Aku baru saja masuk SMP. SMP
tempatku bersekolah ini adalah SMP terfavorit sekaligus SMP terbaik. Aku senang
sekali bisa masuk SMP ini. Apalagi sahabatku yang bernama Halida juga masuk SMP
dan kelas yang sama. Kami juga sebangku. Yang membuatku senang lagi, aku masuk
ke dalam kelas unggulan! Gak enaknya yaah... karena kelas unggulan and the best, memungkinkan banyak yang ’iri’
sama kelasku. Selain itu, banyak sekali PR, tugas, dan ulangan padahal belum
ada tuh seminggu masuk. Beda sama kelas reguler,
mereka hanya diberi PR dan tugas. Ulangan mungkin baru sekitar seminggu – dua
minggu lagi. Lanjut ke cerita yaak!!!
Di kelas, aku terpilih menjadi
ketua kelas. Sungguh hal yang tidak terduga bagiku. Tanggung jawabku amat
besar. Aku harus mengatur yaah... sekitar... 39 anaklaah... Ketika sedang
belajar, aku sering dipanggil keluar kelas karena ada berbagai macam hal dan
informasi penting. Jika kelas ribut, aku lupa memanggil guru, atau ada masalah,
aku yang diinterogasi lebih dulu. Hehehe...
Ketika waktu istirahat, aku dan
Halida bersama – sama menuju kantin untuk jajan. Seusai jajan, kami mengobrol
di bawah pohon sambil membaca buku – buku pelajaran. Kami saling berdiskusi
mengenai soal – soal yang tidak kami mengerti.
“Eh Dinavia, kamu ikut ekskul
apa?” tanya Halida.
“Hmm... aku ikut paskibra,
gamelan, sama basket. Kalau kamu?” ujarku.
“Aku ikut OSIS dan angklung
aja. Emangnya kamu udah daftar?” tanya Halida.
“Udah dong! Paskibra udah mulai
minggu kemarin. Gamelan mungkin minggu ini. Kalo basket sih aku belum daftar ke
pak guru. Hehehe... Kalau kamu gimana?” jawabku santai.
“Umm... kalau OSIS, kemarin
udah di tes keberanian dan tes pelajaran gitu deeh! Tinggal nunggu
pengumumannya aja. Katanya mau diumumin minggu depan. Kalau Angklung katanya
minggu ini udah mulai latihan.” Jawab Halida. “Kok kamu gak ikut OSIS aja siih?
Ngapain ikut paskibra sama basket? Mau bikin kulit hitam yaa? Iih... aku sih
ogah keluar siang – siang, panas lagi.”
“Yaah... terserah aku dong! Lagian... basket dan paskibra itu seru
lho... kalau OSIS capek...” bantahku, kesal.
“Eh, doain aku yaa supaya aku
terpilih jadi OSIS.” Pinta Halida.
“Iya, iya deh!” jawabku, masih
kesal.
Bel tanda masuk berbunyi, aku
dan Halida pun masuk ke dalam kelas. Tak berselang lama, guru Bahasa Indonesia
merangkap wali kelas kami masuk.
“Anak – anak, ada informasi
penting. Minggu depan, akan diadakan lomba kebersihan kelas untuk kelas 7
hingga 9. Nantinya, juara 1 hingga juara 3 dari kelas 7 hingga 9 akan diadu
untuk merebutkan juara umum bulan ini. Ada pertanyaan?” tanya bu guru.
“Saya bu! Kira – kira,
penilaiannya kapan?” tanya Halida.
“Hari jumat depan jam 11.30
siang. Oh ya, untuk ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris, wakil
sekretaris, seksi kebersihan, seksi kesenian, dan seksi keindahan untuk
partisipasinya dalam mengawasi piket. Bagi yang tidak piket harus dicatat oleh
sekretaris atau wakil sekretaris lalu diberikan kepada ibu.” Jelas bu guru.
“Baik bu!” jawab beberapa
pejabat kelas termaksud aku.
Huff... sungguh deh! Rasanya
jadi ketua kelas tuh nggak enak bangeet... gak ada enaknya sama sekali. Setiap
hari harus pulang jam setengah tigaan kalau sampai rumah jam tiga cuma gara –
gara ngebantuin anak – anak piket. Paling kalau hari kamis dan jumat aja aku
gak ngawasin mereka karena harus ikut ekskul paskibra. Sedangkan, ekskul
gamelan diadakan hari sabtu.
Untungnya pekerjaan kami
membersihkan, merapikan, dan menghias kelas membuahkan hasil. Kami mendapat
juara 1 dari 9 kelas 7. Tentu saja kami sangat senang! Apalagi, kami mendapat
piagam penghargaan dan akan dibingkai lalu dipajang. Yuhuuu...
“Halida, ternyata, kerja keras
kita selama ini membuahkan hasil, ya!” ujarku, senang.
“Iya, tak ku sangka. Padahal,
kelas kita sangat kotor lho sebelumnya, sekarang kelas kita jadi bersih,
terang, rapi, dan indah.” Tambah Halida, sama senangnya.
“Oh ya, by the way...
gimana dengan OSIS?” tanyaku ingin tahu.
“Oh iya... aku lupa cerita ya? Mungkin karena terlalu senang dan
bersemangat menghias dan membersihkan kelas kali yaa? Tentu saja aku diterima dong!
Gak ada alasan orang nolak aku dalam berbagai hal. Walau masih CaSIS karena
tahapnya sangat lama, aku sangat senang. Untuk mengetahui siapa yang CaSIS, aku
diminta menggunakan pin bertuliskan CaSIS ini. Keren kan?” Cerita Halida,
angkuh.
“Ooh, CaSIS tuh apaan?”
tanyaku, manggut – manggut saja dengan sikapnya yang berubah itu.
“Iih... kamseupay deh lo... CaSIS tuh
singkatan dari Calon OSIS. Understand?” jawab Halida.
“Oooh... hehehe...” kataku.
Sepulang sekolah, aku tidak
langsung makan dan mandi, aku termenung di balkon kamarku. Bunda yang melihatku
‘galau’ lalu menghampiriku.
“Dina, kok gak makan? Ada apa?”
tanya bunda.
“Eh, bunda... hehehe... gak ada
apa – apa kok bunda. Dina mau mandi dulu.” Jawabku. Keluargaku memang lebih
sering memanggilku Dina, bisa dibilang Dina dari kata Dinavia. Dina hanyalah
nama kecilku. Sedangkan, di sekolah, teman – temanku lebih cenderung
memanggilku Dinavia atau Via.
Rasanya, sikap Halida semakin
hari semakin aneh. Semenjak menggunakan pin bertuliskan CaSIS. Dia menjadi sok
dan menyebalkan. Dia mengambil alih setengah pekerjaanku. Awalnya siih aku
senang karena merasa terbantu, tapi lama – kelamaan aku jadi kesal dan risih.
Begitu juga dengan teman – temanku yang lain.
“Iih... Halida songong banget deeh! Sok ngatur – ngatur
kelas lagi! Nyebelin!” ujar Darena.
“Iya tuh! Bener! Padahal, dia
bukan pejabat kelas. Via yang ketua kelas saja diam saja, eeh... dia seenaknya
ngatur – ngatur dan marah – marahin kita.” ungkap Tiara geram.
“Udah gitu, kalau kita lawan
dengan bilang gini, ‘eh, lu kan bukan ketua kelas, Da! Gak berhak ngatur –
ngatur kita!’ dianya malah jawab gini, ‘tapi gue CaSIS, gue lebih berhak ngatur
kelas ini kalau perlu ngatur kelas lain dibanding pejabat kelas! Ngerti?’.
Nyebelin banget deeh! Aku gak pernah lho bilang ‘gue-lo’ kecuali lagi kesal.”
tambah Yane, kesal.
“Memang benar, akhir – akhir
ini sikap Halida berubah. Semenjak... dia pakai pin CaSIS itu!” jawabku santai
walau gelisah juga.
“Emangnya gak ada cara apa buat
nyadarin dia, Vi?” tanya Tiara.
“Iya..., kamu kan ketua kelas
sekaligus sahabat dia dari kecil, Vi?” desak Yane.
“Hmm... aku nggak tahu, aku
bingung en pusing. Akan ku pikirkan nanti, ya! Aku pulang duluan! Bye!” jawabku
sambil berlalu.
Memang siih akhir – akhir ini
sikap Halida berubah tapi aku tidak tahu kenapa. Lagipula, selama dia tidak
menggangguku, kenapa aku harus protes? Walaupun aku tidak terganggu dengan
sikapnya, teman – temanku merasa kesal dengannya. Apalagi aku kan ketua kelas,
aku harus menasihati temanku yang berbuat salah apalagi sampai membuat teman
yang lain kesal. Tapi, apa yang harus ku lakukan? Aaa... aku bingung sekali...
Hari ini, ada ekskul paskibra.
Aku sudah izin pada bu guru untuk tidak mengawasi teman – temanku piket karena
mengikuti ekskul paskibra. Bu guru juga sudah mengizinkan. Tapi, entah kenapa
Halida justru sewot.
“Eh, Via! Kamukan ketua kelas,
tanggung jawab dong sama kelasnya!” kata Halida.
“Aku udah izin kok sama bu
guru, lagian, ada Shabil! Kelas tuh bukan hanya tanggung jawab aku aja, Lid.
Tapi tanggung jawab sekelas.” Jawabku, sabar.
“Tapi kan kamu ketua kelas, Vi.
Gimana sih?” Halida tidak mau kalah.
“Emang aku ketua kelas, tapi
aku kan juga punya urusan sendiri.” Jawabku, jadi kesal.
“Berarti kamu ketua kelas yang
egois! Tak sepantasnya kamu menjadi ketua kelas!” tutur Halida.
“Daripada kamu! Baru jadi CaSIS
aja sok!” jawabku, terpancing emosi.
“Kenapa? Masalah buat lo? Lo
gak seneng gitu?” ucapan Halida itu membuatku semakin kesal.
“Gak! Karena semenjak jadi
CaSIS lo tuh berubah! Sadar gak? Lo pasti gak sadar kan?” pekikku, kesal.
Halida kaget mendengar ucapanku tadi. Tampak sekali di wajahnya.
“Udah, udah. Gak apa – apa kok!
Kalau Dinavia gak bisa ngawasin temen – temen karena ada jadwal ekskul, dia kan
udah izin guru dan ada aku. Aku juga pernah gitu, Lid. Sekalian aku juga piket
hari ini. So, kalau kamu gak ada
kerjaan mending ‘out’ aja deh!” Bela
Shabil, dengan nada sedikit mengusir Halida.
Halida cemberut kesal dan
meninggalkan kelas.
“Makasih ya, Bil.” Kataku,
seraya tersenyum.
“Iya, masama. Eh, lebih baik,
kamu langsung ekskul deh! Daripada telat.” Usul Shabil.
“Oh iya, tadi udah ada aba –
abanya! Gawat kalau sampai telat! Nanti disuruh posma lagi. Hehehe... sip, bye!” kataku, pergi meninggalkan Shabil.
Walau begitu, pikiranku selalu
tertuju pada Halida. Hingga membuatku tidak konsentrasi. Ketika latihan aku
sering sekali tidak mendengarkan aba – aba dari kakak kelas karena bengong
memikirkan Halida. Aku berkali – kali kena omel kakak kelas. Bahkan ketika
bunda menjemputku, bunda heran melihat sikapku.
“Kamu kenapa, Din?” tanya
bunda.
“Gak apa – apa, bund. Hanya
saja, Dina memikirkan kenapa Halida akhir – akhir ini berubah.” Jawabku, jujur.
“Halida berubah gimana
maksudnya?” tanya bunda, tak mengerti.
“Iya, Halida berubah bunda
semenjak ia terpilih menjadi CaSIS. Apa yang harus Dina lakukan ya bunda supaya
Halida kembali seperti Halida yang dulu? Halida yang sekarang jadi sombong,
sok, dan suka mengatur. Padahal, selama ini, selama aku mengenal Halida bunda,
Halida tidak pernah begitu.” Ceritaku, jujur.
“Menurut bunda, biarkan saja
masalah ini mengalir seperti air. Suatu saat, Halida akan kembali seperti
Halida yang dulu. Tapi kamu juga harus melakukan sesuatu supaya Halida cepat
tersadar dari sikap jeleknya itu. Karena sahabat yang baik adalah sahabat yang
selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya.” Jelas bunda.
“Kalau begitu, aku akan
mendoakannya supaya dia tidak terpilih menjadi OSIS. Aku yakin, jika dia tidak
terpilih jadi OSIS, sikapnya akan kembali seperti semula. Memang siih..., doaku
ini kelihatannya buruk tapi tujuannya baik untuk sahabatku sendiri. Benar nggak
bund?” tanyaku.
Bunda tersenyum, “Itu adalah
doa seorang sahabat yang baik.” Puji bunda.
Malam harinya, seusai makan
malam, aku melaksanakan sholat isya. Aku berdoa dengan khusyuk untuk Halida.
“Ya Allah, jika memang satu –
satunya cara supaya Halida kembali seperti dulu adalah tidak menjadi OSIS, ku
mohon, kabulkanlah... aku hanya ingin dia kembali seperti dulu. Halida yang
asyik bagi teman – temannya. Amin...” kataku.
Keesokkannya adalah hari jumat,
sepulang sekolah, aku diperbolehkan bermain internet karena esoknya, hari
sabtu, aku libur. Ketika aku sedang membuka Facebook, aku melihat kakak kelasku
yang bernama kak Nisrina sedang online.
Kak Nisrina adalah mentorku ketika MOS, dia adalah kakak OSIS yang baik.
Aku pun chattingan dengannya
Aku: Hai kak, lagi apa? J
Kak Nisrina: Lagi chatting aja dek. Adek?
Aku: Sama dong! Hehehe... Kak, kakak kan OSIS, nantinya,
CaSIS baru yang terpilih berdasarkan apa sih kak?
Kak Nisrina: Berdasarkan pilihan OSIS dek, kalau sikapnya
enggak baik selama rapat dan acara OSIS yaa dia nggak terpilih. Juga kalau
misalnya ada temannya yang cerita kalau sikapnya jelek, dia juga bisa nggak
terpilih. Emangnya kenapa dek?
Aku: Ooh... enggak kok, kak! Cuma nanya. Hehehe... Kak,
aku mau curhat deh! Kakak mau denger gak?
Kak Nisrina: Boleh, mau curhat apa dek?
Aku: Aku punya sahabat kak, namanya Halida. Dia itu
anggota OSIS. Tapi, semenjak dia terpilih jadi CaSIS dia jadi berubah gitu deeh
sikapnya... jadi sok, sombong, dan suka ngatur – ngatur seenaknya gitu...
Gimana caranya ya kak biar sikapnya kembali kayak dulu? kakak punya solusi?
Kak Nisrina: Emangnya adek kelas 7 berapa? Dan siapa nama
lengkap sahabat adek itu?
Aku: Kelas 7.9, kak. Namanya Halida Noor. Emangnya
kenapa?
Kak Nisrina: Gak apa – apa kok, dek. Ooh... ya udah...
kakak yakin sikap sahabat adek enggak lama lagi akan kembali kayak dulu.
Percaya deh sama kakak. Tapi, adek harus sabar ya! Maklumin aja... J
Aku: Iya kak, makasih atas solusinya. J
Kak Nisrina: Sama – sama dek J kakak offline
dulu yaa!
Aku: Iya kak, kapan – kapan kita chattingan lagi ya kak!
Daah... J
Kak Nisrina: J
Hari – hari berlalu dengan cepat,
tak lagi ku hiraukan Halida. Namun suatu ketika, aku, Tiara, Yane, Shabil, dan
Darena mendapati Halida tengah menangis di bawah pohon tempat aku dan dia biasa
mengobrol. Aku dan teman – teman pun mendekatinya.
“Kamu kenapa, Lid?” tanyaku, lembut.
“A... aku... aku ditolak jadi OSIS,
Vi... pa... pa... padahal... aku sudah yakin betul akan terpilih.” Tangis
Halida.
“Makanya jangan terlalu banyak
berharap... berharap boleh, tapi jangan berlebihan, Lid. Sampai merasa paling
berkuasa di kelas.” Tutur Shabil, frontal.
“Sekarang, kamu sadar kan kalau ini
semua tuh ada hikmahnya?” kata Darena.
“Menurutku,
lebih baik sikapmu seperti dulu tapi tidak jadi OSIS daripada sikapmu berubah
gara – gara jadi OSIS.” Ujarku.
“Aku juga
awalnya bingung kenapa sikapmu yang tadinya baik berubah gara – gara pakai pin
CaSIS.” Ungkap Yane.
“Padahal,
belum tentu kan kamu terpilih?” tambah Tiara.
“Iya teman –
teman... sekarang aku sadar... aku salah... aku memang tidak pantas menjadi
OSIS... Maafkan aku teman – teman... aku salah...” tangis Halida.
Aku tersenyum
sambil mengelus pundaknya lembut, “Bukannya kamu tidak pantas menjadi OSIS,
tapi, kamu belum siap menjadi OSIS. Mungkin kau sudah siap menjadi OSIS bila
sudah SMA kelak. Menurutku, siapa pun punya hak menjadi OSIS. Semua orang punya
kesempatan dan bisa menjadi OSIS. Hanya kemauan dan usahanya yang berbeda.”
Nasihatku, pelan.
“Jadi, kalian mau memaafkanku dan
berteman denganku lagi kan?” tanya Halida sambil menatap wajah kami satu
persatu.
Kami semua mengangguk serentak. “So pasti dong!!!” jawab kami, kompak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar