Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 7

   Kata siapa orang seperti Yuki dan keluarganya tidak pernah liburan? Sesekali mereka ingin menyempatkan waktu untuk berlibur di tengah kesibukan mereka masing – masing. Suatu hari, ketika makan malam, ayah berkata, “Ada yang ingin ayah sampaikan pada kalian.”


    “Apa itu yah? Apa? Kami sudah tidak sabar mendengarnya.” Jawab Yuki, cepat.
   “Untuk merayakan keberhasilan Yuki dalam memajukan pencak silat, juga dalam mendapatkan NEM yang baik dan masuk sekolah yang dia inginkan, ayah berencana mengajak keluarga kita ini untuk liburan. Bagaimana?” tanya ayah.
   “Setuju!!!!” sorak semuanya, senang.
   “Ayah tanya, kalian mau ke mana?” tanya ayah.
   “Ke puncak!” usul kak Sandy.
   “Jangan ke puncak! Ke pantai aja!” timpal Yuki.
   “Pantai panas! Puncak kan enak, udaranya sejuk dan segar!” jawab kak Sandy, sambil menjulurkan lidah.
   “Siapa yang ngajak kakak? Ini kan hadiah untukku, bukan untuk kakak. Berarti keinginanku yang di dengar!” Jawab Yuki, kesal.
   “Sudah... sudah..., hmm... begini saja biar adil! Jumat siang, sepulang sekolah besok, kita ke puncak, lalu sabtunya kita ke pantai. Bagaimana?” usul ayah.
   “Oke yah! Setuju!” jawab Yuki dan kak Sandy, serempak.
   “Oh ya yah! Bolehkah aku mengajak pak Yuda dan bu Yurika berlibur bersama keluarga kita?” tanya Yuki, penuh harap.
   “Hmm... Baiklah kalau begitu.” Jawab ayah, setuju.
   “Yee... asyik... makasih ayah, makasih ibu...” kata Yuki senang.
   Esoknya, seusai pulang sekolah, Yuki segera ganti baju dan makan siang. Sorenya, Yuki segera pergi ke rumah pak Yuda dan bu Yurika.
   “Assalamualaikum...” sapa Yuki.
   “Walaikumsalam... Yuki, silakan masuk!” sahut bu Yurika. Yuki segera salam pada bu Yurika dan pak Yuda.
   “Memasak apa, bu?” tanya Yuki yang mencium aroma masakan dari dalam dapur.
   “Sup kacang merah.” Jawab bu Yurika.
   “Hmm... enak... boleh ku cicipi, bu?” tanya Yuki.
   “Tentu saja boleh. Kamu menunggu saja di halaman.” Jawab bu Yurika.
   Yuki pun menghampiri pak Yuda di halaman dalam yang sedang melukis.
   “Sedang melukis apa, pak?” tanya Yuki.
   “Sedang melukis burung – burung kecil itu.” Jawab pak Yuda.
   “Oh ya pak, aku ada kabar baik. Jumat siang dan sabtu besok, keluargaku mau liburan. Bapak dan ibu Yurika ikut yaa!” ajak Yuki.
   “Hmm... baiklah... memangnya mau liburan ke mana?” tanya pak Yuda.
   “Jumat siangnya ke puncak, sabtunya ke pantai. Pasti menyenangkan! Liburan ini hadiah untukku karena mendapat NEM baik dan sekolah yang baik pula.” Ujar Yuki tanpa bermaksud sombong.
   “Wah, hebat dong!” puji bu Yurika yang tiba – tiba saja sudah ada di belakang mereka sambil membawa nampan berisi dua mangkuk berisi sup kacang merah dengan dua gelas minuman untuk Yuki dan pak Yuda. “Silakan dimakan supnya!”
   “Hehehe... ibu ikut kan?” tanya Yuki.
   “Insya Allah, ya! Bapak dan ibu akan usahakan.” Kata bu Yurika. Yuki pun makan dengan lahap, hmm... enak sekali! Bu Yurika memang pandai membuat makanan. Makanan apa saja yang dimasak bu Yurika pasti enak hasilnya. Yuki heran kenapa bu Yurika tidak membuka usaha memasak ya?
   “Hmm... makanan buatan bu Yurika selalu enak! Terimakasih, bu.” Puji Yuki.
   “Sama – sama, nak.” Jawab bu Yurika sambil tersenyum. Setelah latihan pencak silat sebentar, Yuki pun pulang. Sesampainya di rumah, Yuki segera menemui kedua orangtuanya.
   “Ayah, ibu, pak Yuda dan bu Yurika sudah ku ajak dan mereka menyanggupinya.” Cerita Yuki, berseri – seri.
   “Ooh... baguslah kalau begitu, sekarang, sebaiknya kamu segera mandi dan belajar ya! Ayah dan ibu sedang sibuk mengurus kedai.” Jawab ibu.
   “Baik, bu!” jawab Yuki. Yuki segera ganti baju dan menuju kamarnya untuk belajar. Hingga mahgrib, Yuki baru selesai belajar dan menunaikan ibadah sholat mahgrib bersama keluarganya. Setelah itu, Yuki makan malam dan membantu mengurus kedai miliki keluarganya hingga malam. Setelah itu, Yuki sholat isya dan segera pergi tidur karena besok masih harus sekolah. Rasanya Yuki sudah tidak sabar menuggu hingga hari jumat tiba. Dia selalu mengimpikan pergi berjalan – jalan bersama keluarganya dan orang – orang yang ia sayangi.
   Tak terasa, hari jumat pun tiba. Yuki sangat bersemangat sekolah hari itu. Yuki sudah tak sabar untuk menunggu hingga sekolah usai. Sepulang sekolah, Yuki makan siang lalu mengemas barang – barangnya dalam satu koper dan barang – barang kecil seperti sikat gigi, dompet, sisir, dan pasta gigi dia bawa dengan tas selempang kecil. Tepat seusai dia berkemas, ibu mengetuk pintu.
   “Yuki... pak Yuda dan bu Yurika sudah datang tuh! Mereka menunggmu di ruang tamu!” seru ibu dari luar.
   “Iya bu, sebentar lagi...” jawab Yuki. Setelah menyisir rambutnya, Yuki menjepit rambutnya dan segera keluar dari kamarnya. Ternyata yang lainnya sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian rapi tapi santai, Yuki jadi malu karena merasa paling lama dan karena yang lain sudah menunggu dirinya sedari tadi.
   “Maaf aku...” belum sempat Yuki melanjutkan kalimatnya, kak Sandy memotong.
   “Iih... lama banget sih? Gak tahu yaa kalau kita – kita udah nunggu dari tadi?” tanya kak Sandy, kesal.
   “Iya, iya, maaf deeh!” cibir Yuki sambil cemberut.
   “Sudah, sudah, kita sudah terlambat. Ayo berangkat!” ajak ibu. Mereka lalu naik mobil. Yang menyetir ayah. Di samping ayah ada kak Sandy dan pak Yuda. Yuki, ibu dan bu Yurika duduk di belakang. Mobil melaju dengan cepat menuju puncak. Setibanya di puncak, mereka berencana untuk menginap di sebuah villa. Di halaman villa yang luas, Yuki dan kak Sandy bermain bersama. Mulai dari bermain layang – layang, hingga gelembung. Di villa itu, terdapat seorang pembantu paruh baya yang ramah. Malamnya, mereka semua memasak barbeque di halaman dan juga bermain kembang api. Sungguh mengasyikkan. Rencananya, besok, sebelum pulang, mereka akan berkeliling dulu untuk menikmati panorama yang indah dan menghirup udara segar di sekitar puncak. Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak.
   Keesokkan paginya, seusai sarapan dan mandi, Yuki, ayah, pak Yuda, dan kak Sandy memutuskan untuk berjalan – jalan dan mempelajari keadaan alam di sekitar puncak.
   “Subahanallah... indah sekali pemandangannya...” seru Yuki.
   “Ya..., hmm... sejuknya... tidak ada polusi yang menyesakkan dada dan membuat mata sakit, tidak ada kebisingan yang memekakkan telinga.” Tambah kak Sandy.
   “Tenang... damai... indah... dan sejuk...” timpal ayah.
   “Bagaikan ada di surga!” ujar pak Yuda.
   “Oh, andai saja kita bisa berlama – lama di sini...” kata kak Sandy.
   “Tak perlu, nanti siang tentu akan lebih menyenangkan dibanding berada di sini.” Sindir Yuki.
   Kak Sandy jadi kesal dibuatnya. Di puncak, mereka berfoto – foto terlebih dahulu untuk kenang – kenangan. Setelah itu, mereka kembali ke villa dan mengemas barang – barang.
   “Jangan sampai ada yang ketinggalan...” pesan ayah, mengingatkan.
   Setelah semuanya beres, mereka pamit kepada nenek tua yang ramah, penjaga villa itu.
   “Nek, kami pulang dulu, ya!” kata Yuki.
   “Iya anak muda. Hati hati di jalan. Senang mendapat pengunjung villa seperti kalian.” Ujar nenek itu.
   Lalu, mereka segera berangkat menuju pantai yang berjarak agak jauh dan menginap di hotel tak jauh dari pantai. Yuki sekamar dengan kak Sandy, ayah dan ibu, sedangkan pak Yuda dengan bu Yurika. Pemandangan pantai ternyata tidak kalah indah dengan pemandangan di puncak. Mereka segera bermain voli pantai. Ketika sedang asyik bermain voli pantai, terdengar teriakan minta tolong.
   “Tolong! Dompetku di curi!” teriak seorang ibu. Yuki segera menoleh, dengan sigap, dia segera melompat dan melakukan pukulan smash pada bola voli ke arah pencopet itu, pencopet itu terjatuh karena bola voli tepat mengenai kakinya dan pencopet itu pun akhirnya tertangkap.
   “Terimakasih ya nak, telah menolong ibu. Sebagai imbalannya, mari ibu traktir es krim!” ujar ibu itu, berhutang budi pada Yuki.
   “Ah, tak perlu tante. Aku hanya sedikit membantu, kok!” jawab Yuki, malu.
   “Tak perlu sungkan – sungkan...” kata ibu itu. Kebetulan memang ada mobil penjual es krim di sekitar situ, ibu itu lalu membelikan satu scoop es krim rasa cokelat untuk Yuki.
   “Makasih tante, aku jadi tidak enak.” Kata Yuki, malu.
   “Aah... tak apa – apa, nak... sebagai ucapan terimakasih ibu padamu. Sekarang, ibu pergi dulu, ya!” kata ibu itu lalu pergi meninggalkan Yuki. Setelah selesai memakan es krim, Yuki kembali bermain. Kali ini dia membuat istana pasir dan mengumpulkan kerang.
   “Aduuuh!” pekik kak Sandy. Semua segera menoleh dan mendatangi kak Sandy.
   “Ada apa Sandy?” tanya ibu yang kaget dan segera menghampiri kak Sandy.
   “Kakiku... aduh...” jawab kak Sandy. Ternyata setelah dilihat, kaki kak Sandy tercapit seekor kepiting di pantai.
   “Hahahahahahahaha... Hahahahahahahahahaha....” tawa Yuki, ngakak.
   Kak Sandy jadi bete karena ditertawakan oleh Yuki.
   “Hush! Yuki... gak boleh gitu sama kakak sendiri... Bukannya ditolong...” ibu mengingatkan.
   “Iya deh bu, maaf. Lagian... lucu, bu.” Jawab Yuki sambil tetap tersenyum dan terkikik – kikik menahan tawa.
   “Siapa yang mau ikut ayah ke tengah laut?” tanya ayah.
   “Aku! Aku! Aku yah!” Yuki dan kak Sandy berebut.
   “Oke, oke, kita naik salah satu diantara kapal kecil itu yuk untuk melihat – lihat!” ajak ayah sambil menunjuk sebuah kapal kecil. Setelah berhasil menyewa salah satu kapal, maka berangkatlah ayah, Yuki, kak Sandy dan pak Yuda ke tengah laut. Pemandangan laut ketika itu sangatlah indah. Laut yang bersih dan belum tercemar saat itu terlihat sangat jernih.
   “Wow! Laut benar – benar biru...” Yuki berdecak kagum.
   “Ya, sangat indah...” tambah kak Sandy.
   “Akhirnya kakak menyadarinya juga...” ledek Yuki. Kak Sandy mencibir karena adiknya tersebut selalu menggodanya selama liburan ini.
   Seusai naik kapal mengelilingi laut, mereka naik banana boat. Mereka juga mencoba diving. Wow! Sangatlah seru, asyik, dan menantang, ya! Pantai di sore hari ternyata sangatlah indah. Yuki melihat matahari yang hampir tenggelam di tengah laut dengan cahayanya yang menyilaukan dan bayangannya yang terpancar di laut.            “Subahanallah...” ucap Yuki.
   “Yuki! Mau ikut ayah memancing tidak untuk makan malam hari ini?” pekik kak Sandy, Yuki menoleh dan segera berlari ke arah kak Sandy, “Mau, mau...”
   Mereka pun akhirnya bersama kapal milik nelayan – nelayan di daerah situ untuk memancing ikan. Yuki berhasil mendapatkan 3 ikan, sedangkan, ayah, kak Sandy, dan pak Yuda hanya mendapat seekor ikan.
   “Lihaat... aku menang dong! Berarti aku berhak memakan tiga ikan niih...” ledek Yuki ke kak Sandy. Kak Sandy hanya cemberut saja melihat adiknya yang jahil dan  iseng. Lalu mereka membawa hasil mereka memancing kepada ibu dan bu Yurika.

   Malamnya, mereka membuat api unggun dan memasak ikan bakar bersama di pantai. Hmm... sangatlah lezat dan enak... Yuki sangat senang hari itu, liburannya kali ini sangatlah menyenangkan. Apalagi ditemani orang – orang yang ia sayangi. Keesokkan harinya, sebelum pulang, mereka menyempatkan diri berfoto – foto terlebih dahulu lalu mereka segera pulang. Memang siih liburan itu melelahkan, tapi menyenangkan! Ketika liburan, kita mendapat berbagai macam pengalaman berharga yang bisa kita sampaikan kepada teman – teman di sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar