Di hari Minggu ini, Lula, Gladis, dan Fatimah
pergi ke rumah Rinda, mereka berjanji akan hepi – hepian di rumah Rinda, mulai
main musik, berenang, ngobrol, jalan – jalan, bercerita dan pastinya membaca
buku diary. Mereka juga berjanji mengurusi meong dan bermain lompat tali
bersama.
Sehabis
berenang, mereka membaca buku diary.
Si Meong
Dear
diary, Mau tahu tidak, kenapa aku suka tanggal 7 April? Bukan… bukan ulang
tahun kak Kevin Aprilio grup band Vierra, atau pun ulang tahunku. Tetapi… karena ditemukannya
seekor anak kucing yang lucu. Ceritanya begini…
Pagi
ini, aku sarapan dua lembar roti tawar dengan mentega juga dengan keju. Selesai
sarapan, aku menjalankan aktifitas seperti biasa. Jam sudah menunjukkan 10.00
pagi, tiba – tiba, ada suara memanggilku.
“Assalamualaikum…”
sapa suara itu.
Aku pun
menjawab: “Walaikumsalam…”
Ternyata,
teman – temanku datang bermain, antara lain Lula, Gladis, dan Fatimah. Karena
kami sudah berjanji mengerjakan PR bersama dan bermain congklak dan lompat
tali.
Saat
sedang asyik bermain congklak di teras rumah. Tiba – tiba, kudengar suara
mengeong yang lemah. Aku berhenti bermain dan terdiam sejenak.
“Hei!!!
Ayo main!!!” kata teman – temanku berbarengan.
“Tunggu,
tunggu, sabarlah… sst…” kataku.
“Ada
apa sih?” tanya Lula pelan.
“Barusan
aku mendengar suara meongan kucing kecil yang lirih.” Kataku.
“Bagaimana
kita cari saja asal suara itu?” usul Gladis.
“Oke,
ide yang bagus.” Kataku menyetujui.
Kami
mencari asal suara itu diantara semak – semak yang ada di kebunku.
“Aha!
Itu dia!” kataku.
Teman –
temanku menghampiriku.
Rupanya,
ada seekor kucing kecil sedang berbaring berwarna hitam-putih dan tampak
kakinya berdarah sedikit, mungkin dia terkena duri mawar. Kucing itu berumur sekitar 3 bulanan.
Aku
berkata: “Gladis, tolong ke dapurku! Ambilkan susu dan makanan untuknya!
Fatimah tolong ambilkan kain selimut yang tebal untuknya juga alas, Lula!
Tolong ambilkan betadine di kotak P3K-ku.” Pintaku.
“Oke.”
Kami
berbagi tugas untuk mengobati kaki kucing itu.
Setelah
kaki kucing itu diobati kami menidurkannya di bawah meja yang berada di
terasku, agar terlindungi dari berbagai macam bahaya. Di tempat itu memang
tertutup dari kucing – kucing lain, karena tertutup semak – semak yang cukup
tinggi.
Setelah
seminggu merawat kucing itu, kami sepakat akan memberinya nama, namun,
sayangnya, diantara semua sahabatku hanya aku yang boleh memelihara kucing.
Akhirnya, kami sepakat akan merawat kucing itu di rumahku dan nama kucing itu
adalah meong seperti suaranya saat pertama kali bertemu.
Mulai
sejak itu, hampir setiap minggu bila tidak ada halangan, teman – temanku main
ke rumahku untuk melihat perkembangan si Meong dan membantu aku merawatnya.
Thanks
Rinda Mutiara Murni
“Iih…
so sweet bangeeettt…” kata Gladis.
“Iya,
aku jadi ingat pas… kita… ketemu meong, waktu itu kita lagi main congklak seru
– seruankan? Udah gitu, akhirnya, kita gak jadi ngapa – ngapain kecuali
ngurusin kucing dan berdiskusi tentang kucing.” Kata Fatimah.
“Iya,
itu hal terlucu pas mbak Eka marah – marahin kita karena congklak di tengah
jalan. Di teras lagi. Hihihi…” kata Rinda tertawa kecil.
“Huahahahahahahahahahaha.”
Tawa mereka serempak.
“Eh,
perut aku laper niih… balik ke rumah Rinda yuk untuk makan!” ajak Fatimah
sambil memegangi perutnya.
“Oke
deh!” jawab semuanya serempak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar