“Yuki! Kamu jaga rumah ya! Biar kakak juga bantu menjaga rumah dan kios !” perintah kak
Sandy.
“Apa?!
Itu kan tidak adil! Masa aku hanya menjaga rumah saja? kakak
dengan soknya menjaga rumah dan kios!”
kata Yuki.
“Ya…
kamukan masih kecil!!!” ejek kak Sandy.
“Ya
sudah… aku tidak akan menjaga depan maupun
belakang rumah!” kata Yuki.
“Menyebalkan!
Lagi pula kamu kan tidak bisa pencak silat!” kata kak Sandy.
“Kalau
gitu ajarkan aku!” kata Yuki.
“Tidak!
Aku maupun ayah tidak mungkin dan tidak mau mengajarkanmu! Tidak akan pernah!” pekik kak Sandy.
“Kenapa?
Kalau begitu aku tidak akan menjaga rumah!”
pekik Yuki dengan nada sama tingginya.
“Karena
itu dilarang! Lagi pula aku tidak sudi kok mengajarimu!” balas kak Sandy, lantang.
“Berarti,
sama saja kakak menginginkan kakak yang menjaga keduanya tanpa meminta
bantuanku!” jawab Yuki, bersunggut –
sunggut.
“Aku
tak peduli, huh!” jawab kak Sandy
tetap pada pendiriannya.
“Hu-uh!” kata Yuki lalu
masuk ke kamarnya sambil membanting pintu.
“MENJENGKELKAN!!!”
pekik kak Sandy.
“MENGESALKAN!!!”
jawab Yuki dengan nada yang sama tingginya.
Wow,
apa yang harus mereka lakukan ya? Mereka bertengkar, padahal… mereka kan
diwajibkan untuk menjaga rumah dan kios. Bagaimana yaa cerita selanjutnya? Akankah
mereka berhasil menjalankan tugas sepele itu dengan baik? Baca lanjutannya.
Yuki
justru pergi keluar rumah tanpa seizin dan setahu kak Sandy. Dia bertekad
melakukan sesuatu untuk seseorang untuk menunjukkan bahwa dia berhak dan pantas
bisa bela diri pencak silat.
Dia
berjalan saja menuju sebuah pasar di desanya yang ramai. Hm… biasanya di sini terjadi banyak
kejahatan seperti pencopetan, mungkin aku bisa memulainya dengan menangkap
pencopet.
Yang
benar saja, tak lama kemudian…
tiba – tiba terdengar suara… “COPET!!!” teriak seorang wanita tua. Dengan cepat
dan cekatan Yuki mengejar si pencopet. Dug!!! Pencopet itu pun tumbang. Yuki
tercengang. Di hadapannya ada seorang lelaki tua yang barusan mengalahkan copet
itu.
“Heh!
Dasar copet! Seenaknya saja mengambil dompet punya istriku!” kata lelaki tua
itu.
Merasa
diperhatikan, lelaki tua itu berkata pada Yuki: “Oh ya, terimakasih sudah
sedikit membantu.” Kata lelaki tua itu ramah.
“Bapak... kenapa bapak ada
disini?” tanya sang istri.
“Oh,
bapak tadi hanya sedang
membeli ikan.” Jelas lelaki tua itu.
“Terimakasih
ya nak sudah sedikit membantu
suami saya. Sebagai hadiahnya saya mengajakmu ke rumah saya, apakah kau mau?”
tanya sang istri.
“Ng…
eh… boleh, tapi… sebentar saja ya!” kata Yuki.
Yuki
di ajak ke rumah sepasang suami istri itu.
“Silakan
di makan… namamu siapa nak?” tanya sang istri.
“Namaku
Yuki, aku masih kelas 6 SD, sebentar lagi mau lulus kejenjang SMP.” Jelas Yuki.
“Apa
yang kau lakukan di pasar?” tanya lelaki tua itu.
“Saya
tadi sedang berkeliling. Ya… siapa tahu bisa membantu warga sekitar saya. Sebab
saya tadi bertengkar dengan kakak saya.” Jelas Yuki.
“Kok
bertengkar? Kenapa? Bertengkar gak baik lho,
nak…” nasihat sang istri.
“Iya,
soalnya, kakakku, kak Sandy dan ayahku bisa ilmu bela diri pencak silat, tapi
saat aku minta diajari, mereka menolak.
Aku jengkel, marah, kesal.” Cerita Yuki.
“Mungkin
itu ada sebabnya… tapi, jika kamu benar – benar ingin belajar pencak silat
kenapa tidak belajar saja?” tanya sang istri.
“Belajar
di mana?
Saya tidak mungkin kursus karena saya tidak punya cukup uang. Dan kalau pun
ada, pasti tidak ada yang mau mengajariku.” Jawab Yuki.
“Bener?
Kakek bisa lho pencak silat walau sudah tua.” Jelas lelaki tua itu.
“Benarkah?
Hm… oke, aku akan belajar pencak silat sama kakek. Masalah bayaran, mungkin…
Yuki harus menabung. Yuki memang mungkin boros, tapi bila untuk sesuatu yang
Yuki mau, Yuki akan berusaha untuk
berhemat.” Jelas Yuki.
“Oke,
Hm… bayarannya cukup Rp. 10.000 per bulan saja. Pelajaran akan dimulai sejak
lusa, sebab kamu harus izin dulu, Bagaimana?” usul kakek itu.
“Oke,
tapi di mana?
Dan jam berapa?” tanya Yuki.
“Di sini jam 17.00 sore.”
Jelas kakek.
“Oke
kek… hm… Yuki pulang dulu ya! Kalau
kelamaan, kak Sandy akan mencariku.” pamit Yuki.
“Ya,
tapi mulai sekarang panggil pak Yuda. Dan ibu Yurika. Bagaimana?” kata kakek itu yang ternyata bernama pak Yuda.
“Oke
pak Yuda.” Kata Yuki sambil hormat.
“Oke,
hati – hati di jalan ya Ki…” nasihat ibu Yurika.
“Iya
bu… assalamualaikum…”
“Walaikumsalam…”
Yuki
berjalan dengan senangnya pulang menuju rumah. Dia bahkkan saking senangnya
sampai berlari.
“Dari
mana saja kau?” tanya kak Sandy tajam.
“Ke
pasar!” jawab Yuki. “Jalan – jalan sedikitlah… di sini terlalu
membosankan! Memangnya tidak boleh?”
“Apa
tugasmu?” tanya kak Sandy tajam.
“Menjaga
depan dan belakang rumah,
tapi aku perginya toh tidak lama, hanya 15 menit kan?” kata Yuki santai.
Kak
Sandy diam saja tka berkomentar
apa – apa lagi.
“Besok
ayah akan diantar ibu pulang ke rumah. Pagi!” jelas kak Sandy.
“Ooh…”
jawab Yuki. Kak Sandy jadi sedikit heran, ada apa dengan Yuki? Kenapa sikapnya
berubah, yang tadinya bawel dan tidak pernah santai sekarang tumben banget
santai dan tidak bawel.
Memang sifat Yuki aneh sekali, bila hari biasa dia akan bawel, tidak pernah
santai, dan selalu mengeyel, tapi kalau senang, dia akan diam dan selalu
santai. Santai dalam mengerjakan sesuatu dan berkata – kata.
“Ada
apa denganmu?” tanya kak Sandy.
“Tidak
apa. Rahasia dong…” jawab Yuki. Membuat kak Sandy jadi penasaran, heran, dan
sedikit jengkel.
Setelah
itu Yuki mengambil buku kesukaannya yang berjudul ‘Lima Sekawan’ buku itu
adalah ciptaan atau karya dari penulis internasional yang bernama Enid Blyton.
Sudah sejak ibunya kecil cerita – ceritanya banyaaak sekali sampai sekarang pun
ceritanya masih ada dan masih terkenal. Ceritanya selalu disukai oleh para
pembaca. Pembaca yang menyukainya pun beragam – ragam, ada yang masih kecil,
remaja, orang dewasa, bahkan sampai orang tua sekaligus. Lanjut kecerita ya…
Mahgrib
ini Yuki terpaksa merasa sepi karena biasanya dia selalu sholat mahgrib bersama ayah dan ibunya,
tapi, kini ia hanya sholat berdua dengan kakaknya. Pikirannya selalu tertuju
pada kedua orangtuanya. Apakah ayahnya baik – baik saja? apakah ayahnya sudah
lebih baik dari sebelumnya? Apakah ayah ibunya sudah makan? Dan apakah ayah
ibunya sudah sholat? Selalu itu yang muncul di benak Yuki. Yuki merasa ingin
menangis bila berpisah dengan orangtuanya, apalagi kini ayahnya tengah
berbaring sakit. Ayah...cepat
sembuh ya...supaya kita bisa berkumpul lagi setiap hari..., Tuhan sehatkan
ayahku,batin Yuki.
Malamnya
pun Yuki merasa sepi, tiada yang menyiapkan makanan, dan dua kursi kosong.
Rasanya sepiii… sekali bila tidak ada kedua orangtuanya, tapi, dia makan dengan
lahapnya. Soalnya yang dia makan, makanan kesukaannya siih… ditambah dia memang
sedang lapar berat. Jadi maklum…
Jam
sudah menunjukkan pukul 12
malam, namun, Yuki belum juga tidur. Dia selalu turun dari tempat tidur untuk
minum, ke kamar mandi, atau pun mengintip kakaknya apakah sudah tidur atau
belum, tapi kakaknya sudah tertidur. Yuki tidak bisa berhenti memikirkan
orangtuanya. Yuki berkata dalam hati: jika aku tidak segera tidur, aku pasti
akan sakit dan lusa aku tidak akan bisa latihan pencak silat bersama pak Yuda.
Atau mungkin… aku akan lemas dan mengantuk esok. Tapi bagaimana dengan ayah dan
ibu? Ah, tak usah di pikirkan, yang jelas besok mereka akan kembali, lagi pula,
masa sih aku yang mau latihan silat ini malah mengkhawatirkan yang tidak –
tidak? Mengkhawatirkan orangtua memang maklum tapi bila berlebihan jadi tidak
wajar. Akhirnya, Yuki pun lelah memikirkan itu sehingga dia tertidur.
“Bangun!
Bangun! Sudah pagi dek!” seru kak Sandy sambil mengoyangkan tubuh adiknya.
Sontak Yuki terbangun. Kak Sandy lalu membuka gordin sehingga cahaya matahari
langsung masuk dan menyorot mata Yuki.
Yuki
pun keluar dari kamar sambil mengucek kedua matanya lalu menuju kamar mandi
untuk mencuci muka dan
mengelap mukanya dengan
handuk. Dia menuju ruang makan dan meminum susu putih buatan kakaknya. Namun tiba – tiba...
“HUEKKK!!!”
kata Yuki memuntahkan susu putih itu. “Hiak! Rasanya menjijikkan! Hambar! Mana rasa manisnya?”
komentar Yuki.
“Terus
kamu maunya susu putih macam apa?!” kata kak Sandy jengkel.
“Seperti
buatan ibu!” jawab Yuki dengan nada tinggi.
“Seperti
kamu bisa membuatnya saja! Masih mending dibuatkan!” kata kak Sandy dengan nada
yang sama tingginya dengan nada Yuki tadi.
“Aku
bisa! Rasanya pun pas! Dan ingat ya! Aku lebih baik tidak dibuatkan daripada
meminum susu putih tidak jelas dan memuakkan itu!” kata Yuki.
“Kalau
begitu buatkan!” pinta kak Sandy.
“Buat
apa? Aku minum sendiri? Kakak aja nggak
suka susu putih!” seru Yuki lalu pergi meninggalkan kak Sandy. “Kakak yang
membuat susu tidak menggunakan perasaan!”
“Hu-uh! Menjengkelkan!”
seru kak Sandy.
Yuki
joging sebentar keliling desa lalu kembali ke rumah untuk mandi. Seusai mandi,
kini giliran kak Sandy. Lalu mereka menunggu kedatangan kedua orangtua mereka.
Tiba
– tiba sebuah mobil milik kepala desa berhenti di depan rumah mereka, kak Sandy
mengintip keluar lewat jendela rumah mereka. Turunlah dua orang dewasa,
mereka adalah AYAH dan IBU!
Tanpa
menunggu lebih lama, Yuki dengan secepat kilat membuka pintu rumah dan pagarnya
lalu berlari menghambur kepelukkan ibunya.
“Ibu…”
serunya.
“Ayah!”
katanya berpaling pada ayahnya. Lalu ia segera memeluk ayahnya. “Aku kangeeen…
banget sama kalian! Seharian tanpa kalian rasanya bete banget… Apalagi ditemani oleh kakak yang tidak berperasaan
itu...”
sindir Yuki.
Ayah
dan ibu tersenyum melihat Yuki, putri bungsunya yang selalu peduli pada orang
lain. Ayah dan ibu masuk ke rumah bersama Yuki. Yuki seharian itu menghabiskan
waktu bersama keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar