Saat
masih kecil, aku ingin sekali cepat – cepat kelas 6 supaya aku bisa cepat –
cepat lulus dan masuk sekolah dan suasana baru. Aku mau memiliki banyak teman
baru yang tidak membosankan seperti teman – temanku yang sekarang. Hehehe...
Ada
beberapa teman yang aku sudah kenal sejak lama. Rasanya bosan setiap hari
bertemu mereka. Apalagi jika aku bertengkar dengan salah satu diantara mereka.
Jangankan masuk sekolah, bangun tidur dan sarapan pun rasanya malas.
Kini,
aku sudah duduk di kelas 6. Perlahan – lahan keinginanku sirna sudah. Aku
merasa takut menghadapi UAN. Aku merasa lelah setiap hari harus pulang sore
karena bimbel. Belum beberapa jadwal Try Out.
Baru
beberapa minggu saja aku sudah sakit dan tidak masuk sekolah. Lalu, aku
menceritakan hal ini pada bunda.
“Bunda,
Evi mau cerita...” ujarku.
“Mau
cerita apa Evi sayang?” tanya bunda yang sedang asyik membaca koran sambil
meminum teh di teras rumah.
“Evi
merasa terbebani bunda...” jawabku.
“Terbebani
kenapa sayang?” tanya bunda bingung sambil meminum tehnya.
“Evi
merasa takut tidak lulus UAN. Evi takut tidak diterima di SMP yang Evi mau. Evi
juga merasa lelah harus terus – terusan belajar. Belum bimbel dan try out.”
ceritaku sejujur – jujurnya pada bunda.
“Hal
itu wajar, Vi. Asal kamu belajar dengan rajin, rasa takutmu itu akan hilang.”
jawab bunda enteng.
“Iih...
bunda gimana siih? Apa bunda nggak pernah merasakan kekhawatiran dan ketakutan
Evi? Evi khawatir, takut, dan lelah bunda malah menyuruh Evi belajar dengan
rajin. Evi udah belajar bundaaa...” jawabku, kesal.
Bunda
hanya tersenyum kecil sambil menggeleng – gelengkan kepala. “Bunda bukannya
menekan kamu untuk belajar. Tapi, nanti kamu akan terbiasa belajar bahkan saat
satu hari tanpa belajar akan membuatmu bosan. Bunda hanya berpesan, jangan
sampai kamu menyesal.”
“I
never like STUDY... study is boring to ME.” bantahku sambil kembali ke dalam
kamar.
Huh!
Aku benar – benar kesaaal... kesaaal sekali... terus terang aku tidak mengerti
apa maksud bunda bahwa aku akan terbiasa belajar. Tapi yang jelas, aku tidak
akan bosan bila sehari tidak belajar. Lalu aku membuka buku IPA, pelajaran yang
menurutku sangat sulit. Aku membaca lagi hal – hal yang telah diajarkan bu
Warti. Ups... aku baru saja berjanji tidak akan bosan bila sehari tidak
belajar. Aku juga baru saja mengeluh bahwa aku lelah belajar. Aduuh... aku ini
bagaimana siih? Terserahlaah... pokoknya aku tidak mengerti IPA.
Lambat
laun, aku mengerti apa maksud bunda. Yang benar saja, aku tidak bisa jauh dari
buku pelajaran. Ke mana pun dan di mana pun aku tak lepas dari buku pelajaran.
Aku selalu membacanya. Dan saat aku pusing, rasanya sangat membosankan ketika
aku tidak bisa membaca buku pelajaran dengan penuh konsentrasi.
“Sudahlah
Vi, tak usah paksakan, tidak perlu begitu. Nanti saat UAN otakmu justru blank
lho... ada saatnya kamu harus belajar dan ada saatnya kamu harus refreshing.
Jika terlalu letih belajar, kamu bisa sakit.” ujar bunda.
“Iya
bund... Evi sekarang mengerti apa maksud bunda. Ternyata lepas dari buku itu
tidak mengenakan, ya!” jawabku.
Bunda
hanya tersenyum sambil membelai rambutku penuh cinta.
Saat
aku sedang asyik mengisi soal – soal matematika pada buku – buku bimbel yang ku
beli, bunda datang menghampiriku.
“Ini,
minumlah dulu tehnya supaya kamu bersemangat.” ujar bunda.
“Terimakasih,
bund. Maafkan Evi waktu itu membentak bunda. Ku kira... bunda tidak mengerti
apa maksud Evi.” jawabku.
“Tak
apa. Bunda tahu kok Evi anak yang pandai dan bisa mengerti semua maksud bunda.
Oh ya Evi, nanti jam 9 minum susu, ya!” kata bunda.
“Siip
bund!” jawabku.
Mungkin
karena ini pengalaman pertamaku aku merasa sangat deg – degan.Ya, aku deg –
degan ketika pada hari ini, bu Vesti mengumumkan bahwa minggu depan akan
diadakan try out. Waah... aku langsung gugup sekali. Yang benar saja, sehari
sebelum try out aku tidak bisa tidur. Lalu, aku membangunkan bunda.
“Bund...
Evi tidak bisa tidur bund...” kataku.
“Evi?
Kenapa kamu tidak bisa tidur?” tanya bunda.
“Nggak
tahu niih... Evi mungkin gugup karena besok try out hari pertama. Try out
Bahasa Indonesia, bund.” jawabku.
“Bukankah...
kamu pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sayang?” tanya bunda, heran.
“Nggak
tahu deeh bund, Evi kenapa.” ceritaku.
“Ya
Allah... kamu keringat dingin sayang...” ujar bunda, kaget.
Aku
jadi ikut panik. Aku takut aku malahan justru sakit. Akhirnya, aku menghabiskan
sisa malam di kamar bunda dan ayah.
“Evi...
bangun sayang...” kata bunda, membangunkanku.
“Eeh...
ng... masih ngantuk, bund...” jawabku.
“Kamu
kan hari ini ada try out sayang...” jawab bunda.
“Oh
iya aku lupa!!!” pekikku sambil bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi. Aku
gosok gigi, mandi, dan wudhu lalu sholat subuh dan sarapan pagi bersama
keluarga.
Hh...
untung saja aku tidak terlambat masuk ke sekolah. Tepat saat bel berbunyi, try
out dimulai. Aku sangat gugup, aku mengeluarkan keringat dingin. Aku sangat
takut tidak bisa menjawab pertanyaan.
Beberapa
pertanyaan terkesan mudah dengan jawaban yang menjebak. Tapi, karena aku panik,
aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Aku jadi tidak konsentrasi.
Alhamdulillah... akhirnya aku selesai juga mengoreksi dan mengerjakan soal try
out.
Begitu
juga dengan hari berikutnya saat pelajaran matematika. Bahkan, aku jadi lupa
rumus dan tidak ingat apa yang telah aku pelajari tadi malam.
Saat
try out IPA hal yang sama terjadi. Apa siih yang terjadi dengan diriku sehingga
aku begini? Padahal hampir setiap hari aku belajar IPA, karena aku tidak begitu
mengerti IPA dan IPA ada dalam pelajaran yang diujikan dalam UAN, gimana aku
nggak ketar – ketir? Tapi apa ini? aku tidak ingat apapun yang ku pelajari.
Keesokkannya,
entah kenapa ku lihat bunda datang ke sekolah.
“Bund,
apa yang bunda lakukan di sini?” tanyaku.
“Emm...
ng... eh... bunda... bunda lagi mau bayar uang kegiatan kamu sayang...” jawab
bunda gugup. Seperti menyembunyikan sesuatu.
“Ooh...”
jawabku, singkat.
“Oh,
ya sudah ya, say! Bunda mau bayar uang kegiatan kamu dulu.” ujar bunda, buru –
buru.
Saat
sedang belajar di kelas, tiba – tiba Yasmin dipanggil oleh bu kepala sekolah.
Entah kenapa. Saat Yasmin kembali ke kelas, semua teman menanyainya mengenai
apa yang terjadi. Tapi, Yasmin tidak menjawab atau bercerita apa – apa. Aku
siih penasaran tapi ngapain nanya?
Beberapa
hari kemudian, nilai try out diumumkan di papan mading. Betapa terkejutnya aku.
Nilaiku sangat jelek, jauh dibawah nilai teman – teman yang lain.
“Kamu
kenapa sih, Vi? Nilaimu biasanya selalu teratas di kelas, kini, nilaimu sangat
menurun. Apa yang kamu pikirkan?” tanya Kamilla.
“Ng...
ng... eeh... a... aku... aku... ti...” belum selesai aku menjawab pertanyaan
sahabat sekaligus teman sebangkuku, terdengar suara gelak tawa. Rupanya suara Yasmin,
musuh bebuyutanku dari TK hingga sekarang.
“Hahaha...
lihat Evi! Nilaiku jauh berada di atasmu! Bahkan, aku yang mendapat nilai
paling tinggi. Ada apa denganmu, Vi? Apa kamu menyerah? Apa kamu takut? Sudah
jelas sekali kamu tidak akan masuk SMP yang kamu inginkan! Kamu tidak akan
dapat mengalahkan hasil nem-ku nantinya. Sudahlaah... tak usah bermimpi.
Menyerah dan mengaku sajalah bahwa aku lebih baik darimu.” kata Yasmin,
sombong.
“Huh!
Awas saja kamu Yasmin! Aku akan tunjukkan nanti! Aku akan tunjukkan bahwa
diriku jauh lebih baik darimu! Aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan
mengalahkanmu! Orang yang hanya bisa memanfaatkan kekayaan keluarganya dan
tidak pernah mendapatkan nilai murni tidak berhak sombong. Ini baru permulaan!
Ini tidak menunjukkan apapun! Kita buktikan nanti saat UAN! Lihat saja nanti!”
seruku, kesal.
“Kau
boleh menyerah sekarang bila kau mau!” tawar Yasmin, sinis.
“Tidak,
aku tidak akan menyerah. Seharusnya, aku yang bilang begitu padamu! Tapi, kita
harus bertanding secara fair. Kamu tidak boleh menggunakan uang untuk masuk SMP
itu nanti. Jika kamu menggunakan uang, kamu akan dianggap kalah. Kamu juga
tidak boleh menyontek.” jawabku, mantap.
“Oke,
itu adil. Tapi... kamu juga harus lakukan hal yang sama.” jawabnya.
“Pastinya. Memangnya
kau kira aku selalu menggunakan uang untuk mendapat nilai yang baik padahal
tidak belajar sama sekali?” sindirku.
“Huh!” dengusnya,
kesal.
Lalu
kami berpisah.
“Kamu
yakin mau mengalahkan Yasmin?” tanya Kamilla.
“Yakin.”
jawabku, mantap.
Tapi
baru saja 30 menit berlalu, aku sudah ingin menarik kata – kataku tadi pada
Yasmin.
“Aduuh...
aku bodoh sekali siih... berani melawan anak kumon itu...” ujarku pada Kamilla.
“Sudah
ku bilangkan tadi...” Kamilla jadi geram.
“Hehehe...
iya siih... terus, aku harus bagaimana dong?” tanyaku.
“Lebih
baik menyerah saja sebelum terlambat.” usul Kamilla.
“Tidak,
aku tidak akan menyerah, aku pasti akan malu sekali. Tak ada jalan lain selain
mengalahkannya.” jawabku.
“Up
to you laah...” jawab Kamilla sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
Bagaimana
pun aku yang telah membuat tantangan ini. Aku tidak boleh kalah apalagi
menyerah pada Yasmin. Jika aku kalah atau menyerah, reputasiku bakal hancur.
Aku akan dipermalukannya. Aku tidak mau bertekuk lutut dihadapannya. Akan ku
tunjukkan bahwa aku 100% jauh lebih baik
darinya. Aku bukan orang yang lari dari kenyataan. Aku juga bukan orang yang
lempar batu sembunyi tangan alias tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kulakukan
dan kukatakan. I never give up!
Aku
kembali belajar. Aku belajar dengan giat. Jika 1 buku bimbel besar sudah ku
selesaikan sepenuhnya, aku membeli lagi buku bimbel yang baru. Dan begitulah
seterusnya. Alhamdulillah, nilaiku meningkat dan tentu saja membuat Yasmin
kaget dan merasa tersisih. Bahkan, aku dengar – dengar, nilai Yasmin menurun
drastis.
Nilai
– nilai ulangan harian dan ulangan semesterku pun membaik.
“Anak
– anak... minggu depan kalian akan menghadapi praktek. Sebaiknya kalian
mempersiapkan diri sebaik mungkin.” seru bu Vesti.
“Bu,
ujian praktek itu apa, bu?” tanya seorang temanku diikuti anggukan teman –
temanku yang lain.
“Ada
beberapa pelajaran yang diujikan. Tidak semua pelajaran. Jika agama, kalian
harus menghafal surat - surat, jika olahraga, kalian harus menunjukkan
kemahiran kalian dalam olahraga, kalau IPA, kalian harus merangkai listrik
paralel dan seri, SBK, kalian harus bernyanyi dan memainkan alat musik juga
membuat selai, komputer, kalian diminta membuat gambar tata surya. Sedangkan
bahasa Indonesia, kalian harus berpidato dan berakting.” jawab bu Vesti.
“HAH?!”
pekik kami sekelas karena kaget.
Sepulang
sekolah, aku melamun di teras rumah. Bagaimana ini? Apa aku bisa melewati yang
satu ini? Pasalnya, aku sangat grogi dan mudah panik. Aku juga sedikit pemalu dan
tertutup. Apalagi harus berakting, aku tidak pernah bermain drama sebelumnya.
Hanya sebagai peran kecil. Tidak seperti Yasmin yang selalu mendapat peran
utama, dan pastinya peran antagonis. Hihihi... Lebih gawatnya IPA! Aku hanya
tahu rangkaian paralel dan seri dari buku, tidak pernah melihat yang
sebenarnya.
“Ada
apa sayang? Kok pulang sekolah bukannya makan siang malah melamun?” tanya bunda
yang tiba – tiba saja datang dan duduk di sampingku.
“Em...
ng... begini bund, Evi takut nggak bisa ngelewatin ujian praktek. Ujian
praktekkan tinggal minggu depan, bund.” ceritaku.
“Ooh...
tenang saja... enjoylaah... jalani saja... bagaimana kalau kita berlatih sejak
sekarang?” usul bunda.
“Oke
tuh, bund!” jawabku, cepat.
“Oke...
hmm... hari pertama jadwalnya apa?” tanya bunda.
“Mm...
ng... bahasa Indonesia, bund! Pidatonya kita bikin sendiri.” jawabku.
“Kalau
begitu, kamu bikin dulu pidatonya, ya! Lalu, nanti bacakan di depan bunda.
Setelah itu kamu harus menghafalkan intinya. Apa tema pidatonya?” tanya bunda.
“Bebas
kok, bund. Alhamdulillah.” jawabku.
“Ooh...
baiklah, bunda mau cuci piring dulu, ya! Kamu makan dulu sana! Nanti sakit,
lho!” tawar bunda.
“Iya
bund sebentar lagi.” jawabku.
Lihat
saja nanti Yasmin. Aku akan membalasmu! Aku akan mengalahkanmu!
Malamnya,
aku membuat pidato. Lalu, aku membacakannya di depan bunda. Begitu setiap hari
hingga aku tak sadar. Esok adalah hari senin!
“Oh
my God! sudah hari ini saja! Cepat sekali waktu! Apa aku bisa? Aku sangat gugup
niih!” seruku.
“Kenapa?
Takut? Sudah kubilang lebih baik kamu menyerah saja.” kata Yasmin, sinis.
“Siapa
yang bicara sama kamu?” jawabku, ketus.
Ujian
praktek pun dimulai.
“Baiklah,
sebelum ujian dimulai, apakah kalian sudah berdoa?” tanya bu Vesti.
“Sudah,
bu...” jawab kami.
“Baik,
sekarang, ibu panggilkan yang pertama, Evia Darmawati.” perintah bu Vesti.
“Hah?!
Apa?! A... aku yang pertama, bu? Kenapa tidak dari nama absen aja?” tanyaku,
gugup.
“Terserah
ibu mau panggil siapa. Hehehe...” canda bu Vesti.
Akhirnya,
aku terpaksa menuju ruang perpustakaan, tempat di mana ujian di adakan. Sebelum
aku berpidato dihadapan guru bahasa Indonesia dan guru SBK, aku menghela nafas
panjang. Lalu aku mulai berpidato seperti yang sudah ku latih selama ini. Aku
berusaha menunjukkan yang terbaik.
Setelah
itu aku diminta memerankan peran antagonis dan protagonis. Untuk peran
antagonis, aku mudah sekali menguasai peran yang ku peragakan. Tapi untuk peran
protagonis sedikit sulit. Sebab, aku harus lemah lembut dan aku harus
menggunakan bahasa yang sopan dan baik.
Untung
saja aku berhasil melakukan dan menunjukkan yang terbaik. Walau aku sedikit
malu saat harus ber-akting di depan bu guru.
Sepulang
sekolah...
“Bagaimana
ujiannya tadi, nak?” tanya bunda.
“Alhamdulillah
berjalan sukses.” jawabku.
“Besok
ujian apa?” tanya bunda.
“SBK!
Oh my God! Aku belum hafal not lagu daerah dan not lagu wajib. Gimana ini?”
ujarku, panik.
“Cepat
hafalkan. Tidak ada kata terlambat, sayang.” usul bunda.
“Ba...
baik...” jawabku bersemangat. Aku langsung berlari ke kamarku untuk berlatih.
Aku berlatih hingga menjelang mahgrib. Setelah itu aku hanya melatih vokal dan
menggambar untuk besok. Soalnya selain bermain alat musik dan bernyanyi,
menggambar juga diujikan.
Hari
– hari berlalu. Aku mampu melewati ujian praktek. Walaupun aku sempat gugup
hingga menangis sebelum berangkat sekolah aku tetap berusaha dan bersemangat.
Ya, aku harus mendapat nilai yang baik untuk mengalahkan si nenek lampir itu!
Eeh... kelepasan... maksudku Yasmin. Hehehe...
“Minggu
depan kalian sudah akan melaksanakan UAS, lho! Jaga kondisi badan kalian dan
persiapkan diri kalian sebaik mungkin.” kata bu Vesti di depan kelas sambil
membagikan jadwal UAS.
“Bu,
apakah ada remedial saat UAS nanti?” tanyaku.
“Tidak
ada, Vi.” jawab bu Vesti sambil tersenyum.
“Kenapa?
Takut?” ucap Yasmin dengan nada sinis padaku.
“Idih...
cuma nanya, kok! Kamu kali yang takut!” jawabku, sambil menjulurkan lidah.
Yasmin
mencibir kesal.
Hari
pertama UAS adalah pelajaran matematika dan PKn. Aku kurang menguasai kedua pelajaran
ini. Malamnya, aku menangis takut.
“Bunda...
Evi takut tidak bisa menjawab ulangan dengan benar.” tangisku.
Bunda
memelukku erat. “Tenang sayang... kamu pasti bisa... asal kamu berusaha,
pantang menyerah, dan berdoa, kamu pasti bisa. Bunda juga akan selalu
mendoakanmu kok!”
“Terimakasih
ya, bund... Evi jadi sedikit tenang.”
ujarku sambil menghapus sisa – sisa air mata di pipi.
Keesokkannya
saat mengerjakan soal matematika. Ada beberapa soal yang tidak aku mengerti.
Aku melihat Yasmin yang tampak yakin menjawab soal matematika, begitu juga
dengan teman – teman yang lain. Tidak seperti diriku. Tapi aku tiba – tiba
ingat dengan pesan bunda, ya, jika aku berusaha, pantang menyerah, dan terus
berdoa pasti aku bisa menemukan jawabannya. Aku tetap berusaha menjawabnya dan
mencari jalan keluarnya. Alhamdulillah semuanya berhasil terjawab entah benar
atau tidak. Yang penting aku sudah berusaha mengerjakan soal dengan benar.
Saat
mengerjakan soal PKn. Aku sangat gugup hingga keringat dingin keluar dari tubuhku.
Rasanya saat itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Rasanya saat itu aku
ingin menangis. Rasanya saat itu aku ingin bertemu dengan bunda. Mukaku
berlahan – lahan pucat.
“Kamu
kenapa, Vi?” tanya bu Vesti.
“Eeh...
ng... ng... nggak apa – apa, bu. Sa... saya... ha... hanya gugup.” jawabku
tergagap – gagap.
“Takut
atau gugup? Alaah... gak usah pakai alasan segala... menyerah saja kamu, Vi.
Kamu tidak bisa mengalahkanku. Gugup tuh karena gak belajar...” ujar Yasmin.
“Yasmin!
Diam! Ibu sedang tidak berbicara denganmu!” bentak bu Vesti.
“I...
iya, bu...” jawab Yasmin tergagap – gagap.
Aku
cekikikan menahan tawa. Tiba – tiba, aku sudah tidak gugup lagi dan mampu
menjawab semua pertanyaan yang diberikan itu. Setidaknya ini sedikit berguna
supaya aku tidak gugup lagi saat UAN nanti.
Hari
dilaksanakannya UAN pun tiba. Hatiku sangat deg – degan. Jantungku berdegup
kencang. Hari pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Aku tidak begitu gugup
karena aku cukup mahir dalam pelajaran ini. Dan alhamdulillah tak ada kesulitan
yang tampak berarti dalam menjawab soal Bahasa Indonesia. Untungnya lagi
pengawasnya sangat ramah dan lucu sehingga kami sekelas tidak ada yang tegang.
Begitu juga saat ujian matematika dan ujian IPA. Walau saat menjawab soal IPA
ada beberapa soal yang aku tidak ketahui jawabannya, aku tetap berusaha
menjawabnya dengan benar.
“Apa
kamu yakin akan mendapatkan NEM yang baik? Bisa mengalahkanku? Bisa masuk SMP
favorit?” tanya Yasmin, sinis.
“Yakin!
Harus yakin. Seharusnya kamu yang khawatir. Bukan aku!” balasku lalu
meninggalkannya.
“Kira
– kira... kamu dapat NEM berapa, ya?” ujar Kamilla.
“Entahlah...
aku tidak begitu yakin dengan hasil IPA-ku.” jawabku, sendu.
“Kamu
harus optimis, dong! Namanya bukan Evi kalau pesimis!” ucap Kamilla memberiku
semangat.
“Iya,
terimakasih, Mil. Kamu paling nggak bisa apa?” tanyaku.
“Hmm...
matematika! Hehehe... kamu IPA, ya? Feeling-ku siih bilang, NEM kamu di atas
Yasmin dan kamu dapat NEM lebih dari 26.” ujarnya sambil tersenyum.
“Ya,
makasih. Feeling-ku kamu juga bakal dapat NEM yang baik, Mill.” balasku.
“Berjanjilah
padaku kita akan satu sekolah nanti!” ujar Kamilla sambil menunjukkan jari
kelingkingnya.
“Siip!
I promise you!” jawabku, mantap. Sambil melingkari jari kelingkingnya.
Tanggal
16 Juni adalah hari yang kami tunggu – tunggu. Gimana nggak? NEM kami akan dibagikan pada hari ini. Aku
terus memikirkan. Bisa nggak ya aku mendapat NEM lebih tinggi daripada Yasmin?
Bisa nggak ya aku dapat NEM 27 lebih? Bisa nggak ya aku masuk SMP yang aku inginkan?
Bisa nggak ya nilai IPA aku lebih dari 7? Soalnya selama Try Out berlangsung,
IPA aku selalu mendapat nilai 7,5 dan itu yang tertinggi. Aku nggak yakin
banget, deh!
Ya
Allah... jika nilai IPA-ku memang tidak pantas mendapat nilai 9, 8 aja deeh...
asal jangan 7. Aku juga ingin mendapat nilai yang lebih tinggi dibanding
Yasmin. Kalau nggak bisa nggak apa – apa deh! Yang penting aku udah bisa
ngebanggain kedua orangtua aku. Aku juga ingin bisa masuk SMP favorit... Aku
ingin satu sekolah sama Kamilla. Nggak usah satu kelas. Bisa ketemu setiap jam
istirahat aja deh udah buat aku seneng. Karena dia sahabat terbaik aku... walau
aku yakin saat SMP nanti aku bisa mendapatkan sahabat dan teman yang lebih baik
lagi dibanding di SD yang sekarang. Dan semoga aja permusuhan aku sama Yasmin
bisa berakhir dengan damai dan dia mengakui segala kesalahannya selama ini.
Pada
pukul jam 7, bu Vesti sudah mulai memberikan amplop berisi nilai NEM kami tapi
sesuai dengan absen.
“Absen
ke sepuluh, Erika Yasmina!” panggil bu Vesti
“Absen
ke sebelas, Evia Darmawati!” panggil bu Vesti.
Lalu
aku melangkah menuju bu Vesti yang berdiri di depan lapangan untuk mengambil
amplop yang berisi nilai NEM.
“Absen
kedua belas, Gianny Kamilla!” panggil bu Vesti.
Kamilla
pun maju ke depan lapangan.
Setelah
semua nilai NEM dibagikan, bu Vesti pun memberikan aba – aba untuk membuka isi
amplop tersebut.
“Vi,
nilai NEM kamu berapa?” tanya Kamilla dengan wajah berbinar – binar. Wajahnya
yang sedari tadi tegang berubah menjadi senyuman manis.
“Hmm...
28,50. Kamu?” jawabku.
“Wow!
Kita beda dikit, Vi! Aku 28 pas! Selamat, ya!” ujarnya kagum, sambil menjabat
tanganku.
“Te...
terimakasih...” jawabku, tersipu malu.
“NEM-mu
berapa, Vi?” sebuah suara terdengar. Rupanya suara Yasmin.
“28,50.
Kamu?” balasku.
Tiba
– tiba raut wajah Yasmin berubah. “Selamat ya, Vi! Kamu menang! NEM-ku 27,50.
Semoga kamu mau memaafkan kesalahanku selama ini.”
Aku
tersenyum, hal ini yang selalu ku nanti sejak dulu. “Tentu, sekarang, kita bisa
berteman, kan? Hehehe...”
Dia
tersenyum namun tiba – tiba dia seperti teringat sesuatu.
“Ada
apa, Min?” tanyaku, bingung.
“Ada
yang ingin ku beri tahu. Sebuah rahasia...” ucap Yasmin serius.
“Rahasia
apa?” aku jadi penasaran dibuatnya.
“Sebenarnya...
bunda kamu tuh meminta aku supaya kita bertanding. Kata bunda kamu, bunda kamu
khawatir sama nilai kamu dan sifatmu yang gugup dan mudah panik itu. Yang waktu
itu aku dipanggil ke ruang kepala sekolah itu, itu sebenarnya...” cerita
Yasmin, pelan.
Aku
jadi terdiam. “Te... terimakasih ya, Min. Kalau saja kita tidak bertanding,
pasti NEM-ku sudah 25 bahkan 24. Hehehe...”
“Ya,
masama.” jawabnya, pelan.
Ternyata
musuh lamaku, Yasmin, sangat mempedulikanku. Karena jika tidak, dia tidak akan
mau bertanding melawanku. Ternyata... Yasmin baik juga... Aku jadi senyum –
senyum sendiri.
“Tapi
aah... aku pikir – pikir... aku bosan bila SMP nanti kita satu sekolah. Apalagi
satu kelas. Masa dari TK kita selalu satu sekolah dan satu kelas sih?” canda
Yasmin.
“Hahaha...”
tawa kami semua.
Hari
itu adalah hari yang paling indah bagiku. Bukan hanya karena nilai NEM-ku yang
bagus tapi juga karena permusuhan aku dan Yasmin setelah hampir 10 tahun
berakhir sudah. Tentu bunda akan bangga bila mengetahui hasil NEM-ku yang
sebenarnya. Belum lagi bila nanti aku masuk SMP favorit yang aku sangat
impikan. Ternyata, ujian tidak buruk – buruk juga. Benar kata bunda, bila kita
berusaha, pantang menyerah, dan berdo’a, kita pasti akan bisa melewati segala
macam ujian, apapun itu.
Tapi
aah... aku mau minta hadiah bunda karena aku sudah mendapat NEM yang baik dan
mengalahkan Yasmin. Karena bagaimana pun juga, bunda yang meminta aku dan
Yasmin bersaing. Hahaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar