Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 1

Di suatu desa, bela diri dilarang diikuti oleh perempuan, alasannya karena perempuan tidak boleh berperang, melainkan mengobati para pejuang yang terluka, sekarat hingga kalah bertarung. oh ya, perempuan biasanya menyiapkan makanan untuk para pejuang. Padahal, bela diri itu penting apalagi di zaman perang seperti itu. Bagaimana bila perempuan diserang? Mereka pasti juga akan mati bila tidak bisa bela dirikan? Makanya tak heran beberapa perempuan sebenarnya ingin ikut berbagai macam bela diri itu. Tapi mereka tidak berani melawan peraturan pemerintah di desa tersebut.

   Sementara itu di sebuah rumah pemilik kedai terkenal di desa itu, tampak kesibukan sebuah keluarga kecil.
   “Yuki! Bantu ibu! Sandy bantu ayah!” pekik ibu. Dengan langkah cepat, Yuki segera menuruni tangga dan menuju kios milik keluarganya. Kios milik keluarganya hanya terhubung oleh dapur milik keluarganya. Dapur itu sekaligus dapur untuk kios juga.
   Keluarga Yuki memang membuka kios makanan yang terkenal di desanya karena masakannya yang enak. Sudah sejak Yuki berumur 5 tahun kios itu dibuka. Keluarganya memang pandai memasak, jadi, tidak heran masakannya pasti enak.
   Tapi, tidak setiap hari pengunjung penuh ya… kadang – kadang saja. Namanya perdagangan, pasti pasang surut seperti air laut. Tidak hanya itu, nilai ulangan kita saja kadang dapat nilai baik kadang buruk. Itu namanya keseimbangan hidup. Lanjut ke cerita.
Yuki dan kak Sandy, kakaknya. sudah memasuki masa liburan. Jadi, selama libur dia tidak seperti anak – anak lain yang berpergian kemana saja, tapi dia selalu di kios membantu keluarganya. Dia merasa enjoy membantu dan melakukan hal itu. Saking terbiasanya, dia sudah bisa memasak beberapa makanan yang dijualnya.
Tapi, jika Yuki dan kak Sandy, masuk sekolah, orangtuanya dibantu oleh beberapa pegawai. Ada beberapa pengunjung kios dan beberapa pelanggan mengagumi Yuki dan Sandy. Karena jarang ada anak berumur 11 dan 12 tahun yang mau membantu kedua orangtuanya. Bila dipuji, Yuki selalu tersenyum malu dan berkata: “Hehehe… terimakasih…”
Hari itu, keluarga Yuki menerima pembeli yang lebih banyak dibanding biasanya. Jadi, keluarganya sangat sibuk menerima berbagai macam permintaan dari pembeli.
Menjelang sore, pembeli masih banyak. Padahal, biasanya kios Yuki akan tutup saat mahgrib karena mereka harus sholat mahrgib.
“Hh… kayaknya kita bakal kerja ekstra dan harus kerja lembur deh!” ujar ayah.
“Iya nih yah… ini saja baru setengah dari semua pelanggan. Hh… pasti bakal melelahkan.” Tambah kak Sandy.
“Sudahlah… jangan mengeluh. Tetaplah senyum semangat. Suatu pekerjaan jika dikerjakan dengan senang dan semangat tidak akan terasa dan justru tidak akan melelahkan mungkin malah jadinya senang.” Tegas Yuki.
“Iya, iya…” jawab kak Sandy.
“Sudah, sudah… lanjutlah bekerja! Bantu ayahmu Sandy!” perintah ibu.
“Iya bu!” seru mereka berdua berbarengan.
   Dengan bersemangat, mereka mengerjakan tugas mereka dengan cepat. Mereka bekerja tidak mengenal lelah. Dan dengan waktu yang cukup singkat para pembeli akhirnya bisa dilayani seluruhnya.
   “Hh… akhirnya selesai juga pekerjaannya. Nah, sekarang saatnya merapikan kios.” Perintah ayahnya. Semua keluarga Yuki membersihkan dan merapikan kios milik keluarga mereka.
   “Nah, sudah waktunya kios ditutup.” Seru ibu.
   “Anak – anak… sudah waktunya kalian sholat mahgrib, dari tadi pasti kalian belum sholat mahgrib kan?” tanya ayah.
   “Iya yah…” jawab Yuki dan Sandy bareng.
   “Eh, ngomong – ngomong… ayah dan ibu sendiri sudah sholat belum?” tanya Yuki.
   Ayah dan ibu menggeleng.
   “Hmm… gimana kalau kita sholat berjamaah aja! Hm… Kan pahalanya dua puluh tujuh kali lipat! Bagaimana? Setuju tidak?” usul Yuki.
   “Ide yang bagus!” puji ibu.
   Setelah itu mereka menuju kamar mandi dan dengan bergiliran mereka mengambil wudhu. Lalu mereka menuju kamar untuk mengambil perlengkapan sholat dan kembali menuju mushola keluarga.
   Keluarga Yuki memang memiliki mushola sendiri di dalam rumah yang selalu bersih dan terkena sinar matahari, walaupun kecil. Seusai sholat, mereka berdo’a dan berzikir. Setelah melipat perlengkapan sholat, mereka menuju ruang makan untuk makan.
   Yuki duduk di sebelah kak Sandy dan berhadapan dengan ibu. Sedangkan kak Sandy berhadapan dengan ayah.
   Ayah sudah duduk. Ibu sedang membuat makanan di dapur. Cukup lama juga Yuki menunggu, akhirnya ibu datang juga sembari menghidangkan usus ayan, tempe goreng, ati, ampela, empal, dan sayur kare.
   Semua anggota keluarga membaca do’a di dalam hati dan setelah itu mereka baru mulai memakan makanan yang disediakan.
   Seusai makan, anggota keluarga selalu mencuci piring masing – masing. Lalu mereka berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi atau sekedar mengobrol saja.
   Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Saatnya untuk Yuki dan kak Sandy tidur. Kamar Yuki dan kak Sandy berbeda.
   “Selamat tidur anak – anak…” seru ibu.
   “Selamat malam, bu...” jawab Yuki dan kak Sandy.
   “Have a nice dream, ya!” tambah ibu. Kali ini, Yuki dan kak Sandy hanya mengangguk karena sudah mengantuk.

   Lampu rumah pun dimatikan. Seketika rumah pun hening dan gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar