Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 8

     Seminggu lagi, Yuki akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12 tahun. Dia ingin merayakan hari ulang tahunnya tersebut dengan cara sederhana. Mirip dengan acara syukuran. Hehehe...


  “Ayah, ibu, minggu depan kan aku berulang tahun, boleh tidak aku mengajak pak Yuda dan bu Yurika makan – makan di sini bersama kita?” usul Yuki.
   “Boleh, boleh saja... memangnya ketika kamu ulang tahun, kamu mau makan apa?” tanya ibu.
   “Mm... bagaimana dengan nasi kuning saja seperti biasa? Dengan ayam, telur dadar, kering tempe, abon, sambal, dan lalap.” Jawab Yuki.
   “Hmm... baiklah kalau begitu...” jawab ibu, menyanggupi permintaan putri bungsunya.
   “Emangnya siapa yang mau rayain ulang tahun kamu? Ge-er amat!” ujar kak sandy.
   “Buktinya ibu mau, kok!” Yuki menjulurkan lidah dan pergi meninggalkan kak Sandy.
   Keesokkan harinya...
   “Ibu, ibu dari mana saja?” tanya Yuki ketika ibunya sampai di rumah.
   “Ibu tadi ke pasar, membeli bahan membuat nasi kuning.” Jawab ibu.
   “Emangnya siapa yang ulang tahun? Kan gak ada, bu...” ledek kak Sandy.
   “Masa kakak gak tahu sih senin besok adiknya yang cantik ini akan berulang tahun?” jawab Yuki santai.
   “Idiih... udah nge-repotin orang lain... ke ge-eran lagi...” jawab kak Sandy.
   “Nggak kok... Yuki nggak nge-repotin... kamu dulu juga setiap ulang tahun selalu ingin ada makanan favoritmu...” jawab ibu melerai. Yuki menjulurkan lidah ke kak Sandy.
   “Oh ya bu, Yuki ke rumah pak Yuda, ya!” izin Yuki.
   “Ya, hati – hati di jalan, ya, nak!” pesan ibu.
   “Ya bu...” jawab Yuki singkat.
   Yuki pun berlari menuju rumah pak Yuda. Namun, perjalanannya sempat terhalang karena jalanan di pasar ramai, sempit, dan becek sehingga dia harus berhati – hati jika tidak mau terjatuh ke kubangan air. Sesampainya di rumah pak Yuda...
   “Assalamualaikum...” sapa Yuki.
   Namun tak ada jawaban dari dalam seperti biasanya. Pintu dan jendela rumah tertutup rapat. Gordin rumah pak Yuda dan bu Yurika pun ditutup.
   Hmm... sepertinya pak Yuda dan bu Yurika sedang pergi keluar. Tapi ke mana ya? Batin Yuki, sambil berpikir.
   Namun tiba – tiba, ada suara yang mengkagetkannya. “Yuki ya?” tanya suara itu. Yuki pun menoleh ke belakang, asal suara tersebut. Rupanya bu Yurika baru saja datang bersama pak Yuda.
   “Eh..., ibu..., bapak...” jawab Yuki sambil mencium tangan pak Yuda dan bu Yurika. Setelah bu Yurika membuka kunci rumah, Yuki pun masuk ke rumah pak Yuda.
   “Yuki, tadi sudah lama menunggu?” tanya bu Yurika.
   “Tidak juga bu, baru, kok!” jawab Yuki. “Pak Yuda dan bu Yurika tadi dari mana?” tanya Yuki.
   “Tadi pak Yuda habis berjualan di kota, sedangkan ibu baru saja membeli sayur – sayuran di pasar.” Jelas bu Yurika.
   “Ooh... Kok tadi aku tidak bertemu ibu ya di pasar? Aku nggak melihat ibu deh!” tanya Yuki.
   “Mungkin karena pasar ramai sekali tadi.” Jawab bu Yurika.
   “Memang... sangat ramai...” jawab Yuki.
   “Apa kau ke mari ingin latihan pencak silat, Yuki?” tanya pak Yuda.
   “Eh, tidak, pak... aku hanya ingin menyampaikan pesan. Senin depan, aku akan berulang tahun yang ke-12 tahun. Rencananya, keluargaku akan mengadakan syukuran kecil. Aku mengundang bapak dan ibu untuk makan siang bersama di rumah kami. Apakah bapak dan ibu bersedia?” tawar Yuki.
   “Oh, tentu saja, kami akan usahakan. Terimakasih ya Yuki atas undangannya...” jawab bu Yurika.
   “Sama – sama, bu. Sekarang, Yuki izin pulang dulu, ya!” pamit Yuki sambil mencium tangan pak Yuda dan bu Yurika.
   “Iya, nak! Hati – hati di jalan!” pesan bu Yurika.
   “Iya bu, assalamualaikum...” ucap Yuki.
   “Walaikumsalam...” balas bu Yurika.
   Ketika Yuki keluar rumah pak Yuda, dia menatap ke langit sambil menadahkan tangannya ke atas. Gerimis! Yuki pun buru – buru kembali pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Yuki segera ganti baju, cuci kaki, cuci tangan, lalu makan siang bersama keluarganya.
   “Bagaimana Yuki? Kamu sudah mengajak pak Yuda dan bu Yurika, belum?” tanya ibu ketika sedang makan siang.
   “Sudah kok, bu! Mereka menyanggupinya!” ujar Yuki.
   “Ooh... baguslah kalau begitu. Berarti kamu hanya perlu menghitung hari dong!” canda ibu.
   “Hehehe... benar, bu! Yuki sudah tidak sabar!” jawab Yuki. Lalu, Yuki pun makan siang dengan lahapnya.
            Hari ulang tahun Yuki pun tiba...
   “Selamat pagi cinta...” ujar ibu, sambil membuka gordin kamar Yuki. Cahaya matahari yang menyilaukan mata membangunkan Yuki dari tidurnya.
   “Selamat ulang tahun sayang... jadilah anak yang baik, soleh, rajin, dan taat pada orang tua, ya!” ujar ibu, sambil memeluk dan mencium kedua pipi Yuki. Yuki pun segera keluar dari kamarnya.
   “Selamat pagi, dek! Selamat ulang tahun, ya! Jangan lupa PU-nya...” goda kak Sandy. *PU = Pajak Ulang tahun.
   “Selamat ulang tahun ya sayang... semoga semakin pinter, sukses, sehat, dan soleh...” tambah ayah.
   “Terimakasih, yah, terimakasih kak Sandy... PU-nya kan udah... hari ini makan – makan buktinya, hehehe...” jawab Yuki, malu. Lalu Yuki pun bersekolah seperti biasa. Di sekolah, Yuki mendapat ucapan selamat ulang tahun dari teman – teman sekelasnya.
   “Selamat ulang tahun, ya, Ki...” ujar Reyna.
   “Terimakasih Rey...” jawab Yuki. Dan yang membuatnya senang adalah dia mendapat ucapan selamat dari Hamra, cowok yang ia kagumi. Padahal Yuki akan berpikiran bahwa Hamra tidak akan tahu hari ulang tahun Yuki dan tidak memberi ucapan selamat.
   “Selamat ulang tahun, ya, Ki. Ditunggu traktirannya lho! Hehehe...” canda Hamra.
   “Hehehe... iya... makasih lho, Ham.” Jawab Yuki, salting. *salting = salah tingkah
   Hari itu adalah hari yang paling indah untuk Yuki. Sepulang sekolah, ia mendapati pak Yuda dan bu Yurika sudah datang di rumahnya dan menunggunya di ruang tamu. Rupanya, bu Yurika membuatkan Yuki puding cokelat dengan fla putih untuknya.
   “Selamat ulang tahun, ya, sayang! Semoga makin sukses...” kata bu Yurika sembari memeluk dan mencium Yuki.
   “Selamat ulang tahun ya, Yuki... semoga semakin berprestasi.” Tambah pak Yuda.
   “Terimakasih, bu, terimakasih, pak.” Jawab Yuki sembari tersenyum. Lalu Yuki pun segera berbenah diri dan mereka makan siang bersama dengan nasi kuning buatan ibu Yuki. Setelah makan, ibu memotong puding cokelat buatan bu Yurika dan memberikan fla putih di atasanya lalu memberikannya pada Yuki, kak sandy, ayah, bu Yurika, dan pak Yuda.
   “Hmm... enak sekali...” puji Yuki.
   “Hehehe... terimakasih, Ki.” Jawab bu Yurika.
   Seusai makan puding cokelat, pak Yuda dan bu Yurika pun pamit pulang.
   “Terimakasih atas undangan makan siangnya, ya!” kata bu Yurika.
   “Iya, bu, sama – sama. Terimakasih atas puding cokelatnya yang enak!” jawab Yuki. Lalu pak Yuda dan bu Yurika pun pulang.
   Hh... sungguh hari yang indah... di hari yang spesial ini, aku masih bisa melihat kebahagiaan terpancar di wajah orang – orang yang ku sayangi. Dan aku masih bisa bahagia di tengah – tengah senyum dan canda tawa mereka. Ternyata mereka memperhatikanku, menyayangiku dengan tulus, juga peduli padaku. Aku janji, aku tak akan membuat mereka semua kecewa. Batin Yuki, sambil tersenyum.
   “Yuki... bantu ibu bereskan meja makan!” panggil ibu.
   “Iya bu...” jawab Yuki. Ketika sedang membereskan meja makan, Yuki melihat 4 potong puding cokelat yang tersisa.
   “Bu, bolehkah besok ku bawa 2 potong puding cokelat itu ke sekolah?” tanya Yuki.
   “Oh, tentu saja boleh, nak. Memangnya ada apa?” selidik ibu, curiga.
   “Eh, tidak... hanya saja... Yuki ingin membawa bekal ke sekolah bu... kan lumayan...” jawab Yuki, berbohong.
   “Baiklah kalau begitu, ibu masukkan ke tempat makanmu, ya!” kata ibu.
   Keesokkan harinya di sekolah... Seusai menaruh tasnya, Yuki segera mencari Reyna dan Hamra lalu memanggil keduanya.
   “Reyna... Hamra... sini deh!” panggil Yuki, misterius.
   “Kenapa, Ki?” tanya Reyna yang lebih dulu datang dibanding Hamra.
   “Ada apa, Ki?” tambah Hamra yang datang menyusul.
   Yuki pun mengeluarkan tempat bekalnya itu dan membuka isinya.
   “Silakan ambil satu – satu!” kata Yuki, menyodorkan isi kotak bekal miliknya yang berisikan dua potong puding cokelat. Hamra dan Reyna pun mengambilnya satu – satu.
   “Terimakasih, ya, Ki.” Kata Hamra.
   “Terimakasih, ya, Ki. Pudingnya enak, lho!” tambah Reyna.
   “Iya... sama – sama. Hehehe...” jawab Yuki sambil tersenyum manis.
   Sepulang sekolah... tentu saja ibunya menanyakan tentang puding cokelat tersebut.
   “Bagaimana, Ki, puding cokelatnya? Apa kamu memakannya dan menghabiskannya?” tanya ibu.
   “Tentu saja... masa Yuki buang? Sayang amat! Hehehe...” canda Yuki, berbohong.
   “Ih... kamu tuh yaa... ada – ada saja... Hehehe... sekarang, cepat ganti baju dan makan siang, ya!” ujar ibu sambil mencubit pipi Yuki.    

   “Hehehe... Ya, bu.” Jawab Yuki sembari bergegas ganti baju dan mencuci tangannya lalu makan siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar