Sabtu, 04 Oktober 2014

Be Yourself

   Windri sekarang sudah duduk di kelas 7 SMP. Windri yang baru saja beranjak dewasa mulai mengagumi sosok kakak kelas cowok di sekolahnya. Kakak kelas itu bernama Dicky. Dicky duduk di kelas 8.9, tepat di bawah kelas Windri, kelas 7.9. Sebenarnya, Windri tidak sengaja menyukai dan mengetahui Dicky, karena kelas mereka berdekatan, Windri suka tidak sengaja memperhatikan Dicky dari balkon depan kelasnya.

   Bahkan, ketika upacara pun, Windri selalu memperhatikan Dicky yang barisan kelasnya berdiri tepat di samping barisan kelas 7.9. Setiap istirahat, Windri selalu memperhatikan Dicky dari atas balkon. Bahkan, dia suka tertawa dan senyum – senyum sendiri melihat tingkah Dicky. Tak jarang ia meloncat dan berteriak – teriak kegirangan karenanya.
   “Wind, kenapa sih? Kamu sakit ya?” tanya Melia, sahabat sekaligus teman sebangku Windri.
   “Ah, eh, enggak...” jawab Windri, tanpa mengalihkan perhatiannya dari Dicky.
   Melia melihat ke arah mata Windri menuju.
   “Aku tahu... pasti kamu suka yaa sama kak Dicky?” terka Melia.
   Windri jadi salting dibuatnya, “Ah, eh, enggak kok... enggak...” salting = salah tingkah.
   “Alaah... jujur aja...” goda Melia.
   “Enggak kok, swear!” wajah Windri memerah karena malu.
   “Iya apa? Ah masa? Entar bo’ong lagi...” tambah Melia.
   “Lagian... kenapa harus kak Dicky sih?  Kan kelas 8 yang di bawah banyak... bisa aja aku merhatiin anak kelas 8.8 atau 8.7...” bantah Windri.
   “Cielaah yang marah...” goda Melia.
   “Enggak kok! Aku gak marah...” jelas Windri.
   “Tapi bener deh! Diantara anak kelas 8 yang lain, kak Dicky yang auranya paling keluar.” Terang Melia, ikut mengamati.
   “Maksudnya Mel?” tanya Windri, tak mengerti.
   “Yaa... gini nih... coba kamu perhatikan kak Dicky dengan yang lain. Tetap aja beda, kak Dicky tuh kayak spesial. Auranya memancar, mau dengan siapa pun, dia pasti yang diperhatikan. Bahkan, misalkan dia lagi jalan sama ketua OSIS atau anak OSIS yang tenar, pasti tetap dia yang diperhatikan. Udah gitu, orangnya asyik, baik, friendly, alim, dan pintar lagi, siapa yang tidak kagum?” terang Melia.
   “Kok kamu tahu segalanya tentang kak Dicky, Mel?” tanya Windri, heran.
   “Hehehe... kebetulan saja... rumah kak Dicky dan rumahku cukup dekat, apalagi, kak Dicky sahabat sekaligus teman main kakakku.” Jawab Melia. Windri tersenyum. Dia yakin sekali bahwa kak Dicky adalah orang yang tepat, yang memang pantas untuk dikagumi dan diidolakan.
   Beberapa minggu ini, Windri mendengar kabar burung, bahwa kak Dicky menyukai seseorang. Siapakah orang yang beruntung itu? Siapapun dia, Windri sangat penasaran. Yang jelas sih, pasti bukan aku. Batin Windri, mendesir.
   “Wind, kamu sudah tahu belum siapa yang disukain sama kak Dicky?” tanya Melia.
   “Siapa Mel?” tanya Windri. Tanpa menjawab pertanyaan Windri, Melia segera menarik tangan Windri ke depan balkon.
   “Namanya kak Citra, dia anak 8.7. Kak Citra memang cantik siih, banyak yang suka dan kagum sama dia, jangankan yang sebaya, kakak kelas dan adik kelas pun segan dengannya. Maklumlaah kalau kak Dicky suka sama dia. Kak Citra anak OSIS dan ikut ekskul paduan suara. Kak Dicky sama kak Citra pernah sekelas waktu kelas 7. Dan mereka juga satu ekskul. Sebenarnya siih mereka cocok yaa! Tapi sayangnya, kak Citra gak suka sama kak Dicky. Aneh yaa? Jelas – jelas dia sangat beruntung.” Jelas Melia, panjang lebar. Windri diam saja sambil terus memperhatikan kak Citra. Walau Windri sedikit merasa iri dan sedih, dia bisa menutupinya dengan baik sehingga Melia tidak mengetahuinya.
   Sepulang sekolah... Windri melempar tubuhnya di atas kasur berukuran single. Enaknya jadi kak Citra... bisa dikagumi oleh kak Dicky dan disukai banyak orang. Gak heran sih... dia anak OSIS... anak OSIS sudah pasti famous di sekolah. Andai aja aku bisa jadi kayak kak Citra... Hmm... mungkin memang bisa! Dan aku tahu bagaimana caranya! Pikir Windri sambil menjentikkan jari. Windri segera mencari Facebook dan Twitter kak Citra. Tak sulit, karena kak Citra anak OSIS, tentu banyak yang meng-add dan men-follow dia. Lalu setelah itu, Windri segera mencari foto close up kak Citra di album fotonya di Facebook, setelah itu, dia men-save foto itu. Dan memasukkan foto kak Citra ke flashdisk dan bergegas pergi ke warnet. Hmm... kira – kira... apa yaa yang akan dilakukan Windri ya?
   “Waah... Windri... sekarang kamu... kamu beda banget deeh!” puji seorang teman sekelasnya.
   “Iya... sekarang kamu lebih peduli terhadap penampilan dan lebih dewasa...” tambah yang lain.
   “Hehehe... iya, makasih.” Jawab Windri, santai.
   Semua anak di sekolah dan di kelas selalu memperhatikan Windri. Windri dalam sekejap menjadi trending topic dan menjadi pusat perhatian. Seolah – olah dia adalah artis! Seolah – olah dia famous, gitu..! Bahkan ketua OSIS saja pun kalah famousnya dengan dia yang sekarang! Sekarang, rambut Windri tidak lagi panjang seperti dulu, namun juga tidak pendek, dia tidak lagi mengenakan kacamata, dia memakai soft lens berwarna cokelat, tampilan rambutnya bak Barbie dan Princess ala negeri dongeng. Tas yang ia kenakan adalah tas jeans, dia juga memakai gelang yang girlie. Dan kalaupun ke sekolah menggunakan jaket jeans yang keren.
   “Mel, menurutmu... bagaimana penampilanku sekarang ini?” tanya Windri kepada Melia suatu ketika.
   “Hmm... maaf sebelumnya, ini menurutku yaa... sebenarnya... kamu cantik, hanya saja... penampilanmu terlalu dewasa dan over. Aku lebih suka kamu yang dulu yang cute, girlie, sederhana, dan tampil sesuai usia.” Tutur Melia, jujur.
   Melia adalah sahabat yang baik, dia tidak mau berbohong demi kebaikan sahabatnya, namun, dia juga berusaha supaya tidak menyinggung sahabatnya. Windri menunduk dan terdiam. Melia menatap wajah Windri, “Windri... ada apa? Maafkan aku jika aku salah berbicara...” Windri menggeleng, “tidak, kau benar. Aku yang salah.”
   Melia tak mengerti, “Maksudnya?”
   “Aku terlalu ingin menjadi seperti kak Citra, disegani, dikagumi, dikenal, dan dipuji banyak orang. Kak Citra selalu cling..dan menjadi pusat perhatian semua orang. Aku ingin menjadi seperti dia...” terang Windri.
   “Ooh... begitu... alangkah baiknya jika kau menjadi dirimu sendiri, Wind. Semua orang menginginkan kamu yang dulu, bukan yang seperti kak Citra. Kak Citra ya kak Citra, kamu ya kamu. Kalian berbeda, kalian memiliki ciri khas tersendiri. Coba lihat orang kembar, walau kembar, mereka memiliki sesuatu yang berbeda. Artis – artis tenar seperti One Direction pun sukses karena menjadi diri sendiri, bukan karena mengikuti gaya orang lain. Jadilah motivator bukan plagiator. Kamu kan bisa menunjukkan bakatmu kepada teman – teman, guru – guru, dan orang banyak, jadilah trendseter bukan follower. Misalnya, kamu pandai membuat cerita, kamu kirim saja cerita – ceritamu itu ke penerbit, lalu jika kau pandai bernyanyi, ikut saja audisi penyanyi. Apapun bisa kau lakukan supaya menjadi terkenal dan dikagumi banyak orang. Jika kau gagal, janganlah menyerah, setidaknya, kau sudah berusaha kan?” Terang Melia, panjang sekali dan sok tua,  hehehe....
   “Entahlah Mel... Aku tak memiliki bakat dalam menulis, apalagi bernyanyi, lalu, apa yang harus ku lakukan?” tanya Windri, sedih.
   “Hmm... ada cara lain! Yaitu berperilaku baik dan ramah kepada setiap orang, tapi bukan berarti caper dan SKSD, lho!” jawab Melia, sambil berpikir dan mengernyitkan dahi. Caper = cari perhatian dan SKSD = Sok Kenal Sok Deket.
   “Jadi... gimana maksudnya?” tanya Windri, tak mengerti.
   “Kamu ikut ekskul apa?” tanya Melia, tanpa menjawab pertanyaan dari Windri.
   “Ng... bulu tangkis...” jawab Windri.
   “Nah, selain kamu bisa berprestasi dibidang itu kamu harus ramah dan baik dengan teman – teman satu ekskul-mu itu... Kalau perlu, kamu ikut membantu dan kenal dengan mereka semua.” jawab Melia.
   “Ooh, baiklah. Aku mengerti. Terimakasih ya, Mel!” jawab Windri.

   Melia hanya mengangguk sambil tersenyum. Mulai sejak itu, Windri kembali seperti semula dan menjadi gadis yang biasa saja, namun, dia dikenal banyak orang karena baik, ramah, dan suka menolong sesama. Asik kan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar