Hari ini, Yuki, Reyna, dan Hamra mengikuti
ekskul pencak silat. Yang melatih ekskul pencak silat di sekolah Yuki adalah
pak Agung dan pak Hendra. Untuk kelas 7, yang melatih pencak silat adalah pak
Agung. Pak Agung mengajarkan mereka yang masih pemula (sabuk putih). Sedangkan
pak Hendra melatih pencak silat untuk yang bersabuk kuning. Pak Hendra biasanya
mengajar anak kelas 8. Kenapa hanya ada dua guru yang mengajar kelas 7 dan
kelas 8? Karena peraturan sekolah menegaskan bahwa kelas 9 sudah tidak
diperbolehkan mengikuti kegiatan ekskul kecuali ekskul paskibra dan kegiatan
OSIS.
“Anak – anak, akan diadakan ujian kenaikan
tingkat. Kalian kan masih sabuk putih, berarti kalau kalian berhasil, kalian
naik tingkat, kalian berganti sabuk menjadi warna...”
“Kuning!!!” jawab seluruh anggota ekskul
pencak silat kelas 7, menjawab pertanyaan pak Agung.
“Pintar sekali! Kalian wajib mengikuti ujian
ini. Yang lulus adalah mereka yang benar – benar mampu. Bagi yang belum lulus,
nantinya akan tetap di sabuk putih. Bagi yang tidak hadir hari ini, tolong
diberitahukan ya! Jaga kesehatan tubuh kalian!” jelas pak Agung. “Ujian akan
dilaksanakan minggu depan, apa kalian siap?”
“Siap!” jawab semua anggota ekskul pencak
silat kelas 7, serempak.
“Oke, kalau begitu, persiapkan diri kalian baik
– baik, ya!” pesan pak Agung.
“Iya pak, pasti...” jawab semuanya. Lalu
mereka pemanasan terlebih dahulu, lalu latihan seperti biasa. Yuki berlatih
bersama Reyna.
“Wah, aku sudah tidak sabar menunggu ujian
nanti.” Seru Yuki.
“Ya, aku juga, Ki. Semoga kita berhasil, ya!”
timpal Reyna.
“Harus dong! Kita harus berusaha semaksimal
mungkin!” tambah Yuki.
“Ya, kita harus tunjukkan yang terbaik!”
Reyna pun bersemangat. Tepat pukul 4 sore, ekskul pencak silat selesai. Yuki
dan Reyna pun pulang bersama sambil bercakap – cakap, seru sekali.
Sesampainya di rumah...
“Assalamualaikum...” sapa Yuki.
“Walaikumsalam...” jawab ibu.
“Bu, pencak silat mau adain ujian kenaikan
tingkat, lho!” cerita Yuki sambil duduk di kursi meja makan lalu melepas
sepatunya.
“Oh ya? Bagus kalau begitu!” komentar ibu.
Tak berselang lama, kak Sandy keluar dari kamarnya.
“Ada apa, dek? Kok heboh amat, sih?” tanya
kak Sandy.
“Ini lho, Sand... Akan diadakan ujian
kenaikan tingkat pencak silat di sekolah Yuki.” Cerita ibu.
“Oh, gitu doang?” jawab kan Sandy, santai.
“Tapi kak, itu kan...” Yuki berusaha
membantah namun kak Sandy memotongnya.
“Keren maksudmu? Biasa aja tuh!” potong kak
Sandy.
“Ah! Terserah kakak sajalah...” jawab Yuki,
kesal. Sambil berlalu dan bergegas ke kamar mandi. Kak Sandy cekikikan menahan
tawa.
“Ckckckck...” kata ibu sambil menggelengkan
kepala.
Seusai ganti baju, Yuki segera makan siang
bersama kak Sandy. Seusai makan siang, Yuki berencana untuk mengunjungi bu
Yurika.
“Ibu, Yuki ke panti jompo sebentar, ya!
Sekalian mau membeli triplek untuk Yuki latihan.” Jelas Yuki sambil memakai
sepatunya dan memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya.
“Oh..., iya... tentu saja... hati – hati di
jalan ya, Ki...” pesan ibu.
“Iya bu, assalamualaikum...” kata Yuki sambil
berlari menuju sepedanya.
“Walaikumsalam...” gumam ibu.
Yuki segera mengayuh sepedanya dengan cepat
menuju panti jompo. Lalu memarkir sepedanya dan segera ke bagian informasi.
“Bu, bu Yurika ada di kamarnya kan? Saya
ingin mengunjungi bu Yurika.” Jelas Yuki sambil terengah – engah karena lelah.
“Bu Yurika yaa? Hmm... tadi sih beliau pergi
ke pasar... tapi sepertinya beliau sudah pulang.” Jelas pelayan bagian
informasi.
“Ooh... baiklah kalau begitu. Terimakasih
atas informasinya ya, bu...” jawab Yuki. Lalu, Yuki segera menuju kamar bu
Yurika.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamualaikum... bu Yurika... ini Yuki,
bu...” jelas Yuki.
“Walaikumsalam... silakan masuk, Ki...” jawab
bu Yurika dari dalam kamar. Yuki segera memasuki kamar dan mencium tangan bu Yurika.
“Apa kabar, bu?” tanya Yuki.
“Alhamdulillah baik... bagaimana denganmu,
Ki?” bu Yurika balik bertanya.
“Alhamdulillah baik juga... bu, kan Yuki ikut
ekskul pencak silat di sekolah, kata pak Agung, pelatih ekskul pencak silat di
sekolah, minggu depan akan diadakan ujian kenaikan tingkat, bu. Doakan Yuki
yaa!” cerita Yuki.
“Oh, tentu saja akan ibu doakan... memangnya,
pak Agung memintamu melakukan apa di saat ujian nanti?” tanya bu Yurika.
“Pak Agung mungkin meminta aku mematahkan
triplek.” Jelas Yuki.
“Lho, bukannya kamu sudah bisa yaa?” tanya bu
Yurika.
“Memang sih bu... tapikan masih belum
handal... Yuki masih sedikit gugup. Hehehe...” jelas Yuki.
“Ibu yakin dan percaya kamu bisa melakukannya
Yuki... bukankah waktu itu kau berhasil memenangkan lomba pencak silat antar
kelas di sekolahmu? Walau itu masih antar kelas, itu sudah mengagumkan dan
tidak mudah lho untuk menjadi juara... secara di sekolahmu kan ada 27 kelas dan
tentu saja banyak yang mengikutinya. Iya kan?” tanya bu Yurika.
“Hehehe... terimakasih bu... iya juga sih...
Tapi rasanya... kalau desa sudah damai begini... bela diri jarang dipergunakan,
ya!” jawab Yuki.
“Tapi, bela diri itu tetap penting. Dan kita
harus selalu waspada tanpa harus mencurigai setiap orang.” Jelas bu Yurika.
“Benar juga bu... hehehe...” jawab Yuki. Yuki
dan bu Yurika bercakap – cakap cukup lama lalu, Yuki pun pamit pulang untuk
membeli triplek di daerah pasar. Yuki segera mengayuh sepedanya menuju daerah
pasar dengan cepat. Yuki merelakan uang tabungannya yang sudah ia tabung
berbulan – bulan hanya untuk membeli triplek guna latihan di rumah. Setelah
itu, dia pun segera pulang.
Setiap hari, Yuki giat berlatih mematahkan triplek dengan tangannya. Jika
gagal, tentu saja rasanya sakit, hingga tangan Yuki lecet dan memerah karena
memar. Telapak dan jari tangan Yuki penuh dengan plester dan perban. Dia
berlatih tak kenal lelah. Jika ada waktu luang, dia selalu menggunakannya untuk
berlatih. Terkadang, Yuki mengajak Reyna ke rumahnya untuk berlatih bersama.
Hingga, hari itu pun tiba. Yuki dan Reyna
sudah tidak sabar untuk menunggu hingga bel pulang berdentang. Rasanya hari itu
berjalan sangat lama bagi Yuki dan Reyna. Teet! Teet! Teet! Bel pulang pun
berbunyi. Yuki mengulum senyum dan membatin, ‘Yes, akhirnya... yang ku tunggu –
tunggu pun tiba juga.’ Yuki segera cepat – cepat merapikan mejanya. Seusai
membaca doa, Yuki dan Reyna bersama – sama mencari pak Agung untuk memulai
ekskul pencak silat.
Setelah itu, ekskul pun dimulai. Yuki
menunggu namanya dipanggil cukup lama. Ia melihat dan mendukung Reyna yang
nampaknya gugup, namun, Reyna berhasil melakukannya dan dinyatakan lulus.
“Yuki Sifyantika dari kelas 7.9!” panggil pak
Agung, nama Yuki pun dipanggilnya.
Yuki segera berdiri dari tempat duduknya dan
berjalan menuju tengah lapang. Sebelum peluit tanda ujian dimulai dibunyikan,
Yuki memejamkan matanya sambil berdoa dan membatin, ‘Aku pasti bisa!’ Yuki lalu
mengambil nafas dalam – dalam dan dengan sekali pukulannya, triplek itu
terpatahkan. Semua bersorak – sorak dan bertepuk tangan.
Yuki tersenyum, “Alhamdulillah... aku
bisa...” katanya, senang sekali.
“Selamat ya, Ki...” kata Hamra. Lagi – lagi
dia yang pertama kali memberikan ucapan selamat kepada Yuki dan lagi – lagi,
Reyna kembali terjangkit rasa cemburu, namun kali ini Reyna membiarkannya dan
dapat menguasai rasa cemburunya. Oh andai saja Reyna menjelaskan yang
sebenarnya ketika itu pada Yuki. Tentu Yuki akan lebih mengerti. Yuki
sebenarnya mengerti perasaan Reyna, hanya saja dia kurang peka terhadap situasi.
“Selamat juga ya, Ham...” jawab Yuki sambil
tersenyum. “Berarti... setelah ini.. kita...”
“Sudah tidak memakai sabuk putih lagi dong!”
lanjut Hamra.
“Betul!” jawab Yuki sambil tersenyum. Setelah
itu Yuki mencari Reyna dan memberi ucapan selamat untuk keberhasilan Reyna.
Lalu, pak Agung memanggil semua muridnya. Ternyata, semuanya berhasil lulus dan
naik tingkat. Tentu saja semuanya merasa senang. Kalau begitu, mungkin ini
adalah pertemuan terakhir mereka dengan pak Agung. Lalu, ekskul pencak silat pun
selesai, dan semua anak kembali ke rumah masing – masing.
“Assalamualaikum...” sapa Yuki.
“Walaikumsalam... Yuki, bagaimana tadi pencak
silatnya? Apakah kamu berhasil lulus?” tanya ibu, penuh perhatian.
“Alhamdulillah Yuki berhasil, bu. Tidak ada
yang tidak lulus...” cerita Yuki.
“Syukurlah kalau begitu...” jawab ibu sambil
tersenyum. “Sekarang, Yuki makan dan ganti baju dulu, ya!”
“Hari ini makan apa, bu?” tanya Yuki.
“Makan terong balado, kamu suka kan?” tanya
ibu. Yuki mengangguk dengan semangatnya.
Seusai ganti baju, Yuki segera makan. Setelah
selesai makan, Yuki terdiam sejenak.
“Ada apa, Ki? Kok diam? Mau tambah lagi?”
tanya ibu melihat Yuki yang terdiam.
“Eh tak apa kok bu. Yuki hanya berpikiran...
bolehkah Yuki menengok bu Yurika sekaligus menunjukkan sabuk kuning milik Yuki
ini?” tanya Yuki.
“Ooh... tentu saja kau pasti ingin bercerita
tentang keberhasilanmu, ya? Tentu saja
boleh, tapi, hati – hati di jalan, ya!” pesan ibu.
“Iya bu, tenang saja. Assalamualaikum...”
kata Yuki sambil segera membawa sabuk kuningnya dan pergi keluar rumah.
“Walaikumsalam...” gumam ibu sambil
tersenyum. Yuki meletakkan sabuk kuningnya di ranjang sepedanya dan mengayuh
sepedanya dengan cepat ke panti jompo tempat bu Yurika.
Sesampainya di sana, ia izin dulu kepada
bagian informasi.
“Permisi bu, saya mau bertemu bu Yurika.
Apakah bu Yurika ada?” tanya Yuki.
“Bu Yurika ya? Tunggu sebentar, saya cek
dulu...” kata pegawai bagian pemberi informasi itu. “Ooh.. bu Yurika ada kok di
kamarnya, seperti biasanya.”
“Ooh... baiklah kalau begitu, terimakasih ya,
bu...” kata Yuki lalu segera membawa sabuknya berlari ke kamar bu Yurika.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamualaikum... permisi... bu Yurika...
ini Yuki...” kata Yuki sembari mengetuk pintu.
“Tunggu sebentar, silakan masuk, Ki...” jawab
bu Yurika dari dalam sambil membukakan pintu untuk Yuki. Yuki segera mencium
tangan bu Yurika seperti biasanya.
“Ada apa kemari, Ki? Tumben sekali...” tutur
bu Yurika.
“Tidak apa – apa... Yuki hanya ingin
mengunjungi ibu. Apa kabar, bu?” jawab Yuki.
“Ooh... Begitu... kabar ibu baik.. mau teh,
Ki?” tanya bu Yurika. Yuki mengangguk. Bu Yurika segera berjalan tertatih –
tatih menuju dapurnya dan membuatkan Yuki secangkir teh manis hangat.
“Terimakasih, bu... oh iya bu, Yuki ingin
mengabarkan suatu berita bahagia. Alhamdulillah Yuki berhasil lulus ujian
kenaikan tingkat pencak silat, sekarang sabuk Yuki kuning.” Terang Yuki sambil
menunjukkan sabuk kuning yang baru ia dapat tersebut.
“Waah... hebat kalau begitu... selamat yaa!”
puji bu Yurika, bangga. “Andai pak Yuda tahu... pasti dia juga akan bahagia,
ya? Tentunya...”
Yuki terdiam mendengar perkataan bu Yurika
itu. Namun bu Yurika kembali tersenyum, “Tapi ibu yakin, pak Yuda selalu tenang
dan bahagia di sana karena bangga denganmu. Kau adalah murid kebanggaannya
sekaligus murid terakhirnya, Yuki. Kau beruntung sekali.” Yuki menoleh kepada
bu Yurika dengan mata berkaca – kaca lalu memeluk bu Yurika.
“Meow...” terdengar suara kucing. Rupanya
kucing bu Yurika!
“Ooh Michi... Yuki, ibu belum mengenalkanmu
pada kucing peliharaan ibu, ya? Namanya Michi. Dia teman ibu jika ibu kesepian.
Namun, ibu sudah tidak kesepian lagi karena ibu memiliki banyak teman di sini.
Ibu menemukannya di pasar, ketika dia mengikuti ibu. Ibu pun akhirnya
membawanya pulang dan memeliharanya.” Jelas bu Yurika.
“Michi? Lucu sekali bu...” ujar Yuki.
“Kau boleh bermain bersamanya jika kebetulan
berkunjung ke sini, Ki.” Ujar bu Yurika.
“Benarkah? Asyiik... kalau begitu, aku akan
sering – sering kemari untuk mengunjungi ibu dan bermain dengan Michi tentu
saja.” Jawab Yuki sambil membelai Michi.
Sekarang dipanti jompo, bu Yurika tidak
kesepian, selain karena ada teman – temannya yang sebaya, bu Yurika juga
memelihara seekor kucing yang diberi nama Michi. Michi sangatlah lucu dan
gendut. Bulu Michi berbelang tiga yakni putih, hitam, dan kuning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar