“Argh! Gawat! Bahaya!” pekik
kak Elsa.
“Ada apa kak?” tanyaku, penasaran.
“Eh, ng... anu... gak apa – apa kok dek... hehehe...” jawab kak
Elsa smabil tersenyum kecut.
“Ada masalah ya kak?” pancingku.
“Nggak kok...” jawab kak Elsa, gugup.
“Kalau ada masalah, cerita sama aku, siapa tahu, aku bisa bantu?”
jelasku.
“Hehehe... tak perlu. Ini masalah orang dewasa dek... Adek gak
akan ngerti deeh!” jawab kak Elsa sambil nyengir. Terlihat sekali bahwa kak
Elsa menutupi sesuatu.
“Tapi kak, aku kan satu sekolah sama kakak? Walau pun kakak kelas
9 dan aku kelas 7. Kalau ada apa – apa dan aku tidak tahu bagaimana? Aku tidak
bisa membela dan membantu kakak dong?” desakku.
“Tidak apa dek...” jawab kak Elsa.
“Tapi kak, kalau aku terlibat bagaimana? Kitakan sama – sama
menjaga nama baik di sekolah.” Kataku, sedikit memaksa.
“Tak akan... kakak janji!”
jelas kak Elsa.
“Tapi kalau...”
“Gak usah kepo dong, dek!” potong kak Elsa kesal, sambil membanting
pintu kamarnya.
“Aku bukan kepo, kak! Tapi aku peduli sama kakak! Masih beruntung
dipeduliin...” pekikku, merasa tersinggung dengan ucapan kakak.
“Bodo! Kakak nggak perlu dipeduliin sama adek!” jawab kakakku.
Kakakku memang menyebalkan jika sedang kesal. Jadi, sifatnya itu masih bisa ku
maklumi.
Malam harinya, aku ke kamar bunda sebelum tidur untuk bercakap –
cakap sebentar.
“Bund, kak Elsa ada apa sih?” tnayaku.
“Emangnya, kak Elsa kenapa?” tanya bunda, bingung.
“Sepertinya... kak Elsa punya masalah deeh, bund. Tapi... kak Elsa
gak cerita siih! Jadi... aku gak tahu apa – apa deeh!” gerutuku.
“Berarti... kamu harus menjadi spy!” terang bunda, sambil
tersenyum penuh arti.
“Maksudnya apa bund? Spy? Mata – mata dong?” tanyaku.
“Yup!” jawab bunda sambil mengangguk.
Kini aku mengerti apa maksud bunda. Mulai sekarang, apa pun yang
terjadi dengan kakakku, aku akan mencari tahu! Kakakku adalah tanggung jawabku,
dan aku adalah tanggung jawabnya. Tapi... bagaimana cara aku mendapatkan
informasi yaa? Hmm... aku berpikir keras untuk mencari jalan keluar dan mencari
informasi. Segera saja aku mendapat idenya.
“Kak Fiona...” panggilku, dari jauh.
“Eh, Elisa... ada apa, dek?” tanya kak Fiona. Kak Fiona ada mantan
ketua OSIS, dia adalah sahabat terdekat kakakku. Karena itulah aku dan dia
dekat apalagi jika ada kegiatan OSIS semasa jabatannya. Walau begitu, bukan
bwerarti kak Fiona pilih kasih lho! Jika aku salah, aku dinasihati dan
diberitahu juga.
“Kak, ada pulsa gak? Nanti aku boleh SMS?” tanyaku.
“Ada kok dek. Oke deh! Nomernya minta saja sama Elisa yaa! Dia
punya kok!” jelas kak Fiona.
“Oke deeh! Sip!” jawabku.
Sepulang sekolah, aku segera mencari handphone kakakku. Untuk aku
mengetahui passwordnya dan kakakku belum pulang karena ada kegiatan ekskul di
sekolah. Memang, di sekolah, tidak diperkenankan membawa handphone.
Akhirnya, ku dapatkan nomor kak Fiona dengan cepat. Tapi... tidak
hanya itu, karena sekarang aku spy aku pun membuka SMS kakakku. Ku baca dengan
seksama semuanya. Lalu, aku membuka foto – fotonya. Aku cekikikan sendiri
melihat foto – fotonya karena ternyata kakakku bersama teman – temannya
sangatlah narsis. Hehehe... Seusai melihat foto, aku melihat BBM, FB, Whatsapp,
dan Twitternya. Tidak ada yang luput dari pemeriksaanku, bahkan handphone Nokia
milik kakakku pun juga ku periksa secara detail.
Aku mulai mengerti permasalahan yang dihadapi kak Elsa. Tepat
selesai aku me-log out Twitternya, kak
Elsa memasuki kamar.
“Elisa... ngapain kamu di sini?” tanya kak Elsa, bingung. Maklum,
itu adalah kamarnya.
“Eh, kak Elsa... sudah pulang? Ini... tadi aku minta nomernya kak
Fiona. Bolehkan? Soalnya, aku mau tanya dia, berhubungan dengan kegiatan OSIS
siih... Hehehe...” jawabku. Kakaku hanya manggut – manggut saja.
“Terimakasih ya kak, atas nomernya...” jawabku, sambil keluar dari
kamarnya.
Rupanya, kakakku memang sedang bertengkar dengan temannya, kak
Vadia. Menurut SMS, BBM, Twitter, FB, dan Whatsapp yang ku baca, gara –
garanya, kakakku membohongi kak Vadia. Ketika itu, kak Vadia ada janji dengan
kakakku, namun, kakakku membohongi kak Vadia dengan mengatakan dia tidak bisa
bertemu kak Vadia karena ada acara keluarga menadak. Padahal, kakakku justru
pergi ke mall bersama kak Fiona, kak Naura, kak Sonya, dan kak Patricia. Kak
Vadia yang sudah menunggu lama kecewa karena kakakku membatalkan rencana begitu
saja. Kak Vadia pun memutuskan untuk pergi ke mall. Tapi, ketika di mall,
kakaku sempat melihat kak Vadia dari jauh, kakakku menghindar. Namun pada
akhirnya, kakakku ketahuan berbohong dan kak Vadia kecewa berat dengan kakakku.
Maklum siih... kakakku memang salah. Hihihi.. Kakaku aneh – aneh saja yaa? Setelah itu, aku meng-SMS kak Fiona.
Aku: Kak Fio... Ini Elisa
adiknya kak Elsa anak 7.9 J save nomorku yaa!
Kak Fiona: Hai juga Elisa...
saved, dek.
Aku: Lagi apa kak?
Kak Fiona: Lagi nafas, adek?
Aku: Hehehe... lagi tiduran,
kak. Kak, kak Elsa kenapa siih? Kok akhir – akhir ini berubah?
Kak Fiona: Berubah gimana
maksudnya?
Aku: Dia lagi ada masalah yaa?
Kayaknya... dia menyembunyikan sesuatu.
Kak Fiona: Hehehe... emang
siih... iya lagi ada masalah.
Aku: Masalah apa? Sama kak
Vadia?
Kak Fiona: Kok adek tahu? Tahu
dari mana?
Aku: Feeling kak... hehehe...
Lagian kak Vadia kalau natap aku kayak gitu siih... hehehe...
Kak Fiona: kayak gitu gimana?
Aku: sinis, tajam, dingin,
benci, dan dengki gitu... hiii... serem deeh! Suaranya kan lantang, tapi kadang
sinis dan kalau menyindir tuh kena bangeet!
Kak Fiona: hahaha... emangnya
adek pernah disindir? Kapan?
Aku: iya waktu itu, dia bilang
gini, kakaknya gak bener, adeknya juga gak bener. Kan adek mengikuti kakaknya
-_-
Kak Fiona: Wkwkwkwk... sabar
aja dek... sebenarnya, Vadia itu baik, ramah, pandai, dan cantik, tapi dia
egois dan dominan.
Aku: Emangnya kakakku dari dulu
sering yaa bertengkar sama kak Vadia?
Kak Fiona: lumayan laah dari
pada lumanyun... Hehehe...
Aku: Hahaha... bertengkar
gimana kak?
Kak Fiona: kata – kataan,
pernah gempar di FB dan Twitter, saling sindir – menyindir, adu mulut, saling
ejek, saling edit foto masing – masing yang aneh – aneh, Elsa edit fotonya
Vadia dan ditag ke semua orang termaksud siapa yang Vadia sukai, dan Vadia
sebaliknya. Pernah Elsa kesel banget sama Vadia gara – gara Vadia sama Elsa
waktu itu duduk sebangku, Vadia ngajak ngomong Elsa, Elsa sebenarnya siih nggak
dengerin ucapannya Vadia dan terus memperhatikan guru, tpai yang kena marah
justru Elsa, terus karena kesal, ketika Vadia lagi tampil di acara pensi
sekolah tahun lalu dan waktu kelas 7, Elsa ketawain mati – matian hingga Vadia
malu. Karena itu Vadia maupun Elsa gak mau tampil di acara pensi kecuali
disuruh padus (paduan suara), angklung, ensambel, atau tampil sekelas soalnya
takut ditertawakan. Elsa takut ditertawakan balik, Vadia takut ditertawakan
lagi.
Aku: Hahaha... lagian...
kakakku iseng – iseng ajja siih... biasanya masalahnya kenapa kak?
Kak Fiona: Masalah sepele laah
deek...
Aku: Ooh... begitu... kok
mereka gak maafan aja sih kak?
Kak Fiona: Susah deek... Mereka
udah kayak Tom & Jerry. Kakak aja nih yaa... kalau bukan ketua OSIS dan
Vadia sebagai bendahara, kakak gak akan dekat. Kakak cuma ketika kegiatan OSIS
aja baik sama Vadia karena kan OSIS kebersamaan.
Aku: Hahaha... semoga aja
kakakku mau maafin kak Vadia dan sebaliknya yaa! Bukannya gak enak kalau
bertengkar terus? Iya gak?
Kak Fiona: Hahaha... iya juga siih...
Aku: Oh ya kak... Jangan bilang
– bilang ke kakakku yaa kalau aku tahu permasalahan ini. Cukup kita aja yang
tahu karena aku percayanya sama kakak, kakak itu udah ku anggap seperti kakak
sendiri, kakak kandung, kakak – kakakanku J
Kak Fiona: Oke dek! Sip! Woles
ajja sama kakak... (y) (y) ;)
Esoknya, sepulang sekolah aku kembali mengendap – endap memasuki
kamar kak Elsa. Sebenarnya, hari ini ada rapat OSIS, tapi, aku berbohong pada
kak Fiona bahwa tiba – tiba aku sedikit tidak enak badan dan terpaksa kabur
hanya demi mencari informasi mengenai kakakku. Jangan ditiru ya guys! Hehehe...
Sebab, kakakku dan kak Naura sedang pergi. Entah ke mana. Yang jelas, setahu
aku, kakakku sempat menyebut salah satu tempat makan karena kak Naura ingin
mentraktir kakakku. Tentu saja kak Fiona, kak Patricia, dan kak Sonya tidak
ikut karena ada rapat OSIS. Mereka benar – benar bertanggung jawab dengan OSIS
padahal sudah MaSIS lho! MaSIS = Mantan OSIS.
Aku mengobrak – abrik lemari pakaian dan belajar kak Elsa, aku
mencari diary milik kak Elsa. Setahuku, kak Elsa memang memiliki diary. Jangan
ditiru yaa! Kan diary pribadi dan tertutup. Hehehe... Setelah ku temukan, ku
baca dengan seksama semuanya dari awal sampai akhir. Selama membaca, aku
cekikikan sendiri karena lucu. Tepat sekali seusai aku menaruh buku diary itu
di laci mejanya, dan hendak membuka pintu, kak Elsa membuka pintu terlebih
dahulu.
“Adek? Ngapain kamu di kamarku?” tanya kak Elsa, kaget.
“Eh, kakak... baru pulang? Tadi aku nyari charger HP kak...
Charger-ku gak tahu ke mana, kayaknya dipakai bunda deh dua – duanya. Hehehe...
tapi ternyata charger HP kakak yang BB tidak ada dan yang Nokia tidka cocok.
Jadi... apa boleh buat? By the way... Umm... charger BB yang satu lagi mana
kak?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
“Oh iyaa... kakak bawa dua – duanya. Hehehe...” jawab kakakku itu,
sambil cengar – cengir dan menggaruk kepalanya lalu membuka isi tasnya dan
mencari charger HP-nya.
“Pantas saja... bukannya gak boleh yaa bawa HP ke sekolah?”
godaku.
“Kan kakak titipin sama bu Dylan sayang... Nih, kalau mau pinjam!”
jelas kak Elsa smabil menyodorkan charger HP BB-nya.
“Oh, ya sudah... baiklah... terimakasih kak...” jawabku, sambil
keluar dari kamarnya. Semua rencanaku berjlaan dengan lancar, bahkan kini, aku
mempunyai motto sebagai spy. Mottonya sebagai berikut,
Aku penasaran karna aku peduli
Setiap permasalahan pasti ada
jalannya
Tidak ada yang tidak mungkin
Tidak ada yang tidak bisa
Tidak ada yang tidak pasti
Semuanya mungkin, semuanya
bisa, semuanya pasti
Sekarang, semuanya sudah jelas, sekarang, aku tinggal mencari
jalan keluarnya saja dari permasalahan ini.
“Elisa... apa kau sudah mengetahui apa yang terjadi dengan
kakakmu?” tanya bunda ketika aku ke kamarnya di malam hari.
“Eh bunda... belum, bund... hehehe...” kataku berbohong sambil
cengar – cengir.
Aku sebenarnya tidak bermaksud berbohong pad abunda. Hanya saja...
jika aku menceritakan hal ini pada bunda, pasti nantinya kak Elsa akan curiga
bagaimana bund amengetahui semuanya dan akhirnya kak Elsa akan menuduhku. Aku
berusaha mencari cara lain supaya bunda tak perlu mengetahuinya.
“Kak... Boleh Elisa masuk?” tanyaku, dari luar kamar di hari
minggu pagi.
“Silakan, tapi jangan acak – acak kamar yaa!” jawab kak Elisa,
dari dalam. Aku pun masuk. Kakakku itu sedang mendengarkan musik sambil bermain
game online di laptopnya.
“Lagi main apa kak?” tanyaku.
“Nih lagi main The Sims dan Pet Society. Hehehe...” tawa kak Elsa.
“Masih jaman aja main begituan... padahal udah kelas 9... udah mau
lulus.” Ledekku.
“Lagian seru deh. Kan bisa buat refreshing... kakak penat seharian
belajar dan bimbel. Belum ulangannya. Huff...” keluh kak Elsa.
“Sabar ya kak... Kak, boleh liat album foto kakak?” tanyaku.
“Boleh, ambil saja di laci meja paling bawah.” Terang kak Elsa
tanpa menoleh karena sedang sibuk bermain. Ku buka album foto kak Elsa dengan
teman – temannya. Rupanya kak Elsa dari kelas 7 hingga kelas 9 selalu sekelas
dengan kak Fiona, kak Sonya, kak Patricia, kak Naura, dan kak Vadia.
Sebenarnya, mereka berenam selalu bersama dari kelas 7. Terbukti, ketika itu,
banyak sekali foto narsis mereka berenam di bagian kelas 7. Namun, kira – kira,
sejak kelas 7 semester 2, kak Vadia sudah tidak bergabung lagi dengan kak Elsa
dan kawan – kawan. Mungkin karena kak Elsa waktu itu menertawakan kak Vadia
ketika pensi.
“Kak, ini kak Vadia yaa?” tanyaku, pura – pura tidak tahu sambil
menunjuk foto kak Vadia.
“Iya, emangnya kenapa dek?” tanya kak Elsa.
“Kok dia awalnya sering foto sama kakak? Tapi makin lama nggak
siih?” tanyaku.
“Itu bukan urusan adek, kan?” tanya kak Elsa, sinis.
“Jangan – jangan... kakak ada masalah yaa sama kak Vadia?” godaku,
berusaha mencairkan suasana.
“Eh, ng... nggak kok dek... hubungan kakak sama kak Vadia baik –
baik aja...” jawab kak Elsa, gugup.
“Ooh... kirain... soalnya aku bingung deeh sama kak Vadia...”
pancingku.
“Bingung kenapa, dek?” tanya kak Elsa.
“Bingung aja... dia kan bendahara OSIS yaa? Dia itu tatapannya ke
aku selama ada kegiatan OSIS tuh sinis, dingin, tajam, gak bersahabat, kalau berbicara
juga ketus dan sinis. Kak Vadia pernah lho menyindirku ketika rapat OSIS, dia
bilang begini, ‘kakaknya gak bener, adeknya juga gak bener. Kan adek mengikuti
kakaknya’.” Jelasku, memancing.
“Ooh... dia memang begitu... Mm... kalau kakak cerita ini...
masalahnya kamu bisa jaga rahasia gak?” tanya kakakku.
“Tenang aja kak... bisa kok!” jawabku, sambil menunjukkan jari
tengah dan telunjuk tanda setuju.
“Sebenarnya, dari kelas 7 itu, kakak udah gak kerasan sama Vadia.
Sikapnya tuh awalnya baik, tapi lama – lama berubah. Fiona, Sonya, Patricia,
dan Naura juga merasakannya. Walau dulu kita berlima, semenjak kakak dan Sonya
punya banyak masalah dengan Vadia, Vadia pun memutuskan untuk keluar dari
ASix.” Jelas kak Elsa, kali ini dia memutar kursinya dan menghadap ke arahku.
“ASix itu apa kak?” tanyaku, bingung.
“Kan nama belakang kami A semua dan jumlah kami ada 6 jadi ASix
yang juga berarti bahwa kami berenam itu anak yang asyik – asyik. Tapi, setelah
Vadia keluar, nama kami berubah menjadi FiveA. Artinya 5 A. Dari dulu sampai
sekarang Asix maupun FiveA memiliki ciri khas tersendiri, kami memiliki
panggilan untuk masing – masing, kami memiliki nama samaran untuk orang yang
dikagumi, dan kami mempunyai nama fans. Hehehe...” cerita kak Elsa sambil tersenyum
– senyum sendiri.
“Emangnya, sifat kak Fiona, kak Sonya, kak Patrice, kak Naura, dan
kak Vadia itu gimana sih?” tanyaku.
“Fiona, dia cantik dan pintar walaupun dia ketua OSIS pada zaman
kakak, dia tidak berlebihan dan masih bisa membagi waktunya. Tapi, dia lebih
senang menjadi penengah walau dia pandai berbicara dan beragumen. Sonya, dia
cenderung pandai berbicara, pintar, cantik, tapi juga blak – blakan. Kalau dia
tidak suka, dia akan berterus terang. Dan Sonya tidak suka basa – basi yang tak
penting. Patrice, walaupun sebenarnya dia cantik, ramah, pintar, dan rajin, dia
lebih banyak memilih diam walau kadang – kadang blak – blakan juga. Naura, dia
cantik, pintar, rajin, dan disiplin tapi
pemalu dan pendiam. Sedangkan Vadia, walau pintar dan cantik, dia egois
dan dominan.” Jelas kak Elsa.
“Jadi, diantara kalian
berenam gak ada yang suka melucu gitu?” tanyaku.
“Paling yaa Fiona, kakak, dan Sonya.” Jawab kak Elsa sambil
tersenyum.
“Kakak?!” tanyaku tak percaya. Aku terbelalak kaget mendengarnya.
Sebenarnya kakakku ini selalu serius dan asyik dengan dunianya sendiri, tidak
pernah melucu atau bercerita apa – apa kepadaku. Kak Elsa hanya mengangguk.
“Jadi intinyaa... sekarnag kakak lagi bertengkar sama kak Vadia?”
tanyaku. Kak Elsa lagi – lagi hanya mengangguk.
“Bertengkar kenapa? Masalah cowok?” pancingku.
“Yaa enggaklaah... masalah sepele kok! Cuma gara – gara kakak
berbohong dan ingkar janji.” Jelas kak Elsa, sedikit gusar.
“Terus? Kenapa kakak gak minta maaf saja? Kan kakak jelas – jelas
yang salah....” tanyaku.
“Kepengennya sih begitu... tapi... mungkin Vadia tak akan
memaafkan kakak. Lagi pula... Vadia juga pernah begitu kok padaku! Dan aku memaafkannya!” pekik
kakakku, kesal.
“Kak... lebih baik, kakak
jelaskan saja semuanya pada kak Vadia... kakak meminta maaf sekalian
memberitahunya bahwa kak Vadia juga pernah begitu kan?” usulku.
“Hh... baiklah... akan kakak coba besok.” Jawab kak Elsa. Aku
tersenyum. Keesokkan harinya, sepulang sekolah... aku bertanya pada kak Elsa.
“Kak, kakak udah meminta maaf pada kak Vadia?” tanyaku.
Kak Elsa mengangguk, “Sudah kok!”
“Lalu... apakah kak Vadia memaafkan kakak?” tanyaku, penasaran.
“Iya deek... makasih yaa atas bantuannya... sekarang, kakak tenang
tanpa masalah yang mengganjal di hati lagi.” Jawab kak Elsa, sambil tersenyum.
Yeay! My mission is complete! Sorakku, dalam hati.
“Dek, kok senyum – senyum sendiri? Ada apa?” tanya kak Elsa,
bingung.
“Eh, gak apa – apa kok, kak. Hehehe... Aku ke kamar dulu yaa! Aku
ingat ada PR yang harus diselesaikan.” Jawabku kikuk sambil keluar dari kamar
kakakku itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar