Suatu hari, di Istana,
diadakan sebuah sayembara. Pengumuman itu ditulis di papan pengumuman di pusat
desa.
Pengumuman
Memperingati
hari ulang tahun baginda Ratu, baginda Ratu hendak mengadakan beberapa acara
dan sayembara. Sayembara pertama adalah menghias patung baginda Ratu yang di
sediakan secantik mungkin. Pemenangnya adalah yang menghias patung baginda Ratu
secantik dan serapi mungkin.
Kedua,
mengenakan gaun tercantik yang kalian miliki. Pemenang lomba adalah yang
mengenakan gaun tercantik diantara para peserta.
Dan
lomba terakhir adalah pesta topeng. Hadiri pesta topeng tengah malam sekaligus
menutup acara dan pengumuman pemenang. Lomba akan diadakan pada tanggal 23
November di Istana, dan akan dimulai pukul 10.00 pagi. Formulir pendaftaran
dapat diisi di Balai Desa masing – masing. Pendaftran paling lambat tanggal 20
November.
Sekian dari saya.
Terimakasih.
Negri
Bunga, 16 November
Nyonya
Shareen Kurniawati
Penasihat
Kerajaan
“Wow! Acara yang paling
di tunggu – tunggu seluruh gadis di negri ini!” pekik Clara sahabat Sandara.
“Kenapa,
Ra?” tanya Sandara sambil berlari menghampiri Clara yang tengah membaca
pengumuman.
“Baca
deh!” jawab Clara, matanya berbinar – binar.
“Memperingati
hari ulang tahun baginda Ratu, baginda Ratu hendak mengadakan beberapa acara
dan sayembara.” baca Sandara. Sesaat mereka langsung bersorak gembira dan
saling berpelukkan.
“Kita
buat gaun tercantik dan kita pasti akan menang! Iyakan, Ra?” tanya Sandara
meloncat – loncat kegirangan.
“Itu
pasti!” jawab Clara.
“Tapi
ingat! Akulah yang paling cantik di negri ini!” ujar Sally tiba – tiba dengan
nada bercanda. Sally sahabat Sandara juga.
“Hahaha...”
tawa mereka bersama.
“Jadi,
kamu mau mengenakan pakaian apa nanti Sal?” tanya Clara.
“Gaun
buatan ibuku, gaun dengan corak emas dan perak yang berglitter warna – warni.”
jawab Sally.
“Waah...
pasti sangat serasi denganmu nanti!” puji Sandara. “Kalau kamu nanti Ra, mau
pakai gaun apa?” tanya Sandara.
“Gaun
dengan rok balon, berwarna – warni. Gaun itu, gaun kesayangan sekaligus
kesukaanku. Kau sendiri akan mengenakan gaun apa San?” Clara balik
bertanya.
“Eh...,
ng... e... entahlah... aku tidak tahu akan mengenakan gaun yang mana.” jawab
Sandara lesu.
“Jangan
sedihlah Sobat... bukankah kau memiliki banyak gaun yang cantik – cantik?
Mengapa kau tidak pilih salah satu?” hibur Sally.
“Bukankah
kau pandai membuat gaun? Mengapa kau tidak membuatnya sendiri? Gaun buatanmu
tidak kalah dengan buatan pabrik gaun kok!” tambah Clara.
“Terimakasih
teman – teman, aku akan membuat gaun hasilku secantik mungkin. Aku tidak akan menyerah cuma karena aku
tak mampu membeli gaun secantik kalian.” kata Sandara mulai bangkit dan
tersenyum.
“Nah,
gitu doong!!!” Sally dan Clara ikut tersenyum dan mengelus lembut pundak
Sandara.
Perlombaan,
aku datang! batin Sandara sembari tersenyum kecil.
“Assalamualaikum!!!
Aku pulang bu!” sapa Sandara.
“Walaikumsalam...”
jawab ibu.
“Bu,
tadi, Dara baca pengumuman di pusat desa, bahwa akan diadakan sayembara di
Istana. Bolehkah Dara mengikutinya?” tanya Sandara dengan tergesa – gesa.
“Oh
ya? Siapa saja yang ikut sayembara tersebut?” tanya ibu.
“Sally
dan Clara! Mereka ikut. Mungkin hampir seluruh gadis di desa ini bu!” Sandara
penuh harap agar keinginannya terkabulkan.
“Oke,
kamu boleh ikut sayembara itu!” jawab ibu.
“Horeee!!!
Terimakasih ibu! Kau memang ibu yang baik!” ujar Sandara melonjak senang sambil
mencium kedua pipi ibunya.
Ibunya
hanya tersenyum. “Tapi, acara itu jam berapa? tanggal berapa?”
“Jam
10.00 tanggal 23 November.” jawab Sandara.
“Kau
pergi dengan siapa?” tanya ibu.
“Sally
dan Clara.” jawab Sandara singkat.
“Dan...
apakah perlu mengisi formulir pendaftaran?” tanya ibu.
“Ng...
tentu. Tapi tidak perlu membeli formulir kok! Formulirnya dapat diisi gratis di
balai desa. Pengisian formulir paling lambat diisi tanggal 20 November.” jawab
Sandara lalu pergi menuju ruang menenunnya untuk membuat gaun sederhana tapi
terlihat cantik ketika di pakai. Hmm... kira – kira... gaun seperti apa ya yang
dikenakan Sandara?
Sandara
tidak membuang – buang waktu, dia segera menjahit dengan teliti dan rapi. Dia
akan membuat gaun yang paling cantik diantara gaun – gaun buatannya yang lain.
“Kau
akan membuat gaun seperti apa nak?” tanya ibu yang datang membawa setumpuk kain
dan pakaian.
“Aku
akan membuat rok bermotif bunga – bunga dengan rok selutut, juga stocking yang
senada dan... sepatunya... aku belum tahu ibu...” jawab Sandara.
“Lalu,
kira – kira akan kau beri warna apa?” tanya ibu lagi.
“Kalau
tidak ungu, kuning, ya putih. Ibu tahukan, aku suka kedua warna itu...”
“Ooh,
baguslah. Semoga sukses dan berhasil ya!” ibu berdo’a.
“Amiiin...”
jawab Sandara. Lalu ibu keluar dari ruangan dan menutup pintu. Sandara tetap
asyik menenun sambil bernyanyi ala kadarnya. Jendela di ruangan itu di buka
sehingga cahaya dan segarnya udara memasuki ruangan.
Cukup
lama ibu meninggalkannya
untuk mengurusi kebersihan rumah. Setelah semua pekerjaannya selesai, ibu
menuju gudang dan mencari – cari sesuatu di sebuah kotak kardus.
“Dara...
Dara... tolong kemari naak...” panggil ibu dari atas gudang.
Sandara
segera berhenti menenun dan menuju gudang.
“Ada
apa bu?” tanya Sandara.
“Ini!
Bukalah!” ujar ibu sambil menyodorkan sebuah kotak kardus yang sudah berdebu.
Dengan
agak ragu, Sandara membuka kardus itu, namun tiba – tiba, matanya
berbinar-binar karena senang.
“Horeee...
terimakasih ibu!!! I love you!” ujar Sandara sembari memeluk ibunya.
“Sama
– sama nak...” jawab ibu sembari tersenyum. “Mulai sekarang, itu untukmu.”
Sandara
sangat senang karena diberi sepatu teplek berwarna ungu yang di depannya
dihiasi bunga.
“Dengan
begini, aku jadi tahu harus membuat gaun seperti apa.” gumam Sandara.
5
hari kemudian, gaun yang dibuat Sandara akhirnya selesai sudah, kain yang
digunakan sangat halus, corak bunganya sangat cantik, berpadu dengan stocking
ungu kehitam – hitaman, bandana berwarna ungu dengan bunga ungu dan sepatu yang
diberikan ibunya itu.
“Wow!
Sandara! Itu dirimu? Kau sungguh cantik, nak!” pekik ibu kaget melihat Sandara
mengenakan gaun yang dibuatnya sendiri. “Tapi nak, gaun apa yang hendak kau
gunakan saat pesta topeng malam itu?”
“Aku
sudah membuatnya, walau pun pesta topengnya malam hari dan banyak yang
mengenakan pakaian serba berwarna gelap aku ingin berbeda dari yang lainnya,
aku ingin terlihat paling bercahaya di malam itu.” jelas Sandara.
“Anak
ibu ini memang pandai, ya sudah, sekarang kamu mandi ya!” ibu mengingatkan.
Sandara
mengangguk lalu mengambil handuk dan pakaian dan lekas menuju kamar mandi untuk
mandi.
Hari
yang ditunggu – tunggu Sandara pun tiba. Sandara bangun pukul 05.00 pagi. Dia
segera melompat turun dan lekas merapikan tempat tidur. Seusai merapikan tempat
tidur dia bergegas mandi.
Seusai
mandi dia dirias
se-natural mungkin. Dia menyisir rambutnya dan meng-curlynya. Lalu dia
mengenakan bedak, lip gloss, maskara, blush on, parfum, dan lotion. Setelah
berdandan dia mengeluarkan gaun buatannya yang berwarna ungu dan mengenakannya.
Sandara
sedang memerhatikan dirinya di depan cermin.
“Wah...
sedang memperhatikan dirimu ya?” tanya ibu yang tiba – tiba saja masuk kamar
Sandara. “Memang ku akui gaun buatanmu yang tercantik negri ini.” puji ibu.
“Wah,
terimakasih ibu.” jawab Sandara sambil sedikit tersipu malu.
“Kau
tentu akan menginapkan? Dari rumah kita menuju Istana cukup jauh.” jelas ibu.
“Ng...
tentu, kami akan menginap di Villa Stage. Semua peserta yang tempat tinggalnya
jauh akan menginap di situ.
Aku akan sekamar dengan Clara dan Sally juga seorang lagi.” jawab Sandara.
“Kalau
begitu, ibu akan memasukkan gaun putihmu untuk acara nanti malam, beserta
topeng, beberapa pakaian dan peralatan riastentunya.
Ibu juga akan memberikanmu beberapa uang. Nah sekarang, kamu sarapan dulu,
bukankah nanti kamu akan berangkat pukul 06.30? sekarang sudah pukul 06.00,
nak.” jelas ibu.
“Baik
bu.” jawab Sandara.
Setelah
ibu menyiapkan semuanya, ibu menghampiri Sandara yang sedang mengenakan
sepatunya yang cantik itu.
“Nak,
karena umurmu masih 12 tahun, hati – hati di jalan ya nak, jangan berkenalan
dengan orang yang tidak kamu kenal sebelumnya. Oke?” pesan ibu.
“Baik
bu, Dara berangkat dulu ya!” pamit Sandara sambil mencium tangan ibunya.
“Hati
– hati di jalan ya, nak!” ibu mengingatkan.
“Baik
bu, daah!” Sandara melambaikan tangan, begitu juga ibu.
Sandara
menunggang kuda bersama Clara dan Sally. Karena Clara tidak bisa menunggang
kuda, dia akhirnya duduk membonceng di belakang Sandara. Perjalanan yang mereka
tempuh menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Dan akhirnya, mereka sampai juga di
Istana megah dan indah tersebut.
“Waah...
besar sekali Istana ini!” puji Clara.
“Waah!
Sungguh menakjubkan! Sungguh megah dan indah! Terutama taman istana ini!” puji
Sandara.
“Waaah...
aku jadi membayangkan bila aku menjadi pemenang nanti! Seluruh negri akan tahu
diriku dan aku menjadi terkenal!” khayal Sally.
“Huuu....”
sorak Sandara dan Clara berbarengan, lalu mereka tertawa bersama. Tanpa segan –
segan, mereka memasuki halaman Istana, mereka menunjukkan Surat Izin Mengikuti
Sayembara Istana milik mereka masing – masing setelah itu, mereka diperkenankan
memasuki halaman Istana.
“Hadirin
yang berbahagia, terimakasih kalian sudah
mau mengikuti sayembara ini. Saya yang mengadakan sayembara ini selaku
penasihat kerajaan mengumumkan bahwa hari ini diadakan 3 sayembara dalam
sehari. Sayembara pertama adalah menghias patung Ratu dengan tanaman merambat
di kebun Istana. Peraturannya patung tidak boleh pecah, hancur, retak atau
sebagainya. Patung tidak boleh basah. Dan pemenangnya adalah yang menghias
patung Ratu secantik mungkin.” jelas penasihat kerajaan.
“Dan
sekarang, berdirilah di posisi kalian masing – masing menurut nomor dan
segeralah menghias!” perintah penasihat kerajaan.
Dengan
cepat dan cekatan, Sandara melilitkan tanaman merambat yang telah dia ambil
sebelumnya dengan rapi dan cantik. Tidak ada satu pun tanaman merambat miliknya
yang patah karena dia melilitkannya dengan hati – hati. Berbagai warna bunga
menghiasi patung Ratu tersebut. Ada bunga yang berwarna pink, ungu, kuning,
biru dan hijau. Semua sangat cantik terlihat. Dengan sedikit kreatifitasnya,
Sandara memetik setangkai bunga mawar merah dan meletakkannya di tangan patung
Ratu itu.
“Hh...
akhirnya selesai juga...” gumam Sandara.
Setelah
sayembara pertama selesai, penasihat kerajaan berbicara lagi.
“Terimakasih
sudah berpartisipasi dalam sayembara pertama, sebelum sayembara kedua dimulai
nanti sore, seluruh peserta diperkenankan meninggalkan lapangan ini untuk
menuju ruang makan Istana untuk makan siang, seusai makan siang, kalian bisa
beristirahat di kamar yang telah disediakan. Terimakasih.” ujar penasihat
kerajaan.
Para
peserta pun bubar dan segera menuju ruang makan Istana untuk makan siang
bersama. Seusai makan siang, mereka menuju kamar masing – masing.
Sesampainya
di kamar...
“Hh...
lelahnya...” ujar Clara sambil merebahkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk.
“Kita
sama, ya? Aku juga lelah...” sebuah suara terdengar.
“Em...
maaf, kamu siapa, ya?” tanya Sandara sopan.
“Hahaha!!!
Aku lupa memperkenalkan diri, ya? Namaku Helena. Panggil saja Hena atau Lena.”
jawab Helena dengan cara bicara yang angkuh.
“Ooh,
saya Sandara. Dia Sally, dan ini Clara.” jawab Sandara sopan.
Buru
– buru Sally mengalihkan pembicaraan. “Kira – kira, siapa ya yang akan menjadi
pemenangnya, ya?”
“Hahaha...
kau lucu sekali Sally... sudah terlihat dan jelas bahwa aku yang akan menjadi
pemenangnya.” jawab Helena yakin.
“Hahaha...
lucu...” gumam Sally.
“Kenapa
kau begitu yakin?” tanya Clara penasaran bercampur bingung tapi dengan nada
kesal dan tatapan benci.
“Sudah
jelas, gaunku yang tercantik dan termahal dalam
sayembara ini! Tak ada yang mengenakan gaun secantik diriku. Rambutku emas
mengkilap, berbeda dengan kalian yang kasar, hitam, dan rontok. Dan, aku sudah
beberapa kali menang dalam sayembara Istana. Antara lain juara 1 Little
Princess Sayembara, juara 2 Little Princess Mermaid, juara 1 Miss Flower, juara
umum Putri Negri Bunga, dan juara Putri Terbaik dan Terfavorit.” Helena
menyebutkan prestasinya dengan angkuhnya.
Sayangnya,
tak ada yang mendengar penjelasan Helena tersebut dan ini membuat Helena
sedikit kesal.
“Terimakasih
bagi peserta yang ikut berpartisipasi dan menghadiri sayembara ini. Sayembara
ini sangat mudah, peraturannya, kalian hanya harus berjalan di panggung yang
sudah disediakan dengan gaya, pakaian, dan make-up secantik mungkin. Waktu yang
di berikan diatas panggung hanya 1 menit. Bagi peserta harap bersiap – siap. Oh
ya, pemenangnya adalah yang bergaya, secantik mungkin, pakaiannya cantik, dan
make-upnya natural, sebab bila berlebihan wajah asli kita tidak akan terlihat.”
jelas penasihat kerajaan.
“Aduh...
bagaimana ini? Aku mengenakan bedak dan lipstick terlalu tebal, begitu juga
maskara dan eyeliner.” Helena berbisik pada Sandara, Clara, dan Sally.
“Hahaha...
syukurin!!! Makanya jangan sombong, genit pula jadi orang!” ledek Clara sambil
cekikan.
“Hahaha...
wajahmu jadi cantik Na, kayak badut! Hahaha...” tambah Sally.
Membuat
Helena tambah kesal dan malu.
“Sudah,
sudah... coba kita lihat penampilan para peserta yang tampil.” Sandara mencoba
melerai.
Sandara
peserta nomor 9, sementara Sally nomor 10, Clara nomor 11, dan Helena peserta
nomor 8. Seusai Helena tampil, kini giliran Sandara.
Sandara
sedikit gugup namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Dia tampil dengan gaya
yang imut, manis, dan cantik. Sehingga banyak yang bertepuk tangan saat dia
tampil. Ini membuat Helena sedikit iri.
Setelah
acara sayembara kedua selesai, para peserta segera kembali ke kamar
masing–masing.
“Waah,
tadi gaun yang kau kenakan indah sekali!” puji Sally.
“Kau
tadi sungguh cantik!” tambah Clara.
“Hehehe...
makasih...” jawab Sandara tersipu malu.
Helena
diam saja sambil cemberut.
Tak
terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat, seusai makan malam dan bersiap,
kini tinggal sayembara terakhir yaitu pesta topeng. Mayoritas orang mengenakan
pakaian berwarna hitam, ungu, abu – abu, cokelat, ungu, hijau, dan biru tua. Walau
ada yang menenakan pakaian bernama merah tua dan orange, itu jaraaang sekali.
Tiba
– tiba, pintu terbuka dan tampaklah gaun panjang Sandara yang terurai dengan
tema masih bunga tapi berglitter dan berwarna perak. Panjang gaunnya hampir
melebihi gaun Putri Kate Middleton lho... hehehe...
“Wow!
Cantik sekali anak itu? Siapakah dia?” tanya Ratu sambil berdecak kagum.
“Namanya
adalah Sandara, Tuan. Dia dari desa Cahaya.” jelas penasihat kerajaan sambil
membacakan biodata para peserta.
“Sandara?”
tanya Ratu kaget dan mukanya langsung murung. Ratu teringat akan putri
bungsunya yang menghilang 11 tahun yang lalu.
“Tidak
mungkin Ratu, mustahil itu Tuan Putri. Sudahlah Ratu, jangan berpikiran yang
enggak – enggak dan mengingat kejadian 11 tahun yang lalu. Karena, hamba...
jadi merasa... ikut sedih dan bersalah...” nasihat penasihat kerajaan yang tak
lain adalah tante Shareen.
“Aku
tahu Shareen... tapi... saya merasa dan berfikir, kira – kira... apa yang
sedang dilakukan putri kecilku yang malang itu ya? Apakah dia baik – baik
saja?” tanya Ratu dengan sendu.
“Sabar
ya Ratu, hamba turut berduka... hamba yakin Tuan Putri dalam keadaan baik-baik
saja. Pasti Tuan Putri menjadi Putri yang baik, cantik, dan pintar.” hibur tante Shareen.
“Baik,
tapi... sebagai seorang Ratu, bolehkah saya meminta sesuatu?” tanya Ratu.
“Tentu
Tuan, hamba siap melaksanakan perintah Tuan, apakah perintah Tuan itu?” tanya tante Shareen.
“Saya
ingin mengundang anak yang bernama Sandara dan keluarganya makan malam di
Istana lusa. Dan... saya jadi berfikiran, mengapa saya tidak mengangkatnya
menjadi anak,
ya? Saya berfikiran, mungkin dia dapat menghibur saya beberapa hari di Istana
setelah itu dia boleh pulang.” jelas Ratu.
“T...
t... ta... tapi Tuan... itu sangat tidak mungkin. Mereka masyarakat bawah, saya
takut bila terjadi sesuatu pada Istana. Saya tidak ingin hal seperti dahulu
terulang, akibat pesta besar-besaran, Putri Sandara menghilang. Saya trauma
Tuan. Sebagai penasihat, saya tidak mengizinkan hal tersebut, Raja pasti juga
tidak setuju.” penasihat kerajaan jadi sangat kaget atas permintaan Ratu
tersebut.
“Benar
juga, Hm... kalau begitu, permintaan
saya, saya ubah. Saya ingin dia menjadi juara umum tahun ini.” ujar Ratu.
Karena
tidak enak menolak keinginan Ratu untuk yang kedua kalinya, penasihat kerajaan
pun setuju dan segera mencari alasan supaya Sandara bisa menang.
“Akhirnya,
pada malam ini! Saya akan mengumukan siapa pemenangnya dari 3 sayembara! Juara
3 sayembara pertama adalah... Sally!!! Juara 2 sayembara pertama adalah
Clara!!! dan juara 1 sayembara pertama adalah... Sandara!!!” penasihat kerajaan mengumumkan,
para pemenang dipersilakan maju.
“Juara
3 sayembara kedua jatuh pada Helena!!! Juara 2 sayembara kedua adalah Felly!!!
Dan juara 1 sayembara kedua jatuh pada Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali
mengumumkan, para pemenang dipersilakan maju.
“Juara
3 sayembara ketiga jatuh pada Kailani!!!
Juara 2 sayembara ketiga adalah... Lisia!!! dan juara 1 sayembara ketiga jatuh
pada... Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali mengumumkan, para pemenang di
persilakan maju.
Sandara sangat senang.
Dia sungguh tak menyangka akan memenangkan sayembara ini. Ingin rasanya Sandara
menangis karena haru sekaligus senang. Tiba – tiba, saat Sandara diam,
penasihat kerajaan kembali mengumumkan.
“Dan... juara umum
jatuh pada... Sandara!!!” penasihat kerajaan kembali mengumumkan. Tak terkira
rasa senang yang dimiliki Sandara. Dia meloncat – loncat kegirangan dan segera
memeluk kedua sahabatnya itu. Helena hanya cemberut manyun.
Huh! Sial sekali dia
yang memenangkan sayembara ini! batin Helena, jengkel.
Keesokkan harinya,
Sandara pulang sembari membawa pulang hadiah miliknya. Oya hadiah yang ia
dapatkan adalah sebuah gaun berwarna perak keemas – emasan dan berglitter. Dia
juga mendapatkan mahkota yang terdapat intannya. Sangat indah dan serasi dengan
gaunnya. Dia juga mendapatkan sejumlah uang dan kalung emas.
Sesampainya di rumah,
Sandara segera berlari menuju ibunya.
“Ibu! Saya menang!”
pekik Sandara girang.
“Alhamdulillah...”
jawab ibu sembari bersujud syukur.
“Dan, saya diberi
hadiah sejumlah uang. Mungkin bisa dipergunakan untuk membeli ternak dan
pupuk.” ujar Sandara sambil menyerahkan uang yang terdapat di dalam amplop.
“Alhamdulillah ya
Allah... apa yang kamu inginkan selama ini, nak?” tanya ibu.
“Hmm... apa ya? Mungkin
seekor kuda yang cantik.” jawab Sandara.
“Kalau begitu segera
tidur, besok kita akan membeli kuda.” pesan ibu.
Sandara menurut dan
segera pergi tidur. Kesenangannya tak terbayang hingga terbawa oleh mimpi. Dia
tidak menyangka, padahal umurnya baru 12 tahun, tapi dia dapat memenangkan
sayembara. Mungkin dia menjadi juara umum
termuda dalam sayembara itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar