Sabtu, 04 Oktober 2014

Spy

   “Argh! Gawat! Bahaya!” pekik kak Elsa.
   “Ada apa kak?” tanyaku, penasaran.
   “Eh, ng... anu... gak apa – apa kok dek... hehehe...” jawab kak Elsa smabil tersenyum kecut.
   “Ada masalah ya kak?” pancingku.
   “Nggak kok...” jawab kak Elsa, gugup.
   “Kalau ada masalah, cerita sama aku, siapa tahu, aku bisa bantu?” jelasku.
   “Hehehe... tak perlu. Ini masalah orang dewasa dek... Adek gak akan ngerti deeh!” jawab kak Elsa sambil nyengir. Terlihat sekali bahwa kak Elsa menutupi sesuatu.

   “Tapi kak, aku kan satu sekolah sama kakak? Walau pun kakak kelas 9 dan aku kelas 7. Kalau ada apa – apa dan aku tidak tahu bagaimana? Aku tidak bisa membela dan membantu kakak dong?” desakku.
   “Tidak apa dek...” jawab kak Elsa.
   “Tapi kak, kalau aku terlibat bagaimana? Kitakan sama – sama menjaga nama baik di sekolah.” Kataku, sedikit memaksa.
   “Tak akan...  kakak janji!” jelas kak Elsa.
   “Tapi kalau...”
   “Gak usah kepo dong, dek!” potong kak Elsa kesal, sambil membanting pintu kamarnya.
   “Aku bukan kepo, kak! Tapi aku peduli sama kakak! Masih beruntung dipeduliin...” pekikku, merasa tersinggung dengan ucapan kakak.
   “Bodo! Kakak nggak perlu dipeduliin sama adek!” jawab kakakku. Kakakku memang menyebalkan jika sedang kesal. Jadi, sifatnya itu masih bisa ku maklumi.
   Malam harinya, aku ke kamar bunda sebelum tidur untuk bercakap – cakap sebentar.
   “Bund, kak Elsa ada apa sih?” tnayaku.
   “Emangnya, kak Elsa kenapa?” tanya bunda, bingung.
   “Sepertinya... kak Elsa punya masalah deeh, bund. Tapi... kak Elsa gak cerita siih! Jadi... aku gak tahu apa – apa deeh!” gerutuku.
   “Berarti... kamu harus menjadi spy!” terang bunda, sambil tersenyum penuh arti.
   “Maksudnya apa bund? Spy? Mata – mata dong?” tanyaku.
   “Yup!” jawab bunda sambil mengangguk.
   Kini aku mengerti apa maksud bunda. Mulai sekarang, apa pun yang terjadi dengan kakakku, aku akan mencari tahu! Kakakku adalah tanggung jawabku, dan aku adalah tanggung jawabnya. Tapi... bagaimana cara aku mendapatkan informasi yaa? Hmm... aku berpikir keras untuk mencari jalan keluar dan mencari informasi. Segera saja aku mendapat idenya.
   “Kak Fiona...” panggilku, dari jauh.
   “Eh, Elisa... ada apa, dek?” tanya kak Fiona. Kak Fiona ada mantan ketua OSIS, dia adalah sahabat terdekat kakakku. Karena itulah aku dan dia dekat apalagi jika ada kegiatan OSIS semasa jabatannya. Walau begitu, bukan bwerarti kak Fiona pilih kasih lho! Jika aku salah, aku dinasihati dan diberitahu juga.
   “Kak, ada pulsa gak? Nanti aku boleh SMS?” tanyaku.
   “Ada kok dek. Oke deh! Nomernya minta saja sama Elisa yaa! Dia punya kok!” jelas kak Fiona.
   “Oke deeh! Sip!” jawabku.
   Sepulang sekolah, aku segera mencari handphone kakakku. Untuk aku mengetahui passwordnya dan kakakku belum pulang karena ada kegiatan ekskul di sekolah. Memang, di sekolah, tidak diperkenankan membawa handphone.
   Akhirnya, ku dapatkan nomor kak Fiona dengan cepat. Tapi... tidak hanya itu, karena sekarang aku spy aku pun membuka SMS kakakku. Ku baca dengan seksama semuanya. Lalu, aku membuka foto – fotonya. Aku cekikikan sendiri melihat foto – fotonya karena ternyata kakakku bersama teman – temannya sangatlah narsis. Hehehe... Seusai melihat foto, aku melihat BBM, FB, Whatsapp, dan Twitternya. Tidak ada yang luput dari pemeriksaanku, bahkan handphone Nokia milik kakakku pun juga ku periksa secara detail.
   Aku mulai mengerti permasalahan yang dihadapi kak Elsa. Tepat selesai aku me-log out  Twitternya, kak Elsa memasuki kamar.
   “Elisa... ngapain kamu di sini?” tanya kak Elsa, bingung. Maklum, itu adalah kamarnya.
   “Eh, kak Elsa... sudah pulang? Ini... tadi aku minta nomernya kak Fiona. Bolehkan? Soalnya, aku mau tanya dia, berhubungan dengan kegiatan OSIS siih... Hehehe...” jawabku. Kakaku hanya manggut – manggut saja.
   “Terimakasih ya kak, atas nomernya...” jawabku, sambil keluar dari kamarnya.
   Rupanya, kakakku memang sedang bertengkar dengan temannya, kak Vadia. Menurut SMS, BBM, Twitter, FB, dan Whatsapp yang ku baca, gara – garanya, kakakku membohongi kak Vadia. Ketika itu, kak Vadia ada janji dengan kakakku, namun, kakakku membohongi kak Vadia dengan mengatakan dia tidak bisa bertemu kak Vadia karena ada acara keluarga menadak. Padahal, kakakku justru pergi ke mall bersama kak Fiona, kak Naura, kak Sonya, dan kak Patricia. Kak Vadia yang sudah menunggu lama kecewa karena kakakku membatalkan rencana begitu saja. Kak Vadia pun memutuskan untuk pergi ke mall. Tapi, ketika di mall, kakaku sempat melihat kak Vadia dari jauh, kakakku menghindar. Namun pada akhirnya, kakakku ketahuan berbohong dan kak Vadia kecewa berat dengan kakakku. Maklum siih... kakakku memang salah. Hihihi.. Kakaku aneh – aneh saja yaa?  Setelah itu, aku meng-SMS kak Fiona.

Aku: Kak Fio... Ini Elisa adiknya kak Elsa anak 7.9 J save nomorku yaa!
Kak Fiona: Hai juga Elisa... saved, dek.
Aku: Lagi apa kak?
Kak Fiona: Lagi nafas, adek?
Aku: Hehehe... lagi tiduran, kak. Kak, kak Elsa kenapa siih? Kok akhir – akhir ini berubah?
Kak Fiona: Berubah gimana maksudnya?
Aku: Dia lagi ada masalah yaa? Kayaknya... dia menyembunyikan sesuatu.
Kak Fiona: Hehehe... emang siih... iya lagi ada masalah.
Aku: Masalah apa? Sama kak Vadia?
Kak Fiona: Kok adek tahu? Tahu dari mana?
Aku: Feeling kak... hehehe... Lagian kak Vadia kalau natap aku kayak gitu siih... hehehe...
Kak Fiona: kayak gitu gimana?
Aku: sinis, tajam, dingin, benci, dan dengki gitu... hiii... serem deeh! Suaranya kan lantang, tapi kadang sinis dan kalau menyindir tuh kena bangeet!
Kak Fiona: hahaha... emangnya adek pernah disindir? Kapan?
Aku: iya waktu itu, dia bilang gini, kakaknya gak bener, adeknya juga gak bener. Kan adek mengikuti kakaknya -_-
Kak Fiona: Wkwkwkwk... sabar aja dek... sebenarnya, Vadia itu baik, ramah, pandai, dan cantik, tapi dia egois dan dominan.
Aku: Emangnya kakakku dari dulu sering yaa bertengkar sama kak Vadia?
Kak Fiona: lumayan laah dari pada lumanyun... Hehehe...
Aku: Hahaha... bertengkar gimana kak?
Kak Fiona: kata – kataan, pernah gempar di FB dan Twitter, saling sindir – menyindir, adu mulut, saling ejek, saling edit foto masing – masing yang aneh – aneh, Elsa edit fotonya Vadia dan ditag ke semua orang termaksud siapa yang Vadia sukai, dan Vadia sebaliknya. Pernah Elsa kesel banget sama Vadia gara – gara Vadia sama Elsa waktu itu duduk sebangku, Vadia ngajak ngomong Elsa, Elsa sebenarnya siih nggak dengerin ucapannya Vadia dan terus memperhatikan guru, tpai yang kena marah justru Elsa, terus karena kesal, ketika Vadia lagi tampil di acara pensi sekolah tahun lalu dan waktu kelas 7, Elsa ketawain mati – matian hingga Vadia malu. Karena itu Vadia maupun Elsa gak mau tampil di acara pensi kecuali disuruh padus (paduan suara), angklung, ensambel, atau tampil sekelas soalnya takut ditertawakan. Elsa takut ditertawakan balik, Vadia takut ditertawakan lagi.
Aku: Hahaha... lagian... kakakku iseng – iseng ajja siih... biasanya masalahnya kenapa kak?
Kak Fiona: Masalah sepele laah deek...
Aku: Ooh... begitu... kok mereka gak maafan aja sih kak?
Kak Fiona: Susah deek... Mereka udah kayak Tom & Jerry. Kakak aja nih yaa... kalau bukan ketua OSIS dan Vadia sebagai bendahara, kakak gak akan dekat. Kakak cuma ketika kegiatan OSIS aja baik sama Vadia karena kan OSIS kebersamaan.
Aku: Hahaha... semoga aja kakakku mau maafin kak Vadia dan sebaliknya yaa! Bukannya gak enak kalau bertengkar terus? Iya gak?
Kak Fiona: Hahaha... iya juga siih...
Aku: Oh ya kak... Jangan bilang – bilang ke kakakku yaa kalau aku tahu permasalahan ini. Cukup kita aja yang tahu karena aku percayanya sama kakak, kakak itu udah ku anggap seperti kakak sendiri, kakak kandung, kakak – kakakanku J
Kak Fiona: Oke dek! Sip! Woles ajja sama kakak... (y) (y) ;)

   Esoknya, sepulang sekolah aku kembali mengendap – endap memasuki kamar kak Elsa. Sebenarnya, hari ini ada rapat OSIS, tapi, aku berbohong pada kak Fiona bahwa tiba – tiba aku sedikit tidak enak badan dan terpaksa kabur hanya demi mencari informasi mengenai kakakku. Jangan ditiru ya guys! Hehehe... Sebab, kakakku dan kak Naura sedang pergi. Entah ke mana. Yang jelas, setahu aku, kakakku sempat menyebut salah satu tempat makan karena kak Naura ingin mentraktir kakakku. Tentu saja kak Fiona, kak Patricia, dan kak Sonya tidak ikut karena ada rapat OSIS. Mereka benar – benar bertanggung jawab dengan OSIS padahal sudah MaSIS lho! MaSIS = Mantan OSIS.
   Aku mengobrak – abrik lemari pakaian dan belajar kak Elsa, aku mencari diary milik kak Elsa. Setahuku, kak Elsa memang memiliki diary. Jangan ditiru yaa! Kan diary pribadi dan tertutup. Hehehe... Setelah ku temukan, ku baca dengan seksama semuanya dari awal sampai akhir. Selama membaca, aku cekikikan sendiri karena lucu. Tepat sekali seusai aku menaruh buku diary itu di laci mejanya, dan hendak membuka pintu, kak Elsa membuka pintu terlebih dahulu.
   “Adek? Ngapain kamu di kamarku?” tanya kak Elsa, kaget.
   “Eh, kakak... baru pulang? Tadi aku nyari charger HP kak... Charger-ku gak tahu ke mana, kayaknya dipakai bunda deh dua – duanya. Hehehe... tapi ternyata charger HP kakak yang BB tidak ada dan yang Nokia tidka cocok. Jadi... apa boleh buat? By the way... Umm... charger BB yang satu lagi mana kak?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
   “Oh iyaa... kakak bawa dua – duanya. Hehehe...” jawab kakakku itu, sambil cengar – cengir dan menggaruk kepalanya lalu membuka isi tasnya dan mencari charger HP-nya.
   “Pantas saja... bukannya gak boleh yaa bawa HP ke sekolah?” godaku.
   “Kan kakak titipin sama bu Dylan sayang... Nih, kalau mau pinjam!” jelas kak Elsa smabil menyodorkan charger HP BB-nya.
   “Oh, ya sudah... baiklah... terimakasih kak...” jawabku, sambil keluar dari kamarnya. Semua rencanaku berjlaan dengan lancar, bahkan kini, aku mempunyai motto sebagai spy. Mottonya sebagai berikut,

Aku penasaran karna aku peduli
Setiap permasalahan pasti ada jalannya
Tidak ada yang tidak mungkin
Tidak ada yang tidak bisa
Tidak ada yang tidak pasti
Semuanya mungkin, semuanya bisa, semuanya pasti

   Sekarang, semuanya sudah jelas, sekarang, aku tinggal mencari jalan keluarnya saja dari permasalahan ini.
   “Elisa... apa kau sudah mengetahui apa yang terjadi dengan kakakmu?” tanya bunda ketika aku ke kamarnya di malam hari.
   “Eh bunda... belum, bund... hehehe...” kataku berbohong sambil cengar – cengir.
   Aku sebenarnya tidak bermaksud berbohong pad abunda. Hanya saja... jika aku menceritakan hal ini pada bunda, pasti nantinya kak Elsa akan curiga bagaimana bund amengetahui semuanya dan akhirnya kak Elsa akan menuduhku. Aku berusaha mencari cara lain supaya bunda tak perlu mengetahuinya.
   “Kak... Boleh Elisa masuk?” tanyaku, dari luar kamar di hari minggu pagi.
   “Silakan, tapi jangan acak – acak kamar yaa!” jawab kak Elisa, dari dalam. Aku pun masuk. Kakakku itu sedang mendengarkan musik sambil bermain game online di laptopnya.
   “Lagi main apa kak?” tanyaku.
   “Nih lagi main The Sims dan Pet Society. Hehehe...” tawa kak Elsa.
   “Masih jaman aja main begituan... padahal udah kelas 9... udah mau lulus.” Ledekku.
   “Lagian seru deh. Kan bisa buat refreshing... kakak penat seharian belajar dan bimbel. Belum ulangannya. Huff...” keluh kak Elsa.
   “Sabar ya kak... Kak, boleh liat album foto kakak?” tanyaku.
   “Boleh, ambil saja di laci meja paling bawah.” Terang kak Elsa tanpa menoleh karena sedang sibuk bermain. Ku buka album foto kak Elsa dengan teman – temannya. Rupanya kak Elsa dari kelas 7 hingga kelas 9 selalu sekelas dengan kak Fiona, kak Sonya, kak Patricia, kak Naura, dan kak Vadia. Sebenarnya, mereka berenam selalu bersama dari kelas 7. Terbukti, ketika itu, banyak sekali foto narsis mereka berenam di bagian kelas 7. Namun, kira – kira, sejak kelas 7 semester 2, kak Vadia sudah tidak bergabung lagi dengan kak Elsa dan kawan – kawan. Mungkin karena kak Elsa waktu itu menertawakan kak Vadia ketika pensi.
   “Kak, ini kak Vadia yaa?” tanyaku, pura – pura tidak tahu sambil menunjuk foto kak Vadia.
   “Iya, emangnya kenapa dek?” tanya kak Elsa.
   “Kok dia awalnya sering foto sama kakak? Tapi makin lama nggak siih?” tanyaku.
   “Itu bukan urusan adek, kan?” tanya kak Elsa, sinis.
   “Jangan – jangan... kakak ada masalah yaa sama kak Vadia?” godaku, berusaha mencairkan suasana.
   “Eh, ng... nggak kok dek... hubungan kakak sama kak Vadia baik – baik aja...” jawab kak Elsa, gugup.
   “Ooh... kirain... soalnya aku bingung deeh sama kak Vadia...” pancingku.
   “Bingung kenapa, dek?” tanya kak Elsa.
   “Bingung aja... dia kan bendahara OSIS yaa? Dia itu tatapannya ke aku selama ada kegiatan OSIS tuh sinis, dingin, tajam, gak bersahabat, kalau berbicara juga ketus dan sinis. Kak Vadia pernah lho menyindirku ketika rapat OSIS, dia bilang begini, ‘kakaknya gak bener, adeknya juga gak bener. Kan adek mengikuti kakaknya’.” Jelasku, memancing.
   “Ooh... dia memang begitu... Mm... kalau kakak cerita ini... masalahnya kamu bisa jaga rahasia gak?” tanya kakakku.
   “Tenang aja kak... bisa kok!” jawabku, sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuk tanda setuju.
   “Sebenarnya, dari kelas 7 itu, kakak udah gak kerasan sama Vadia. Sikapnya tuh awalnya baik, tapi lama – lama berubah. Fiona, Sonya, Patricia, dan Naura juga merasakannya. Walau dulu kita berlima, semenjak kakak dan Sonya punya banyak masalah dengan Vadia, Vadia pun memutuskan untuk keluar dari ASix.” Jelas kak Elsa, kali ini dia memutar kursinya dan menghadap ke arahku.
   “ASix itu apa kak?” tanyaku, bingung.
   “Kan nama belakang kami A semua dan jumlah kami ada 6 jadi ASix yang juga berarti bahwa kami berenam itu anak yang asyik – asyik. Tapi, setelah Vadia keluar, nama kami berubah menjadi FiveA. Artinya 5 A. Dari dulu sampai sekarang Asix maupun FiveA memiliki ciri khas tersendiri, kami memiliki panggilan untuk masing – masing, kami memiliki nama samaran untuk orang yang dikagumi, dan kami mempunyai nama fans. Hehehe...” cerita kak Elsa sambil tersenyum – senyum sendiri.
   “Emangnya, sifat kak Fiona, kak Sonya, kak Patrice, kak Naura, dan kak Vadia itu gimana sih?” tanyaku.
   “Fiona, dia cantik dan pintar walaupun dia ketua OSIS pada zaman kakak, dia tidak berlebihan dan masih bisa membagi waktunya. Tapi, dia lebih senang menjadi penengah walau dia pandai berbicara dan beragumen. Sonya, dia cenderung pandai berbicara, pintar, cantik, tapi juga blak – blakan. Kalau dia tidak suka, dia akan berterus terang. Dan Sonya tidak suka basa – basi yang tak penting. Patrice, walaupun sebenarnya dia cantik, ramah, pintar, dan rajin, dia lebih banyak memilih diam walau kadang – kadang blak – blakan juga. Naura, dia cantik, pintar, rajin, dan disiplin tapi  pemalu dan pendiam. Sedangkan Vadia, walau pintar dan cantik, dia egois dan dominan.” Jelas kak Elsa.
   “Jadi, diantara  kalian berenam gak ada yang suka melucu gitu?” tanyaku.
   “Paling yaa Fiona, kakak, dan Sonya.” Jawab kak Elsa sambil tersenyum.
   “Kakak?!” tanyaku tak percaya. Aku terbelalak kaget mendengarnya. Sebenarnya kakakku ini selalu serius dan asyik dengan dunianya sendiri, tidak pernah melucu atau bercerita apa – apa kepadaku. Kak Elsa hanya mengangguk.
   “Jadi intinyaa... sekarnag kakak lagi bertengkar sama kak Vadia?” tanyaku. Kak Elsa lagi – lagi hanya mengangguk.
   “Bertengkar kenapa? Masalah cowok?” pancingku.
   “Yaa enggaklaah... masalah sepele kok! Cuma gara – gara kakak berbohong dan ingkar janji.” Jelas kak Elsa, sedikit gusar.
   “Terus? Kenapa kakak gak minta maaf saja? Kan kakak jelas – jelas yang salah....” tanyaku.
   “Kepengennya sih begitu... tapi... mungkin Vadia tak akan memaafkan kakak. Lagi pula... Vadia juga pernah begitu  kok padaku! Dan aku memaafkannya!” pekik kakakku, kesal.
   “Kak... lebih  baik, kakak jelaskan saja semuanya pada kak Vadia... kakak meminta maaf sekalian memberitahunya bahwa kak Vadia juga pernah begitu kan?” usulku.
   “Hh... baiklah... akan kakak coba besok.” Jawab kak Elsa. Aku tersenyum. Keesokkan harinya, sepulang sekolah... aku bertanya pada kak Elsa.
   “Kak, kakak udah meminta maaf pada kak Vadia?” tanyaku.
   Kak Elsa mengangguk, “Sudah kok!”
   “Lalu... apakah kak Vadia memaafkan kakak?” tanyaku, penasaran.
   “Iya deek... makasih yaa atas bantuannya... sekarang, kakak tenang tanpa masalah yang mengganjal di hati lagi.” Jawab kak Elsa, sambil tersenyum.
   Yeay! My mission is complete! Sorakku, dalam hati.
   “Dek, kok senyum – senyum sendiri? Ada apa?” tanya kak Elsa, bingung.

   “Eh, gak apa – apa kok, kak. Hehehe... Aku ke kamar dulu yaa! Aku ingat ada PR yang harus diselesaikan.” Jawabku kikuk sambil keluar dari kamar kakakku itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar