“Anak – anak... senin
depan kalian yang akan bertugas menjadi petugas upacara.” jelas bu guru.
“Yee...”
sorak seisi kelas. Kami senang sekali, sebab sudah lama kami menginginkan
menjadi petugas upacara, namun, karena baru boleh menjadi petugas upacara
setelah kelas 3 SD, kami pun harus bersabar cukup lama.
“Bu!
Aku ingin menjadi petugas pengibar bendera dong!” seruku, riang.
“Baik,
akan ibu tulis namamu.” jawab ibu guru.
Rasa
senangku bertambah saat aku terpilih menjadi petugas pengibar bendera. Sebab,
setiap upacara 17-an di televisi aku selalu kagum melihat para pengibar bendera
yang rapi dan dengan langkahnya yang tegap dan teratur. Aku sempat berucap pada bundaku:
“Bund, jika aku sudah besar nanti, aku ingin jadi seperti mereka!”
Bundaku
menyahut: “Kalau begitu, belajar yang giat ya dari sekarang!” ujar beliau
sembari mengelus rambutku. Kembali ke
cerita yaa...
“Ini
ibu sebutkan nama anak – anak yang terpilih menjadi petugas upacara senin
besok! Yang terpilih dimohon jangan pulang dulu!” perintah bu guru sebelum jam
pulang sekolah.
Pengibar
Bendera:
1.
Shasa
2.
Dira
3.
Dini
Derigen:
1.
Nessa
Pemain
Pianika:
1.
Geby
2.
Marisa
3.
Luna
Pemimpin
Upacara:
1.
Anto
Pemimpin
Paling Kanan:
1.
Faqih
Pemimpin
Pasukan:
1.
Kevin
Pembaca
Pancasila:
1.
Vero
Pembaca
Sumpah Pemuda:
1.
Nikka
Pembaca
Janji Murid:
1.
Lidia
Pembaca
Undang – Undang Dasar:
1.
Willi
Pembaca
Do’a:
1.
Fadhli
Seusai jam pelajaran,
aku dan teman – teman tidak diajarkan oleh guru melainkan diajarkan oleh kakak
– kakak kelas yang lebih senior atau lebih tahu tentang paskibra. Aku latihan
tak kenal letih saat menarik bendera. Cukup mudah. Batinku.
Sepulang
sekolah...
“Assalamualaikum...”
sapaku.
“Walaikumsalam...”
sahut bunda dari dalam rumah. “Eh, cantik... baru pulang tho... ada cerita seru apa hari ini?” tanya
bunda, setiap hari memang selalu begitu.
“Bunda
aku senang banget... keinginanku terkabul! Aku terpilih menjadi pengibar
bendera senin besok! Bunda ingin melihatnya?” tanyaku.
“Maaf
sayang, bukannya bunda menolak, tapi senin depan ini bunda tidak bisa, karena ada kegiatan sosial ibu-ibu di RT/RW kita. Eh,
kamu kapan terima rapornya sayang?” tanya bunda.
“Minggu depannya lagi
bund, lama sekali...” jawabku. “Tapi bund, aku gugup.” ujarku lagi dengan nada
khawatir.
“Tenang
saja sayang, bunda yakin kamu bisa kok!”
jawab bunda.
Aku
pun tersenyum lega mendengar kata-kata tadi.
“Terimakasih bunda...” gumamku.
Hari
senin telah tiba. Jantungku berdegup kencang. Sebelum upacara dimulai, bu guru
mengevaluasi jalannya persiapan upacara.
“Kamu
narik benderanya pelan – pelan saja ya!” pesan bu guru padaku. Aku pun
mengangguk.
Upacara
pun dimulai, teman – temanku mengerjakan tugasnya dengan baik. Kini, giliranku
tampil. Kami berjalan menuju tiang bendera dengan langkah tegak maju. Kami
melakukannya dengan baik. Tapi saat mengerek bendera, aku menemukan masalah.
Rupanya aku terlalu lambat mengerek bendera, sehingga lagu Indonesia Raya mau
selesai, bendera masih berada di tengah tiang.
Aku
sontak kaget karena tidak sadar. Aku segera mempercepat gerakanku. Namun
percuma saja. Setelah lagu Indonesia Raya sudah selesai, barulah bendera sampai
di ujung tiang. Banyak kakak – kakak kelas yang cekikikan menahan tawa di
belakangku, tak terkecuali teman – teman sekelasku. Uuh! Aku sungguh malu dan
kesal.
Upacara
Senin itu membuatku sungguh kesal. Upacara hari itu aku lewati dengan wajah
yang kutundukkan ke bawah. Belum teman – teman sekelas yang jahil dan
menggodaku karena kejadian tadi.
Sepulang
sekolah aku memasuki rumah dengan membanting pintu dan dengan wajah cemberut.
Bunda yang sedang membaca koran di ruang tamu bertanya padaku.
“Bagaimana
dengan upacaramu tadi?” tanya bunda.
Aku
diam sambil tetap cemberut.
“Lho...
kok ditanya diam saja? Cerita dong sayang? Ada apa?” tanya bunda.
“Tadi
aku ditertawakan, bunda.” Akhirnya aku buka mulut juga pada bunda.
“Ditertawakan?
ditertawakan apa maksudnya, sayang?” tanya bunda tidak mengerti.
“Tadi,
benderanya telat sampai di ujung tiang, bunda.” ceritaku sambil tertunduk malu.
“Ooh...
begitu.” kata bunda.
“Lain
kali, aku tidak mau lagi menjadi pengibar bendera!” ujarku kesal.
“Lho,
lho, lho... kok begitu siih?” tanya bunda.
“Abisnya
Shasa kan
malu, bunda...” jawabku.
“Begini
lho Sha... tidak mungkin seseorang bisa menjadi sukses tanpa kegagalan, karena
dengan kegagalan kita bisa jadi tahu kelemahan kita. Dan kalau kita tahu
kelemahan kita, kita bisa memperbaikinya. Oleh karena itu, ada pepatah yang
mengatakan, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Coba lihat Albert Einstein, walau pun gagal, dia
terus berusaha, sehingga akhirnya, dia berhasil kan? Ia jadi terkenal
dan membantu seluruh manusia di dunia ini dengan berbagai macam penemuannya dan
eksperimennya. Selain itu, kamu juga harus yakin jika kamu bisa, berdo’a, dan
berusaha. Dan yang terpenting kamu harus
pantang menyerah.” nasihat bunda.
“Hmm...
oke deh bund! Terimakasih! Shasa janji gak boleh menyerah mulai saat ini dan
harus berusaha bagaimana pun hasilnya.” ucapku kembali bersemangat.
“Gitu
dong... itu baru yang namanya anak bunda...” ujar bunda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar