“Juara
kelas semester ini adalah... Mifta...”
kata bu guru saat memberitahukan nilai ulangan semester kemarin.
Plok!
Plok! Plok!
Semua
anak berpandangan heran, maklum, Mifta terkenal malas, sombong, dan manja.
Namun teman – temanku dan aku tetap bertepuk tangan untuknya. Tapi tetap saja
tidak ada yang memberinya ucapan selamat, karena teman – teman merasa jengkel
dengannya. Kecuali aku.
“Selamat
ya, Mif!” kataku.
“Sudah
selayaknya aku mendapatkan gelar juara 1 di kelas 6 ini. Aku tahu aku bisa
mengalahkanmu. Aku tahu aku lebih layak mendapatkannya daripada kau.” kata
Mifta, sombong.
Aku
hanya terdiam. Bagiku, tak masalah aku mendapatkan ranking berapa, yang penting
aku sudah berusaha keras dan nilaiku bukan hasil contekan alias hasil murniku. Tapi, bagi
dua sahabatku, Hellen dan Danita. Itu sangat aneh dan janggal.
“Ini
aneh sekali! Masa, Master of Math
kita bisa kalah sih?” kata Hellen saat bermain di rumahku.
“Biasa
aja kali... Di atas
langit masih ada langit.” jawabku, santai.
“TAPI
INI SUNGGUH JANGGAL!” kata Hellen dan Danita, serius.
“Masa
sih Mifta yang terkenal selalu ranking bawah bisa menduduki posisi teratas?”
tanya Danita.
“Mm...
mungkin kebetulan...” jawabku.
“TIDAK
MUNGKIN SUCI...”
“Kau
ini begitu baik, ya!” kata Hellen geleng–geleng kepala. “Jika yang mendapat ranking dari yang ranking 3 besar
atau pun ranking 5 besar sih kami bakal percaya.”
“Hmm...
gini aja. Aku dan Hellen akan membuktikan sesuatu supaya kamu percaya.” kata
Danita, diikuti anggukan Hellen.
“Oke,
oke... Aku setuju.” kataku.
“Ya,
aku melihat Mifta menunduk seperti melihat sesuatu. Lalu kembali menulis.” ujar
Kiki. Kiki duduk tepat di belakang Mifta duduk.
Hellen
mencatatnya pada note kecil seolah dia
adalah polisi yang mengintrogasi. Hehehe...
“Mifta
tak mengizinkan kami melihat atau membereskan loker mejanya bila seninnya ada
ulangan.” kata Tian, seksi kebersihan di kelas.
“Aku
pernah melihat selembar kertas jawaban melayang dari loker mejanya. Saat aku
mengambil, melihatnya sejenak, dan hendak mengembalikannya ke loker meja Mifta,
tiba – tiba Mifta datang dengan kagetnya dan segera mengambil kertas itu dengan
kasar. Lalu, dia justru marah padaku.” cerita Revi.
“Ini
sudah pasti! Sudah jelas Mifta melihat lembar jawaban saat mengisi jawaban
ulangan!” kata Hellen, tajam.
“Hmm...
kita harus menghentikan tindakannya ini sebelum terlambat.” ujar Danita.
“Tapi,
gimana caranya?” tanya Hellen, bingung.
“Aku
ada ide...” jawabku, yang sedari tadi diam.
Kami
mempersiapkan rencana dengan rinci, teliti, dan hati – hati. Kami tidak ingin
ada kesalahan sedikit pun saat melakukan siasat ini.
Tak terasa,
hari berganti bulan dengan cepatnya. Kini, sudahlah bulan Desember!
“Anak – anak,
persiapkan diri kalian, senin besok kalian sudah UKK. Jaga kondisi badan kalian,
ya! Bagi yang mendapat nilai kurang, perbaiki dan tingkatkan terus, sedangkan
yang sudah mendapat nilai baik, pertahankan dan tingkatkan lagi.” kata bu guru,
di depan kelas.
“Pasti,
bu!” gumam Mifta, sambil tersenyum licik.
“Jangan
terlalu yakin... apa pun bisa terjadi.” jawab Hellen, sinis.
“Apa
maksudmu itu?” tanya Mifta, tajam.
“Tak
apa...” jawab Hellen.
Bu
guru lalu menulis materi ulangan yang akan diujikan besok beserta jadwalnya.
Hari
ini hari Jum’at, berarti ini hari terakhir masuk sekolah menuju UKK. Sepulang
sekolah, setelah kelas sepi, Hellen berjalan mengendap – endap memasuki kelas.
Hellen
dengan cepat dan cekatan menuju bangku Mifta. Hellen mengeluarkan isi loker
meja Mifta, yang ternyata isinya banyak
lembar jawaban untuk ulangan. Lalu Helen mengambilnya dan
menukarnya dengan lembar jawaban yang sudah kami persiapkan dari kemarin.
“Berhasil
teman – teman!” bisik Hellen, senang.
“Aku
heran, dari mana Mifta mendapatkan lembar jawaban, ya?” tanyaku, heran.
“Menurutmu
dari siapa?” Hellen balik bertanya. Membuatku semakin bingung.
“Kita
tinggal menunggu hingga senin besok dan seterusnya. Apa yang akan terjadi.”
kata Danita.
Kami
bertiga cekikikan menahan tawa.
Hari
Jum’at hingga hari Minggu aku, Hellen, dan Danita serius belajar. Kami ingin
membuktikan pada Mifta bahwa cara belajar
kami akan mengalahkan caranya.
Hari
Senin pun tiba. Aku, Hellen, dan Danita berharap cemas dengan rencana kami itu.
Teet!
Teet! Teet! Bel masuk berbunyi. Anak – anak berhamburan memasuki kelas. Di
sekolahku, bila hari itu ada ujian, kami
tidak upacara. Seusai membaca do’a dan memberi
salam, bu guru memasuki kelas.
Pelajaran
pertama adalah MTK. Aku, Hellen, Danita, Kiki, Revi, dan Tian sesekali memperhatikan Mifta.
Tanpa curiga dan tanpa merasa diperhatikan, Mifta menengok ke bawah laci meja
dan menulis jawabannya di lembar jawabannya.
Hellen
bahkan diam – diam memfoto kejadian tersebut menggunakan handphone yang ia bawa dan ia sembunyikan dalam kaos kakinya. Makhlumlah disekolah kami, siswa tidak diperkenankan
membawa handphone. Jadi demi untuk misi terselubung kami, dengan penuh resiko
Helen membawanya...hihihi...
90
menit kemudian...
“Waktu
telah habis! Silakan kumpulkan!” perintah bu guru.
Dengan
santai Mifta memberikan jawabannya ke bu guru. Ku lewati meja Mifta, ku lihat
tak ada sedikit pun goresan di kertasnya karena coret – coretan saat
mengerjakan soal Matematika.
Hari
– hari terus berlalu, seperti hari Senin yang lalu, Mifta selalu mencontek lembar jawaban.
Suatu hari, bu guru mengumumkan murid –
murid yang remedial.
“Anak
– anak, perhatikan! Untuk yang remedial
pelajaran PKN ada 5 orang yaitu, Mifta, Okto, Guntur, Feby, dan Fahat. Untuk
IPS ada 2 orang, yaitu Mifta dan Feby. Untuk IPA dan Budi Pekerti hanya ada
seorang yaitu Mifta. MTK ada 6 orang yaitu, Mifta, Okto, Guntur, Feby, Riki, dan Rifqi. Untuk sisanya
tidak ada. Hanya saja untuk pelajaran yang lain Mifta mendapatkan nilai 6.
Mifta menduduki posisi terakhir. Yang mendapat juara 1 adalah Suci. Juara 2
Hellen, juara 3 Danita, juara 4 Tian, dan juara 5 Revi.” kata bu guru.
Mifta
hanya tertunduk sedih, malu, dan heran. Kok bisa ya lembar jawaban itu
sepenuhnya salah? Batinnya.
Saat
jam istirahat, Mifta keluar dari kelas dengan hati – hati sambil menengok ke
arah kiri dan kanan. Aku dan Hellen tak sengaja melihatnya. Aku, Hellen, dan Danita pun mengendap –
endap mengikutinya dari belakang.
Rupanya
Mifta ke belakang sekolah, ia bertemu penjaga sekolah! Hellen lalu merekam
kejadian yang terjadi lewat handphonenya.
“Aduuh...
bapak ini bagaimana, sih?” keluh Mifta.
“Ada
apa, neng?” tanya penjaga sekolah tersebut.
“Semua
lembar jawaban yang bapak berikan salah semua!” kata Mifta.
“Hah?!
Benarkah? Kok bisa? Mengapa begitu?” tanya penjaga sekolah itu, bingung.
“Gak
tahu lah gimana. Bapak ini bagaimana sih! Kan sudah Mifta bilang lihat dan
ambil jawaban yang benar dong!” kata Mifta, marah.
“Maaf...
maaf neng... maafkan bapak ya, neng... Bapak akan mencari tahu apa yang
terjadi.” kata bapak itu.
Mifta
tersenyum licik. “Sekarang, bapak boleh kembali bekerja!”
Aku,
Hellen dan Danita tidak tinggal diam.
Kami menceritakan kejadian itu pada bu guru dengan bukti – bukti yang ada.
Tentu saja karena ada banyak bukti
dan saksi mata, bu guru langsung percaya pada kami.
“Mifta,
bu guru ingin berbicara denganmu! Temui ibu di kantor sesudah pulang sekolah.”
kata bu guru, pada Mifta.
“I...
iya bu...” jawab Mifta, gugup dan kaget. Ada apa ini? Tanyanya dalam hati,
bingung.
Sepulang
sekolah, aku, Hellen, Danita, Revi, Tian, dan Kiki tidak langsung pulang, kami
mengintip kejadian apa yang terjadi di kantor lewat jendela kantor yang
terbuka.
Terlihat
dengan jelas bahwa bu guru memarahi Mifta, Mifta hanya menunduk sedih dan malu.
Terlihat pula butiran air mata di matanya. Sedangkan, pak kepala sekolah
memarahi penjaga sekolah itu. Penjaga sekolah itu pun lalu dikeluarkan dari sekolah.
Bu
guru memberikan sedikit lagi nasihat untuk Mifta dan Mifta diperbolehkan beliau
untuk pulang.
Saat
Mifta keluar dari kantor guru, kami semua serempak berucap, “MAKANYA JANGAN CURANG!!!”
Mifta
semakin malu dan kita tertawa cekikikan.
“Lihat,
orang yang curang pasti dapat ganjarannya!” kata Hellen.
“Terbukti kan, perasaan janggal
aku dan Hellen benar.” kata Danita.
“Aah...
ya sudah lah... yang penting dia sudah sadar dan misi kita berhasil!!!” pekikku
senang. “Horeeee... kita berhasil...” pekik kami, girang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar