Malam harinya, Yuki melakukan siasat
itu. Dengan berbagai cara, akhirnya
dia berhasil keluar dari kamarnya sembari
menyamarkan penampilannya
agar tidak ketahuan oleh orangtuanya. Lalu berlari menuju rumah pak Yuda dan bu
Yurika. Terengah-engah Yuki mengetuk pintu rumah mereka
keras-keras sembari berteriak..
“Pak
Yuda, bu Yurika… cepat kabur
dari sini…!”
kata Yuki membangunkan
mereka.
“Ada
apa?” tanya pak Yuda panik membuka
pintu.
“Nanti
saja aku membicarakannya. Sekarang, kita harus berlari ke… ke… GUA!” ajak Yuki.
Karena terbawa panik maka dengan
cepat – cepat mereka berkemas pakaian dan sebagainya.
Yuki,
pak Yuda, dan bu Yurika kabur menuju sebuah gua yang gelap ditepi desa. Di situ Yuki berkata:
“Hah… di sini
aman. Sekarang saatnya Yuki bercerita apa yang terjadi sebenarnya.”
“Aku
ketahuan bahwa aku belajar bela diri pencak silat. Aku tadi dikurung di kamar,
tapi aku berhasil kabur.
Lalu, ayah akan menangkap kalian berdua. Aku takut, aku tak bisa tidur dan
akhirnya aku ke rumah kalian. Aku tak ingin
kalian tertangkap. Maafkan aku telah menyusahkan”
jelas Yuki panjang lebar.
“Ooh…
biarlah saya memelukmu…” seru bu Yurika lalu memeluk Yuki.
“Lalu,
bagaimana strategimu?” tanya pak Yuda.
“Aku
akan DUEL melawan AYAH.” Jawab Yuki yakin.
“Apa?
Itu tidak mungkin. Ayahmu memiliki ilmu
bela diri tertinggi. Pak Yuda mungkin juga akan
terdesak bila melawan ayahmu.” Bisik pak Yuda.
“Aku
tak takut. Ayah pasti tak akan tega menyakitiku. Tapi aku juga butuh persiapan
ekstra. Ajari aku menggunakan tongkat. Pak guru pasti tidak keberatan untuk
mengajariku kan?”
tanya Yuki.
“Aku
akan mengajarimu. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya pak Yuda.
“Aku
akan meminta taruhan. Bila aku menang melawan ayah, aku diperbolehkan
melanjutkan latihan pencak silat. But,
if i can’t be a winner, I will be say good bye to pencak
silat, mr. Yuda, and mrs. Yurika too.” Jelas Yuki.
“Bagaimana
pak?” tanya bu Yurika pada
pak Yuda.
“Hm…
tidak ada pilihan lain. Cuma duel itu satu – satunya jalan agar kita bisa
keluar dari gua ini. Aku akan melatihmu sampai ayahmu mencari kita. Setelah itu keluarlah
dari gua ini dan temui ayahmu. Kita tunggu sampai berita hilangnya kita menyebar diberbagai
pelosok. Oke?” tanya pak Yuda.
Yuki
mengangguk sambil tersenyum.
Semenjak
hari itu, Yuki latihan di gua, air terjun, dan sungai yang tak jauh dari gua
itu agar tidak diketahui keberadaannya. Sementara itu
di rumah Yuki…
“Ayah!
Ayah! Gawat ayah! Yuki hilang! Yuki kabur!” jelas kak Sandy dan ibu panik, saat
bangun pagi – pagi sekali.
“Apa?!
Kok bisa?” tanya sang ayah.
“Kami
tidak tahu, kemungkinan besar dia kabur dari rumah tadi malam.” Jelas kak
Sandy.
“Ini
sudah tidak benar. Mari kita cari Yuki!” perintah sang ayah.
“Cepat yah... dia belum makan pagi...” ucap ibu, panik.
Kak
Sandy menurut. Sementara itu, ibu berkata: “Ayah, bagaimana dengan nasib
guru-guru Yuki?”
“Katanya
mereka juga menghilang.” Jawab ayah.
“Benarkah
itu yah? Kalau begitu… jangan jangan…” omongan ibu terputus.
“Jangan
jangan apa bu?” tanya ayah. Segera...
“Cari
YUKI!!!” perintah ayah. Semua pesuruh dan agen rahasia mencari Yuki mencari ke
pelosok desa. Tapi tidak ketemu. Mereka lapor ke pihak berwajib, hasilnya
nihil. Dan untuk terakhir kalinya mereka
melapor ke kepala desa untuk mengumumkan hal ini pada seluruh penduduk desa,
tapi hasilnya sama saja, sia – sia. Padahal Yuki tinggal cukup dekat dari desa,
tapi tidak ada di desa.
Suatu hari… Yuki berjalan ke desa lalu menemui pemerintahan desa
untuk mengadakan duel itu. Tentu disetujui sebab Yuki mengancam jika tidak
diperbolehkan dia akan pergi merantau dan tidak pernah kembali.
Akhirnya, Yuki dipertemukan dengan keluarganya tapi untuk
menantang ayahnya berduel. Pertarungan antar ayah dan anak berlangsung lama dan sengit. Namun, pada akhirnya jurus-jurus Yuki
membuat ayah tak bisa mengelak lagi…
“Ayah menyerah!, ayah sudah terlalu tua untuk melakukan duel panjang” kata ayahnya. “Ayah liat kamu
sangat menguasai jurus – jurus silat. Ayah rasa kamu
sangat mencintai pencak silat. Apakah kau selalu latihan dengan bersungguh –
sungguh selama ini nak?” Yuki tersenyum
lalu mengangguk.
“Baiklah… ayah akui kau memang hebat, jadi, ayah memperbolehkan
kau kembali latihan pencak silat.” Seru ayah.
Sorak sorai dan tepuk tangan penduduk desa meriah
terdengar.
“Benarkah itu ayah? Oh senang sekali aku, terimakasih ayah!” seru
Yuki memeluk sang ayah.
“Tunggu…” kata sebuah suara. “Siapa yang bertanggung jawab atas
ini?”
Ayah melihat sosok lelaki yang tak disukainya dengan tatapan
tajam.
“Semoga kau masih ingat dengan peraturannya James… bahwa… kau
tidak boleh langsung terjun ke arena pertarungan seperti ini.” Jelas ayah
tajam.
“Ya, aku ingat, dan semoga kau masih ingat atas peraturannya
Jackie… bahwa perempuan tidak diperbolehkan ikut bela diri. Aku tahu, karena alasan
itu, kau melarang putrimu kan? Sementara itu, putrimu sangat menyukai bela diri
namun kau tidak pernah menjelaskannya secara detail bahwa ini masih zaman
PERANG!” jelas lelaki bernama James.
“Nama ayahku Jack!” bentak Yuki tajam.
“Baik!” jawab pak James. “Kau, aku dan Yuda berada di tempat itu!
Saat pembacaan peraturan jadi jangan bersikap bodoh bahwa kau lupa pada
peraturan.”
“Ya, memang aku tahu peraturan itu, tapi aku dan Yuda tidak
menyepakatinya.
Lagi pula, ini sesuai peraturan dan diizinkan oleh pihak berwenang.” Jelas ayah.
“Apa? Jadi, ayah dan pak Yuda sudah berteman sejak dulu?” tanya
Yuki pelan.
“Ya nak, maafkan ayah.” Jawab ayah.
“Hentikan!!!” seru pak kepala desa, melerai. “Secara adat
tradisional, kita menyelesaikan masalah secara DUEL…”
“Yeay!!!” sorak sorai para penduduk
bergemuruh. Namun tiba – tiba…
DHUAR!!!
DHUAAR!! Bunyi bom di mana –
mana. Orang – orang panik dan berlari berhamburan.
“Cepat lari dari sini Yuki!!!” seru ibu dan ibu Yurika
berbarengan.
“Tapi bu, ayah? Kakak?” tanya Yuki.
“Lupakan mereka! Cepat lari!” seru mereka sambil terus berlari.
“Bu Yurika! Bawa ibu ke gua tempat persembunyian kita, sementara
itu, aku akan membantu ayah, kakak, pak Yuda, dan yang lainnya menjaga dan
mempertahankan wilayah kita, desa kita!.” Jelas Yuki.
“Jangan nak! Jangan bersikap bodoh! Mereka bukanlah tandinganmu! Ayo cepat kabur! Lari!” seru ibu.
“Tidak! Aku tidak mau! Tapi aku berjanji, aku akan kembali ke gua
dengan keadaan selamat dan sehat!” seru Yuki.
Yuki
segera menuju arena kerusuhan dan beesama
yang lain melawan para bandit
yang menyerang desanya. Dia berusaha mengingat – ingat gerakan dan jurus silat
apa yang pernah dipelajarinya selama ini.
Ya, dia berhasil. Dia berhasil mengalahkan beberapa bandit hingga
tumbang. Dia tidak terluka parah, tangan dan kakinya hanya tergores dan sedikit lecet. Lalu dia kembali ke gua dengan nafas tersenggal – senggal.
“Ibu… ibu… aku selamat ibu!!!” pekik Yuki, masih terengah - engah. Ibu dan ibu Yurika segera bangkit dan menghampiri Yuki. Namun, tiba – tiba saja Yuki pingsan.
“Yuki!!!” pekik mereka bersamaan. Yuki diobati oleh ibu dan bu Yurika. Ibu menyelimuti badan Yuki juga
meletakkannya di atas alas. Ibu Yurika turut membantu dengan mengkompres Yuki.
Setiap luka Yuki diobati.
Yuki pingsan cukup lama mungkin ada setengah jam.
“Eh… ng… e… i… ibu…” seru Yuki lirih.
“Yuki… kau tidak apa – apa nak? Alhamdulillah kau sudah siuman…”
seru ibunya memeluk Yuki.
“Yuki, minumlah
air seadanya ini agar kau lebih pulih” ujar ibu Yurika.
Yuki menganggu. Kini semangat dan energi Yuki pulih kembali karena
ada dua orang yang menyayanginya dan merawatnya.
“Um… ibu… ayah, kakak, dan pak guru mana?” tanya Yuki.
“Entahlah sayang… mereka belum pulang kemari. Mungkin tugasnya
masih banyak.” Jelas ibu. “Tapi, ibu bangga punya anak perempuan seberani kamu
lho… jarang ada anak perempuan sebayamu yang jago pencak silat, pemberani, dan
mampu mengalahkan penjahat seperti halnya laki - laki.”
“Hehehe… terimakasih bu… tapi… Yuki baru ingat! Senin besokkan
Yuki sudah kembali ke sekolah.” Ujar Yuki.
“Berarti sekarang kamu tidak boleh banyak beraktifitas dan jangan
terlalu banyak berfikir ya!” nasihat ibu.
“Iya bu… tapi… Yuki terus memikirkan ayah, kakak, dan pak guru
bu…” jawab Yuki lirih.
“Yuki, yakinlah mereka pasti akan kembali dengan selamat dan
sehat.” Jelas ibu. Baru selesai ibu berbicara, datanglah ayah, kakak, dan pak
guru.
“Ayah! Kakak! Pak Yuda!” pekik Yuki sembari memeluk mereka satu
persatu. “Kalian tidak apa – apa kan?”
“Kami tidak apa – apa kok nak… terimakasih…” jawab ayah.
“ kami ingin membersihkan luka sekaligus mengobati luka yang ada
terlebih dahulu.” Jawab pak guru.
“Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu.” Jelas ibu Yurika.
Setelah mereka mengobati dan membersihkan luka mereka mereka makan
bersama. Yuki tersenyum dan melihat keluarga mereka satu persatu.
“Oh ya, terus terang saya bangga dengan Yuki. Karena dia adalah
anak perempuan yang pertama kali bisa mengalahkan bandit di desa ini…” puji
ayah.
“Umurnya pun masih 11 tahun, sungguh
mengherankan…” puji kak Sandy tak mau kalah.
“Bahkan, dia membuktikan bahwa dia belajar dengan sungguh –
sungguh. Saya bangga memiliki murid sepertinya.” Tambah pak guru.
“Terimakasih semuanya… ini berkat kalian. Setelah kondisi kembali
aman dan stabil, mari kita kembali pulang ke rumah.” Jelas Yuki.
Setelah mereka kembali ke rumah, Yuki menjadi topik pembicaraan para penduduk.
“Apakah benar dia berhasil mengalahkan bandit?”
“Apakah dia akan dikenai hukuman atas pelanggarannya?”
“Apakah pemerintah desa menyetujui kesepakatannya?”
“Ba… baik baik… saya akan jelaskan, bahwa saya itu cuma senang pencak silat. Saya semangat menekuni
hobi saya tersebut sehingga saya menjadi seperti ini. Saya mengenal pencak silat dari ayah dan
kakak yang mengetahuinya. Namun
orangtua saya tidak setuju dan menentang saya, sehingga saya berlatih beberapa
minggu dan saya menantang orangtua saya duel. Dan alhamdulillah saya menang.
Dan ini berarti saya diperbolehkan menekuni hobi saya.” Cerita Yuki panjang
lebar. “Terimakasih.”
Yuki juga menjadi bahan pembicaraan teman-teman di
sekolahnya.
“Wah… Yuki!!! Kau hebat sekali! Bagaimana kau melakukannya?” tanya
seorang teman Yuki.
“Ayahku juga kebetulan sempat mengalahkan bandit, dan dia
melihatmu sendiri mengalahkan para bandit. Wow! Ayah langsung bercerita padaku
bahwa kau sungguh hebat.” Puji seorang teman Yuki.
“Hehehe… terimakasih teman – teman.” Jawab Yuki tersipu malu.
“Lalu, apakah orangtuamu akhirnya setuju?” tanya seorang teman
Yuki diikuti anggukan teman Yuki yang lain.
“Hm… belum tahu siih…” jawab Yuki.
Selain
ada yang memuji ada juga yang iri dan mencelanya.
“Huh! Begitu saja siih kecil…” seru seseorang yang satu sekolah
dengan Yuki, karena iri.
“Kalau begitu buktikan dong!” seru seorang teman Yuki yang membela
Yuki.
Ada juga yang menjauhi Yuki dan sebagai alasannya mereka berkata:
“Yuki berubah!” padahal Yuki tidak merasa ada perubahan di dalam dirinya. Ada
yang berujar begini: “Bu! Masa dia boleh ikut pencak silat sedangkan kami
tidak? Itukan tidak adil namanya!” tapi ibu guru hanya tersenyum. Ibu guru tahu bahwa ada
murid yang iri di antara yang suka.
“Kalau kalian ingin seperti Yuki, tekunilah hobi kalian.” nasihat
bu guru. Setelah anak – anak itu pergi, bu guru menghampiri Yuki.
“Yuki! Selamat ya! Kau telah membuktikan bahwa perempuan sederajat
dengan pria. Kau juga membuktikan asalkan kita punya keberanian untuk
menunjukkan bakat kita yang ditentang atau tidak diketahui oleh orangtua kita,
kita bisa menjadi berharga bagi mereka. Kau membanggakan kami semua. Keluarga,
guru, dan sekolahmu. Semoga tindakanmu ini dicontoh semua orang untuk tujuan
positif ya!” jelas ibu guru.
“Terimakasih bu…” jawab Yuki sambil tersenyum.
Teng!!! Teng!!! Teng!!! Bel sekolah berbunyi. Seusai membaca do’a
bersama, Yuki dan teman – temannya berhamburan keluar kelas.
“Yuki! Kamu dijemput tidak?” tanya seorang teman Yuki.
“Hm… tidak tahu deh! Kenapa?” tanya Yuki.
“Tak apa. Aku pulang duluan ya! Bye!” seru teman Yuki tadi.
Yuki pun duduk di taman sambil membaca buku pelajaran. Cukup lama
dia membaca buku pelajaran. Lalu seorang teman Yuki yang lain menghampirinya.
“Yuki! Belum pulang?” tanya temannya Yuki itu.
“Belum habisnya belum dijemput siih! kenapa?” tanya Yuki.
“Tuh! Ayahmu sudah menunggu di depan gerbang sekolah!” ujar
temannya Yuki itu.
“Oh ya! terimakasih.” Jawab Yuki sambil memasukkan buku
pelajarannya.
Yuki menenteng tasnya, menuju ayahnya
dan pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar