Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 4

Malamnya saat makan malam…
   “Ayah, ibu, Yuki mau bertanya, boleh gak Yuki belajar ilmu bela diri pencak silat seperti yang di pelajari ayah dan kakak?” tanya Yuki.

   Tiba – tiba, ayahnya tersedak. Lalu berkata: “Yuki…, ada sebuah peraturan jika seorang anak perempuan tidak diperbolehkan belajar bela diri karena bela diri untuk perang.”
   “Tapi yah! Yuki suka bela diri. Lagi pula… kan bukan hanya untuk perang saja yah! Bela diri bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri.” Bela Yuki.
   “Tetap tidak boleh Yuki… pemerintah sudah menetapkan peraturan itu, dan tidak bisa diganggu gugat kecuali…” omongan ayah terputus.
   “Kecuali apa yah?” tanya Yuki penasaran.
   “JALAN DUEL.” Jawab ayah.
   “Duel? Apa itu duel yah?” tanya Yuki polos.
   “Duel itu adalah pertarungan satu lawan satu. Bila kau menang, kau akan terbebas dari peraturan itu dan sanksinya. Tapi bila kalah, kau harus mentaati peraturan, dan mendapatkan hukuman.” Jawab ayah.
   “Kalau ada yang menentang peraturan itu dikenai sanksi apa?” tanya Yuki.
   “Sama saja seperti kamu memasukkan diri sendiri ke jeruji besi atau bisa ayah bilang… PENJARA.” Jelas ayah.
   Yuki kaget mendengarnya, matanya membelalak ketakutan dan keringat dingin mengalir di keningnya, dia tidak dapat berbicara apa – apa. Lidahnya terasa kaku. Dia merinding ketakutan. Mengapa pak Yuda tidak mengatakan hal ini padaku sebelumnya?
   “Makanya... di kasih tahu ngeyel siih...” sindir kak Sandy sambil menjulurkan lidah kepada Yuki.
   Tanpa menghabiskan makan malam, Yuki segera masuk kamar. Badannya lesu sekali… dia sedih bukan main keinginannya ditolak bahkan dia tidak izinkan. Terlalu banget sih membuat peraturannya... Itu kan nggak adil! Lalu tiba – tiba, Yuki mendapatkan ide! Kenapa aku tidak menjadi perempuan pertama yang boleh belajar bela diri pencak silat? Bila itu dilarang, tapi bila hukumannya itu, mungkin aku akan masuk penjara, namun bila aku belajar dengan sungguh – sungguh keingananku itu pasti terwujud, termasuk menang dalam duel. Hmm
   Keesokkan harinya, Yuki melakukan aktifitas seperti biasa. Pada sore harinya, dia bersiap – siap, dia mengenakan kaos bercorak, indah sekali.
   “Eh, Yuki… mau kemana?” tanya ibu.
   “Oh iya bu… Yuki lupa… Yuki mau pergi dulu… assalamualaikum…” seru Yuki langsung beranjak keluar rumah..
   “Eh Yuki… ibukan tanya, kamu mau kemana?” tanya ibu.
   “Aku… hahaha… aku? Mau… belajar di rumah... temen… masa liburan gak belajar? Hehehe…” jawab Yuki aneh.
   Ibu tercengang heran. “Oh.. ya sudah. Hati – hati di jalan ya…”
   “Dia tumben sekali rajin... apa temannya tidak pergi yaa? Ah, lupakan!” gumam ibu.
   Yuki pun langsung berlari keluar rumah. Yuki berlari menuju rumah pak Yuda dan langsung berhenti di depan rumahnya.
   “Assalamualaikum…” pekik Yuki.
   “Walaikumsalam…” jawab pak Yuda dan ibu Yurika. “Ooh… silakan masuk. Kamu sudah izinkan?” tanya mereka.
   “Sudah kok! Tenang saja…” jawab Yuki, berbohong.
Yuki pun masuk. Mereka segera menuju halaman belakang untuk latihan. Latihan Yuki berjalan lancar walau Yuki sulit menguasai jurus – jurus dasarnya. Yuki senang dan bersemangat.
   Disela – sela istirahat, Yuki bertanya pada pak Yuda.
   “Pak guru, kenapa sih pak guru tidak bilang terus terang sama Yuki kalau bela diri pencak silat itu dilarang diikuti perempuan?” tanya Yuki.
   “Karena pak guru yakin akan sebuah ramalan.” Jawab pak Yuda singkat.
   “Ramalan? Ramalan apa?” tanya Yuki.
   “Bahwa ada seorang gadis cilik yang mencintai bela diri pencak silat yang bisa menentang peraturan itu dan membangkitkan semangat perempuan lainnya bahwa perempuan sederajat dengan laki – laki dan diperbolehkan belajar bela diri. Pejuang perempuan sudah jarang sekali, terakhir kalinya adalah istriku ini. Setelah banyak pejuang perempuan tewas, pemerintah menerapkan peraturan itu. Istriku berjuang sendiri, tapi setelah pensiun dia menjadi asistenku, hanya saja lebih berani.” Cerita pak Yuda. “Pak guru juga yakin kamu pasti sebenarnya dilarang oleh orangtuamu kan? Pak guru sebenarnya hanya mengetes kecintaanmu pada bela diri pencak silat. Bila kamu datang kemari dan berkata bohong berarti kamu benar – benar mencintai bela diri pencak silat, tapi bila kamu gentar akan peraturan itu berarti kamu tidak benar-benar mencintai bela diri pencak silat.” Pak Yuda melanjutkan ucapannya.
   “Dan anak dalam ramalan itu adalah?” tanya Yuki saking penasarannya.
   “Kau Yuki! Pak guru yakin, kaulah orangnya.” Jawab pak Yuda.
   Yuki tercengang tak percaya: “Yakin? Aku hanya anak perempuan biasa seperti anak perempuan pada umumnya.”
   “Tapi kau jauh lebih berani dan lebih kuat dibanding anak perempuan pada umumnya.” Jelas pak Yuda. Yuki terdiam. Setelah itu mereka melanjutkan latihan.
   Sudah hampir seminggu Yuki belajar pada pak Yuda. Dan setiap hari pula bu Yurika selalu menyediakan teh hangat untuk mereka setiap sore. Yuki pun sudah menguasai hampir semua yang diajarkan pak Yuda.
   Sementara itu, keluarga Yuki bingung kenapa selama ini Yuki bersikap aneh. Setiap jam 17.00 sore dia selalu keluar rumah, kadang ketahuan, kadang tidak ketahuan bahwa dia sudah tidak ada di kamarnya. Bahkan kalau perlu, Yuki tidak izin keluar rumah.
   Diam – diam, keluarganya pun menyelidiki Yuki. Tapi, ternyata Yuki susah di ketahui keberadaan selama ini. Sebab ternyata Yuki tidak menceritakan hal itu pada teman–temannya. Dan yang jelas, Yuki tidak pernah ke rumah teman – temannya. Yuki juga tidak ada waktu bersama keluarga karena sepulang sekolah dia  langsung menyiapkan pakaian untuk pencak silat. Terkadang, Yuki bahkan tidur di rumah pak Yuda dan ibu Yurika saking bersemangat dan lelahnya. Yuki sudah menganggap pak Yuda dan ibu Yurika adalah orangtuanya, keluarganya. Begitu pula sebaliknya. Pak Yuda dan ibu Yurika sudah menganggap Yuki adalah anaknya sendiri. Karena pak Yuda dan bu Yurika tidak memiliki anak.
   Karena alasan itulah itu ayah memutuskan untuk meminta agen rahasia, teman ayah untuk menyelidiki pergi ke mana Yuki selama ini dan apa yang dia lakukannya.
   Pukul 17.00 sore ini, Yuki kembali beraksi belajar pencak silat. Sementara itu, tak jauh dari rumah Yuki, mobil berwarna hitam berhenti memerhatikan Yuki setelah Yuki lenyap di persimpangan, mobil itu melaju pelan. Lalu berhenti memerhatikan Yuki. Yuki terus berjalan saja tanpa mengetahui ada yang menguntitnya Yuki berjalan menuju pasar.
   “Bagaimana?” tanya ayah.
   “Hm… putrimu menuju arah pasar tuan!” jawab si agen.
   “Hah?! Pasar?! Itukan jauh!” kata ayah. “Kalau begitu, lanjutkan menguntit!”
   “Baik tuan.”
   Setelah keluar pasar, Yuki akhirnya sampai juga di rumah pak Yuda dan bu Yurika.
   “Assalamualaikum!!!” sahut Yuki dari luar.
   “Walaikumsalam…” jawab bu Yurika disusul pak Yuda.
   “Eh Yuki, silakan masuk… sudah siap LATIHAN PENCAK SILAT kan hari ini?” tanya bu Yurika ramah.
   Yuki mengangguk lalu masuk. Sementara itu, agen itu mengetahui di mana keberadaan Yuki sekarang, dan apa yang dia lakukan. Yup! Yuki latihan pencak  silat selama ini di rumah kedua orangtua itu.
   “Bagaimana?” tanya ayah.
   “Putrimu sudah di temukan. Ternyata dia selama ini latihan pencak silat di rumah seorang kakek dan nenek tua.” Seru si agen.
   “Apa?! Latihan pencak silat?! Oke, oke… kalau begitu, terimakasih.”
    Yuki pun latihan pencak silat seperti biasa dengan santai, penuh semangat dan dengan hati gembira karena nilai ulangan Matematikanya tadi siang telah diumumkan dan dia mendapatkan nilai 9, sementara itu ulangan Bahasa Indonesianya mendapatkan nilai 8.
   “Assalamualaikum…” seru Yuki pulang, masuk ke dalam rumahnya.
   “Walaikumsalam…” jawab keluarganya dingin.
   “Ada apa ini?” tanya Yuki heran.
   “Cepat ganti pakaianmu! ada hal yang mesti kita bicarakan.” Kata kak Sandy. Yuki segera menurut tapi dengan wajah yang tidak berubah saking herannya.
   Seusai ganti baju, Yuki segera menuju ruang makan untuk membicarakan hal yang dimaksud. Yuki sendiri tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
   “Sebenarnya… sebenarnya… kamu selama ini kemana saja sih?” tanya ibu dengan wajah cemas dan takut.
   “Saya bermain bersama teman – teman.” Jawab Yuki enteng.
   “BOHONG!!!” seru seluruh anggota keluarga.
   “Kami sudah bertanya dan menyelidiki. Kau tidak pernah bermain ke rumah teman – temanmu kan?” seru kak Sandy.
   “Ayah sudah menyelidiki bahwa kamu selama ini latihan pencak silat.” Sambung ayah.
   Karena kesal, Yuki pun menjawab, “Berarti selama ini kalian menguntitku? Apa kalian tidak percaya padaku? Lalu, kalau aku latihan pencak silat, apa masalah bagi kalian?”
   “Kenapa kamu ingin bisa pencak silat nak? Itukan berbahaya.” Tanya ibu khawatir.
   “Bagiku tidak berbahaya! Bagiku itu menyenangkan, bu.” Jawab Yuki.
   “Apa aku kurang jelas menegaskan bahwa perempuan tidak boleh belajar pencak silat?” tanya kak Sandy.
   “Lagi pula kenapa harus berbohong segala? Kenapa tidak mengatakan terus terang?” tanya ayah.
   Karena ayah pasti tidak akan mengizinkannya! Percuma aku mengatakan yang terus terang pada kalian! Itu semua karena Yuki ingin bisa bela diri pencak silat. Memangnya, apa salahnya siih seorang perempuan bisa menguasai bela diri? Yuki ingin seperti kakak dan ayah yang bisa pencak silat. Memang hanya laki – laki yang boleh belajar bela diri? Aku cinta pencak silat.” Jawab Yuki lirih sambil menunduk tak berani menatap mata marah sang ayah.
   “Benar.” Jawab ayah.
   “Tapi apakah kau mengerti kata ‘Tidak’?” bentak kak Sandy marah.
   “Peraturan itu dibuat untuk ditaati bukan di lawan.” Jelas ibu masih tetap cemas.
   “Sampai kapan desa ini akan terus diserang para bandit jahat? Sampai kapan perompak menyerang desa ini? Sampai semua warga di sini mati? Bukan hanya laki – laki yang harus berjuang, tapi perempuan juga! Perempuan juga butuh bela diri. Kita tak kan berhasil bila laki – laki dan perempuan tidak kuat bersatu.” bantah Yuki.
   “Perempuan adalah tanggung jawab seorang lelaki. Sekarang, Masuk ke kamarmu Yuki! Dan jangan menjawab! Kau tidak mengerti apa – apa!” perintah sang ayah.
   Yuki diam saja sambil merunduk.
   “Masuk kamarmu Yuki! Kau akan mendapat hukuman karena tidak mau mentaati peraturan! Kau akan dikurung di kamar selama kurang lebih sebulan agar kau bisa melupakan pencak silat dan guru yang mengajarimu bisa segera ditangkap.” Seru ayah.
   Yuki tersentak kaget dan terbelalak, tapi tak bisa berbuat apa – apa, lalu, seharian itu hujan turun dengan derasnya. Yuki hanya bisa duduk di ambang jendela sambil menekuk lutut dan terus melihat keluar jendela dan tak pernah berpaling dari jendela. Dia sediih… sekali, gara – gara dia, sebentar lagi kedua guru yang baik itu akan tertangkap.

   Lelah juga Yuki tidak bisa tertidur. Yuki lalu mencari ide. Dia tidak tidur, tetapi latihan. Dia berusaha agar dirinya dan kedua gurunya yang amat berjasa itu bisa kabur dan lari ke suatu tempat persembunyian. Lalu dia akan menantang sang ayah untuk beradu duel dengannya jika dia kalah, dia tidak akan belajar bela diri silat lagi, tapi bila sebaliknya, sang ayah harus memperbolehkannya. Ya, benar. Itu bisa dia lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar