Hari ini, Rinda masuk sekolah dengan
muka muruuung… sekali. Badannya juga lemas. Lula menyapanya: “Hai sis! Ada apa?
Cerita dong!” kata Lula diikuti anggukan sahabat-sahabatnya.
Rinda
justru menangis, dan dalam tangisannya, Rinda berkata: “Huuuuuuu... Lula, Gladis,
Fatimah… aku… aku tidak mau berpisah dengan kalian!!!”
“Lho,
kok kamu kok bicara begitu sih? Kitakan tidak akan berpisah?” tanya Lula heran.
Rinda
menggeleng, “Aku akan pindah ke sekolah di
Bekasi aku lupa apa namanya, karena aku sudah sediiih sekali!”
Akhirnya
Lula, Fatimah, dan Gladis ikut menangis tak mau kehilangan Rinda yang amat
sangat baik.
Mereka
berpelukkan sambil menangis, mereka tidak mau berpisah.
“Tolong
jangan beritahu teman – teman bila aku akan pindah... aku tak ingin mereka ikut
sedih...” tutur Rinda.
Namun,
ternyata berita kepindahan Rinda terdengar oleh Kamila, Alisya, Tasya, Fenny,
Putri, Santi, dan Lucky. Sehingga mereka ikut sedih dan tak rela.
Lula
memberikan pajangan yang ia beli saat berjalan – jalan dengan ketiga
sahabatnya, Fatimah memberikan jam weker yang bergambar sama dengan milik Lula,
Gladis memberikan bingkai foto bergambar lucu dan bertuliskan Best Friend Forever yang ia beli
waktu itu. Kamila memberikan foto dirinya dan foto saat Kamila bersama Rinda,
Alisya memberikan boneka teddy bear yang memegang hati bertuliskan ‘You Are My
Best Friend Forever’, sedangkan Tasya memberikan boneka kucing bertuliskan
‘Don’t Forget Me’. Fenny memberikan kalung setengah hati yang setengahnya ada
pada dirinya. Putri memberikan gelang bertuliskan Best Friend Forever, Santi
memberikan album – album artis idola Rinda.
Sedangkan Lucky memberikan sebuah kotak musik dan kotak make up. Rinda juga minta maaf
pada Gloria, Vian, dan Vivi karena Rinda tidak ingin perpisahan diakhiri dengan
permusuhan. Gloria bahkan sempat menangis karena tak mau kehilangan Rinda.
“Andai
dari dulu aku bersikap baik denganmu, Rind. Pasti kita akan menjadi sahabat.
Kita sudah saling mengenal sejak kecil, haruskah sekarang kita berpisah? Aku
mungkin bukan sahabatmu, tapi tolong ingat aku, Rind. Jika aku tidak enak untuk
diajak bermain denganmu setidaknya aku enak untuk diajak bertengkarkan?” tangis
Gloria mewakili Vian dan Vivi juga.
“Tenang
Gloria, aku tidak akan melupakanmu. Dan aku sudah memaafkanmu, kok!” kata
Rinda.
“Jaga
dirimu baik – baik ya, Rind. Aku pasti akan merindukanmu. Tapi, tetap kontak sama kita ya!”
kata Lula.
“Pasti!”
jawab Rinda.
“Maafin aku ya Rind, kalo selama ini aku ada salah sama kamu...”
tangis Fatimah memeluk Rinda.
“Iya, sama – sama, Mah. Aku juga minta maaf kalo aku ada salah
sama kamu yang disengaja mau pun tidak di sengaja selama ini.” Jawab Rinda.
“Rinda, berjanjilah pada kami! Suatu hari nanti, kamu akan ke
Jakarta lagi dan bertemu kembali dengan kami. Kalau ke Jakarta, kabari
kami ya! Dan satu lagi, yakinlah kamu Rinda yang namanya sebuah perpisahan
memang menyakitkan, tapi kita pasti akan dipertemukan kembali suatu hari nanti.
Bila kau yakin, pasti hal itu akan terjadi, Rinda.” ucap Gladis, gantian
memeluk Rinda.
“Aku
janji Gladis, dan aku yakin Gladis.” jawab Rinda. “For my teacher, thank you
very much telah mengajariku hingga menjadi seperti ini selama aku bersekolah di sini, For all... jaga
diri kalian baik–baik ya! I love you all... don’t forget me! I promise, Sometimes, i will back.”
kata Rinda sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
Hari ini, Rinda lesu
saja di bangku kelas barunya. Dengan seragam baru dan tata ruang kelas yang
baru. Rinda tampak sediih sekali dan ingin menangis. Akankah ia memiliki
sahabat baru yang sama baiknya dengan sahabat
lamanya di sekolah barunya ini? Rinda tertunduk
mengingat ketiga sahabatnya. Kini… mereka berpisah. Kita baca diary Rinda yuk!
Berpisah
dengan 3 Orang Peri
Dear
diary, sungguh hari ini hari yang paling menyedihkan. Aku tidak bisa berhenti
meneteskan air mata saking sedihnya dan berharap akan bertemu sahabat yang sama
baiknya dengan mereka.
Mau
tahu kenapa? Karena, hari ini, benar – benar perpisahan. aku, harus pindah ke
SNBI di Bekasi. Aku tak tega harus meninggalkan mereka, begitu juga mereka. Ini
saja juga aku lakukan dengan ½ hati dan terpaksa.
Bukan
masalah teman – temannya menyebalkan, gurunya tidak benar mendidikku, dan
sebagainya, tetapi karena papaku pindah pekerjaan. Aku terpaksa harus pisah dari mereka, aku tidak tahu
apakah akan bertemu mereka lagi suatu saat nanti ataukah tidak.
Sampai
aku hendak tidur aku masih susah tidur. Aku tak sanggup berpisah dengan Lula,
Gladis, Fatimah, Lucky, Kamila, Fenny, Alisya, Lucky dan Tasya. Semua sahabat
bagiku.
Aku tak
bisa melihat Lula yang tomboy dan lincah, Gladis yang cerewet dan centil,
Fatimah yang pintar dan pendiam lebih suka menghindar dari pokok masalah,
Kamila yang paling pede dan pemberani diantara teman perempuan di kelas walau
kadang seperti Fatimah dan sedikit pemalu,
Lucky yang paling dekat dengan anak perempuan, paling baik dan pintar, Fenny
yang hidupnya malang dan paling lugu, dan si kembar yang selalu bersama dan
menghibur.
Aku
selalu bersama mereka semua, bercanda, tawa, riang, senang, sedih, marah semua
dihadapi bersama. Aku masih ingat saat kita bertengkar, aku masih ingat dan
menyimpan benda kenang-kenangan kita, aku masih ingat Meong yang kami rawat bersama, aku masih ingat saat
kami berenang bersama, saat kami saling membantu, saat bermain congklak,
bermain lompat tali bersama, saat belajar bersama juga saat liburan kami saling
surat–suratan bersama, menginap di rumahku bersama, memenangkan lomba bersama,
berlibur, hingga berbelanja bersama. Aku
juga masih ingat, setiap istirahat kami mencari tempat yang nyaman untuk
membaca isi diaryku ini. Apakah ini akhir dari sebuah cerita?
Aku tak
akan melupakan kenangan manis yang kami lewati bertahun – tahun bersama. Bagiku
mereka adalah sahabat yang tak terganti dan sahabatku yang terbaik, bahkan
bukan sahabat lagi, aku menganggap mereka saudara kandungku, bahkan peri. Ya
peri penyelamat hati, di mana
saat hatiku sedih atau marah mereka
selalu ada bersamaku, menasihatiku atau
membelaku jika aku memang benar.
Tanpa
mereka, mungkin aku… bukan apa – apa. Lula,
Gladis, Fatimah, Lucky, Kamila, Fenny, Alisya, dan Tasya. I heart you and I
never forget you! Sebelum
pergi aku menyempatkan diri berfoto,
berpelukkan dan pamit pada guru – guruku
di sekolah itu.
Thanks
Rinda Mutiara Murni
Kini
yang tersisa hanya kenangan manis bersama sahabatnya. Membaca diary-nya mungkin
hal yang menyedihkan baginya. Juga berharap memiliki sahabat baru yang sama
baiknya, tapi mereka tetap tak bisa terganti.
“Anak
– anak! Di sini
ada murid baru, silakan kemari, nak!”
kata pak guru wali kelas.
Rinda
dengan lesu, maju dengan raut muka sedih.
“Na…
nama… saya… Rinda Mutiara Murni, biasa… di… di panggil... Rinda. A… aku... pindah sekolah karena…
ayahku pin… pindah pekerjaan ke Bekasi. Aku
pindahan dari... Jakarta. Salam kenal!” lalu dia
dengan buru – buru kembali ke tempat duduknya dan menangis.
“Ada
apa Rinda?” tanya seorang perempuan.
Rinda
menggeleng.
Perempuan
itu berkata lagi, “Namaku Amanda. Kamu pasti berat berpisah dengan sahabat –
sahabatmu kan? Aku dulu juga begitu saat baru pindah kemari. Relakan saja,
percayakan mereka akan mengingatmu, persahabatan kalian tidak akan putus, dan…
percaya suatu hari nanti kalian akan bertemu kembali. Jangan kau ingat – ingat
kenangan manis terus… kalau kau kangen dengan mereka, barulah kau ingat.”
Nasihat Amanda sambil tersenyum.
Rinda
menatapnya. “Terimakasih Amanda…, kau… sama seperti sahabatku, Lula. Orangnya
baiiik sekali padaku, Dia… mungkin sahabat pertamaku
di sekolah itu sekaligus terbaik.” Kata Rinda tersenyum
walau matanya masih sembab karena menangis. Amanda jadi heran tapi
tetap tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar