Windri sekarang sudah duduk di
kelas 7 SMP. Windri yang baru saja beranjak dewasa mulai mengagumi sosok kakak
kelas cowok di sekolahnya. Kakak kelas itu bernama Dicky. Dicky duduk di kelas
8.9, tepat di bawah kelas Windri, kelas 7.9. Sebenarnya, Windri tidak sengaja
menyukai dan mengetahui Dicky, karena kelas mereka berdekatan, Windri suka
tidak sengaja memperhatikan Dicky dari balkon depan kelasnya.
Bahkan, ketika upacara pun, Windri selalu memperhatikan Dicky yang
barisan kelasnya berdiri tepat di samping barisan kelas 7.9. Setiap istirahat,
Windri selalu memperhatikan Dicky dari atas balkon. Bahkan, dia suka tertawa
dan senyum – senyum sendiri melihat tingkah Dicky. Tak jarang ia meloncat dan
berteriak – teriak kegirangan karenanya.
“Wind, kenapa sih? Kamu sakit ya?” tanya Melia, sahabat sekaligus
teman sebangku Windri.
“Ah, eh, enggak...” jawab Windri, tanpa mengalihkan perhatiannya
dari Dicky.
Melia melihat ke arah mata Windri menuju.
“Aku tahu... pasti kamu suka yaa sama kak Dicky?” terka Melia.
Windri jadi salting
dibuatnya, “Ah, eh, enggak kok... enggak...” salting = salah tingkah.
“Alaah... jujur aja...” goda Melia.
“Enggak kok, swear!”
wajah Windri memerah karena malu.
“Iya apa? Ah masa? Entar bo’ong lagi...” tambah Melia.
“Lagian... kenapa harus kak Dicky sih? Kan kelas 8 yang di bawah banyak... bisa aja
aku merhatiin anak kelas 8.8 atau 8.7...” bantah Windri.
“Cielaah yang marah...” goda Melia.
“Enggak kok! Aku gak marah...” jelas Windri.
“Tapi bener deh! Diantara anak kelas 8 yang lain, kak Dicky yang
auranya paling keluar.” Terang Melia, ikut mengamati.
“Maksudnya Mel?” tanya Windri, tak mengerti.
“Yaa... gini nih... coba kamu perhatikan kak Dicky dengan yang
lain. Tetap aja beda, kak Dicky tuh kayak spesial. Auranya memancar, mau dengan
siapa pun, dia pasti yang diperhatikan. Bahkan, misalkan dia lagi jalan sama
ketua OSIS atau anak OSIS yang tenar, pasti tetap dia yang diperhatikan. Udah
gitu, orangnya asyik, baik, friendly,
alim, dan pintar lagi, siapa yang tidak kagum?” terang Melia.
“Kok kamu tahu segalanya tentang kak Dicky, Mel?” tanya Windri,
heran.
“Hehehe... kebetulan saja... rumah kak Dicky dan rumahku cukup
dekat, apalagi, kak Dicky sahabat sekaligus teman main kakakku.” Jawab Melia.
Windri tersenyum. Dia yakin sekali bahwa kak Dicky adalah orang yang tepat,
yang memang pantas untuk dikagumi dan diidolakan.
Beberapa minggu ini, Windri mendengar kabar burung, bahwa kak
Dicky menyukai seseorang. Siapakah orang yang beruntung itu? Siapapun dia,
Windri sangat penasaran. Yang jelas sih, pasti bukan aku. Batin Windri,
mendesir.
“Wind, kamu sudah tahu belum siapa yang disukain sama kak Dicky?”
tanya Melia.
“Siapa Mel?” tanya Windri. Tanpa menjawab pertanyaan Windri, Melia
segera menarik tangan Windri ke depan balkon.
“Namanya kak Citra, dia anak 8.7. Kak Citra memang cantik siih,
banyak yang suka dan kagum sama dia, jangankan yang sebaya, kakak kelas dan
adik kelas pun segan dengannya. Maklumlaah kalau kak Dicky suka sama dia. Kak
Citra anak OSIS dan ikut ekskul paduan suara. Kak Dicky sama kak Citra pernah
sekelas waktu kelas 7. Dan mereka juga satu ekskul. Sebenarnya siih mereka
cocok yaa! Tapi sayangnya, kak Citra gak suka sama kak Dicky. Aneh yaa? Jelas –
jelas dia sangat beruntung.” Jelas Melia, panjang lebar. Windri diam saja
sambil terus memperhatikan kak Citra. Walau Windri sedikit merasa iri dan
sedih, dia bisa menutupinya dengan baik sehingga Melia tidak mengetahuinya.
Sepulang sekolah... Windri melempar tubuhnya di atas kasur
berukuran single. Enaknya jadi kak Citra... bisa dikagumi oleh kak Dicky dan
disukai banyak orang. Gak heran sih... dia anak OSIS... anak OSIS sudah pasti famous di sekolah. Andai aja aku bisa
jadi kayak kak Citra... Hmm... mungkin memang bisa! Dan aku tahu bagaimana
caranya! Pikir Windri sambil menjentikkan jari. Windri segera mencari Facebook dan Twitter kak Citra. Tak sulit, karena kak Citra anak OSIS, tentu
banyak yang meng-add dan men-follow dia. Lalu setelah itu, Windri
segera mencari foto close up kak
Citra di album fotonya di Facebook,
setelah itu, dia men-save foto itu. Dan memasukkan foto kak Citra ke flashdisk dan bergegas pergi ke warnet.
Hmm... kira – kira... apa yaa yang akan dilakukan Windri ya?
“Waah... Windri... sekarang kamu... kamu beda banget deeh!” puji
seorang teman sekelasnya.
“Iya... sekarang kamu lebih peduli terhadap penampilan dan lebih
dewasa...” tambah yang lain.
“Hehehe... iya, makasih.” Jawab Windri, santai.
Semua anak di sekolah dan di kelas selalu memperhatikan Windri.
Windri dalam sekejap menjadi trending
topic dan menjadi pusat perhatian. Seolah – olah dia adalah artis! Seolah –
olah dia famous, gitu..! Bahkan ketua OSIS saja pun kalah
famousnya dengan dia yang sekarang! Sekarang, rambut Windri tidak lagi panjang
seperti dulu, namun juga tidak pendek, dia tidak lagi mengenakan kacamata, dia
memakai soft lens berwarna cokelat,
tampilan rambutnya bak Barbie dan Princess ala negeri dongeng. Tas yang ia
kenakan adalah tas jeans, dia juga memakai gelang yang girlie. Dan kalaupun ke sekolah menggunakan jaket jeans yang keren.
“Mel, menurutmu... bagaimana penampilanku sekarang ini?” tanya
Windri kepada Melia suatu ketika.
“Hmm... maaf sebelumnya, ini menurutku yaa... sebenarnya... kamu
cantik, hanya saja... penampilanmu terlalu dewasa dan over. Aku lebih suka kamu yang dulu yang cute, girlie, sederhana,
dan tampil sesuai usia.” Tutur Melia, jujur.
Melia adalah sahabat yang baik, dia tidak mau berbohong demi
kebaikan sahabatnya, namun, dia juga berusaha supaya tidak menyinggung
sahabatnya. Windri menunduk dan terdiam. Melia menatap wajah Windri, “Windri...
ada apa? Maafkan aku jika aku salah berbicara...” Windri menggeleng, “tidak,
kau benar. Aku yang salah.”
Melia tak mengerti, “Maksudnya?”
“Aku terlalu ingin menjadi seperti kak Citra, disegani, dikagumi,
dikenal, dan dipuji banyak orang. Kak Citra selalu cling..dan menjadi pusat perhatian semua orang. Aku ingin menjadi
seperti dia...” terang Windri.
“Ooh... begitu... alangkah baiknya jika kau menjadi dirimu
sendiri, Wind. Semua orang menginginkan kamu yang dulu, bukan yang seperti kak
Citra. Kak Citra ya kak Citra, kamu ya kamu. Kalian berbeda, kalian memiliki
ciri khas tersendiri. Coba lihat orang kembar, walau kembar, mereka memiliki
sesuatu yang berbeda. Artis – artis tenar seperti One Direction pun sukses
karena menjadi diri sendiri, bukan karena mengikuti gaya orang lain. Jadilah motivator bukan plagiator. Kamu kan bisa menunjukkan bakatmu kepada teman – teman,
guru – guru, dan orang banyak, jadilah trendseter
bukan follower. Misalnya, kamu pandai
membuat cerita, kamu kirim saja cerita – ceritamu itu ke penerbit, lalu jika
kau pandai bernyanyi, ikut saja audisi penyanyi. Apapun bisa kau lakukan supaya
menjadi terkenal dan dikagumi banyak orang. Jika kau gagal, janganlah menyerah,
setidaknya, kau sudah berusaha kan?” Terang Melia, panjang sekali dan sok
tua, hehehe....
“Entahlah Mel... Aku tak memiliki bakat dalam menulis, apalagi
bernyanyi, lalu, apa yang harus ku lakukan?” tanya Windri, sedih.
“Hmm... ada cara lain! Yaitu berperilaku baik dan ramah kepada
setiap orang, tapi bukan berarti caper
dan SKSD, lho!” jawab Melia, sambil
berpikir dan mengernyitkan dahi. Caper =
cari perhatian dan SKSD = Sok Kenal Sok Deket.
“Jadi... gimana maksudnya?” tanya Windri, tak mengerti.
“Kamu ikut ekskul apa?” tanya Melia, tanpa menjawab pertanyaan
dari Windri.
“Ng... bulu tangkis...” jawab Windri.
“Nah, selain kamu bisa berprestasi dibidang itu kamu harus ramah
dan baik dengan teman – teman satu ekskul-mu itu... Kalau perlu, kamu ikut
membantu dan kenal dengan mereka semua.” jawab Melia.
“Ooh, baiklah. Aku mengerti. Terimakasih ya, Mel!” jawab Windri.
Melia hanya mengangguk sambil tersenyum. Mulai sejak itu, Windri
kembali seperti semula dan menjadi gadis yang biasa saja, namun, dia dikenal
banyak orang karena baik, ramah, dan suka menolong sesama. Asik kan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar