Pagi ini ketika aku memasuki
kelas. Ku dapati kelas sangat gaduh. Karena pernasaran, seusai menaruh tas, aku
pun menghampiri teman – temanku.
“Aku lahir pada tanggal 9 September tahun 1999 pada pukul 9 lewat
9 menit. September adalah bulan kesembilan. Jadi, jika diurutkan dengan angka,
9 – 9– 1999. Kelahiranku dipenuhi dengan angka 9. Karena itu, aku suka angka 9.
Angka 9 adalah angka hoki. Angka yang sangat bagus.” Ujar Ivone bangga.
“Wow! Aku berharap, adikku lahir besok pukul 1 siang. Sebab, besok
tanggal 10 November 2012. Dan jam 1 siang itu sama saja dengan pukul 13.00 kan?
November adalah bulan kesebelas. Jadi pasti sangat keren, 10 – 11 – 12 dan
pukul 13. Berurutan kan?” kata Fay.
“Aku kepengen deeh ada yang nembak aku besok! Pasti keren...”
Theresia tak mau kal;ah.
“Huu...” sorak semuanya yang hadir.
“Aku kan cuma bercanda... hehehe...” jawab Theresia.
“Eh, ada Sheza... kapan datangnya, Za?” tanya Syafa.
“Hehehe... baru... dari tadi kalian ngomongin apaan sih? Kepo
dong! Hehehe...” jawabku.
“JB aja say...” jawab Syafa. *JB = Join Bareng
“Iya nih... dari tadi kita lagi ngomongin tanggal – tanggal bagus,
kayak besok. Besokkan tanggal 10 November 2012.” jawab Theresia.
“By the way... kamu kapan ultahnya sih? Kepo dong! Hehehe...”
tanya Fay.
“Mau banget yaak?” jawabku, jahil.
“Please...” pinta teman – teman.
“Mau banget atau mau aja?” tanyaku, jahil.
“ATAU!!!” jawab teman – teman serempak. Lalu kami tertawa bersama.
“Ulang tahunku tanggal 13 April.” Jawabku, akhirnya membuka
rahasia.
“Iih... angka sial... 13-kan angka sial... terus, April itu bulan
keempat, empat juga angka sial.” Ceplos Ivone yang memang kurang bersahabat
denganku. Namun, tak seorang pun mempedulikannya.
“Hari lahirmu, hari apa, Za?” tanya Theresia, tanpa mempedulikan
Ivone.
“Hari jumat... kan aku lahir tahun 2001.” Jawabku.
“Cius? Mi apah? Kayaknya kamu emang ditakdirkan sial deh! Hari
jumat kan hari sial! Kiamat aja menurut kitab datangnya hari jumat. Aku pernah
baca di majalah, penggabungan hari sial dengan angka sial sangat berbahaya.”
Ejek Ivone.
“Hush! Ivone... kalau ngomong tuh dijaga! Emangnya, angka 9 yang
kamu banggakan itu bagus?” bela Syafa.
“Lagipula... ngapain sih percaya dengan hal – hal mistik kayak
gitu?” tambah Fay. Ivone diam saja. Sedangkan aku hanya menunduk malu.
“Teman – teman... turun ke lapangan!” perintah Azkha, ketua kelas
di kelas kamu. Aku sampai lupa kalau hari itu hari senin dan aku kan anggota
paskibra! Aku tentu akan tampil ketika upacara di sekolah setiap senin. Aku pun
bergegas turun. Untung saja aku tidak terlambat dan segera menuju barisan.
Ketika tiba giliran paskibra tampil. Aku masih terus saja memikirkan ucapan
Ivone tadi sehingga aku tidak mendengar aba – aba untuk maju. Aku baru sadar
beberapa detik kemudian. Bahkan, salah satu gerakanku ada yang salah.
Akibatnya, aku dihukum dan disuruh posma 2 seri. *1 seri = 10, 2 seri = 20
Begitu juga ketika olahraga. Ketika sedang bermain basket. Aku
berdiri sambil diam saja karena terus memikirkan ucapan Ivone tadi pagi.
“Sheza awas!!!” seru teman – teman. Namun terlambat, kepalaku
terkena bola basket dan aku pun terjatuh. Aku ditertawakan teman – temannya.
Malunya lagi, aku ditertawakan anak – anak kelas 8 yang kebetulan sedang
olahraga juga.
Selanjutnya,
ketika pelajaran matematika, aku dihukum karena kembali bengong dan tidak
berkonsentrasi dalam pelajaran. Ketika pelajaran IPA, aku mendapat nilai jelek.
Karena terus mendapat kesialan bertubi – tubi, sepulang sekolah, aku duduk lesu
di kusi sofa.
“Sheza... kok
pulang gak bilang assalamualaikum? Tegur bunda, kaget melihat kehadiranku di
kursi sofa.
“Maaf bund...”
jawabku, lesu.
“Kamu sakit?”
tanya bunda, khawatir. Aku menggeleng lemah.
“Kamu ada
masalah ya?” terka bunda. Aku terdiam.
“Kalau ada
masalah, sebaiknya dibicarakan dengan bunda. Siapa tahu, bunda bisa membantu.”
Bunda mengingatkan.
“Hh... begini
bund, tadi, teman – teman lagi ngomongin tanggal keren. Misalnya, 9 September
1999... terus, 10 November besok. September tuh bulan kesembilan. Jadi, kalau
diurutin 9 – 9 – 99. Terus besok, bulan November tuh bulan kesebelas, kalau
diurutin jadi 10 – 11 – 12. Kan keren.” Jelasku, sedih.
“Lha, terus,
apa masalahnya sayang?” tanya bunda.
“Teman – teman
tanya, kapan aku lahir. Aku jawab, hari Jumat, tanggal 13 April tahun 200.
Lalu, kata Ivone, angka 13 dan angka 4 itu angka sial. Dia juga bilang hari
jumat itu hari sial. Katanya, aku ditakdirkan bernasib sial sejak lahir.”
Terangku.
“Sheza...
semua angka dan semua hari itu baik. Tidak ada yangj sial.” Nasihat bunda.
“Tapi, bund.
Buktinya tadi Sheza sial seharian...” bantah Sheza, tidak percaya dengan ucapan
bunda.
“Itu hanya
kebetulan... mungkin kamu ceroboh atau sedang tidak konsentrasi. Karena itu
kamu membuat kesialanmu sendiri. Kamu hanya tersugesti dari kata – kata Ivone.
Coba kamu berpikiran kalau kamu akan selalu beruntung, kamu berkonsentrasi dan
tidak ceroboh, lain lagi ceritanya.” Jelas bunda.
“Jadi
sebenarnya, tidak ada yang namanya hari atau angka sial ya bunda? Itu hanya
akibat dari sugesti dan karena kelalaian orang itu sendiri.” Tanyaku.
“Ya.” Jawab
bunda, sambil mengangguk.
“Baiklah
bunda, aku mengerti. Terimakasih bunda. Sekarang, aku ingin ganti baju dan
makan siang dulu, ya!” ujarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar