“Anak – anak, karena minggu depan adalah pertemuan terakhir kita,
lalu kita akan ulangan mid semester 2, minggu depan ulangan ya bagian HAM.
Hafalkan pasal – pasa yang ibu minta minggu lalu, contoh pelanggaran HAM,
lembaga – lembaga HAM, pengertian HAM, piagam – piagam HAM, pengertian
Genosida, dan upaya penegakkan HAM.” Jelas bu Adani sambil menulis kisi – kisi
ulangan di papan tulis.
“Yaah... banyak banget bu...” gerutu murid – murid.
“Ini kan kelas unggulan... kelas spesial. Masa baru segini saja
sudah mengeluh? Masa kalah sama kelas reguler? Bukannya anak – anak di sini
anak – anak yang pintar?” jawab bu Adani. Semua anak tak berani menjawab,
semuanya terdiam.
“Kenapa siih alesannya selalu aja begitu? Kelas unggulanlaah...
kelas spesial... kelas biling... rasanya kelas kita biasa aja tuh! Gak ada yang
spesial dan berbeda.” Komentar Athiya ketika jam istirahat.
“Bukannya kelas kita emang beda dari kelas yang lain yaa?” sergah
Tamara.
“Iya tapikan kesannya ditinggi – tinggin padahal kita kan biasa
aja. Sama aja kayak anak – anak yang lain.” jawab Athiya.
“Bilang aja kalau merasa didiskriminasi karena guru – guru di
kelas selalu berucap begitu.” Kata Clareta.
“Itu juga salah satu faktornya siih...” jelas Athiya.
“Tapi di kelas unggulan itu persaingannya ketat dan terasa banget!
Bener – bener fighting untuk bisa dapet ranking! Dapet ranking sepuluh besar
aja rasanya udah bangga banget! Karena dapet ranking aja susah.” Kata Clareta.
“Udahlaah... gak perlu dibahas. Yang penting kita belajar aja. Gak
perlu bahas begituan. Yang penting selama ini kita enjoy dan happy kaan?” kata
Arinka yang sedari tadi diam.
“Uuh... kisi - kisinya banyak banget siih... Susah banget ngafalin
pasal – pasalnya... udah panjang – panjang... banyak lagi.” Keluh Athiya.
“Please jangan lebay deeh, Thi. Gini aja kok ngeluh siih? Hadapin
dong dengan lapang dada.” Tegur Arinka. Athiya mencibir kesal. Dia pun pergi
meninggalkan teman – temannya yang sedang asyik belajar di perpustakaan.
Tak terasa seminggu terlewati dengan cepat. Hari itu pun tiba.
Arinka, Tamara, dan Clareta sudah datang pagi – pagi hanya untuk belajar.
Mereka sibuk berkutat dengan hafalan dari kisi – kisi yang diberikan. Sementara
Athiya datang pagi – pagi hanya untuk mencari bocoran soal dari kelas lain yang
guru PKn-nya sama. Tiba – tiba, Athiya memasuki kelas dengan wajah berseri –
seri dan duduk di bangkunya.
“Kenapa Thi? Udah dapet contekan?” sindir Arinka.
“Ini kabar yang lebih baik dari sekedar contekan.” Jelas Athiya.
“Wah, bagus dong! Kabar apaan?” tanya Tamara.
“Gak perlu belajar, nanti ulangannya open book kok!” jelas Athiya
dengan wajah penuh kepuasan.
“Tau dari mana, Thi?” tanya Clareta kurang mempercayai informasi
yang Athiya berikan.
“Aku kan punya temen di 7.8. Dan barusan aku nanya ke dia mengenai
bocoran soal. Dianya bilang di kelas dia open book kok! Berarti percuma saja
kita belajar!” jawab Athiya, santai.
“Ah, pagi – pagi udah gosip aja kamuu...” jawab Tamara.
“Ya udah siih kalo nggak percaya, aku kasih tahu yang lain saja!
Masih untung aku beritahu.” Athiya yang kesal karena ternyata teman – temannya
tidak mempercayainya akhirnya menyebarkan informasi itu kepada teman – teman
sekelas yang lain.
“Eh temen – temen! Gak perlu belajar! Nanti ulangannya aja open
book! Aku barusan nanya ke temenku di 7.8. Mereka udah ulangan!” teriak Athiya
dari depan kelas. Sekejap kelas yang tadinya hening karena murid – murid sibuk
belajar jadi ramai. Hanya Arinka, Tamara, dan Clareta yang masih mempelajari
kisi – kisi itu. Mereka tidak terpengaruh dengan ucapan Athiya.
Athiya pun menghampiri ketiga sahabatnya, “Terserahlaah kalau
nggak mau dengar... lihat saja nanti, semua usaha kalian belajar semalaman akan
percuma.” Ucap Athiya, sinis.
“Gak ada yang percuma, Thi. Kalau nggak belajar, mending jangan di
sini. Di sini cuma buat orang – orang yang mau belajar aja. Berisik tau!
Ngerti?” jawab Arinka. Sekali lagi Athiya mencibir kesal dan pergi meninggalkan
teman – temannya itu.
Teet! Teet! Teet! Bel masuk berbunyi. Tepat seusai mereka membaca
doa, bu Adani memasuki kelas. Murid – murid mengucapkan salam. Bu Adani lalu
mengabsen murid satu persatu.
“Oke, siapkan kertas lembar. Jangan ada buku di atas meja. Yang di
atas meja hanya peralatan tulis dan kertas lembar.” Jelas bu Adani.
“Lho bu... kok gak open book?” tanya Athiya. Murid – murid mulai
ricuh meminta supaya bu Adani memberikan ulangan open book pada ulangan harian
kali ini.
“Iya bu, di kelas lain aja open book!” komentar yang lain.
“Ini kan kelas unggulan. Apa kalian mau disamakan dengan kelas
reguler? Ibu sengaja memberikan mereka open book supaya yang remedial gak
banyak. Tapi masih aja ada yang remedial.” Jawab bu Adani, tenang.
“Ah ibu... ibu ngebedain kita nih! Gak adil!” jawab yang lain.
“Oke kalian pilih aja sekarang. Maunya open book, 20 soal,
jawabannya panjang – panjang dan harus sama persis dengan yang dibuku,
sedangkan waktu hanya 45 menit. Atau 10 soal, jawaban pendek – pendek, tapi
nggak open book? Percaya dengan kemampuan diri sendiri! Kalian harus percaya
diri!” jelas bu Adani. Semua murid terdiam, begitu pula dengan Athiya yang
tidak berani menatap Arinka dan kawan – kawan. Dia hanya berani menunduk malu.
Akhirnya, ulangan tetap berlangsung tanpa open book. Banyak sekali
yang kesulitan karena tidak belajar. Terutama Athiya yang malu. Berbeda dengan
Arinka dan kawan - kawan yang tidak
menemukan kesulitan yang berarti pada soal – soal itu. Dengan tenang dan cepat,
mereka berhasil menyelesaikan soal dengan baik dan mengumpulkannya kepada bu
guru.
Beberapa menit
kemudian, waktu yang diberikan untuk ulangan telah habis. Setelah jawaban
dikumpulkan dan dikoreksi oleh guru. Ulangan kembali di bagikan. Arinka dan
kawan – kawan mendapat nilai yang fantastis yaitu 100 sedangkan Athiya dan yang
mempercayai ucapannya banyak sekali yang remedial. Mereka menyesal mengikuti
ucapan Athiya. Mereka juga menyalahkan dan menjauhi Athiya.
“Rin, maafin
aku yaa! Kamu benar. Aku yang salah. Sekarang teman – teman menjauhiku karena
hal ini. Aku gak punya teman lagi selain kamu, Tamara, dan Clareta.” Jelas
Athiya, sendu seusai pelajaran PKn berakhir.
“Gak apa – apa
kok, Thi. Aku sudah memaafkanmu. Kalau ada ulangan lagi, kita belajar bersama.
Jika ada yang tidak kau mengerti, mungkin aku bisa membantu.” Jawab Arinka
sambil tersenyum. Athiya membalas senyum Arinka. Namun tak berselang lama dia
kembali lesu dan menunduk.
“Tapi...
apakah teman – teman mau memberiku maaf?” Athiya menunduk malu.
“Hmm...
pasti... akan kita coba.” Jawab Arinka, bersemangat.
Teet! Teet!
Jam istirahat pun tiba.
“Teman –
teman, Athiya ingin meminta maaf pada kalian atas kejadian yang terjadi pagi
ini. Ini bukan sepenuhnya salah Athiya, kalau saja kalian tidak malas dan mau
belajar, open book atau nggak pasti kalian udah siap. Ayolaah... intropeksi
diri kalian masing – masing sebelum menyalahkan orang lain. Memang Athiya
salah, tapi ini bukan kesalahan dia sepenuhnya kan?” jelas Arinka.
“Maafkan aku
teman – teman... Aku tidak akan mengulanginya lagi.” kata Athiya sambil
menunduk.
“Kami
memaafkanmu, Thi.” Jawab Kintan sambil tersenyum, mewakili seisi kelas. Athiya
membalas senyumnya. Dalam hatinya, “Makasih Arinka...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar