Sabtu, 04 Oktober 2014

Hemat atau Pelit?

             “Devani... kamu nggak jajan?” tanya Ikri, sahabatku sekaligus teman sebangkuku.
            Aku menggeleng. “Mm... masih kenyang, Kri. Kamu jajan sendiri aja ya! Gak papa kan?” tanyaku.

            Ikri mengangguk. “Oh ya udah. Gak papa kok!” jawab Ikri. Ikri pun pergi ke kantin bersama Egia.
            “Gi, Devani kenapa ya kok akhir – akhir ini berubah?” tanya Ikri pada Egia.
            “Berubah kenapa, Kri?” tanya Egia.
            “Yaa... dia gak pernah jajan. Pulang pun jalan kaki, padahal, rumahnyakan cukup jauh dan harus ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum.” Jawab Ikri.
            “Dia gak dikasih uang jajan kali...” jawab Egia.
            “Gak mungkin Gi... dia kan anak orang kaya...” bantah Ikri.
            “Yaa... mungkin aja... dia dihukum sehingga sebulan tidak diberi uang jajan... siapa tahu?” kata Egia mengangkat pundak.
            Sepulang sekolah...
            “Devani... kamu tadi  jajan apa aja?” tanya bunda.
            “Ng... tadi... aku... Cuma beli snack.” Jawabku, berbohong.
            “Ooh... tadi angkotnya penuh gak?” tanya bunda, lagi. “Kok lama?”
            “Iya... penuh bunda... udah gitu lama datengnya... ng... Devani mau ganti baju dulu ya!” kataku, segera berlari ke kamar.
            Keesokkannya di sekolah pada jam istirahat...
            “Devani... jajan bareng yuk!” ajak Ikri dan Egia.
            “Aku lagi males jajan Kri, kamu jajan aja sama Egia.” Jawabku.
            “Kamu kenapa sih Deva? Kok udah hampir sebulan ini gak pernah jajan?” tanya Ikri.
            “Kamu gak ada uang? Nih, uang buat kamu.” Kata Egia, sambil menyodorkanku uang Rp. 2000.
            “Eh, gak usah Gi... aku ada uang kok...” jawabku, menolak uang pemberian Egia karena tidak enak.
            “Terus, kalau ada uang, kenapa gak jajan? Pulang juga jalan kaki?” bantah Ikri.
            “Kemarin angkotnya penuh, Kri...” kataku, berbohong.
            “Tapi kok sebulan ini kamu pulan jalan kaki?” bantah Egia.
            “Gak sebulan ini juga... kadang – kadang Gi...” belaku, masih berbohong.
            “Tapi keseringan jalan, Dev...” mereka jadi mengotot.
            “Jangan sok tahu deh kalo gak tahu apa – apa, sekarang, mendingan kalian jajan aja daripada ngurusin aku. Nanti keburu bel.” Jawabku, menghentikan adu mulut gak jelas itu. Akhirnya, Ikri dan Egia pun pergi ke kantin.
            Hari ini aku hanya saparan dua buah roti tawar kecil karena bunda bangun kesiangan. Bunda juga tidak membawakanku bekal untuk ekskul paskibra nanti. Aku diminta untuk membeli makanan dan memasukkannya ke dalam kotak bekal. Tentu saja aku tidak mau karena aku sedang dalam proses penghematan karena ingin membeli handphone yang sedang nge-trend seperti teman – teman yang lain.  Sebab, kedua orangtuaku tidak mau membelikanku handphone kecuali itu usahaku sendiri atau hasil tabunganku. Kata ayahku, aku harus hemat. Dan sudah hampir sebulan ini aku berhasil hemat.
Ketika istirahat, perutku sangat sakit karena lapar. Tapi tak ku hiraukan. Walaupun berakibat vatal dan membuat konsentrasiku dikelas terganggu lapar. Aku masih menguatkan diri. Hingga aku lemas dan mengantuk.
            “Kamu kenapa, Dev?” tanya Ikri.
            “Aku tak apa... aku hanya mengantuk.” Jawabku, berbohong.
            Aku berharap hari ini cepat berlalu dan waktu cepat bergulir. Tak ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam otakku hari itu.
            “Kau bawa bekal apa hari ini untuk ekskul paskibra?” tanya Egia.
            “Aku lupa bawa makanan.” Bisikku.
            “Kau bawa apa Egia?” tanya Ikri.
            “Bawa mie goreng, kamu?” Egia balik bertanya.
            “Roti.” Jawab Ikri, singkat.
            Perutku sangat lapar dan keroncongan hingga beberapa gerakan paskibra salah ku tirukan.
            “Sekarang, yang bawa bekal, makan ya! Yang gak bawa bekal, maju ke depan.” Ujar kakak pembina paskibra. Aku pun maju ke depan kelas. Aku diminta makan bersama seorang anak perempuan dari kelas lain. Sayangnya karena aku tidak menyukai makanan yang dia bawa, aku pun tidak memakannya.
            “Devani! Kenapa kamu nggak makan?” tanya kakak pembina paskibra melihatku belum menyendokkan makanan ke dalam mulutku.
            “Aku udah kenyang, kak!” jawabku, bohong.
            “Makan dong! Paskibrakan sama – sama. Kalau yang lain makan, kamu juga harus makan! Gimana sih?” tegur kakak itu, lagi.
            “Serius kak... udah kenyang... gak muat lagi...” jawabku, beralasan.
            Akhirnya pulang sekolah juga. Walau aku capek, ngantuk dan lapar, aku tetap memutuskan berjalan kaki.
            “Devani... kok jalan? Kamu gak ada ongkos pulang? Sama aku aja! Sini, aku bayarin!” tawar Egia.
            “Gak apa – apa kok, Gi. Makasih.” Tolakku, sopan.
            “Ya udah deh! Aku sama Egia ikut jalan juga.” Kata Ikri, tiba – tiba datang.
            “Eh, gak usah gitu juga Kri, Gi... pulang aja duluan.” Kataku, jadi tidak enak.
            “Lagian... rumah kitakan deket sama kamu Dev. Sekalian jalan.” Jawab Ikri.
            Akhirnya, aku membiarkan mereka ikut. Di tengah jalan, aku sudah tak kuat lagi berjalan. Kepalaku terasa berat sekali. Kepalaku sangat pusing. Mataku berkunang – kunang. Dan tiba – tiba saja pandanganku gelap. Aku pun terjatuh pingsan. Tentu saja Ikri dan Egia panik. Mereka segera meminta tolong orang – orang di sekitar situ untuk membawaku ke rumah. Untung saja, rumahku tak jauh lagi dari sana. Sesampainya di rumah, mamaku kaget melihat diriku jatuh pingsan karena aku selama ini tidak pernah pingsan.
            Tak berselang lama... aku tersadar. Seketika aku tidak tahu berada di mana. Lalu ku dengar suara bunda.
            “Sudah bangun, Dev?” tanya bunda, melihat diriku. Aku mengangguk. Lalu bunda memberikanku teh manis. Aku langsung meminum teh manis itu
            “Bunda dengar dari Ikri dan Egia, akhir – akhir ini kamu tidak pernah jajan. Pulang selalu jalan kaki. Tadi saja kau tidak makan siang karena tidak membeli bekal Padahal bunda menyuruhmu membeli bekal bukan? Bunda juga sudah memberikanmu uang lebih. Setelah bunda cek, ternyata benar bahwa tempat makanmu masih bersih. Kenapa Dev?” tanya bunda, pelan.
            “Maafkan Devani, bund. Devani cuma mau hemat. Devani mau punya handphone yang sedang nge-trend seperti teman – teman yang lain. Kata ayah, Devani harus hemat supaya bisa membeli handphone. Kata ayah, selama ini Devani selalu boros. Devani jadi serba salah deh sekarang.” Jawabku, jujur.
            “Devani... hemat bukan berarti pelit. Hemat itu membeli sesuai kebutuhan. Sedangkan, pelit itu, kamu membutuhkan sesuatu tapi kamu memaksakan diri untuk tidak mengeluarkan uang untuk kebutuhan itu. Sekarang, kalau kamu pelit sama diri kamu sendiri terus sakit, uang yang kamu kumpulkan jadi habis untuk berobat kan? Yang seharusnya kamu bisa masuk sekolah jadi tidak masuk karena sakit. Siapa yang rugi?” jelas bunda. Aku diam saja merenungi setiap kata – kata yang bunda katakan padaku.
            “Maaf  bunda..., sekarang, Devani mengerti.” Jawabku.

            Bunda tersenyum, “Kamu harus bersyukur Devani, kamu memiliki sahabat – sahabat yang baik dan mempedulikanmu. Mereka mengingatkanmu ketika kamu bergerak ke jalan yang salah.” Tambah bunda. Aku mengangguk, sambil tersenyum, aku menjawab, “Pasti bund. Besok ketika bersekolah, aku akan mengubah sifat jelekku selama ini dan berterimakasih pada mereka yang telah mengingatkanku dan menyadarkanku dari sifat pelit.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar