Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 3

   “Yuki! Kamu jaga rumah ya! Biar kakak juga bantu menjaga rumah dan kios !” perintah kak Sandy.

   “Apa?! Itu kan tidak adil! Masa aku hanya menjaga rumah saja? kakak dengan soknya menjaga rumah dan kios!” kata Yuki.
   “Ya… kamukan masih kecil!!!” ejek kak Sandy.
   “Ya sudah… aku tidak akan menjaga depan maupun belakang rumah!” kata Yuki.
   “Menyebalkan! Lagi pula kamu kan tidak bisa pencak silat!” kata kak Sandy.
   “Kalau gitu ajarkan aku!” kata Yuki.
   “Tidak! Aku maupun ayah tidak mungkin dan tidak mau mengajarkanmu! Tidak akan pernah!” pekik kak Sandy.
   “Kenapa? Kalau begitu aku tidak akan menjaga rumah!” pekik Yuki dengan nada sama tingginya.
   “Karena itu dilarang! Lagi pula aku tidak sudi kok mengajarimu!” balas kak Sandy, lantang.
   “Berarti, sama saja kakak menginginkan kakak yang menjaga keduanya tanpa meminta bantuanku!” jawab Yuki, bersunggut – sunggut.
   “Aku tak peduli, huh!” jawab kak Sandy tetap pada pendiriannya.
   “Hu-uh!” kata Yuki lalu masuk ke kamarnya sambil membanting pintu.
   “MENJENGKELKAN!!!” pekik kak Sandy.
   “MENGESALKAN!!!” jawab Yuki dengan nada yang sama tingginya.
   Wow, apa yang harus mereka lakukan ya? Mereka bertengkar, padahal… mereka kan diwajibkan untuk menjaga rumah dan kios. Bagaimana yaa cerita selanjutnya? Akankah mereka berhasil menjalankan tugas sepele itu dengan baik? Baca lanjutannya.
   Yuki justru pergi keluar rumah tanpa seizin dan setahu kak Sandy. Dia bertekad melakukan sesuatu untuk seseorang untuk menunjukkan bahwa dia berhak dan pantas bisa bela diri pencak silat.
   Dia berjalan saja menuju sebuah pasar di desanya yang ramai. Hm… biasanya di sini terjadi banyak kejahatan seperti pencopetan, mungkin aku bisa memulainya dengan menangkap pencopet.
   Yang benar saja, tak lama kemudian… tiba – tiba terdengar suara… “COPET!!!” teriak seorang wanita tua. Dengan cepat dan cekatan Yuki mengejar si pencopet. Dug!!! Pencopet itu pun tumbang. Yuki tercengang. Di hadapannya ada seorang lelaki tua yang barusan mengalahkan copet itu.
   “Heh! Dasar copet! Seenaknya saja mengambil dompet punya istriku!” kata lelaki tua itu.
   Merasa diperhatikan, lelaki tua itu berkata pada Yuki: “Oh ya, terimakasih sudah sedikit membantu.” Kata lelaki tua itu ramah.
   “Bapak... kenapa bapak ada disini?” tanya sang istri.
   “Oh, bapak tadi hanya sedang membeli ikan.” Jelas lelaki tua itu.
   “Terimakasih ya nak sudah sedikit membantu suami saya. Sebagai hadiahnya saya mengajakmu ke rumah saya, apakah kau mau?” tanya sang istri.
   “Ng… eh… boleh, tapi… sebentar saja ya!” kata Yuki.
   Yuki di ajak ke rumah sepasang suami istri itu.
   “Silakan di makan… namamu siapa nak?” tanya sang istri.
   “Namaku Yuki, aku masih kelas 6 SD, sebentar lagi mau lulus kejenjang SMP.” Jelas Yuki.
   “Apa yang kau lakukan di pasar?” tanya lelaki tua itu.
   “Saya tadi sedang berkeliling. Ya… siapa tahu bisa membantu warga sekitar saya. Sebab saya tadi bertengkar dengan kakak saya.” Jelas Yuki.
   “Kok bertengkar? Kenapa? Bertengkar gak baik lho, nak…” nasihat sang istri.
   “Iya, soalnya, kakakku, kak Sandy dan ayahku bisa ilmu bela diri pencak silat, tapi saat aku minta diajari, mereka menolak. Aku jengkel, marah, kesal.” Cerita Yuki.
   “Mungkin itu ada sebabnya… tapi, jika kamu benar – benar ingin belajar pencak silat kenapa tidak belajar saja?” tanya sang istri.
   “Belajar di mana? Saya tidak mungkin kursus karena saya tidak punya cukup uang. Dan kalau pun ada, pasti tidak ada yang mau mengajariku.” Jawab Yuki.
   “Bener? Kakek bisa lho pencak silat walau sudah tua.” Jelas lelaki tua itu.
   “Benarkah? Hm… oke, aku akan belajar pencak silat sama kakek. Masalah bayaran, mungkin… Yuki harus menabung. Yuki memang mungkin boros, tapi bila untuk sesuatu yang Yuki mau, Yuki akan berusaha untuk berhemat.” Jelas Yuki.
   “Oke, Hm… bayarannya cukup Rp. 10.000 per bulan saja. Pelajaran akan dimulai sejak lusa, sebab kamu harus izin dulu, Bagaimana?” usul kakek itu.
   “Oke, tapi di mana? Dan jam berapa?” tanya Yuki.
   “Di sini jam 17.00 sore.” Jelas kakek.
   “Oke kek… hm… Yuki pulang dulu ya! Kalau kelamaan, kak Sandy akan mencariku.” pamit Yuki.
   “Ya, tapi mulai sekarang panggil pak Yuda. Dan ibu Yurika. Bagaimana?” kata kakek itu yang ternyata bernama pak Yuda.
   “Oke pak Yuda.” Kata Yuki sambil hormat.
   “Oke, hati – hati di jalan ya Ki…” nasihat ibu Yurika.
   “Iya bu… assalamualaikum…”
   “Walaikumsalam…”
   Yuki berjalan dengan senangnya pulang menuju rumah. Dia bahkkan saking senangnya sampai berlari.
   “Dari mana saja kau?” tanya kak Sandy tajam.
   “Ke pasar!” jawab Yuki. “Jalan – jalan sedikitlah… di sini terlalu membosankan! Memangnya tidak boleh?”
   “Apa tugasmu?” tanya kak Sandy tajam.
   “Menjaga depan dan belakang rumah, tapi aku perginya toh tidak lama, hanya 15 menit kan?” kata Yuki santai.
   Kak Sandy diam saja tka berkomentar apa – apa lagi.
   “Besok ayah akan diantar ibu pulang ke rumah. Pagi!” jelas kak Sandy.
   “Ooh…” jawab Yuki. Kak Sandy jadi sedikit heran, ada apa dengan Yuki? Kenapa sikapnya berubah, yang tadinya bawel dan tidak pernah santai sekarang tumben banget santai dan tidak bawel. Memang sifat Yuki aneh sekali, bila hari biasa dia akan bawel, tidak pernah santai, dan selalu mengeyel, tapi kalau senang, dia akan diam dan selalu santai. Santai dalam mengerjakan sesuatu dan berkata – kata.
   “Ada apa denganmu?” tanya kak Sandy.
   “Tidak apa. Rahasia dong…” jawab Yuki. Membuat kak Sandy jadi penasaran, heran, dan sedikit jengkel.
   Setelah itu Yuki mengambil buku kesukaannya yang berjudul ‘Lima Sekawan’ buku itu adalah ciptaan atau karya dari penulis internasional yang bernama Enid Blyton. Sudah sejak ibunya kecil cerita – ceritanya banyaaak sekali sampai sekarang pun ceritanya masih ada dan masih terkenal. Ceritanya selalu disukai oleh para pembaca. Pembaca yang menyukainya pun beragam – ragam, ada yang masih kecil, remaja, orang dewasa, bahkan sampai orang tua sekaligus. Lanjut kecerita ya…
   Mahgrib ini Yuki terpaksa merasa sepi karena biasanya dia selalu sholat mahgrib bersama ayah dan ibunya, tapi, kini ia hanya sholat berdua dengan kakaknya. Pikirannya selalu tertuju pada kedua orangtuanya. Apakah ayahnya baik – baik saja? apakah ayahnya sudah lebih baik dari sebelumnya? Apakah ayah ibunya sudah makan? Dan apakah ayah ibunya sudah sholat? Selalu itu yang muncul di benak Yuki. Yuki merasa ingin menangis bila berpisah dengan orangtuanya, apalagi kini ayahnya tengah berbaring sakit. Ayah...cepat sembuh ya...supaya kita bisa berkumpul lagi setiap hari..., Tuhan sehatkan ayahku,batin Yuki.
   Malamnya pun Yuki merasa sepi, tiada yang menyiapkan makanan, dan dua kursi kosong. Rasanya sepiii… sekali bila tidak ada kedua orangtuanya, tapi, dia makan dengan lahapnya. Soalnya yang dia makan, makanan kesukaannya siih… ditambah dia memang sedang  lapar berat. Jadi maklum…
   Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun, Yuki belum juga tidur. Dia selalu turun dari tempat tidur untuk minum, ke kamar mandi, atau pun mengintip kakaknya apakah sudah tidur atau belum, tapi kakaknya sudah tertidur. Yuki tidak bisa berhenti memikirkan orangtuanya. Yuki berkata dalam hati: jika aku tidak segera tidur, aku pasti akan sakit dan lusa aku tidak akan bisa latihan pencak silat bersama pak Yuda. Atau mungkin… aku akan lemas dan mengantuk esok. Tapi bagaimana dengan ayah dan ibu? Ah, tak usah di pikirkan, yang jelas besok mereka akan kembali, lagi pula, masa sih aku yang mau latihan silat ini malah mengkhawatirkan yang tidak – tidak? Mengkhawatirkan orangtua memang maklum tapi bila berlebihan jadi tidak wajar. Akhirnya, Yuki pun lelah memikirkan itu sehingga dia tertidur.
   “Bangun! Bangun! Sudah pagi dek!” seru kak Sandy sambil mengoyangkan tubuh adiknya. Sontak Yuki terbangun. Kak Sandy lalu membuka gordin sehingga cahaya matahari langsung masuk dan menyorot mata Yuki.
   Yuki pun keluar dari kamar sambil mengucek kedua matanya lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengelap mukanya dengan handuk. Dia menuju ruang makan dan meminum susu putih buatan kakaknya. Namun tiba – tiba...
   “HUEKKK!!!” kata Yuki memuntahkan susu putih itu. “Hiak! Rasanya menjijikkan! Hambar! Mana rasa manisnya?” komentar Yuki.
   “Terus kamu maunya susu putih macam apa?!” kata kak Sandy jengkel.
   “Seperti buatan ibu!” jawab Yuki dengan nada tinggi.
   “Seperti kamu bisa membuatnya saja! Masih mending dibuatkan!” kata kak Sandy dengan nada yang sama tingginya dengan nada Yuki tadi.
   “Aku bisa! Rasanya pun pas! Dan ingat ya! Aku lebih baik tidak dibuatkan daripada meminum susu putih tidak jelas dan memuakkan itu!” kata Yuki.
   “Kalau begitu buatkan!” pinta kak Sandy.
   “Buat apa? Aku minum sendiri? Kakak aja nggak suka susu putih!” seru Yuki lalu pergi meninggalkan kak Sandy. “Kakak yang membuat susu tidak menggunakan perasaan!”
   “Hu-uh! Menjengkelkan!” seru kak Sandy.
   Yuki joging sebentar keliling desa lalu kembali ke rumah untuk mandi. Seusai mandi, kini giliran kak Sandy. Lalu mereka menunggu kedatangan kedua orangtua mereka.
   Tiba – tiba sebuah mobil milik kepala desa berhenti di depan rumah mereka, kak Sandy mengintip keluar lewat jendela rumah mereka. Turunlah dua orang dewasa, mereka adalah AYAH dan IBU!
   Tanpa menunggu lebih lama, Yuki dengan secepat kilat membuka pintu rumah dan pagarnya lalu berlari menghambur kepelukkan ibunya.
   “Ibu…” serunya.
   “Ayah!” katanya berpaling pada ayahnya. Lalu ia segera memeluk ayahnya. “Aku kangeeen… banget sama kalian! Seharian tanpa kalian rasanya bete banget… Apalagi ditemani oleh kakak yang tidak berperasaan itu... sindir Yuki.

   Ayah dan ibu tersenyum melihat Yuki, putri bungsunya yang selalu peduli pada orang lain. Ayah dan ibu masuk ke rumah bersama Yuki. Yuki seharian itu menghabiskan waktu bersama keluarganya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar