Keifanny suka
sekali menonton film kartun mengenai ‘sihir’ salah satunya sebuah film kartun
yang bercerita tentang seorang gadis yang mampu melihat masa depan. Dan film
kartun itu adalah film kartun favorit Keifanny.
“Oh, andai saja aku bisa melihat
masa depan. Aku ingin sekali melihat masa depanku, keluargaku, dan teman –
temanku. Pasti menyenangkan.” Pikir Keifanny.
“Daripada melamun, tolong bantu ibu
bersihkan gudang, Keif.” Perintah ibu.
“Eh... hehehe... i... iya bu...”
jawab Keifanny sedikit malas.
Dengan langkah malas Keifanny
memasuki gudang. Huh! Keifanny sangat membenci tempat ini karena banyak sekali
debu. Saat Keifanny memutar kunci pintu gudang. Terlihat sebuah pancaran cahaya
yang menyilaukan mata dari dalam gudang itu. Hmm... aneh. Batin Keifanny.
Saat Keifanny membuka pintu gudang
dan menyalakan lampu, sebuah kotak terjatuh. “Apa ini?” tanya Keifanny.
Ternyata di dalam kotak itu ada sebuah boneka perempuan kecil yang sangat
manis. “Huh! Sedikit berdebu. Sayang sekali, padahal, boneka ini lucu. Lebih
baik aku membersihkannya sekarang.” Pikirnya.
Setelah Keifanny membersihkan boneka
itu, Keifanny memberinya nama Kailani dan menaruhnya di tempat tidurnya. Lalu,
Keifanny kembali membantu ibu untuk membersihkan gudang.
Malamnya, Keifanny bermimpi bahwa
kakek dan nenek akan datang besok. Tak terkira betapa bahagianya Keifanny hari
itu. Saat terbangun, Keifanny bergumam, “Huh! Andai saja itu kenyataan.”
Keifanny keluar dari kamarnya dan
menuju ruang makan untuk sarapan. Saat sedang sarapan... TING TONG... TING
TONG... ibu pun membuka pintu. Dan wow! Keifanny membelalak kaget, rupanya
kakek datang bersama nenek. Keifanny sangat takjub dan heran, mimpinya sama
seperti yang terjadi pagi ini. Namun, Keifanny tidak terlalu berpikir yang tidak – tidak. Ah, mungkin cuma
kebetulan saja.
“Halo Keifanny... maaf ya kakek dan
nenek tidak memberimu kabar sebelumnya. Soalnya, supaya surprise.” Ujar kakek.
“Iya, tak apa. Fanny senang kakek
dan nenek kemari.” Jawab Keifanny, sambil mencium tangan mereka. Kakek dan nenek
membawa hadiah untuk Keifanny. Kakek memberikan Keifanny beberapa permen dan
kue coklat. Sedangkan, nenek memberikan Keifanny pot kecil yang ditumbuhi bunga
hiasan.
“Terimakasih kek, nek. Aku akan
menaruh coklat dan permen ini di lemari es. Sedangkan pot kecil ini akan aku
letakkan di kamar. Apakah kakek dan nenek mau ke kamarku sebentar? Aku ingin
menunjukkan sesuatu.” Ujar Keifanny dengan mata berbinar – binar.
“Hmm... kakek saja yang ikut ke
kamarmu. Nenek dan ibu akan memasak di dapur. Tak apa kan?” jawab nenek.
“Tak apa nek.” Jawabku, singkat.
Keifanny dan kakek segera menuju kamar Keifanny. Keifanny meletakkan pot bunga
itu di dekat jendela kamarnya.
“Tebak kek apa yang aku temukan
kemarin saat membersihkan gudang?” kata Keifanny, penuh ceria.
“Hmm... mungkin boneka...” jawab
kakek.
“Benar. Bonekanya sangat lucu ya,
kek! Apakah ini punya nenek dulu? Aku beri nama dia Kailani.” tanya Keifanny.
“Ooh... boneka ini, tho... ini
hadiah yang kakek berikan pada nenek waktu masih muda. Kakek kira, boneka
ini... sudah hilang.” Jawab kakek.
“Oh ya? Wow! Waktu itu kakek
membelinya di mana? Aku sangat ingin memilikinya lebih banyak!” jawab Keifanny,
kagum.
“Satu boneka saja sudah lebih dari
cukup, Keif...” kakek menjawab dengan singkat.
Keifanny mengernyitkan dahi.
“Kenapa? Apa maksud kakek?”
“Itu yang dikatakan seorang peramal
kepada kakek waktu kakek membelinya. Entah apa maksudnya.” Jawab kakek.
“Lalu, kenapa bisa Fanny temukan di
gudang, ya?” tanya Keifanny, heran.
“Mungkin saat pindahan nenek lupa
menaruh boneka ini di mana, nak.” Jawab kakek.
Malamnya, Keifanny bermimpi bahwa ia
dijauhi teman – temannya karena ia bermain curang. Keifanny lalu terbangun.
Hh... hh... hh... just a bad dream. That
is just a dream. Batin Keifanny.
Paginya, saat di sekolah... tidak
ada yang menjauhi Keifanny. Tapi sehabis istirahat, semua anak memandang
dingin, benci, kesal, dan marah padanya. Semua anak di kelasnya mendiamkannya
karena Keifanny curang saat bermain benteng. Untungnya Keifanny langsung
meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Malamnya, dia bermimpi mendapat
nilai jelek saat ulangan harian, malam selanjutnya, dia bermimpi tidak
mengerjakan PR, selanjutnya, dia bermimpi terlambat masuk kelas, berikutnya,
dia bermimpi tidak membawa baju ganti, berikutnya, dia bermimpi tidak membawa
buku IPS yang ia pinjam di perpustakaan hingga terkena denda, berikutnya dia
bermimpi terjatuh ketika sedang bermain sepeda, dan hal yang sama dengan apa
yang dia impikan terus terjadi.
“Ada apa, Keif?” tanya kakek yang
melihat Keifanny termenung.
“Pasti! Itu pasti!” gumam Keifanny
tanpa menjawab pertanyaan kakek.
“Kenapa?” tanya kakek, lagi.
“Pasti ada suatu hal yang tidak
kakek beritahu padaku mengenai Kailani. Atau ada satu hal yang tidak kakek
ketahui tentang Kailani.” Jawab Keifanny.
“Memangnya kenapa?” tanya kakek.
“Akhir – akhir ini, semenjak aku
memiliki Kailani, aku selalu bermimpi mengenai hal yang akan terjadi, kapanpun
itu. Aku jadi menyadarinya sekarang.” Jawab Keifanny, jujur.
“Oh... memang, ada satu cerita yang
tidak kakek ceritakan mengenai Kailani. Sewaktu nenek memilikinya, nenek selalu
bermimpi mengenai semua hal yang akan terjadi. Waktu itu, nenek bermimpi bahwa
nenek akan menikah dengan kakek, lalu, berapa anak yang akan nenek lahirkan,
dan berapa cucu yang akan nenek punya. Awalnya, nenek dan kakek tidak percaya,
tapi...ternyata terjadi. Karena menurut nenek, Kailani sudah tidak berguna
diusianya yang sekarang, nenek sengaja menaruh Kailani di sebuah kotak di
gudang ini supaya tidak ada yang mengalami hal yang sama. Saat kakek ingin
mengembalikan Kailani, peramal itu sudah tidak ada. Peramal itu memang bisa
meramal dan mungkin sedikit dari kekuatannya berada di boneka ini. Karena
peramal itu sangat menyayangi Kailani. Waktu itu, kakek juga baru sadar apa
arti ucapan peramal itu bahwa, ‘satu saja sudah lebih dari cukup.’ Jika kita
memiliki banyak boneka itu, kita akan semakin mengetahui masa depan kita lebih
dalam yang belum tentu dan tidak selalu baik.” Cerita kakek.
“Sekarang, Keifanny tahu, bahwa
melihat masa depan itu ternyata seperti memakan masakan tanpa garam. Tidak ada
enaknya sama sekali. Mungkin enak bila kita melihat masa depan diri kita
sendiri yang menyenangkan, tapi bila tidak? Apalagi bila kita melihat masa
depan teman, sahabat, saudara, atau keluarga kita. Ketika kita memberitahu
mengenai masa depan mereka yang suram misalnya, mereka tidak akan percaya dan
akan menganggap diri kita aneh atau mendo’akannya yang tidak – tidak, padahal,
maksud kita baik. Maksud kita untuk mengingatkan saja. Lagipula, bila kita
mengetahui masa depan, hidup kita yang seru jadi tidak seru karena kita sudah
mengetahui hal yang akan terjadi. Ibarat kita memainkan sebuah games yang sudah
tamat atau selesai dari awal secara berulang - ulang.” Jawab Keifanny, mulai
mengerti.
Kakek tersenyum, “Lalu, apa yang
ingin kau lakukan? Apa kau akan melakukan hal yang sama dengan nenek?”
Keifanny menggeleng, “Aku akan tetap
merawat Kailani. Misalnya, jika aku bermimpi terlambat masuk sekolah, aku harus
bangun lebih pagi supaya hal itu tidak terjadi. Pokoknya hanya untuk diriku
sendiri. Aku kan punya dan percaya pada Tuhan yang memberiku hidup, kek. Yang
terjadi adalah kehendakNYA, dan tersirat di mimpiku. Yang positif akan aku
ambil, yang negatif harus kita ubah.” Jawab Keifanny sambil tersenyum. Kakek
pun membalas senyumnya, “Setuju..., kamu cukup bijak..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar