Malamnya saat makan
malam…
“Ayah,
ibu, Yuki mau bertanya, boleh gak Yuki belajar ilmu bela diri pencak silat
seperti yang di pelajari ayah dan kakak?” tanya Yuki.
Tiba
– tiba, ayahnya tersedak. Lalu berkata: “Yuki…, ada sebuah peraturan jika
seorang anak perempuan tidak diperbolehkan belajar bela diri karena bela diri
untuk perang.”
“Tapi
yah! Yuki suka bela diri. Lagi pula… kan bukan hanya untuk perang saja yah!
Bela diri bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri.” Bela Yuki.
“Tetap
tidak boleh Yuki… pemerintah sudah menetapkan peraturan itu, dan tidak bisa
diganggu gugat kecuali…” omongan ayah terputus.
“Kecuali
apa yah?” tanya Yuki penasaran.
“JALAN
DUEL.” Jawab ayah.
“Duel?
Apa itu duel yah?” tanya Yuki polos.
“Duel
itu adalah pertarungan satu lawan satu. Bila kau menang, kau akan terbebas dari
peraturan itu dan sanksinya. Tapi bila kalah, kau harus mentaati peraturan, dan
mendapatkan hukuman.” Jawab ayah.
“Kalau
ada yang menentang peraturan itu dikenai sanksi apa?” tanya Yuki.
“Sama
saja seperti kamu memasukkan diri sendiri ke jeruji besi atau bisa ayah bilang…
PENJARA.” Jelas ayah.
Yuki
kaget mendengarnya, matanya membelalak ketakutan dan
keringat dingin mengalir di keningnya, dia tidak dapat berbicara apa – apa. Lidahnya terasa
kaku. Dia merinding ketakutan. Mengapa pak Yuda tidak mengatakan hal ini
padaku sebelumnya?
“Makanya... di kasih tahu ngeyel siih...” sindir kak Sandy sambil
menjulurkan lidah kepada Yuki.
Tanpa
menghabiskan makan malam, Yuki segera masuk kamar. Badannya lesu sekali… dia
sedih bukan main keinginannya ditolak bahkan dia tidak izinkan. Terlalu banget sih membuat peraturannya... Itu kan nggak
adil! Lalu tiba – tiba, Yuki mendapatkan ide!
Kenapa aku tidak menjadi perempuan pertama yang boleh belajar bela diri pencak
silat? Bila itu dilarang, tapi bila hukumannya itu, mungkin aku akan masuk
penjara, namun bila aku belajar dengan sungguh – sungguh keingananku itu pasti
terwujud, termasuk menang dalam duel.
Hmm…
Keesokkan
harinya, Yuki melakukan aktifitas seperti biasa. Pada sore harinya, dia
bersiap – siap, dia mengenakan kaos bercorak, indah sekali.
“Eh,
Yuki… mau kemana?” tanya ibu.
“Oh
iya bu… Yuki lupa… Yuki mau pergi dulu… assalamualaikum…” seru Yuki langsung beranjak keluar rumah..
“Eh
Yuki… ibukan tanya, kamu mau kemana?” tanya ibu.
“Aku…
hahaha… aku? Mau… belajar di rumah...
temen… masa liburan gak belajar? Hehehe…” jawab Yuki aneh.
Ibu
tercengang heran. “Oh.. ya sudah. Hati – hati di jalan ya…”
“Dia tumben sekali rajin... apa temannya tidak pergi yaa? Ah,
lupakan!” gumam ibu.
Yuki
pun langsung berlari
keluar rumah. Yuki berlari menuju rumah pak Yuda dan langsung berhenti di depan
rumahnya.
“Assalamualaikum…”
pekik Yuki.
“Walaikumsalam…”
jawab pak Yuda dan ibu Yurika. “Ooh… silakan masuk. Kamu sudah izinkan?” tanya
mereka.
“Sudah
kok! Tenang saja…” jawab Yuki, berbohong.
Yuki pun masuk. Mereka
segera menuju halaman belakang untuk latihan. Latihan Yuki berjalan lancar
walau Yuki sulit
menguasai jurus – jurus dasarnya.
Yuki senang dan bersemangat.
Disela
– sela istirahat, Yuki bertanya pada pak Yuda.
“Pak
guru, kenapa sih pak guru tidak bilang terus terang sama Yuki kalau bela diri
pencak silat itu dilarang diikuti perempuan?”
tanya Yuki.
“Karena
pak guru yakin akan sebuah ramalan.” Jawab pak Yuda singkat.
“Ramalan?
Ramalan apa?” tanya Yuki.
“Bahwa
ada seorang gadis cilik yang mencintai bela diri pencak silat yang bisa
menentang peraturan itu dan membangkitkan semangat perempuan lainnya
bahwa perempuan sederajat dengan laki – laki dan
diperbolehkan belajar bela diri. Pejuang
perempuan sudah jarang sekali, terakhir kalinya adalah istriku ini. Setelah banyak pejuang perempuan tewas,
pemerintah menerapkan peraturan itu. Istriku berjuang sendiri, tapi setelah
pensiun dia menjadi asistenku,
hanya saja lebih berani.” Cerita pak Yuda. “Pak guru juga yakin kamu pasti
sebenarnya dilarang oleh
orangtuamu kan? Pak guru sebenarnya hanya mengetes kecintaanmu pada bela diri
pencak silat. Bila kamu datang kemari dan berkata bohong berarti kamu benar –
benar mencintai bela diri pencak silat, tapi bila kamu gentar akan peraturan itu berarti
kamu tidak benar-benar mencintai bela diri pencak silat.” Pak Yuda melanjutkan
ucapannya.
“Dan
anak dalam ramalan itu adalah?” tanya Yuki saking penasarannya.
“Kau
Yuki! Pak guru yakin, kaulah orangnya.” Jawab pak Yuda.
Yuki
tercengang tak percaya: “Yakin? Aku hanya anak perempuan biasa seperti anak
perempuan pada umumnya.”
“Tapi
kau jauh lebih berani dan lebih kuat dibanding anak perempuan pada umumnya.”
Jelas pak Yuda. Yuki terdiam. Setelah
itu mereka melanjutkan latihan.
Sudah
hampir seminggu Yuki belajar pada pak Yuda. Dan setiap hari pula bu Yurika
selalu menyediakan teh hangat untuk mereka setiap sore. Yuki pun sudah menguasai
hampir semua yang diajarkan
pak Yuda.
Sementara
itu, keluarga Yuki bingung kenapa selama ini Yuki bersikap aneh. Setiap jam
17.00 sore dia selalu keluar rumah,
kadang ketahuan, kadang tidak ketahuan bahwa dia sudah tidak ada di kamarnya. Bahkan kalau perlu, Yuki tidak izin keluar rumah.
Diam
– diam, keluarganya pun menyelidiki Yuki. Tapi, ternyata Yuki susah di ketahui
keberadaan selama ini. Sebab ternyata Yuki tidak menceritakan hal itu pada
teman–temannya. Dan yang jelas, Yuki tidak pernah ke rumah teman – temannya.
Yuki juga tidak ada waktu bersama keluarga karena sepulang sekolah dia langsung menyiapkan pakaian untuk pencak
silat. Terkadang, Yuki bahkan tidur di rumah pak Yuda dan ibu Yurika saking
bersemangat dan lelahnya. Yuki sudah menganggap pak Yuda dan ibu Yurika adalah
orangtuanya, keluarganya. Begitu pula sebaliknya. Pak Yuda dan ibu Yurika sudah
menganggap Yuki adalah anaknya sendiri. Karena pak Yuda dan bu Yurika tidak memiliki anak.
Karena
alasan itulah itu ayah
memutuskan untuk meminta agen rahasia, teman ayah untuk menyelidiki pergi ke mana Yuki selama ini
dan apa yang dia lakukannya.
Pukul
17.00 sore ini, Yuki kembali beraksi belajar pencak silat. Sementara itu, tak
jauh dari rumah Yuki, mobil berwarna hitam berhenti memerhatikan Yuki setelah
Yuki lenyap di persimpangan, mobil itu melaju pelan. Lalu berhenti memerhatikan
Yuki. Yuki terus berjalan saja tanpa mengetahui ada yang menguntitnya Yuki berjalan
menuju pasar.
“Bagaimana?”
tanya ayah.
“Hm…
putrimu menuju arah pasar tuan!” jawab si agen.
“Hah?!
Pasar?! Itukan jauh!” kata ayah. “Kalau begitu, lanjutkan menguntit!”
“Baik
tuan.”
Setelah
keluar pasar, Yuki akhirnya sampai juga di rumah pak Yuda dan bu Yurika.
“Assalamualaikum!!!”
sahut Yuki dari luar.
“Walaikumsalam…”
jawab bu Yurika disusul pak Yuda.
“Eh
Yuki, silakan masuk… sudah siap LATIHAN PENCAK SILAT kan hari ini?” tanya bu
Yurika ramah.
Yuki
mengangguk lalu masuk. Sementara itu, agen itu mengetahui di mana keberadaan Yuki
sekarang, dan apa yang dia lakukan. Yup! Yuki latihan pencak silat selama ini di rumah kedua orangtua itu.
“Bagaimana?”
tanya ayah.
“Putrimu
sudah di temukan. Ternyata dia selama ini latihan
pencak silat di rumah seorang kakek dan nenek tua.” Seru si agen.
“Apa?!
Latihan pencak silat?! Oke, oke… kalau
begitu, terimakasih.”
Yuki pun latihan pencak silat seperti biasa
dengan santai, penuh semangat dan dengan hati gembira karena nilai ulangan
Matematikanya tadi siang telah diumumkan dan dia mendapatkan nilai 9, sementara
itu ulangan Bahasa Indonesianya mendapatkan nilai 8.
“Assalamualaikum…”
seru Yuki pulang,
masuk ke dalam rumahnya.
“Walaikumsalam…”
jawab keluarganya dingin.
“Ada
apa ini?” tanya Yuki heran.
“Cepat
ganti pakaianmu! ada hal yang mesti kita bicarakan.” Kata kak Sandy. Yuki
segera menurut tapi dengan wajah yang tidak berubah saking herannya.
Seusai
ganti baju, Yuki segera menuju ruang makan untuk membicarakan hal yang
dimaksud. Yuki sendiri tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Sebenarnya…
sebenarnya… kamu selama ini kemana saja sih?” tanya ibu dengan wajah cemas dan
takut.
“Saya
bermain bersama teman – teman.” Jawab Yuki enteng.
“BOHONG!!!”
seru seluruh anggota keluarga.
“Kami
sudah bertanya dan menyelidiki. Kau tidak pernah bermain ke rumah teman – temanmu kan?”
seru kak Sandy.
“Ayah sudah menyelidiki
bahwa kamu selama ini latihan pencak silat.” Sambung ayah.
Karena kesal, Yuki pun menjawab, “Berarti selama ini
kalian menguntitku? Apa kalian tidak percaya padaku? Lalu, kalau aku latihan
pencak silat, apa masalah bagi kalian?”
“Kenapa
kamu ingin bisa pencak silat nak? Itukan berbahaya.” Tanya ibu khawatir.
“Bagiku tidak berbahaya! Bagiku itu menyenangkan, bu.” Jawab Yuki.
“Apa
aku kurang jelas menegaskan
bahwa perempuan tidak boleh belajar
pencak silat?” tanya kak Sandy.
“Lagi
pula kenapa harus berbohong segala? Kenapa tidak mengatakan terus terang?”
tanya ayah.
“Karena ayah pasti tidak akan mengizinkannya! Percuma aku
mengatakan yang terus terang pada kalian! Itu
semua karena Yuki ingin bisa bela diri pencak silat. Memangnya, apa salahnya
siih seorang perempuan bisa menguasai bela
diri? Yuki ingin seperti kakak dan ayah yang
bisa pencak silat. Memang hanya laki – laki yang boleh belajar bela diri? Aku
cinta pencak silat.” Jawab Yuki lirih sambil menunduk tak berani menatap mata marah sang
ayah.
“Benar.”
Jawab ayah.
“Tapi
apakah kau mengerti kata ‘Tidak’?” bentak kak Sandy marah.
“Peraturan
itu dibuat untuk ditaati bukan di lawan.” Jelas ibu masih tetap cemas.
“Sampai
kapan desa ini akan terus diserang para bandit jahat? Sampai kapan perompak menyerang desa ini? Sampai
semua warga di sini
mati? Bukan hanya laki – laki yang harus berjuang,
tapi perempuan juga! Perempuan juga butuh bela diri. Kita tak kan berhasil bila
laki – laki dan perempuan tidak kuat
bersatu.” bantah Yuki.
“Perempuan
adalah tanggung jawab seorang lelaki. Sekarang, Masuk ke kamarmu Yuki! Dan jangan menjawab! Kau tidak mengerti apa – apa!”
perintah sang ayah.
Yuki
diam saja sambil merunduk.
“Masuk
kamarmu Yuki! Kau akan mendapat hukuman karena tidak mau mentaati peraturan! Kau
akan dikurung di kamar selama kurang lebih sebulan agar kau bisa melupakan
pencak silat dan guru yang mengajarimu bisa segera ditangkap.” Seru ayah.
Yuki
tersentak kaget dan terbelalak, tapi tak bisa
berbuat apa – apa, lalu, seharian itu hujan turun dengan derasnya. Yuki hanya
bisa duduk di ambang jendela sambil menekuk lutut dan terus melihat keluar
jendela dan tak pernah berpaling dari jendela. Dia sediih…
sekali, gara – gara dia, sebentar lagi kedua guru yang baik itu akan
tertangkap.
Lelah
juga Yuki tidak bisa tertidur. Yuki lalu mencari ide. Dia tidak tidur, tetapi
latihan. Dia berusaha agar dirinya dan kedua gurunya yang amat berjasa itu bisa
kabur dan lari ke suatu tempat persembunyian. Lalu dia akan menantang sang ayah
untuk beradu duel dengannya jika dia kalah, dia tidak akan belajar bela diri
silat lagi, tapi bila sebaliknya, sang ayah harus memperbolehkannya. Ya, benar.
Itu bisa dia lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar