Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 4

  Mana ada sih sebuah persahabatan tidak diikut sertakan dengan pertengkaran? Karena, sebuah persahabatan pasti pernah berbeda pendapat antara orang yang satu dengan yang lainnya. Atau mungkin… ada yang tersinggung? Semua bisa terjadi, walaupun persahabatan itu sangaaaaaaaat rukun. Karena, sebuah arti persahabatan tidaklah terucap jika tidak ada pertengkaran, karena pertengkaran membawa kita berusaha hidup lebih rukun. Juga, membuat kita mengintrospeksi diri, menyesal dan mengakui kesalahan masing - masing. Sama juga bila seorang sahabat berbeda pendapat dengan pendapat salah seorang sahabatnya. Seperti Rinda.

   “Eh, Lula! Fatimah! Gladis! Jangan baca isi diaryku yang halaman 110 ya! Soalnya… itu penting banget. Aku mau jajan dulu nih! Ada yang mau nitip makanan?” tanya Rinda.
   “Oke, aku mau nitip es krim 2 yang satu rasa cokelat-stroberi dan yang satunya lagi cokelat-vanilla ya!” kata Lula sambil menyerahkan uang Rp. 2.000 pada Rinda.
   “Oke, ada yang mau nitip lagi?” tanya Rinda.
   “Aku! Aku es teh manis dan dia jus jeruk.” Kata Gladis sambil menyerahkan uang Rp. 5.000-an.
   “Oke deh!” kata Rinda lalu berlalu.
   “Eh, kamu… penasaran gak sama diary Rinda halaman?” tanya Lula.
   “Aku penasaran, kamu?” tanya Gladis.
   “Penasaran juga, kita baca yuk!” usul Lula.
   “Jangan!” kata Fatimah sambil membaca buku.
   “Kenapa?”
   “Tak apa, yang penting, aku gak ikutan aja! Kalau ketahuan dia dan dia marah awas aja kalau aku kena!” kata Fatimah mencari aman.
   “Oke, kami tidak akan mengikut sertakan dirimu! Dasar pengecut! Weeek!” ujar Gladis menjulurkan lidah pada Fatimah sambil membuka buku diary Rinda halaman 110.

Persahabatanku
dengan Mereka

   Dear diary, aku punya sahabat, namanya ada Lula, Fatimah, dan Gladis. Suatu hari, aku sempat kesal dengan mereka.
   Saat itu, siang hari, kami berempat berenang di kompleksku. Saat itu, aku seperti tidak dihiraukan oleh mereka. Mereka malah asyik sendiri bertiga. Aku tidak dianggap apa – apa atau diajak main oleh mereka.
   Aku sedih, oleh sebab itu, tanpa sepengetahuan mereka aku memakai handukku dan pergi dari kolam renang kembali ke rumahku.
   Tak berselang lama setelah aku pulang, mereka datang sambil marah – marah padaku. Katanya mereka begini: “Kamu kenapa sih ninggalin kita bertiga sendiri di kolam renang? Kitakan takut! Lagipula, ini kan kompleksmu! Kalau kita ada apa – apa kamu mau tanggung jawab? Kamu ini tuan rumah macam apa sih?” omel Lula.
   Aku diam saja. Aku pun hanya menjawab: “Sori, tadi tiba – tiba perutku sakit jadi, aku pulang deh ke rumah!” kataku berbohong.
   Mereka tetap saja mengomel – omel gak keruan, aku tak menghiraukan omelan mereka. Udah gitu, mereka tidak mengakui kesalahan mereka lagi. Iiih… nyebelin en bete banget deh aku hari itu.
   Itulah hal terburuk yang pernah terjadi di persahabatanku dengan mereka. Aku berharap hal itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Amiin…
   Thanks
Rinda Mutiara Murni

   “Hm… apakah tadi aku sudah memperingatkan kalian?” tanya Rinda dengan muka kesal.
   “Eh, Rinda…” kata Lula tersentak kaget.
   “Apa maksudmu menulis kami menjengkelkan? Bukankah kamu sendiri yang meninggalkan kami?” tanya Gladis kesal.
   “Itu resiko kalian yang telah membaca diary-ku sembarangan, padahal aku sudah memperingatkannya!” ujar Rinda.
   “Tapi, kalau memang benar kau sahabat kami seharusnya jangan menulis nama kami dong! Di diarymu!” pekik Gladis.
   “Habisnya itu kan diary! Diary itukan cerita yang  benar terjadi dan kenyataan!” jawab Rinda.
   “Sudah! Sudah diam!!!” lerai Lula.
   “Dis, ini salah kita juga, seharusnya, kamu menerima dong! Itukan diary, lagi pula kan Rinda sudah memperingatkannya. Kitanya saja yang tak mau mendengar! Seharusnya, kamu harus siap dimarahi dan dikritik dong!” ujar Lula.
   “Ya deh La kamu benar juga siih…, Rind… Aku minta maaf ya!” ujar Gladis.
   “Ya, sama – sama, aku juga… terlalu sensi. Dan… salahku jugakan? Kalau aku gak mau diaryku dibaca kalian seharusnya, aku tidak menitipkannya pada kalian, jadi… aku juga minta maaf ya Dis, La, Tim. Sebenarnya, aku sayang kalian kok!” kata Rinda.

   Semua berpelukkan sambil menangis, di .situ mereka saling bermaafan satu sama lainnya. Indahnya sebuah persahabatan mereka yang diwarnai dengan kegembiraan, tawa suka ria tidak akan terhapus oleh pertengkaran dan masalah sepele yang diperbesar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar