Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 5

  Di hari Minggu ini, Lula, Gladis, dan Fatimah pergi ke rumah Rinda, mereka berjanji akan hepi – hepian di rumah Rinda, mulai main musik, berenang, ngobrol, jalan – jalan, bercerita dan pastinya membaca buku diary. Mereka juga berjanji mengurusi meong dan bermain lompat tali bersama.

   Sehabis berenang, mereka membaca buku diary.

Si Meong

   Dear diary, Mau tahu tidak, kenapa aku suka tanggal 7 April? Bukan… bukan ulang tahun kak Kevin Aprilio grup band Vierra, atau pun ulang tahunku. Tetapi… karena ditemukannya seekor anak kucing yang lucu. Ceritanya begini…
   Pagi ini, aku sarapan dua lembar roti tawar dengan mentega juga dengan keju. Selesai sarapan, aku menjalankan aktifitas seperti biasa. Jam sudah menunjukkan 10.00 pagi, tiba – tiba, ada suara memanggilku.
   “Assalamualaikum…” sapa suara itu.
   Aku pun menjawab: “Walaikumsalam…”
   Ternyata, teman – temanku datang bermain, antara lain Lula, Gladis, dan Fatimah. Karena kami sudah berjanji mengerjakan PR bersama dan bermain congklak dan lompat tali.
   Saat sedang asyik bermain congklak di teras rumah. Tiba – tiba, kudengar suara mengeong yang lemah. Aku berhenti bermain dan terdiam sejenak.
   “Hei!!! Ayo main!!!” kata teman – temanku berbarengan.
   “Tunggu, tunggu, sabarlah… sst…” kataku.
   “Ada apa sih?” tanya Lula pelan.
   “Barusan aku mendengar suara meongan kucing kecil yang lirih.” Kataku.
   “Bagaimana kita cari saja asal suara itu?” usul Gladis.
   “Oke, ide yang bagus.” Kataku menyetujui.
   Kami mencari asal suara itu diantara semak – semak yang ada di kebunku.
   “Aha! Itu dia!” kataku.
   Teman – temanku menghampiriku.
   Rupanya, ada seekor kucing kecil sedang berbaring berwarna hitam-putih dan tampak kakinya berdarah sedikit, mungkin dia terkena duri mawar. Kucing itu berumur sekitar 3 bulanan.
   Aku berkata: “Gladis, tolong ke dapurku! Ambilkan susu dan makanan untuknya! Fatimah tolong ambilkan kain selimut yang tebal untuknya juga alas, Lula! Tolong ambilkan betadine di kotak P3K-ku.” Pintaku.
   “Oke.”
   Kami berbagi tugas untuk mengobati kaki kucing itu.
   Setelah kaki kucing itu diobati kami menidurkannya di bawah meja yang berada di terasku, agar terlindungi dari berbagai macam bahaya. Di tempat itu memang tertutup dari kucing – kucing lain, karena tertutup semak – semak yang cukup tinggi.
   Setelah seminggu merawat kucing itu, kami sepakat akan memberinya nama, namun, sayangnya, diantara semua sahabatku hanya aku yang boleh memelihara kucing. Akhirnya, kami sepakat akan merawat kucing itu di rumahku dan nama kucing itu adalah meong seperti suaranya saat pertama kali bertemu.
   Mulai sejak itu, hampir setiap minggu bila tidak ada halangan, teman – temanku main ke rumahku untuk melihat perkembangan si Meong dan membantu aku merawatnya.
   Thanks
Rinda Mutiara Murni

   “Iih… so sweet bangeeettt…” kata Gladis.
   “Iya, aku jadi ingat pas… kita… ketemu meong, waktu itu kita lagi main congklak seru – seruankan? Udah gitu, akhirnya, kita gak jadi ngapa – ngapain kecuali ngurusin kucing dan berdiskusi tentang kucing.” Kata Fatimah.
   “Iya, itu hal terlucu pas mbak Eka marah – marahin kita karena congklak di tengah jalan. Di teras lagi. Hihihi…” kata Rinda tertawa kecil.
   “Huahahahahahahahahahaha.” Tawa mereka serempak.
   “Eh, perut aku laper niih… balik ke rumah Rinda yuk untuk makan!” ajak Fatimah sambil memegangi perutnya.

   “Oke deh!” jawab semuanya serempak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar