Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 5

   Walau mereka sedih harus berpisah, Sandara dan ibu Siti tetap ceria menjalani aktifitas seperti biasa. Awalnya, ibu Siti melarang Sandara ikut membantu pekerjaannya. Namun Sandara menjawab: “Tak apalah bu saya membantu toh saya juga bagian di dalam keluarga ibu.”

   “Tapi Tuan, Tuan adalah seorang Putri bangsawan, tidak seharusnya mengurusi ternak dan membantu hamba.” ujar ibu Siti.
   “Tak perlu menganggapku seorang putri, panggil saja Sandara. Bukankah ibu adalah orangtuaku juga?” Sandara merendah.
   “Hamba tidak enak Tuan. Hamba hanyalah rakyat jelata.” tolak ibu Siti.
   “Tak masalah, aku mengizinkan ibu secara khusus kok!” Sandara dengan nada santai.
   Hari terakhir mereka bersama mereka lewati dengan suka cita. Mulai dari mengurusi ternak, memandikan kuda, memberi makan kuda, serta mengurusi pekerjaan rumah tangga. Tiada terlihat wajah murung karena harus berpisah diantara mereka. Mereka berpikiran seharusnya perpisahan diakhiri dengan kegembiraan karena mereka diperbolehkan oleh yang Maha Kuasa untuk saling mengenal satu sama lain.
   Seusai membantu ibu Siti, Sandara segera mandi. Seusai mandi, ibu Siti memanggil Sandara dari arah kamar.
   “Tuan!!! Tuan!!! Kemari!!!” panggil ibu Siti.
   Sambil menghampiri ibu Siti, Sandara menyahut: “Ada apa bu?”
   “Sebaiknya kau gunakan kalung ini saat kembali ke Istanamu nanti. Sebagai tanda bukti bahwa kau adalah Sandara yang sebenarnya.” pinta ibu Siti sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna biru tua pada Sandara. Lubang kuncinya terbuat dari emas. Begitu pula dengan kuncinya. Dengan hati – hati Sandara memasukkan kunci ke dalam lubang kunci. Lalu memutarnya perlahan – lahan.
   Lalu Sandara membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung indah berbandul emas dengan tulisan berukiran ‘Sandara’. Talinya terbuat dari seutai pita halus berwarna biru tua. Dengan agak takut, Sandara mengenakan kalung itu di lehernya.
   “Di mana ibu menemukan kalung indah ini?” tanya Sandara.
   “Saat ibu menemukan kau, kau tengah mengenakan kalung indah ini. Akhirnya, ibu pun menyimpannya agar tidak rusak.” cerita ibu Siti singkat. “Jadi kapan kamu akan kembali ke Istanamu?”
   “Entahlah, saya belum memikirkannya.” jawab Sandara singkat. Lalu bergegas ke ruang menenun.
   Paginya... Tok! Tok! Tok!
   “Bangun Tuan! Tuan harus segera mandi! Bukankah Tuan harus kembali ke Istana Tuan?” tanya ibu Siti. Tak ada jawaban dari dalam kamar Sandara. Rupanya, pintu tak terkunci sehingga ibu  Siti bisa dapat masuk. Ibu Siti kaget setengah mati karena Sandara tidak ada di kamarnya. Ibu Siti bergegas mencari di ruangan menun. Dan ibu Siti mendapati Sandara tengah tertidur di atas pasmina cantik yang telah selesai dibuat. Sepertinya Sandara kelelahan karena menyelesaikan pasmina itu dalam semalam.
   “Tuan putri... bangunlah...” ujar ibu Siti sembari menggoncangkan tubuh Sandara.
   Sandara terbangun. “Eh, i... ibu...” jawab Sandara sembari mengucek kedua matanya.
   “Basuhlah matamu! Pasti Tuan tadi malam kelelahan karena menyelesaikan pasmina itu kan?” tanya ibu Siti.
   “Eh, iya bu.” jawab Sandara menurut dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Seusai membasuh muka, Sandara membantu mengurusi rumah tangga seperti biasa. Seusai membantu dan mandi, Sandara bergegas untuk kembali ke Istanannya.
   “Nah, ibu. Mungkin ini adalah hari terakhir ibu bertemu denganku. Aku akan merindukanmu.” ujar Sandara hampir menangis dan segera memeluk ibunya. “Sebagai tanda terimakasih, pasmina yang ku buat tadi malam itu untuk ibu.”
   “Ooh, terimakasih nak. Itu adalah pasmina tercantik yang pernah ibu miliki.” ujar ibu. “Hati – hati di jalan ya nak.” pesan ibu.
   “Iya bu.” jawab Sandara.
   “Jangan lupa tunjukkan buktinya dan hati – hati dengan orang yang belum kamu kenal. Oh ya, kamu harus berpamitan dengan teman – temanmu sebelumnya.” pesan ibu, lagi.
   “Oke bu, Dara pergi ya!” jawab Sandara melambaikan tangan. Ibu membalas lambaian tangan Sandara tadi.
   Sandara segera menunggang kudanya menuju rumah Clara untuk berpamitan karena paling dekat dengan rumahnya. Seusai berpamitan, Sandara segera pergi ke rumah Sally. Setelah berpamitan, Sandara menunggang kudanya menuju istana.
   Di tengah perjalanan, Sandara berhenti di sungai kecil yang bening airnya untuk mencuci wajahnya dan memberi minum Chibi White. Saat tengah berjalan di pinggir sungai, tiba-tiba ia menemunkan seorang pemuda tergeletak lemah d ipinggir sungai dengan tangannya yang terluka parah.
   “Astragfirullah...” ujar Sandara kaget. Sandara segera berjongkok di sebelah pemuda itu dan mengobati luka pemuda tersebut.
   Tak berselang lama, pemuda itu terbangun dan kaget.
   “S... S... Si... Siapa kau?” tanya pemuda itu lantang karena kaget.
   “Oh ya, perkenalkan, namaku Sandara. Panggil saja Dara.” jawab Sandara.
   “Nama saya Adam. Apakah... kau yang mengobati tanganku ini?” tanya pemuda itu yang bernama Adam itu.
Sandara mengangguk.
   “Kalau begitu terimakasih.” kata Adam.
   “Ya, kalau saya boleh tahu... mengapa tanganmu bisa sampai terluka?” tanya Sandara.
   “Tadi saat saya sedang berjalan – jalan di hutan. Tiba – tiba saya di serang oleh seekor beruang. Beruntung saya tidak dimakan karena saya berpura – pura mati.” cerita Adam singat. “Ya sudah, saya berterimakasih sekali dengan pertolonganmu. Saya sudah baikan. Saya permisi dulu.”
   “Apakah benar sudah baikan?” tanya Sandara.
   Adam mengangguk.
   “Kalau begitu tetap hati – hati di hutan sana. Masih banyak yang berbahaya tentunya.” nasihat Sandara.
   “Tenang... aku tahu cara menjaga diri kok!” kata Adam lalu berlalu meninggalkan Sandara.
   Setelah Adam pergi, Sandara kembali melanjutkan perjalanannya menuju Istana. Sesampainya di gerbang Istana.
   “Wow!!! Indah sekali... Hh... aku tak sabar akan bertemu dengan keluargaku di sana. Hh...” Sandara menarik nafas karena gugup dan sedikit takut. Beranikanlah dirimu Sandara, aku adalah Putri dari kerajaan ini. Seharusnya, aku tak perlu takut. Batin Sandara dalam hati. Dengan langkah yang mantap dia mendekati gerbang Istana.
   “Siapa kau?” tanya prajurit Istana yang bertugas menjaga pintu gerbang Istana.
   “Aku Putrimu! Putri Sandara!” jawab Sandara.
   Bukannya membukakan pintu dan mengizinkan Sandara masuk, prajurit tersebut justru tertawa mendengarnya.
   “Hahaha... kau dengar sobat? Putri Sandara? Di sini, hanya terdapat dua orang putri dari sang raja. Sementara dari pihak penasihat, seorang putri. Tak ada yang lain. Hahaha...” tawa prajurit tersebut.
   “Apa kalian tidak tahu tentang sejarah kerajaan ini? Bahwa... ada seorang Putri yang bernama Sandara yang akan menjadi ratu kerajaan ini? Tapi telah menghilang 11 tahun yang lalu. Itulah aku.” tanya Sandara, heran.
   “Ya, kami tahu. Tapi itu pun sudah lama sekali. Tidak mungkin Sandara masih hidup. Hahaha...” tawa prajurit itu.
   “Jadi kesimpulannya, apakah saya boleh masuk?” tanya Sandara.
   “TIDAK!” jawab prajurit itu.
   Sandara tertunduk lesu. Tiba – tiba, dari arah belakang, ada yang merangkulnya.
   “Kalau begitu, dia masuk denganku!” kata suara itu yang ternyata Adam.
   “Adam...” bisik Sandara.
   “B... B... Baik... Tuan Pangeran...” jawab prajurit itu.
   Hah?! Pangeran? Ternyata Adam adalah pangeran dari Kerajaan lain? Tapi, mengapa dia tidak bercerita padaku? Dan... mengapa dia tidak bersama pengawal atau pun sanak keluarganya? Batin Sandara bingung.
   Mereka pun diizinkan masuk.
   “Terimakasih ya, Pangeran Adam.” ujar Sandara.
   “Sama – sama. Tapi, lain kali sebaiknya kau tidak memanggilku pangeran.” jawab Pangeran Adam.
   “Oke kalau begitu. Saya permisi dulu.” ujar Sandara.
   Sandara pun menuju ruang utama untuk bertemu Raja dan Ratu. Saat memasuki ruangan tersebut, dia disambut hangat oleh penasihat kerajaan.
   “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya penasihat kerajaan.
   “Selamat siang, Nyonya. Saya ingin bertemu dengan baginda raja dan baginda ratu.” ujar Sandara.
   “Oh tentu, kau bisa menunggu di ruang tunggu. Apa kau sudah ada janji sebelumnya? Hei... tunggu dulu. Bukankah kau... pemenang sayembara kemarin?” tanya penasihat kerajaan.
   “Belum, saya belum ada janji. Saya memang yang menang sayembara kemarin.” jawab Sandara.
   “Apa yang ingin kau bicarakan dengan baginda raja dan ratu? Oh ya, baginda raja dan ratu sedang dipanggil kemari.” ujar penasihat kerajaan itu.
   “Eh, tidak. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Sepertinya, bila saya mengatakan hal ini anda... tidak akan percaya nyonya.” jawab Sandara.
   Tiba – tiba, baginda raja dan ratu datang.
   “Tinggalkan kami sendiri!” perintah raja.
   “Dengar itu! Tinggalkan...” penasihat kerajaan mengikuti omongan raja kepada para prajurit dan pengawal. Namun di potong oleh raja.
   “Termaksud kau! Shareen!” bentak raja.
   “T... T... Ta... Tapi... s... s... sa... saya... penasihat anda Tuan.” bantah penasihat kerajaan.
   “KELUAR!!!” bentak raja.
   “B... b... ba... baik Tuan. Saya permisi dulu.” jawab penasihat kerajaan pada akhirnya.
   Setelah penasihat kerajaan beserta yang lainnya keluar dari ruangan. Setelah itu, ratu bertanya. “Ada apa nak? kenapa kau datang kemari?”
   “R... R... Ratu... saya ini anakmu...” tangis Sandara.
   Raja dan ratu tercengang. “A... Anak? Kau pasti berbohong! Berikan buktinya!” ratu tak percaya.
   Sandara menunjukkan kalung berbandul emas yang terukir namanya beserta ranjangnya waktu masih bayi beserta pakaian dan selimutnya.
   Ratu semakin tercengang tak percaya. Matanya membelalak kaget.
   “Benar Yah. Dia anak kita!” pekik ratu riang sembari langsung turun dari kursinya dan berlari menuju Sandara dan memeluknya. Mereka semua menangis riang dan terharu. Akhirnya, mereka bertemu kembali setelah cukup lama dipisahkan.
   “Ternyata benar... kau adalah anak bungsuku...” tangis ratu bahagia.
   “Sungguh aku tak menyangka dapat bertemu kembali denganmu... alhamdulillah... kau baik – baik saja dan kita dapat dipertemukan kembali naak...” raja juga ikut menangis.
   Setelah pertemuan yang mengharukan itu selesai, raja dan ratu memanggil kedua putri mereka yang lain yang tak lain adalah kakak Sandara.
   “Nah nak. Kita perkenalkan padamu kakak – kakakmu. Yang putih dan berambut hitam cukup pendek itu adalah kakak sulungmu yang bernama Alicia. Hobinya membaca dan menulis. Lalu kakakmu yang berambut pirang itu namanya kak Sandra. Dulu, dialah orang yang paling sayang dan dekat denganmu. Bahkan namamu adalah nama yang ia ciptakan untukmu. Hobinya menyanyi, menari, memainkan alat musik, dan mendengarkan musik.” jelas raja.
   “Lalu, itu ada sepupumu yang bernama Jessica. Dia adalah anak dari tantemu yang tak lain adalah penasihat kerajaan. Hobinya shopping, berdandan, dan fashion show.” jelas ratu.
    Sandara segera memeluk erat saudara – saudaranya tersebut.
   “Kakak... aku kangen kalian...” ucapnya.
   “Sama dek... selamat datang di rumahmu yang sekarang.” ucap kak Alicia.
   “Ngomong – ngomong... apa hobimu?” tanya Jessica.
   “Hobiku? Menenun, memasak, berkebun, berternak, menunggang kuda, memancing. Dan sepertinya... sebentar lagi saya akan memiliki hobi baru.” jawab Sandara.
   “Hahaha...” semua tertawa.
   “Benarkah gaun yang kau buat saat sayembara itu adalah gaun buatanmu?” tanya kak Sandra.
   “Tentu, aku sering menenun dan menjualnya. Bahkan, sebelum pulang kemari, aku membuat sebuah pasmina untuk ibu angkatku.” jelas Sandara.
   “Wow! Keren! Kalau begitu, kau tak keberatankan bila aku meminta kau membuatkanku sebuah gaun cantik untuk fashion show yang akan diadakan minggu depan?” tanya Jessica.
   “Tentu, aku akan pastikan kau mengenakan gaun terbaik yang ada di kerajaan ini.” jawab Sandara.
   Dari kejauhan, tampak tante Shareen melihat dengan tatapan tidak senang. Dia segera memanggil Jessica.
   Jessica berlari menghampiri ibunya itu.
   “Ada apa bu?” tanya Jessica.
   Tante Shareen segera menjewer telinga Jessica hingga merah.
   “Ibu tidak senang jika kau bermain dengan anak sombong yang bernama Sandara itu!” jelas tante Shareen.
   “Kenapa sih ibu berpikiran seperti itu? Dia tidak begitu bu, dia cantik dan cerdas!” bantah Jessica kesal.
   “Pokoknya ibu tidak setuju jika kamu bermain dengan dia!” jawab tante Shareen.

   Lalu menarik paksa Jessica ke dalam kamar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar