Aku baru duduk di bangku SMP.
Namun, aku memiliki dua orang sahabat baru yaitu Osyi dan Ernita. Sayangnya,
akhir – akhir ini Osyi berubah sikapnya. Entah kenpa dia jadi suka melamun,
tersenyum sendiri, bahkan tertawa tanpa sebab. Dia jadi suka di luar kelas
dibanding di dalam kelas. Jika istirahat, ada saja alasan untuk ke kantin dan
setiap pergantian jam pelajaran, dia selalu izin ke kamar mandi. Pernah suatu
ketika aku dan Ernita melihat mata Osyi sembab sehabis dari kamar mandi.
Mungkin dia habis menangis karena ada masalah, tapi aku maupun Ernita tidak
berani bertanya lebih lanjut karena takut Osyi merasa tersinggung.
Selama ini, Osyi terkenal anak yang cuek, tomboy, namun periang,
ramah, asyik, dan cerewet. Tapi akhir – akhir ini dia menjadi pendiam dan
sedikit girlie. Baru kemarin aku mencium bau parfum pada tubuhnya ketika dia
baru datang ke sekolah. Padahal dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
“Osyi, tumben kamu tampil seperti ini. Akhir – akhir ini... kamu
beda banget deeh! Rambutmu disisir, pakainamu rapi dan bersih, tubuhmu harum.
Biasanya kamu cuek... Sekarang kamu jadi... semakin cantik aja.” tuturku,
melihat perubahan dari dalam diri Osyi yang berubah 180 derajat.
“Hehehe... makasih Schell...” jawabnya malu.
“Kamu lagi... suka sama cowok yaa?” goda Ernita. Mendadak wajah
Osyi jadi memerah dan gugup, “Eeh... Ng... anu... nggak kok, Nit...”
“Lho, emangnya kenapa kalau suka sama cowok? Wajar kali... kitakan
cewek... masa cewek suka sama cewek? Hahaha...” ujarku. Semua tertawa
mendengarnya.
“Schell... Osyi kenapa sih? Akhir – akhir ini berubah banget?”
tanya Ernita, ketikaku bermain ke rumahnya.
“Iya siih dia emang berubah banget akhir – akhir ini.Tapi...
selama nggak merugikan sih no problem!” cetusku.
“Tapi Schell... Aku rasa... Dia menyembunyikan sesuatu deeh dari
kita. Kira – kira apa yaa?” tanya Ernita, penasaran.
“Mungkin... dia sedang mengagumi seseorang. Yaah... seperti
katamu...” ceplosku.
“Siapa yaa orangnya?” tanya Ernita, lagi.
“Aah... kamu juga berubah... jadi kepo... gak perlu penasaran kali
Er...” sindirku.
“Iih... bukan begitu... diantara kita bertiga cuma dia yang paling
tomboy. Ajaib rasanya kalau sampai mengagumi sosok cowok.” Jelas Ernita, sok
serius.
“Eh jadi gak ke warnet? Tadi ngajakin ke warnet... katanya mau
lihat MV SNSD terbaru.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Eh, iya deh! Ayo... aku izin dulu yaa!” kata Ernita. Ernita pun
segera izin kepada orang tuanya. Setelah diizinkan, aku dan Ernita pun pergi ke
warnet.
“Eh Schell... sini sebentar deeh...” panggil Ernita.
“Kenapa?” tanyaku sembari berlari kecil menghampiri Ernita.
“Kamu lihat gak cowok yang pake celana hitam dan kaos putih?”
tanya Ernita sambil berbisik – bisik.
“Iya, tahu...itu kak Reva kan? emang kenapa?” tanyaku.
“Dia kan anak kelas 8.9.” jelas Ernita.
“Terus?”
“Dia pinter tahu!” Ernita sedikit gusar akan pertanyaanku.
“Lalu?”
“Ganteng lagi...” tambah Ernita.
“Kamu nge-fans sama kak Reva?” pekikku, kaget sambil membelalakkan
kedua mataku tak percaya.
“Sst... jangan keras – keras... nanti ketahuan... iya...”
jawabnya. Gubrak! Nyaris saja aku tumbang karena kaget dan tak percaya. Ya
ampun... kak Reva? Memang siih dia famous... secara pintar, anak OSIS, dan anak
basket tapi... sudahlah... selera orang memang berbeda. Mungkin hanya aku
diantara yang lainnya yang tidak normal kalinya? Buktinya tidak ada yang ku
kagumi dan ku sukai tuh di sekolah.
“Eh, lanjut yuk ke warnet...” ajak Ernita sambil menarik lenganku.
Sesampainya di warnet, aku membuka Twitter. Aku men-stalk Twitter
milik Osyi.
“Nit... nama Twitter kak Reva emangnya apa?” tanyaku.
“Lihat aja di following-ku. Aku lagi cari berita terbaru tentang
SNSD niih!” jawab Ernita yang duduk di sampingku tanpa menatapku sedikit pun
karena sedang sibuk. Aku pun mencari nama Ernita dan mencari Twitter kak Reva
di following.
“Emangnya kenapa, Schell?” tanya Ernita.
“Ah nggak... mau nge-stalk Twitternya saja.” Jawabku, berbohong.
Padahal ku lihat akhir – akhir ini Osyi dan kak Reva dekat. Mereka sering
mention – mention-an di Twitter. Mungkin Ernita tidak mengetahuinya karena dia
memang jarang online. Hanya sebulan sekali ia pergi ke warnet untuk online. Aku
sengaja berbohong supaya tidak mengecewakan Ernita.
“Emang kamu difollback sama kak Reva?” tanyaku.
“Nggak... tahu tuh!” jawab Ernita, kesal.
“Ooh... kirain...” jawabku.
Perasaanku mulai tidak enak. Aku takut Ernita dan Osyi menyukai
orang yang sama yakni kak Reva. Namun, ku buang pikiran negatif itu jauh –
jauh. Ku harap baik – baik saja. Tak ada hal buruk yang terjadi.
Keesokkan harinya..., Ernita datang langsung bercerita mengenai
kak Reva di depanku dan Osyi. Setelah itu, dia pergi sebentar ke kamar mandi.
Ku lihat wajah Osyi yang sedikit berubah. Aku pun bertanya pada Osyi.
“Mm... Osyi, besok aku boleh ke rumahmu?” tanyaku.
“Bo... boleh saja... memangnya kau...”
“Aku ingin berbicara denganmu, penting.” Potongku.
“Tidak bersama Ernita?” tanya Osyi.
“Tidak..., aku hanya ingin berbicara denganmu saja.” Jelasku, lalu
pergi meninggalkan Osyi.
Esoknya, sepulang sekolah aku pergi ke rumah Osyi. Aku dan Osyi
segera memasuki kamarnya.
“Mau ngomong apa, Schell?” tanya Osyi.
“Ng... anu... begini... kamu... lagi suka sama orang ya? Jujur
saja... aku tidak akan membocorkannya.” Ujarku, pelan. Takut kalau – kalau Osyi
tersinggung. Osyi mendesah nafas panjang. “Maafkan aku Schell. Aku tidak pernah
cerita, jujur, dan terbuka denganmu dan Ernita karena aku takut... takut ini
jadi masalah yang menghancurkan persahabatan kita...” jawab Osyi, sendu.
“Ma... maksudnya? Ka... kamu suka sama kak Reva?” tanyaku, tak
percaya.
“Yaa... begitulah sekiranya.” Jelas Osyi.
“Karena itu kamu...”
“Iya, Schell. Aku cuma kepengen kak Reva tahu keberadaanku. Dia
gak perlu ngerti perasaanku. Selama ini, dia Cuma anggap aku adik kelas. Cuma
anggap aku bayangan, pengganggu dan sebagainya. Tapi dilain sisi, aku juga
menghargai persahabatan kita.” tangis Osyi.
“Karena itu kamu... sering menangis di kamar mandi?” tanyaku. Osyi
hanya mengangguk.
“Bukannya... bukannya... akhir – akhir ini kamu dekat sama kak Reva?”
tanyaku.
“Ya, dekat hanya karena kak Reva teman sekelas kakakku, kak Olin.
Jika tidak, aku... tidak akan sedekat ini dengannya. Tapi... aku senang sekali
ketika dia membalas mention dan SMS-ku. Percaya atau tidak, aku setiap online
via HP, aku selalu menyimpan mention, DM, atau pun SMS darinya selama ini.
Ketika aku sedih, ketika aku nyerah, mention, DM, atau SMS dari kak Reva bisa
membuatku semangat lagi. Maaf aku tak pernah cerita karena...”
“Aku tahu, Syi... aku akan merahasiakan hal ini dari Ernita. Aku
janji.” Potongku sambil memeluknya.
Sungguh, Osyi adalah sahabat yang baik karena dia menghargai
perasaan sahabatnya. Dia rela tidak bercerita pada kami hanya untuk menjaga
persahabatan kami. Yang penting baginya adalah sahabatnya bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar