“Rina, Rinda, Nida, ada yang perlu mama
dan papa bicarakan sekarang.” panggil mama.
Rinda
turun dari kamarnya, “Ada apa, ma?” tanya Rinda.
“Kita beberapa hari lagi akan pindah ke Bekasi,
sebab, papa pindah pekerjaan di sana.”
jelas papa.
“APA?!
PINDAH PA?!” pekik Rina, Rinda, dan Nida berbarengan.
“Ya,
kalian akan masuk ke sekolah baru yang sama bagusnya dengan sekolah yang
sekarang.” jelas papa.
“Tapi
pa...”
“Tak
ada tapi – tapian.” jelas papa.
Rinda
kesal dan sedih sekali dengan penjelasan papa itu. Ia sangat berharap bisa
bersama sahabat – sahabatnya di sini
hingga perpisahan, malahan kalau bisa satu SMP. Apa tak bisa aku tinggal
sebentar di Jakarta hingga lulus SD?
Rinda
pun membaca – baca diarynya di kamar.
Refreshing
“Eh,
jalan yuk! Kemanaaa... gitu yang enak! Udah lama kita gak jalan kan? Lagian,
bulan inikan penuh dengan ulangan. Refreshing laah... refreshing...” usul Lula
pada jam istirahat.
“Bagaimana?
Setuju tidak?” tanyaku pada teman – teman.
“Aku
siih setuju, setuju saja. Kita akan bicarakan lebih lanjut di rumah Rinda, tapi
sebelumnya kita harus izin dulu kalau mau pergi ya!” jawab Gladis.
“Oke,
oke... jam 4 sore nanti, kumpul di rumahku ya!” kataku.
Pukul 4
sore...
TING...
TONG... TING... TONG...
“Assalamualaikum...
Rinda... Rinda...” panggil Lula dari luar rumah.
“Iya...
tunggu sebentar.” sahutku dari dalam rumah sambil membukakan pintu. “Silakan
masuk!”
“Gimana?
Kalian udah diizinin belum?” tanyaku.
“Siiip!
Semua beres. Gimana sama kamu sendiri Rin?” tanya Gladis.
“Boleh,
tapi kata mamaku, aku harus ditemani kakak. Adikku mau ikut lagi. Gimana? Boleh
gak kalau mereka ikut juga? Mereka gak akan
joint kok!” tanyaku.
“Bolehlah
say... Terus, kita ke sana
hari apa? Jam berapa?” tanya Lula.
“Di PIM
aja... kumpulnya di Gramedia! Jam setengah
11 siang aja. Gimana?” usul Gladis.
“Setuju...”
jawab kami semua.
“Tapi,
apa cuma kita berempat? Maksudku kenapa enggak ajak yang lain juga?” tanya
Fatimah yang dari tadi diam.
“Kita
berempat aja, kalau kebanyakan terlalu ramai.” kata Gladis tak setuju.
“Baiklah...”
jawab Fatimah.
Hari
sabtu tiba, kami pergi ke PIM alias Pondok Indah Mall. Awalnya kami semua
berkumpul di rumahku, lalu kami berangkat bersama – sama naik mobilku. Pertama,
kami membeli buku di Gramedia. Kami membeli banyak novel anak dan majalah. Kedua, kami membeli aksesoris, ada
bingkai foto yang bergambar lucu dan bertuliskan Best Friend Forever, lalu ada
pajangan yang menggambarkan empat sahabat, dan jam weker yang bergambarkan sama
dengan pajangan itu dan terakhir mereka makan di Food Court.
“Susah
banget sih cari tempat duduk buat makan berenaaam... aja...” keluh Gladis.
“Sabar
dong, Dis. Di Food Court itu makanannya enak – enak... pantas aja banyak yang
suka makan di sini.
Lagian... inikan hari sabtu, jadi wajar aja kalau di Food Court penuh.” kata
Lula, mengingatkan.
“Iya
siih...” jawab Gladis.
Seusai
kami mendapatkan tempat duduk dan makan, kami berfoto
– foto terlebih dahulu untuk kenang – kenangan dan pulang
ke rumah masing – masing diantar mobilku.
Thanks
Rinda Mutiara Murni
“Andai
di dunia ini yang namanya perpisahan tidak ada, pastinya kita akan tetap satu
dan semakin kompak, tak ada rasa sedih karena berpisah. Tapi itu tidak
mungkin.” gumam Rinda lalu menangis sambil memeluk lutut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar