Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 11

     Senin pun tiba... Yuki masuk sekolah dengan wajah murung tanpa senyum.
    “Yuki... Selamat ya!” Hamra-lah orang pertama yang menyambut kedatangannya dengan ucapan selamat. Namun, Yuki hanya tersenyum kecil, “Makasih, Ham... Selamat juga...”

   Setelah Hamra, teman – teman sekelasnya mendatangi Yuki satu persatu dan memberikan ucapan selamat pada Yuki, semua kecuali Reyna. Setelah semuanya bubaran, Hamra kembali mendekat Yuki.
   “Ki, kemarin kenapa? Kok udah pulang duluan sebelum penyerahan piala?” tanya Hamra.
   “Guruku meninggal, Ham...” jawab Yuki, singkat tapi sendu.
   “Inna lillahi wa inna lillahi rojiun... Aku turut berduka ya, Ki...” kata Hamra. Yuki hanya mengangguk. Yuki pun mendekati Reyna.
   “Selamat ya Rey... Ka...” belum selesai Yuki berucap, Reyna segera bangkit dari tempat duduknya dan berusaha meninggalkan Yuki. Namun, Yuki menahannya.
   “Tunggu Rey, aku belum selesai ngomong!” cegah Yuki, menahan langkah Reyna.
   “Kenapa? Penting gitu nge-dengerin ucapan kamu dengan bangganya, yang bisa menyombongkan diri di depan sahabatnya? Gitu?” tanya Reyna, tak keruan.
   “Kamu ngomong apa sih, Rey? Aku gak ngerti! Apa salahku ke kamu sih?” tanya Yuki, sambil mengernyitkan dahi.
   “Mikir aja sendiri!” jawab Reyna, ketus.
   “Kalau aku emang ada salah sama kamu, aku minta maaf, Rey...” jawab Yuki.
   “Perlu gitu aku maafin kamu?” tanya Reyna.
   “Perlu, karena kita ini SAHABAT! Aku udah anggap kamu tuh sahabat, Rey... Walau pun kita baru kenal. Aku cocok sama kamu. Aku nyaman dekat kamu!” pekik Yuki.
   Semua mata yang ada di kelas langsung melihat ke arah Yuki dan Reyna. Semua anak – anak di kelas ingin mengetahui, hal ribut apa yang terjadi. Reyna langsung terbelalak kaget dengan pernyataan Yuki tersebut. Sedangkan Hamra merasa ragu untuk menghentikan adu mulut antara Yuki dan Reyna walau pun itu adalah kewajibannya.
   “Aku... Aku iri sama kamu, Ki!” Reyna akhirnya membuka mulut. “Teman – teman begitu perhatiannya padamu, ditambah lagi, kamu yang memenangkan pertandingan ini. Puas?” pekik Reyna.
   “Ya Allah Rey... hanya karena iri kamu ngejauhin aku? Tanpa kamu dipertandingan, kelas kita gak akan dapat piagam penghargaan...” jelas Yuki.
   “Aku tahu itu! Hamra juga berkata begitu padaku!” tegas Reyna sambil menunjuk ke arah Hamra.
   “Menurutku, kalian sebanding, bukankah... Yuki sempat kalah dironde pertama ketika di grand final? Hanya saja... kesempatan dan waktu yang berpihak kepada Yuki, Rey.” Hamra akhirnya berani untuk melerai. Reyna diam saja sambil menunduk, menahan tangis.
   “Kalah menang itu sama saja, Rey... tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Semuanya sama... semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing... Buktinya kau juga mendapat piala runner up kan?” terang Yuki.
   “Iya, Ki... aku tahu... aku memang salah... maafkan aku... aku terlalu iri padamu, hinggaku menjauhimu. Aku sungguh bodoh kan?” ujar Reyna. Yuki menepuk pundak Reyna sambil tersenyum, “Tidak, kau tidak bodoh. Kau sungguh hebat dan pemberani. Aku memaafkanmu.”
   “Selamat ya, Ki... kamu memang lebih pantas menjadi pemenang dibanding aku...” tutur Reyna.
   “Selamat juga ya, Rey... kau sungguh tangguh.” Puji Yuki.
   “Eh ya, by the way... gimana kabar gurumu itu? Sudah sembuh?” tanya Reyna. Yuki terdiam dan tertunduk lesu mendengar pertanyaan dari Reyna itu.
   “Ada apa, Ki?” tanya Reyna, bingung.
   “Be... Be... Beliau... su... sudah... ti... tiada... kemarin... beliau kembali... ke Rahmatullah...” jelas Yuki, sendu, tergagap – gagap. Reyna  terbelalak kaget tak percaya.
   “Inna lillahi wa inna lillahi rojiun... aku turut berduka ya, Ki...” ujar Reyna. “Maaf, tadi... aku menanyakannya...”
   Yuki menggeleng, “Tak apa, Rey...”
   “Jadi, karena itu, saat penyerahan piala, kamu...” ucapan Reyna dipotong oleh Yuki.
   “Ya.” Potong Yuki, cepat. Tepat setelah Yuki selesai berbicara, bel masuk berbunyi. Dan anak – anak segera turun ke lapangan untuk melaksanakan upacara. Seusai upacara, mereka segera masuk ke dalam kelas. Sepulang sekolah...
   “Yuki, dipanggil bu Helma.” Seru Hamra. Bu Helma adalah wali kelas Yuki.
   “Rey, aku duluan, ya!” kata Yuki.
   “Iya.” Jawab Reyna, singkat. Karena sedang sibuk membersihkan kelas.
   Yuki segera menuju ruang guru dan mencari bu Helma dan menghampiri beliau.
   “Ada apa bu, mencari saya?” tanya Yuki, sopan.
   “Ini...kemarin ketika penyerahan piala, kamu tidak hadir, pialanya ada di ibu.” Jawab bu Helma, sambil menyerahkan piala milik Yuki.
   “Ooh... makasih ya, bu. Sudah, itu saja kan?” tanya Yuki.
   “Oh ya, tunggu dulu. Kemarin, kenapa sudah pulang duluan? Bukannya... kamu tahu masih ada acara penyerahan piala?” tanya bu Helma, lembut.
   “Eh..., ng... maaf bu, kemarin guru saya meninggal, bu.” Lagi – lagi Yuki kembali menunduk sendu.
   “Inna lillahi wa inna lillahi rojiun... Yang tabah dan sabar ya, nak...” pesan bu Helma.
   “Iya bu, saya izin pulang dulu.” Kata Yuki sambil mencium tangan bu Helma. “Makasih, bu.”
   “Ya sama – sama, hati – hati di jalan...” bu Helma mengingatkan.
   “Iya bu...” jawab Yuki, sambil berlalu.
   Dia berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, dia bahkan tidak mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Layaknya seorang pencuri. Dia justru segera duduk di kursi makan dengan lesu. Ibu keluar dari kamar seusai sholat dengan kagetnya.
   “Lho, Yuki... kok gak bilang assalamualaikum? Nggak ngetuk pintu pula...” tanya ibu, masih berbalut mukena dengan wajah kaget.
   “Assalamualaikum...” jawab Yuki, santai.
   “Yuki...” ibu menghela nafas sambil menggelengkan kepala.
   “Maaf...” jawab Yuki, singkat.
   “Ada apa, Ki?” tanya ibu segera duduk di kursi yang menghadap ke Yuki.
   “Tadi... banyak yang bertanya mengenai...” belum selesai Yuki bercerita, kak Sandy langsung memotong, “Mengenai apa? Pak Yuda?” potongnya.
   Yuki terdiam sambil menunduk sedih. “Hanya karena itu kau sedih? Cengeng sekali! Dasar anak manja! Kenapa kau bisa menang bela diri kalau tidak bisa menguasai rasa sedihmu?” ejek kak Sandy.
   “Sandy...” ibu mengingatkan.
   “Yuki, memang awalnya susah kehilangan seseorang. Tapi yaa... apa boleh buat?’ jelas ibu berpaling pada Yuki. “Lama – lama, kau akan terbiasa.” Yuki masih diam saja.
   “Eh, ada piala... dapat dari mana kamu? Wuiih... hebat! Pasti piala yang kemarin yaa? Selamat yaa! Bu Yurika harus melihatnya nih! Aku dengar... bu Yurika akhir – akhir ini menyendiri karena kehilangan pak Yuda. Mungkin, ini bisa membuatnya kembali bahagia...” komentar kak Sandy. Yuki jadi tersadar maksud dari kak Sandy. Setelah cukup lama memperhatikan piala itu, dia segera membawa piala itu dan menaruhnya di ranjang sepedanya. Dia mengayuh sepedanya dengan cepat hingga sampailah dia di sebuah rumah panti jompo. Dia segera menuju bagian informasi dan mencari kamar bu Yurika.
   “Maaf bu, bisa saya bertemu bu Yurika? Tanya Yuki, sopan.
   “Ooh... bu Yurika... dia sedang berada di kamarnya, menyendiri seperti biasa. Biasanya, dia tidak mau menerima tamu.” Terang salah seorang bagian informasi.
   “Dia pasti akan menerima kedatanganku. Kalau begitu, beritahu saya kamarnya nomer berapa?” tanya Yuki.
   “Nomer 182 blok B.” Jawab salah seorang dari bagian informasi sambil melihat daftar kamar dan pemiliknya.
   “Baiklah kalau begitu, terimakasih.” Jawab Yuki, lalu segera mencari blok yang dimaksud dan segera mencari kamar bu Yurika.
   Tok! Tok! Tok!
   “Masuk!”
   “Bu, ini Yuki...” kata Yuki. Bu Yurika segera menoleh dan bangkit dari tempat duduknya. Yuki segera mencium tangan bu Yurika.
   “Apa kabar, bu?” tanya Yuki.
   “Baik sayang, kamu?” bu Yurika balik bertanya.
   “Baik juga. Ibu, Yuki ke sini ingin memberitahu ibu. Yuki berhasil memenangkan lomba pencak silat antar kelas yang diselenggarakan di  sekolah.” Cerita Yuki dengan mata berbinar – binar.
   “Alhamdulillah...”  jawab bu Yurika.
   “Semoga dengan ini, ibu bisa tersenyum bahagia dan bisa melupakan segala kesedihan ibu.” Jelas Yuki.

   “Bu Yurika tersenyum, “Terimakasih Yuki... kau memang anak yang baik.” Yuki menghabiskan waktu di panti jompo bersama bu Yurika. Setelah itu, dia pun segera pulang. Dia senang sekali dapat membuat bu Yurika kembali bersemangat, tersenyum, dan bahagia lagi seperti dulu ketika pak Yuda masih hidup. Menurut Yuki, walau pun pak Yuda tidak bisa melihatnya berhasil memenangkan pertandingan secara langsung, Yuki yakin pak Yuda akan tetap bangga padanya. Yuki juga tahu, membuat bu Yurika tersenyum bahagia, berarti membuat pak Yuda tersenyum dan bahagia juga. Selamat tinggal pak Yuda...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar