Sabtu, 04 Oktober 2014

My First Time

“Anak – anak... senin depan kalian yang akan bertugas menjadi petugas upacara.”  jelas bu guru.

   “Yee...” sorak seisi kelas. Kami senang sekali, sebab sudah lama kami menginginkan menjadi petugas upacara, namun, karena baru boleh menjadi petugas upacara setelah kelas 3 SD, kami pun harus bersabar cukup lama.
   “Bu! Aku ingin menjadi petugas pengibar bendera dong!” seruku, riang.
   “Baik, akan ibu tulis namamu.” jawab ibu guru.
   Rasa senangku bertambah saat aku terpilih menjadi petugas pengibar bendera. Sebab, setiap upacara 17-an di televisi aku selalu kagum melihat para pengibar bendera yang rapi dan dengan langkahnya yang tegap dan teratur. Aku sempat berucap pada bundaku: “Bund, jika aku sudah besar nanti, aku ingin jadi seperti mereka!”
   Bundaku menyahut: “Kalau begitu, belajar yang giat ya dari sekarang!” ujar beliau sembari mengelus rambutku. Kembali ke cerita yaa...
   “Ini ibu sebutkan nama anak – anak yang terpilih menjadi petugas upacara senin besok! Yang terpilih dimohon jangan pulang dulu!” perintah bu guru sebelum jam pulang sekolah.

Pengibar Bendera:
1.      Shasa
2.      Dira
3.      Dini
Derigen:
1.      Nessa
Pemain Pianika:
1.      Geby
2.      Marisa
3.      Luna
Pemimpin Upacara:
1.      Anto
Pemimpin Paling Kanan:
1.      Faqih
Pemimpin Pasukan:
1.      Kevin
Pembaca Pancasila:
1.      Vero
Pembaca Sumpah Pemuda:
1.      Nikka
Pembaca Janji Murid:
1.      Lidia
Pembaca Undang – Undang Dasar:
1.      Willi
Pembaca Do’a:
1.      Fadhli
Seusai jam pelajaran, aku dan teman – teman tidak diajarkan oleh guru melainkan diajarkan oleh kakak – kakak kelas yang lebih senior atau lebih tahu tentang paskibra. Aku latihan tak kenal letih saat menarik bendera. Cukup mudah. Batinku.
   Sepulang sekolah...
   “Assalamualaikum...” sapaku.
   “Walaikumsalam...” sahut bunda dari dalam rumah. “Eh, cantik... baru pulang tho... ada cerita seru apa hari ini?” tanya bunda, setiap hari memang selalu begitu.
   “Bunda aku senang banget... keinginanku terkabul! Aku terpilih menjadi pengibar bendera senin besok! Bunda ingin melihatnya?” tanyaku.
   “Maaf sayang, bukannya bunda menolak, tapi senin depan ini bunda tidak bisa, karena ada kegiatan sosial ibu-ibu di RT/RW kita. Eh, kamu kapan terima rapornya sayang?” tanya bunda.
“Minggu depannya lagi bund, lama sekali...” jawabku. “Tapi bund, aku gugup.” ujarku lagi dengan nada khawatir.
   “Tenang saja sayang, bunda yakin kamu bisa kok!” jawab bunda.
   Aku pun tersenyum lega mendengar kata-kata tadi. “Terimakasih bunda...” gumamku.
   Hari senin telah tiba. Jantungku berdegup kencang. Sebelum upacara dimulai, bu guru mengevaluasi jalannya persiapan upacara.
   “Kamu narik benderanya pelan – pelan saja ya!” pesan bu guru padaku. Aku pun mengangguk.
   Upacara pun dimulai, teman – temanku mengerjakan tugasnya dengan baik. Kini, giliranku tampil. Kami berjalan menuju tiang bendera dengan langkah tegak maju. Kami melakukannya dengan baik. Tapi saat mengerek bendera, aku menemukan masalah. Rupanya aku terlalu lambat mengerek bendera, sehingga lagu Indonesia Raya mau selesai, bendera masih berada di tengah tiang.
   Aku sontak kaget karena tidak sadar. Aku segera mempercepat gerakanku. Namun percuma saja. Setelah lagu Indonesia Raya sudah selesai, barulah bendera sampai di ujung tiang. Banyak kakak – kakak kelas yang cekikikan menahan tawa di belakangku, tak terkecuali teman – teman sekelasku. Uuh! Aku sungguh malu dan kesal.
   Upacara Senin itu membuatku sungguh kesal. Upacara hari itu aku lewati dengan wajah yang kutundukkan ke bawah. Belum teman – teman sekelas yang jahil dan menggodaku karena kejadian tadi.
   Sepulang sekolah aku memasuki rumah dengan membanting pintu dan dengan wajah cemberut. Bunda yang sedang membaca koran di ruang tamu bertanya padaku.
   “Bagaimana dengan upacaramu tadi?” tanya bunda.
   Aku diam sambil tetap cemberut.
   “Lho... kok ditanya diam saja? Cerita dong sayang? Ada apa?” tanya bunda.
   “Tadi aku ditertawakan, bunda.” Akhirnya aku buka mulut juga pada bunda.
   “Ditertawakan? ditertawakan apa maksudnya, sayang?” tanya bunda tidak mengerti.
   “Tadi, benderanya telat sampai di ujung tiang, bunda.” ceritaku sambil tertunduk malu.
   “Ooh... begitu.” kata bunda.
   “Lain kali, aku tidak mau lagi menjadi pengibar bendera!” ujarku kesal.
   “Lho, lho, lho... kok begitu siih?” tanya bunda.
   “Abisnya Shasa kan malu, bunda...” jawabku.
   “Begini lho Sha... tidak mungkin seseorang bisa menjadi sukses tanpa kegagalan, karena dengan kegagalan kita bisa jadi tahu kelemahan kita. Dan kalau kita tahu kelemahan kita, kita bisa memperbaikinya. Oleh karena itu, ada pepatah yang mengatakan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Coba lihat Albert Einstein, walau pun gagal, dia terus berusaha, sehingga akhirnya, dia berhasil kan? Ia jadi terkenal dan membantu seluruh manusia di dunia ini dengan berbagai macam penemuannya dan eksperimennya. Selain itu, kamu juga harus yakin jika kamu bisa, berdo’a, dan berusaha.  Dan yang terpenting kamu harus pantang menyerah.” nasihat bunda.
   “Hmm... oke deh bund! Terimakasih! Shasa janji gak boleh menyerah mulai saat ini dan harus berusaha bagaimana pun hasilnya.” ucapku kembali bersemangat.

   “Gitu dong... itu baru yang namanya anak bunda...” ujar bunda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar