Minggu, 05 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 13

  “Eh ya, Ki... ibu mendaftarkanmu ke dalam perlombaan pencak silat antar desa, lho!” jelas bu Yurika.

   “Oh ya bu? Terimakasih bu... kapan perlombaannya dilaksanakan?” tanya Yuki.
   “Sebulan lagi, nak. Persiapkan dirimu baik – baik, ya!” jelas bu Yurika.
   “Baik, bu! Sepulang dari sini nanti, Yuki akan segera berlatih untuk turnamen itu.” Jawab Yuki sambil mengangguk dengan penuh semangat.
   “Mau minum teh, Ki?” tawar bu Yurika.
   “Boleh!” jawab Yuki sambil mengangguk.
   “Kalau begitu, tunggu sebentar.” Jawab bu Yurika sambil bergegas ke dapur untuk membuatkan Yuki secangkir teh manis hangat. Yuki pun segera meminum teh tersebut hingga habis. Bu Yurika hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Yuki.
   Setelah bercakap – cakap dengan bu Yurika sebentar, Yuki pun memutuskan untuk segera pulang kembali ke rumah. Yuki mengayuh sepedanya dengan santai, namun kencang. Di perjalanan pulang, Yuki harus melewati turunan yang cukup curam, biasanya jika mengunjungi bu Yurika, Yuki memang melewati jalan itu.
   Namun, ketika Yuki hendak menekan rem, ternyata rem-nya tak berfungsi dengan baik. Yuki pun meluncur dengan kecepatan penuh dan Yuki pun terpental cukup jauh dari sepedanya dengan posisi tangan kanan tertindih badannya. Yuki tak sanggup berdiri karena kedua kakinya terluka.
   Dia hanya bisa merintih menahan sakit. Kedua kaki dan tangan kanannya terasa lemas. Lalu, seorang ibu yang kebetulan melewati jalan setapak itu menemukan Yuki yang terbaring lemah dan tak berdaya. Tentu saja ibu itu kaget dan cemas, takut terjadi apa – apa dengan Yuki. Ibu itu segera mencari satpam dan meminta tolong satpam untuk menuntun sepeda Yuki, sementara ibu itu membawa Yuki ke rumahnya untuk pertolongan pertama.
   Kaki Yuki diobati, namun sepertinya tangan kanan Yuki mengalami patah tulang. Akhirnya, ibu itu mengantarkan Yuki ke rumah sakit untuk segera menerima perawatan intensif. Lalu, ibu itu menghubungi keluarga Yuki segera setelah Yuki memberitahukan nomor telepon keluarganya. Tentu saja keluarga Yuki kaget dan segera tiba di rumah sakit.
   “Yuki... kau tak apa nak?” tanya ibu yang khawatir melihat keadaan Yuki.
   “Aku tak apa, bu...” jawab Yuki sambil tetap berusaha tersenyum.
   “Yang tabah ya, nak...” ujar ibu sambil mencium kening Yuki.
   “Iya bu...” jawab Yuki. Lalu ibu berpaling kepada ibu yang menolong dan mengantar Yuki ke rumah sakit.
   “Makasih banyak ya, bu... semoga ibu dilancarkan rezekinya...” doa ibu.
   “Amin... sama – sama...” jawab ibu itu. “Saya izin pulang ya, bu. Saya masih banyak keperluan dan pekerjaan yang harus diselesaikan.”
   “Oh, tentu saja. Terimakasih ya bu...” jawab ibu banyak – banyak berterimakasih kepada ibu itu.
   “Sama – sama. Assalamualaikum...” jawab ibu itu.
   “Walaikumsalam...” jawab keluarga Yuki.
   “Nak, kau harus bersyukur, masih ada yang menolongmu... coba kalau tidak ada ibu itu, apa jadinya kamu?” jelas ibu.
   “Hehehe...” tawa Yuki. “Kak Sandy dan ayah mana, bu?” tanya Yuki.
   “Kak Sandy sedang mengambil sepedamu, ayah masih mengurus kedai.” Jawab ibu.
   Tak berselang lama, dokter bersama kak Sandy datang. Dokter memerika Yuki dan meminta Yuki untuk mau dirongent. Dan menurut diagnosa dokter, Yuki mengalami patah tulang dan harus dirawat sekitar seminggu, namun, Yuki tetap harus memakai gips selama kurang lebih sebulan.
   “Apa?! Sebulan?! Tidak bisa... bulan depan ada turnamen bela diri pencak silat antar desa dan aku harus ikut!” Yuki tersentak kaget.
   “Kalau begitu, kau tidak perlu mengikuti turnamen itu...” jawab dokter, santai.
   “Tidak mungkin dok... Bu Yurika sudah mendaftarkanku untuk mengikuti turnamen itu.” Jelas Yuki.
   “Kalau begitu, semoga saja kau sudah sembuh ketika itu, ya!” terang ibu, lembut.
   “Baiklah, saya permisi dulu.” Kata dokter.
   “Terimakasih pak...” jawab ibu sambil tersenyum.
   Mau bagaimana pun juga, apa pun yang terjadi, Yuki tidak mau tahu, dia ingin mengikuti turnamen itu! Tekadnya sudah bulat dan tidak mungkin dibantah!
   “Turnamen tingkat desa ya?” tanya kak Sandy. Yuki hanya mengangguk.
   “Hahaha... kakak jadi ingat! Dulu kakak juga seumuran kamu ikut turnamen pencak silat tingkat desa, terus, kakak lolos ke tingkat kota karena mendapat juara satu dan di tingkat kota kakak mendapat juara dua, jadi kakak lanjut ke tingkat provinsi, dan alhamdulillah kakak mendapat juara tiga. Tapi, waktu tingkat nasional kakak kalah siih... Soalnya, lawannya jago – jago.” Terang kak Sandy, bernostalgia. Hihihi...
   “Iya, iya, Yuki tahu... gak perlu menyombongkan diri juga kali...” tukas Yuki.
   “Lho, siapa yang menyombongkan diri? Kakakkan cuma bernostalgia.” Jawab kak Sandy bersunggut – sunggut.
   “Masa?” jawab Yuki.
   Kak Sandy pun memutuskan untuk diam saja dan menutup mulut. Bagi kak Sandy, Yuki akan semakin jahil dan iseng ketika dirinya sedang sakit.
   Keesokkan harinya, bu Yurika datang menjenguk Yuki. Bu Yurika datang membawa sup krim buatannya yang lezat. Yuki pun makan dengan lahapnya.
   “Yuki... kamu kenapa? Baru kemarin rasanya ibu melihatmu sangat gembira. Lekas sembuh yaa!” ujar bu Yurika sambil mencium kening Yuki.
   “Yuki terjatuh dari sepeda, bu. Saat ingin pulang sehabis mengunjungi ibu. Hehehe...” cerita Yuki.
   “Ooh... separah itu kah? Lalu, kenapa hingga masuk rumah sakit?” tanya bu Yurika, heran.
   “Yuki patah tulang ditangan kanannya.” Terang ibu.
   “Ya ampun... semoga saja kau cepat sembuh ya, Ki... ibu jadi turut prihatin mendengarnya...” kata bu Yurika.
   “Semoga saja Yuki bisa mengikuti turnamen yang ibu daftarkan...” jawab Yuki, sendu. Mengingat dirinya yang patah tulang dan mungkin tidak diperkenankan mengikuti turnamen.
   “Harus bisa... bukankah Yuki jagoan kecil ibu yang hebat?” tanya bu Yurika, sambil mengerdipkan sebelah matanya.
   Yuki tersenyum dan mengangguk.
   “Yuki, sebaiknya setelah ini, kamu harus banyak beristirahat dan berhati – hati.” Terang bu Yurika.
   “Iya, bu.” Jawab Yuki sambil mengangguk.
   Tak lama kemudian, bu Yurika pun pamit untuk pulang.
   Keesokkan harinya, Angel, sahabat Yuki di SD menjenguk Yuki dan diwaktu yang bersamaan, Reyna dan Hamra juga menjenguk Yuki.
   “Cepat sembuh ya, supaya kami bisa melihatmu lagi di sekolah...” terang Reyna.
   “Kami merindukanmu, Ki...” jelas Hamra.
   “Lekas sembuh ya, Ki...” tambah Angel.
   “Iya, terimakasih teman – teman. Sering – seringlah luangkan waktu dan datang kemari untuk menemaniku. Sesungguhnya, aku kesepian di sini. Aku kangen dengan celoteh dan canda kalian yang lucu. Hehehe...” jawab Yuki sambil tersenyum. Teman – temannya pun membalas senyum Yuki itu.
   “Eh ya, Ngel... sekarang kamu sekolah di mana?” tanya Yuki, kepada teman SD-nya itu.
   “Di SMP 3, Ki... banyak lho anak alumni kita yang masuk SMP 3... makanya kapan – kapan kalau sudah sembuh main dan kunjungi sekolahku, yaa!” jelas Angel.
   “Iya insya Allah... kapan – kapan kalau ada waktu, ya! Kamu dan teman – teman juga dong sekali – sekali mengunjungi sekolahku. Hehehe...” jawab Yuki.
   “Teman – teman SD yang lain juga kaget begitu mendengar kabar kamu masuk rumah sakit. Sayangnya, mereka sibuk sekali sehingga hanya aku yang bisa datang ke sini untuk menjengukmu.” Terang Angel.
   “Kalau begitu, sampaikan salamku kepada mereka yaa! Bilang juga aku kangen dengan mereka semua dan ingin mereka mengunjungiku dalam waktu singkat ini.” Pinta Yuki.
   “Iya, pastilaah...” jawab Angel. Yuki berpaling pada Reyna dan Hamra.
   “Rey, Ham... ada PR gak?” tanya Yuki.
   “PR sih pasti banyak... sebaiknya kamu bertanya masalah PR nanti saja jika kamu sudah benar – benar pulih dan sudah diizinkan pulang untuk kembali bersekolah.” Jawab Hamra.
   “Kalau tugas praktek?” tanya Yuki, lagi.
   “Ng... minggu depan praktek asam dan basa, Ki. Nanti aku tanyakan deh dengan yang sekelompok denganmu kamu diminta membawa apa saja.” Jawab Reyna.
   “Ooh... Terimakasih, Rey. Kalau ulangan harian?” tanya Yuki.
   “Belum... kan materinya belum selesai semua.” Jawab Hamra.
   “Ooh... kalau begitu, sebaiknya begitu aku masuk nanti, bolehkah aku meminjam buku catatan milikmu, Rey? Aku pasti ketinggalan banyak sekali materi...” jelas Yuki.
   “Oh, tentu saja boleh...” jawab Reyna.
   “Terimakasih, Rey...” jawab Yuki sambil tersenyum.
   “Sama – sama, Ki...” jawab Reyna sambil membalas senyuman Yuki.
   “Kenapa kalian tidak datang bersama bu Helma dan teman – teman yang lain, sih? Aku kan kangen dengan kalian semua?” tanya Yuki.
   “Mereka sibuk, Ki. Ada yang punya acara keluarga, ada yang ekskul, dan sebagainya. Males deeh kalau dengar alasan mereka, udah basi. Hehehe...” jawab Reyna.
   “Ooh, oh iya, tolong berikan surat dokter ini yaa ke bu Helma. Katakan pada beliau insya Allah senin depan aku akan kembali ke sekolah.” Ujar Yuki sambil menyerahkan seamplop surat.
   “Baiklah kalau begitu, kita pamit pulang dulu ya, Ki...” jawab Hamra sembari menerima seamplop surat itu.
   “Kehadiranmu ditunggu kembali di sekolah...” ucap Reyna.
   “Jika kau sudah sembuh nanti, bagaimana jika kita mengadakan reuni SD?” tanya Angel.
   “Iya, insya Allah ya, Ngel. Terimakasih teman – teman... aku rasa hari ini aku benar – benar sudah sedikit lebih baik daripada hari sebelumnya karena kehadiran kalian.” Ujar Yuki, sambil tersenyum. Angel, Reyna, dan Hamra pun membalas senyum Yuki tersebut.
   Setelah itu, Angel, Reyna, dan Hamra pun pamit pulang.
   Hmm... kini aku tersadar, mereka bertiga sebenarnya adalah temanku yang sesungguhnya. Mereka selalu ada ketika aku senang dan sedih. Sakit atau pun kesal. Ah, aku jadi terharu melihat kebaikan mereka. Terimakasih teman – teman atas perhatian kalian yang tulus kepadaku. Aku tidak akan lupa untuk membalas budi kalian. Batin Yuki, sambil tersenyum.
   Seminggu kemudian, Yuki sudah diperbolehkan pulang. Pagi – pagi sekali ayah sudah datang menjemput Yuki. Sementara ibu dan kak Sandy menunggu di rumah. Dan betapa kagetnya Yuki ketika setiba di rumah, ternyata ibu, kak Sandy, bu Yurika, dan beberapa temannya mengadakan kejutan kembalinya Yuki dari rumah sakit dan itu membuat Yuki terharu karena merasa diperhatikan.
   Namun, kesembuhan bukan berarti dia menyia – nyiakan waktu. Ketika dia kembali bersekolah, dia langsung mengikuti ekskul pencak silat. Namun, Yuki tidak diperkenankan untuk mengikuti duel sehingga dia hanya berlatih sendiri dan terkadang ditemani Reyna maupun Hamra.
Yuki segera giat berlatih seperi biasanya. Walau pun terkadang tangan kananya masih terasa sakit, ngilu, dan cenat – cenut, dia mengabaikannya. Jika sakit di tangan kanannya sudah terasa amat sangat perih, barulah ia beristirahat atau hanya berlatih menggunakan tangan kirinya.          
“Yuki... istirahatlah dulu... jangan terlalu memaksakan dirimu... kau belum sepenuhnya pulih...” nasihat ibu.
“Iya bu, terimakasih...” jawab Yuki sambil meminum es teh yang ibu berikan untuknya seperti biasa ketika ia latihan.
“Yuki... kamu tidak harus menang kok dalam turnamen itu...” jelas ibu sambil mengusap rambut Yuki.
“Iya bu, Yuki tahu... setidaknya Yuki sudah berusaha. Yuki rasa, dalam turnamen itu Yuki akan lebih sering menggunakan tangan kiri.” Kata Yuki.
“Kalau begitu, kau harus belajar menggunakan tangan kiri dengan baik.” Ujar kak Sandy yang tiba – tiba saja muncul dari balik pintu.
“Maksudnya?” Yuki tak mengerti.
“Yaa... untuk sementara waktu, kamu harus belajar kidal.” Jawab kak Sandy, santai.
“Bagaimana caranya kak?” tanya Yuki, bingung.
“Gampang! Misalnya, sehari – hari kamu harus menulis menggunakan tangan kiri, pokoknya untuk sementara waktu selama tanganmu masih belum benar – benar sembuh, segala hal yang biasa kamu lakukan dengan tangan kanan sekarang kamu lakukan dengan tangan kiri. Dengan begitu, kamu akan merasa terbiasa dan menguasai tangan kiri nantinya.” Jelas kak Sandy, panjang lebar.
“Ooh... baiklah! Aku mulai mengerti sekarang! Terimakasih kak!” seru Yuki sambil mengangguk. Kak Sandy hanya tersenyum.
Mulai sejak itu, Yuki berusaha untuk selalu menulis menggunakan tangan kiri supaya Yuki lebih menguasai tangan kirinya lebih baik dan supaya dirinya tidak tergantung pada tangan kanannya.
Awalnya, memang sulit bagi Yuki untuk tebiasa menggunakan tangan kiri, namun, lama – lama Yuki mulai terbiasa menggunakan tangan kiri. Bahkan, kini dia sudah sanggup menulis dengan tangan kiri dan hasilnya sama bagus apabila dia menulis menggunakan tangan kanannya. Waah.. Yuki hebat, ya!
Sebulan pun akhirnya terlewati, tibalah hari turnamen yang ia tunggu – tunggu itu. Walau Yuki belum sepenuhnya sembuh, dia tetap bersemangat mengikuti turnamen itu. Yuki tidak menyerah dan tidak pesimis. Walau pun Reyna dan Hamra tidak mengikuti turnamen itu. Reyna dan Hamra datang mendukungnya.
“Hei! Kau dengar? Anak yang bernama Yuki Sifyantika yang sedang patah tulang tangannya memaksa ikut lho!” kata seorang anak.
“Hahaha... benarkah? Paling belum bertanding saja dia sudah K.O.” tawa yang lain.
“Aku bertaruh, dia tidak akan berada di area pertandingan lebih dari 10 menit.” ledek yang lainnya.
“Aku tak setuju, ku rasa 5 menit saja tak akan sanggup ia.” Komentar yang lain.
“Mau apa sih dia? Mencemarkan nama desanya? Dasar tidak tahu malu. Sudah jelas akan kalah masih saja memaksa. Hahaha...” tawa yang lainnya.
Yuki tentu sedih mendengarnya, namun, kak Sandy menghiburnya, “Tak perlu kau dengarkan ucapan mereka, mereka hanyalah orang yang ingin sepertimu tapi mereka tak mampu. Kau tenang saja ya! Kakak yakin kamu bisa, kok!”
Yuki tersenyum, perasaannya kini sedikit lebih lega dibandingkan yang  tadi, “Terimakasih ya, kak!” Kak Sandy hanya membalasnya dengan senyuman.
Walau banyak yang bilang dia tidak mungkin menang dengan kondisi tangannya yang seperti itu, namun dia tetap yakin dan percaya diri. Kemenangan bukan segalanya, yang terpenting adalah sportifitas dan usaha yang maksimal. Tekadnya sudah membara di hatinya! Keluarga, bu Yurika, dan teman - temannya pun mendukungnya dengan berdoa dan memberinya semangat.
Turnamen pun dimulai! Berselang beberapa pertandingan, nama Yuki pun dipanggil. Yuki segera bangkit dari tempat duduknya. Dengan penuh percaya diri dan tanpa merasa ragu, dia segera turun ke arena pertandingan.
“Yuki, berjuanglah! Tunjukkan pada mereka bahwa kau bisa!” gumam Hamra.
Setelah memberi hormat, pertandingan pun dimulai. Ketika Yuki bertanding dan belum menguasai pertandingan, lawannya lah yang menguasai jalannya pertandingan babak pertama. Lawannya mengetahui titik lemah Yuki berada di tangannya sehingga beberapa kali tangan kanan Yuki terkena tendangan bahkan pukulan. Namun, tak mudah bagi Yuki untuk tumbang, dia tetap bertahan. Namun, tetap saja di babak pertama, Yuki kalah karena tak kuasa menahan sakit.
Namun, dia kembali berdiri dan menyerang lawannya dibabak kedua. Bahkan dengan beraninya, dia menyerang menggunakan tangan kanan, padahal tangannya masih terasa sakit. Tapi rasa sakit itu tidak Yuki hiraukan sehingga dibabak kedua, Yuki memenangkan pertandingan.
Dibabak ketiga, lawan Yuki sudah mulai kehabisan tenaga, tidak berkonsentrasi, dan sudah kewalahan melawan Yuki hingga Yuki dengan mudahnya menguasai pertandingan dan Yuki pun berhasil memenangkan pertandingan pertamanya. Yuki pun lolos ke babak selanjutnya. Yuki berhasil membuktikan kepada orang – orang yang meragukannya bahwa dia masih bisa mengharumkan nama desanya walau pun dalam kondisi tak memungkinkan seperti itu.
Sikap Yuki yang pantang menyerah, percaya diri, dan optimis patut kita acungi jempol dan layak kita tiru. Yuki menjadi gadis teladan di desanya, tidak ada yang tidak mengenalnya. Yuki terkenal bukan hanya karena ilmu bela diri pencak silat yang ia kuasai, namun, juga karena sikapnya yang baik yang suka menolong sesama. Bahkan sekarang ini, banyak yang meminta diajarkan pencak silat oleh Yuki dan semakin hari semakin banyak.

   Semoga saja semangat Yuki bisa selalu memotivasi semua orang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar