Senin, 03 November 2014

Langkah - Langkah Mendownload Lagu Melalui Indexmp3

1. Masuk ke www.indexmp3.wakpa.me



2. Ketik judul atau nama artis pada kotak search yang tersedia lalu tekan enter



3. Klik tulisan download yang berada di bawah nama dan judul lagu, Tampilan seperti di bawah ini akan muncul



4. Klik download now lalu tunggu hingga download selesai maka lagu akan siap didengarkan


Jumat, 10 Oktober 2014

My Journey

Gue mau berbagi pengalaman dan cerita aja disini. Semoga bisa memotivasi dan menginspirasi kalian yang baca, terutama buat yang pengen jadi penulis. Amin. Walaupun gue sendiri gak tau apakah ada yang baca blog gue atau gak. Dan gue sadar, sekarang gue begini berawal dari ketika gue masih kecil, masih sangat – sangat kecil...

Putri Sandara Part 8

   Sementara itu, keesokkan harinya...
   TING... TONG... TING... TONG...
   Pelayan membukakan pintu.
   “Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang pelayan.
   “Kami dipanggil dalam surat ini.” kata tamu tersebut menyerahkan sepucuk surat.
   Sang pelayan membaca surat itu dengan seksama dan dengan sungguh - sungguh. “Baiklah anda boleh masuk.” kata pelayan itu akhirnya. “Silakan menunggu di ruang tunggu sebentar, biar saya panggil para putri kerajaan.” kata pelayan itu lagi.

Putri Sandara Part 7

   “Ayo kita segera ke perpustakaan kerajaan!” ajak kak Alicia.
   “Sebaiknya aku di sini saja, bagaimana jika ibu melihat aku bermain dengan kalian?” tanya Jessica.
   “Hmm... gini saja...” kata kak Alicia sambil membisikkan suatu rencananya.
   Kak Alicia dan kak Sandra keluar dari kamar Sandara. Mereka mencari – cari tante Shareen. Dan mereka mendapati tante Shareen sedang berada di taman kerajaan. Wajah tante Shareen seperti memikirkan sesuatu, tapi tampak juga kesedihan.

Putri Sandara Part 6

   Keesokkan harinya...
   “Psst.... Psst... kak Sandra...” bisik Jessica dari sebuah celah di jendela.
   “Jessica... kenapa tidak ke kamarku saja?” tanya kak Sandra yang sedang asyik bernyanyi.
   “Hmm... baiklah, tapi jangan beritahu ibuku ya!” pinta Jessica.
   “Memangnya kenapa?” tanya kak Sandra bingung.
   “Udahlah... nanti di dalam aku kasih tahu.” ucap Jessica
   Jessica pun mengendap – endap masuk ke dalam kamar kak Sandra.
   “Ada apa sih memangnya? Coba jelaskan!” pinta kak Sandra.
   Belum sempat Jessica membuka mulut. Terdengar bunyi pintu di ketuk. Tok! Tok! Tok!
   “Jika ibuku mencariku, bilang aku tidak ada di sini.” ucap Jessica sambil bersembunyi di dalam lemari ganti.

Putri Sandara Part 5

   Walau mereka sedih harus berpisah, Sandara dan ibu Siti tetap ceria menjalani aktifitas seperti biasa. Awalnya, ibu Siti melarang Sandara ikut membantu pekerjaannya. Namun Sandara menjawab: “Tak apalah bu saya membantu toh saya juga bagian di dalam keluarga ibu.”

Putri Sandara Part 4

   Hari ini Sandara bangun pagi – pagi. Dia segera membereskan tempat tidurnya dan bergegas mandi. Seusai mandi dia segera sholat, selesai sholat dia memasak makanan untuk sarapan dan segera sarapan.

Putri Sandara Part 3

Suatu hari, di Istana, diadakan sebuah sayembara. Pengumuman itu ditulis di papan pengumuman di pusat desa.

Putri Sandara Part 2

Malam yang ditunggu – tunggu semuanya tiba. Semua merayakan pesta dengan suka cita tanpa ada firasat buruk tentang hal yang akan terjadi dan rencana licik tante Shareen. Di tengah acara, tiba – tiba, ratu teringat akan anak bungsunya, dia pun berbisik pada kak Alicia, putri sulungnya.

Putri Sandara Part 1

   Di sebuah kerajaan yang makmur, para warga dan pihak kerajaan mendapat berita gembira. Karena cucu bungsu raja di kerajaan itu telah lahir. Tentu saja keluarga kerajaan sangatlah senang. Kakak kedua Sandara yang bernama Sandra, ingin menamai adik bungsunya yaitu Sandara. Semua anggota keluarga pun menyetujuinya.

Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 14

   Tak terasa tahun – tahun terlewati... Sekarang, Rinda sudah duduk dibangku SMP. Suatu ketika, Rinda mendapat kabar bahwa di daerah tempat tinggal teman – temannya yang dulu termasuk rumah Lula, Gladis, dan Fatimah terkena musibah banjir. Rinda pun bersikeras untuk pergi ke Jakarta hanya untuk melihat kabar teman – temannya. Akhirnya, Rinda ditemani keluarganya datang ke Jakarta. Namun, hanya Rinda yang mencari rumah teman – temannya.

Diary Rinda Part 13

   “Rind... ada surat tuh untukmu!” jelas mama. Ketika Rinda sedang bermalas – malasan di kamarnya. Rinda tak menjawabnya. Dengan langkah malas, Rinda segera mengambil surat itu dan membacanya. Seketika mata Rinda berbinar – binar! Rupanya itu surat dari Lula, lalu juga ada surat dari Gladis dan Fatimah.

Diary Rinda Part 12

   Hari ini, Rinda masuk sekolah dengan muka muruuung… sekali. Badannya juga lemas. Lula menyapanya: “Hai sis! Ada apa? Cerita dong!” kata Lula diikuti anggukan sahabat-sahabatnya.

Diary Rinda Part 11

 “Rina, Rinda, Nida, ada yang perlu mama dan papa bicarakan sekarang.” panggil mama.
   Rinda turun dari kamarnya, “Ada apa, ma?” tanya Rinda.
   “Kita beberapa hari lagi akan pindah ke Bekasi, sebab, papa pindah pekerjaan di sana.” jelas papa.
   “APA?! PINDAH PA?!” pekik Rina, Rinda, dan Nida berbarengan.
   “Ya, kalian akan masuk ke sekolah baru yang sama bagusnya dengan sekolah yang sekarang.” jelas papa.

Diary Rinda Part 10

  Tiba saatnya liburan. Rinda sudah melewatkan beberapa hari dengan hal yang membosankan. Hanya bermain – main di rumah sendirian. Ia kangen dengan ketiga sahabatnya. Ia ingin menelpon Gladis. Karena Gladis yang paling menyenangkan disaat bosan mungkin karena cukup cerewet dan asyik diajak mengobrol. Ia ingat Gladis sedang pergi keluar kota dan keluar negri mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja. Rencananya, Gladis dan keluarganya akan pulang 2 hari sebelum masuk sekolah. Aku dan teman – teman sudah menitipkan oleh – oleh, hehehe... jadi, dia merayakan tahun baru di luar negeri.

Diary Rinda Part 9

   Hari ini, Rinda ulang tahun yang ke-10 tahun. Rinda tampak senang. Karena orangtuanya memberikan ucapan selamat dan kue ulang tahun juga baju baru untuk Rinda. Rinda senang dan berterimakasih. Kakaknya memberinya sepatu yang sudah ia tidak kenakan karena kekecilan. Rinda siih senang. Habis sepatunya masih bagus dan bersih – bersih siih… kakaknya memang sayang banget sama sepatunya. Sementara adiknya membuatkannya scrapbook-kit buatnya. Kalau mbak Eka cuma kasih selamat aja. Maklum…

Diary Rinda Part 8

   “Eh Rind, teman laki yang paling dekat denganmu siapa?” tanya Lula.
   “Emm... siapa ya? Ng... mungkin Lucky!” jawab Rinda.
   “Emangnya kenapa?” tanya Gladis.
   “Yaaa... soalnya... baca aja deh Diary-ku halaman 179! Kalian akan tahu jawabannya!” jawab Rinda.

Diary Rinda Part 7

   “Eh, Rinda! Rinda! Tunggu!” panggil Alisya dan Tasya.
   “Eh, ng… ada apa ya?” tanya Rinda.
   “Te… terimakasih ya atas yang kemarin!” kata Alisya.
   “Iya, terimakasih juga ya Rind!” kata Tasya.
   “Eh, ng… i… iya masama. Eh, sudah dulu ya bye!”
   “Eh tunggu!” tarik Alisya.
   “Ada apa lagi?” tanya Rinda heran.
   “Kamu mau gak jadi sahabat kami?” tawar Alisya dan Tasya.
   “Ng… kalau menurut kalian aku pantas menjadi sahabat kalian dan kalian menyukaiku… akan ku terima!” jawab Rinda tersenyum lalu berlari.

Diary Rinda Part 6

   Rinda pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama ketiga sahabatnya.
   “Rind, di diarymu ada cerita yang seru gak? Apa kek...” Tanya Lula yang sedang bosan.
   “Ng… e… aku cari dulu ya! Abisnya aku gak afal siih… hehehe…” Jawab Rinda tertawa.
   “Hm… tapi La, percuma juga kita cari, gak bisa kita baca sekarang, kan malah buat penasaran diri kita sendiri. Penasaran itu tidak baik!” kata Fatimah mengingatkan.

Diary Rinda Part 5

  Di hari Minggu ini, Lula, Gladis, dan Fatimah pergi ke rumah Rinda, mereka berjanji akan hepi – hepian di rumah Rinda, mulai main musik, berenang, ngobrol, jalan – jalan, bercerita dan pastinya membaca buku diary. Mereka juga berjanji mengurusi meong dan bermain lompat tali bersama.

Diary Rinda Part 4

  Mana ada sih sebuah persahabatan tidak diikut sertakan dengan pertengkaran? Karena, sebuah persahabatan pasti pernah berbeda pendapat antara orang yang satu dengan yang lainnya. Atau mungkin… ada yang tersinggung? Semua bisa terjadi, walaupun persahabatan itu sangaaaaaaaat rukun. Karena, sebuah arti persahabatan tidaklah terucap jika tidak ada pertengkaran, karena pertengkaran membawa kita berusaha hidup lebih rukun. Juga, membuat kita mengintrospeksi diri, menyesal dan mengakui kesalahan masing - masing. Sama juga bila seorang sahabat berbeda pendapat dengan pendapat salah seorang sahabatnya. Seperti Rinda.

Diary Rinda Part 3

   “Woi teman – teman!!! Mau baca gak tentang pertama kali kita bertemu di sekolah ini?” ajak Rinda pada teman – temannya yang sedang asyik memakan bakso.

Diary Rinda Part 2

                                                           Hikmah dari Semuanya

   Hari ini, mungkin adalah hari yang paling tidak mau kuingat. Sebab, hari ini cuaca sangat panas, mending ada sahabat yang menemaniku sehingga cuaca tidakkan panas, namun, ini justru kebalikkannya. Lula sedang pergi menjenguk neneknya, Fatimah sakit demam tinggi, Gladis sedang ada acara Fashion Show gitu deh! Untungnya hari ini Gloria tidak ada, sebab ia satu gedung dengan Gladis ikut Fashion Show, Vian pergi ke Bandung dan Vivi ada Casting Iklan. Mungkin hari ini 50% menyenangkan dan 50% tidak.

Diary Rinda Part 1

  Pada jam istirahat, Rinda keluar kelas, karena bel tanda istirahat sudah berbunyi dari tadi. Tiba – tiba… Seseorang menarik tangan Rinda.

Yuki's Spirit Part 13

  “Eh ya, Ki... ibu mendaftarkanmu ke dalam perlombaan pencak silat antar desa, lho!” jelas bu Yurika.

Yuki's Spirit Part 12

   Hari ini, Yuki, Reyna, dan Hamra mengikuti ekskul pencak silat. Yang melatih ekskul pencak silat di sekolah Yuki adalah pak Agung dan pak Hendra. Untuk kelas 7, yang melatih pencak silat adalah pak Agung. Pak Agung mengajarkan mereka yang masih pemula (sabuk putih). Sedangkan pak Hendra melatih pencak silat untuk yang bersabuk kuning. Pak Hendra biasanya mengajar anak kelas 8. Kenapa hanya ada dua guru yang mengajar kelas 7 dan kelas 8? Karena peraturan sekolah menegaskan bahwa kelas 9 sudah tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan ekskul kecuali ekskul paskibra dan kegiatan OSIS.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 11

     Senin pun tiba... Yuki masuk sekolah dengan wajah murung tanpa senyum.
    “Yuki... Selamat ya!” Hamra-lah orang pertama yang menyambut kedatangannya dengan ucapan selamat. Namun, Yuki hanya tersenyum kecil, “Makasih, Ham... Selamat juga...”

Yuki's Spirit Part 10

Sepulang dari sekolah, Yuki kembali merasa perutnya sangat sakit. Dia merintih kesakitan.
“Yuki... kau sudah pulang?” tanya ibu dari dapur.
“Sudah bu...” jawab Yuki pelan, sambil terus memegangi perutnya.
“Kamu kenapa, Ki?” tanya ibu, khawatir.
“Tadi saat pertandingan, perutku tertendang dengan keras. Sakit sekali, bu...” jawab Yuki.
“Biar ibu obati, ya!” kata ibu segera mengambil kotak P3K di dalam kamar. Lalu segera keluar dari kamar dan mengobati perut Yuki.

Yuki's Spirit Part 9

   Memasuki masa SMP... Banyak hal yang berubah dari Yuki. Mulai dari pergaulannya, teman – temannya, pelajarannya, gurunya, semuanya. Yuki mengenal tidak hanya teman sekelasnya tapi juga teman lain kelas. Yuki juga mulai menyukai teman cowok di kelasnya yang juga ketua kelasnya. Namanya Hamra. Hamra terkenal pintar, baik, dan ramah. Yuki cukup dekat dengan Hamra. Namun, Yuki selalu merahasiakan hal ini dari siapa pun. Walau menyukai Hamra, Yuki tidak seperti perempuan pada umumnya yang mayoritas caper dengan orang yang disukai. *Caper = Cari perhatian. Yuki hanya berbicara pada Hamra jika perlu.

Yuki's Spirit Part 8

     Seminggu lagi, Yuki akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12 tahun. Dia ingin merayakan hari ulang tahunnya tersebut dengan cara sederhana. Mirip dengan acara syukuran. Hehehe...

Yuki's Spirit Part 7

   Kata siapa orang seperti Yuki dan keluarganya tidak pernah liburan? Sesekali mereka ingin menyempatkan waktu untuk berlibur di tengah kesibukan mereka masing – masing. Suatu hari, ketika makan malam, ayah berkata, “Ada yang ingin ayah sampaikan pada kalian.”

Yuki's Spirit Part 6

   “Ayah…” seru Yuki.
   “Nanti, ayah dan ibu ingin berbicara sebentar padamu.” Kata ayah.
   “Oh, tentu. Iya yah! Saat makan malam saja ya!” seru Yuki.
   Sepulang dari sekolah, Yuki mencuci tangan, kaki, dan mukanya. Lalu makan siang, sholat zhuhur, dan tidur siang. Sorenya dia belajar, mengerjakan PR, menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawanya besok, dan sholat ashar. Malamnya, seusai sholat mahgrib, mereka makan malam bersama.

Yuki's Spirit Part 5

     Malam harinya, Yuki melakukan siasat itu. Dengan berbagai cara, akhirnya dia berhasil keluar dari kamarnya sembari menyamarkan penampilannya agar tidak ketahuan oleh orangtuanya. Lalu berlari menuju rumah pak Yuda dan bu Yurika. Terengah-engah Yuki mengetuk pintu rumah mereka keras-keras sembari berteriak..

Yuki's Spirit Part 4

Malamnya saat makan malam…
   “Ayah, ibu, Yuki mau bertanya, boleh gak Yuki belajar ilmu bela diri pencak silat seperti yang di pelajari ayah dan kakak?” tanya Yuki.

Yuki's Spirit Part 3

   “Yuki! Kamu jaga rumah ya! Biar kakak juga bantu menjaga rumah dan kios !” perintah kak Sandy.

Yuki's Spirit Part 2

   Sementara itu sejam setelah lampu rumah Yuki dimatikan, di luar rumah, tak jauh dari rumah Yuki, tiga orang menaiki mobil sambil memperhatikan rumah Yuki.

Yuki's Spirit Part 1

Di suatu desa, bela diri dilarang diikuti oleh perempuan, alasannya karena perempuan tidak boleh berperang, melainkan mengobati para pejuang yang terluka, sekarat hingga kalah bertarung. oh ya, perempuan biasanya menyiapkan makanan untuk para pejuang. Padahal, bela diri itu penting apalagi di zaman perang seperti itu. Bagaimana bila perempuan diserang? Mereka pasti juga akan mati bila tidak bisa bela dirikan? Makanya tak heran beberapa perempuan sebenarnya ingin ikut berbagai macam bela diri itu. Tapi mereka tidak berani melawan peraturan pemerintah di desa tersebut.

Terlambat Mengenalmu

Cerita ini  sebenarnya proyek gagal. jadi waktu itu, gue dikasih proyek (lagi) sama beberapa penulis lain untuk nulis buku antologi dengan pemeran utama Minmie. Udah pernah baca buku gue yang "Minmie's Birthday"? Semacam kayak gitu. Nah tapi entah kenapa tiba - tiba, proyek itu diberhentiin. Mungkin karena cuma sedikit yang udah ngirim naskahnya dan gak ada kepastian. Jadi, gue mau ngepost ceritanya disini aja. Gapapa kan? Hehehe...
   Di sekolah Minmie akan diadakan Persami (perkemahan sabtu minggu). Minmie yang aktif dikegiatan pramuka pun berencana untuk ikut.

Perang DuMay

 Sekarang ini kebanyakan anak – anak remaja sering mengungkapkan kekesalan, kesedihan, kebahagiaan, dan kegalauan mereka di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Anak – anak yang terlihat pendiam, alim, pemalu, dan kurang aktif di sekolah pun ketika online di Facebook maupun Twitter langsung mengeluarkan isi hati mereka. Jarang sekali ada anak remaja yang bisa menyembunyikan perasaan mereka dan menahan diri untuk tidak menulis berbagai status di jejaring sosial (aku juga begitu siih... hehehe...) begitu juga dengan Najwa.

Kabar Burung

   “Anak – anak, karena minggu depan adalah pertemuan terakhir kita, lalu kita akan ulangan mid semester 2, minggu depan ulangan ya bagian HAM. Hafalkan pasal – pasa yang ibu minta minggu lalu, contoh pelanggaran HAM, lembaga – lembaga HAM, pengertian HAM, piagam – piagam HAM, pengertian Genosida, dan upaya penegakkan HAM.” Jelas bu Adani sambil menulis kisi – kisi ulangan di papan tulis.

Rahasia Osyi

 Aku baru duduk di bangku SMP. Namun, aku memiliki dua orang sahabat baru yaitu Osyi dan Ernita. Sayangnya, akhir – akhir ini Osyi berubah sikapnya. Entah kenpa dia jadi suka melamun, tersenyum sendiri, bahkan tertawa tanpa sebab. Dia jadi suka di luar kelas dibanding di dalam kelas. Jika istirahat, ada saja alasan untuk ke kantin dan setiap pergantian jam pelajaran, dia selalu izin ke kamar mandi. Pernah suatu ketika aku dan Ernita melihat mata Osyi sembab sehabis dari kamar mandi. Mungkin dia habis menangis karena ada masalah, tapi aku maupun Ernita tidak berani bertanya lebih lanjut karena takut Osyi merasa tersinggung.

Spy

   “Argh! Gawat! Bahaya!” pekik kak Elsa.
   “Ada apa kak?” tanyaku, penasaran.
   “Eh, ng... anu... gak apa – apa kok dek... hehehe...” jawab kak Elsa smabil tersenyum kecut.
   “Ada masalah ya kak?” pancingku.
   “Nggak kok...” jawab kak Elsa, gugup.
   “Kalau ada masalah, cerita sama aku, siapa tahu, aku bisa bantu?” jelasku.
   “Hehehe... tak perlu. Ini masalah orang dewasa dek... Adek gak akan ngerti deeh!” jawab kak Elsa sambil nyengir. Terlihat sekali bahwa kak Elsa menutupi sesuatu.

Unknown Number

   Aku merebahkan tubuhku di kasur rumah seusai sepulang sekolah. Aku kesal sekali pada hari ini. Tadi, di sekolah, aku bertengkar dengan sahabatku, Era. Gara – garanya, aku dituduhnya mensontek ketika ulangan dari sebuah kertas. Memang siih ku akui itu benar, tapi dia tak perlu mengadukan perbuatanku itu kepada pengawas kan? Sehingga aku harus menanggung malu di depan pengawas dan teman – teman yang lain. Beruntung pengawas tidak mengambil lembar jawabanku. Aku pun memusuhinya dan memutuskan untuk belajar dan pulang sendiri.

UAN Phobia

   Saat masih kecil, aku ingin sekali cepat – cepat kelas 6 supaya aku bisa cepat – cepat lulus dan masuk sekolah dan suasana baru. Aku mau memiliki banyak teman baru yang tidak membosankan seperti teman – temanku yang sekarang. Hehehe...

Lucky and Bad Date

   Pagi ini ketika aku memasuki kelas. Ku dapati kelas sangat gaduh. Karena pernasaran, seusai menaruh tas, aku pun menghampiri teman – temanku.
   “Aku lahir pada tanggal 9 September tahun 1999 pada pukul 9 lewat 9 menit. September adalah bulan kesembilan. Jadi, jika diurutkan dengan angka, 9 – 9– 1999. Kelahiranku dipenuhi dengan angka 9. Karena itu, aku suka angka 9. Angka 9 adalah angka hoki. Angka yang sangat bagus.” Ujar Ivone bangga.
   “Wow! Aku berharap, adikku lahir besok pukul 1 siang. Sebab, besok tanggal 10 November 2012. Dan jam 1 siang itu sama saja dengan pukul 13.00 kan? November adalah bulan kesebelas. Jadi pasti sangat keren, 10 – 11 – 12 dan pukul 13. Berurutan kan?” kata Fay.
   “Aku kepengen deeh ada yang nembak aku besok! Pasti keren...” Theresia tak mau kal;ah.
   “Huu...” sorak semuanya yang hadir.
   “Aku kan cuma bercanda... hehehe...” jawab Theresia.
   “Eh, ada Sheza... kapan datangnya, Za?” tanya Syafa.
   “Hehehe... baru... dari tadi kalian ngomongin apaan sih? Kepo dong! Hehehe...” jawabku.
   “JB aja say...” jawab Syafa. *JB = Join Bareng
   “Iya nih... dari tadi kita lagi ngomongin tanggal – tanggal bagus, kayak besok. Besokkan tanggal 10 November 2012.”  jawab Theresia.
   “By the way... kamu kapan ultahnya sih? Kepo dong! Hehehe...” tanya Fay.
   “Mau banget yaak?” jawabku, jahil.
   “Please...” pinta teman – teman.
   “Mau banget atau mau aja?” tanyaku, jahil.
   “ATAU!!!” jawab teman – teman serempak. Lalu kami tertawa bersama.
   “Ulang tahunku tanggal 13 April.” Jawabku, akhirnya membuka rahasia.
   “Iih... angka sial... 13-kan angka sial... terus, April itu bulan keempat, empat juga angka sial.” Ceplos Ivone yang memang kurang bersahabat denganku. Namun, tak seorang pun mempedulikannya.
   “Hari lahirmu, hari apa, Za?” tanya Theresia, tanpa mempedulikan Ivone.
   “Hari jumat... kan aku lahir tahun 2001.” Jawabku.
   “Cius? Mi apah? Kayaknya kamu emang ditakdirkan sial deh! Hari jumat kan hari sial! Kiamat aja menurut kitab datangnya hari jumat. Aku pernah baca di majalah, penggabungan hari sial dengan angka sial sangat berbahaya.” Ejek Ivone.
   “Hush! Ivone... kalau ngomong tuh dijaga! Emangnya, angka 9 yang kamu banggakan itu bagus?” bela Syafa.
   “Lagipula... ngapain sih percaya dengan hal – hal mistik kayak gitu?” tambah Fay. Ivone diam saja. Sedangkan aku hanya menunduk malu.
   “Teman – teman... turun ke lapangan!” perintah Azkha, ketua kelas di kelas kamu. Aku sampai lupa kalau hari itu hari senin dan aku kan anggota paskibra! Aku tentu akan tampil ketika upacara di sekolah setiap senin. Aku pun bergegas turun. Untung saja aku tidak terlambat dan segera menuju barisan. Ketika tiba giliran paskibra tampil. Aku masih terus saja memikirkan ucapan Ivone tadi sehingga aku tidak mendengar aba – aba untuk maju. Aku baru sadar beberapa detik kemudian. Bahkan, salah satu gerakanku ada yang salah. Akibatnya, aku dihukum dan disuruh posma 2 seri. *1 seri = 10, 2 seri = 20
   Begitu juga ketika olahraga. Ketika sedang bermain basket. Aku berdiri sambil diam saja karena terus memikirkan ucapan Ivone tadi pagi.
   “Sheza awas!!!” seru teman – teman. Namun terlambat, kepalaku terkena bola basket dan aku pun terjatuh. Aku ditertawakan teman – temannya. Malunya lagi, aku ditertawakan anak – anak kelas 8 yang kebetulan sedang olahraga juga.
Selanjutnya, ketika pelajaran matematika, aku dihukum karena kembali bengong dan tidak berkonsentrasi dalam pelajaran. Ketika pelajaran IPA, aku mendapat nilai jelek. Karena terus mendapat kesialan bertubi – tubi, sepulang sekolah, aku duduk lesu di kusi sofa.
“Sheza... kok pulang gak bilang assalamualaikum? Tegur bunda, kaget melihat kehadiranku di kursi sofa.
“Maaf bund...” jawabku, lesu.
“Kamu sakit?” tanya bunda, khawatir. Aku menggeleng lemah.
“Kamu ada masalah ya?” terka bunda. Aku terdiam.
“Kalau ada masalah, sebaiknya dibicarakan dengan bunda. Siapa tahu, bunda bisa membantu.” Bunda mengingatkan.
“Hh... begini bund, tadi, teman – teman lagi ngomongin tanggal keren. Misalnya, 9 September 1999... terus, 10 November besok. September tuh bulan kesembilan. Jadi, kalau diurutin 9 – 9 – 99. Terus besok, bulan November tuh bulan kesebelas, kalau diurutin jadi 10 – 11 – 12. Kan keren.” Jelasku, sedih.
“Lha, terus, apa masalahnya sayang?” tanya bunda.
“Teman – teman tanya, kapan aku lahir. Aku jawab, hari Jumat, tanggal 13 April tahun 200. Lalu, kata Ivone, angka 13 dan angka 4 itu angka sial. Dia juga bilang hari jumat itu hari sial. Katanya, aku ditakdirkan bernasib sial sejak lahir.” Terangku.
“Sheza... semua angka dan semua hari itu baik. Tidak ada yangj sial.” Nasihat bunda.
“Tapi, bund. Buktinya tadi Sheza sial seharian...” bantah Sheza, tidak percaya dengan ucapan bunda.
“Itu hanya kebetulan... mungkin kamu ceroboh atau sedang tidak konsentrasi. Karena itu kamu membuat kesialanmu sendiri. Kamu hanya tersugesti dari kata – kata Ivone. Coba kamu berpikiran kalau kamu akan selalu beruntung, kamu berkonsentrasi dan tidak ceroboh, lain lagi ceritanya.” Jelas bunda.
“Jadi sebenarnya, tidak ada yang namanya hari atau angka sial ya bunda? Itu hanya akibat dari sugesti dan karena kelalaian orang itu sendiri.” Tanyaku.
“Ya.” Jawab bunda, sambil mengangguk.

“Baiklah bunda, aku mengerti. Terimakasih bunda. Sekarang, aku ingin ganti baju dan makan siang dulu, ya!” ujarku.

Persembahan untuk Tante Lutfi


    Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku senang... sekali... sebab, semua keluargaku akan datang ke rumahku. Mulai dari keluarga om Agus dan tante Lutfi hingga kakek dan nenek. Aku sudah tidak sabar bermain dengan Aqila, anak dari om Agus dan tante Lutfi. Sama seperti orangtuanya, Aqila baik dan ramah. Aqila baru berumur 5 tahun. Aku juga sudah tidak sabar memakan puding coklat dan brownies coklat buatan nenek. Ya, nenekku memang pandai sekali memasak. Dan yang paling ku tunggu – tunggu tentu saja kado dari mereka semua. Hehehe... aku sudah penasaran hadiah apa yang akan mereka berikan untukku.
   Pagi – pagi sekali ayah dan ibu membangunkanku. Mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun dan tentu saja kado. Begitu pula dengan kakakku. Kami lalu segera menyiapkan semuanya.
   Pukul 10 pagi pun tiba. Sebuah mobil Peugeot berwarna hitam berhenti tepat di rumahku. Sosok perempuan cantik turun dari mobil bersama seorang gadis kecil berkepang dua. Juga dua orang yang sangat ku kenal. Ya, tante Lutfi dan keluarganya datang bersama kakek dan nenek. Aku segera berhamburan ke pelukan mereka. Aku kangeeen... sekali dengan mereka. Aku mencium kedua tangan mereka dan mengajak mereka memasuki rumah.
   Pertama – tama kami berdo’a terlebih dahulu, lalu, aku meniup lilinnya dengan iringan lagu selamat ulang tahun. Setelah meniup lilin, aku memotong kue-nya dan membagi – bagikannya kepada semua yang hadir.
   Lalu, kami sekeluarga makan siang bersama. Menu siang ini adalah nasi kuning, lengkap dengan telur dadar, ayam kremes, abon, kering tempe, bawang goreng, sambal, dan tentu saja lalapan. Kami sekeluarga makan dengan lahapnya.
   Seusai makan, kami bermain bersama hingga sore. Om Agus dan keluarganya akhirnya pulang. Om Agus sebelum pulang akan mengantar kakek dan nenek pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
   “Jadi anak yang pandai, rajin, sholeh, baik, dan berbakti pada orangtua, ya!” kata nenek, sebelum pulang. Nenek lalu mencium kening dan kedua pipiku.
   “Iya, nek.” jawabku.
   “Ingat lho! Liburan nanti datanglah berkunjung ke rumah nenek, ya! nenek punya kejutan untukmu.” pesan nenek.
   “Oke, nek! Ara janji.” jawabku.
   Nenek tersenyum. Sedangkan kakek hanya mengusap lembut rambutku dengan penuh kasih sayang .
   Mobil Peugeot berwarna hitam yang membawa kakek dan nenek serta tante Lutfi dan keluarganya pun melaju kencang meninggalkan rumahku.
   Saatnya membuka kado!!!
   Pertama, kuambil kado dari ayah, lalu ku buka kadonya. Rupanya beberapa buku novel anak DAR! Mizan. Ada PCPK, KKPK, hingga PBC. Wuiiih... asyiiiik... aku memang hobi membaca dan menulis cerita. Aku ingin sekali salah satu karyaku dikirimkan ke salah satu penerbit supaya bisa dibukukan seperti dikirim ke PCPK, KKPK, dan PBC. Koleksi novel – novel anak-ku sudah banyak karena setiap ada yang terbit aku selalu membelinya. Mungkin aku mempunyai semua judul. Oya, ada pesan dari ayah, begini tulisannya, ‘Buku adalah jendela ilmu, semoga buku – buku ini bermanfaat dan bisa memotivasi kamu dalam menulis.
   Lalu aku mengambil kado dari ibu, lalu ku buka kadonya. Sebuah Diary berwarna kuning bergambar Angry Birds dengan sebuah kunci gembok. Ku baca pesan dari ibu, ‘Semoga dengan Diary yang ibu berikan padamu, hobi menulismu kian terasah.’
   Setelah kado dari ibu, aku mengambil kado dari kakak dan ku buka kado tersebut. Wow! Baju dan aksesoris yang cantik, lucu, dan imut. Aku suka sekali hadiah ini... Salah satu bajunya bergambar Angry Birds. Ya, aku memang terkena demam Angry Birds. Sejak Angry Birds muncul, aku selalu mengoleksi gamenya dan semuanya yang berhubungan dengan Angry Birds. Mau itu di laptopku hingga di HP Android milikku. Aah jadi ngomong yang nggak keruan deh! lanjut ke ceritaaa...
   Ku raih sebuah kado dari kakek dan ku buka kado tersebut. Aku mendapatkan beberapa boneka Shaun the Sheep. Pesan yang ditulis kakekku cukup singkat yaitu hanya, ‘Belajar yang rajin, ya!’ Walau tulisannya bersambung dan sedikit berantakan, aku masih bisa membacanya walau sedikit sulit.
   Setelah kado dari kakek, ku buka kado dari nenek. Nenek memberikanku beberapa alat untuk menyulam dan sebuah gaun yang cantiiik... sekali. Ya, nenekku memang pandai memasak, menyulam, dan berkebun. Hehehe... mungkin hobi kali, ya? Begini pesan yang beliau tulis, ‘Semoga dengan kado dari nenek ini, kamu jadi hobi menyulam...’ Aku tertawa membacanya. Hahaha... nenek tahu saja sih bahwa aku tidak suka menjahit.
   Terakhir, kado dari Tante Lutfi yang mewakili Om Agus dan Aqila. Sebuah kado yang dibungkus sampul kado berwarna pink dihiasi pita berwarna biru tua, sangat cantik. Aku lalu membukanya. Rupanya, Tante Lutfi memberikanku sebuah kotak binder bergambar Minnie beserta beberapa binder di dalamnya. Ada banyak sekali kertas binder. Salah satunya bergambar Angry Birds dan Shaun The Sheep. Tante Lutfi tahu saja bahwa aku suka Minnie apalagi mengoleksi binder. Kira – kira, aku sudah memiliki 4 kotak binder. Lalu, kalau ditambah ini, jadi 5 deh! Dan semua kotak binder itu sudah penuh. Uniknya lagi, di dalam kotak binder itu terdapat surat dari tante Lutfi untukku. Ini dia bacaannya, ‘Selamat ulang tahun Ara... semoga panjang umur, tambah pinter, tambah berprestasi, tambah banyak lagi karyanya dalam bidang tulis – menulis. Semoga juga tulisannya bisa jadi novel ya... Di tunggu lho, novel karya Ara ada di toko buku... Salam sayang selalu dari Tante Lutfi, Om Agus, dan Aqila.’ Wow! Ini adalah surat yang paling memotivasi diriku. Aku senang sekali mendapat surat itu. Aku jadi lebih semangat menulis.
   Sejak saat itu, aku selalu menulis cerita di sebuah buku tulis kosong milikku, lalu ku salin ke komputer. Aku juga jadi sering menulis Diary mengenai kejadian yang ku alami hari ini. Semua berkat orang – orang di sekitarku yang selalu menyemangatiku dalam hal positif.
   Beberapa minggu kemudian, ceritaku selesai ku buat dan ku kirim ke penerbit. Aku yakin, saat sudah dibukukan nanti, akan menjadi moment yang sangat membahagiakan untuk tante Lutfi.
   “Anak – anak, hari ini kita jenguk tante Lutfi di rumah sakit, ya!” kata ayah.
   “Lho? Kenapa? Memangnya tante Lutfi sakit apa?tanyaku, kaget. Diikuti anggukan kakakku.
   “Tante Lutfi sakit ginjal dan usus buntu. Ibu juga baru dikasih tahu sama Om Agus tadi pagi. Tante Lutfi di rawat di rumah sakit di Bekasi.” jawab ibu.
   “Ayo cepat berbenah diri! 15 menit lagi kita berangkat!” kata ayah.
   Sesampainya di rumah sakit, kami segera menuju lantai dan kamar yang dimaksud. Saat bertemu tante Lutfi, wajahnya sangat pucat pasi. Aku menghampiri beliau.
   “Tante, terimakasih ya atas surat dan hadiahnya... Aku senang sekali... sangat memotivasi-ku dalam hal menulis.” kataku.
   “Sama – sama, Ara. Dulu, tante juga ingin menjadi penulis sepertimu, tapi, tante... tidak sempat menjadi penulis karena... orangtua tante tidak mengizinkan tante menjadi penulis, orangtua tante ingin tante menjadi pengusaha sukses. Karena itu, tante ingin melihatmu menjadi penulis bila sudah besar nanti.” kata tante Lutfi, lemah tapi tersenyum. Sambil mengusap rambutku penuh kasih sayang.
   Aku hampir menangis mendengar cerita tante Lutfi.
   “Sudahlah Lutfi, jangan terlalu banyak bergerak. Kondisimu masih lemah.” kata ibu.
   “Iya, kak!” jawab tante Lutfi.
   Sepulang dari rumah sakit, aku langsung menulis sebanyak khayalanku. Aku akan membuat tante Lutfi bangga dan tersenyum melihat hasil karyaku. Mungkin, walau tante tidak bisa merasakan menjadi penulis, akulah yang akan menggantikannya. Batinku.
   Beberapa bulan kemudian... penerbit menelepon ibuku. Tentu saja aku senang! Karena ceritaku yang aku kirim akhirnya akan diterbirkan. Kata sang penerbit, bukuku akan diterbitkan 9 bulan lagi. Tentu saja aku senang, yang aku tunggu – tunggu pun akhirnya tiba. Sayangnya, tante Lutfi belum juga sembuh, walau sudah keluar dari rumah sakit. Aku lalu menunggu dan menunggu.
   Tapi, aku juga tetap menulis cerita. Menulis dan menulis. Beberapa karyaku itu aku kirim ke majalah dan penerbit. Setiap ada lomba menulis cerita baik di dalam sekolah mau pun di luar sekolah aku selalu ikut dan beberapa berhasil menang.
   Bulan yang ditentukan pun tiba... aku sudah tidak sabar lagi melihat bukuku itu. Suatu ketika, datang pak pos mengirimkan paket, ternyata dari penerbit! Paket itu berisi 5 buku karyaku. Tentu saja aku senang. Ku buka 1 diantaranya dan sisanya masih dalam keadaan disegel. Rencananya, aku akan memberikan sisanya pada guru wali kelasku, guru bahasa Indonesia, perpustakaan sekolah, dan tante Lutfi.
Setelah selesai membaca buku karyaku itu, ku cari bungkus kado di gudang, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, aku hiasi saja buku itu dengan pita berwarna kuning keemas – emasan dan penuh glitter. Selesai sudah! Setelah selesai, aku keluar dari kamar menuju kamar ayah dan ibu untuk mengatakan besok aku ingin menjenguk tante Lutfi di rumahnya.
   Baru saja aku ingin menginjakkan kaki ku di kamar ayah dan ibu, aku mendengar isak tangis ibu.
   “Janganlah menangis terus, bu. Itu memang sudah takdir. Kematian seseorang tidak ada yang tahu. Semoga saja amal ibadah tante Lutfi diterima disisiNya.” hibur kakak.
   Deg! Tiba – tiba tubuhku melemas. Buku karyaku yang hendak ku berikan pada tante Lutfi jatuh seketika. Mengapa tante Lutfi dipanggil secepat ini? Baru saja aku ingin memberikan buku karyaku kepadanya.
   “Benarkah itu ibu?” tanyaku. Aku memberanikan diri memasuki kamar tapi dengan wajah tegang. Masih menangis, ibu mengangguk dan memelukku.
   “Padahal, Ara ingin memberikan kejutan untuk tante Lutfi. Yaitu buku karya Ara ini... Ara yakin dengan kejutan kecil ini, tante Lutfi akan senang bahkan bisa sembuh...” tangisku. Ibu memelukku dan kakak sambil tetap menangis.
   Akhirnya, dengan diantarkan kakak, kami pergi melayat. Terlihat sekali Aqila dan om Agus sangat terpukul dengan kepergian tante Lutfi. Aku lalu menyerahkan buku karyaku itu pada om Agus.

   “Tanteku tercinta, ini buku cerita pertamaku yang terbit. Inginnya kupersembahkan buatmu. Terimakasih sudah memberiku semangat hingga aku berhasil...” batinku sambil terisak. Semoga tante Lutfi merasakan semua ini dan semoga tante Lutfi tenang dalam kebahagiaan yang abadi di sana, aamiin.