Malam yang ditunggu – tunggu semuanya
tiba. Semua merayakan pesta dengan suka cita tanpa ada firasat buruk tentang
hal yang akan terjadi dan rencana licik tante Shareen. Di tengah acara, tiba –
tiba, ratu teringat akan anak bungsunya, dia pun berbisik pada kak Alicia,
putri sulungnya.
“Coba
kau lihat keadaan adikmu apakah baik – baik saja. Ajak juga Sandra untuk
melihat adikmu.” perintah ibunda ratu. Kak Alicia yang masih berumur 4 tahun
mengangguk dan segera menarik adiknya yang
masih berumur 2 tahun itu untuk melihat adik bungsunya.
Mereka
berlarian menuju kamar tempat Sandara tertidur.
“Sst...
jangan berisik ya! Adik sedang tidur... pelan – pelan saja! Jangan sampai adik
bangun!” kata kak Alicia pelan pada kak Sandra. Kak Sandra hanya mengangguk.
Mereka
berdua berjalan berjingkat – jingkat supaya tidak terdengar langkahnya mereka
pun menyelinap masuk ke kamar yang indah nan cantik tersebut. Mereka melihat
box bayi yang ada dan oh, betapa kagetnya mereka! Mereka langsung tercengang
panik dan berlarian memanggil – manggil kedua orangtuanya. Bahkan kak Sandra
sudah menangis karena ia sangat
sayang pada adiknya itu, karena dia juga merasa dianggap dewasa bila memiliki
seorang adik. Bahkan, nama Sandara adalah pemberian nama kak Sandra. Walau
awalnya kak Sandra yang cadel memberi nama Candala. Hahaha...
“Ibunda
latu!!! Ibunda latu!!! Cepat tolong adik!!!” tangis kak Sandra tak keruan
sambil menarik – narik gaun ibunda ratu.
“Aduh
sayang... ada apa? Kenapa begitu cemas siih? Ada apa dengan adik?” tanya Ibunda
ratu, walau sedikit cemas, ibunda ratu tetap tersenyum untuk menghilangkan rasa
khawatir anaknya dan agar para warga tidak tahu hal itu.
“ADIK
HILANG BUNDA R-LATU!!!” seru kak Alicia dan kak Sandra berbarengan sembari
menangis di pangkuan Ibunda ratu.
“Apa?
Sandara hilang?!” Ibunda ratu dan Ayahanda raja berbarengan dengan nada cemas.
Mereka berpandangan.
“Sebaiknya
kita segera memeriksakan hal ini!” ujar Ibunda ratu. Dengan tergesa – gesa,
Ibunda ratu segera berlari menuju kamar Sandara untuk memeriksanya. Dan betapa
kagetnya mereka bahwa Sandara benar – benar telah lenyap dari box bayi tempat ia tertidur.
“Ooh...
bagaimana ini? Hancur aku tanpanya...” ujar Ibunda ratu lemas sambil terus
menangis. Kedua putrinya juga turut menangis.
Ayahanda
raja ingin sekali menangis, tapi, beliau berusaha untuk tetap tabah.
“Shareen!!!
Shareen!!!” panggil Ayahanda raja.
“A...
ada apa baginda?” tanya tante Shareen dengan nada khawatir sambil berlari –
lari kecil menghampiri raja. Ini memang bagian dari sandiwaranya.
“Kau
bisa jelaskan ini?” tanya ayahanda raja.
Tante
Shareen berpura – pura menoleh ke box bayi.
“APA?!
Mengapa Tuan putri menghilang?” tanya tante Shareen kaget masih dalam sandiwaranya.
“Entahlah,
apa kau tahu?” tanya ibunda ratu.
“Sayang
sekali, saya tidak tahu apa – apa baginda... maafkan saya... ini adalah akibat
kelalaian saya... Saya minta maaf
yang sebesar – besarnya... saya turut
berduka.” tante Shareen masih berpura – pura.
“Bagaimana
ini Yaah?” tanya Ibunda ratu sambil menangis di pelukan Ayahanda raja.
“Kita
akan mengumumkan hal ini pada seisi warga desa, siapa tahu ada yang mengetahui
suatu hal. Dan kau Shareen, ke mana
saja kau sehingga putri bisa menghilang?” tanya Ayahanda raja penuh curiga dan
kesal.
“Tadi
tiba – tiba saja Jessica menangis, perhatian saya pun jadi tertuju pada
Jessica, baginda... ooh... andai saja saya bisa membantu...” jawab tante
Shareen berbohong. “Saya berani bertanggung jawab.”
“Ooh...
terimakasih kau sungguh...” ibunda ratu
tersenyum dan ingin mengucapkan terimakasih.
Belum
selesai Ibunda ratu berbicara, Ayahanda raja memotong: “Kalau begitu, segera
cari Putri saya, pasti pelakunya belum jauh dari sini.”
Tante
Shareen pun menurut dan segera pergi.
“Nah
nak, mari kita kembali ke acara pesta, pasti para tamu undangan menunggu dan
mencari – cari kita.” kata Ibunda ratu sambil berlalu.
“Dek,
ada yang aneh dengan tante Shareen,
ya?” bisik kak Alicia pada kak Sandra. Kak Sandra hanya mengangguk. Lalu mereka
berlari membuntuti tante Shareen.
Tante
Shareen dengan gerak – geriknya yang mencurigakan bertemu dengan pengawal setia
kerajaan.
“Ini
imbalanmu! Terimakasih sudah mau melakukannya! Dan ingat! Jangan beritahukan
hal ini pada siapa pun atau tidak kau akan mati.” ancam tante Shareen.
“Ba...
baik Tu... Tuan...” jawab pengawal itu. Lalu mereka berpisah.
“Jangan
– jangan...” omongan kak Alicia terputus.
“Tante
Shareen yang melakukan penculikan ini... kita haluc mengadukan hal ini kak!” sambung
kak Sandra.
“Jangan!
Sudahlah. Kita simpan hal ini sebagai barang bukti. Percuma kita adukan, mereka
takkan percaya.” jawab kak Alicia sambil menghadang kak Sandra.
“Pelcuma
ya? Oke deh ini lahasia kita caja.” jawab kak Sandra sambil melingkari jari
kelingking kak Alicia.
“Adik
yang pintar.” puji kak Alicia sembari mengelus rambut kak Sandra.
“Iya
dong! candla gitu...” kak Sandara dengan nada bercanda.
Keesokkan
harinya di sebuah desa yang sangaaat jauh dari kerajaan... tampak sekelompok
ibu – ibu tengah mencuci pakaian di pinggir sungai sambil mengobrol dan
bercanda gurau.
Tiba
– tiba obrolan mereka terhenti karena mereka mendengar suara tangisan bayi dari
balik semak.
“Coba
kau lihat sana bu Siti! Mungkin seorang bayi, dengan begitu, ibu bisa
mendapatkan anak angkat!” usul seorang ibu diikuti anggukan ibu – ibu lainnya.
Ibu yang bernama ibu Siti itu pun segera berdiri dan berjalan pelan menuju asal
suara itu.
Suara
tangisan itu semakin dekat. Bu Siti melihat. Dan yang benar saja, ada keranjang
mungil nan cantik di dalamnya terdapat seorang bayi yang cantik dengan selimut
dan pakaian yang indah.
Bu
Siti segera bersujud syukur karena akhirnya keinginannya untuk memiliki anak
dikabulkan oleh yang maha kuasa. Lalu tiba – tiba, dibalik selimut bayi itu,
terjatuh sepucuk surat.
Bu
Siti pun membacanya.
Untuk: yang menemukan bayi ini
Dari: Pengawal setia putri kerajaan
Assalamualaikum,
bagi yang menemukan bayi ini, saya mohon sebesar – besarnya untuk merawatnya
hingga tumbuh dewasa dan sehat. Jika waktunya sudah dianggap cukup, beritahukan
hal yang sebenarnya mengenai bayi ini.
Bayi
ini adalah Putri Sandara anak bungsu dari Raja dan Ratu kerajaan. Tapi, jangan
anda kembalikan bayi ini sekarang, sebab, bila hal itu terjadi, orang yang
hendak membunuh putri (saya tak dapat menyebutkan namanya) bisa membunuh putri.
Saya sangat menyayangi
putri, saya telah menganggap putri seperti anak saya sendiri saya tak ingin hal
itu terjadi. Karena itu, supaya putri tak
terbunuh, saya membuangnya jauh – jauh.
Sekian dari saya.
Terimakasih.
Minggu
berganti bulan, bulan berganti tahun. Sandara tumbuh menjadi seorang gadis
cantik, baik, dan pintar. Sandara senang membantu bu Siti dalam pekerjaan rumah
tangga. Sandara juga senang merajut. Rajutan buatannya sering ia bagi – bagikan ke anak – anak desa
yang miskin, walau hidupnya sederhana, dia selalu bersyukur. Gaun yang sering
dia buat sangat indah dan cantik. Tak heran bila gaun yang ia punya sangat
cantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar