Sabtu, 04 Oktober 2014

Keinginan Asma

        Di sekolah Asma, banyak sekali teman – temannya yang menggunakan handphone Blackberry. Hampir semuanya menggunakan Blackberry. Diam – diam, Asma juga menginginkan handphone itu


         Hh... aku ingin sekali bisa BBM-an sama teman – teman. Huh! pasti seru! Selain itu, aku juga bisa Twitter-an dan Facebook-an seperti teman – teman yang lain. Hh... sepulang sekolah nanti, aku akan bilang kepada ayah dan bunda, pasti mereka akan langsung setuju dan akan segera membelikannya untuk hadiah ulang tahunku yang tinggal hitungan hari lagi, batin Asma. Asma jadi melamun dan senyum – senyum sendiri. Ya, teman – teman di sekolah Asma suka bermain Blackberry saat sedang belajar di sekolah. Padahal, hal itu tidak diperkenankan oleh guru. Pernah suatu ketika, teman Asma tertangkap basah sedang memainkan handphone-nya ketika jam pelajaran, handphone-nya pun disita oleh guru. Dan hanya orang tua yang boleh mengambilnya ke sekolah.
            “Asma! Perhatikan saat guru sedang menjelaskan!” tegur bu guru.
            “Ooh... i... iya, bu! Ma... maaf!” jawab Asma kaget. Seisi kelas pun tertawa karena tingkah Asma tadi. Asma jadi malu setengah mati.
            Sepulang sekolah... Asma segera mencari bundanya.
            “Bunda, bunda! Lusa kan ulang tahun Asma, Asma kepingin deh punya handphone Blackberry seperti teman – teman yang lain. Boleh, ya?” pinta Asma.
            “Asma sayang, perbaiki dulu nilai ulanganmu. Bunda melihat nilai ulangan Matematika kamu yang kemarin mendapat nilai 4.5. Sebelumnya, 5. Apa itu nilai yang baik?” ujar bunda, lembut.
            “Tapi bunda... Matematika itu susah, bund... semua teman – teman Asma juga dapat nilai jelek, kok!” bela Asma.
            “Bunda tidak mau menuruti permintaanmu sebelum kamu melaksanakan permintaan bunda! Jangan mengikuti teman – temanmu yang lain! Kamu harus memiliki pendirian!” tegas bunda dengan nada tinggi, lalu pergi meninggalkan Asma.
            “Hmm... baiklah... kalau bunda menolak, aku akan meminta ayah saja. Mungkin ayah akan menuruti permintaanku.” gumamku, lalu segera menghampiri ayah.
            “Yah, kan lusa ulang tahun Asma, boleh tidak Asma dibelikan Blackberry?” pinta Asma.
            “Apa yang kamu suka dari Blackberry?” tanya ayah tanpa menatapku, karena sedang sibuk mengotak – atik laptopnya.
            “Yaa... enak, yah! Ada BBM-nya... selain itu kita bisa buka Google, Facebook, dan Twitter. Soalnya, hampir sekelas memiliki Blackberry, yah! Masa cuma Asma sih yang tidak punya Blackberry? Asma-kan malu... nanti Asma dikira kamseupay lagi sama teman – teman.” ujar Asma. Kamseupay = Kampungan Sekali Udik Payah.
            “Kamu ingin memiliki Blackberry atas keinginanmu sendiri?” tanya ayah, lagi.
            “Hmm... Asma siih... cuma mau ikut – ikutan saja, yah! kan Blackberry lagi nge-trend. Biar Asma kelihatan keren gitu, yah!” jawab Asma, jujur.
            “Berapa nilai ulanganmu yang kemarin?” tanya ayah.
            “Hmm... matematika 4.5, bahasa Indonesia 6, bahasa Inggris 5, Agama 6.5, IPA 5.5, IPS 4.5, Budi Pekerti 7.5, SBK 7.5, Komputer 7, Penjas 6,  dan PKn 4.” jawab Asma sambil berpikir.
            “Apa kamu bangga dengan nilai segitu? Apa itu nilai yang baik? hanya Budi Pekerti dan SBK saja kan yang cukup baik? Itupun baru 7.5. Asma sayang... kamu itu sudah kelas 6. Apa kamu mau mendapat nilai jelek saat UAN nanti? Lagi pula kalau kamu hanya menyukai Blackberry karena ikut – ikutan, apalagi ayah dengar - dengar... teman – temanmu juga sering melanggar aturan karena bermain Blackberry di jam pelajaran, lebih baik ayah tidak membelikanmu handphone Blackberry.” jawab ayah, lembut.
            “Tapi yah... teman – teman yang lain dibelikan Blackberry... masa Asma sendiri yang nggak pakai Blackberry?” pinta Asma, memelas.
            “Apakah teman – temanmu mendapat nilai yang baik sehingga dibelikan?” jawab ayah, santai.
            “Tapi yah teman – teman  yang lain juga seperti Asma, malahan...” Asma mencoba membela.
            “Ingat, Asma. Jangan suka meniru orang lain, apalagi meniru hal yang negatif. Lebih baik kamu berbeda sendiri dengan mereka. Bagaimana kalau tiba – tiba Blackberry sudah tidak trend lagi? Apa kamu mau ganti handphone lagi? Mengerti?” potong ayah.
            Huh! Bete banget... kesel banget... kenapa sih gak bunda, gak ayah, sama aja. Giliran kakak saja dibelikan Blackberry. Batin Asma, kesal.
            “APA AKU DIBEDAKAN DENGAN KAKAK? KAKAK MINTA BLACKBERRY LANGSUNG DIBELIKAN HARI ITU JUGA, TAPI AKU? AKU JUSTRU DINASIHATI YANG MACAM – MACAM!” pekikku dari kamarku yang berada di lantai dua.
            Bunda pun datang menghampiriku, “Asma sayang... tidak ada orangtua yang pilih kasih... Ayah dan bunda membelikan kakakmu handphone Blackberry sebagian dari hasil tabungan kakak kemudian ditambah uang ayah dan karena dia sudah dewasa dan mampu untuk bertanggung jawab dalam menggunakannya. Sekali – sekali, contohlah kakakmu itu. Bila kamu ingin mendapatkan Blackberry, janjilah untuk menggunakannya dengan tanggung jawab, rajin menabung dan berjanjilah pada ayah dan bunda bahwa nilaimu akan terus membaik. Ayah dan bunda juga sebenarnya mau kok membelikanmu handphone Blackberry. Tapi ya... dengan syarat tadi.”
            “Tapi memang benar, ayah dan bunda tidak mau membelikanku Blackberry! Kalau aku bisa menepati syarat tersebut, pasti ayah dan bunda tetap tidak mau membelikanku Blackberry!” pekik Asma.
            “Kalau begitu, buktikan bahwa kamu bisa menepati syarat tadi.” jawab bunda, santai. Lalu beliau pergi meninggalkan Asma.
            Huh! Sungguh menjengkelkan! Batin Asma, kesal.
            Di hari ulang tahun Asma. Semua anggota keluarga berkumpul untuk memberikan kado dan ucapan selamat. Asma sudah tidak sabar, dia sangat menunggu, apakah orangtuanya akan membelikannya Blackberry atau tidak. Namun ternyata, hal yang diinginkannya tidak terwujud.
            Ya, ternyata ayahnya membelikan handphone Android bukan Blackberry yang sangat dia idam – idamkan. Dalam seketika, raut wajah Asma berubah menjadi kesal.
            “Huh! Kenapa sih dibelikan handphone Android! bukan Blackberry yang Asma inginkan?” keluh Asma.
            “Eh Asma, handphone Android juga lagi nge-trend kali...” tegur kak Sofa, kakak Asma.
            “Tapi di kelas Asma kan nggak ada yang pakai handphone Android!” jawab Asma.
            “Ya sudah kalau tidak mau, buat kakak saja...” ujar kak Sofa, mencoba mencairkan suasana.
            Asma hanya terdiam, dia segera meletakkan handphone Android yang masih dalam kotaknya itu di atas meja, lalu pergi menuju kamarnya. Di kamarnya, dia menangis meraung – raung. “Asma maunya handphone Blackberry seperti teman – teman... Asma tidak mau handphone Android!” pekiknya.
            “Asma sayang...” ujar bunda, dari luar.
            “Asma maunya Blackberry!!!” pekiknya, lagi.
            “Lalu, mau kau apakan handphone Android itu? Hargailah ayah yang telah susah payah membelikannya untukmu, dek! Kakak lihat, ayah pulang malam demi membeli handphone itu.” nasihat kak Sofa, dari luar.
            “Pokoknya Asma tidak mau! Asma maunya handphone Blackberry kayak teman – teman!” pekik Asma.
            “Oke, terserah kamu sajalah...” ujar kak Sofa.
            Hmm... kak Sofa dibelikan Blackberry oleh ayah dan bunda. Sedangkan aku justru dibelikan handphone Android yang justru sedang tidak nge-trend dibanding handphone Blackberry. Aha! Bagaimana kalau besok, sebelum berangkat sekolah, aku memohon kepada kakak supaya kakak mau menggunakan handphone Android-ku, ya, sedangkan handphone Blackberry-nya akan jatuh di tanganku! Aku akan coba saja besok, semoga saja berhasil! Batin Asma.
            Keesokkan harinya, saat mau berangkat sekolah, Asma menghampiri kakaknya yang sedang bersiap di kamarnya.
            “Kak, Asma mau ngomong.” ujar Asma.
            “Mau ngomong apa, sayang?” tanya kak Sofa. Aku dan kak Sofa duduk di tempat tidurnya.
            “Mau nggak kak, kakak sama aku tukeran handphone? Kakak tahukan, aku tidak suka dengan handphone Android? Daripada tidak digunakan, lebih baik kakak yang pakai, sedangkan aku pakai handphone Blackberry kakak? Bagaimana? Kakakkan tahu kalau aku kepingin banget punya handphone Blackberry. Handphone Android-nya masih di dalam kotaknya, lho! Berarti masih bagus, sedangkan, handphone Blackberry-kan sudah lama.” rayu Asma.
            “Hmm... bagaimana, ya? Kakak tahu, kakak kepingin banget punya handphone Android, tapi...” ucapan kak Sofa terputus.
            “Tapi apa, kak?” tanya Asma.
            “Kakak nggak mau berpisah dengan handphone Blackberry ini. Soalnya... handphone ini tuh kakak dapat karena berhasil lulus SMA dengan nilai memuaskan, juga karena berhasil masuk perguruan tinggi di Jakarta. Rasanya... kakak sayang banget kalau benda berharga ini diberikan kepada orang lain. Apalagi, ayah sudah susah payah membelikannya untukku. Coba, kamu bisa bayangkan tidak? Kamu kasih hadiah ke sahabat kamu yang ulang tahun, tapi, di luar dugaanmu, sahabat kamu nggak suka sama isi hadiah itu, dan akhirnya, sahabat kamu buang hadiah itu atau memberikannya kepada orang lain di depan matamu. Pasti rasanya sakit hati dan tersinggung, kan? Begitu rasanya. Mungkin, itu juga yang akan terjadi bila kita bertukar handphone.” Jelas kak Sofa, penuh pengertian.
            “Jadi, kak?” Asma bertanya penuh harap.
            “Maaf sekali, ya! Kakak nggak bisa bertukar handphone. Suatu hari, kamu akan mengetahui. Lagipula, handphone Android juga lagi terkenal, kok! Malahan, kata teman – teman kakak. Setiap handphone kan memiliki kekurangan dan kelebihan masing – masing, seperti manusia saja. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.” bujuk kak Sofa.
            Asma hanya diam mematung. Dia tidak bicara apa – apa lagi. Sebelum keluar dari kamar kak Sofa, dia berkata, “Terimakasih ya, kak!” Walau pun kak Sofa tidak bermaksud membuat Asma sedih, Asma sangat kecewa.
            “Asma...” panggil kak Sofa.
            “Iya, kak. Ada apa?” tanya Asma.
            “Ma... maksud kakak bukan begitu... ma... maksud kakak... kakak hanya ingin kamu mengerti, kakak hanya ingin kamu bisa menghargai pemberian seseorang walau pun... kamu tidak menyukainya. Pasti rasanya sakit, i... itu saja, kok! Maafkan kakak ya, dek.” jawab kak Sofa, merasa tidak enak.
            “Tak apa kok, kak! Asma sudah mulai mengerti apa yang kakak maksud, walau Asma sedih dan kecewa.” jawab Asma, lemas. Seperti tidak berenergi.
            “Mm... mau tidak nanti, pulang sekolah kita jalan – jalan ke mall? Kita makan es teler! Mau, ya?” tawar kak Sofa supaya Asma tidak sedih lagi. Biasanya, begitu mendengar kata es teler, Asma akan segera senang dan tentunya tidak akan menolak ajakannya. Ya, Asma sangat suka es teler.
            “Maaf, kak! Asma sedang tidak mau makan es teler.” jawab Asma sopan, lalu pergi meninggalkan kakaknya yang kebingungan.
            “Aneh! Biasanya, dia tidak akan menolak ajakanku.” gumam kak Sofa.
            Hari – hari pun terlewati, Asma masih iri dengan teman – teman yang asyik BBM-an, Facebook-an, dan Twitteran lewat Blackberry masing – masing. Jika Asma berbicara, mereka juga mengacuhkan Asma karena terlalu asyik dengan dunia maya. Memang, Asma merasa tersinggung, tapi toh mau bagaimana lagi? Memang benar – benar sedang terjadi demam Blackberry. Sebenarnya, handphone Android juga bisa siih Facebook-an dan Twitter-an hanya saja Asma ingin bisa BBM-an dengan teman – temannya yang lain. Padahal kalau dipikir – pikir, Asma dan teman – temannya masih bisa chatting-an lewat aplikasi Whatsapp kan?
            Lambat laun, Asma pun jadi berpikir. Hmm... benar juga, ya? sekarang saja nilaiku sudah jelek, bagaimana kalau aku memiliki Blackberry? Pasti aku semakin malas belajar dan lebih asyik terjun ke dunia maya daripada belajar. Aku juga jadi cuek dan acuh tak acuh pada teman – teman semua. Memang benar, mungkin aku harus berbeda dengan mereka semua, aku tidak boleh menjadi copycat mereka. Kalau hanya untuk ikut – ikutan, lebih baik tidak usah memiliki Blackberry. Toh masih banyak handphone yang bisa chatting-an seperti Blackberry, lebih canggih daripada Blackberry, bisa Facebook dan Twitter-an, juga memiliki lebih banyak games daripada Blackberry.
            Sepulang sekolah, Asma segera mencari kotak handphone Android itu di gudang. Yang belum sempat dibuka oleh Asma karena ia marah. Setelah ia temukan, ia mulai memasukkan sim card dan kartu memorinya. Asma lalu segera menemui kedua orangtuannya untuk meminta maaf.
            “Ayah, bunda, maafkan Asma, ya! Asma tahu Asma salah. Asma janji tidak akan mengulanginya lagi. Selain itu Asma janji mulai hari ini akan lebih sering belajar, membaca buku dan sedikit menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Beri kesempatan Asma untuk belajar bertanggung jawab ya,” ujar Asma kepada kedua orangtuanya.
            Ayah dan bunda hanya tersenyum melihat perubahan sikap Asma itu.
            Asma berjanji akan menghargai pemberian orang lain walau tidak ia sukai, dia juga berjanji untuk tidak menjadi copycat orang. Apa jadinya dunia ini kalau hanya penuh dengan orang – orang copycat? Tentu saja hasilnya tidak ada kekreatif-an.

            Di sekolah, Asma mengingatkan teman – temannya untuk tidak bermain handphone ketika jam pelajaran. Karena selain melanggar peraturan juga merugikan diri sendiri. Bahkan Asma juga mengajak teman – temannya bersaing secara sehat dalam meningkatkan nilai pelajaran. Akhirnya, Asma berusaha menggunakan handphonenya untuk hal – hal positif misalnya mengedit gambar, membuka YouTube, membuka kamus, dan sebagainya walaupun sekali – sekali ketika di rumah saat libur, dia bermain Angry Birds. Ternyata, berbeda dengan orang lain itu tidak ada ruginya. Asma jadi menyesal menolak ajakan kak Sofa makan es teler beberapa waktu lalu. Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar