Sabtu, 04 Oktober 2014

Persembahan untuk Tante Lutfi


    Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku senang... sekali... sebab, semua keluargaku akan datang ke rumahku. Mulai dari keluarga om Agus dan tante Lutfi hingga kakek dan nenek. Aku sudah tidak sabar bermain dengan Aqila, anak dari om Agus dan tante Lutfi. Sama seperti orangtuanya, Aqila baik dan ramah. Aqila baru berumur 5 tahun. Aku juga sudah tidak sabar memakan puding coklat dan brownies coklat buatan nenek. Ya, nenekku memang pandai sekali memasak. Dan yang paling ku tunggu – tunggu tentu saja kado dari mereka semua. Hehehe... aku sudah penasaran hadiah apa yang akan mereka berikan untukku.
   Pagi – pagi sekali ayah dan ibu membangunkanku. Mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun dan tentu saja kado. Begitu pula dengan kakakku. Kami lalu segera menyiapkan semuanya.
   Pukul 10 pagi pun tiba. Sebuah mobil Peugeot berwarna hitam berhenti tepat di rumahku. Sosok perempuan cantik turun dari mobil bersama seorang gadis kecil berkepang dua. Juga dua orang yang sangat ku kenal. Ya, tante Lutfi dan keluarganya datang bersama kakek dan nenek. Aku segera berhamburan ke pelukan mereka. Aku kangeeen... sekali dengan mereka. Aku mencium kedua tangan mereka dan mengajak mereka memasuki rumah.
   Pertama – tama kami berdo’a terlebih dahulu, lalu, aku meniup lilinnya dengan iringan lagu selamat ulang tahun. Setelah meniup lilin, aku memotong kue-nya dan membagi – bagikannya kepada semua yang hadir.
   Lalu, kami sekeluarga makan siang bersama. Menu siang ini adalah nasi kuning, lengkap dengan telur dadar, ayam kremes, abon, kering tempe, bawang goreng, sambal, dan tentu saja lalapan. Kami sekeluarga makan dengan lahapnya.
   Seusai makan, kami bermain bersama hingga sore. Om Agus dan keluarganya akhirnya pulang. Om Agus sebelum pulang akan mengantar kakek dan nenek pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
   “Jadi anak yang pandai, rajin, sholeh, baik, dan berbakti pada orangtua, ya!” kata nenek, sebelum pulang. Nenek lalu mencium kening dan kedua pipiku.
   “Iya, nek.” jawabku.
   “Ingat lho! Liburan nanti datanglah berkunjung ke rumah nenek, ya! nenek punya kejutan untukmu.” pesan nenek.
   “Oke, nek! Ara janji.” jawabku.
   Nenek tersenyum. Sedangkan kakek hanya mengusap lembut rambutku dengan penuh kasih sayang .
   Mobil Peugeot berwarna hitam yang membawa kakek dan nenek serta tante Lutfi dan keluarganya pun melaju kencang meninggalkan rumahku.
   Saatnya membuka kado!!!
   Pertama, kuambil kado dari ayah, lalu ku buka kadonya. Rupanya beberapa buku novel anak DAR! Mizan. Ada PCPK, KKPK, hingga PBC. Wuiiih... asyiiiik... aku memang hobi membaca dan menulis cerita. Aku ingin sekali salah satu karyaku dikirimkan ke salah satu penerbit supaya bisa dibukukan seperti dikirim ke PCPK, KKPK, dan PBC. Koleksi novel – novel anak-ku sudah banyak karena setiap ada yang terbit aku selalu membelinya. Mungkin aku mempunyai semua judul. Oya, ada pesan dari ayah, begini tulisannya, ‘Buku adalah jendela ilmu, semoga buku – buku ini bermanfaat dan bisa memotivasi kamu dalam menulis.
   Lalu aku mengambil kado dari ibu, lalu ku buka kadonya. Sebuah Diary berwarna kuning bergambar Angry Birds dengan sebuah kunci gembok. Ku baca pesan dari ibu, ‘Semoga dengan Diary yang ibu berikan padamu, hobi menulismu kian terasah.’
   Setelah kado dari ibu, aku mengambil kado dari kakak dan ku buka kado tersebut. Wow! Baju dan aksesoris yang cantik, lucu, dan imut. Aku suka sekali hadiah ini... Salah satu bajunya bergambar Angry Birds. Ya, aku memang terkena demam Angry Birds. Sejak Angry Birds muncul, aku selalu mengoleksi gamenya dan semuanya yang berhubungan dengan Angry Birds. Mau itu di laptopku hingga di HP Android milikku. Aah jadi ngomong yang nggak keruan deh! lanjut ke ceritaaa...
   Ku raih sebuah kado dari kakek dan ku buka kado tersebut. Aku mendapatkan beberapa boneka Shaun the Sheep. Pesan yang ditulis kakekku cukup singkat yaitu hanya, ‘Belajar yang rajin, ya!’ Walau tulisannya bersambung dan sedikit berantakan, aku masih bisa membacanya walau sedikit sulit.
   Setelah kado dari kakek, ku buka kado dari nenek. Nenek memberikanku beberapa alat untuk menyulam dan sebuah gaun yang cantiiik... sekali. Ya, nenekku memang pandai memasak, menyulam, dan berkebun. Hehehe... mungkin hobi kali, ya? Begini pesan yang beliau tulis, ‘Semoga dengan kado dari nenek ini, kamu jadi hobi menyulam...’ Aku tertawa membacanya. Hahaha... nenek tahu saja sih bahwa aku tidak suka menjahit.
   Terakhir, kado dari Tante Lutfi yang mewakili Om Agus dan Aqila. Sebuah kado yang dibungkus sampul kado berwarna pink dihiasi pita berwarna biru tua, sangat cantik. Aku lalu membukanya. Rupanya, Tante Lutfi memberikanku sebuah kotak binder bergambar Minnie beserta beberapa binder di dalamnya. Ada banyak sekali kertas binder. Salah satunya bergambar Angry Birds dan Shaun The Sheep. Tante Lutfi tahu saja bahwa aku suka Minnie apalagi mengoleksi binder. Kira – kira, aku sudah memiliki 4 kotak binder. Lalu, kalau ditambah ini, jadi 5 deh! Dan semua kotak binder itu sudah penuh. Uniknya lagi, di dalam kotak binder itu terdapat surat dari tante Lutfi untukku. Ini dia bacaannya, ‘Selamat ulang tahun Ara... semoga panjang umur, tambah pinter, tambah berprestasi, tambah banyak lagi karyanya dalam bidang tulis – menulis. Semoga juga tulisannya bisa jadi novel ya... Di tunggu lho, novel karya Ara ada di toko buku... Salam sayang selalu dari Tante Lutfi, Om Agus, dan Aqila.’ Wow! Ini adalah surat yang paling memotivasi diriku. Aku senang sekali mendapat surat itu. Aku jadi lebih semangat menulis.
   Sejak saat itu, aku selalu menulis cerita di sebuah buku tulis kosong milikku, lalu ku salin ke komputer. Aku juga jadi sering menulis Diary mengenai kejadian yang ku alami hari ini. Semua berkat orang – orang di sekitarku yang selalu menyemangatiku dalam hal positif.
   Beberapa minggu kemudian, ceritaku selesai ku buat dan ku kirim ke penerbit. Aku yakin, saat sudah dibukukan nanti, akan menjadi moment yang sangat membahagiakan untuk tante Lutfi.
   “Anak – anak, hari ini kita jenguk tante Lutfi di rumah sakit, ya!” kata ayah.
   “Lho? Kenapa? Memangnya tante Lutfi sakit apa?tanyaku, kaget. Diikuti anggukan kakakku.
   “Tante Lutfi sakit ginjal dan usus buntu. Ibu juga baru dikasih tahu sama Om Agus tadi pagi. Tante Lutfi di rawat di rumah sakit di Bekasi.” jawab ibu.
   “Ayo cepat berbenah diri! 15 menit lagi kita berangkat!” kata ayah.
   Sesampainya di rumah sakit, kami segera menuju lantai dan kamar yang dimaksud. Saat bertemu tante Lutfi, wajahnya sangat pucat pasi. Aku menghampiri beliau.
   “Tante, terimakasih ya atas surat dan hadiahnya... Aku senang sekali... sangat memotivasi-ku dalam hal menulis.” kataku.
   “Sama – sama, Ara. Dulu, tante juga ingin menjadi penulis sepertimu, tapi, tante... tidak sempat menjadi penulis karena... orangtua tante tidak mengizinkan tante menjadi penulis, orangtua tante ingin tante menjadi pengusaha sukses. Karena itu, tante ingin melihatmu menjadi penulis bila sudah besar nanti.” kata tante Lutfi, lemah tapi tersenyum. Sambil mengusap rambutku penuh kasih sayang.
   Aku hampir menangis mendengar cerita tante Lutfi.
   “Sudahlah Lutfi, jangan terlalu banyak bergerak. Kondisimu masih lemah.” kata ibu.
   “Iya, kak!” jawab tante Lutfi.
   Sepulang dari rumah sakit, aku langsung menulis sebanyak khayalanku. Aku akan membuat tante Lutfi bangga dan tersenyum melihat hasil karyaku. Mungkin, walau tante tidak bisa merasakan menjadi penulis, akulah yang akan menggantikannya. Batinku.
   Beberapa bulan kemudian... penerbit menelepon ibuku. Tentu saja aku senang! Karena ceritaku yang aku kirim akhirnya akan diterbirkan. Kata sang penerbit, bukuku akan diterbitkan 9 bulan lagi. Tentu saja aku senang, yang aku tunggu – tunggu pun akhirnya tiba. Sayangnya, tante Lutfi belum juga sembuh, walau sudah keluar dari rumah sakit. Aku lalu menunggu dan menunggu.
   Tapi, aku juga tetap menulis cerita. Menulis dan menulis. Beberapa karyaku itu aku kirim ke majalah dan penerbit. Setiap ada lomba menulis cerita baik di dalam sekolah mau pun di luar sekolah aku selalu ikut dan beberapa berhasil menang.
   Bulan yang ditentukan pun tiba... aku sudah tidak sabar lagi melihat bukuku itu. Suatu ketika, datang pak pos mengirimkan paket, ternyata dari penerbit! Paket itu berisi 5 buku karyaku. Tentu saja aku senang. Ku buka 1 diantaranya dan sisanya masih dalam keadaan disegel. Rencananya, aku akan memberikan sisanya pada guru wali kelasku, guru bahasa Indonesia, perpustakaan sekolah, dan tante Lutfi.
Setelah selesai membaca buku karyaku itu, ku cari bungkus kado di gudang, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, aku hiasi saja buku itu dengan pita berwarna kuning keemas – emasan dan penuh glitter. Selesai sudah! Setelah selesai, aku keluar dari kamar menuju kamar ayah dan ibu untuk mengatakan besok aku ingin menjenguk tante Lutfi di rumahnya.
   Baru saja aku ingin menginjakkan kaki ku di kamar ayah dan ibu, aku mendengar isak tangis ibu.
   “Janganlah menangis terus, bu. Itu memang sudah takdir. Kematian seseorang tidak ada yang tahu. Semoga saja amal ibadah tante Lutfi diterima disisiNya.” hibur kakak.
   Deg! Tiba – tiba tubuhku melemas. Buku karyaku yang hendak ku berikan pada tante Lutfi jatuh seketika. Mengapa tante Lutfi dipanggil secepat ini? Baru saja aku ingin memberikan buku karyaku kepadanya.
   “Benarkah itu ibu?” tanyaku. Aku memberanikan diri memasuki kamar tapi dengan wajah tegang. Masih menangis, ibu mengangguk dan memelukku.
   “Padahal, Ara ingin memberikan kejutan untuk tante Lutfi. Yaitu buku karya Ara ini... Ara yakin dengan kejutan kecil ini, tante Lutfi akan senang bahkan bisa sembuh...” tangisku. Ibu memelukku dan kakak sambil tetap menangis.
   Akhirnya, dengan diantarkan kakak, kami pergi melayat. Terlihat sekali Aqila dan om Agus sangat terpukul dengan kepergian tante Lutfi. Aku lalu menyerahkan buku karyaku itu pada om Agus.

   “Tanteku tercinta, ini buku cerita pertamaku yang terbit. Inginnya kupersembahkan buatmu. Terimakasih sudah memberiku semangat hingga aku berhasil...” batinku sambil terisak. Semoga tante Lutfi merasakan semua ini dan semoga tante Lutfi tenang dalam kebahagiaan yang abadi di sana, aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar