Sabtu, 04 Oktober 2014

Anggrek Bulan Terakhir

       Kenzi sangat sayang pada adiknya, namanya Karin. Dari dulu, Kenzi sangat menginginkan memiliki adik. Karenanya, begitu lahir Karin, Kenzi sangat menyayanginya. Karin sangat suka dengan anggrek bulan. Karin  juga suka dengan warna kuning dan putih.

            Kenzi dan Karin sering menanam anggrek bulan bersama. Kelak, bila sudah tumbuh nantinya, Karin ingin memetiknya sebagian dan menaruhnya di vas bunga.
            “Dek, ayo kita sirami tanaman di halaman!” ajak Kenzi.
            “Oke kak, sebentar lagi! Karin sedang menggambar.” jawab Karin.
            “Waah... emang lagi gambar apa?” tanya Kenzi.
            “Kebun bunga kak Kenzi dan Karin! Dipenuhi oleh bunga mawar, melati, dan tentunya anggrek bulan!” jawab Karin.
            “Wuiih... gambarnya bagus, Rin.” puji Kenzi.
            “Makasih, kak. Ayo kak kita bergegas ke halaman! Nanti saja Karin selesaikan! Karin sudah tidak sabar melihat tanaman bunga Karin dan kak Kenzi!” ajak Karin.
            Rupanya, selain berkebun, Karin juga hobi menggambar, ya! Gambarnya sangat bagus, rapi, dan lucu. Kenzi selalu memuji Karin dalam hal menggambar dan selalu menyemangatinya untuk membuat gambar yang lebih  bagus lagi.
            Kenzi dan Karin menyiram tanaman bersama lalu keluarlah iseng mereka untuk saling menyemprotkan air. Kenzi mengejar Karin untuk menyiramnya dengan  air.
            BRUUUKKK!!! Tiba – tiba Karin terjatuh terpeleset. “KARIN!!!” pekik Kenzi panik. Kenzi segera menjatuhkan selangnya untuk menggendong sang adik yang terluka dikeningnya dan pingsan, masuk ke dalam rumah. Untung saja ada bibik, yang segera membantu Kenzi membawa Karin ke dalam kamar. Bibik mengompres kening dan lutut Karin dengan air hangat dan memberikan sedikit obat luka.
            “Mungkin adek terlalu capek dan pusing.” kata bibik.
            “Karin... are you okey?, Istirahat yaa biar kita bisa bermain dan melihat anggrek bulan itu mekar.” kata Kenzi menyemangati sambil menepuk-nepuk pipi Karin dengan lembut untuk menyadarkannya.
            “I... iya kak...” jawab Karin sambil membuka matanya dan meringis menahan perih.
            Ayah dan bunda tak lama kemudian datang setelah Kenzi memberitahukan kondisi Karin. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Karin.
            “Karin... cepat sembuh ya, nak!” kata ayah mencium kening Karin.
            “Sepertinya besok kamu tidak perlu masuk sekolah dulu, besok kita ke dokter. Besok  ayah dan bunda akan izin untuk sehari tidak masuk kerja. Kamu terlalu capek dan akhir-akhir ini sering pingsan.” Kata bunda cemas. Kini giliran bunda yang mencium kening Karin.
            Malam harinya...
            “Adek... bila ingin sesuatu... tinggal bila mas Kenzi atau bibik, ya! Mas Kenzi tidur di kasur bawah tempat tidur adek!” kata bibik.
            “Makasih bik...” jawab Karin.
            “Selamat tidur Karin... selamat tidur Kenzi... Have a nice dream...” kata ayah dan bunda. Lalu mereka menutup pintu dan mematikan lampu.
            Keesokkannya, Karin dibawa ke dokter. Di sekolah, Kenzi tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Pikirannya selalu tertuju pada Karin. Bagaimana ya kabar Karin? Apakah dia baik – baik saja? Kenapa dia sering pingsan? sakit apa dia?
            “Kenzi! Perhatikan saat guru menjelaskan!” bentak bu guru.
            “Ma... maaf bu... ba... baik!” jawab Kenzi, gugup.
            Sepulang sekolah, Kenzi tampak lesu. Pikirannya masih tak keruan. Sesampainya di rumah...
            “Assalamualaikum... bunda! Karin mana? Apakah dia sudah sehat? Apakah dia sudah sembuh? Dia tidak sakit apa – apa kan, bund?” berondong Kenzi.
            “Walaikumsalam... Karin sedang ada di kamarnya. Dia tidak mau makan, bunda dan bibik sudah membujuknya berkali – kali, tetap saja Karin tidak mau keluar juga.” jawab bunda.
            “Ada apa dengan Karin, bund?” tanya Kenzi, heran.
            “Karin terkena penyakit yang disebabkan oleh virus yang mengakibatkan dia sering sakit dan pingsan, menurut dokter belum ditemukan macam virusnya dan cukup berbahaya, tapi dokter berusaha memberikan obat yang tepat untuk kesembuhannya. Itulah yang membuatnya sedih berkepanjangan. Bunda tidak tahu harus bagaimana lagi. Bunda juga sedih mendengarnya.” cerita bunda dengan mata berkaca-kaca.
            Deg!!! Kenzi kaget setengah mati. Hatinya menangis.. Tiba–tiba Kenzi segera berlari keluar, menaiki sepedanya lalu segera menuju taman kota.
            “KENZI...” pekik bunda.
            Kenzi tidak peduli, dia segera menuju taman kota. Ya, ada! Ada beberapa tanaman anggrek bulan mekar di taman itu. Indah dan banyak sekali... Kenzi segera memetik setangkai dan membawanya ke rumah.
            “Ada apa, Kenzi?” tanya bunda bingung.
            Tok! Tok! Tok! “Karin... ini kak Kenzi, Karin... bukakan pintunya! Bila kamu ingin makan siang, kak Kenzi akan memberikan anggrek bulan padamu!” kata Kenzi.
            “Bohong!” jawab Karin.
            “Makanya keluar dulu! Bila kamu tidak melihatnya, kamu tidak akan percaya!” jelas Kenzi.
            Akhirnya, Karin pun keluar kamar juga. “Waah! Anggrek bulan!” seru Karin, tak percaya.
            “Benarkan apa yang kak Kenzi bilang... kak Kenzi tidak berbohong kan? Sekarang, Karin makan siang dulu, ya! Biar tidak sakit lagi dan bisa merawat anggrek bulan di halaman.” jelas Kenzi.
            “Baik kak!” jawab Karin, kembali bersemangat.
            Beberapa hari kemudian, kondisi Karin kian membaik. Karin sudah boleh bermain dihalaman rumah. Namun, tetap saja Karin tidak diperbolehkan sekolah. Sorenya, sepulang sekolah, Kenzi melihat Karin duduk di halaman rumah, menunggunya pulang.
            “Kariiin...” pekik Kenzi sambil melambaikan tangan.
            “Kakak...” jawab Karin.
            Kenzi segera memeluk adiknya yang masih berumur 6 tahun itu. “Kamu sudah sembuh, dek?”
            “Lumayan...” jawab Karin, singkat.
            “Dek, yuk kita makan siang dulu. Setelah itu kita bisa merawat anggrek bulan kita!” ajak Kenzi.
            “Baiklah, kak!” jawab Karin, lagi.
            Mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu makan siang bersama. Sambil bercakap – cakap dan bercanda. Seusai makan siang, mereka mencuci piring masing – masing lalu segera keluar rumah.
            “Lihat Karin! Bunganya sudah mau tumbuh! Aku yakin, 3 minggu lagi bunga ini akan mekar!” kata Kenzi.
            “Iya, kak! kita rawat lebih rajin ya! Mungkin bisa tumbuh lebih cepat.” usul Karin.
            “Hahaha... kamu ini lucu, Karin... mungkin juga siih...” tawa Kenzi.
            “Hehehe...”
            Namun tiba – tiba, pandangan Karin seolah berputar, pandangan Karin gelap. Karin tidak dapat melihat apa – apa.
“Karin... kamu kenapa?” tanya Kenzi.
 “Karin...”
            BRUUUKKK... Karin pingsan tak sadarkan diri. “Kariiin...” pekik Kenzi, panik.  Bibik pun cepat datang. Kenzi dan bibik segera membawa Karin ke rumah sakit terdekat. Dengan sigap para dokter menanganginya. Hari pun berganti, namun, Karin tak kunjung sadarkan diri. Makin hari tubuhnya semakin kurus seakan habis termakan sakitnya. Walau begitu, Kenzi tetap ada di samping Karin. Setiap sepulang sekolah dia selalu mengunjungi Karin dan sesekali mengganti anggrek bulan di vas bunga yang sudah mulai layu. Bila hari itu Kenzi libur, Kenzi sepenuhnya di rumah sakit. Kenzi sangat sayang dengan Karin, adik satu-satunya dalam kebersamaan sehari-hari.
            Seminggu kemudian... akhirnya Karin siuman juga.
            “Kariin...... kamu sudah sadarkan diri?” tanya Kenzi.
            “I... iy... iya...” jawab Karin
            “Syukurlah... kakak panggil dokter, ya!” kata Kenzi, bergegas berdiri. Namun, Karin mencegahnya.
            “Jangan! Sebentar lagi... a... aku tidak kuat... aku pasti akan meninggalkan kalian semua... pesanku, tolong.. rawat.. anggrek bulan itu, ya!” pesan Karin lirih terbata-bata.
            “Tidak boleh! Kamu pasti sembuh! Kamu harus melihat bunga itu bermekaran dengan indah dihalaman kita.” bantah Kenzi.
            “Ti... tidak mu... mungkin, kak! Pe... penyakitku i... ini langka! Aku ga kuat nahan sakit..ti... tidak mu... mungkin dapat disembuhkan. Walau pun nantinya... aku sudah tidak bersama kakak lagi... aku akan selalu ada, di samping kakak, di hati kalian semua.” jawab Karin.
            “Tidak boleh... kamu bisa sembuh! Kamu harus hidup..Kita akan liat anggrek yang kita tanam bersama mekar dan kamu memetiknya.” kata Kenzi dengan isak tertahan.
            “Hal – hal indah yang kita lewati bersama akan jadi kenangan, semuanya akan selalu diingat. Aku selalu bahagia bersama kakak. Kakak selalu sayang aku. Hingga kita merawat anggrek bulan itu.Tapi, kalau aku ga ada nanti. Mungkin, kakak harus merawatnya seorang diri. Janji ya kak, anggrek bulan itu akan selalu dijaga dan dirawat kakak sampai kapanpun.” Pinta Karin seakan menahan sakit dalam tubuhnya.
            “Kakak  janji, Kariin... Kakak janji...” isak Kenzi.
            Kenzi segera memanggil bibik untuk menitip menjaga Karin sebentar. Kenzi segera keluar dari rumah sakit. Ia menaiki sepedanya dan menuju taman, namun, anggrek disana mulai layu semua. Di rumah pun anggrek bulan belum mekar. Kenzi sudah tampak putus asa. Ia mencari ke toko bunga, tidak ada anggrek bulan satu pun. Bagaimana ini?
            Kenzi pun pasrah. Saat Kenzi melewati sebuah rumah besar. Di halaman rumah itu, terdapat banyak sekali pohon dan bunga. Salah satunya adalah anggrek bulan! Kenzi berhenti didepan pagar rumah itu. Tapi, Kenzi masih bingung bagaimana cara memasuki halaman rumah itu untuk meminta bunga itu.
            “Ada perlu apa ya?” tanya suara anak perempuan. Rupanya, dia adalah pemilik rumah itu.
            “Eh, ng... anu... bolehkah aku minta beberapa tangkai anggrek bulan untuk adikku? Adikku sangat menyukai anggrek bulan. Aku mencarinya dimana – mana, namun, tidak ada anggrek bulan yang mekar. Aku sudah putus asa. Adikku sedang sakit keras, aku ingin membahagiakan dia sebelum semuanya terlambat.” cerita Kenzi, sendu.
            Anak perempuan itu terkejut. “Masuklah! Oya, namaku Bunga, siapa namamu?” tanya anak itu.
            “eem... namaku... Kenzi.” jawab Kenzi.
            “Kau boleh mengambil anggrek bulan semaumu!” kata Bunga.
            “Terimakasih, Bunga.” jawab Kenzi. Kenzi pun mengambil tiga tangkai anggrek bulan.
            “Dulu, aku juga punya adik. Namun, kini adikku sudah tiada. Adikku sangat senang dengan bunga, salah satunya adalah bunga mawar. Sama sepertimu, sebelum ia meninggal, aku ingin membahagiakannya dengan memberikan bunga itu. Namun, saat itu halaman rumahku ini belum tumbuh bunga. Sehingga, aku belum sempat memberinya.” cerita Bunga.
            “Ka... kalau bo... boleh tahu... adikmu sakit apa?” tanya Kenzi.
            “Tifus. Pola makannya tidak teratur.” jawab Bunga.
            “Ooh...aku turut simpati, baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih banyak untuk anggreknya ya, Bunga!” kata Kenzi.
            “Iya... semoga kau dapat membahagiakan adikmu! Dan semoga adikmu sembuh.Jawabnya.
            Kenzi segera mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah sakit. Ia berlari menuju kamar Karin.
            “Bibik... bagaimana dengan...” ucapan Kenzi terpotong.
            “Dia telah pergi...” tangis bibik.
            “Tidak mungkin! Bibik bohong kan?” tanya Kenzi, tak percaya.
            “Sayangnya, semuanya benar, nak!” jawab ayah.
            Sambil beruraian air mata, Kenzi mendekati Karin. Ia memegang tangan Karin yang dingin itu dengan lembut. Lalu, Kenzi meletakkan anggrek bulan itu di tangan Karin.
            Karin, anggrek bulanku ini terlambat untukmu, pasti kau melihatnya kan... semoga kamu istirahat dengan tenang dan tersenyum bahagia di sana. Kakak janji, akan merawat tanaman anggrek bulan itu hingga tumbuh subur. Kakak juga berjanji, akan membawakan anggrek bulan itu ke makam-mu nantinya. Maafkan kakak ya, Rin! Kakak belum sempat membahagiakanmu.    
Hari itu, keluarga Kenzi menangis karena kehilangan Karin yang lucu, lincah, dan menggemaskan. Kenzi jadi kesepian. Ia tidak memiliki teman bermain lagi di rumah. Kenzi pun  merawat tanaman dihalaman sendiri.
            Suatu sore... anggrek bulan itu sudah mekar.
            “Wah! Anggrek bulannya sudah mekar! Bibik! Kenzi mau ke makam Karin dulu, ya!” kata Kenzi, tak sabar.
            Kenzi lalu memetik beberapa tangkai anggrek bulan itu lalu dengan cepat mengayuh sepedanya menuju pemakaman umum. Di mana, Karin beristirahat dengan tenang disana.

            “Dek, ini anggrek bulan yang kakak janjikan untukmu! Memang jadi yang terakhir karena kamu tak kan melihatnya, semoga kamu tersenyum disana!” ucap Kenzi, pelan. Lalu ia menaruh anggrek bulan itu di batu nisan sang adik. Lalu Kenzi membaca do’a sebentar untuk adiknya. Dan pergi meninggalkan pemakaman. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar