Sabtu, 04 Oktober 2014

Makanya Jangan Curang

   “Juara kelas semester ini adalah... Mifta...” kata bu guru saat memberitahukan nilai ulangan semester kemarin.

   Plok! Plok! Plok!
   Semua anak berpandangan heran, maklum, Mifta terkenal malas, sombong, dan manja. Namun teman – temanku dan aku tetap bertepuk tangan untuknya. Tapi tetap saja tidak ada yang memberinya ucapan selamat, karena teman – teman merasa jengkel dengannya. Kecuali aku.
   “Selamat ya, Mif!” kataku.
   “Sudah selayaknya aku mendapatkan gelar juara 1 di kelas 6 ini. Aku tahu aku bisa mengalahkanmu. Aku tahu aku lebih layak mendapatkannya daripada kau.” kata Mifta, sombong.
   Aku hanya terdiam. Bagiku, tak masalah aku mendapatkan ranking berapa, yang penting aku sudah berusaha keras dan nilaiku bukan hasil contekan alias hasil murniku. Tapi, bagi dua sahabatku, Hellen dan Danita. Itu sangat aneh dan janggal.
   “Ini aneh sekali! Masa, Master of Math kita bisa kalah sih?” kata Hellen saat bermain di rumahku.
   “Biasa aja kali... Di atas langit masih ada langit.” jawabku, santai.
   “TAPI INI SUNGGUH JANGGAL!” kata Hellen dan Danita, serius.
   “Masa sih Mifta yang terkenal selalu ranking bawah bisa menduduki posisi teratas?” tanya Danita.
   “Mm... mungkin kebetulan...” jawabku.
   “TIDAK MUNGKIN SUCI...”
   “Kau ini begitu baik, ya!” kata Hellen geleng–geleng kepala. “Jika yang mendapat ranking dari yang ranking 3 besar atau pun ranking 5 besar sih kami bakal percaya.”
   “Hmm... gini aja. Aku dan Hellen akan membuktikan sesuatu supaya kamu percaya.” kata Danita, diikuti anggukan Hellen.
   “Oke, oke... Aku setuju.” kataku.
   “Ya, aku melihat Mifta menunduk seperti melihat sesuatu. Lalu kembali menulis.” ujar Kiki. Kiki duduk tepat di belakang Mifta duduk.
   Hellen mencatatnya pada note kecil seolah dia adalah polisi yang mengintrogasi. Hehehe...
   “Mifta tak mengizinkan kami melihat atau membereskan loker mejanya bila seninnya ada ulangan.” kata Tian, seksi kebersihan di kelas.
   “Aku pernah melihat selembar kertas jawaban melayang dari loker mejanya. Saat aku mengambil, melihatnya sejenak, dan hendak mengembalikannya ke loker meja Mifta, tiba – tiba Mifta datang dengan kagetnya dan segera mengambil kertas itu dengan kasar. Lalu, dia justru marah padaku.” cerita Revi.
   “Ini sudah pasti! Sudah jelas Mifta melihat lembar jawaban saat mengisi jawaban ulangan!” kata Hellen, tajam.
   “Hmm... kita harus menghentikan tindakannya ini sebelum terlambat.” ujar Danita.
   “Tapi, gimana caranya?” tanya Hellen, bingung.
   “Aku ada ide...” jawabku, yang sedari tadi diam.
   Kami mempersiapkan rencana dengan rinci, teliti, dan hati – hati. Kami tidak ingin ada kesalahan sedikit pun saat melakukan siasat ini.
Tak terasa, hari berganti bulan dengan cepatnya. Kini, sudahlah bulan Desember!
 “Anak – anak, persiapkan diri kalian, senin besok kalian sudah UKK. Jaga kondisi badan kalian, ya! Bagi yang mendapat nilai kurang, perbaiki dan tingkatkan terus, sedangkan yang sudah mendapat nilai baik, pertahankan dan tingkatkan lagi.” kata bu guru, di depan kelas.
   “Pasti, bu!” gumam Mifta, sambil tersenyum licik.
   “Jangan terlalu yakin... apa pun bisa terjadi.” jawab Hellen, sinis.
   “Apa maksudmu itu?” tanya Mifta, tajam.
   “Tak apa...” jawab Hellen.
   Bu guru lalu menulis materi ulangan yang akan diujikan besok beserta jadwalnya.
   Hari ini hari Jum’at, berarti ini hari terakhir masuk sekolah menuju UKK. Sepulang sekolah, setelah kelas sepi, Hellen berjalan mengendap – endap memasuki kelas.
   Hellen dengan cepat dan cekatan menuju bangku Mifta. Hellen mengeluarkan isi loker meja Mifta, yang ternyata isinya banyak lembar jawaban untuk ulangan. Lalu Helen mengambilnya dan menukarnya dengan lembar jawaban yang sudah kami persiapkan dari kemarin.
   “Berhasil teman – teman!” bisik Hellen, senang.
   “Aku heran, dari mana Mifta mendapatkan lembar jawaban, ya?” tanyaku, heran.
   “Menurutmu dari siapa?” Hellen balik bertanya. Membuatku semakin bingung.
   “Kita tinggal menunggu hingga senin besok dan seterusnya. Apa yang akan terjadi.” kata Danita.
   Kami bertiga cekikikan menahan tawa.
   Hari Jum’at hingga hari Minggu aku, Hellen, dan Danita serius belajar. Kami ingin membuktikan pada Mifta bahwa cara belajar kami akan mengalahkan caranya.
   Hari Senin pun tiba. Aku, Hellen, dan Danita berharap cemas dengan rencana kami itu.
   Teet! Teet! Teet! Bel masuk berbunyi. Anak – anak berhamburan memasuki kelas. Di sekolahku, bila hari itu ada ujian, kami tidak upacara. Seusai membaca do’a dan memberi salam, bu guru memasuki kelas.
   Pelajaran pertama adalah MTK. Aku, Hellen, Danita, Kiki, Revi, dan Tian sesekali memperhatikan Mifta. Tanpa curiga dan tanpa merasa diperhatikan, Mifta menengok ke bawah laci meja dan menulis jawabannya di lembar jawabannya.
   Hellen bahkan diam – diam memfoto kejadian tersebut menggunakan handphone yang ia bawa dan ia sembunyikan dalam kaos kakinya. Makhlumlah disekolah kami, siswa tidak diperkenankan membawa handphone. Jadi demi untuk misi terselubung kami, dengan penuh resiko Helen membawanya...hihihi...
   90 menit kemudian...
   “Waktu telah habis! Silakan kumpulkan!” perintah bu guru.
   Dengan santai Mifta memberikan jawabannya ke bu guru. Ku lewati meja Mifta, ku lihat tak ada sedikit pun goresan di kertasnya karena coret – coretan saat mengerjakan soal Matematika.
   Hari – hari terus berlalu, seperti hari Senin yang lalu, Mifta selalu mencontek lembar jawaban.      
Suatu hari, bu guru mengumumkan murid – murid yang remedial.
   “Anak – anak, perhatikan! Untuk yang remedial pelajaran PKN ada 5 orang yaitu, Mifta, Okto, Guntur, Feby, dan Fahat. Untuk IPS ada 2 orang, yaitu Mifta dan Feby. Untuk IPA dan Budi Pekerti hanya ada seorang yaitu Mifta. MTK ada 6 orang yaitu, Mifta, Okto, Guntur, Feby, Riki, dan Rifqi. Untuk sisanya tidak ada. Hanya saja untuk pelajaran yang lain Mifta mendapatkan nilai 6. Mifta menduduki posisi terakhir. Yang mendapat juara 1 adalah Suci. Juara 2 Hellen, juara 3 Danita, juara 4 Tian, dan juara 5 Revi.” kata bu guru.
   Mifta hanya tertunduk sedih, malu, dan heran. Kok bisa ya lembar jawaban itu sepenuhnya salah? Batinnya.
   Saat jam istirahat, Mifta keluar dari kelas dengan hati – hati sambil menengok ke arah kiri dan kanan. Aku dan Hellen tak sengaja melihatnya. Aku, Hellen, dan Danita pun mengendap – endap mengikutinya dari belakang.
   Rupanya Mifta ke belakang sekolah, ia bertemu penjaga sekolah! Hellen lalu merekam kejadian yang terjadi lewat handphonenya.
   “Aduuh... bapak ini bagaimana, sih?” keluh Mifta.
   “Ada apa, neng?” tanya penjaga sekolah tersebut.
   “Semua lembar jawaban yang bapak berikan salah semua!” kata Mifta.
   “Hah?! Benarkah? Kok bisa? Mengapa begitu?” tanya penjaga sekolah itu, bingung.
   “Gak tahu lah gimana. Bapak ini bagaimana sih! Kan sudah Mifta bilang lihat dan ambil jawaban yang benar dong!” kata Mifta, marah.
   “Maaf... maaf neng... maafkan bapak ya, neng... Bapak akan mencari tahu apa yang terjadi.” kata bapak itu.
   Mifta tersenyum licik. “Sekarang, bapak boleh kembali bekerja!”
   Aku, Hellen dan Danita tidak tinggal diam. Kami menceritakan kejadian itu pada bu guru dengan bukti – bukti yang ada. Tentu saja karena ada banyak bukti dan saksi mata, bu guru langsung percaya pada kami.
   “Mifta, bu guru ingin berbicara denganmu! Temui ibu di kantor sesudah pulang sekolah.” kata bu guru, pada Mifta.
   “I... iya bu...” jawab Mifta, gugup dan kaget. Ada apa ini? Tanyanya dalam hati, bingung.
   Sepulang sekolah, aku, Hellen, Danita, Revi, Tian, dan Kiki tidak langsung pulang, kami mengintip kejadian apa yang terjadi di kantor lewat jendela kantor yang terbuka.
   Terlihat dengan jelas bahwa bu guru memarahi Mifta, Mifta hanya menunduk sedih dan malu. Terlihat pula butiran air mata di matanya. Sedangkan, pak kepala sekolah memarahi penjaga sekolah itu. Penjaga sekolah itu pun lalu dikeluarkan dari sekolah.
   Bu guru memberikan sedikit lagi nasihat untuk Mifta dan Mifta diperbolehkan beliau untuk pulang.
   Saat Mifta keluar dari kantor guru, kami semua serempak berucap, “MAKANYA JANGAN CURANG!!!”
   Mifta semakin malu dan kita tertawa cekikikan.
   “Lihat, orang yang curang pasti dapat ganjarannya!” kata Hellen.
   “Terbukti kan, perasaan janggal aku dan Hellen benar.” kata Danita.

   “Aah... ya sudah lah... yang penting dia sudah sadar dan misi kita berhasil!!!” pekikku senang. “Horeeee... kita berhasil...” pekik kami, girang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar