Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 12

   Hari ini, Rinda masuk sekolah dengan muka muruuung… sekali. Badannya juga lemas. Lula menyapanya: “Hai sis! Ada apa? Cerita dong!” kata Lula diikuti anggukan sahabat-sahabatnya.

   Rinda justru menangis, dan dalam tangisannya, Rinda berkata: “Huuuuuuu... Lula, Gladis, Fatimah… aku… aku tidak mau berpisah dengan kalian!!!”
   “Lho, kok kamu kok bicara begitu sih? Kitakan tidak akan berpisah?” tanya Lula heran.
   Rinda menggeleng, “Aku akan pindah ke sekolah di Bekasi aku lupa apa namanya, karena aku sudah sediiih sekali!”
   Akhirnya Lula, Fatimah, dan Gladis ikut menangis tak mau kehilangan Rinda yang amat sangat baik.
   Mereka berpelukkan sambil menangis, mereka tidak mau berpisah.
   “Tolong jangan beritahu teman – teman bila aku akan pindah... aku tak ingin mereka ikut sedih...” tutur Rinda.
   Namun, ternyata berita kepindahan Rinda terdengar oleh Kamila, Alisya, Tasya, Fenny, Putri, Santi, dan Lucky. Sehingga mereka ikut sedih dan tak rela.
   Lula memberikan pajangan yang ia beli saat berjalan – jalan dengan ketiga sahabatnya, Fatimah memberikan jam weker yang bergambar sama dengan milik Lula, Gladis memberikan bingkai foto bergambar lucu dan  bertuliskan Best Friend Forever yang ia beli waktu itu. Kamila memberikan foto dirinya dan foto saat Kamila bersama Rinda, Alisya memberikan boneka teddy bear yang memegang hati bertuliskan ‘You Are My Best Friend Forever’, sedangkan Tasya memberikan boneka kucing bertuliskan ‘Don’t Forget Me’. Fenny memberikan kalung setengah hati yang setengahnya ada pada dirinya. Putri memberikan gelang bertuliskan Best Friend Forever, Santi memberikan album – album artis idola Rinda. Sedangkan Lucky memberikan sebuah kotak musik dan kotak make up. Rinda juga minta maaf pada Gloria, Vian, dan Vivi karena Rinda tidak ingin perpisahan diakhiri dengan permusuhan. Gloria bahkan sempat menangis karena tak mau kehilangan Rinda.
   “Andai dari dulu aku bersikap baik denganmu, Rind. Pasti kita akan menjadi sahabat. Kita sudah saling mengenal sejak kecil, haruskah sekarang kita berpisah? Aku mungkin bukan sahabatmu, tapi tolong ingat aku, Rind. Jika aku tidak enak untuk diajak bermain denganmu setidaknya aku enak untuk diajak bertengkarkan?” tangis Gloria mewakili Vian dan Vivi juga.
   “Tenang Gloria, aku tidak akan melupakanmu. Dan aku sudah memaafkanmu, kok!” kata Rinda.
   “Jaga dirimu baik – baik ya, Rind. Aku pasti akan merindukanmu. Tapi, tetap kontak sama kita ya!” kata Lula.
   “Pasti!” jawab Rinda.
   “Maafin aku ya Rind, kalo selama ini aku ada salah sama kamu...” tangis Fatimah memeluk Rinda.
   “Iya, sama – sama, Mah. Aku juga minta maaf kalo aku ada salah sama kamu yang disengaja mau pun tidak di sengaja selama ini.” Jawab Rinda.
   “Rinda, berjanjilah pada kami! Suatu hari nanti, kamu akan ke Jakarta lagi dan bertemu kembali dengan kami. Kalau ke Jakarta, kabari kami ya! Dan satu lagi, yakinlah kamu Rinda yang namanya sebuah perpisahan memang menyakitkan, tapi kita pasti akan dipertemukan kembali suatu hari nanti. Bila kau yakin, pasti hal itu akan terjadi, Rinda.” ucap Gladis, gantian memeluk Rinda.
   “Aku janji Gladis, dan aku yakin Gladis.” jawab Rinda. “For my teacher, thank you very much telah mengajariku hingga menjadi seperti ini selama aku bersekolah di sini, For all... jaga diri kalian baik–baik ya! I love you all... don’t forget me! I promise, Sometimes, i will back.” kata Rinda sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
Hari ini, Rinda lesu saja di bangku kelas barunya. Dengan seragam baru dan tata ruang kelas yang baru. Rinda tampak sediih sekali dan ingin menangis. Akankah ia memiliki sahabat baru yang sama baiknya dengan sahabat lamanya di sekolah barunya ini? Rinda tertunduk mengingat ketiga sahabatnya. Kini… mereka berpisah. Kita baca diary Rinda yuk!

Berpisah dengan 3 Orang Peri

   Dear diary, sungguh hari ini hari yang paling menyedihkan. Aku tidak bisa berhenti meneteskan air mata saking sedihnya dan berharap akan bertemu sahabat yang sama baiknya dengan mereka.
   Mau tahu kenapa? Karena, hari ini, benar – benar perpisahan. aku, harus pindah ke SNBI di Bekasi. Aku tak tega harus meninggalkan mereka, begitu juga mereka. Ini saja juga aku lakukan dengan ½ hati dan terpaksa.
   Bukan masalah teman – temannya menyebalkan, gurunya tidak benar mendidikku, dan sebagainya, tetapi karena papaku pindah pekerjaan. Aku terpaksa harus pisah dari mereka, aku tidak tahu apakah akan bertemu mereka lagi suatu saat nanti ataukah tidak.
   Sampai aku hendak tidur aku masih susah tidur. Aku tak sanggup berpisah dengan Lula, Gladis, Fatimah, Lucky, Kamila, Fenny, Alisya, Lucky dan Tasya. Semua sahabat bagiku.
   Aku tak bisa melihat Lula yang tomboy dan lincah, Gladis yang cerewet dan centil, Fatimah yang pintar dan pendiam lebih suka menghindar dari pokok masalah, Kamila yang paling pede dan pemberani diantara teman perempuan di kelas walau kadang seperti Fatimah dan sedikit pemalu, Lucky yang paling dekat dengan anak perempuan, paling baik dan pintar, Fenny yang hidupnya malang dan paling lugu, dan si kembar yang selalu bersama dan menghibur.
   Aku selalu bersama mereka semua, bercanda, tawa, riang, senang, sedih, marah semua dihadapi bersama. Aku masih ingat saat kita bertengkar, aku masih ingat dan menyimpan benda kenang-kenangan kita, aku masih ingat Meong yang kami rawat bersama, aku masih ingat saat kami berenang bersama, saat kami saling membantu, saat bermain congklak, bermain lompat tali bersama, saat belajar bersama juga saat liburan kami saling surat–suratan bersama, menginap di rumahku bersama, memenangkan lomba bersama, berlibur, hingga berbelanja bersama. Aku juga masih ingat, setiap istirahat kami mencari tempat yang nyaman untuk membaca isi diaryku ini. Apakah ini akhir dari sebuah cerita?
   Aku tak akan melupakan kenangan manis yang kami lewati bertahun – tahun bersama. Bagiku mereka adalah sahabat yang tak terganti dan sahabatku yang terbaik, bahkan bukan sahabat lagi, aku menganggap mereka saudara kandungku, bahkan peri. Ya peri penyelamat hati, di mana saat hatiku sedih atau marah mereka selalu ada  bersamaku, menasihatiku atau membelaku jika aku memang benar.
   Tanpa mereka, mungkin aku… bukan apa – apa. Lula, Gladis, Fatimah, Lucky, Kamila, Fenny, Alisya, dan Tasya. I heart you and I never forget you! Sebelum pergi aku menyempatkan diri berfoto, berpelukkan dan pamit pada guru – guruku di sekolah itu.
   Thanks
Rinda Mutiara Murni

   Kini yang tersisa hanya kenangan manis bersama sahabatnya. Membaca diary-nya mungkin hal yang menyedihkan baginya. Juga berharap memiliki sahabat baru yang sama baiknya, tapi mereka tetap tak bisa terganti.
   “Anak – anak! Di sini ada murid baru, silakan kemari, nak!” kata pak guru wali kelas.
   Rinda dengan lesu, maju dengan raut muka sedih.
   “Na… nama… saya… Rinda Mutiara Murni, biasa… di… di panggil... Rinda. A… aku... pindah sekolah karena… ayahku pin… pindah pekerjaan ke Bekasi. Aku pindahan dari... Jakarta. Salam kenal!” lalu dia dengan buru – buru kembali ke tempat duduknya dan menangis.
   “Ada apa Rinda?” tanya seorang perempuan.
   Rinda menggeleng.
   Perempuan itu berkata lagi, “Namaku Amanda. Kamu pasti berat berpisah dengan sahabat – sahabatmu kan? Aku dulu juga begitu saat baru pindah kemari. Relakan saja, percayakan mereka akan mengingatmu, persahabatan kalian tidak akan putus, dan… percaya suatu hari nanti kalian akan bertemu kembali. Jangan kau ingat – ingat kenangan manis terus… kalau kau kangen dengan mereka, barulah kau ingat.” Nasihat Amanda sambil tersenyum.

   Rinda menatapnya. “Terimakasih Amanda…, kau… sama seperti sahabatku, Lula. Orangnya baiiik sekali padaku, Dia… mungkin sahabat pertamaku di sekolah itu sekaligus terbaik.” Kata Rinda tersenyum walau matanya masih sembab karena menangis. Amanda jadi heran tapi tetap tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar