Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku
senang... sekali... sebab, semua keluargaku akan datang ke rumahku. Mulai dari
keluarga om Agus dan tante Lutfi hingga kakek dan nenek. Aku sudah tidak sabar
bermain dengan Aqila, anak dari om Agus dan tante Lutfi. Sama seperti
orangtuanya, Aqila baik dan ramah. Aqila baru berumur 5 tahun. Aku juga sudah
tidak sabar memakan puding coklat dan brownies coklat buatan nenek. Ya, nenekku
memang pandai sekali memasak. Dan yang paling ku tunggu – tunggu tentu saja
kado dari mereka semua. Hehehe... aku sudah penasaran hadiah apa yang akan
mereka berikan untukku.
Pagi
– pagi sekali ayah dan ibu membangunkanku. Mereka memberikan ucapan selamat
ulang tahun dan tentu saja kado. Begitu pula dengan kakakku. Kami lalu segera
menyiapkan semuanya.
Pukul
10 pagi pun tiba. Sebuah mobil Peugeot
berwarna hitam berhenti tepat di rumahku. Sosok perempuan cantik turun dari
mobil bersama seorang gadis kecil berkepang dua. Juga dua orang yang sangat ku
kenal. Ya, tante Lutfi dan keluarganya datang bersama kakek dan nenek. Aku
segera berhamburan ke pelukan mereka. Aku kangeeen... sekali dengan mereka. Aku mencium kedua tangan
mereka dan mengajak mereka memasuki rumah.
Pertama
– tama kami berdo’a terlebih dahulu, lalu, aku meniup lilinnya dengan iringan
lagu selamat ulang tahun. Setelah meniup lilin, aku memotong kue-nya dan
membagi – bagikannya kepada semua yang hadir.
Lalu,
kami sekeluarga makan siang bersama. Menu siang ini adalah nasi kuning, lengkap
dengan telur dadar, ayam kremes, abon, kering tempe, bawang goreng, sambal, dan tentu saja lalapan.
Kami sekeluarga makan dengan lahapnya.
Seusai
makan, kami bermain bersama hingga sore. Om Agus dan keluarganya akhirnya
pulang. Om Agus sebelum pulang akan mengantar kakek dan nenek pulang ke
rumahnya terlebih dahulu.
“Jadi
anak yang pandai, rajin, sholeh, baik, dan berbakti pada orangtua, ya!” kata
nenek, sebelum pulang. Nenek lalu mencium kening dan kedua pipiku.
“Iya,
nek.” jawabku.
“Ingat
lho! Liburan nanti datanglah berkunjung ke rumah nenek, ya! nenek punya kejutan
untukmu.” pesan nenek.
“Oke,
nek! Ara janji.” jawabku.
Nenek
tersenyum. Sedangkan kakek hanya mengusap lembut rambutku dengan penuh kasih
sayang .
Mobil
Peugeot berwarna hitam yang membawa
kakek dan nenek serta tante Lutfi dan keluarganya pun melaju kencang
meninggalkan rumahku.
Saatnya
membuka kado!!!
Pertama,
kuambil kado dari ayah, lalu ku buka kadonya. Rupanya beberapa buku novel anak DAR! Mizan. Ada PCPK, KKPK, hingga PBC. Wuiiih...
asyiiiik... aku memang hobi membaca dan menulis cerita. Aku ingin sekali salah satu karyaku
dikirimkan ke salah satu penerbit supaya bisa dibukukan seperti dikirim ke
PCPK, KKPK, dan PBC. Koleksi novel
– novel anak-ku sudah banyak karena setiap
ada yang terbit aku
selalu membelinya. Mungkin aku mempunyai semua judul. Oya, ada pesan dari ayah,
begini tulisannya, ‘Buku adalah jendela
ilmu, semoga buku – buku ini bermanfaat dan bisa memotivasi kamu dalam menulis.’
Lalu
aku mengambil kado dari ibu, lalu ku buka kadonya. Sebuah Diary berwarna kuning bergambar Angry
Birds dengan sebuah kunci gembok. Ku baca pesan dari ibu, ‘Semoga dengan Diary yang ibu berikan padamu,
hobi menulismu kian terasah.’
Setelah
kado dari ibu, aku mengambil kado dari kakak dan ku buka kado tersebut. Wow!
Baju dan aksesoris yang cantik, lucu, dan imut. Aku suka sekali hadiah ini...
Salah satu bajunya bergambar Angry Birds. Ya, aku memang terkena demam Angry
Birds. Sejak Angry Birds muncul, aku selalu mengoleksi gamenya dan semuanya
yang berhubungan dengan Angry Birds. Mau itu di laptopku hingga di HP Android milikku. Aah jadi ngomong yang
nggak keruan deh! lanjut ke ceritaaa...
Ku
raih sebuah kado dari kakek dan ku buka kado tersebut. Aku mendapatkan beberapa boneka Shaun the Sheep.
Pesan yang ditulis kakekku cukup singkat yaitu hanya, ‘Belajar yang rajin, ya!’ Walau tulisannya bersambung dan sedikit
berantakan, aku masih bisa membacanya walau sedikit sulit.
Setelah
kado dari kakek, ku buka kado dari nenek. Nenek memberikanku beberapa alat
untuk menyulam dan sebuah gaun yang cantiiik... sekali. Ya, nenekku memang
pandai memasak, menyulam, dan berkebun. Hehehe... mungkin hobi kali, ya? Begini
pesan yang beliau tulis, ‘Semoga dengan
kado dari nenek ini, kamu jadi hobi menyulam...’ Aku tertawa membacanya.
Hahaha... nenek tahu saja sih bahwa aku tidak suka menjahit.
Terakhir,
kado dari Tante Lutfi yang mewakili Om Agus dan Aqila. Sebuah kado yang
dibungkus sampul kado berwarna pink dihiasi pita berwarna biru tua, sangat
cantik. Aku lalu membukanya. Rupanya, Tante Lutfi memberikanku sebuah kotak
binder bergambar Minnie beserta beberapa binder di dalamnya. Ada banyak sekali
kertas binder. Salah satunya bergambar Angry Birds dan Shaun The Sheep.
Tante Lutfi tahu saja bahwa aku suka Minnie apalagi mengoleksi binder. Kira –
kira, aku sudah memiliki 4 kotak binder. Lalu, kalau ditambah ini, jadi 5 deh!
Dan semua kotak binder itu sudah penuh. Uniknya lagi, di dalam kotak binder itu
terdapat surat dari tante Lutfi untukku. Ini dia bacaannya, ‘Selamat ulang tahun Ara... semoga panjang
umur, tambah pinter, tambah berprestasi, tambah banyak lagi karyanya dalam
bidang tulis – menulis. Semoga juga tulisannya bisa jadi novel ya... Di tunggu lho, novel karya Ara ada
di toko buku...
Salam sayang selalu dari Tante Lutfi, Om Agus, dan Aqila.’
Wow! Ini adalah surat yang paling memotivasi diriku. Aku senang sekali mendapat
surat itu. Aku jadi lebih semangat menulis.
Sejak
saat itu, aku selalu menulis cerita di sebuah buku tulis kosong milikku, lalu
ku salin ke komputer. Aku juga jadi sering menulis Diary mengenai kejadian yang
ku alami hari ini. Semua berkat orang – orang di sekitarku yang selalu
menyemangatiku dalam hal positif.
Beberapa
minggu kemudian, ceritaku selesai ku buat dan ku kirim ke penerbit. Aku yakin,
saat sudah dibukukan nanti, akan menjadi moment
yang sangat membahagiakan untuk tante Lutfi.
“Anak
– anak, hari ini kita jenguk tante Lutfi di rumah sakit, ya!” kata ayah.
“Lho?
Kenapa? Memangnya tante Lutfi sakit apa?” tanyaku,
kaget. Diikuti anggukan kakakku.
“Tante
Lutfi sakit ginjal dan usus buntu. Ibu juga baru dikasih tahu sama Om Agus tadi
pagi. Tante Lutfi di rawat di rumah sakit di Bekasi.” jawab ibu.
“Ayo
cepat berbenah diri! 15 menit lagi kita berangkat!” kata ayah.
Sesampainya
di rumah sakit, kami segera menuju lantai dan kamar yang dimaksud. Saat bertemu
tante Lutfi, wajahnya sangat pucat
pasi. Aku menghampiri beliau.
“Tante,
terimakasih ya atas surat dan hadiahnya... Aku senang sekali... sangat
memotivasi-ku dalam hal menulis.” kataku.
“Sama
– sama, Ara. Dulu, tante juga ingin menjadi penulis sepertimu, tapi, tante...
tidak sempat menjadi penulis karena... orangtua tante tidak mengizinkan tante
menjadi penulis, orangtua tante
ingin tante menjadi pengusaha sukses. Karena itu,
tante ingin melihatmu menjadi penulis bila sudah besar nanti.” kata tante
Lutfi, lemah tapi tersenyum. Sambil mengusap rambutku penuh kasih sayang.
Aku
hampir menangis mendengar cerita tante Lutfi.
“Sudahlah
Lutfi, jangan terlalu banyak bergerak. Kondisimu masih lemah.” kata ibu.
“Iya,
kak!” jawab tante Lutfi.
Sepulang
dari rumah sakit, aku langsung menulis sebanyak khayalanku. Aku akan membuat
tante Lutfi bangga dan tersenyum melihat hasil karyaku. Mungkin, walau tante
tidak bisa merasakan menjadi penulis, akulah yang akan menggantikannya.
Batinku.
Beberapa
bulan kemudian... penerbit menelepon ibuku. Tentu saja aku senang! Karena
ceritaku yang aku kirim akhirnya
akan diterbirkan. Kata sang penerbit, bukuku akan diterbitkan 9 bulan lagi. Tentu saja
aku senang, yang aku tunggu – tunggu pun akhirnya tiba. Sayangnya, tante Lutfi
belum juga sembuh, walau sudah keluar dari rumah sakit. Aku lalu menunggu dan
menunggu.
Tapi,
aku juga tetap menulis cerita. Menulis dan menulis. Beberapa karyaku itu aku
kirim ke majalah dan penerbit. Setiap ada lomba menulis cerita baik di dalam
sekolah mau pun di luar sekolah aku selalu ikut dan beberapa berhasil menang.
Bulan
yang ditentukan pun tiba... aku sudah tidak sabar lagi melihat bukuku itu. Suatu ketika, datang pak pos mengirimkan paket, ternyata
dari penerbit! Paket itu berisi 5 buku karyaku. Tentu saja aku senang. Ku buka
1 diantaranya dan sisanya masih dalam keadaan disegel. Rencananya, aku akan
memberikan sisanya pada guru wali kelasku, guru bahasa Indonesia, perpustakaan
sekolah, dan tante Lutfi.
Setelah
selesai membaca buku karyaku itu, ku cari bungkus
kado di gudang, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, aku hiasi saja buku itu
dengan pita berwarna kuning keemas – emasan dan penuh glitter. Selesai sudah!
Setelah selesai, aku keluar dari kamar menuju kamar ayah dan ibu untuk
mengatakan besok aku ingin menjenguk tante Lutfi di rumahnya.
Baru
saja aku ingin menginjakkan kaki ku di kamar ayah dan ibu, aku mendengar isak
tangis ibu.
“Janganlah
menangis terus, bu. Itu memang sudah
takdir. Kematian seseorang tidak ada yang
tahu. Semoga saja amal ibadah tante Lutfi diterima disisiNya.” hibur kakak.
Deg!
Tiba – tiba tubuhku melemas. Buku karyaku yang hendak ku berikan pada tante
Lutfi jatuh seketika. Mengapa tante Lutfi dipanggil secepat ini? Baru saja aku
ingin memberikan buku karyaku kepadanya.
“Benarkah
itu ibu?” tanyaku. Aku memberanikan diri memasuki kamar tapi dengan wajah
tegang. Masih menangis, ibu mengangguk dan memelukku.
“Padahal,
Ara ingin memberikan kejutan untuk tante Lutfi. Yaitu buku karya Ara ini... Ara
yakin dengan kejutan kecil ini, tante Lutfi akan senang bahkan bisa sembuh...”
tangisku. Ibu memelukku dan kakak sambil
tetap menangis.
Akhirnya,
dengan diantarkan kakak, kami pergi melayat. Terlihat sekali Aqila dan om Agus
sangat terpukul dengan kepergian tante Lutfi. Aku
lalu menyerahkan buku karyaku itu pada om Agus.
“Tanteku tercinta, ini buku cerita pertamaku yang terbit.
Inginnya kupersembahkan buatmu. Terimakasih sudah memberiku semangat hingga aku
berhasil...” batinku sambil terisak. Semoga tante
Lutfi merasakan semua ini dan semoga
tante Lutfi tenang dalam kebahagiaan yang
abadi di sana, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar