Kata siapa
orang seperti Yuki dan keluarganya tidak pernah liburan? Sesekali mereka ingin
menyempatkan waktu untuk berlibur di tengah kesibukan mereka masing – masing.
Suatu hari, ketika makan malam, ayah berkata, “Ada yang ingin ayah sampaikan
pada kalian.”
“Apa itu yah? Apa? Kami sudah tidak sabar
mendengarnya.” Jawab Yuki, cepat.
“Untuk merayakan keberhasilan Yuki dalam
memajukan pencak silat, juga dalam mendapatkan NEM yang baik dan masuk sekolah
yang dia inginkan, ayah berencana mengajak keluarga kita ini untuk liburan.
Bagaimana?” tanya ayah.
“Setuju!!!!” sorak semuanya, senang.
“Ayah tanya, kalian mau ke mana?” tanya ayah.
“Ke puncak!” usul kak Sandy.
“Jangan ke puncak! Ke pantai aja!” timpal
Yuki.
“Pantai panas! Puncak kan enak, udaranya
sejuk dan segar!” jawab kak Sandy, sambil menjulurkan lidah.
“Siapa yang ngajak kakak? Ini kan hadiah
untukku, bukan untuk kakak. Berarti keinginanku yang di dengar!” Jawab Yuki,
kesal.
“Sudah... sudah..., hmm... begini saja biar
adil! Jumat siang, sepulang sekolah besok, kita ke puncak, lalu sabtunya kita
ke pantai. Bagaimana?” usul ayah.
“Oke yah! Setuju!” jawab Yuki dan kak Sandy,
serempak.
“Oh ya yah! Bolehkah aku mengajak pak Yuda
dan bu Yurika berlibur bersama keluarga kita?” tanya Yuki, penuh harap.
“Hmm... Baiklah kalau begitu.” Jawab ayah,
setuju.
“Yee... asyik... makasih ayah, makasih
ibu...” kata Yuki senang.
Esoknya, seusai pulang sekolah, Yuki segera
ganti baju dan makan siang. Sorenya, Yuki segera pergi ke rumah pak Yuda dan bu
Yurika.
“Assalamualaikum...” sapa Yuki.
“Walaikumsalam... Yuki, silakan masuk!” sahut
bu Yurika. Yuki segera salam pada bu Yurika dan pak Yuda.
“Memasak apa, bu?” tanya Yuki yang mencium
aroma masakan dari dalam dapur.
“Sup kacang merah.” Jawab bu Yurika.
“Hmm... enak... boleh ku cicipi, bu?” tanya
Yuki.
“Tentu saja boleh. Kamu menunggu saja di
halaman.” Jawab bu Yurika.
Yuki pun menghampiri pak Yuda di halaman
dalam yang sedang melukis.
“Sedang melukis apa, pak?” tanya Yuki.
“Sedang melukis burung – burung kecil itu.”
Jawab pak Yuda.
“Oh ya pak, aku ada kabar baik. Jumat siang
dan sabtu besok, keluargaku mau liburan. Bapak dan ibu Yurika ikut yaa!” ajak
Yuki.
“Hmm... baiklah... memangnya mau liburan ke
mana?” tanya pak Yuda.
“Jumat siangnya ke puncak, sabtunya ke
pantai. Pasti menyenangkan! Liburan ini hadiah untukku karena mendapat NEM baik
dan sekolah yang baik pula.” Ujar Yuki tanpa bermaksud sombong.
“Wah, hebat dong!” puji bu Yurika yang tiba –
tiba saja sudah ada di belakang mereka sambil membawa nampan berisi dua mangkuk
berisi sup kacang merah dengan dua gelas minuman untuk Yuki dan pak Yuda.
“Silakan dimakan supnya!”
“Hehehe... ibu ikut kan?” tanya Yuki.
“Insya Allah, ya! Bapak dan ibu akan
usahakan.” Kata bu Yurika. Yuki pun makan dengan lahap, hmm... enak sekali! Bu
Yurika memang pandai membuat makanan. Makanan apa saja yang dimasak bu Yurika
pasti enak hasilnya. Yuki heran kenapa bu Yurika tidak membuka usaha memasak
ya?
“Hmm... makanan buatan bu Yurika selalu enak!
Terimakasih, bu.” Puji Yuki.
“Sama – sama, nak.” Jawab bu Yurika sambil
tersenyum. Setelah latihan pencak silat sebentar, Yuki pun pulang. Sesampainya
di rumah, Yuki segera menemui kedua orangtuanya.
“Ayah, ibu, pak Yuda dan bu Yurika sudah ku
ajak dan mereka menyanggupinya.” Cerita Yuki, berseri – seri.
“Ooh... baguslah kalau begitu, sekarang,
sebaiknya kamu segera mandi dan belajar ya! Ayah dan ibu sedang sibuk mengurus
kedai.” Jawab ibu.
“Baik, bu!” jawab Yuki. Yuki segera ganti
baju dan menuju kamarnya untuk belajar. Hingga mahgrib, Yuki baru selesai
belajar dan menunaikan ibadah sholat mahgrib bersama keluarganya. Setelah itu,
Yuki makan malam dan membantu mengurus kedai miliki keluarganya hingga malam.
Setelah itu, Yuki sholat isya dan segera pergi tidur karena besok masih harus
sekolah. Rasanya Yuki sudah tidak sabar menuggu hingga hari jumat tiba. Dia
selalu mengimpikan pergi berjalan – jalan bersama keluarganya dan orang – orang
yang ia sayangi.
Tak terasa, hari jumat pun tiba. Yuki sangat
bersemangat sekolah hari itu. Yuki sudah tak sabar untuk menunggu hingga
sekolah usai. Sepulang sekolah, Yuki makan siang lalu mengemas barang –
barangnya dalam satu koper dan barang – barang kecil seperti sikat gigi,
dompet, sisir, dan pasta gigi dia bawa dengan tas selempang kecil. Tepat seusai
dia berkemas, ibu mengetuk pintu.
“Yuki... pak Yuda dan bu Yurika sudah datang
tuh! Mereka menunggmu di ruang tamu!” seru ibu dari luar.
“Iya bu, sebentar lagi...” jawab Yuki.
Setelah menyisir rambutnya, Yuki menjepit rambutnya dan segera keluar dari
kamarnya. Ternyata yang lainnya sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian
rapi tapi santai, Yuki jadi malu karena merasa paling lama dan karena yang lain
sudah menunggu dirinya sedari tadi.
“Maaf aku...” belum sempat Yuki melanjutkan
kalimatnya, kak Sandy memotong.
“Iih... lama banget sih? Gak tahu yaa kalau
kita – kita udah nunggu dari tadi?” tanya kak Sandy, kesal.
“Iya, iya, maaf deeh!” cibir Yuki sambil
cemberut.
“Sudah, sudah, kita sudah terlambat. Ayo berangkat!”
ajak ibu. Mereka lalu naik mobil. Yang menyetir ayah. Di samping ayah ada kak
Sandy dan pak Yuda. Yuki, ibu dan bu Yurika duduk di belakang. Mobil melaju
dengan cepat menuju puncak. Setibanya di puncak, mereka berencana untuk
menginap di sebuah villa. Di halaman villa yang luas, Yuki dan kak Sandy
bermain bersama. Mulai dari bermain layang – layang, hingga gelembung. Di villa
itu, terdapat seorang pembantu paruh baya yang ramah. Malamnya, mereka semua
memasak barbeque di halaman dan juga bermain kembang api. Sungguh mengasyikkan.
Rencananya, besok, sebelum pulang, mereka akan berkeliling dulu untuk menikmati
panorama yang indah dan menghirup udara segar di sekitar puncak. Malam itu,
mereka tidur dengan nyenyak.
Keesokkan paginya, seusai sarapan dan mandi,
Yuki, ayah, pak Yuda, dan kak Sandy memutuskan untuk berjalan – jalan dan
mempelajari keadaan alam di sekitar puncak.
“Subahanallah... indah sekali
pemandangannya...” seru Yuki.
“Ya..., hmm... sejuknya... tidak ada polusi
yang menyesakkan dada dan membuat mata sakit, tidak ada kebisingan yang
memekakkan telinga.” Tambah kak Sandy.
“Tenang... damai... indah... dan sejuk...”
timpal ayah.
“Bagaikan ada di surga!” ujar pak Yuda.
“Oh, andai saja kita bisa berlama – lama di
sini...” kata kak Sandy.
“Tak perlu, nanti siang tentu akan lebih
menyenangkan dibanding berada di sini.” Sindir Yuki.
Kak Sandy jadi kesal dibuatnya. Di puncak,
mereka berfoto – foto terlebih dahulu untuk kenang – kenangan. Setelah itu,
mereka kembali ke villa dan mengemas barang – barang.
“Jangan sampai ada yang ketinggalan...” pesan
ayah, mengingatkan.
Setelah semuanya beres, mereka pamit kepada
nenek tua yang ramah, penjaga villa itu.
“Nek, kami pulang dulu, ya!” kata Yuki.
“Iya anak muda. Hati hati di jalan. Senang
mendapat pengunjung villa seperti kalian.” Ujar nenek itu.
Lalu, mereka segera berangkat menuju pantai
yang berjarak agak jauh dan menginap di hotel tak jauh dari pantai. Yuki
sekamar dengan kak Sandy, ayah dan ibu, sedangkan pak Yuda dengan bu Yurika.
Pemandangan pantai ternyata tidak kalah indah dengan pemandangan di puncak.
Mereka segera bermain voli pantai. Ketika sedang asyik bermain voli pantai,
terdengar teriakan minta tolong.
“Tolong! Dompetku di curi!” teriak seorang
ibu. Yuki segera menoleh, dengan sigap, dia segera melompat dan melakukan
pukulan smash pada bola voli ke arah pencopet itu, pencopet itu terjatuh karena
bola voli tepat mengenai kakinya dan pencopet itu pun akhirnya tertangkap.
“Terimakasih ya nak, telah menolong ibu.
Sebagai imbalannya, mari ibu traktir es krim!” ujar ibu itu, berhutang budi
pada Yuki.
“Ah, tak perlu tante. Aku hanya sedikit
membantu, kok!” jawab Yuki, malu.
“Tak perlu sungkan – sungkan...” kata ibu
itu. Kebetulan memang ada mobil penjual es krim di sekitar situ, ibu itu lalu
membelikan satu scoop es krim rasa cokelat untuk Yuki.
“Makasih tante, aku jadi tidak enak.” Kata
Yuki, malu.
“Aah... tak apa – apa, nak... sebagai ucapan
terimakasih ibu padamu. Sekarang, ibu pergi dulu, ya!” kata ibu itu lalu pergi
meninggalkan Yuki. Setelah selesai memakan es krim, Yuki kembali bermain. Kali
ini dia membuat istana pasir dan mengumpulkan kerang.
“Aduuuh!” pekik kak Sandy. Semua segera
menoleh dan mendatangi kak Sandy.
“Ada apa Sandy?” tanya ibu yang kaget dan
segera menghampiri kak Sandy.
“Kakiku... aduh...” jawab kak Sandy. Ternyata
setelah dilihat, kaki kak Sandy tercapit seekor kepiting di pantai.
“Hahahahahahahaha...
Hahahahahahahahahaha....” tawa Yuki, ngakak.
Kak Sandy jadi bete karena ditertawakan oleh
Yuki.
“Hush! Yuki... gak boleh gitu sama kakak
sendiri... Bukannya ditolong...” ibu mengingatkan.
“Iya deh bu, maaf. Lagian... lucu, bu.” Jawab
Yuki sambil tetap tersenyum dan terkikik – kikik menahan tawa.
“Siapa yang mau ikut ayah ke tengah laut?”
tanya ayah.
“Aku! Aku! Aku yah!” Yuki dan kak Sandy
berebut.
“Oke, oke, kita naik salah satu diantara
kapal kecil itu yuk untuk melihat – lihat!” ajak ayah sambil menunjuk sebuah
kapal kecil. Setelah berhasil menyewa salah satu kapal, maka berangkatlah ayah,
Yuki, kak Sandy dan pak Yuda ke tengah laut. Pemandangan laut ketika itu
sangatlah indah. Laut yang bersih dan belum tercemar saat itu terlihat sangat
jernih.
“Wow! Laut benar – benar biru...” Yuki
berdecak kagum.
“Ya, sangat indah...” tambah kak Sandy.
“Akhirnya kakak menyadarinya juga...” ledek
Yuki. Kak Sandy mencibir karena adiknya tersebut selalu menggodanya selama
liburan ini.
Seusai naik kapal mengelilingi laut, mereka
naik banana boat. Mereka juga mencoba diving.
Wow! Sangatlah seru, asyik, dan menantang, ya! Pantai di sore hari ternyata
sangatlah indah. Yuki melihat matahari yang hampir tenggelam di tengah laut
dengan cahayanya yang menyilaukan dan bayangannya yang terpancar di laut. “Subahanallah...” ucap Yuki.
“Yuki! Mau ikut ayah memancing tidak untuk
makan malam hari ini?” pekik kak Sandy, Yuki menoleh dan segera berlari ke arah
kak Sandy, “Mau, mau...”
Mereka pun akhirnya bersama kapal milik
nelayan – nelayan di daerah situ untuk memancing ikan. Yuki berhasil
mendapatkan 3 ikan, sedangkan, ayah, kak Sandy, dan pak Yuda hanya mendapat
seekor ikan.
“Lihaat... aku menang dong! Berarti aku
berhak memakan tiga ikan niih...” ledek Yuki ke kak Sandy. Kak Sandy hanya
cemberut saja melihat adiknya yang jahil dan
iseng. Lalu mereka membawa hasil mereka memancing kepada ibu dan bu
Yurika.
Malamnya, mereka membuat api unggun dan
memasak ikan bakar bersama di pantai. Hmm... sangatlah lezat dan enak... Yuki
sangat senang hari itu, liburannya kali ini sangatlah menyenangkan. Apalagi
ditemani orang – orang yang ia sayangi. Keesokkan harinya, sebelum pulang,
mereka menyempatkan diri berfoto – foto terlebih dahulu lalu mereka segera
pulang. Memang siih liburan itu melelahkan, tapi menyenangkan! Ketika liburan,
kita mendapat berbagai macam pengalaman berharga yang bisa kita sampaikan
kepada teman – teman di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar