Sabtu, 04 Oktober 2014

Terlambat Mengenalmu

Cerita ini  sebenarnya proyek gagal. jadi waktu itu, gue dikasih proyek (lagi) sama beberapa penulis lain untuk nulis buku antologi dengan pemeran utama Minmie. Udah pernah baca buku gue yang "Minmie's Birthday"? Semacam kayak gitu. Nah tapi entah kenapa tiba - tiba, proyek itu diberhentiin. Mungkin karena cuma sedikit yang udah ngirim naskahnya dan gak ada kepastian. Jadi, gue mau ngepost ceritanya disini aja. Gapapa kan? Hehehe...
   Di sekolah Minmie akan diadakan Persami (perkemahan sabtu minggu). Minmie yang aktif dikegiatan pramuka pun berencana untuk ikut.

   “Semoga aku terpilih menjadi ketua regu dan bisa naik pangkat menjadi penggalang.” Ucap Minmie yakin.
   “Jangan terlalu banyak bermimpi deh!” celetuk Sachi ketus. Minmie hanya membalasnya dengan tatapan “wait and see!”
   Ketika pembagian regu, Minmie ternyata seregu dengan Sachi, Ama, Mikaela, dan Zalfa. Minmie mengeluh dalam hati mengapa dirinya harus seregu dengan Sachi yang tak pernah akur dengannya, yang tak pernah sepaham dengannya.
   “Gimana kalau nama regu kita regu melati saja?” usul Minmie.
   “Melati? Hii bau horor gitu ? Gak mau ah!” tolak Sachi. “Mending mawar aja.”
   “Kita tentukan pakai voting saja.” Sela Ama. Akhirnya, voting dimenangkan oleh Minmie. Sekarang saatnya pembagian barang bawaan kelompok dan tugas mereka selama kemping.
   Hari H pun tiba. Mereka akan berkemah di puncak. Mereka berangkat menggunakan bis lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena jalanan dipuncak tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan apalagi bis. Jalanan puncak yang menanjak, licin, dan berbatu membuat banyak yang merasa lelah.
   “Kak... istirahat dulu kak...” rengek Sachi. “Aku capek!” keluhnya, lagi.
   “Ayo semangat! Kalian mau sampai puncak malam hari? Lihat Minmie dan Ama, mereka belum capek sama sekali.” Jawab kak Samy, pembina pramuka mereka memberi semangat. Sachi jadi berusaha menyusul Minmie dan Ama yang berada dipaling depan barisan.
   Mereka berjalan cukup jauh melewati hutan yang penuh dengan serangga dan hewan reptil.
   Kresek... Kreseek... Sachi menoleh, “Aaaa.... ada kadaaal!!!!” jeritnya, spontan.
   “Kadal doang kok takut?” sindir Minmie.
   Tak lama kemudian, terdengar lagi suara jeritan Sachi. Kali ini rupanya dia terjatuh karena tersandung akar dan ranting pohon. Minmie ingin mengobati luka di kaki Sachi namun Sachi menolak, dia meminat agar Zalfa atau Mikaela saja yang mengobati kakinya. Rombongan pun terpaksa berhenti dan Sachi sepertinya harus melanjutkan perjalanan dengan kaki terpincang – pincang.
   “Pakai saja tongkat ini supaya membantumu berjalan.” Ujar Minmie sambil memberikan tongkat panjang yang terbuat dari bambu.
   “Iya, makasih.” Jawab Sachi pelan, nyaris tak terdengar.
   “Ama, bantu kakak mengikatkan tali di pohon yang besar itu menggunakan ikatan simpul yang pernah kakak ajarkan. Sementara ujung yang lainnya akan kakak ikatkan di pohon seberang sungai.” Perintah kak Samy.
   “Siap kak!” jawab Ama.
   Tali itu dipergunakan untuk membantu rombongan menyeberangi sungai karena arus sungai cukup deras. Baju mereka sampai basah karena sungai yang mereka seberangi cukup dalam. Minmie juga sempat takut terjatuh ke sungai. Akhirnya mereka pun sampai di perkemahan. Mereka lalu mendirikan tenda dengan tali tambang, tongkat, dan paku yang mereka bawa. Mereka menancapkan paku di tanah lalu mengikatkan tali tenda ke paku tersebut dan memukul paku tersebut menggunakan batu besar.
   “Fiuh... akhirnya selesai juga.” Ujar Minmie sambil menyeka keringat. Lalu Minmie meletakkan tas bawaannya di dalam tenda dekat tas milik Ama dan mengganti bajunya yang basah. Setelah itu, mereka berbaris di lapangan menurut regu masing – masing. Rupanya mereka diminta untuk mengumpulkan daun yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan serta bentuk – bentuk tulang daun menyirip, melengkung, dan menjari masing – masing 10 daun.
   “Begini saja, kita bagi regu kita jadi dua kelompok. Aku, Zalfa, dan Mikaela mengumpulkan daun yang tidak boleh dimakan, tulang daun menyirip dan melengkung. Sementara Minmie dan Sachi mencari daun yang boleh dimakan dan tulang daun menjari. Ingat, masing – masing sepuluh.” Jelas Ama.
   “Hah?!” seru Minmie dan Sachi kaget, bersamaan.
   “Dan ingat ya! Daun yang tidak boleh di makan itu bila digesekkan kekulit menimbulkan rasa gatal atau daun yang bergetah.” Tambah Ama.
   “Siap!” mereka pun mulai mencari.
   “Huh... harus berkerjasama dengan Sachi lagi...” keluh Minmie, dalam hati.
   Minmie dan Sachi dengan cepat mengumpulkan sepuluh daun yang memiliki tulang daun menjari karena kebetulan Sachi pandai di mata pelajaran IPA. Lalu mereka segera mencari daun yang boleh dimakan.
   “Coba kau petik daun dari pohon di sebelah sana sementara aku akan mencari di sekitar sini.” Tunjuk Minmie. Sachi pun menurut dan segera memetik daun dan menggesekkannya ke kulit.
   “Ini daun yang boleh dimakan, Min. Uh..., tanganku jadi gatal – gatal kan.” Seru Sachi bernada protes.
   “Gunakan saja liurmu supaya tanganmu tidak gatal – gatal lagi.” Jawab Minmie.
   “Li... liurku?” Sachi tergagap jijik.
   “Iya, liurmu. Kamu nggak denger waktu kak Samy bilang kalau tanganmu gatal karena daun pakai saja air liurmu. Apa mau pakai liurku?” kata Minmie, sedikit bercanda.
   “Ah, sebaiknya aku mencuci tanganku dengan air sungai saja.” Kata Sachi tanpa peduli saran Minmie, berjalan menuju tepi sungai. Namun... Sreeeek...
   “Aaa! TOLONG!!!” Sachi tergelincir dan jatuh ke dalam sungai. Karena tak bisa berenang, Sachi menggapai-gapaikan tangan dan tampak  hampir  tenggelam.
   “SACHIIII!!!” teriak Minmie, panik.
   Sachi dengan cepat terseret oleh arus sungai. Minmie sempat melihat kesekitar. Gawat! Tidak ada satu orang pun! “TOLONG!!!” teriak Minmie. Karena tidak ada yang datang, Minmie pun mengejar Sachi yang hanya tinggal terlihat telapak tangannya saja. Sachi pingsan dan tubuhnya terhempas disebuah batu besar.
Tanpa pikir panjang lagi, Minmie segera berenang menyelamatkan Sachi. Sedikit sulit berenang di arus sungai yang deras sedangkan selama ini Minmie selalu berenang di kolam renang. Namun akhirnya Minmie dapat menyelematkan Sachi dan sekuat tenaga mengangkatnya ke tepi sungai. Sachi masih tak sadarkan diri.
   Minmie menekan – nekan dada Sachi sekuat tenaga supaya air di dalam tubuh Sachi keluar lewat mulutnya. Sachi pun terbatuk – batuk dan tak berapa lama kemudian, Sachi pun sadar.
   “Mi... Minmie... maafkan aku yaa!” ucapnya, lirih.
   “Sachi... syukurlah kamu sudah sadar. Iya, Chi. Maafin aku juga. Aku berharap mulai sekarang kita bisa berteman.” Jawab Minmie. “Ayo kita kembali ke perkemahan.” Ajak Minmie. Minmie pun membantu Sachi yang masih dengan wajah pucat untuk berdiri. Tak lama mereka berjalan, hujan pun turun dengan derasnya. Mereka terpaksa berhenti dan berteduh.
   “Mi... Minmie... A... Aku... kedinginan sekali...” kata Sachi dengan nafas tersenggal – senggal.
   “Sa... Sachi... ka... kamu... sakit asma?” tanya Minmie, khawatir.
   “I... iya, Min. Se... sepertinya... asmaku kambuh.” Jawab Sachi sambil memegang dadanya menahan sakit. Minmie memegang tangan dan tubuh  Sachi. Sangat dingin!
   “Gesekkan tanganmu, Chi. Gesekkan!” pinta Minmie.
   Sachi menggesekkan tangannya dengan lemas.
   “Lebih cepat! Lebih cepat lagi!” tambah Minmie. Sachi sudah berusaha namun badannya terasa sangat lemas dan tidak bisa lebih cepat lagi menggesekkan tangannya. Minmie yang khawatir dengan keadaan Sachi pun memeluknya sambil menangis.
   Tak terasa hujan pun reda, namun kondisi Sachi tak memungkinkan untuknya berjalan.
   “Chi, tunggu sini ya! Aku akan mencari kayu atau batu untuk menghangatkan diri. Siapa tahu, aku bertemu rombongan sehingga bisa meminta tolong.” Kata Minmie beranjak bangkit dari duduknya namun Sachi menahan tangannya dengan lembut.
   “Tetaplah di sini...” Katanya.
   “Tapi Chi...”
   “Ku mohon tetaplah di sini. Aku ingin bisa bersamamu” Jawabnya. Akhirnya Minmie kembali duduk.
   Sementara di perkemahan, Ama yang khawatir karena Minmie dan Sachi belum juga kembali melaporkan kepada kak Samy dan pembina – pembina yang lain. Ama, kak Samy, dan beberapa pembina yang lain pun bergegas mencari Minmie dan Sachi. Walau Ama sempat tidak diperbolehkan ikut, tapi Ama mendesak karena dia sebagai ketua merasa harus tanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan anggotanya.
   “Minmie! Sachi!” panggil kak Samy dengan suara lantang.
“Minmie! Sachi!” panggil Ama dengan suara yang tidak kalah kerasnya.
   Minmie mendengar sayup – sayup suara memanggil namanya dan Sachi namun sepertinya masih sangat jauh karena suara itu nyaris tak terdengar. Akhirnya Minmie segera meniup pluitnya dengan sandi morse “SOS” berkali – kali. Sementara Sachi sudah tak sadarkan diri. Beruntung Ama, kak Samy, dan beberapa pembina yang lain segera datang. Mereka pun membawa Sachi turun dari puncak untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara Minmie kembali ke tenda. Seusai ganti baju, Minmie ditemani Ama yang khawatir dengan kabar Sachi segera menemui kak Samy.
   “Kak, bagaimana keadaan Sachi di rumah sakit sekarang? Apa dia baik – baik saja? Apa dia sudah sadar?” tanya Minmie, harap – harap cemas takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sachi. Semoga Sachi baik – baik saja. Batinnya.
   Belum sempat kak Samy menjawab, seorang kakak pembina perempuan datang, “Sam, Sachi... dia meninggal sebelum tiba di rumah sakit.”
   “Hah? Apaan?” jawab kak Samy, tak percaya.
   “Katanya, penyakit asma yang diderita Sachi sudah akut dan dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” Jawab kakak pembina itu.
   Deg! Minmie tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ini bohongkan? Ini mimpikan? Tidak mungkin ini terjadi! Minmie terduduk lemas begitu mendengarnya. Sementara kak Samy terdiam dengan wajah bersalah, bingung, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu.
   “Mi... Minmie... ka... kamu... baik – baik saja kan?” tanya Ama, cemas.
   “Kenapa? Kenapa Sachi dipanggil begitu cepat? Padahal... kami baru saja menjadi akrab...” tangis Minmie. Ama mengelus pundak Minmie. Tangisan Minmie semakin menjadi.
   “Padahal ku kira... aku bisa berteman baik dengan Sachi mulai dari sekarang... padahal sudah lama aku berharap bisa bersahabat dengannya. Tapi kenapa disaat seperti ini dia malah...”
   “Minmie, ini bukan salahmu kok... kamu kan sudah menyelamatkan nyawa Sachi. Ini memang sudah takdirnya. Sachi pasti sangat berterimakasih padamu. Biarlah dia tenang di sana, ya?” hibur Ama.

   Minmie memeluk Ama sambil tetap menangis, “Sachi... kenapa kita tidak berteman sejak awal?, kenapa aku terlambat tahu tentangmu..?” sesal Minmie, dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar