Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 14

   Tak terasa tahun – tahun terlewati... Sekarang, Rinda sudah duduk dibangku SMP. Suatu ketika, Rinda mendapat kabar bahwa di daerah tempat tinggal teman – temannya yang dulu termasuk rumah Lula, Gladis, dan Fatimah terkena musibah banjir. Rinda pun bersikeras untuk pergi ke Jakarta hanya untuk melihat kabar teman – temannya. Akhirnya, Rinda ditemani keluarganya datang ke Jakarta. Namun, hanya Rinda yang mencari rumah teman – temannya.

   Rupanya banjir telah membuat jalanan menjadi kotor, licin, dan penuh dengan sampah. Untung Rinda masih ingat jalan di sekitar situ. Dia pun mencoba untuk melihat SD-nya dulu. SD-nya yang dulu megah dan bersih kini menjadi kotor karena banjir. Namun beruntung, banjirnya tidak terlalu tinggi hingga tidak memasuki kelas.
   “Rinda?” sapa suara itu. Rinda menoleh. Dilihatnya perempuan manis sebayanya yang berambut panjang. “Lula?” tanya Rinda, tak percaya.
   “Benar kamu Rinda? Ya ampun Rind... sudah bertahun – tahun kita tidak bertemu... ternyata sekarang rambutmu panjang...” kata Lula. Mereka pun berpelukan.
   “Kau juga tidak berubah, La... kau sama saja seperti dulu... itu yang membuatku yakin bahwa suara yang memanggilku tadi adalah kau.” Balas Rinda.
   “Bagaimana dengan banjir di rumahmu?” tanya Rinda.
   “Ah, tidak begitu parah... Hanya di jalanan saja kok! Tidak sampai memasuki halaman rumah. Hehehe...” jelas Lula.
   “Ooh... syukurlah kalau begitu... apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rinda.
   “Ayahku sedang sibuk memindahkan dokumen – dokumen berharga milik sekolah, dan aku sibuk mengangkutnya kembali seusai banjir. Hehehe...” jelas Lula sambil cekikikan.
   “Hmm... apakah rumahnya Gladis dan Fatimah juga terkena banjir?” tanya Rinda.
   Lula mengangkat bahu, “Entahlah... setahuku daerah kompleksnya Gladis tidak banjir siih... kalau Fatimah... kurang tahu juga aku.”
   “Oh ya, kamu satu sekolah sama siapa aja, La?” tanya Rinda.
   “Sama Fenny, Alisya, dan Tasya.” Jelas Lula.
   “Gladis? Fatimah?” tanya Rinda, lagi.
   “Gladis satu sekolah sama Gloria, Putri, Vian, dan Lucky. Kalau Fatimah satu sekolah sama Vivi, Santi, dan Kamilla.” Jelas Lula, lagi.
   “Kok kamu tahu semua deh, La? Emangnya ayahmu tahu semua?” tanya Rinda kaget.
   “Hehehe... kan waktu kelas 6 kita sekelas semua...” tawa Lula.
   “Maksudnya?” Rinda tak mengerti.
   “Aku sekelas sama Gladis, Fatimah, Gloria, Putri, Vian, Lucky, Vivi, Santi, Kamilla, Fenny, Alisya, dan Tasya. Enak kan?” goda Lula.
   “Ih... aku jadi envy deeh! Hahaha...” tawa Rinda.
   “Eh, kita jalan – jalan ke kompleksnya Gladis yuk!” ajak Lula. Lalu mereka segera berjalan menuju kompleks rumah Gladis.
   “Kita ngapain ke sini?” tanya Rinda, bingung. Lula hanya mengangkat bahu. Mereka akhirnya jalan – jalan sambil bercakap – cakap. Tiba – tiba di tengah jalan...
   “Eh Rind, itu kok kayak Gladis yaa?” tanya Lula.
   “Mana?” tanya Rinda.
   “Itu tuh...” tunjuk Lula.
   “Iya deeh... dari jauh kayak Gladis, kita lihat dari dekat yuk!” ajak Rinda. Lula pun setuju. Namun sayang gadis itu justru pergi dengan sepedanya.
   “Yaah... orangnya pergi...” keluh Lula.
   “Mungkin itu bukan Gladis kali yaa? Cumi... Cuma mirip...” tambah Rinda.
   “Ke rumah Fatimah aja yuk!” tawar Lula.
   “Baiklah, up to you sajalaah...” jawab Rinda.
   Mereka pun bergegas keluar dari komplek itu tiba – tiba.
   “Rinda? Lula?” terdengar suara lembut. Rinda dan Lula menoleh ke belakang. Seorang gadis sebaya mereka berkulit putih, berambut panjang lurus berwarna hitam dengan mata sipit, dan wajahnya yang oriental membuatnya tampak manis.
   “Siapa dia?” Bisik Lula kepada Rinda. Aku dan Lula saling menatap.
   “Gla... Gladis yaa?” tanya Rinda pelan.
   “Ternyata benar itu kalian!” seru Gladis sambil menstandar sepedanya dan menghampiri Rinda dan Lula.
   “Ternyata yang tadi kita lihat itu... benar – benar kamu, Dis...” seru Lula.
   “Kau sekarang cantik sekali, Dis... membuatku pangling... dulu rambutmu tidak selurus ini. Dulu rambutmu kan sedikit bergelombang.” Puji Rinda.
   “Hehehe... terimakasih Rind... kau juga tampak berbeda sekarang... rambutmu panjang dan sedikit pirang.” Terangnya.
   “By the way... kamu dari mana, Dis?” tanya Lula.
   “Oh, aku membeli beberapa barang untuk disumbangkan untuk Fatimah.” Jelas Gladis.
   “Hah?! Fatimah? Memangnya dia kenapa?” Rinda dan Lula tersentak kaget.
   “Ooh yaa... kalian belum tahu yaa? Rumah Fatimah kan terkena banjir. Kemarin itu, dia sempat mengungsi di rumahku. Sekarang siih banjirnya sudah surut dan dia sudah kembali ke rumahnya. Tapi karena banjirnya yang besar dan rumahnya berada di daerah rendah, beberapa barangnya termaksud buku – bukunya basah.” Jelas Gladis. “Nih aku baru mau mengunjunginya!”
   “Kalau begitu, kita sama – sama ke sana saja, bagaimana?” usul Lula.
   “Ide yang bagus.” Jawab Rinda dan Gladis.
   “By the way, kalian tadi mau ke mana?” tanya Gladis.
   “Kita keliling kompleks doang! Kita mau ke rumah Fatimah tadi.” Jelas Lula.
   “Wah... kalau begitu kebetulan sekali dong?” tanya Gladis.
   “Iya...”
   Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Fatimah. Ternyata benar, di daerah rumah Fatimah terdapat bekas – bekas banjir. Jalanannya penuh lumpur, becek, dan penuh sampah. Setibanya kami di rumah Fatimah...
   “Tok! Tok! Tok! Permisi... Fatimah...” panggil Gladis.
   “Tunggu sebentar.” Jawab suara dari dalam, Fatimah pun membukakan pintu.
   “Gladis? Lu... Lula? Dan... Rinda?” Fatimah menatap ketiga sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya.
   “Benar, Fatimah. Ini aku...” jawab Rinda. Fatimah segera memeluk erat ketiga sahabatnya itu.
   “Oh, sudah lama sekali kita tak berjumpa Lula... Rinda... Ada apa kemari?” tanya Fatimah.
   “Kami ingin memberikan sedikit bantuan untukmu. Yang tabah yaa!” kata Gladis sambil memberikan dua bungkusan besar untuk Fatimah.
   “Terimakasih teman – teman. Memang banjir yang kemarin membuat beberapa barang rusak karenanya. Aku dan keluargaku juga sedang bersih – bersih. Rumahku belum bersih total jadi ku pikir... Kalian tidak bisa masuk.” Jelas Fatimah.
   “Bagaimana kita berjalan – jalan saja?” usul Lula.
   “Ya, lagi pula sebentar lagi aku harus pulang.” Tutur Rinda.
   “Baiklah, kita antarkan saja Rinda hingga kembali.” Jelas Gladis.
   “Tapi... tunggu sebentar yaa! Aku izin dulu ke orangtuaku.” Ujar Fatimah sambil memasuki rumahnya untuk mencari kedua orangtuanya. Tak berselang lama, dia pun kembali keluar.
   “Ayo kita berangkat! Aku sudah diizinkan.” Jelas Fatimah.
   Selama di perjalanan mereka berempat bercakap – cakap seru sekali.
   “Kapan nih kalian main ke rumahku?” tanya Rinda.
   “Gimana sekalian aja kita ke rumah Rinda?” usul Lula.
   “Hah?! Kita semuakan belum izin, La...” Gladis tampak tak setuju.
   “Lagi pula jauh, La... di Bekasi...” tambah Fatimah.
   “Yaa... kita izin dulu, laah...” jawab Lula.
   “Hmm... tapi gak lama kan?” Fatimah sedikit ragu.
   “Sore udah pulang kok!” tambah Lula.
   “Baiklah kalau begitu, kau bawa HP, La?” tanya Fatimah dan Gladis.
   “Bawa, tunggu sebentar yaa! Aku SMS ayah dan ibuku dulu.” Jelas Lula.
   Lula meng-SMS kedua orangtuanya dengan cepat dan akurat lalu mengirimnya.
   “Nih!” Lula menyodorkan handphonenya kepada kedua sahabatnya.
   “Aku dulu ya, Fat.” Kata Gladis.
   “Baiklaah...” jawab Fatimah.
   Setelah Gladis selesai mengirim SMS, kini giliran Fatimah yang meng-SMS kedua orangtuanya. Awalnya, Fatimah ragu kedua orangtuanya akan mengizinkannya karena dia tidak pernah bermain ke rumah teman yang  berada di luar kota.
   Setelah Fatimah selesai mengirim SMS, HP Lula berbunyi. Rupanya balasan dari ayah Lula. Lula segera membacanya dan seketika matanya berbinar – binar.
   “Yee aku boleh ke rumah Rinda!” soraknya, senang sekaligus heboh sekali.
   Tak berselang lama SMS dari orangtua Gladis. Gladis tak kalah senangnya, kedua orangtuanya pun mengizinkan.
   “Yee aku juga boleh ke rumah Rinda!” pekik Gladis, bahagia.
   Kini mereka tinggal menunggu balasan SMS dari kedua orangtua Fatimah. Tak berselang lama, HP Lula berbunyi, balasan dari kedua orangtua Fatimah.
   Berbeda dengan yang lainnya, Fatimah mendesah panjang, “Aku tidak boleh teman – teman...” ujarnya, pilu.
   “Tak usah khawatir, Fat... kita cari cara supaya orangtuamu mengizinkanmu, bagaiamana?” usul Lula diikuti anggukan Gladis dan Rinda.
   “Hmm... bilang saja begini Fat, bahwa kamu akan pulang sore diantar dengan mobil keluargaku.” Terang Rinda.
   “Ng... bagaimana yaa? Aku takut dan ragu...” Fatimah menunjukkan wajah khawatir. Rinda mengerti sebenarnya Fatimah sangat ingin bermain ke rumahnya karena mereka sudah lama tidak bertemu tapi... Fatimah takut mengatakannya kepada orangtuanya.
   “Rind, kamu telepon saja orangtuanya Fatimah, dan katakan semua.” Bisik Lula.
   “Baiklah... pinjam HP-mu sebentar ya, La.” Kata Rinda.
   “Woles aja... silakan!” jawab Lula sambil tersenyum.
   Rinda pun mencari SMS dari kedua orangtua Fatimah lalu menelepon nomor tersebut.
   “Halo assalamualaikum... ini ibunya Fatimah yaa? Tante, boleh tidak Fatimah bermain ke rumahku? Sebentar saja kok! Sore sudah pulang. Nanti aku antar pakai mobil keluargaku. Tenang saja... Fatimah akan baik – baik saja kok! Aku kasih makan kok tante. Hehehe... Benar? Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya tante. Assalamualaikum...”
   “Bagaimana Rind?” tanya ketiga sahabatnya penuh harap.
   “Fatimah... boleh main ke rumahku!!!!” sorak Rinda.
   “Yeee!!!!!!!!” semuanya bersorak gembira.   
   “Tunggu dulu Rind... masalahnya, mobilmu cukup nggak?” tanya Lula, was – was.
   “Tenang aja... muat kok! Kan bisa duduk di belakangnya.” Jelas Rinda.
   “Baiklah kalau begitu.” Kata Lula.
   “Emangnya kamu selama di Jakarta menginap di mana?” tanya Gladis.
   “Di rumah sepupuku... baru saja kemarin kami datang ke Jakarta begitu mendengar Jakarta terkena bencana banjir. Tapi ketika kemarin kami dataqng ke Jakarta, daerah ini masih tergenang banjir. So... aku dan keluargaku yang awalnya cuma datang berkunjung pun akhirnya justru menginap.” Terang Rinda.
   “Ooh... Rumah sepupumu di mana, Rind?” tanya Fatimah.
   “Di kompleks belakang sekolah kita yang dulu... ingat tidak?” tanya Rinda.
   “Sekolah SD?” tanya Fatimah.
   “Iya.” Jawab Rinda singkat.
   Walau pun perjalanan jauh, karena mereka asyik bercakap – cakap, tak terasa capainya. Mereka sudah tiba di rumah saudara Rinda.
   “Rind, kita gak usah masuk deeh! Gak enak sama saudara – saudara kamu...” ujar Lula.
   “Iya, Rind... di dalam kan keluarga kamu semua...” tambah Gladis.
   “Hmm... baiklah, aku akan segera memberitahu kedua orangtuaku dan meminta untuk segera pulang ya! Kalian tunggu di sini.” Terang Rinda.
   “Jangan lama – lama ya, Rind!” seru Fatimah. Rinda pun segera masuk ke dalam rumah saudaranya itu.
   “Assalamualaikum...”
   “Walaikumsalam...” jawab semuanya. Rinda segera menghampiri mamanya.
   “Ma, tadi aku ketemu Lula, Gladis, dan Fatimah. Mereka ingin bermain ke rumah. Boleh kan? Sekarang mereka menunggu di luar.” Bisik Rinda.
   “Oh ya? Kenapa tidak kamu suruh masuk, Rin?” tanya mama.
   “Mereka nggak mau, ma. Mereka bilang nggak enak...” terang Rinda.
   “Nanti pulangnya?” mama bertanya lagi.
   “Aku dan papa antarkan laah!” kata Rinda, sewot.
   “Hmm... baiklah... mama izin pulang dulu yaa!” kata mama, mengerti.
   Setelah mama dan papa izin pulang, Rinda, kak Rina, dan Nida pun mencium tangan tante dan om-nya lalu segera  pulang. Teman – teman Rinda yang sudah menunggu di depan rumah segera masuk ke dalam mobil.
   Papa dan mama duduk di depan. Rinda, kak Rina, dan Nida duduk di tengah. Lalu Gladis, Lula, dan Fatimah duduk di belakang. Selama di perjalanan mereka ramai bercanda tanpa kehabisan bahan obrolan. Tak terasa mereka sudah sampai di Bekasi.
   “Rind, Bekasi ramai sekali yaa!” kata Lula, melihat sekeliling.
   “Yaa... gitu deeh!” jawab Rinda. “Makanya banyak tindakan kriminal.”
   “Ooh... kamu nggak takut Rind?” tanya Fatimah.
   “Emangnya Rinda kayak kamu, Fat.” Goda Gladis.
   “Hahaha...” tawa mereka semua. Fatimah hanya diam sambil cemberut.
   “Bekasi panas juga yaa! Ku kira di Jakarta doang macet dan panas.” Kata Lula.
   “Tergantung juga, La. Gak selalu macet dan panas sih... Yaa... gak beda jauh sama Depok laah...” terang Rinda.
   Tak berselang lama, mereka telah sampai di rumah Rinda.
   “Waah... kompleksnya sejuk yaa!” Fatimah berdecak kagum.
   “Di sini banjir gak, Rind?” tanya Lula.
   “Nggak... Cuma di jalanannya saja kok! Nggak sampai masuk rumah. Ayo masuk!” ajak Rinda.
   “Assalamualaikum...” sapa Rinda.
   “Walaikumsalam... eh, non sudah pulang, tho?” sahut mbak.
   “Iya mbak, ini ada teman – teman Rinda mau main ke sini. Mereka dari Jakarta, lho! Hehehe... mereka teman Rinda sewaktu SD di Jakarta.” Jelas Rinda.
   “Mereka mau dibuatkan apa? Es teh atau sirup leci?” tanya mbak.
   “Sirup aja deh, mbak! Boleh kan?” jawab Lula.
   “Tentu saja boleh.” Jawab mbak.
   “Nanti, antarkan ke kamar saja ya, mbak.” Pinta Rinda.
   “Baik, non.” Jawab mbak, lagi. Mereka segera menuju kamar Rinda di lantai dua.
   “Wuih... kamarmu enak betul, Rind.” Puji Gladis.
   “Hehehe...” tawa Rinda sambil mengeluarkan satu kotak besar.
   “Apa isinya kotak itu, Rind?” tanya Lula.
   “You will be know.” Jawab Rinda, penuh rahasia. Lalu, ketika Rinda membukanya, teman – temannya langsung terharu. Tentu saja kotak itu adalah ‘harta karun’ Rinda. Teman – temannya terharu karena Rinda masih menyimpan benda kenang – kenangan dari mereka semua. Ada surat dari mereka dan juga buku diary Rinda yang dulu mereka baca.
   “Kamu masih nulis diary, Rind?” tanya Lula.
   “Hehehe... nggak... udah jarang. Itu cuma untuk keperluan bernostalgia, kok!” terang Rinda sambil tertawa kecil.
   Setelah itu, mereka asyik bermain. Sebelum pulang, mereka berfoto – foto terlebih dahulu di halaman rumah Rinda. Lalu, Rinda dan papanya mengantar Lula, Gladis, dan Fatimah pulang ke rumahnya.
   “Makasih ya teman – teman!” seru Rinda. “Datang lagi lain waktu...”

   “Terimakasih juga Rind sudah datang ke Jakarta. Main lagi yaa!” jawab teman – temannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar