Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 11

 “Rina, Rinda, Nida, ada yang perlu mama dan papa bicarakan sekarang.” panggil mama.
   Rinda turun dari kamarnya, “Ada apa, ma?” tanya Rinda.
   “Kita beberapa hari lagi akan pindah ke Bekasi, sebab, papa pindah pekerjaan di sana.” jelas papa.
   “APA?! PINDAH PA?!” pekik Rina, Rinda, dan Nida berbarengan.
   “Ya, kalian akan masuk ke sekolah baru yang sama bagusnya dengan sekolah yang sekarang.” jelas papa.

   “Tapi pa...”
   “Tak ada tapi – tapian.” jelas papa.
   Rinda kesal dan sedih sekali dengan penjelasan papa itu. Ia sangat berharap bisa bersama sahabat – sahabatnya di sini hingga perpisahan, malahan kalau bisa satu SMP. Apa tak bisa aku tinggal sebentar di Jakarta hingga lulus SD?
   Rinda pun membaca – baca diarynya di kamar.

Refreshing

   “Eh, jalan yuk! Kemanaaa... gitu yang enak! Udah lama kita gak jalan kan? Lagian, bulan inikan penuh dengan ulangan. Refreshing laah... refreshing...” usul Lula pada jam istirahat.
   “Bagaimana? Setuju tidak?” tanyaku pada teman – teman.
   “Aku siih setuju, setuju saja. Kita akan bicarakan lebih lanjut di rumah Rinda, tapi sebelumnya kita harus izin dulu kalau mau pergi ya!” jawab Gladis.
   “Oke, oke... jam 4 sore nanti, kumpul di rumahku ya!” kataku.
   Pukul 4 sore...
   TING... TONG... TING... TONG...
   “Assalamualaikum... Rinda... Rinda...” panggil Lula dari luar rumah.
   “Iya... tunggu sebentar.” sahutku dari dalam rumah sambil membukakan pintu. “Silakan masuk!”
   “Gimana? Kalian udah diizinin belum?” tanyaku.
   “Siiip! Semua beres. Gimana sama kamu sendiri Rin?” tanya Gladis.
   “Boleh, tapi kata mamaku, aku harus ditemani kakak. Adikku mau ikut lagi. Gimana? Boleh gak kalau mereka ikut juga? Mereka gak akan joint kok!” tanyaku.
   “Bolehlah say... Terus, kita ke sana hari apa? Jam berapa?” tanya Lula.
   “Di PIM aja... kumpulnya di Gramedia! Jam setengah 11 siang aja. Gimana?” usul Gladis.
   “Setuju...” jawab kami semua.
   “Tapi, apa cuma kita berempat? Maksudku kenapa enggak ajak yang lain juga?” tanya Fatimah yang dari tadi diam.
   “Kita berempat aja, kalau kebanyakan terlalu ramai.” kata Gladis tak setuju.
   “Baiklah...” jawab Fatimah.
   Hari sabtu tiba, kami pergi ke PIM alias Pondok Indah Mall. Awalnya kami semua berkumpul di rumahku, lalu kami berangkat bersama – sama naik mobilku. Pertama, kami membeli buku di Gramedia. Kami membeli banyak novel anak dan majalah. Kedua, kami membeli aksesoris, ada bingkai foto yang bergambar lucu dan bertuliskan Best Friend Forever, lalu ada pajangan yang menggambarkan empat sahabat, dan jam weker yang bergambarkan sama dengan pajangan itu dan terakhir mereka makan di Food Court.
   “Susah banget sih cari tempat duduk buat makan berenaaam... aja...” keluh Gladis.
   “Sabar dong, Dis. Di Food Court itu makanannya enak – enak... pantas aja banyak yang suka makan di sini. Lagian... inikan hari sabtu, jadi wajar aja kalau di Food Court penuh.” kata Lula, mengingatkan.
   “Iya siih...” jawab Gladis.
   Seusai kami mendapatkan tempat duduk dan makan, kami berfoto – foto terlebih dahulu untuk kenang – kenangan dan pulang ke rumah masing – masing diantar mobilku.
Thanks
Rinda Mutiara Murni

   “Andai di dunia ini yang namanya perpisahan tidak ada, pastinya kita akan tetap satu dan semakin kompak, tak ada rasa sedih karena berpisah. Tapi itu tidak mungkin.” gumam Rinda lalu menangis sambil memeluk lutut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar