Rinda
pulang sekolah dengan berjalan kaki bersama ketiga sahabatnya.
“Rind,
di diarymu ada cerita yang seru gak? Apa kek...” Tanya Lula yang sedang bosan.
“Ng…
e… aku cari dulu ya! Abisnya aku gak afal siih… hehehe…” Jawab Rinda tertawa.
“Hm…
tapi La, percuma juga kita cari, gak bisa kita baca sekarang, kan malah buat
penasaran diri kita sendiri. Penasaran itu tidak baik!” kata Fatimah
mengingatkan.
“Hmm…
ya udah, kita berhenti di pos satpam aja dulu.” Usul Gladis.
“Ya
sudah. Yuk!” ajak Rinda.
Sesampainya
di pos satpam, Rinda mengeluarkan diary dari dalam tasnya.
“Seingatku
ada deh di halaman… 60.
Coba buka dan baca deh!”
“Bolehkan
aku yang baca ceritanya?” tanya Gladis.
“Up
to youlah… yang penting ada yang mau membacakan.” Jawab Lula.
Fenny
Dear
diary, Hari ini, kami pulang sekolah bareng lagi, aku, Gladis, Fatimah, dan
Lula. Awalnya, kami diajak Kamila ikut mobilnya, tapi kami menolak. Karena,
seperti biasa kami sering bermain saat pulang sekolah. Yang penting tidak lama
sehingga kedua orangtua kami tidak
khawatir.
Saat
sedang berjalan di balik semak, ku dengar suara “Tolong!!! Tolong!!! Lepaskan
aku!” kata suara itu.
“Diamlah!”
kata orang lain.
Kami
mengintip dari balik semak. Seorang gadis cilik sebaya kami disekap seorang
berbaju hitam, ada dua orang. Dan dapat terlihat dengan jelas yang menyetir
mobil itu adalah seorang perempuan yang aneh juga.
Tak
berselang lama, mobil itu melaju, namun tidak cepat. Kami mengikutinya dengan
berakting dan bersikap biasa saja. Seolah sejalan
dan tidak mengetahui apa yang terjadi.
Di
tengah jalan, Gladis berbisik padaku: “Udah yu…k! A… aku… ta… takut nih! Da…
dari tadi… a… aku gemeteran!”
“Gladis,
coba kamu berfikir jika kamu menjadi anak tadi, dia berharap ada yang
menolongnyakan? Lagi pula, kitakan bisa bela diri! Ya… paling cuma Fatimah yang
gak bisa.” Hiburku.
“Lagi
pula, jika kamu menyelamatkan orang itu, kamu akan merasa… dirimu berjasa.”
Tambah Lula.
“Oke,
kalau gitu… kita bagi berempat ya! Aku, dan Rinda bagian menyelamatkannya sekaligus melawan penjahat bila penjahat itu tahu
keberadaan kita. Sedangkan Gladis tak usah ikut melawan. Gladis menyelamatkan saja,
tapi, tetap harus siap – siap, dan… Fatimah, saat kita sampai ke tempat tujuan,
segera telepon polisi secepat mungkin. Oke?” Lula mengatur strategi.
“Oke!”
jawab kami pelan.
Mobil
yang kami ikuti tiba di Villa besar yang tua dan tampak kotor, mungkin mereka
menyangka tidak akan ada orang yang curiga akan kehadiran mereka di situ. Karena
rumahnya sudah tua dan kotor. Mungkin juga angker.
Hehehe... Mobil itu masuk ke dalam garasi.
“Masuk!”
perintah perempuan itu pada gadis yang diculiknya.
“Hmm... begini saja, kita
masuk dengan cara sederhana. Aku
akan menyamar, sementara aku menyamar, kalian masuk ke dalam rumah. Oke?” tanya
Lula.
“Yes.”
Mereka
menggunakan siasat Lula tadi, mereka berhasil masuk ke dalam Villa dan
menyelamatkan gadis itu. Mereka bersembunyi karena penjaga rumah itu kembali.
“Nyonya!!!
Nyonya!!! Anak itu!! Anak itu hilang!”
Sementara,
di dalam lemari tak terpakai, aku bertanya pada gadis cilik itu. “Siapa
namamu?” tanyaku.
“Fenny,
terimakasih sudah menyelamatkanku. Aku bisa membantu kalian bela diri. Kata
Fenny.
“Ooh,
eh, sst.”
Tiba –
tiba, pintu terbuka.
Penjaga!
“Hahaha…
aku mendapatkan ka…”
Kepala
penjaga itu di pukul oleh Lula.
“Cepat
kabur!” ajak Lula.
“Mau pergi
kemana Fenny?” tanya perempuan tadi di depan kami.
Rinda,
Gladis, Fenny, dan Lula sudah ketakutan karena tampang perempaun yang
menakutkan itu.
“Ini
polisi! Angkat tangan!” perintah tiga orang polisi menodongkan pistol.
“Jika
bergerak, nyawa anak ini akan melayang!”ancam perempuan itu menodongkan pistol
pada kami.
Lula
memiliki ide, ia menjatuhkan perempuan itu dan pistol itu dia buang.
“Oke,
saya menyerah.” Kata perempuan itu angkat tangan.
Setelah
itu, perempuan itu dan awaknya di tangkap. Dan Fenny berterimakasih pada kami
semua. Sedangkan Fatimah dan Gladis, jadi… sama – sama trauma deh! Hehehe!
Semoga,
kejadian ini tidak terjadi lagi, amiin…
Tapi
yang menyebalkan saat kami pulang ke rumah kami di marahi habis – habisan
karena pulang telat.
Oh ya,
Fenny jadi satu sekolah, sahabat, dan satu kelas dengan Lula. Rupanya, Fenny adalah korban penculikan dan rumah Fenny
tidak jauh dari sekolah kami. Para penculik itu belum sempat membawa kabur
Fenny jadi Fenny di sembunyikan di rumah tua, kosong, kotor, dan menyeramkan
itu. Hehehe...
Thanks
Rinda Mutiara Murni
“Iih…
seru banget yang ini mah!” kata Lula.
“Tapi,
kita masih trauma lho sama
orang yang gerak – geriknya mencurigakan!” kata Gladis.
“Kita? Lo aja kalee... gue nggak. Week... “ kata Fatimah
menjulurkan lidah pada Gladis.
“Tapi, tadi aja pas ada orang aneh kamu langsung ketakutan!” kata
Gladis.
“Hehehe… iya siih…”
“Woi! Pulang yuk!” ajak Lula.
“Ayooo!!!” jawab yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar