Sabtu, 04 Oktober 2014

UAN Phobia

   Saat masih kecil, aku ingin sekali cepat – cepat kelas 6 supaya aku bisa cepat – cepat lulus dan masuk sekolah dan suasana baru. Aku mau memiliki banyak teman baru yang tidak membosankan seperti teman – temanku yang sekarang. Hehehe...

   Ada beberapa teman yang aku sudah kenal sejak lama. Rasanya bosan setiap hari bertemu mereka. Apalagi jika aku bertengkar dengan salah satu diantara mereka. Jangankan masuk sekolah, bangun tidur dan sarapan pun rasanya malas.
   Kini, aku sudah duduk di kelas 6. Perlahan – lahan keinginanku sirna sudah. Aku merasa takut menghadapi UAN. Aku merasa lelah setiap hari harus pulang sore karena bimbel. Belum beberapa jadwal Try Out.
   Baru beberapa minggu saja aku sudah sakit dan tidak masuk sekolah. Lalu, aku menceritakan hal ini pada bunda.
   “Bunda, Evi mau cerita...” ujarku.
   “Mau cerita apa Evi sayang?” tanya bunda yang sedang asyik membaca koran sambil meminum teh di teras rumah.
   “Evi merasa terbebani bunda...” jawabku.
   “Terbebani kenapa sayang?” tanya bunda bingung sambil meminum tehnya.
   “Evi merasa takut tidak lulus UAN. Evi takut tidak diterima di SMP yang Evi mau. Evi juga merasa lelah harus terus – terusan belajar. Belum bimbel dan try out.” ceritaku sejujur – jujurnya pada bunda.
   “Hal itu wajar, Vi. Asal kamu belajar dengan rajin, rasa takutmu itu akan hilang.” jawab bunda enteng.
   “Iih... bunda gimana siih? Apa bunda nggak pernah merasakan kekhawatiran dan ketakutan Evi? Evi khawatir, takut, dan lelah bunda malah menyuruh Evi belajar dengan rajin. Evi udah belajar bundaaa...” jawabku, kesal.
   Bunda hanya tersenyum kecil sambil menggeleng – gelengkan kepala. “Bunda bukannya menekan kamu untuk belajar. Tapi, nanti kamu akan terbiasa belajar bahkan saat satu hari tanpa belajar akan membuatmu bosan. Bunda hanya berpesan, jangan sampai kamu menyesal.”
   “I never like STUDY... study is boring to ME.” bantahku sambil kembali ke dalam kamar.
   Huh! Aku benar – benar kesaaal... kesaaal sekali... terus terang aku tidak mengerti apa maksud bunda bahwa aku akan terbiasa belajar. Tapi yang jelas, aku tidak akan bosan bila sehari tidak belajar. Lalu aku membuka buku IPA, pelajaran yang menurutku sangat sulit. Aku membaca lagi hal – hal yang telah diajarkan bu Warti. Ups... aku baru saja berjanji tidak akan bosan bila sehari tidak belajar. Aku juga baru saja mengeluh bahwa aku lelah belajar. Aduuh... aku ini bagaimana siih? Terserahlaah... pokoknya aku tidak mengerti IPA.
   Lambat laun, aku mengerti apa maksud bunda. Yang benar saja, aku tidak bisa jauh dari buku pelajaran. Ke mana pun dan di mana pun aku tak lepas dari buku pelajaran. Aku selalu membacanya. Dan saat aku pusing, rasanya sangat membosankan ketika aku tidak bisa membaca buku pelajaran dengan penuh konsentrasi.
   “Sudahlah Vi, tak usah paksakan, tidak perlu begitu. Nanti saat UAN otakmu justru blank lho... ada saatnya kamu harus belajar dan ada saatnya kamu harus refreshing. Jika terlalu letih belajar, kamu bisa sakit.” ujar bunda.
   “Iya bund... Evi sekarang mengerti apa maksud bunda. Ternyata lepas dari buku itu tidak mengenakan, ya!” jawabku.
   Bunda hanya tersenyum sambil membelai rambutku penuh cinta.
   Saat aku sedang asyik mengisi soal – soal matematika pada buku – buku bimbel yang ku beli, bunda datang menghampiriku.
   “Ini, minumlah dulu tehnya supaya kamu bersemangat.” ujar bunda.
   “Terimakasih, bund. Maafkan Evi waktu itu membentak bunda. Ku kira... bunda tidak mengerti apa maksud Evi.” jawabku.
   “Tak apa. Bunda tahu kok Evi anak yang pandai dan bisa mengerti semua maksud bunda. Oh ya Evi, nanti jam 9 minum susu, ya!” kata bunda.
   “Siip bund!” jawabku.
   Mungkin karena ini pengalaman pertamaku aku merasa sangat deg – degan.Ya, aku deg – degan ketika pada hari ini, bu Vesti mengumumkan bahwa minggu depan akan diadakan try out. Waah... aku langsung gugup sekali. Yang benar saja, sehari sebelum try out aku tidak bisa tidur. Lalu, aku membangunkan bunda.
   “Bund... Evi tidak bisa tidur bund...” kataku.
   “Evi? Kenapa kamu tidak bisa tidur?” tanya bunda.
   “Nggak tahu niih... Evi mungkin gugup karena besok try out hari pertama. Try out Bahasa Indonesia, bund.” jawabku.
   “Bukankah... kamu pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sayang?” tanya bunda, heran.
   “Nggak tahu deeh bund, Evi kenapa.” ceritaku.
   “Ya Allah... kamu keringat dingin sayang...” ujar bunda, kaget.
   Aku jadi ikut panik. Aku takut aku malahan justru sakit. Akhirnya, aku menghabiskan sisa malam di kamar bunda dan ayah.
   “Evi... bangun sayang...” kata bunda, membangunkanku.
   “Eeh... ng... masih ngantuk, bund...” jawabku.
   “Kamu kan hari ini ada try out sayang...” jawab bunda.
   “Oh iya aku lupa!!!” pekikku sambil bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi. Aku gosok gigi, mandi, dan wudhu lalu sholat subuh dan sarapan pagi bersama keluarga.
   Hh... untung saja aku tidak terlambat masuk ke sekolah. Tepat saat bel berbunyi, try out dimulai. Aku sangat gugup, aku mengeluarkan keringat dingin. Aku sangat takut tidak bisa menjawab pertanyaan.
   Beberapa pertanyaan terkesan mudah dengan jawaban yang menjebak. Tapi, karena aku panik, aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Aku jadi tidak konsentrasi. Alhamdulillah... akhirnya aku selesai juga mengoreksi dan mengerjakan soal try out.
   Begitu juga dengan hari berikutnya saat pelajaran matematika. Bahkan, aku jadi lupa rumus dan tidak ingat apa yang telah aku pelajari tadi malam.
   Saat try out IPA hal yang sama terjadi. Apa siih yang terjadi dengan diriku sehingga aku begini? Padahal hampir setiap hari aku belajar IPA, karena aku tidak begitu mengerti IPA dan IPA ada dalam pelajaran yang diujikan dalam UAN, gimana aku nggak ketar – ketir? Tapi apa ini? aku tidak ingat apapun yang ku pelajari.
   Keesokkannya, entah kenapa ku lihat bunda datang ke sekolah.
   “Bund, apa yang bunda lakukan di sini?” tanyaku.
   “Emm... ng... eh... bunda... bunda lagi mau bayar uang kegiatan kamu sayang...” jawab bunda gugup. Seperti menyembunyikan sesuatu.
   “Ooh...” jawabku, singkat.
   “Oh, ya sudah ya, say! Bunda mau bayar uang kegiatan kamu dulu.” ujar bunda, buru – buru.
   Saat sedang belajar di kelas, tiba – tiba Yasmin dipanggil oleh bu kepala sekolah. Entah kenapa. Saat Yasmin kembali ke kelas, semua teman menanyainya mengenai apa yang terjadi. Tapi, Yasmin tidak menjawab atau bercerita apa – apa. Aku siih penasaran tapi ngapain nanya?
   Beberapa hari kemudian, nilai try out diumumkan di papan mading. Betapa terkejutnya aku. Nilaiku sangat jelek, jauh dibawah nilai teman – teman yang lain.
   “Kamu kenapa sih, Vi? Nilaimu biasanya selalu teratas di kelas, kini, nilaimu sangat menurun. Apa yang kamu pikirkan?” tanya Kamilla.
   “Ng... ng... eeh... a... aku... aku... ti...” belum selesai aku menjawab pertanyaan sahabat sekaligus teman sebangkuku, terdengar suara gelak tawa. Rupanya suara Yasmin, musuh bebuyutanku dari TK hingga sekarang.
   “Hahaha... lihat Evi! Nilaiku jauh berada di atasmu! Bahkan, aku yang mendapat nilai paling tinggi. Ada apa denganmu, Vi? Apa kamu menyerah? Apa kamu takut? Sudah jelas sekali kamu tidak akan masuk SMP yang kamu inginkan! Kamu tidak akan dapat mengalahkan hasil nem-ku nantinya. Sudahlaah... tak usah bermimpi. Menyerah dan mengaku sajalah bahwa aku lebih baik darimu.” kata Yasmin, sombong.
   “Huh! Awas saja kamu Yasmin! Aku akan tunjukkan nanti! Aku akan tunjukkan bahwa diriku jauh lebih baik darimu! Aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan mengalahkanmu! Orang yang hanya bisa memanfaatkan kekayaan keluarganya dan tidak pernah mendapatkan nilai murni tidak berhak sombong. Ini baru permulaan! Ini tidak menunjukkan apapun! Kita buktikan nanti saat UAN! Lihat saja nanti!” seruku, kesal.
   “Kau boleh menyerah sekarang bila kau mau!” tawar Yasmin, sinis.
   “Tidak, aku tidak akan menyerah. Seharusnya, aku yang bilang begitu padamu! Tapi, kita harus bertanding secara fair. Kamu tidak boleh menggunakan uang untuk masuk SMP itu nanti. Jika kamu menggunakan uang, kamu akan dianggap kalah. Kamu juga tidak boleh menyontek.” jawabku, mantap.
   “Oke, itu adil. Tapi... kamu juga harus lakukan hal yang sama.” jawabnya.
“Pastinya. Memangnya kau kira aku selalu menggunakan uang untuk mendapat nilai yang baik padahal tidak belajar sama sekali?” sindirku.
“Huh!” dengusnya, kesal.
   Lalu kami berpisah.
   “Kamu yakin mau mengalahkan Yasmin?” tanya Kamilla.
   “Yakin.” jawabku, mantap.
   Tapi baru saja 30 menit berlalu, aku sudah ingin menarik kata – kataku tadi pada Yasmin.
   “Aduuh... aku bodoh sekali siih... berani melawan anak kumon itu...” ujarku pada Kamilla.
   “Sudah ku bilangkan tadi...” Kamilla jadi geram.
   “Hehehe... iya siih... terus, aku harus bagaimana dong?” tanyaku.
   “Lebih baik menyerah saja sebelum terlambat.” usul Kamilla.
   “Tidak, aku tidak akan menyerah, aku pasti akan malu sekali. Tak ada jalan lain selain mengalahkannya.” jawabku.
   “Up to you laah...” jawab Kamilla sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
   Bagaimana pun aku yang telah membuat tantangan ini. Aku tidak boleh kalah apalagi menyerah pada Yasmin. Jika aku kalah atau menyerah, reputasiku bakal hancur. Aku akan dipermalukannya. Aku tidak mau bertekuk lutut dihadapannya. Akan ku tunjukkan bahwa aku 100%  jauh lebih baik darinya. Aku bukan orang yang lari dari kenyataan. Aku juga bukan orang yang lempar batu sembunyi tangan alias tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kulakukan dan kukatakan. I never give up!
   Aku kembali belajar. Aku belajar dengan giat. Jika 1 buku bimbel besar sudah ku selesaikan sepenuhnya, aku membeli lagi buku bimbel yang baru. Dan begitulah seterusnya. Alhamdulillah, nilaiku meningkat dan tentu saja membuat Yasmin kaget dan merasa tersisih. Bahkan, aku dengar – dengar, nilai Yasmin menurun drastis.
   Nilai – nilai ulangan harian dan ulangan semesterku pun membaik.
   “Anak – anak... minggu depan kalian akan menghadapi praktek. Sebaiknya kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin.” seru bu Vesti.
   “Bu, ujian praktek itu apa, bu?” tanya seorang temanku diikuti anggukan teman – temanku yang lain.
   “Ada beberapa pelajaran yang diujikan. Tidak semua pelajaran. Jika agama, kalian harus menghafal surat - surat, jika olahraga, kalian harus menunjukkan kemahiran kalian dalam olahraga, kalau IPA, kalian harus merangkai listrik paralel dan seri, SBK, kalian harus bernyanyi dan memainkan alat musik juga membuat selai, komputer, kalian diminta membuat gambar tata surya. Sedangkan bahasa Indonesia, kalian harus berpidato dan berakting.” jawab bu Vesti.
   “HAH?!” pekik kami sekelas karena kaget.
   Sepulang sekolah, aku melamun di teras rumah. Bagaimana ini? Apa aku bisa melewati yang satu ini? Pasalnya, aku sangat grogi dan mudah panik. Aku juga sedikit pemalu dan tertutup. Apalagi harus berakting, aku tidak pernah bermain drama sebelumnya. Hanya sebagai peran kecil. Tidak seperti Yasmin yang selalu mendapat peran utama, dan pastinya peran antagonis. Hihihi... Lebih gawatnya IPA! Aku hanya tahu rangkaian paralel dan seri dari buku, tidak pernah melihat yang sebenarnya.
   “Ada apa sayang? Kok pulang sekolah bukannya makan siang malah melamun?” tanya bunda yang tiba – tiba saja datang dan duduk di sampingku.
   “Em... ng... begini bund, Evi takut nggak bisa ngelewatin ujian praktek. Ujian praktekkan tinggal minggu depan, bund.” ceritaku.
   “Ooh... tenang saja... enjoylaah... jalani saja... bagaimana kalau kita berlatih sejak sekarang?” usul bunda.
   “Oke tuh, bund!” jawabku, cepat.
   “Oke... hmm... hari pertama jadwalnya apa?” tanya bunda.
   “Mm... ng... bahasa Indonesia, bund! Pidatonya kita bikin sendiri.” jawabku.
   “Kalau begitu, kamu bikin dulu pidatonya, ya! Lalu, nanti bacakan di depan bunda. Setelah itu kamu harus menghafalkan intinya. Apa tema pidatonya?” tanya bunda.
   “Bebas kok, bund. Alhamdulillah.” jawabku.
   “Ooh... baiklah, bunda mau cuci piring dulu, ya! Kamu makan dulu sana! Nanti sakit, lho!” tawar bunda.
   “Iya bund sebentar lagi.” jawabku.
   Lihat saja nanti Yasmin. Aku akan membalasmu! Aku akan mengalahkanmu!
   Malamnya, aku membuat pidato. Lalu, aku membacakannya di depan bunda. Begitu setiap hari hingga aku tak sadar. Esok adalah hari senin!
   “Oh my God! sudah hari ini saja! Cepat sekali waktu! Apa aku bisa? Aku sangat gugup niih!” seruku.
   “Kenapa? Takut? Sudah kubilang lebih baik kamu menyerah saja.” kata Yasmin, sinis.
   “Siapa yang bicara sama kamu?” jawabku, ketus.
   Ujian praktek pun dimulai.
   “Baiklah, sebelum ujian dimulai, apakah kalian sudah berdoa?” tanya bu Vesti.
   “Sudah, bu...” jawab kami.
   “Baik, sekarang, ibu panggilkan yang pertama, Evia Darmawati.” perintah bu Vesti.
   “Hah?! Apa?! A... aku yang pertama, bu? Kenapa tidak dari nama absen aja?” tanyaku, gugup.
   “Terserah ibu mau panggil siapa. Hehehe...” canda bu Vesti.
   Akhirnya, aku terpaksa menuju ruang perpustakaan, tempat di mana ujian di adakan. Sebelum aku berpidato dihadapan guru bahasa Indonesia dan guru SBK, aku menghela nafas panjang. Lalu aku mulai berpidato seperti yang sudah ku latih selama ini. Aku berusaha menunjukkan yang terbaik.
   Setelah itu aku diminta memerankan peran antagonis dan protagonis. Untuk peran antagonis, aku mudah sekali menguasai peran yang ku peragakan. Tapi untuk peran protagonis sedikit sulit. Sebab, aku harus lemah lembut dan aku harus menggunakan bahasa yang sopan dan baik.
   Untung saja aku berhasil melakukan dan menunjukkan yang terbaik. Walau aku sedikit malu saat harus ber-akting di depan bu guru.
   Sepulang sekolah...
   “Bagaimana ujiannya tadi, nak?” tanya bunda.
   “Alhamdulillah berjalan sukses.” jawabku.
   “Besok ujian apa?” tanya bunda.
   “SBK! Oh my God! Aku belum hafal not lagu daerah dan not lagu wajib. Gimana ini?” ujarku, panik.
   “Cepat hafalkan. Tidak ada kata terlambat, sayang.” usul bunda.
   “Ba... baik...” jawabku bersemangat. Aku langsung berlari ke kamarku untuk berlatih. Aku berlatih hingga menjelang mahgrib. Setelah itu aku hanya melatih vokal dan menggambar untuk besok. Soalnya selain bermain alat musik dan bernyanyi, menggambar juga diujikan.
   Hari – hari berlalu. Aku mampu melewati ujian praktek. Walaupun aku sempat gugup hingga menangis sebelum berangkat sekolah aku tetap berusaha dan bersemangat. Ya, aku harus mendapat nilai yang baik untuk mengalahkan si nenek lampir itu! Eeh... kelepasan... maksudku Yasmin. Hehehe...
   “Minggu depan kalian sudah akan melaksanakan UAS, lho! Jaga kondisi badan kalian dan persiapkan diri kalian sebaik mungkin.” kata bu Vesti di depan kelas sambil membagikan jadwal UAS.
   “Bu, apakah ada remedial saat UAS nanti?” tanyaku.
   “Tidak ada, Vi.” jawab bu Vesti sambil tersenyum.
   “Kenapa? Takut?” ucap Yasmin dengan nada sinis padaku.
   “Idih... cuma nanya, kok! Kamu kali yang takut!” jawabku, sambil menjulurkan lidah.
   Yasmin mencibir kesal.
   Hari pertama UAS adalah pelajaran matematika dan PKn. Aku kurang menguasai kedua pelajaran ini. Malamnya, aku menangis takut.
   “Bunda... Evi takut tidak bisa menjawab ulangan dengan benar.” tangisku.
   Bunda memelukku erat. “Tenang sayang... kamu pasti bisa... asal kamu berusaha, pantang menyerah, dan berdoa, kamu pasti bisa. Bunda juga akan selalu mendoakanmu kok!”
   “Terimakasih ya,  bund... Evi jadi sedikit tenang.” ujarku sambil menghapus sisa – sisa air mata di pipi.
   Keesokkannya saat mengerjakan soal matematika. Ada beberapa soal yang tidak aku mengerti. Aku melihat Yasmin yang tampak yakin menjawab soal matematika, begitu juga dengan teman – teman yang lain. Tidak seperti diriku. Tapi aku tiba – tiba ingat dengan pesan bunda, ya, jika aku berusaha, pantang menyerah, dan terus berdoa pasti aku bisa menemukan jawabannya. Aku tetap berusaha menjawabnya dan mencari jalan keluarnya. Alhamdulillah semuanya berhasil terjawab entah benar atau tidak. Yang penting aku sudah berusaha mengerjakan soal dengan benar.
   Saat mengerjakan soal PKn. Aku sangat gugup hingga keringat dingin keluar dari tubuhku. Rasanya saat itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Rasanya saat itu aku ingin menangis. Rasanya saat itu aku ingin bertemu dengan bunda. Mukaku berlahan – lahan pucat.
   “Kamu kenapa, Vi?” tanya bu Vesti.
   “Eeh... ng... ng... nggak apa – apa, bu. Sa... saya... ha... hanya gugup.” jawabku tergagap – gagap.
   “Takut atau gugup? Alaah... gak usah pakai alasan segala... menyerah saja kamu, Vi. Kamu tidak bisa mengalahkanku. Gugup tuh karena gak belajar...” ujar Yasmin.
   “Yasmin! Diam! Ibu sedang tidak berbicara denganmu!” bentak bu Vesti.
   “I... iya, bu...” jawab Yasmin tergagap – gagap.
   Aku cekikikan menahan tawa. Tiba – tiba, aku sudah tidak gugup lagi dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diberikan itu. Setidaknya ini sedikit berguna supaya aku tidak gugup lagi saat UAN nanti.
   Hari dilaksanakannya UAN pun tiba. Hatiku sangat deg – degan. Jantungku berdegup kencang. Hari pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku tidak begitu gugup karena aku cukup mahir dalam pelajaran ini. Dan alhamdulillah tak ada kesulitan yang tampak berarti dalam menjawab soal Bahasa Indonesia. Untungnya lagi pengawasnya sangat ramah dan lucu sehingga kami sekelas tidak ada yang tegang. Begitu juga saat ujian matematika dan ujian IPA. Walau saat menjawab soal IPA ada beberapa soal yang aku tidak ketahui jawabannya, aku tetap berusaha menjawabnya dengan benar.
   “Apa kamu yakin akan mendapatkan NEM yang baik? Bisa mengalahkanku? Bisa masuk SMP favorit?” tanya Yasmin, sinis.
   “Yakin! Harus yakin. Seharusnya kamu yang khawatir. Bukan aku!” balasku lalu meninggalkannya.
   “Kira – kira... kamu dapat NEM berapa, ya?” ujar Kamilla.
   “Entahlah... aku tidak begitu yakin dengan hasil IPA-ku.” jawabku, sendu.
   “Kamu harus optimis, dong! Namanya bukan Evi kalau pesimis!” ucap Kamilla memberiku semangat.
   “Iya, terimakasih, Mil. Kamu paling nggak bisa apa?” tanyaku.
   “Hmm... matematika! Hehehe... kamu IPA, ya? Feeling-ku siih bilang, NEM kamu di atas Yasmin dan kamu dapat NEM lebih dari 26.” ujarnya sambil tersenyum.
   “Ya, makasih. Feeling-ku kamu juga bakal dapat NEM yang baik, Mill.” balasku.
   “Berjanjilah padaku kita akan satu sekolah nanti!” ujar Kamilla sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
   “Siip! I promise you!” jawabku, mantap. Sambil melingkari jari kelingkingnya.
   Tanggal 16 Juni adalah hari yang kami tunggu – tunggu. Gimana nggak?  NEM kami akan dibagikan pada hari ini. Aku terus memikirkan. Bisa nggak ya aku mendapat NEM lebih tinggi daripada Yasmin? Bisa nggak ya aku dapat NEM 27 lebih? Bisa nggak ya aku masuk SMP yang aku inginkan? Bisa nggak ya nilai IPA aku lebih dari 7? Soalnya selama Try Out berlangsung, IPA aku selalu mendapat nilai 7,5 dan itu yang tertinggi. Aku nggak yakin banget, deh!
   Ya Allah... jika nilai IPA-ku memang tidak pantas mendapat nilai 9, 8 aja deeh... asal jangan 7. Aku juga ingin mendapat nilai yang lebih tinggi dibanding Yasmin. Kalau nggak bisa nggak apa – apa deh! Yang penting aku udah bisa ngebanggain kedua orangtua aku. Aku juga ingin bisa masuk SMP favorit... Aku ingin satu sekolah sama Kamilla. Nggak usah satu kelas. Bisa ketemu setiap jam istirahat aja deh udah buat aku seneng. Karena dia sahabat terbaik aku... walau aku yakin saat SMP nanti aku bisa mendapatkan sahabat dan teman yang lebih baik lagi dibanding di SD yang sekarang. Dan semoga aja permusuhan aku sama Yasmin bisa berakhir dengan damai dan dia mengakui segala kesalahannya selama ini.
   Pada pukul jam 7, bu Vesti sudah mulai memberikan amplop berisi nilai NEM kami tapi sesuai dengan absen.
   “Absen ke sepuluh, Erika Yasmina!” panggil bu Vesti
   “Absen ke sebelas, Evia Darmawati!” panggil bu Vesti.
   Lalu aku melangkah menuju bu Vesti yang berdiri di depan lapangan untuk mengambil amplop yang berisi nilai NEM.
   “Absen kedua belas, Gianny Kamilla!” panggil bu Vesti.
   Kamilla pun maju ke depan lapangan.
   Setelah semua nilai NEM dibagikan, bu Vesti pun memberikan aba – aba untuk membuka isi amplop tersebut.
   “Vi, nilai NEM kamu berapa?” tanya Kamilla dengan wajah berbinar – binar. Wajahnya yang sedari tadi tegang berubah menjadi senyuman manis.
   “Hmm... 28,50. Kamu?” jawabku.
   “Wow! Kita beda dikit, Vi! Aku 28 pas! Selamat, ya!” ujarnya kagum, sambil menjabat tanganku.
   “Te... terimakasih...” jawabku, tersipu malu.
   “NEM-mu berapa, Vi?” sebuah suara terdengar. Rupanya suara Yasmin.
   “28,50. Kamu?” balasku.
   Tiba – tiba raut wajah Yasmin berubah. “Selamat ya, Vi! Kamu menang! NEM-ku 27,50. Semoga kamu mau memaafkan kesalahanku selama ini.”
   Aku tersenyum, hal ini yang selalu ku nanti sejak dulu. “Tentu, sekarang, kita bisa berteman, kan? Hehehe...”
   Dia tersenyum namun tiba – tiba dia seperti teringat sesuatu.
   “Ada apa, Min?” tanyaku, bingung.
   “Ada yang ingin ku beri tahu. Sebuah rahasia...” ucap Yasmin serius.
   “Rahasia apa?” aku jadi penasaran dibuatnya.
   “Sebenarnya... bunda kamu tuh meminta aku supaya kita bertanding. Kata bunda kamu, bunda kamu khawatir sama nilai kamu dan sifatmu yang gugup dan mudah panik itu. Yang waktu itu aku dipanggil ke ruang kepala sekolah itu, itu sebenarnya...” cerita Yasmin, pelan.
   Aku jadi terdiam. “Te... terimakasih ya, Min. Kalau saja kita tidak bertanding, pasti NEM-ku sudah 25 bahkan 24. Hehehe...”
   “Ya, masama.” jawabnya, pelan.
   Ternyata musuh lamaku, Yasmin, sangat mempedulikanku. Karena jika tidak, dia tidak akan mau bertanding melawanku. Ternyata... Yasmin baik juga... Aku jadi senyum – senyum sendiri.
   “Tapi aah... aku pikir – pikir... aku bosan bila SMP nanti kita satu sekolah. Apalagi satu kelas. Masa dari TK kita selalu satu sekolah dan satu kelas sih?” canda Yasmin.
   “Hahaha...” tawa kami semua.
   Hari itu adalah hari yang paling indah bagiku. Bukan hanya karena nilai NEM-ku yang bagus tapi juga karena permusuhan aku dan Yasmin setelah hampir 10 tahun berakhir sudah. Tentu bunda akan bangga bila mengetahui hasil NEM-ku yang sebenarnya. Belum lagi bila nanti aku masuk SMP favorit yang aku sangat impikan. Ternyata, ujian tidak buruk – buruk juga. Benar kata bunda, bila kita berusaha, pantang menyerah, dan berdo’a, kita pasti akan bisa melewati segala macam ujian, apapun itu.

   Tapi aah... aku mau minta hadiah bunda karena aku sudah mendapat NEM yang baik dan mengalahkan Yasmin. Karena bagaimana pun juga, bunda yang meminta aku dan Yasmin bersaing. Hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar