Sabtu, 04 Oktober 2014

Boneka Keifanny

              Keifanny suka sekali menonton film kartun mengenai ‘sihir’ salah satunya sebuah film kartun yang bercerita tentang seorang gadis yang mampu melihat masa depan. Dan film kartun itu adalah film kartun favorit Keifanny.

            “Oh, andai saja aku bisa melihat masa depan. Aku ingin sekali melihat masa depanku, keluargaku, dan teman – temanku. Pasti menyenangkan.” Pikir Keifanny.
            “Daripada melamun, tolong bantu ibu bersihkan gudang, Keif.” Perintah ibu.
            “Eh... hehehe... i... iya bu...” jawab Keifanny sedikit malas.
            Dengan langkah malas Keifanny memasuki gudang. Huh! Keifanny sangat membenci tempat ini karena banyak sekali debu. Saat Keifanny memutar kunci pintu gudang. Terlihat sebuah pancaran cahaya yang menyilaukan mata dari dalam gudang itu. Hmm... aneh. Batin Keifanny.
            Saat Keifanny membuka pintu gudang dan menyalakan lampu, sebuah kotak terjatuh. “Apa ini?” tanya Keifanny. Ternyata di dalam kotak itu ada sebuah boneka perempuan kecil yang sangat manis. “Huh! Sedikit berdebu. Sayang sekali, padahal, boneka ini lucu. Lebih baik aku membersihkannya sekarang.” Pikirnya.
            Setelah Keifanny membersihkan boneka itu, Keifanny memberinya nama Kailani dan menaruhnya di tempat tidurnya. Lalu, Keifanny kembali membantu ibu untuk membersihkan gudang.
            Malamnya, Keifanny bermimpi bahwa kakek dan nenek akan datang besok. Tak terkira betapa bahagianya Keifanny hari itu. Saat terbangun, Keifanny bergumam, “Huh! Andai saja itu kenyataan.”
            Keifanny keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk sarapan. Saat sedang sarapan... TING TONG... TING TONG... ibu pun membuka pintu. Dan wow! Keifanny membelalak kaget, rupanya kakek datang bersama nenek. Keifanny sangat takjub dan heran, mimpinya sama seperti yang terjadi pagi ini. Namun, Keifanny tidak terlalu berpikir  yang tidak – tidak. Ah, mungkin cuma kebetulan saja.
            “Halo Keifanny... maaf ya kakek dan nenek tidak memberimu kabar sebelumnya. Soalnya, supaya surprise.” Ujar kakek.
            “Iya, tak apa. Fanny senang kakek dan nenek kemari.” Jawab Keifanny, sambil mencium tangan mereka. Kakek dan nenek membawa hadiah untuk Keifanny. Kakek memberikan Keifanny beberapa permen dan kue coklat. Sedangkan, nenek memberikan Keifanny pot kecil yang ditumbuhi bunga hiasan.
            “Terimakasih kek, nek. Aku akan menaruh coklat dan permen ini di lemari es. Sedangkan pot kecil ini akan aku letakkan di kamar. Apakah kakek dan nenek mau ke kamarku sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Ujar Keifanny dengan mata berbinar – binar.
            “Hmm... kakek saja yang ikut ke kamarmu. Nenek dan ibu akan memasak di dapur. Tak apa kan?” jawab nenek.
            “Tak apa nek.” Jawabku, singkat. Keifanny dan kakek segera menuju kamar Keifanny. Keifanny meletakkan pot bunga itu di dekat jendela kamarnya.
            “Tebak kek apa yang aku temukan kemarin saat membersihkan gudang?” kata Keifanny, penuh ceria.
            “Hmm... mungkin boneka...” jawab kakek.
            “Benar. Bonekanya sangat lucu ya, kek! Apakah ini punya nenek dulu? Aku beri nama dia Kailani.” tanya Keifanny.
            “Ooh... boneka ini, tho... ini hadiah yang kakek berikan pada nenek waktu masih muda. Kakek kira, boneka ini... sudah hilang.” Jawab kakek.
            “Oh ya? Wow! Waktu itu kakek membelinya di mana? Aku sangat ingin memilikinya lebih banyak!” jawab Keifanny, kagum.
            “Satu boneka saja sudah lebih dari cukup, Keif...” kakek menjawab dengan singkat.
            Keifanny mengernyitkan dahi. “Kenapa? Apa maksud kakek?”
            “Itu yang dikatakan seorang peramal kepada kakek waktu kakek membelinya. Entah apa maksudnya.” Jawab kakek.
            “Lalu, kenapa bisa Fanny temukan di gudang, ya?” tanya Keifanny, heran.
            “Mungkin saat pindahan nenek lupa menaruh boneka ini di mana, nak.” Jawab kakek.
            Malamnya, Keifanny bermimpi bahwa ia dijauhi teman – temannya karena ia bermain curang. Keifanny lalu terbangun. Hh... hh... hh... just a bad dream. That is just a dream. Batin Keifanny.
            Paginya, saat di sekolah... tidak ada yang menjauhi Keifanny. Tapi sehabis istirahat, semua anak memandang dingin, benci, kesal, dan marah padanya. Semua anak di kelasnya mendiamkannya karena Keifanny curang saat bermain benteng. Untungnya Keifanny langsung meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
            Malamnya, dia bermimpi mendapat nilai jelek saat ulangan harian, malam selanjutnya, dia bermimpi tidak mengerjakan PR, selanjutnya, dia bermimpi terlambat masuk kelas, berikutnya, dia bermimpi tidak membawa baju ganti, berikutnya, dia bermimpi tidak membawa buku IPS yang ia pinjam di perpustakaan hingga terkena denda, berikutnya dia bermimpi terjatuh ketika sedang bermain sepeda, dan hal yang sama dengan apa yang dia impikan terus terjadi.
            “Ada apa, Keif?” tanya kakek yang melihat Keifanny termenung.
            “Pasti! Itu pasti!” gumam Keifanny tanpa menjawab pertanyaan kakek.
            “Kenapa?” tanya kakek, lagi.
            “Pasti ada suatu hal yang tidak kakek beritahu padaku mengenai Kailani. Atau ada satu hal yang tidak kakek ketahui tentang Kailani.” Jawab Keifanny.
            “Memangnya kenapa?” tanya kakek.
            “Akhir – akhir ini, semenjak aku memiliki Kailani, aku selalu bermimpi mengenai hal yang akan terjadi, kapanpun itu. Aku jadi menyadarinya sekarang.” Jawab Keifanny, jujur.
            “Oh... memang, ada satu cerita yang tidak kakek ceritakan mengenai Kailani. Sewaktu nenek memilikinya, nenek selalu bermimpi mengenai semua hal yang akan terjadi. Waktu itu, nenek bermimpi bahwa nenek akan menikah dengan kakek, lalu, berapa anak yang akan nenek lahirkan, dan berapa cucu yang akan nenek punya. Awalnya, nenek dan kakek tidak percaya, tapi...ternyata terjadi. Karena menurut nenek, Kailani sudah tidak berguna diusianya yang sekarang, nenek sengaja menaruh Kailani di sebuah kotak di gudang ini supaya tidak ada yang mengalami hal yang sama. Saat kakek ingin mengembalikan Kailani, peramal itu sudah tidak ada. Peramal itu memang bisa meramal dan mungkin sedikit dari kekuatannya berada di boneka ini. Karena peramal itu sangat menyayangi Kailani. Waktu itu, kakek juga baru sadar apa arti ucapan peramal itu bahwa, ‘satu saja sudah lebih dari cukup.’ Jika kita memiliki banyak boneka itu, kita akan semakin mengetahui masa depan kita lebih dalam yang belum tentu dan tidak selalu baik.” Cerita kakek.
            “Sekarang, Keifanny tahu, bahwa melihat masa depan itu ternyata seperti memakan masakan tanpa garam. Tidak ada enaknya sama sekali. Mungkin enak bila kita melihat masa depan diri kita sendiri yang menyenangkan, tapi bila tidak? Apalagi bila kita melihat masa depan teman, sahabat, saudara, atau keluarga kita. Ketika kita memberitahu mengenai masa depan mereka yang suram misalnya, mereka tidak akan percaya dan akan menganggap diri kita aneh atau mendo’akannya yang tidak – tidak, padahal, maksud kita baik. Maksud kita untuk mengingatkan saja. Lagipula, bila kita mengetahui masa depan, hidup kita yang seru jadi tidak seru karena kita sudah mengetahui hal yang akan terjadi. Ibarat kita memainkan sebuah games yang sudah tamat atau selesai dari awal secara berulang - ulang.” Jawab Keifanny, mulai mengerti.
            Kakek tersenyum, “Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan nenek?”

            Keifanny menggeleng, “Aku akan tetap merawat Kailani. Misalnya, jika aku bermimpi terlambat masuk sekolah, aku harus bangun lebih pagi supaya hal itu tidak terjadi. Pokoknya hanya untuk diriku sendiri. Aku kan punya dan percaya pada Tuhan yang memberiku hidup, kek. Yang terjadi adalah kehendakNYA, dan tersirat di mimpiku. Yang positif akan aku ambil, yang negatif harus kita ubah.” Jawab Keifanny sambil tersenyum. Kakek pun membalas senyumnya, “Setuju..., kamu cukup bijak..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar