“Tira
sabtu besok, mama sama papa mau pergi ke Bandung. Kamu di rumah sama Koko dan
mbok ya!” kata mama. “Bisa kan?”
“Ngapain
ke Bandung?” tanyaku, diikuti anggukan Koko, kakakku. Aku memanggil kakakku
dengan sebutan Koko, sebab, dia memang mirip dengan orang China.
“Ada
urusan pekerjaan.” jawab mama. “Jadi, boleh gak niih?”
Koko
hanya mengangguk – angguk. “Titip brownies
ya, ma!” kakakku ini memang hobi banget makan. Kalau papa atau mama keluar
kota, pasti yang dititip makanan duluan. Bukan souvenir, atau baju. Aneh ya?
Padahal, makanan kan
cepat habis? Sedangkan kalau benda bisa dipakai kapan pun hingga rusak atau tak
bisa terpakai lagi.
“Tira
boleh ikut gak, ma?” tanyaku, tak menjawab pertanyaan mama.
“Kan
ini urusan pekerjaan sayang... bukan buat refreshing
atau liburan kan? Maaf, mama enggak bisa ngajak kamu ikut mama pergi ke
Bandung, tapi, kamu boleh pesan oleh–oleh apapun kok, mama akan berusaha
mengabulkannya. Are you understand?”
kata mama.
Aku
menggangguk – angguk. “Tira gak titip apa – apa kok, ma.” jawabku, sambil
tersenyum kecil.
“Jadi,
boleh gak niih mama dan papa ke Bandung?” tanya mama padaku.
“Boleh,
tapi...”
“Tapi
apa, sayang?” tanya mama padaku, dengan raut wajah bingung.
“Eh,
ng... nggak apa – apa kok, ma.” jawabku.
“Yakin?”
tanya mama, ragu sekaligus meyakinkanku.
Aku
mengangguk.
“Ya
sudah, sekarang, Tira dan Koko belajar, ya!” kata mama.
“Iya,
ma.” jawab kami.
Malam
harinya, seusai makan malam, aku membaca buku cerita sambil mendengarkan lagu
di kamarku.
Tok!
Tok! Tok!
“Masuk!”
“Tira,
Koko boleh disini?” tanya Koko.
Aku
mengangguk. Koko pun duduk di sampingku.
“Kamu
kok... kayak gak mau mama pergi ke Bandung, sih? Kenapa?” tanya Koko.
“Gak
tahu kenapa, perasaan Tira ga enak aja. Entah apa..” jawabku,
jujur. Aku tidak mau membohongi kakakku ini.
“Sama,
Koko juga. Tapi... yaa... mau bagaimana lagi? Urusan kantor sih.. Tentu buat kita juga
kan nantinya?” jawab Koko.
Aku
pun mengangguk. Aku memainkan Hp-ku. Aku menyalakan lagu F(x) – You Are My Destiny.
Itu salah satu lagu favoritku. Lagi pula, aku ini AfF(x)tion dan K-Popers
sejati. Hehehe... lanjut ke ceritaaaa!!!!
Tok!
Tok! Tok!
“Masuk!”
“Wah!
Ada Koko juga. Belajar bareng nih ceritanya?” goda mama.
“Gak
kok, ma. Cuma lagi ngobrol bareng doang.” jawab Koko.
“Ngobrolin
apa? Mama boleh ikut?” tanya mama.
“Boleh,
kok!”
“Bagaimana
dengan sekolah kalian?” tanya mama, seperti biasa...
“Tadi
ulangan IPA aku dapat 7.” cerita Koko.
“Lho,
kok bisa? Bukannya Koko pandai dalam pelajaran IPA, ya?” tanyaku, kaget.
“Koko
kemarin lupa belajar...” jawab Koko.
“Kali
lain jangan lupa belajar lagi, ya!” pesan mama.
“Tadi
aku ulangan IPS dapat 9 dong!” pamerku.
“Huuu...
sombong...” sela Koko.
“Yee...
kenyataan lagi...” kataku, menjulurkan lidah pada Koko.
Mama
hanya tersenyum, tumben tidak melerai kami.
“Pertahankan
ya! Jangan sombong.” nasihat mama, sambil tersenyum.
“Kalau
kalian sudah besar nanti, kalian harus jadi anak yang sholeh, ya! Jadi anak
yang rajin, pintar, dan baik hati.” kata mama, tiba – tiba. Membuatku dan Koko
bingung. Tapi kami manggut – manggut saja.
Sore
ini, hari Kamis. Aku tak ada kegiatan di rumah. Sangat membosankan rasanya.
“Huh!
Enaknya ngapain, ya?” kataku.
“Ikut
papa main badminton di lapangan, yuk!” ajak papa.
“Memangnya,
Koko mana? Biasanya papa main badminton sama Koko?” tanyaku.
“Koko-kan
sedang pencak silat.” jawab papa
enteng.
“Ya
sudah, aku bersiap dulu ya, pa!” jawabku. Aku segera berganti baju, menyisir
rambutku dan mengikatnya. Lalu aku mengambil raket dan kok untuk bermain
badminton. Aku dan papa pun berjalan menuju lapangan yang tak jauh dari rumah.
Aku
cukup pandai dalam olahraga ini. Karena olahraga ini adalah hobiku.
Aku
menang pertandingan pertama.
Di tengah istirahat, papa berkata padaku, “Kau cukup pandai bermain badminton.
Asah terus kemampuanmu itu hingga menjadi sesuatu yang membanggakan. Papa
yakin, jika kamu menjalani pesan papa ini, kamu akan menjadi orang sukses.”
pesan papa.
“Amien...
oke, pa! Tira janji akan membuat bangga dan senang semua orang yang Tira
sayangi.” janjiku.
Keesokkan
malamnya...
“Ma,
malam ini mama tidur di kamar Tira dong!” pintaku.
“Kenapa?
Kamu takut?” tanya mama.
“Nggak...
besokkan mama dan papa ke Bandung...” kataku, beralasan.
“Nggak
ah! Kamu kan sudah besar! Iih... malu... masih ditemenin mamanya...” kata mama.
“Tapi
ma, please... sekali... aja...”
rengekku.
“Gak
ada tapi – tapian!” jawab mama. Lalu pergi meninggalkanku.
Malam
harinya... aku bermimpi suatu hal buruk terjadi. Aku bermimpi papa dan mamaku pergi melambaikan tangannya, menjauh dan semakin menjauh
lalu menghilang dari pandanganku.
Hh...
Hh... Hh... Hh... aku terbangun dengan keringat dingin menetes di sekujur
tubuhku. Ku raba dadaku. Jantungku berdegup kencang. Aku sangat takut, takut
bila hal itu benar – benar terjadi.
Aku
duduk sambil memeluk bantal dan menangis. Aku terus berdo’a agar hal buruk itu
tidak terjadi.
Aku
tak bisa tidur hingga kumandang adzan
subuh terdengar. Akhirnya, ku putuskan untuk sholat subuh dari pada menangis
terus.
TREK!
Bunyi lampu dinyalakan.
“Lho,
Tira? Tumben bangun pagi sekali.”
kata mama, kaget melihat diriku.
“Tadi,
Tira kebangun. Kebetulan mendengar adzan subuh. Akhirnya,
Tira putuskan untuk sholat deh!” jawabku.
“Ooh...
begitu... bagus deh! Sholat jama’ah di kamar mama, ya!” kata mama.
“Iya,
ma.” jawabku.
Seusai
wudhu, aku langsung pergi ke kamar mamaku.
Seusai
sholat, aku berdo’a untuk kedua
orangtuaku. Lalu aku melipat mukena dan sajadah.
“Ma,
mama jangan pergi ke Bandung, ya?” kataku, pada akhirnya. Aku memberanikan diri
berkata seperti itu.
“Kenapa?”
tanya mama, kaget karena kemarin aku sudah mengizinkannya.
“Ti...
Ti... Tira... gak... bi... bi... bisa ja... jauh da... da... dari ma... ma...”
isakku. Mama memelukku. “Kita akan tetap berhubungan, kok!”
“Dari
awal, sebenarnya... Tira gak mau mama pergi...” tangisku makin menjadi.
“Mama
pasti bakal pulang sayang. Mama janji...” kata mama.
“Janji?”
tanyaku, sambil mengulurkan jari kelingkingku.
“Janji!”
jawab mama, mantap. Sambil melingkari jari kelingkingku.
“Lagi
pula, mama cuma satu malam kok menginap di Bandung. Minggu besok juga sudah
pulang, kok!” jelas mama.
Aku
memeluk mama. Jangan tinggalkan Tira, ma. Tira sayang sama mama dan selamanya
akan tetap sayang sama mama. Tira gak bisa jauh dari mama. Apalagi berpisah
dengan mama. Batinku.
“Hati
– hati ya di jalan!” kataku saat papa dan mama bersiap berangkat ke Bandung.
“Hati
– hati di jalan! Jangan lupa browniesnya!
Rasa cokelat pakai chocochips aja,
ya! Gak usah pakai kacang mete.” pesan Koko.
“Iya...
iya... tenang saja... kalau kalian mau kemana – mana, minta antar pak Jum, oke?
Tapi jangan lupa, izin dulu sama mbok. Jangan merepotkan mbok, ya!” pesan mama.
“Siip! Setelah lagu Bundanya Melly Goeslaw diputar, ku
putar lagu Dear Mom dari SNSD. Setelah lagu Dear Mom selesai.
Lagu Sorry (Dear. Daddy) dari F(x) giliranku nyalakan.
“Perasaan
lagunya gituan mulu. Yang lain kek! Super
Junior gitu.” kata Koko.
“Bodo
amat! Terserah aku dong mau nyalain lagu apa... kan aku yang punya Hp.” kataku,
sambil menjulurkan lidah pada Koko.
Namun
tiba – tiba, aku teringat dengan mama. Lalu aku mengetik SMS.
Aku: Ma, di mana?
Mama: Lagi lunch di Batagor Kingsley. Kamu dan Koko sudah lunch belum?
Aku: Wuih... enak! Minta dong! Hehehe... belum, nanti, sebentar lagi.
Mama: Ooh... ya sudah, mama dan papa sayang kalian :*
Aku: We love you too... :*
Malamnya, aku
kembali meng-SMS mama.
Aku: Good night mom. J :* love you,
mom
Mama: Good night darling, have a nice dream. we love
you too. :* *Big hug
Lalu
aku tertidur dengan Hp ditanganku.
Aku
terbangun keesokkan harinyakarena bunyi dari Hp-ku.
Mama: Good morning... J wake up
darling
Aku: OMG! Aku lupa sholat subuh! Udah bangun kok, ma.
Mama: Ckckckck... Ya sudah. Koko sudah bangun, belum? Kalo belum bangun,
tolong bangunin, ya!
Aku: Gak tau deh! Kayaknya sih belum. Coba aku liat dulu. Oke deh! ;)
Aku
langsung menuju kamar Koko. Yang benar saja, Koko belum bangun.
“Ko...
bangun... mama SMS tuh... katanya, Koko disuruh bangun...” kataku, sembari
mengguncang tubuh Koko.
“Iya...
iya...” jawab Koko, langsung bangun. Tiba – tiba, Hp-ku berbunyi lagi. Rupanya
SMS dari mama.
Mama: Ko, Ra, kalian sarapan pake apa?
Aku: Aku mau beli nasi uduk, boleh?
Mama: boleh
Aku: Yes! Thanks mom.
Mama: Iyaa... mama dan papa sayang kalian berdua...
Aku: Oya, mama dan papa mau pulang jam berapa dari Bandung?
Mama: Jam 15.00. Ada apa? Kangen yaa?
Aku: Iya, sama mau cepet – cepet makan brownies. Hehehe...
Mama: mama dan papa sayang kalian berdua... :* *bighugs
“Ko, mama kok aneh, ya?” tanyaku.
“Kenapa
aneh?”
“Iya,
mama selalu bilang mama dan papa sayang kalian.” jawabku.
“Emangnya
salah, ya? Kalau seorang ibu bilang seperti itu pada anaknya sendiri?” tanya
Koko.
“Enggak
siih... tapi mama dari kemarin
sering banget nulis begitu .” jawabku.
“Ya
sudah, itu membuatmu senang kan,
kan? Mungkin karena mama dan papa tahu kita sebenarnya tidak ingin mereka pergi
ke Bandung.” jawab Koko. “Mandi sana! Koko mau beli nasi uduk dulu. So, kamu selesai mandi bisa langsung
sarapan. by the way... mama bilang
mau pulang dari Bandung jam berapa?” tanya Koko.
“Jam
15.00 sore. Udah gak sabar mau makan brownies, ya?” godaku.
“Hehehe...
Iya, tahu aja kamu.” tawa Koko.
“Ya
jelas dong... itukan kebiasaannya Koko.” jawabku.
Menjelang sore... aku meng-SMS
mama.
Aku: Ma, udah sampai mana?
Mama: Baru mau masuk tol Cipularang.
Aku: Ooh... Koko udah gak sabar mau makan brownies niih! Hehehe...
Mama: Hahaha... mama dan papa sayang kalian :*
Aku: Aku dan Koko juga sayang mama dan papa
“Mama
dan papa udah dimana?” tanya Koko.
“Terakhir
aku SMS siih... katanya baru mau masuk tol Cipularang.” jawabku.
“Itu
kamu SMS jam berapa?” tanya Koko, lagi.
“Jam
15.00.” jawabku, enteng.
“Apa?!
Jam 15.00, beneran?” tanya Koko, kaget.
Aku
mengangguk. “Nih masih ada SMS-nya kalau gak percaya siih.” jawabku masih
santai. “Memangnya kenapa sih Koko kaget? Sebentar lagi mereka juga pulang.”
“Hei...
Hei... kamu gak liat jam? Sekarang tuh sudah jam 18.00. Masa tol Cipularang ke sini 3 jam sih?
Biasanya juga cuma 2 jam kok!” kata Koko.
“Macet
kali...” kataku, santai.
“Atau
gak nyonya dan tuan beli makanan dulu buat makan malam.” tambah mbok, yang
mendengar perbincangan aku dan Koko.
“Kamu
bilang ke mama di rumah gak ada makanan?” tanya Koko, padaku.
Aku
menggeleng.
“Coba
SMS mama deh! Cepat! Kalau jam 18.30 mama belum datang, kita susul ke sana!” kata Koko.
“Baik,
baik. Tapi tunggu dulu, apa kata Koko? Susul? Koko sudah gila ya?” tanyaku.
“Kan
ada pak Jum.” jawab Koko, singkat.
Aku
pun mengirim SMS.
Aku: Mama dan papa di mana? Kok belum sampe – sampe?
1
menit...
3
menit...
5
menit...
10
menit...
Tak
ada jawaban.
Ku
coba kirim SMS lagi.
Aku: Mama dan papa di mana? Kok belum sampe – sampe? Bales dong!
Aneh!
Tak ada jawaban! Padahal delivered.
Aku yakin mamaku punya pulsa karena baru kemarin mama mengisi pulsa. Kalau Hp
mama mati, kok delivered?
Pikirku.
Ku
coba kirim SMS yang sama ke nomor papa. Aneh! Sama seperti mama, delivered tapi tidak ada
jawaban. Ku coba menunggu.
Hingga
pukul 18.30 pun tidak ada jawaban dari mama atau papa.
“Koko...
gak ada jawaban...” mataku mulai berkaca – kaca.
“Koko
coba lacak posisi mama dan papa di mana dulu lewat
Internet. Kamu tenang dulu, ya!” hibur Koko tapi wajahnya menunjukkan
kepanikan. Koko menyalakan netbooknya
dan mulai mencari lewat Internet.
Cara
mencari mama dan papa cukup mudah, tinggal memasukkan nomor Hp mama atau papa
maka lokasi mama dan papa dapat terlacak
lewat internet.
“Ketemu...
pak Jum! Antar aku dan Tira kesana! Mbok, jaga rumah, ya! Aku dan Tira mau
menyusul mama dan papa.” kata Koko.
“Baik,
tuan.” jawab mbok.
“Tu...
Tu... Tu... Tuan...” pak Jum ingin berbicara.
“Cepat
kes ana!”
kata Koko. Wajahnya penuh dengan keringat dingin.
“Ba...
baik Tu... tuan!” kata pak Jum, entah mengapa pak Jum jadi tergagap – gagap.
“Su...
sudah sa... sampai, tu... tuan.” kata pak Jum.
“Sudah?
I... inikan... ru... rumah sa... sakit?” tanyaku, tak percaya.
“I...
iya... da... dari ta... tadi, pak Jum berusaha menjelaskan pada kalian. Ta...
tapi... kalian tak mau mendengarkan pak Jum.”
“Ayo
turun!” kata Koko.
“Lantai
berapa, Ko? Kan ada banyak lantai di rumah sakit?” tanyaku.
“Coba
tanya ke bagian informasi.” jawab Koko.
“Biar
pak Jum yang tanya. Kalian tunggu dan duduk saja di kursi itu.” kata pak Jum.
Aku dan Koko pun menurut sambil terus berdo’a. Dipikiranku hanya do’a, do’a,
dan do’a. Do’a untuk keselamatan kedua orangtuaku.
“Bagaimana,
pak?” tanyaku, melihat pak Jum datang dengan raut wajah sedih.
Pak
Jum menggeleng. “Orangtua kalian... Hh... mengalami kecelakaan di tol
Cipularang. Dan nyawa mereka tak dapat tertolong. Ini barang – barang yang
tersisa dari mereka...” kata pak Jum, sedih.
“Nggak
mungkin... mama... papa... mama tak dapat menepati janjinya padaku... ini mimpi kan?” aku menangis
meraung – raung.
“Pasti
ini bohong! Tidak mungkin! Mana mama dan papaku?” tangis Koko.
“Sayangnya,
semua itu benar.” jawab pak Jum.
Yang
tersisa hanyalah brownies yang mama janjikan untuk kami. Yang tersisa tinggalah
kenangan manis yang kami lewati bersama. Maaf ma, maaf pa, aku belum bisa
membanggakan kalian hingga malaikat – malaikat suci menjemput kalian. Aku tahu
kalian di sana
sedang melihatku dan Koko yang tak sanggup kehilangan kalian. Aku tahu kalian
di sana
bahagia dalam kedamaian. Rupanya, sholat subuhku dan mama Sabtu kemarin adalah
yang terakhir kalinya. Pertandingan
bulu tangkisku dengan papa Kamis sore kemarin adalah
yang terakhir kalinya. Mengapa kalian pergi begitu cepat? Aku tak bisa
melepaskan kalian... aku tak bisa meninggalkan kalian... Tapi aku yakin, kalian
di sana
masih menyayangiku dan Koko seperti dulu. Apa mama dan papa ingin mengucapkan
selamat tinggal dengan berucap, ‘Mama dan papa sayang kalian’? Aku janji aku
akan membanggakan dan membahagiakan kalian...
Kue
brownies yang dipesan Koko dan aku jadi tak ku makan. Kue brownies yang enak
tidak dapat menggantikan kesedihan kami. Bahkan rayuan pak Jum supaya aku dan
Koko tidak menangis pun tidak dapat membuat kami tidak menangis.
“Jangan
menangis! Nanti kedua orangtua kalian tidak akan tenang di sana.” kata pak Jum. Aku berusaha menghentikan tangisku,
namun sulit. Begitu juga dengan Koko. Akhirnya, aku dan Koko memutuskan untuk
pulang. Di dalam mobil, perutku keroncongan, aku pun memakan brownies itu
sambil menangis, begitu juga dengan Koko.
Mama,
papa, aku dan Koko menyayangi kalian, dan sampai kapan pun akan selalu
menyayangi kalian. Aku tahu mama dan papa sedang tersenyum bahaga di surga
dengan kebahagiaan. Aku tahu kalian beristirahat dengan tenang di sana. Aku cinta kalian
selamanya... Goodbye mom and dad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar