Walau
mereka sedih harus berpisah, Sandara dan ibu Siti tetap ceria menjalani
aktifitas seperti biasa. Awalnya, ibu Siti melarang Sandara ikut membantu
pekerjaannya. Namun Sandara menjawab: “Tak apalah bu saya membantu toh saya
juga bagian di dalam keluarga ibu.”
“Tapi
Tuan, Tuan adalah seorang Putri bangsawan, tidak seharusnya mengurusi ternak
dan membantu hamba.” ujar ibu Siti.
“Tak
perlu menganggapku seorang putri, panggil saja Sandara. Bukankah ibu adalah
orangtuaku juga?” Sandara merendah.
“Hamba
tidak enak Tuan. Hamba hanyalah rakyat jelata.” tolak ibu Siti.
“Tak
masalah, aku mengizinkan ibu secara khusus kok!” Sandara dengan nada santai.
Hari
terakhir mereka bersama mereka lewati dengan suka cita. Mulai dari mengurusi
ternak, memandikan kuda, memberi makan kuda, serta mengurusi pekerjaan rumah
tangga. Tiada terlihat wajah murung karena harus berpisah diantara mereka.
Mereka berpikiran seharusnya perpisahan diakhiri dengan kegembiraan karena
mereka diperbolehkan oleh yang Maha Kuasa untuk saling mengenal satu sama lain.
Seusai
membantu ibu Siti, Sandara segera mandi. Seusai mandi, ibu Siti memanggil
Sandara dari arah kamar.
“Tuan!!! Tuan!!! Kemari!!!”
panggil ibu Siti.
Sambil
menghampiri ibu Siti, Sandara menyahut: “Ada apa bu?”
“Sebaiknya
kau gunakan kalung ini saat kembali ke Istanamu nanti. Sebagai tanda bukti
bahwa kau adalah Sandara yang sebenarnya.” pinta ibu Siti sambil menyodorkan
sebuah kotak berwarna biru tua pada Sandara. Lubang kuncinya terbuat dari emas.
Begitu pula dengan kuncinya. Dengan hati – hati Sandara memasukkan kunci ke
dalam lubang kunci. Lalu memutarnya perlahan – lahan.
Lalu
Sandara membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung indah berbandul emas
dengan tulisan berukiran ‘Sandara’. Talinya terbuat dari seutai pita halus
berwarna biru tua. Dengan agak takut, Sandara mengenakan kalung itu di
lehernya.
“Di mana ibu menemukan
kalung indah ini?” tanya Sandara.
“Saat
ibu menemukan kau, kau tengah mengenakan kalung indah ini. Akhirnya, ibu pun
menyimpannya agar tidak rusak.” cerita ibu Siti singkat. “Jadi kapan kamu akan
kembali ke Istanamu?”
“Entahlah,
saya belum memikirkannya.” jawab Sandara singkat. Lalu bergegas ke ruang
menenun.
Paginya...
Tok! Tok! Tok!
“Bangun
Tuan! Tuan harus segera mandi!
Bukankah Tuan
harus kembali ke Istana Tuan?”
tanya ibu Siti. Tak ada jawaban dari dalam kamar Sandara. Rupanya, pintu tak
terkunci sehingga ibu Siti bisa dapat
masuk. Ibu Siti kaget setengah mati karena Sandara tidak ada di kamarnya. Ibu
Siti bergegas mencari di ruangan menun. Dan ibu Siti mendapati Sandara tengah
tertidur di atas pasmina cantik yang telah selesai dibuat. Sepertinya Sandara kelelahan
karena menyelesaikan pasmina itu dalam semalam.
“Tuan putri... bangunlah...” ujar ibu Siti
sembari menggoncangkan tubuh Sandara.
Sandara
terbangun. “Eh, i... ibu...” jawab Sandara sembari mengucek kedua matanya.
“Basuhlah
matamu! Pasti Tuan
tadi malam kelelahan karena menyelesaikan pasmina itu kan?” tanya ibu Siti.
“Eh,
iya bu.” jawab Sandara menurut dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh
muka. Seusai membasuh muka, Sandara membantu mengurusi rumah tangga seperti
biasa. Seusai membantu dan mandi, Sandara bergegas untuk kembali ke Istanannya.
“Nah,
ibu. Mungkin ini adalah hari terakhir ibu bertemu denganku. Aku akan
merindukanmu.” ujar Sandara hampir menangis dan segera memeluk ibunya. “Sebagai
tanda terimakasih, pasmina yang ku buat tadi malam itu untuk ibu.”
“Ooh,
terimakasih nak. Itu adalah pasmina tercantik yang pernah ibu miliki.” ujar
ibu. “Hati – hati di jalan ya nak.” pesan ibu.
“Iya
bu.” jawab Sandara.
“Jangan
lupa tunjukkan buktinya dan hati – hati dengan orang yang belum kamu kenal. Oh
ya, kamu harus berpamitan dengan teman – temanmu sebelumnya.” pesan ibu, lagi.
“Oke
bu, Dara pergi ya!” jawab Sandara melambaikan tangan. Ibu membalas lambaian
tangan Sandara tadi.
Sandara
segera menunggang kudanya menuju rumah Clara untuk berpamitan karena paling
dekat dengan rumahnya. Seusai berpamitan, Sandara segera pergi ke rumah Sally.
Setelah berpamitan, Sandara menunggang kudanya menuju istana.
Di
tengah perjalanan, Sandara berhenti di sungai kecil yang bening airnya untuk
mencuci wajahnya dan memberi minum Chibi White. Saat tengah berjalan di pinggir
sungai, tiba-tiba ia
menemunkan seorang pemuda tergeletak lemah d ipinggir sungai dengan
tangannya yang terluka parah.
“Astragfirullah...”
ujar Sandara kaget. Sandara segera berjongkok di sebelah pemuda itu dan
mengobati luka pemuda tersebut.
Tak
berselang lama, pemuda itu terbangun dan kaget.
“S...
S... Si... Siapa kau?” tanya pemuda itu lantang karena kaget.
“Oh
ya, perkenalkan, namaku Sandara. Panggil saja Dara.” jawab Sandara.
“Nama
saya Adam. Apakah... kau yang mengobati tanganku ini?” tanya pemuda itu yang
bernama Adam itu.
Sandara mengangguk.
“Kalau
begitu terimakasih.” kata Adam.
“Ya,
kalau saya boleh tahu... mengapa tanganmu bisa sampai terluka?” tanya Sandara.
“Tadi
saat saya sedang berjalan – jalan di hutan. Tiba – tiba saya di serang oleh
seekor beruang. Beruntung saya tidak dimakan karena saya berpura – pura mati.”
cerita Adam singat. “Ya sudah, saya berterimakasih sekali dengan pertolonganmu.
Saya sudah baikan. Saya permisi dulu.”
“Apakah
benar sudah baikan?” tanya Sandara.
Adam
mengangguk.
“Kalau
begitu tetap hati – hati di hutan sana. Masih banyak yang berbahaya tentunya.”
nasihat Sandara.
“Tenang...
aku tahu cara menjaga diri kok!” kata Adam lalu berlalu meninggalkan Sandara.
Setelah
Adam pergi, Sandara kembali melanjutkan perjalanannya menuju Istana.
Sesampainya di gerbang Istana.
“Wow!!!
Indah sekali... Hh... aku tak sabar akan bertemu dengan keluargaku di sana. Hh...” Sandara
menarik nafas karena gugup dan sedikit takut. Beranikanlah dirimu Sandara, aku
adalah Putri dari kerajaan ini. Seharusnya, aku tak perlu takut. Batin Sandara
dalam hati. Dengan langkah yang mantap dia mendekati gerbang Istana.
“Siapa
kau?” tanya prajurit Istana yang bertugas menjaga pintu gerbang Istana.
“Aku
Putrimu! Putri Sandara!” jawab Sandara.
Bukannya
membukakan pintu dan mengizinkan Sandara masuk, prajurit tersebut justru
tertawa mendengarnya.
“Hahaha...
kau dengar sobat? Putri Sandara? Di sini, hanya terdapat dua orang putri
dari sang raja. Sementara dari pihak penasihat, seorang putri. Tak ada yang lain.
Hahaha...” tawa prajurit tersebut.
“Apa
kalian tidak tahu tentang sejarah kerajaan ini? Bahwa... ada seorang Putri yang
bernama Sandara yang akan menjadi
ratu kerajaan ini? Tapi telah menghilang 11 tahun yang lalu. Itulah aku.”
tanya Sandara, heran.
“Ya,
kami tahu. Tapi itu pun sudah lama sekali. Tidak mungkin Sandara masih hidup.
Hahaha...” tawa prajurit itu.
“Jadi
kesimpulannya, apakah saya boleh masuk?” tanya Sandara.
“TIDAK!”
jawab prajurit itu.
Sandara
tertunduk lesu. Tiba – tiba, dari arah belakang, ada yang merangkulnya.
“Kalau
begitu, dia masuk denganku!” kata suara itu yang ternyata Adam.
“Adam...”
bisik Sandara.
“B...
B... Baik... Tuan Pangeran...” jawab prajurit itu.
Hah?!
Pangeran? Ternyata Adam adalah pangeran dari Kerajaan lain? Tapi, mengapa dia
tidak bercerita padaku? Dan... mengapa dia tidak bersama pengawal atau pun
sanak keluarganya? Batin Sandara bingung.
Mereka
pun diizinkan masuk.
“Terimakasih
ya, Pangeran Adam.” ujar Sandara.
“Sama
– sama. Tapi, lain kali sebaiknya kau tidak memanggilku pangeran.” jawab
Pangeran Adam.
“Oke
kalau begitu. Saya permisi dulu.” ujar Sandara.
Sandara
pun menuju ruang utama untuk bertemu Raja dan Ratu. Saat memasuki ruangan
tersebut, dia disambut hangat oleh penasihat kerajaan.
“Selamat
siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya penasihat kerajaan.
“Selamat
siang, Nyonya. Saya ingin bertemu dengan baginda raja dan baginda ratu.” ujar
Sandara.
“Oh
tentu, kau bisa menunggu di ruang tunggu. Apa kau sudah ada janji sebelumnya?
Hei... tunggu dulu. Bukankah kau... pemenang sayembara kemarin?” tanya
penasihat kerajaan.
“Belum,
saya belum ada janji. Saya memang yang menang sayembara kemarin.” jawab
Sandara.
“Apa
yang ingin kau bicarakan dengan baginda raja dan ratu? Oh ya, baginda raja dan
ratu sedang dipanggil kemari.” ujar penasihat kerajaan itu.
“Eh,
tidak. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Sepertinya, bila saya
mengatakan hal ini anda... tidak akan percaya nyonya.” jawab Sandara.
Tiba
– tiba, baginda raja dan ratu datang.
“Tinggalkan
kami sendiri!” perintah raja.
“Dengar
itu! Tinggalkan...” penasihat kerajaan mengikuti omongan raja kepada para prajurit dan pengawal. Namun
di potong oleh raja.
“Termaksud
kau! Shareen!” bentak raja.
“T...
T... Ta... Tapi... s... s... sa... saya... penasihat anda Tuan.” bantah
penasihat kerajaan.
“KELUAR!!!”
bentak raja.
“B...
b... ba... baik Tuan. Saya permisi dulu.” jawab penasihat kerajaan pada
akhirnya.
Setelah
penasihat kerajaan beserta yang lainnya keluar dari ruangan. Setelah itu, ratu
bertanya. “Ada apa nak? kenapa kau datang kemari?”
“R...
R... Ratu... saya ini anakmu...” tangis Sandara.
Raja
dan ratu tercengang. “A... Anak? Kau pasti berbohong! Berikan buktinya!” ratu tak
percaya.
Sandara
menunjukkan kalung berbandul emas yang terukir namanya beserta ranjangnya waktu
masih bayi beserta pakaian dan selimutnya.
Ratu
semakin tercengang tak percaya. Matanya
membelalak kaget.
“Benar
Yah. Dia anak kita!” pekik ratu riang sembari langsung turun dari kursinya dan
berlari menuju Sandara dan memeluknya. Mereka semua menangis riang dan terharu.
Akhirnya, mereka bertemu kembali setelah cukup lama dipisahkan.
“Ternyata
benar... kau adalah anak bungsuku...” tangis ratu bahagia.
“Sungguh
aku tak menyangka dapat bertemu kembali denganmu... alhamdulillah... kau baik –
baik saja dan kita dapat dipertemukan kembali naak...” raja juga ikut menangis.
Setelah
pertemuan yang mengharukan itu selesai, raja dan ratu memanggil kedua putri
mereka yang lain yang tak lain adalah kakak Sandara.
“Nah
nak. Kita perkenalkan padamu kakak – kakakmu. Yang putih dan berambut hitam
cukup pendek itu adalah kakak sulungmu yang bernama Alicia. Hobinya membaca dan
menulis. Lalu kakakmu yang berambut pirang itu namanya kak Sandra. Dulu, dialah
orang yang paling sayang dan dekat denganmu. Bahkan namamu adalah nama yang ia
ciptakan untukmu. Hobinya menyanyi, menari, memainkan alat musik, dan mendengarkan
musik.” jelas raja.
“Lalu,
itu ada sepupumu yang bernama Jessica. Dia adalah anak dari tantemu yang tak
lain adalah penasihat kerajaan. Hobinya shopping, berdandan, dan fashion show.”
jelas ratu.
Sandara segera memeluk erat saudara –
saudaranya tersebut.
“Kakak...
aku kangen kalian...” ucapnya.
“Sama
dek... selamat datang di rumahmu yang sekarang.” ucap kak Alicia.
“Ngomong
– ngomong... apa hobimu?” tanya Jessica.
“Hobiku?
Menenun, memasak, berkebun, berternak, menunggang kuda, memancing. Dan
sepertinya... sebentar lagi saya akan memiliki hobi baru.” jawab Sandara.
“Hahaha...”
semua tertawa.
“Benarkah
gaun yang kau buat saat sayembara itu adalah gaun buatanmu?” tanya kak Sandra.
“Tentu,
aku sering menenun dan menjualnya. Bahkan, sebelum pulang kemari, aku membuat
sebuah pasmina untuk ibu angkatku.” jelas Sandara.
“Wow!
Keren! Kalau begitu, kau tak keberatankan bila aku meminta kau membuatkanku
sebuah gaun cantik untuk fashion show yang akan diadakan minggu depan?” tanya
Jessica.
“Tentu,
aku akan pastikan kau mengenakan gaun terbaik yang ada di kerajaan ini.” jawab
Sandara.
Dari
kejauhan, tampak tante Shareen melihat dengan tatapan tidak senang. Dia segera
memanggil Jessica.
Jessica
berlari menghampiri ibunya itu.
“Ada
apa bu?” tanya Jessica.
Tante
Shareen segera menjewer telinga Jessica
hingga merah.
“Ibu
tidak senang jika kau bermain dengan anak sombong yang bernama Sandara itu!”
jelas tante Shareen.
“Kenapa
sih ibu berpikiran seperti itu? Dia tidak begitu bu, dia cantik dan cerdas!” bantah Jessica
kesal.
“Pokoknya
ibu tidak setuju jika kamu bermain dengan dia!” jawab tante Shareen.
Lalu
menarik paksa Jessica ke dalam kamar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar