“Devani...
kamu nggak jajan?” tanya Ikri, sahabatku sekaligus teman sebangkuku.
Aku menggeleng. “Mm... masih
kenyang, Kri. Kamu jajan sendiri aja ya! Gak papa kan?” tanyaku.
Ikri mengangguk. “Oh ya udah. Gak
papa kok!” jawab Ikri. Ikri pun pergi ke kantin bersama Egia.
“Gi, Devani kenapa ya kok akhir –
akhir ini berubah?” tanya Ikri pada Egia.
“Berubah kenapa, Kri?” tanya Egia.
“Yaa... dia gak pernah jajan. Pulang
pun jalan kaki, padahal, rumahnyakan cukup jauh dan harus ditempuh dengan dua
kali naik angkutan umum.” Jawab Ikri.
“Dia gak dikasih uang jajan kali...”
jawab Egia.
“Gak mungkin Gi... dia kan anak
orang kaya...” bantah Ikri.
“Yaa... mungkin aja... dia dihukum
sehingga sebulan tidak diberi uang jajan... siapa tahu?” kata Egia mengangkat
pundak.
Sepulang sekolah...
“Devani... kamu tadi jajan apa aja?” tanya bunda.
“Ng... tadi... aku... Cuma beli snack.” Jawabku, berbohong.
“Ooh... tadi angkotnya penuh gak?”
tanya bunda, lagi. “Kok lama?”
“Iya... penuh bunda... udah gitu
lama datengnya... ng... Devani mau ganti baju dulu ya!” kataku, segera berlari
ke kamar.
Keesokkannya di sekolah pada jam
istirahat...
“Devani... jajan bareng yuk!” ajak
Ikri dan Egia.
“Aku lagi males jajan Kri, kamu
jajan aja sama Egia.” Jawabku.
“Kamu kenapa sih Deva? Kok udah
hampir sebulan ini gak pernah jajan?” tanya Ikri.
“Kamu gak ada uang? Nih, uang buat
kamu.” Kata Egia, sambil menyodorkanku uang Rp. 2000.
“Eh, gak usah Gi... aku ada uang
kok...” jawabku, menolak uang pemberian Egia karena tidak enak.
“Terus, kalau ada uang, kenapa gak
jajan? Pulang juga jalan kaki?” bantah Ikri.
“Kemarin angkotnya penuh, Kri...”
kataku, berbohong.
“Tapi kok sebulan ini kamu pulan
jalan kaki?” bantah Egia.
“Gak sebulan ini juga... kadang –
kadang Gi...” belaku, masih berbohong.
“Tapi keseringan jalan, Dev...”
mereka jadi mengotot.
“Jangan sok tahu deh kalo gak tahu
apa – apa, sekarang, mendingan kalian jajan aja daripada ngurusin aku. Nanti
keburu bel.” Jawabku, menghentikan adu mulut gak jelas itu. Akhirnya, Ikri dan
Egia pun pergi ke kantin.
Hari ini aku hanya saparan dua buah
roti tawar kecil karena bunda bangun kesiangan. Bunda juga tidak membawakanku
bekal untuk ekskul paskibra nanti. Aku diminta untuk membeli makanan dan
memasukkannya ke dalam kotak bekal. Tentu saja aku tidak mau karena aku sedang
dalam proses penghematan karena ingin membeli handphone yang sedang nge-trend
seperti teman – teman yang lain. Sebab,
kedua orangtuaku tidak mau membelikanku handphone kecuali itu usahaku sendiri
atau hasil tabunganku. Kata ayahku, aku harus hemat. Dan sudah hampir sebulan
ini aku berhasil hemat.
Ketika
istirahat, perutku sangat sakit karena lapar. Tapi tak ku hiraukan. Walaupun
berakibat vatal dan membuat konsentrasiku dikelas terganggu lapar. Aku masih
menguatkan diri. Hingga aku lemas dan mengantuk.
“Kamu kenapa, Dev?” tanya Ikri.
“Aku tak apa... aku hanya
mengantuk.” Jawabku, berbohong.
Aku berharap hari ini cepat berlalu
dan waktu cepat bergulir. Tak ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam otakku
hari itu.
“Kau bawa bekal apa hari ini untuk
ekskul paskibra?” tanya Egia.
“Aku lupa bawa makanan.” Bisikku.
“Kau bawa apa Egia?” tanya Ikri.
“Bawa mie goreng, kamu?” Egia balik
bertanya.
“Roti.” Jawab Ikri, singkat.
Perutku sangat lapar dan keroncongan
hingga beberapa gerakan paskibra salah ku tirukan.
“Sekarang, yang bawa bekal, makan
ya! Yang gak bawa bekal, maju ke depan.” Ujar kakak pembina paskibra. Aku pun
maju ke depan kelas. Aku diminta makan bersama seorang anak perempuan dari
kelas lain. Sayangnya karena aku tidak menyukai makanan yang dia bawa, aku pun
tidak memakannya.
“Devani! Kenapa kamu nggak makan?”
tanya kakak pembina paskibra melihatku belum menyendokkan makanan ke dalam
mulutku.
“Aku udah kenyang, kak!” jawabku,
bohong.
“Makan dong! Paskibrakan sama –
sama. Kalau yang lain makan, kamu juga harus makan! Gimana sih?” tegur kakak
itu, lagi.
“Serius kak... udah kenyang... gak
muat lagi...” jawabku, beralasan.
Akhirnya pulang sekolah juga. Walau
aku capek, ngantuk dan lapar, aku tetap memutuskan berjalan kaki.
“Devani... kok jalan? Kamu gak ada
ongkos pulang? Sama aku aja! Sini, aku bayarin!” tawar Egia.
“Gak apa – apa kok, Gi. Makasih.”
Tolakku, sopan.
“Ya udah deh! Aku sama Egia ikut
jalan juga.” Kata Ikri, tiba – tiba datang.
“Eh, gak usah gitu juga Kri, Gi...
pulang aja duluan.” Kataku, jadi tidak enak.
“Lagian... rumah kitakan deket sama
kamu Dev. Sekalian jalan.” Jawab Ikri.
Akhirnya, aku membiarkan mereka
ikut. Di tengah jalan, aku sudah tak kuat lagi berjalan. Kepalaku terasa berat
sekali. Kepalaku sangat pusing. Mataku berkunang – kunang. Dan tiba – tiba saja
pandanganku gelap. Aku pun terjatuh pingsan. Tentu saja Ikri dan Egia panik.
Mereka segera meminta tolong orang – orang di sekitar situ untuk membawaku ke
rumah. Untung saja, rumahku tak jauh lagi dari sana. Sesampainya di rumah,
mamaku kaget melihat diriku jatuh pingsan karena aku selama ini tidak pernah
pingsan.
Tak berselang lama... aku tersadar.
Seketika aku tidak tahu berada di mana. Lalu ku dengar suara bunda.
“Sudah bangun, Dev?” tanya bunda,
melihat diriku. Aku mengangguk. Lalu bunda memberikanku teh manis. Aku langsung
meminum teh manis itu
“Bunda dengar dari Ikri dan Egia,
akhir – akhir ini kamu tidak pernah jajan. Pulang selalu jalan kaki. Tadi saja
kau tidak makan siang karena tidak membeli bekal Padahal bunda menyuruhmu
membeli bekal bukan? Bunda juga sudah memberikanmu uang lebih. Setelah bunda
cek, ternyata benar bahwa tempat makanmu masih bersih. Kenapa Dev?” tanya
bunda, pelan.
“Maafkan Devani, bund. Devani cuma
mau hemat. Devani mau punya handphone yang sedang nge-trend seperti teman –
teman yang lain. Kata ayah, Devani harus hemat supaya bisa membeli handphone.
Kata ayah, selama ini Devani selalu boros. Devani jadi serba salah deh
sekarang.” Jawabku, jujur.
“Devani... hemat bukan berarti
pelit. Hemat itu membeli sesuai kebutuhan. Sedangkan, pelit itu, kamu
membutuhkan sesuatu tapi kamu memaksakan diri untuk tidak mengeluarkan uang
untuk kebutuhan itu. Sekarang, kalau kamu pelit sama diri kamu sendiri terus
sakit, uang yang kamu kumpulkan jadi habis untuk berobat kan? Yang seharusnya
kamu bisa masuk sekolah jadi tidak masuk karena sakit. Siapa yang rugi?” jelas
bunda. Aku diam saja merenungi setiap kata – kata yang bunda katakan padaku.
“Maaf bunda..., sekarang, Devani mengerti.” Jawabku.
Bunda tersenyum, “Kamu harus
bersyukur Devani, kamu memiliki sahabat – sahabat yang baik dan mempedulikanmu.
Mereka mengingatkanmu ketika kamu bergerak ke jalan yang salah.” Tambah bunda.
Aku mengangguk, sambil tersenyum, aku menjawab, “Pasti bund. Besok ketika
bersekolah, aku akan mengubah sifat jelekku selama ini dan berterimakasih pada
mereka yang telah mengingatkanku dan menyadarkanku dari sifat pelit.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar