Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 3

Suatu hari, di Istana, diadakan sebuah sayembara. Pengumuman itu ditulis di papan pengumuman di pusat desa.

Pengumuman
   Memperingati hari ulang tahun baginda Ratu, baginda Ratu hendak mengadakan beberapa acara dan sayembara. Sayembara pertama adalah menghias patung baginda Ratu yang di sediakan secantik mungkin. Pemenangnya adalah yang menghias patung baginda Ratu secantik dan serapi mungkin.
   Kedua, mengenakan gaun tercantik yang kalian miliki. Pemenang lomba adalah yang mengenakan gaun tercantik diantara para peserta.
   Dan lomba terakhir adalah pesta topeng. Hadiri pesta topeng tengah malam sekaligus menutup acara dan pengumuman pemenang. Lomba akan diadakan pada tanggal 23 November di Istana, dan akan dimulai pukul 10.00 pagi. Formulir pendaftaran dapat diisi di Balai Desa masing – masing. Pendaftran paling lambat tanggal 20 November.
Sekian dari saya. Terimakasih.

Negri Bunga, 16 November

Nyonya Shareen Kurniawati
Penasihat Kerajaan

“Wow! Acara yang paling di tunggu – tunggu seluruh gadis di negri ini!” pekik Clara sahabat Sandara.
   “Kenapa, Ra?” tanya Sandara sambil berlari menghampiri Clara yang tengah membaca pengumuman.
   “Baca deh!” jawab Clara, matanya berbinar – binar.
   “Memperingati hari ulang tahun baginda Ratu, baginda Ratu hendak mengadakan beberapa acara dan sayembara.” baca Sandara. Sesaat mereka langsung bersorak gembira dan saling berpelukkan.
   “Kita buat gaun tercantik dan kita pasti akan menang! Iyakan, Ra?” tanya Sandara meloncat – loncat kegirangan.
   “Itu pasti!” jawab Clara.
   “Tapi ingat! Akulah yang paling cantik di negri ini!” ujar Sally tiba – tiba dengan nada bercanda. Sally sahabat Sandara juga.
   “Hahaha...” tawa mereka bersama.
   “Jadi, kamu mau mengenakan pakaian apa nanti Sal?” tanya Clara.
   “Gaun buatan ibuku, gaun dengan corak emas dan perak yang berglitter warna – warni.” jawab Sally.
   “Waah... pasti sangat serasi denganmu nanti!” puji Sandara. “Kalau kamu nanti Ra, mau pakai gaun apa?” tanya Sandara.
   “Gaun dengan rok balon, berwarna – warni. Gaun itu, gaun kesayangan sekaligus kesukaanku. Kau sendiri akan mengenakan gaun apa San?” Clara balik bertanya.
   “Eh..., ng... e... entahlah... aku tidak tahu akan mengenakan gaun yang mana.” jawab Sandara lesu.
   “Jangan sedihlah Sobat... bukankah kau memiliki banyak gaun yang cantik – cantik? Mengapa kau tidak pilih salah satu?” hibur Sally.
   “Bukankah kau pandai membuat gaun? Mengapa kau tidak membuatnya sendiri? Gaun buatanmu tidak kalah dengan buatan pabrik gaun kok!” tambah Clara.
   “Terimakasih teman – teman, aku akan membuat gaun hasilku secantik mungkin. Aku tidak akan menyerah cuma karena aku tak mampu membeli gaun secantik kalian.” kata Sandara mulai bangkit dan tersenyum.
   “Nah, gitu doong!!!” Sally dan Clara ikut tersenyum dan mengelus lembut pundak Sandara.
   Perlombaan, aku datang! batin Sandara sembari tersenyum kecil.
   “Assalamualaikum!!! Aku pulang bu!” sapa Sandara.
   “Walaikumsalam...” jawab ibu.
   “Bu, tadi, Dara baca pengumuman di pusat desa, bahwa akan diadakan sayembara di Istana. Bolehkah Dara mengikutinya?” tanya Sandara dengan tergesa – gesa.
   “Oh ya? Siapa saja yang ikut sayembara tersebut?” tanya ibu.
   “Sally dan Clara! Mereka ikut. Mungkin hampir seluruh gadis di desa ini bu!” Sandara penuh harap agar keinginannya terkabulkan.
   “Oke, kamu boleh ikut sayembara itu!” jawab ibu.
   “Horeee!!! Terimakasih ibu! Kau memang ibu yang baik!” ujar Sandara melonjak senang sambil mencium kedua pipi ibunya.
   Ibunya hanya tersenyum. “Tapi, acara itu jam berapa? tanggal berapa?”
   “Jam 10.00 tanggal 23 November.” jawab Sandara.
   “Kau pergi dengan siapa?” tanya ibu.
   “Sally dan Clara.” jawab Sandara singkat.
   “Dan... apakah perlu mengisi formulir pendaftaran?” tanya ibu.
   “Ng... tentu. Tapi tidak perlu membeli formulir kok! Formulirnya dapat diisi gratis di balai desa. Pengisian formulir paling lambat diisi tanggal 20 November.” jawab Sandara lalu pergi menuju ruang menenunnya untuk membuat gaun sederhana tapi terlihat cantik ketika di pakai. Hmm... kira – kira... gaun seperti apa ya yang dikenakan Sandara?
   Sandara tidak membuang – buang waktu, dia segera menjahit dengan teliti dan rapi. Dia akan membuat gaun yang paling cantik diantara gaun – gaun buatannya yang lain.
   “Kau akan membuat gaun seperti apa nak?” tanya ibu yang datang membawa setumpuk kain dan pakaian.
   “Aku akan membuat rok bermotif bunga – bunga dengan rok selutut, juga stocking yang senada dan... sepatunya... aku belum tahu ibu...” jawab Sandara.
   “Lalu, kira – kira akan kau beri warna apa?” tanya ibu lagi.
   “Kalau tidak ungu, kuning, ya putih. Ibu tahukan, aku suka kedua warna itu...”
   “Ooh, baguslah. Semoga sukses dan berhasil ya!” ibu berdo’a.
   “Amiiin...” jawab Sandara. Lalu ibu keluar dari ruangan dan menutup pintu. Sandara tetap asyik menenun sambil bernyanyi ala kadarnya. Jendela di ruangan itu di buka sehingga cahaya dan segarnya udara memasuki ruangan.
   Cukup lama ibu meninggalkannya untuk mengurusi kebersihan rumah. Setelah semua pekerjaannya selesai, ibu menuju gudang dan mencari – cari sesuatu di sebuah kotak kardus.
   “Dara... Dara... tolong kemari naak...” panggil ibu dari atas gudang.
   Sandara segera berhenti menenun dan menuju gudang.
   “Ada apa bu?” tanya Sandara.
   “Ini! Bukalah!” ujar ibu sambil menyodorkan sebuah kotak kardus yang sudah berdebu.
   Dengan agak ragu, Sandara membuka kardus itu, namun tiba – tiba, matanya berbinar-binar karena senang.
   “Horeee... terimakasih ibu!!! I love you!” ujar Sandara sembari memeluk ibunya.
   “Sama – sama nak...” jawab ibu sembari tersenyum. “Mulai sekarang, itu untukmu.”
   Sandara sangat senang karena diberi sepatu teplek berwarna ungu yang di depannya dihiasi bunga.
   “Dengan begini, aku jadi tahu harus membuat gaun seperti apa.” gumam Sandara.
   5 hari kemudian, gaun yang dibuat Sandara akhirnya selesai sudah, kain yang digunakan sangat halus, corak bunganya sangat cantik, berpadu dengan stocking ungu kehitam – hitaman, bandana berwarna ungu dengan bunga ungu dan sepatu yang diberikan ibunya itu.
   “Wow! Sandara! Itu dirimu? Kau sungguh cantik, nak!” pekik ibu kaget melihat Sandara mengenakan gaun yang dibuatnya sendiri. “Tapi nak, gaun apa yang hendak kau gunakan saat pesta topeng malam itu?”
   “Aku sudah membuatnya, walau pun pesta topengnya malam hari dan banyak yang mengenakan pakaian serba berwarna gelap aku ingin berbeda dari yang lainnya, aku ingin terlihat paling bercahaya di malam itu.” jelas Sandara.
   “Anak ibu ini memang pandai, ya sudah, sekarang kamu mandi ya!” ibu mengingatkan.
   Sandara mengangguk lalu mengambil handuk dan pakaian dan lekas menuju kamar mandi untuk mandi.
   Hari yang ditunggu – tunggu Sandara pun tiba. Sandara bangun pukul 05.00 pagi. Dia segera melompat turun dan lekas merapikan tempat tidur. Seusai merapikan tempat tidur dia bergegas mandi.
   Seusai mandi dia dirias se-natural mungkin. Dia menyisir rambutnya dan meng-curlynya. Lalu dia mengenakan bedak, lip gloss, maskara, blush on, parfum, dan lotion. Setelah berdandan dia mengeluarkan gaun buatannya yang berwarna ungu dan mengenakannya.
   Sandara sedang memerhatikan dirinya di depan cermin.
   “Wah... sedang memperhatikan dirimu ya?” tanya ibu yang tiba – tiba saja masuk kamar Sandara. “Memang ku akui gaun buatanmu yang tercantik negri ini.” puji ibu.
   “Wah, terimakasih ibu.” jawab Sandara sambil sedikit tersipu malu.
   “Kau tentu akan menginapkan? Dari rumah kita menuju Istana cukup jauh.” jelas ibu.
   “Ng... tentu, kami akan menginap di Villa Stage. Semua peserta yang tempat tinggalnya jauh akan menginap di situ. Aku akan sekamar dengan Clara dan Sally juga seorang lagi.” jawab Sandara.
   “Kalau begitu, ibu akan memasukkan gaun putihmu untuk acara nanti malam, beserta topeng, beberapa pakaian dan peralatan riastentunya. Ibu juga akan memberikanmu beberapa uang. Nah sekarang, kamu sarapan dulu, bukankah nanti kamu akan berangkat pukul 06.30? sekarang sudah pukul 06.00, nak.” jelas ibu.
   “Baik bu.” jawab Sandara.
   Setelah ibu menyiapkan semuanya, ibu menghampiri Sandara yang sedang mengenakan sepatunya yang cantik itu.
   “Nak, karena umurmu masih 12 tahun, hati – hati di jalan ya nak, jangan berkenalan dengan orang yang tidak kamu kenal sebelumnya. Oke?” pesan ibu.
   “Baik bu, Dara berangkat dulu ya!” pamit Sandara sambil mencium tangan ibunya.
   “Hati – hati di jalan ya, nak!” ibu mengingatkan.
   “Baik bu, daah!” Sandara melambaikan tangan, begitu juga ibu.
   Sandara menunggang kuda bersama Clara dan Sally. Karena Clara tidak bisa menunggang kuda, dia akhirnya duduk membonceng di belakang Sandara. Perjalanan yang mereka tempuh menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Dan akhirnya, mereka sampai juga di Istana megah dan indah tersebut.
   “Waah... besar sekali Istana ini!” puji Clara.
   “Waah! Sungguh menakjubkan! Sungguh megah dan indah! Terutama taman istana ini!” puji Sandara.
   “Waaah... aku jadi membayangkan bila aku menjadi pemenang nanti! Seluruh negri akan tahu diriku dan aku menjadi terkenal!” khayal Sally.
   “Huuu....” sorak Sandara dan Clara berbarengan, lalu mereka tertawa bersama. Tanpa segan – segan, mereka memasuki halaman Istana, mereka menunjukkan Surat Izin Mengikuti Sayembara Istana milik mereka masing – masing setelah itu, mereka diperkenankan memasuki halaman Istana.
   “Hadirin yang berbahagia, terimakasih kalian sudah  mau mengikuti sayembara ini. Saya yang mengadakan sayembara ini selaku penasihat kerajaan mengumumkan bahwa hari ini diadakan 3 sayembara dalam sehari. Sayembara pertama adalah menghias patung Ratu dengan tanaman merambat di kebun Istana. Peraturannya patung tidak boleh pecah, hancur, retak atau sebagainya. Patung tidak boleh basah. Dan pemenangnya adalah yang menghias patung Ratu secantik mungkin.” jelas penasihat kerajaan.
   “Dan sekarang, berdirilah di posisi kalian masing – masing menurut nomor dan segeralah menghias!” perintah penasihat kerajaan.
   Dengan cepat dan cekatan, Sandara melilitkan tanaman merambat yang telah dia ambil sebelumnya dengan rapi dan cantik. Tidak ada satu pun tanaman merambat miliknya yang patah karena dia melilitkannya dengan hati – hati. Berbagai warna bunga menghiasi patung Ratu tersebut. Ada bunga yang berwarna pink, ungu, kuning, biru dan hijau. Semua sangat cantik terlihat. Dengan sedikit kreatifitasnya, Sandara memetik setangkai bunga mawar merah dan meletakkannya di tangan patung Ratu itu.
   “Hh... akhirnya selesai juga...” gumam Sandara.
   Setelah sayembara pertama selesai, penasihat kerajaan berbicara lagi.
   “Terimakasih sudah berpartisipasi dalam sayembara pertama, sebelum sayembara kedua dimulai nanti sore, seluruh peserta diperkenankan meninggalkan lapangan ini untuk menuju ruang makan Istana untuk makan siang, seusai makan siang, kalian bisa beristirahat di kamar yang telah disediakan. Terimakasih.” ujar penasihat kerajaan.
   Para peserta pun bubar dan segera menuju ruang makan Istana untuk makan siang bersama. Seusai makan siang, mereka menuju kamar masing – masing.
   Sesampainya di kamar...
   “Hh... lelahnya...” ujar Clara sambil merebahkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk.
   “Kita sama, ya? Aku juga lelah...” sebuah suara terdengar.
   “Em... maaf, kamu siapa, ya?” tanya Sandara sopan.
   “Hahaha!!! Aku lupa memperkenalkan diri, ya? Namaku Helena. Panggil saja Hena atau Lena.” jawab Helena dengan cara bicara yang angkuh.
   “Ooh, saya Sandara. Dia Sally, dan ini Clara.” jawab Sandara sopan.
   Buru – buru Sally mengalihkan pembicaraan. “Kira – kira, siapa ya yang akan menjadi pemenangnya, ya?”
   “Hahaha... kau lucu sekali Sally... sudah terlihat dan jelas bahwa aku yang akan menjadi pemenangnya.” jawab Helena yakin.
   “Hahaha... lucu...” gumam Sally.
   “Kenapa kau begitu yakin?” tanya Clara penasaran bercampur bingung tapi dengan nada kesal dan tatapan benci.
   “Sudah jelas, gaunku yang tercantik dan termahal dalam sayembara ini! Tak ada yang mengenakan gaun secantik diriku. Rambutku emas mengkilap, berbeda dengan kalian yang kasar, hitam, dan rontok. Dan, aku sudah beberapa kali menang dalam sayembara Istana. Antara lain juara 1 Little Princess Sayembara, juara 2 Little Princess Mermaid, juara 1 Miss Flower, juara umum Putri Negri Bunga, dan juara Putri Terbaik dan Terfavorit.” Helena menyebutkan prestasinya dengan angkuhnya.
   Sayangnya, tak ada yang mendengar penjelasan Helena tersebut dan ini membuat Helena sedikit kesal.
   “Terimakasih bagi peserta yang ikut berpartisipasi dan menghadiri sayembara ini. Sayembara ini sangat mudah, peraturannya, kalian hanya harus berjalan di panggung yang sudah disediakan dengan gaya, pakaian, dan make-up secantik mungkin. Waktu yang di berikan diatas panggung hanya 1 menit. Bagi peserta harap bersiap – siap. Oh ya, pemenangnya adalah yang bergaya, secantik mungkin, pakaiannya cantik, dan make-upnya natural, sebab bila berlebihan wajah asli kita tidak akan terlihat.” jelas penasihat kerajaan.
   “Aduh... bagaimana ini? Aku mengenakan bedak dan lipstick terlalu tebal, begitu juga maskara dan eyeliner.” Helena berbisik pada Sandara, Clara, dan Sally.
   “Hahaha... syukurin!!! Makanya jangan sombong, genit pula jadi orang!” ledek Clara sambil cekikan.
   “Hahaha... wajahmu jadi cantik Na, kayak badut! Hahaha...” tambah Sally.
   Membuat Helena tambah kesal dan malu.
   “Sudah, sudah... coba kita lihat penampilan para peserta yang tampil.” Sandara mencoba melerai.
   Sandara peserta nomor 9, sementara Sally nomor 10, Clara nomor 11, dan Helena peserta nomor 8. Seusai Helena tampil, kini giliran Sandara.
   Sandara sedikit gugup namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tampil dengan gaya yang imut, manis, dan cantik. Sehingga banyak yang bertepuk tangan saat dia tampil. Ini membuat Helena sedikit iri.
   Setelah acara sayembara kedua selesai, para peserta segera kembali ke kamar masing–masing.
   “Waah, tadi gaun yang kau kenakan indah sekali!” puji Sally.
   “Kau tadi sungguh cantik!” tambah Clara.
   “Hehehe... makasih...” jawab Sandara tersipu malu.
   Helena diam saja sambil cemberut.
   Tak terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat, seusai makan malam dan bersiap, kini tinggal sayembara terakhir yaitu pesta topeng. Mayoritas orang mengenakan pakaian berwarna hitam, ungu, abu – abu, cokelat, ungu, hijau, dan biru tua. Walau ada yang menenakan pakaian bernama merah tua dan orange, itu jaraaang sekali.
   Tiba – tiba, pintu terbuka dan tampaklah gaun panjang Sandara yang terurai dengan tema masih bunga tapi berglitter dan berwarna perak. Panjang gaunnya hampir melebihi gaun Putri Kate Middleton lho... hehehe...
   “Wow! Cantik sekali anak itu? Siapakah dia?” tanya Ratu sambil berdecak kagum.
   “Namanya adalah Sandara, Tuan. Dia dari desa Cahaya.” jelas penasihat kerajaan sambil membacakan biodata para peserta.
   “Sandara?” tanya Ratu kaget dan mukanya langsung murung. Ratu teringat akan putri bungsunya yang menghilang 11 tahun yang lalu.
   “Tidak mungkin Ratu, mustahil itu Tuan Putri. Sudahlah Ratu, jangan berpikiran yang enggak – enggak dan mengingat kejadian 11 tahun yang lalu. Karena, hamba... jadi merasa... ikut sedih dan bersalah...” nasihat penasihat kerajaan yang tak lain adalah tante Shareen.
   “Aku tahu Shareen... tapi... saya merasa dan berfikir, kira – kira... apa yang sedang dilakukan putri kecilku yang malang itu ya? Apakah dia baik – baik saja?” tanya Ratu dengan sendu.
   “Sabar ya Ratu, hamba turut berduka... hamba yakin Tuan Putri dalam keadaan baik-baik saja. Pasti Tuan Putri menjadi Putri yang baik, cantik, dan pintar.” hibur tante Shareen.
   “Baik, tapi... sebagai seorang Ratu, bolehkah saya meminta sesuatu?” tanya Ratu.
   “Tentu Tuan, hamba siap melaksanakan perintah Tuan, apakah perintah Tuan itu?” tanya tante Shareen.
   “Saya ingin mengundang anak yang bernama Sandara dan keluarganya makan malam di Istana lusa. Dan... saya jadi berfikiran, mengapa saya tidak mengangkatnya menjadi anak, ya? Saya berfikiran, mungkin dia dapat menghibur saya beberapa hari di Istana setelah itu dia boleh pulang.” jelas Ratu.
   “T... t... ta... tapi Tuan... itu sangat tidak mungkin. Mereka masyarakat bawah, saya takut bila terjadi sesuatu pada Istana. Saya tidak ingin hal seperti dahulu terulang, akibat pesta besar-besaran, Putri Sandara menghilang. Saya trauma Tuan. Sebagai penasihat, saya tidak mengizinkan hal tersebut, Raja pasti juga tidak setuju.” penasihat kerajaan jadi sangat kaget atas permintaan Ratu tersebut.
   “Benar juga,  Hm... kalau begitu, permintaan saya, saya ubah. Saya ingin dia menjadi juara umum tahun ini.” ujar Ratu.
   Karena tidak enak menolak keinginan Ratu untuk yang kedua kalinya, penasihat kerajaan pun setuju dan segera mencari alasan supaya Sandara bisa menang.
   “Akhirnya, pada malam ini! Saya akan mengumukan siapa pemenangnya dari 3 sayembara! Juara 3 sayembara pertama adalah... Sally!!! Juara 2 sayembara pertama adalah Clara!!! dan juara 1 sayembara pertama adalah... Sandara!!!” penasihat kerajaan mengumumkan, para pemenang dipersilakan maju.
   “Juara 3 sayembara kedua jatuh pada Helena!!! Juara 2 sayembara kedua adalah Felly!!! Dan juara 1 sayembara kedua jatuh pada Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali mengumumkan, para pemenang dipersilakan maju.
   “Juara 3 sayembara ketiga jatuh pada Kailani!!! Juara 2 sayembara ketiga adalah... Lisia!!! dan juara 1 sayembara ketiga jatuh pada... Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali mengumumkan, para pemenang di persilakan maju.
Sandara sangat senang. Dia sungguh tak menyangka akan memenangkan sayembara ini. Ingin rasanya Sandara menangis karena haru sekaligus senang. Tiba – tiba, saat Sandara diam, penasihat kerajaan kembali mengumumkan.
“Dan... juara umum jatuh pada... Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali mengumumkan. Tak terkira rasa senang yang dimiliki Sandara. Dia meloncat – loncat kegirangan dan segera memeluk kedua sahabatnya itu. Helena hanya cemberut manyun.
Huh! Sial sekali dia yang memenangkan sayembara ini! batin Helena, jengkel.
Keesokkan harinya, Sandara pulang sembari membawa pulang hadiah miliknya. Oya hadiah yang ia dapatkan adalah sebuah gaun berwarna perak keemas – emasan dan berglitter. Dia juga mendapatkan mahkota yang terdapat intannya. Sangat indah dan serasi dengan gaunnya. Dia juga mendapatkan sejumlah uang dan kalung emas.
Sesampainya di rumah, Sandara segera berlari menuju ibunya.
“Ibu! Saya menang!” pekik Sandara girang.
“Alhamdulillah...” jawab ibu sembari bersujud syukur.
“Dan, saya diberi hadiah sejumlah uang. Mungkin bisa dipergunakan untuk membeli ternak dan pupuk.” ujar Sandara sambil menyerahkan uang yang terdapat di dalam amplop.
“Alhamdulillah ya Allah... apa yang kamu inginkan selama ini, nak?” tanya ibu.
“Hmm... apa ya? Mungkin seekor kuda yang cantik.” jawab Sandara.
“Kalau begitu segera tidur, besok kita akan membeli kuda.” pesan ibu.

Sandara menurut dan segera pergi tidur. Kesenangannya tak terbayang hingga terbawa oleh mimpi. Dia tidak menyangka, padahal umurnya baru 12 tahun, tapi dia dapat memenangkan sayembara. Mungkin dia menjadi juara umum termuda dalam sayembara itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar