Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 2

Malam yang ditunggu – tunggu semuanya tiba. Semua merayakan pesta dengan suka cita tanpa ada firasat buruk tentang hal yang akan terjadi dan rencana licik tante Shareen. Di tengah acara, tiba – tiba, ratu teringat akan anak bungsunya, dia pun berbisik pada kak Alicia, putri sulungnya.

   “Coba kau lihat keadaan adikmu apakah baik – baik saja. Ajak juga Sandra untuk melihat adikmu.” perintah ibunda ratu. Kak Alicia yang masih berumur 4 tahun mengangguk dan segera menarik adiknya yang  masih berumur 2 tahun itu untuk melihat adik bungsunya.
   Mereka berlarian menuju kamar tempat Sandara tertidur.
   “Sst... jangan berisik ya! Adik sedang tidur... pelan – pelan saja! Jangan sampai adik bangun!” kata kak Alicia pelan pada kak Sandra. Kak Sandra hanya mengangguk.
   Mereka berdua berjalan berjingkat – jingkat supaya tidak terdengar langkahnya mereka pun menyelinap masuk ke kamar yang indah nan cantik tersebut. Mereka melihat box bayi yang ada dan oh, betapa kagetnya mereka! Mereka langsung tercengang panik dan berlarian memanggil – manggil kedua orangtuanya. Bahkan kak Sandra sudah menangis karena ia sangat sayang pada adiknya itu, karena dia juga merasa dianggap dewasa bila memiliki seorang adik. Bahkan, nama Sandara adalah pemberian nama kak Sandra. Walau awalnya kak Sandra yang cadel memberi nama Candala. Hahaha...
   “Ibunda latu!!! Ibunda latu!!! Cepat tolong adik!!!” tangis kak Sandra tak keruan sambil menarik – narik gaun ibunda ratu.
   “Aduh sayang... ada apa? Kenapa begitu cemas siih? Ada apa dengan adik?” tanya Ibunda ratu, walau sedikit cemas, ibunda ratu tetap tersenyum untuk menghilangkan rasa khawatir anaknya dan agar para warga tidak tahu hal itu.
   “ADIK HILANG BUNDA R-LATU!!!” seru kak Alicia dan kak Sandra berbarengan sembari menangis di pangkuan Ibunda ratu.
   “Apa? Sandara hilang?!” Ibunda ratu dan Ayahanda raja berbarengan dengan nada cemas. Mereka berpandangan.
   “Sebaiknya kita segera memeriksakan hal ini!” ujar Ibunda ratu. Dengan tergesa – gesa, Ibunda ratu segera berlari menuju kamar Sandara untuk memeriksanya. Dan betapa kagetnya mereka bahwa Sandara benar – benar telah lenyap dari box bayi tempat ia tertidur.
   “Ooh... bagaimana ini? Hancur aku tanpanya...” ujar Ibunda ratu lemas sambil terus menangis. Kedua putrinya juga turut menangis.
   Ayahanda raja ingin sekali menangis, tapi, beliau berusaha untuk tetap tabah.
   “Shareen!!! Shareen!!!” panggil Ayahanda raja.
   “A... ada apa baginda?” tanya tante Shareen dengan nada khawatir sambil berlari – lari kecil menghampiri raja. Ini memang bagian dari sandiwaranya.
   “Kau bisa jelaskan ini?” tanya  ayahanda raja.
   Tante Shareen berpura – pura menoleh ke box bayi.
   “APA?! Mengapa Tuan putri menghilang?” tanya tante Shareen kaget masih dalam sandiwaranya.
   “Entahlah, apa kau tahu?” tanya ibunda ratu.
   “Sayang sekali, saya tidak tahu apa – apa baginda... maafkan saya... ini adalah akibat kelalaian saya... Saya minta maaf yang  sebesar – besarnya... saya turut berduka.” tante Shareen masih berpura – pura.
   “Bagaimana ini Yaah?” tanya Ibunda ratu sambil menangis di pelukan Ayahanda raja.
   “Kita akan mengumumkan hal ini pada seisi warga desa, siapa tahu ada yang mengetahui suatu hal. Dan kau Shareen, ke mana saja kau sehingga putri bisa menghilang?” tanya Ayahanda raja penuh curiga dan kesal.
   “Tadi tiba – tiba saja Jessica menangis, perhatian saya pun jadi tertuju pada Jessica, baginda... ooh... andai saja saya bisa membantu...” jawab tante Shareen berbohong. “Saya berani bertanggung jawab.”
   “Ooh... terimakasih kau sungguh...” ibunda ratu tersenyum dan ingin mengucapkan terimakasih.
   Belum selesai Ibunda ratu berbicara, Ayahanda raja memotong: “Kalau begitu, segera cari Putri saya, pasti pelakunya belum jauh dari sini.”
   Tante Shareen pun menurut dan segera pergi.
   “Nah nak, mari kita kembali ke acara pesta, pasti para tamu undangan menunggu dan mencari – cari kita.” kata Ibunda ratu sambil berlalu.
   “Dek, ada yang aneh dengan tante Shareen, ya?” bisik kak Alicia pada kak Sandra. Kak Sandra hanya mengangguk. Lalu mereka berlari membuntuti tante Shareen.
   Tante Shareen dengan gerak – geriknya yang mencurigakan bertemu dengan pengawal setia kerajaan.
   “Ini imbalanmu! Terimakasih sudah mau melakukannya! Dan ingat! Jangan beritahukan hal ini pada siapa pun atau tidak kau akan mati.” ancam tante Shareen.
   “Ba... baik Tu... Tuan...” jawab pengawal itu. Lalu mereka berpisah.
   “Jangan – jangan...” omongan kak Alicia terputus.
   “Tante Shareen yang melakukan penculikan ini... kita haluc mengadukan hal ini kak!” sambung kak Sandra.
   “Jangan! Sudahlah. Kita simpan hal ini sebagai barang bukti. Percuma kita adukan, mereka takkan percaya.” jawab kak Alicia sambil menghadang kak Sandra.
   “Pelcuma ya? Oke deh ini lahasia kita caja.” jawab kak Sandra sambil melingkari jari kelingking kak Alicia.
   “Adik yang pintar.” puji kak Alicia sembari mengelus rambut kak Sandra.
   “Iya dong! candla gitu...” kak Sandara dengan nada bercanda.
   Keesokkan harinya di sebuah desa yang sangaaat jauh dari kerajaan... tampak sekelompok ibu – ibu tengah mencuci pakaian di pinggir sungai sambil mengobrol dan bercanda gurau.
   Tiba – tiba obrolan mereka terhenti karena mereka mendengar suara tangisan bayi dari balik semak.
   “Coba kau lihat sana bu Siti! Mungkin seorang bayi, dengan begitu, ibu bisa mendapatkan anak angkat!” usul seorang ibu diikuti anggukan ibu – ibu lainnya. Ibu yang bernama ibu Siti itu pun segera berdiri dan berjalan pelan menuju asal suara itu.
   Suara tangisan itu semakin dekat. Bu Siti melihat. Dan yang benar saja, ada keranjang mungil nan cantik di dalamnya terdapat seorang bayi yang cantik dengan selimut dan pakaian yang indah.
   Bu Siti segera bersujud syukur karena akhirnya keinginannya untuk memiliki anak dikabulkan oleh yang maha kuasa. Lalu tiba – tiba, dibalik selimut bayi itu, terjatuh sepucuk surat.
   Bu Siti pun membacanya.

Untuk: yang menemukan bayi ini
Dari: Pengawal setia putri kerajaan

   Assalamualaikum, bagi yang menemukan bayi ini, saya mohon sebesar – besarnya untuk merawatnya hingga tumbuh dewasa dan sehat. Jika waktunya sudah dianggap cukup, beritahukan hal yang sebenarnya mengenai bayi ini.
   Bayi ini adalah Putri Sandara anak bungsu dari Raja dan Ratu kerajaan. Tapi, jangan anda kembalikan bayi ini sekarang, sebab, bila hal itu terjadi, orang yang hendak membunuh putri (saya tak dapat menyebutkan namanya) bisa membunuh putri.
Saya sangat menyayangi putri, saya telah menganggap putri seperti anak saya sendiri saya tak ingin hal itu terjadi. Karena itu, supaya putri tak terbunuh, saya membuangnya jauh – jauh.
Sekian dari saya. Terimakasih.


   Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Sandara tumbuh menjadi seorang gadis cantik, baik, dan pintar. Sandara senang membantu bu Siti dalam pekerjaan rumah tangga. Sandara juga senang merajut. Rajutan buatannya  sering ia bagi – bagikan ke anak – anak desa yang miskin, walau hidupnya sederhana, dia selalu bersyukur. Gaun yang sering dia buat sangat indah dan cantik. Tak heran bila gaun yang ia punya sangat cantik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar