1. Masuk ke www.indexmp3.wakpa.me
2. Ketik judul atau nama artis pada kotak search yang tersedia lalu tekan enter
3. Klik tulisan download yang berada di bawah nama dan judul lagu, Tampilan seperti di bawah ini akan muncul
4. Klik download now lalu tunggu hingga download selesai maka lagu akan siap didengarkan
maaf kalo abstrak, isi blog ini segala hal yang pengen gw tulis. Pokoknya isi blog ini hal yang pengen gw bagiin buat kalian semua yang baca dan ngunjungin blog gw. biasanya gw nge-publish cerita bikinan gw jaman SD yang ga kepake karena sayang kalo ga gw apa - apain. jadi yaa maaf kalo jelek wkwkwk... jangan lupa tulis komentar yaa! Thank you for coming ^^ sering - sering mampir ke blog gw yaa! jangan kapok/? ~Tian~
Senin, 03 November 2014
Jumat, 10 Oktober 2014
My Journey
Gue mau berbagi pengalaman dan cerita aja disini. Semoga
bisa memotivasi dan menginspirasi kalian yang baca, terutama buat yang pengen
jadi penulis. Amin. Walaupun gue sendiri gak tau apakah ada yang baca blog gue
atau gak. Dan gue sadar, sekarang gue begini berawal dari ketika gue masih
kecil, masih sangat – sangat kecil...
Putri Sandara Part 8
Sementara
itu, keesokkan harinya...
TING...
TONG... TING... TONG...
Pelayan
membukakan pintu.
“Iya,
ada yang bisa saya bantu?” tanya sang pelayan.
“Kami
dipanggil dalam surat ini.” kata tamu tersebut menyerahkan sepucuk surat.
Sang
pelayan membaca surat itu dengan seksama dan dengan sungguh - sungguh. “Baiklah
anda boleh masuk.” kata pelayan itu akhirnya. “Silakan menunggu di ruang tunggu
sebentar, biar saya panggil para putri kerajaan.” kata pelayan itu lagi.
Putri Sandara Part 7
“Ayo
kita segera ke perpustakaan kerajaan!” ajak kak Alicia.
“Sebaiknya
aku di sini
saja, bagaimana jika ibu melihat aku bermain dengan kalian?” tanya Jessica.
“Hmm...
gini saja...” kata kak Alicia sambil membisikkan suatu rencananya.
Kak
Alicia dan kak Sandra keluar dari kamar Sandara. Mereka mencari – cari tante
Shareen. Dan mereka mendapati tante Shareen sedang berada di taman kerajaan.
Wajah tante Shareen seperti memikirkan sesuatu, tapi tampak juga kesedihan.
Putri Sandara Part 6
Keesokkan
harinya...
“Psst....
Psst... kak Sandra...” bisik Jessica dari sebuah celah di jendela.
“Jessica...
kenapa tidak ke kamarku saja?” tanya kak Sandra yang sedang asyik bernyanyi.
“Hmm...
baiklah, tapi jangan beritahu ibuku ya!” pinta Jessica.
“Memangnya
kenapa?” tanya kak Sandra bingung.
“Udahlah...
nanti di dalam aku kasih tahu.” ucap Jessica
Jessica
pun mengendap – endap masuk ke dalam kamar kak Sandra.
“Ada
apa sih memangnya? Coba jelaskan!” pinta kak Sandra.
Belum
sempat Jessica membuka mulut. Terdengar bunyi pintu di ketuk. Tok! Tok! Tok!
“Jika
ibuku mencariku, bilang aku tidak ada di sini.” ucap Jessica
sambil bersembunyi di dalam lemari ganti.
Putri Sandara Part 5
Walau
mereka sedih harus berpisah, Sandara dan ibu Siti tetap ceria menjalani
aktifitas seperti biasa. Awalnya, ibu Siti melarang Sandara ikut membantu
pekerjaannya. Namun Sandara menjawab: “Tak apalah bu saya membantu toh saya
juga bagian di dalam keluarga ibu.”
Putri Sandara Part 4
Hari
ini Sandara bangun pagi – pagi. Dia segera membereskan tempat tidurnya dan
bergegas mandi. Seusai mandi dia segera sholat, selesai sholat dia memasak
makanan untuk sarapan dan segera sarapan.
Putri Sandara Part 3
Suatu hari, di Istana,
diadakan sebuah sayembara. Pengumuman itu ditulis di papan pengumuman di pusat
desa.
Putri Sandara Part 2
Malam yang ditunggu – tunggu semuanya
tiba. Semua merayakan pesta dengan suka cita tanpa ada firasat buruk tentang
hal yang akan terjadi dan rencana licik tante Shareen. Di tengah acara, tiba –
tiba, ratu teringat akan anak bungsunya, dia pun berbisik pada kak Alicia,
putri sulungnya.
Putri Sandara Part 1
Di sebuah
kerajaan yang makmur, para warga dan pihak kerajaan mendapat berita gembira.
Karena cucu bungsu raja di kerajaan itu telah lahir. Tentu saja keluarga kerajaan sangatlah senang. Kakak kedua Sandara
yang bernama Sandra, ingin menamai adik bungsunya yaitu Sandara. Semua anggota
keluarga pun menyetujuinya.
Minggu, 05 Oktober 2014
Diary Rinda Part 14
Tak terasa tahun – tahun terlewati... Sekarang, Rinda sudah duduk
dibangku SMP. Suatu ketika, Rinda mendapat kabar bahwa di daerah tempat tinggal
teman – temannya yang dulu termasuk rumah Lula, Gladis, dan Fatimah terkena
musibah banjir. Rinda pun bersikeras untuk pergi ke Jakarta hanya untuk melihat
kabar teman – temannya. Akhirnya, Rinda ditemani keluarganya datang ke Jakarta.
Namun, hanya Rinda yang mencari rumah teman – temannya.
Diary Rinda Part 13
“Rind... ada surat tuh untukmu!” jelas mama. Ketika Rinda sedang
bermalas – malasan di kamarnya. Rinda tak menjawabnya. Dengan langkah malas,
Rinda segera mengambil surat itu dan membacanya. Seketika mata Rinda berbinar –
binar! Rupanya itu surat dari Lula, lalu juga ada surat dari Gladis dan
Fatimah.
Diary Rinda Part 12
Hari ini, Rinda masuk sekolah dengan
muka muruuung… sekali. Badannya juga lemas. Lula menyapanya: “Hai sis! Ada apa?
Cerita dong!” kata Lula diikuti anggukan sahabat-sahabatnya.
Diary Rinda Part 11
“Rina, Rinda, Nida, ada yang perlu mama
dan papa bicarakan sekarang.” panggil mama.
Rinda
turun dari kamarnya, “Ada apa, ma?” tanya Rinda.
“Kita beberapa hari lagi akan pindah ke Bekasi,
sebab, papa pindah pekerjaan di sana.”
jelas papa.
“APA?!
PINDAH PA?!” pekik Rina, Rinda, dan Nida berbarengan.
“Ya,
kalian akan masuk ke sekolah baru yang sama bagusnya dengan sekolah yang
sekarang.” jelas papa.
Diary Rinda Part 10
Tiba saatnya liburan. Rinda sudah
melewatkan beberapa hari dengan hal yang membosankan. Hanya bermain – main di
rumah sendirian. Ia kangen dengan ketiga sahabatnya. Ia ingin menelpon Gladis.
Karena Gladis yang paling menyenangkan disaat bosan mungkin karena cukup
cerewet dan asyik diajak mengobrol. Ia ingat Gladis sedang pergi keluar kota
dan keluar negri mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja. Rencananya, Gladis dan keluarganya akan pulang 2 hari
sebelum masuk sekolah. Aku dan teman – teman sudah menitipkan oleh – oleh,
hehehe... jadi, dia merayakan tahun baru di luar negeri.
Diary Rinda Part 9
Hari ini, Rinda
ulang tahun yang ke-10 tahun. Rinda tampak senang. Karena orangtuanya
memberikan ucapan selamat dan kue ulang tahun juga baju baru untuk Rinda. Rinda
senang dan berterimakasih. Kakaknya memberinya sepatu yang sudah ia tidak
kenakan karena kekecilan. Rinda siih senang. Habis sepatunya masih bagus dan
bersih – bersih siih… kakaknya memang sayang banget sama sepatunya. Sementara
adiknya membuatkannya scrapbook-kit buatnya. Kalau mbak Eka cuma kasih selamat
aja. Maklum…
Diary Rinda Part 8
“Eh
Rind, teman laki yang paling dekat denganmu siapa?” tanya Lula.
“Emm... siapa ya? Ng... mungkin Lucky!” jawab
Rinda.
“Emangnya kenapa?” tanya Gladis.
“Yaaa... soalnya... baca aja deh Diary-ku
halaman 179! Kalian akan tahu jawabannya!” jawab
Rinda.
Diary Rinda Part 7
“Eh, Rinda! Rinda! Tunggu!”
panggil Alisya dan Tasya.
“Eh,
ng… ada apa ya?” tanya Rinda.
“Te…
terimakasih ya atas yang kemarin!” kata Alisya.
“Iya,
terimakasih juga ya Rind!” kata Tasya.
“Eh,
ng… i… iya masama. Eh, sudah dulu ya bye!”
“Eh
tunggu!” tarik Alisya.
“Ada
apa lagi?” tanya Rinda heran.
“Kamu
mau gak jadi sahabat kami?”
tawar Alisya dan Tasya.
“Ng…
kalau menurut kalian aku pantas menjadi sahabat kalian dan kalian menyukaiku…
akan ku terima!” jawab Rinda tersenyum lalu berlari.
Diary Rinda Part 6
Rinda
pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama ketiga sahabatnya.
“Rind,
di diarymu ada cerita yang seru gak? Apa kek...” Tanya Lula yang sedang bosan.
“Ng…
e… aku cari dulu ya! Abisnya aku gak afal siih… hehehe…” Jawab Rinda tertawa.
“Hm…
tapi La, percuma juga kita cari, gak bisa kita baca sekarang, kan malah buat
penasaran diri kita sendiri. Penasaran itu tidak baik!” kata Fatimah
mengingatkan.
Diary Rinda Part 5
Di hari Minggu ini, Lula, Gladis, dan Fatimah
pergi ke rumah Rinda, mereka berjanji akan hepi – hepian di rumah Rinda, mulai
main musik, berenang, ngobrol, jalan – jalan, bercerita dan pastinya membaca
buku diary. Mereka juga berjanji mengurusi meong dan bermain lompat tali
bersama.
Diary Rinda Part 4
Mana ada sih sebuah persahabatan tidak
diikut sertakan dengan pertengkaran? Karena, sebuah persahabatan pasti pernah
berbeda pendapat antara orang yang satu dengan yang lainnya. Atau mungkin… ada
yang tersinggung? Semua bisa terjadi, walaupun persahabatan itu sangaaaaaaaat
rukun. Karena, sebuah arti persahabatan tidaklah terucap jika tidak ada
pertengkaran, karena pertengkaran membawa kita berusaha hidup lebih rukun.
Juga, membuat kita mengintrospeksi diri,
menyesal dan mengakui kesalahan masing - masing.
Sama juga bila seorang sahabat berbeda pendapat dengan pendapat salah seorang
sahabatnya. Seperti Rinda.
Diary Rinda Part 3
“Woi
teman – teman!!! Mau baca gak tentang pertama kali kita bertemu di sekolah
ini?” ajak Rinda pada teman – temannya yang sedang asyik memakan bakso.
Diary Rinda Part 2
Hikmah
dari Semuanya
Hari
ini, mungkin adalah hari yang paling tidak mau kuingat. Sebab, hari ini cuaca
sangat panas, mending ada sahabat yang menemaniku sehingga cuaca tidakkan
panas, namun, ini justru kebalikkannya. Lula sedang pergi menjenguk neneknya,
Fatimah sakit demam tinggi, Gladis sedang ada
acara Fashion Show gitu deh!
Untungnya hari ini Gloria tidak ada, sebab ia satu gedung dengan Gladis ikut
Fashion Show, Vian pergi ke Bandung dan Vivi ada Casting Iklan. Mungkin hari
ini 50% menyenangkan dan 50% tidak.
Diary Rinda Part 1
Pada jam istirahat, Rinda keluar kelas,
karena bel tanda istirahat sudah berbunyi dari tadi. Tiba – tiba… Seseorang
menarik tangan Rinda.
Yuki's Spirit Part 13
“Eh ya, Ki...
ibu mendaftarkanmu ke dalam perlombaan pencak silat antar desa, lho!” jelas bu
Yurika.
Yuki's Spirit Part 12
Hari ini, Yuki, Reyna, dan Hamra mengikuti
ekskul pencak silat. Yang melatih ekskul pencak silat di sekolah Yuki adalah
pak Agung dan pak Hendra. Untuk kelas 7, yang melatih pencak silat adalah pak
Agung. Pak Agung mengajarkan mereka yang masih pemula (sabuk putih). Sedangkan
pak Hendra melatih pencak silat untuk yang bersabuk kuning. Pak Hendra biasanya
mengajar anak kelas 8. Kenapa hanya ada dua guru yang mengajar kelas 7 dan
kelas 8? Karena peraturan sekolah menegaskan bahwa kelas 9 sudah tidak
diperbolehkan mengikuti kegiatan ekskul kecuali ekskul paskibra dan kegiatan
OSIS.
Sabtu, 04 Oktober 2014
Yuki's Spirit Part 11
Senin pun tiba... Yuki masuk sekolah dengan
wajah murung tanpa senyum.
“Yuki... Selamat ya!” Hamra-lah orang pertama
yang menyambut kedatangannya dengan ucapan selamat. Namun, Yuki hanya tersenyum
kecil, “Makasih, Ham... Selamat juga...”
Yuki's Spirit Part 10
Sepulang dari sekolah, Yuki kembali merasa perutnya sangat sakit. Dia
merintih kesakitan.
“Yuki... kau sudah pulang?” tanya ibu dari dapur.
“Sudah bu...” jawab Yuki pelan, sambil terus memegangi perutnya.
“Kamu kenapa, Ki?” tanya ibu, khawatir.
“Tadi saat pertandingan, perutku tertendang dengan keras. Sakit sekali,
bu...” jawab Yuki.
“Biar ibu obati, ya!” kata ibu segera mengambil kotak P3K di dalam kamar.
Lalu segera keluar dari kamar dan mengobati perut Yuki.
Yuki's Spirit Part 9
Memasuki masa
SMP... Banyak hal yang berubah dari Yuki. Mulai dari pergaulannya, teman –
temannya, pelajarannya, gurunya, semuanya. Yuki mengenal tidak hanya teman
sekelasnya tapi juga teman lain kelas. Yuki juga mulai menyukai teman cowok di
kelasnya yang juga ketua kelasnya. Namanya Hamra. Hamra terkenal pintar, baik,
dan ramah. Yuki cukup dekat dengan Hamra. Namun, Yuki selalu merahasiakan hal
ini dari siapa pun. Walau menyukai Hamra, Yuki tidak seperti perempuan pada
umumnya yang mayoritas caper dengan orang yang disukai. *Caper = Cari perhatian. Yuki hanya berbicara pada Hamra jika perlu.
Yuki's Spirit Part 8
Seminggu lagi,
Yuki akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12 tahun. Dia ingin merayakan
hari ulang tahunnya tersebut dengan cara sederhana. Mirip dengan acara
syukuran. Hehehe...
Yuki's Spirit Part 7
Kata siapa
orang seperti Yuki dan keluarganya tidak pernah liburan? Sesekali mereka ingin
menyempatkan waktu untuk berlibur di tengah kesibukan mereka masing – masing.
Suatu hari, ketika makan malam, ayah berkata, “Ada yang ingin ayah sampaikan
pada kalian.”
Yuki's Spirit Part 6
“Ayah…” seru Yuki.
“Nanti, ayah dan ibu ingin berbicara sebentar padamu.” Kata ayah.
“Oh, tentu. Iya yah! Saat makan malam saja ya!” seru Yuki.
Sepulang dari sekolah, Yuki mencuci tangan, kaki, dan mukanya.
Lalu makan siang, sholat zhuhur, dan tidur siang. Sorenya dia belajar,
mengerjakan PR, menyiapkan
buku pelajaran yang akan dibawanya besok, dan sholat ashar. Malamnya, seusai sholat mahgrib, mereka
makan malam bersama.
Yuki's Spirit Part 5
Malam harinya, Yuki melakukan siasat
itu. Dengan berbagai cara, akhirnya
dia berhasil keluar dari kamarnya sembari
menyamarkan penampilannya
agar tidak ketahuan oleh orangtuanya. Lalu berlari menuju rumah pak Yuda dan bu
Yurika. Terengah-engah Yuki mengetuk pintu rumah mereka
keras-keras sembari berteriak..
Yuki's Spirit Part 4
Malamnya saat makan
malam…
“Ayah,
ibu, Yuki mau bertanya, boleh gak Yuki belajar ilmu bela diri pencak silat
seperti yang di pelajari ayah dan kakak?” tanya Yuki.
Yuki's Spirit Part 3
“Yuki! Kamu jaga rumah ya! Biar kakak juga bantu menjaga rumah dan kios !” perintah kak
Sandy.
Yuki's Spirit Part 2
Sementara
itu sejam setelah lampu rumah
Yuki dimatikan, di luar rumah, tak jauh dari rumah Yuki, tiga orang menaiki
mobil sambil memperhatikan rumah Yuki.
Yuki's Spirit Part 1
Di suatu desa,
bela diri dilarang diikuti oleh perempuan,
alasannya karena perempuan tidak
boleh berperang, melainkan mengobati para pejuang
yang terluka, sekarat hingga kalah bertarung.
oh ya, perempuan biasanya menyiapkan makanan untuk para pejuang.
Padahal, bela diri
itu penting apalagi di zaman perang seperti itu. Bagaimana bila perempuan diserang? Mereka pasti
juga akan mati bila tidak bisa bela dirikan? Makanya tak heran beberapa perempuan sebenarnya
ingin ikut berbagai macam bela diri itu. Tapi mereka tidak berani melawan
peraturan pemerintah di desa tersebut.
Terlambat Mengenalmu
Cerita ini sebenarnya proyek gagal. jadi waktu itu, gue dikasih proyek (lagi) sama beberapa penulis lain untuk nulis buku antologi dengan pemeran utama Minmie. Udah pernah baca buku gue yang "Minmie's Birthday"? Semacam kayak gitu. Nah tapi entah kenapa tiba - tiba, proyek itu diberhentiin. Mungkin karena cuma sedikit yang udah ngirim naskahnya dan gak ada kepastian. Jadi, gue mau ngepost ceritanya disini aja. Gapapa kan? Hehehe...
Di
sekolah Minmie akan diadakan Persami (perkemahan sabtu minggu). Minmie yang
aktif dikegiatan pramuka pun berencana untuk ikut.
Perang DuMay
Sekarang ini kebanyakan anak –
anak remaja sering mengungkapkan kekesalan, kesedihan, kebahagiaan, dan
kegalauan mereka di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Anak – anak
yang terlihat pendiam, alim, pemalu, dan kurang aktif di sekolah pun ketika
online di Facebook maupun Twitter langsung mengeluarkan isi hati mereka. Jarang
sekali ada anak remaja yang bisa menyembunyikan perasaan mereka dan menahan
diri untuk tidak menulis berbagai status di jejaring sosial (aku juga begitu
siih... hehehe...) begitu juga dengan Najwa.
Kabar Burung
“Anak – anak, karena minggu depan adalah pertemuan terakhir kita,
lalu kita akan ulangan mid semester 2, minggu depan ulangan ya bagian HAM.
Hafalkan pasal – pasa yang ibu minta minggu lalu, contoh pelanggaran HAM,
lembaga – lembaga HAM, pengertian HAM, piagam – piagam HAM, pengertian
Genosida, dan upaya penegakkan HAM.” Jelas bu Adani sambil menulis kisi – kisi
ulangan di papan tulis.
Rahasia Osyi
Aku baru duduk di bangku SMP.
Namun, aku memiliki dua orang sahabat baru yaitu Osyi dan Ernita. Sayangnya,
akhir – akhir ini Osyi berubah sikapnya. Entah kenpa dia jadi suka melamun,
tersenyum sendiri, bahkan tertawa tanpa sebab. Dia jadi suka di luar kelas
dibanding di dalam kelas. Jika istirahat, ada saja alasan untuk ke kantin dan
setiap pergantian jam pelajaran, dia selalu izin ke kamar mandi. Pernah suatu
ketika aku dan Ernita melihat mata Osyi sembab sehabis dari kamar mandi.
Mungkin dia habis menangis karena ada masalah, tapi aku maupun Ernita tidak
berani bertanya lebih lanjut karena takut Osyi merasa tersinggung.
Spy
“Argh! Gawat! Bahaya!” pekik
kak Elsa.
“Ada apa kak?” tanyaku, penasaran.
“Eh, ng... anu... gak apa – apa kok dek... hehehe...” jawab kak
Elsa smabil tersenyum kecut.
“Ada masalah ya kak?” pancingku.
“Nggak kok...” jawab kak Elsa, gugup.
“Kalau ada masalah, cerita sama aku, siapa tahu, aku bisa bantu?”
jelasku.
“Hehehe... tak perlu. Ini masalah orang dewasa dek... Adek gak
akan ngerti deeh!” jawab kak Elsa sambil nyengir. Terlihat sekali bahwa kak
Elsa menutupi sesuatu.
Unknown Number
Aku merebahkan tubuhku di kasur rumah seusai sepulang sekolah. Aku
kesal sekali pada hari ini. Tadi, di sekolah, aku bertengkar dengan sahabatku,
Era. Gara – garanya, aku dituduhnya mensontek ketika ulangan dari sebuah
kertas. Memang siih ku akui itu benar, tapi dia tak perlu mengadukan
perbuatanku itu kepada pengawas kan? Sehingga aku harus menanggung malu di
depan pengawas dan teman – teman yang lain. Beruntung pengawas tidak mengambil
lembar jawabanku. Aku pun memusuhinya dan memutuskan untuk belajar dan pulang
sendiri.
UAN Phobia
Saat
masih kecil, aku ingin sekali cepat – cepat kelas 6 supaya aku bisa cepat –
cepat lulus dan masuk sekolah dan suasana baru. Aku mau memiliki banyak teman
baru yang tidak membosankan seperti teman – temanku yang sekarang. Hehehe...
Lucky and Bad Date
Pagi ini ketika aku memasuki
kelas. Ku dapati kelas sangat gaduh. Karena pernasaran, seusai menaruh tas, aku
pun menghampiri teman – temanku.
“Aku lahir pada tanggal 9 September tahun 1999 pada pukul 9 lewat
9 menit. September adalah bulan kesembilan. Jadi, jika diurutkan dengan angka,
9 – 9– 1999. Kelahiranku dipenuhi dengan angka 9. Karena itu, aku suka angka 9.
Angka 9 adalah angka hoki. Angka yang sangat bagus.” Ujar Ivone bangga.
“Wow! Aku berharap, adikku lahir besok pukul 1 siang. Sebab, besok
tanggal 10 November 2012. Dan jam 1 siang itu sama saja dengan pukul 13.00 kan?
November adalah bulan kesebelas. Jadi pasti sangat keren, 10 – 11 – 12 dan
pukul 13. Berurutan kan?” kata Fay.
“Aku kepengen deeh ada yang nembak aku besok! Pasti keren...”
Theresia tak mau kal;ah.
“Huu...” sorak semuanya yang hadir.
“Aku kan cuma bercanda... hehehe...” jawab Theresia.
“Eh, ada Sheza... kapan datangnya, Za?” tanya Syafa.
“Hehehe... baru... dari tadi kalian ngomongin apaan sih? Kepo
dong! Hehehe...” jawabku.
“JB aja say...” jawab Syafa. *JB = Join Bareng
“Iya nih... dari tadi kita lagi ngomongin tanggal – tanggal bagus,
kayak besok. Besokkan tanggal 10 November 2012.” jawab Theresia.
“By the way... kamu kapan ultahnya sih? Kepo dong! Hehehe...”
tanya Fay.
“Mau banget yaak?” jawabku, jahil.
“Please...” pinta teman – teman.
“Mau banget atau mau aja?” tanyaku, jahil.
“ATAU!!!” jawab teman – teman serempak. Lalu kami tertawa bersama.
“Ulang tahunku tanggal 13 April.” Jawabku, akhirnya membuka
rahasia.
“Iih... angka sial... 13-kan angka sial... terus, April itu bulan
keempat, empat juga angka sial.” Ceplos Ivone yang memang kurang bersahabat
denganku. Namun, tak seorang pun mempedulikannya.
“Hari lahirmu, hari apa, Za?” tanya Theresia, tanpa mempedulikan
Ivone.
“Hari jumat... kan aku lahir tahun 2001.” Jawabku.
“Cius? Mi apah? Kayaknya kamu emang ditakdirkan sial deh! Hari
jumat kan hari sial! Kiamat aja menurut kitab datangnya hari jumat. Aku pernah
baca di majalah, penggabungan hari sial dengan angka sial sangat berbahaya.”
Ejek Ivone.
“Hush! Ivone... kalau ngomong tuh dijaga! Emangnya, angka 9 yang
kamu banggakan itu bagus?” bela Syafa.
“Lagipula... ngapain sih percaya dengan hal – hal mistik kayak
gitu?” tambah Fay. Ivone diam saja. Sedangkan aku hanya menunduk malu.
“Teman – teman... turun ke lapangan!” perintah Azkha, ketua kelas
di kelas kamu. Aku sampai lupa kalau hari itu hari senin dan aku kan anggota
paskibra! Aku tentu akan tampil ketika upacara di sekolah setiap senin. Aku pun
bergegas turun. Untung saja aku tidak terlambat dan segera menuju barisan.
Ketika tiba giliran paskibra tampil. Aku masih terus saja memikirkan ucapan
Ivone tadi sehingga aku tidak mendengar aba – aba untuk maju. Aku baru sadar
beberapa detik kemudian. Bahkan, salah satu gerakanku ada yang salah.
Akibatnya, aku dihukum dan disuruh posma 2 seri. *1 seri = 10, 2 seri = 20
Begitu juga ketika olahraga. Ketika sedang bermain basket. Aku
berdiri sambil diam saja karena terus memikirkan ucapan Ivone tadi pagi.
“Sheza awas!!!” seru teman – teman. Namun terlambat, kepalaku
terkena bola basket dan aku pun terjatuh. Aku ditertawakan teman – temannya.
Malunya lagi, aku ditertawakan anak – anak kelas 8 yang kebetulan sedang
olahraga juga.
Selanjutnya,
ketika pelajaran matematika, aku dihukum karena kembali bengong dan tidak
berkonsentrasi dalam pelajaran. Ketika pelajaran IPA, aku mendapat nilai jelek.
Karena terus mendapat kesialan bertubi – tubi, sepulang sekolah, aku duduk lesu
di kusi sofa.
“Sheza... kok
pulang gak bilang assalamualaikum? Tegur bunda, kaget melihat kehadiranku di
kursi sofa.
“Maaf bund...”
jawabku, lesu.
“Kamu sakit?”
tanya bunda, khawatir. Aku menggeleng lemah.
“Kamu ada
masalah ya?” terka bunda. Aku terdiam.
“Kalau ada
masalah, sebaiknya dibicarakan dengan bunda. Siapa tahu, bunda bisa membantu.”
Bunda mengingatkan.
“Hh... begini
bund, tadi, teman – teman lagi ngomongin tanggal keren. Misalnya, 9 September
1999... terus, 10 November besok. September tuh bulan kesembilan. Jadi, kalau
diurutin 9 – 9 – 99. Terus besok, bulan November tuh bulan kesebelas, kalau
diurutin jadi 10 – 11 – 12. Kan keren.” Jelasku, sedih.
“Lha, terus,
apa masalahnya sayang?” tanya bunda.
“Teman – teman
tanya, kapan aku lahir. Aku jawab, hari Jumat, tanggal 13 April tahun 200.
Lalu, kata Ivone, angka 13 dan angka 4 itu angka sial. Dia juga bilang hari
jumat itu hari sial. Katanya, aku ditakdirkan bernasib sial sejak lahir.”
Terangku.
“Sheza...
semua angka dan semua hari itu baik. Tidak ada yangj sial.” Nasihat bunda.
“Tapi, bund.
Buktinya tadi Sheza sial seharian...” bantah Sheza, tidak percaya dengan ucapan
bunda.
“Itu hanya
kebetulan... mungkin kamu ceroboh atau sedang tidak konsentrasi. Karena itu
kamu membuat kesialanmu sendiri. Kamu hanya tersugesti dari kata – kata Ivone.
Coba kamu berpikiran kalau kamu akan selalu beruntung, kamu berkonsentrasi dan
tidak ceroboh, lain lagi ceritanya.” Jelas bunda.
“Jadi
sebenarnya, tidak ada yang namanya hari atau angka sial ya bunda? Itu hanya
akibat dari sugesti dan karena kelalaian orang itu sendiri.” Tanyaku.
“Ya.” Jawab
bunda, sambil mengangguk.
“Baiklah
bunda, aku mengerti. Terimakasih bunda. Sekarang, aku ingin ganti baju dan
makan siang dulu, ya!” ujarku.
Persembahan untuk Tante Lutfi
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku
senang... sekali... sebab, semua keluargaku akan datang ke rumahku. Mulai dari
keluarga om Agus dan tante Lutfi hingga kakek dan nenek. Aku sudah tidak sabar
bermain dengan Aqila, anak dari om Agus dan tante Lutfi. Sama seperti
orangtuanya, Aqila baik dan ramah. Aqila baru berumur 5 tahun. Aku juga sudah
tidak sabar memakan puding coklat dan brownies coklat buatan nenek. Ya, nenekku
memang pandai sekali memasak. Dan yang paling ku tunggu – tunggu tentu saja
kado dari mereka semua. Hehehe... aku sudah penasaran hadiah apa yang akan
mereka berikan untukku.
Pagi
– pagi sekali ayah dan ibu membangunkanku. Mereka memberikan ucapan selamat
ulang tahun dan tentu saja kado. Begitu pula dengan kakakku. Kami lalu segera
menyiapkan semuanya.
Pukul
10 pagi pun tiba. Sebuah mobil Peugeot
berwarna hitam berhenti tepat di rumahku. Sosok perempuan cantik turun dari
mobil bersama seorang gadis kecil berkepang dua. Juga dua orang yang sangat ku
kenal. Ya, tante Lutfi dan keluarganya datang bersama kakek dan nenek. Aku
segera berhamburan ke pelukan mereka. Aku kangeeen... sekali dengan mereka. Aku mencium kedua tangan
mereka dan mengajak mereka memasuki rumah.
Pertama
– tama kami berdo’a terlebih dahulu, lalu, aku meniup lilinnya dengan iringan
lagu selamat ulang tahun. Setelah meniup lilin, aku memotong kue-nya dan
membagi – bagikannya kepada semua yang hadir.
Lalu,
kami sekeluarga makan siang bersama. Menu siang ini adalah nasi kuning, lengkap
dengan telur dadar, ayam kremes, abon, kering tempe, bawang goreng, sambal, dan tentu saja lalapan.
Kami sekeluarga makan dengan lahapnya.
Seusai
makan, kami bermain bersama hingga sore. Om Agus dan keluarganya akhirnya
pulang. Om Agus sebelum pulang akan mengantar kakek dan nenek pulang ke
rumahnya terlebih dahulu.
“Jadi
anak yang pandai, rajin, sholeh, baik, dan berbakti pada orangtua, ya!” kata
nenek, sebelum pulang. Nenek lalu mencium kening dan kedua pipiku.
“Iya,
nek.” jawabku.
“Ingat
lho! Liburan nanti datanglah berkunjung ke rumah nenek, ya! nenek punya kejutan
untukmu.” pesan nenek.
“Oke,
nek! Ara janji.” jawabku.
Nenek
tersenyum. Sedangkan kakek hanya mengusap lembut rambutku dengan penuh kasih
sayang .
Mobil
Peugeot berwarna hitam yang membawa
kakek dan nenek serta tante Lutfi dan keluarganya pun melaju kencang
meninggalkan rumahku.
Saatnya
membuka kado!!!
Pertama,
kuambil kado dari ayah, lalu ku buka kadonya. Rupanya beberapa buku novel anak DAR! Mizan. Ada PCPK, KKPK, hingga PBC. Wuiiih...
asyiiiik... aku memang hobi membaca dan menulis cerita. Aku ingin sekali salah satu karyaku
dikirimkan ke salah satu penerbit supaya bisa dibukukan seperti dikirim ke
PCPK, KKPK, dan PBC. Koleksi novel
– novel anak-ku sudah banyak karena setiap
ada yang terbit aku
selalu membelinya. Mungkin aku mempunyai semua judul. Oya, ada pesan dari ayah,
begini tulisannya, ‘Buku adalah jendela
ilmu, semoga buku – buku ini bermanfaat dan bisa memotivasi kamu dalam menulis.’
Lalu
aku mengambil kado dari ibu, lalu ku buka kadonya. Sebuah Diary berwarna kuning bergambar Angry
Birds dengan sebuah kunci gembok. Ku baca pesan dari ibu, ‘Semoga dengan Diary yang ibu berikan padamu,
hobi menulismu kian terasah.’
Setelah
kado dari ibu, aku mengambil kado dari kakak dan ku buka kado tersebut. Wow!
Baju dan aksesoris yang cantik, lucu, dan imut. Aku suka sekali hadiah ini...
Salah satu bajunya bergambar Angry Birds. Ya, aku memang terkena demam Angry
Birds. Sejak Angry Birds muncul, aku selalu mengoleksi gamenya dan semuanya
yang berhubungan dengan Angry Birds. Mau itu di laptopku hingga di HP Android milikku. Aah jadi ngomong yang
nggak keruan deh! lanjut ke ceritaaa...
Ku
raih sebuah kado dari kakek dan ku buka kado tersebut. Aku mendapatkan beberapa boneka Shaun the Sheep.
Pesan yang ditulis kakekku cukup singkat yaitu hanya, ‘Belajar yang rajin, ya!’ Walau tulisannya bersambung dan sedikit
berantakan, aku masih bisa membacanya walau sedikit sulit.
Setelah
kado dari kakek, ku buka kado dari nenek. Nenek memberikanku beberapa alat
untuk menyulam dan sebuah gaun yang cantiiik... sekali. Ya, nenekku memang
pandai memasak, menyulam, dan berkebun. Hehehe... mungkin hobi kali, ya? Begini
pesan yang beliau tulis, ‘Semoga dengan
kado dari nenek ini, kamu jadi hobi menyulam...’ Aku tertawa membacanya.
Hahaha... nenek tahu saja sih bahwa aku tidak suka menjahit.
Terakhir,
kado dari Tante Lutfi yang mewakili Om Agus dan Aqila. Sebuah kado yang
dibungkus sampul kado berwarna pink dihiasi pita berwarna biru tua, sangat
cantik. Aku lalu membukanya. Rupanya, Tante Lutfi memberikanku sebuah kotak
binder bergambar Minnie beserta beberapa binder di dalamnya. Ada banyak sekali
kertas binder. Salah satunya bergambar Angry Birds dan Shaun The Sheep.
Tante Lutfi tahu saja bahwa aku suka Minnie apalagi mengoleksi binder. Kira –
kira, aku sudah memiliki 4 kotak binder. Lalu, kalau ditambah ini, jadi 5 deh!
Dan semua kotak binder itu sudah penuh. Uniknya lagi, di dalam kotak binder itu
terdapat surat dari tante Lutfi untukku. Ini dia bacaannya, ‘Selamat ulang tahun Ara... semoga panjang
umur, tambah pinter, tambah berprestasi, tambah banyak lagi karyanya dalam
bidang tulis – menulis. Semoga juga tulisannya bisa jadi novel ya... Di tunggu lho, novel karya Ara ada
di toko buku...
Salam sayang selalu dari Tante Lutfi, Om Agus, dan Aqila.’
Wow! Ini adalah surat yang paling memotivasi diriku. Aku senang sekali mendapat
surat itu. Aku jadi lebih semangat menulis.
Sejak
saat itu, aku selalu menulis cerita di sebuah buku tulis kosong milikku, lalu
ku salin ke komputer. Aku juga jadi sering menulis Diary mengenai kejadian yang
ku alami hari ini. Semua berkat orang – orang di sekitarku yang selalu
menyemangatiku dalam hal positif.
Beberapa
minggu kemudian, ceritaku selesai ku buat dan ku kirim ke penerbit. Aku yakin,
saat sudah dibukukan nanti, akan menjadi moment
yang sangat membahagiakan untuk tante Lutfi.
“Anak
– anak, hari ini kita jenguk tante Lutfi di rumah sakit, ya!” kata ayah.
“Lho?
Kenapa? Memangnya tante Lutfi sakit apa?” tanyaku,
kaget. Diikuti anggukan kakakku.
“Tante
Lutfi sakit ginjal dan usus buntu. Ibu juga baru dikasih tahu sama Om Agus tadi
pagi. Tante Lutfi di rawat di rumah sakit di Bekasi.” jawab ibu.
“Ayo
cepat berbenah diri! 15 menit lagi kita berangkat!” kata ayah.
Sesampainya
di rumah sakit, kami segera menuju lantai dan kamar yang dimaksud. Saat bertemu
tante Lutfi, wajahnya sangat pucat
pasi. Aku menghampiri beliau.
“Tante,
terimakasih ya atas surat dan hadiahnya... Aku senang sekali... sangat
memotivasi-ku dalam hal menulis.” kataku.
“Sama
– sama, Ara. Dulu, tante juga ingin menjadi penulis sepertimu, tapi, tante...
tidak sempat menjadi penulis karena... orangtua tante tidak mengizinkan tante
menjadi penulis, orangtua tante
ingin tante menjadi pengusaha sukses. Karena itu,
tante ingin melihatmu menjadi penulis bila sudah besar nanti.” kata tante
Lutfi, lemah tapi tersenyum. Sambil mengusap rambutku penuh kasih sayang.
Aku
hampir menangis mendengar cerita tante Lutfi.
“Sudahlah
Lutfi, jangan terlalu banyak bergerak. Kondisimu masih lemah.” kata ibu.
“Iya,
kak!” jawab tante Lutfi.
Sepulang
dari rumah sakit, aku langsung menulis sebanyak khayalanku. Aku akan membuat
tante Lutfi bangga dan tersenyum melihat hasil karyaku. Mungkin, walau tante
tidak bisa merasakan menjadi penulis, akulah yang akan menggantikannya.
Batinku.
Beberapa
bulan kemudian... penerbit menelepon ibuku. Tentu saja aku senang! Karena
ceritaku yang aku kirim akhirnya
akan diterbirkan. Kata sang penerbit, bukuku akan diterbitkan 9 bulan lagi. Tentu saja
aku senang, yang aku tunggu – tunggu pun akhirnya tiba. Sayangnya, tante Lutfi
belum juga sembuh, walau sudah keluar dari rumah sakit. Aku lalu menunggu dan
menunggu.
Tapi,
aku juga tetap menulis cerita. Menulis dan menulis. Beberapa karyaku itu aku
kirim ke majalah dan penerbit. Setiap ada lomba menulis cerita baik di dalam
sekolah mau pun di luar sekolah aku selalu ikut dan beberapa berhasil menang.
Bulan
yang ditentukan pun tiba... aku sudah tidak sabar lagi melihat bukuku itu. Suatu ketika, datang pak pos mengirimkan paket, ternyata
dari penerbit! Paket itu berisi 5 buku karyaku. Tentu saja aku senang. Ku buka
1 diantaranya dan sisanya masih dalam keadaan disegel. Rencananya, aku akan
memberikan sisanya pada guru wali kelasku, guru bahasa Indonesia, perpustakaan
sekolah, dan tante Lutfi.
Setelah
selesai membaca buku karyaku itu, ku cari bungkus
kado di gudang, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, aku hiasi saja buku itu
dengan pita berwarna kuning keemas – emasan dan penuh glitter. Selesai sudah!
Setelah selesai, aku keluar dari kamar menuju kamar ayah dan ibu untuk
mengatakan besok aku ingin menjenguk tante Lutfi di rumahnya.
Baru
saja aku ingin menginjakkan kaki ku di kamar ayah dan ibu, aku mendengar isak
tangis ibu.
“Janganlah
menangis terus, bu. Itu memang sudah
takdir. Kematian seseorang tidak ada yang
tahu. Semoga saja amal ibadah tante Lutfi diterima disisiNya.” hibur kakak.
Deg!
Tiba – tiba tubuhku melemas. Buku karyaku yang hendak ku berikan pada tante
Lutfi jatuh seketika. Mengapa tante Lutfi dipanggil secepat ini? Baru saja aku
ingin memberikan buku karyaku kepadanya.
“Benarkah
itu ibu?” tanyaku. Aku memberanikan diri memasuki kamar tapi dengan wajah
tegang. Masih menangis, ibu mengangguk dan memelukku.
“Padahal,
Ara ingin memberikan kejutan untuk tante Lutfi. Yaitu buku karya Ara ini... Ara
yakin dengan kejutan kecil ini, tante Lutfi akan senang bahkan bisa sembuh...”
tangisku. Ibu memelukku dan kakak sambil
tetap menangis.
Akhirnya,
dengan diantarkan kakak, kami pergi melayat. Terlihat sekali Aqila dan om Agus
sangat terpukul dengan kepergian tante Lutfi. Aku
lalu menyerahkan buku karyaku itu pada om Agus.
“Tanteku tercinta, ini buku cerita pertamaku yang terbit.
Inginnya kupersembahkan buatmu. Terimakasih sudah memberiku semangat hingga aku
berhasil...” batinku sambil terisak. Semoga tante
Lutfi merasakan semua ini dan semoga
tante Lutfi tenang dalam kebahagiaan yang
abadi di sana, aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)


