sudah susah payah membelikannya untukku. Coba, kamu bisa
bayangkan tidak? Kamu kasih hadiah ke sahabat kamu yang ulang tahun, tapi, di
luar dugaanmu, sahabat kamu nggak suka sama isi hadiah itu, dan akhirnya,
sahabat kamu buang hadiah itu atau memberikannya kepada orang lain di depan
matamu. Pasti rasanya sakit hati dan tersinggung, kan? Begitu rasanya. Mungkin,
itu juga yang akan terjadi bila kita bertukar handphone.” Jelas kak Sofa, penuh
pengertian.
“Jadi, kak?” Asma bertanya penuh harap.
“Maaf sekali, ya! Kakak nggak bisa bertukar handphone.
Suatu hari, kamu akan mengetahui. Lagipula, handphone Android juga lagi
terkenal, kok! Malahan, kata teman – teman kakak. Setiap handphone kan memiliki kekurangan dan kelebihan masing – masing,
seperti manusia saja. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.”
bujuk kak Sofa.
Asma hanya diam mematung. Dia tidak bicara apa – apa
lagi. Sebelum keluar dari kamar kak Sofa, dia berkata, “Terimakasih ya, kak!”
Walau pun kak Sofa tidak bermaksud membuat Asma sedih, Asma sangat kecewa.
“Asma...” panggil kak Sofa.
“Iya, kak. Ada apa?” tanya Asma.
“Ma... maksud kakak bukan begitu... ma... maksud kakak...
kakak hanya ingin kamu mengerti, kakak hanya ingin kamu bisa menghargai
pemberian seseorang walau pun... kamu tidak menyukainya. Pasti rasanya sakit,
i... itu saja, kok! Maafkan kakak ya, dek.”
jawab kak Sofa, merasa tidak enak.
“Tak apa kok, kak! Asma sudah mulai mengerti apa yang
kakak maksud, walau Asma sedih dan kecewa.” jawab Asma, lemas. Seperti tidak
berenergi.
“Mm... mau tidak nanti, pulang sekolah kita jalan – jalan
ke mall? Kita makan es teler! Mau, ya?” tawar kak Sofa supaya Asma tidak sedih
lagi. Biasanya, begitu mendengar kata es teler, Asma akan segera senang dan
tentunya tidak akan menolak ajakannya. Ya, Asma sangat suka es teler.
“Maaf, kak! Asma sedang tidak mau makan es teler.” jawab
Asma sopan, lalu pergi meninggalkan kakaknya yang kebingungan.
“Aneh! Biasanya, dia tidak akan menolak ajakanku.” gumam
kak Sofa.
Hari – hari pun terlewati, Asma masih iri dengan teman – teman
yang asyik BBM-an, Facebook-an, dan Twitteran lewat Blackberry masing – masing.
Jika Asma berbicara, mereka juga mengacuhkan Asma karena terlalu asyik dengan
dunia maya. Memang, Asma merasa tersinggung, tapi toh mau bagaimana lagi?
Memang benar – benar sedang terjadi demam Blackberry. Sebenarnya, handphone Android juga bisa siih Facebook-an
dan Twitter-an hanya saja Asma ingin bisa BBM-an dengan teman – temannya yang
lain. Padahal kalau dipikir – pikir, Asma dan teman – temannya masih bisa
chatting-an lewat aplikasi Whatsapp
kan?
Lambat laun, Asma pun jadi berpikir. Hmm... benar juga,
ya? sekarang saja nilaiku sudah jelek, bagaimana kalau aku memiliki Blackberry?
Pasti aku semakin malas belajar dan lebih asyik terjun ke dunia maya daripada
belajar. Aku juga jadi cuek dan acuh tak acuh pada teman – teman semua. Memang
benar, mungkin aku harus berbeda dengan mereka semua, aku tidak boleh menjadi copycat mereka. Kalau hanya untuk ikut –
ikutan, lebih baik tidak usah memiliki Blackberry. Toh masih banyak handphone
yang bisa chatting-an seperti Blackberry, lebih canggih daripada Blackberry,
bisa Facebook dan Twitter-an, juga memiliki lebih banyak games daripada
Blackberry.
Sepulang sekolah, Asma segera mencari kotak handphone
Android itu di gudang. Yang belum sempat dibuka oleh Asma karena ia marah.
Setelah ia temukan, ia mulai memasukkan sim
card dan kartu memorinya. Asma lalu segera menemui kedua orangtuannya untuk
meminta maaf.
“Ayah, bunda, maafkan Asma, ya! Asma tahu Asma salah.
Asma janji tidak akan mengulanginya lagi.
Selain itu Asma janji mulai hari ini akan lebih sering belajar, membaca buku
dan sedikit menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Beri kesempatan Asma untuk
belajar bertanggung jawab ya,” ujar Asma kepada
kedua orangtuanya.
Ayah dan bunda hanya tersenyum melihat perubahan sikap
Asma itu.
Asma berjanji akan menghargai pemberian orang lain walau
tidak ia sukai, dia juga berjanji untuk tidak menjadi copycat orang. Apa
jadinya dunia ini kalau hanya penuh dengan orang – orang copycat? Tentu saja hasilnya tidak ada kekreatif-an.
Di sekolah, Asma
mengingatkan teman – temannya untuk tidak bermain handphone ketika jam
pelajaran. Karena selain melanggar peraturan juga merugikan diri sendiri.
Bahkan Asma juga mengajak teman – temannya bersaing secara sehat dalam
meningkatkan nilai pelajaran. Akhirnya, Asma berusaha menggunakan handphonenya
untuk hal – hal positif misalnya mengedit gambar,
membuka YouTube, membuka kamus, dan
sebagainya walaupun sekali – sekali
ketika di rumah saat libur, dia bermain Angry
Birds. Ternyata, berbeda dengan orang lain
itu tidak ada ruginya. Asma jadi menyesal menolak ajakan kak Sofa makan es teler beberapa waktu
lalu. Hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar