Cerita ini sebenarnya proyek gagal. jadi waktu itu, gue dikasih proyek (lagi) sama beberapa penulis lain untuk nulis buku antologi dengan pemeran utama Minmie. Udah pernah baca buku gue yang "Minmie's Birthday"? Semacam kayak gitu. Nah tapi entah kenapa tiba - tiba, proyek itu diberhentiin. Mungkin karena cuma sedikit yang udah ngirim naskahnya dan gak ada kepastian. Jadi, gue mau ngepost ceritanya disini aja. Gapapa kan? Hehehe...
Di
sekolah Minmie akan diadakan Persami (perkemahan sabtu minggu). Minmie yang
aktif dikegiatan pramuka pun berencana untuk ikut.
“Semoga
aku terpilih menjadi ketua regu dan bisa naik pangkat menjadi penggalang.” Ucap
Minmie yakin.
“Jangan
terlalu banyak bermimpi deh!” celetuk Sachi ketus. Minmie hanya membalasnya
dengan tatapan “wait and see!”
Ketika
pembagian regu, Minmie ternyata seregu dengan Sachi, Ama, Mikaela, dan Zalfa.
Minmie mengeluh dalam hati mengapa dirinya harus seregu dengan Sachi yang tak
pernah akur dengannya, yang tak pernah sepaham dengannya.
“Gimana
kalau nama regu kita regu melati saja?” usul Minmie.
“Melati?
Hii bau horor gitu ? Gak mau ah!” tolak Sachi. “Mending mawar aja.”
“Kita
tentukan pakai voting saja.” Sela Ama. Akhirnya, voting dimenangkan oleh
Minmie. Sekarang saatnya pembagian barang bawaan kelompok dan tugas mereka
selama kemping.
Hari
H pun tiba. Mereka akan berkemah di puncak. Mereka berangkat menggunakan bis
lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena jalanan dipuncak tidak
memungkinkan untuk dilewati kendaraan apalagi bis. Jalanan puncak yang
menanjak, licin, dan berbatu membuat banyak yang merasa lelah.
“Kak...
istirahat dulu kak...” rengek Sachi. “Aku capek!” keluhnya, lagi.
“Ayo
semangat! Kalian mau sampai puncak malam hari? Lihat Minmie dan Ama, mereka
belum capek sama sekali.” Jawab kak Samy, pembina pramuka mereka memberi
semangat. Sachi jadi berusaha menyusul Minmie dan Ama yang berada dipaling
depan barisan.
Mereka
berjalan cukup jauh melewati hutan yang penuh dengan serangga dan hewan reptil.
Kresek...
Kreseek... Sachi menoleh, “Aaaa.... ada kadaaal!!!!” jeritnya, spontan.
“Kadal
doang kok takut?” sindir Minmie.
Tak
lama kemudian, terdengar lagi suara jeritan Sachi. Kali ini rupanya dia
terjatuh karena tersandung akar dan ranting pohon. Minmie ingin mengobati luka
di kaki Sachi namun Sachi menolak, dia meminat agar Zalfa atau Mikaela saja
yang mengobati kakinya. Rombongan pun terpaksa berhenti dan Sachi sepertinya
harus melanjutkan perjalanan dengan kaki terpincang – pincang.
“Pakai
saja tongkat ini supaya membantumu berjalan.” Ujar Minmie sambil memberikan
tongkat panjang yang terbuat dari bambu.
“Iya,
makasih.” Jawab Sachi pelan, nyaris tak terdengar.
“Ama,
bantu kakak mengikatkan tali di pohon yang besar itu menggunakan ikatan simpul
yang pernah kakak ajarkan. Sementara ujung yang lainnya akan kakak ikatkan di
pohon seberang sungai.” Perintah kak Samy.
“Siap
kak!” jawab Ama.
Tali
itu dipergunakan untuk membantu rombongan menyeberangi sungai karena arus sungai
cukup deras. Baju mereka sampai basah karena sungai yang mereka seberangi cukup
dalam. Minmie juga sempat takut terjatuh ke sungai. Akhirnya mereka pun sampai
di perkemahan. Mereka lalu mendirikan tenda dengan tali tambang, tongkat, dan
paku yang mereka bawa. Mereka menancapkan paku di tanah lalu mengikatkan tali
tenda ke paku tersebut dan memukul paku tersebut menggunakan batu besar.
“Fiuh...
akhirnya selesai juga.” Ujar Minmie sambil menyeka keringat. Lalu Minmie
meletakkan tas bawaannya di dalam tenda dekat tas milik Ama dan mengganti
bajunya yang basah. Setelah itu, mereka berbaris di lapangan menurut regu
masing – masing. Rupanya mereka diminta untuk mengumpulkan daun yang boleh
dimakan dan yang tidak boleh dimakan serta bentuk – bentuk tulang daun
menyirip, melengkung, dan menjari masing – masing 10 daun.
“Begini
saja, kita bagi regu kita jadi dua kelompok. Aku, Zalfa, dan Mikaela
mengumpulkan daun yang tidak boleh dimakan, tulang daun menyirip dan
melengkung. Sementara Minmie dan Sachi mencari daun yang boleh dimakan dan
tulang daun menjari. Ingat, masing – masing sepuluh.” Jelas Ama.
“Hah?!”
seru Minmie dan Sachi kaget, bersamaan.
“Dan
ingat ya! Daun yang tidak boleh di makan itu bila digesekkan kekulit
menimbulkan rasa gatal atau daun yang bergetah.” Tambah Ama.
“Siap!”
mereka pun mulai mencari.
“Huh...
harus berkerjasama dengan Sachi lagi...” keluh Minmie, dalam hati.
Minmie
dan Sachi dengan cepat mengumpulkan sepuluh daun yang memiliki tulang daun
menjari karena kebetulan Sachi pandai di mata pelajaran IPA. Lalu mereka segera
mencari daun yang boleh dimakan.
“Coba
kau petik daun dari pohon di sebelah sana sementara aku akan mencari di sekitar
sini.” Tunjuk Minmie. Sachi pun menurut dan segera memetik daun dan
menggesekkannya ke kulit.
“Ini
daun yang boleh dimakan, Min. Uh..., tanganku jadi gatal – gatal kan.” Seru
Sachi bernada protes.
“Gunakan
saja liurmu supaya tanganmu tidak gatal – gatal lagi.” Jawab Minmie.
“Li...
liurku?” Sachi tergagap jijik.
“Iya,
liurmu. Kamu nggak denger waktu kak Samy bilang kalau tanganmu gatal karena
daun pakai saja air liurmu. Apa mau pakai liurku?” kata Minmie, sedikit
bercanda.
“Ah,
sebaiknya aku mencuci tanganku dengan air sungai saja.” Kata Sachi tanpa peduli
saran Minmie, berjalan menuju tepi sungai. Namun... Sreeeek...
“Aaa!
TOLONG!!!” Sachi tergelincir dan jatuh ke dalam sungai. Karena tak bisa
berenang, Sachi menggapai-gapaikan tangan dan tampak hampir
tenggelam.
“SACHIIII!!!”
teriak Minmie, panik.
Sachi
dengan cepat terseret oleh arus sungai. Minmie sempat melihat kesekitar. Gawat!
Tidak ada satu orang pun! “TOLONG!!!” teriak Minmie. Karena tidak ada yang
datang, Minmie pun mengejar Sachi yang hanya tinggal terlihat telapak tangannya
saja. Sachi pingsan dan tubuhnya terhempas disebuah batu besar.
Tanpa pikir panjang
lagi, Minmie segera berenang menyelamatkan Sachi. Sedikit sulit berenang di
arus sungai yang deras sedangkan selama ini Minmie selalu berenang di kolam
renang. Namun akhirnya Minmie dapat menyelematkan Sachi dan sekuat tenaga mengangkatnya
ke tepi sungai. Sachi masih tak sadarkan diri.
Minmie
menekan – nekan dada Sachi sekuat tenaga supaya air di dalam tubuh Sachi keluar
lewat mulutnya. Sachi pun terbatuk – batuk dan tak berapa lama kemudian, Sachi
pun sadar.
“Mi...
Minmie... maafkan aku yaa!” ucapnya, lirih.
“Sachi...
syukurlah kamu sudah sadar. Iya, Chi. Maafin aku juga. Aku berharap mulai
sekarang kita bisa berteman.” Jawab Minmie. “Ayo kita kembali ke perkemahan.”
Ajak Minmie. Minmie pun membantu Sachi yang masih dengan wajah pucat untuk
berdiri. Tak lama mereka berjalan, hujan pun turun dengan derasnya. Mereka
terpaksa berhenti dan berteduh.
“Mi...
Minmie... A... Aku... kedinginan sekali...” kata Sachi dengan nafas tersenggal
– senggal.
“Sa...
Sachi... ka... kamu... sakit asma?” tanya Minmie, khawatir.
“I...
iya, Min. Se... sepertinya... asmaku kambuh.” Jawab Sachi sambil memegang
dadanya menahan sakit. Minmie memegang tangan dan tubuh Sachi. Sangat dingin!
“Gesekkan
tanganmu, Chi. Gesekkan!” pinta Minmie.
Sachi
menggesekkan tangannya dengan lemas.
“Lebih
cepat! Lebih cepat lagi!” tambah Minmie. Sachi sudah berusaha namun badannya
terasa sangat lemas dan tidak bisa lebih cepat lagi menggesekkan tangannya.
Minmie yang khawatir dengan keadaan Sachi pun memeluknya sambil menangis.
Tak
terasa hujan pun reda, namun kondisi Sachi tak memungkinkan untuknya berjalan.
“Chi,
tunggu sini ya! Aku akan mencari kayu atau batu untuk menghangatkan diri. Siapa
tahu, aku bertemu rombongan sehingga bisa meminta tolong.” Kata Minmie beranjak
bangkit dari duduknya namun Sachi menahan tangannya dengan lembut.
“Tetaplah
di sini...” Katanya.
“Tapi
Chi...”
“Ku
mohon tetaplah di sini. Aku ingin bisa bersamamu” Jawabnya. Akhirnya Minmie
kembali duduk.
Sementara
di perkemahan, Ama yang khawatir karena Minmie dan Sachi belum juga kembali
melaporkan kepada kak Samy dan pembina – pembina yang lain. Ama, kak Samy, dan
beberapa pembina yang lain pun bergegas mencari Minmie dan Sachi. Walau Ama
sempat tidak diperbolehkan ikut, tapi Ama mendesak karena dia sebagai ketua
merasa harus tanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan anggotanya.
“Minmie!
Sachi!” panggil kak Samy dengan suara lantang.
“Minmie! Sachi!”
panggil Ama dengan suara yang tidak kalah kerasnya.
Minmie
mendengar sayup – sayup suara memanggil namanya dan Sachi namun sepertinya
masih sangat jauh karena suara itu nyaris tak terdengar. Akhirnya Minmie segera
meniup pluitnya dengan sandi morse “SOS”
berkali – kali. Sementara Sachi sudah tak sadarkan diri. Beruntung Ama, kak
Samy, dan beberapa pembina yang lain segera datang. Mereka pun membawa Sachi
turun dari puncak untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara
Minmie kembali ke tenda. Seusai ganti baju, Minmie ditemani Ama yang khawatir
dengan kabar Sachi segera menemui kak Samy.
“Kak,
bagaimana keadaan Sachi di rumah sakit sekarang? Apa dia baik – baik saja? Apa
dia sudah sadar?” tanya Minmie, harap – harap cemas takut terjadi sesuatu yang
buruk terhadap Sachi. Semoga Sachi baik – baik saja. Batinnya.
Belum
sempat kak Samy menjawab, seorang kakak pembina perempuan datang, “Sam,
Sachi... dia meninggal sebelum tiba di rumah sakit.”
“Hah?
Apaan?” jawab kak Samy, tak percaya.
“Katanya,
penyakit asma yang diderita Sachi sudah akut dan dia sudah tidak bisa
diselamatkan lagi.” Jawab kakak pembina itu.
Deg!
Minmie tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ini bohongkan?
Ini mimpikan? Tidak mungkin ini terjadi! Minmie terduduk lemas begitu
mendengarnya. Sementara kak Samy terdiam dengan wajah bersalah, bingung, sedih,
semua bercampur aduk menjadi satu.
“Mi...
Minmie... ka... kamu... baik – baik saja kan?” tanya Ama, cemas.
“Kenapa?
Kenapa Sachi dipanggil begitu cepat? Padahal... kami baru saja menjadi
akrab...” tangis Minmie. Ama mengelus pundak Minmie. Tangisan Minmie semakin
menjadi.
“Padahal
ku kira... aku bisa berteman baik dengan Sachi mulai dari sekarang... padahal
sudah lama aku berharap bisa bersahabat dengannya. Tapi kenapa disaat seperti
ini dia malah...”
“Minmie,
ini bukan salahmu kok... kamu kan sudah menyelamatkan nyawa Sachi. Ini memang
sudah takdirnya. Sachi pasti sangat berterimakasih padamu. Biarlah dia tenang
di sana, ya?” hibur Ama.
Minmie
memeluk Ama sambil tetap menangis, “Sachi... kenapa kita tidak berteman sejak
awal?, kenapa aku terlambat tahu tentangmu..?” sesal Minmie, dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar