Di suatu desa,
bela diri dilarang diikuti oleh perempuan,
alasannya karena perempuan tidak
boleh berperang, melainkan mengobati para pejuang
yang terluka, sekarat hingga kalah bertarung.
oh ya, perempuan biasanya menyiapkan makanan untuk para pejuang.
Padahal, bela diri
itu penting apalagi di zaman perang seperti itu. Bagaimana bila perempuan diserang? Mereka pasti
juga akan mati bila tidak bisa bela dirikan? Makanya tak heran beberapa perempuan sebenarnya
ingin ikut berbagai macam bela diri itu. Tapi mereka tidak berani melawan
peraturan pemerintah di desa tersebut.
Sementara
itu di sebuah rumah pemilik kedai
terkenal di desa itu, tampak kesibukan
sebuah keluarga kecil.
“Yuki!
Bantu ibu! Sandy bantu ayah!” pekik ibu. Dengan langkah cepat, Yuki segera
menuruni tangga dan menuju kios milik keluarganya. Kios milik keluarganya hanya
terhubung oleh dapur milik keluarganya. Dapur itu sekaligus dapur untuk kios
juga.
Keluarga
Yuki memang membuka kios makanan yang terkenal di desanya karena masakannya
yang enak. Sudah sejak Yuki berumur 5 tahun kios itu dibuka. Keluarganya memang
pandai memasak, jadi, tidak heran masakannya
pasti enak.
Tapi,
tidak setiap hari pengunjung penuh ya… kadang – kadang saja. Namanya perdagangan,
pasti pasang surut seperti air laut. Tidak hanya itu, nilai ulangan kita saja kadang dapat nilai baik
kadang buruk. Itu namanya keseimbangan hidup. Lanjut ke cerita.
Yuki dan kak Sandy,
kakaknya. sudah memasuki masa liburan.
Jadi, selama libur dia tidak seperti anak – anak lain yang berpergian kemana
saja, tapi dia selalu di kios membantu keluarganya. Dia merasa enjoy membantu dan
melakukan hal itu. Saking terbiasanya, dia sudah bisa memasak beberapa makanan
yang dijualnya.
Tapi, jika Yuki dan kak
Sandy, masuk sekolah, orangtuanya dibantu oleh beberapa pegawai. Ada beberapa
pengunjung kios dan beberapa pelanggan mengagumi Yuki dan Sandy. Karena jarang
ada anak berumur 11 dan 12 tahun yang mau membantu kedua orangtuanya. Bila
dipuji, Yuki selalu tersenyum malu dan berkata: “Hehehe… terimakasih…”
Hari itu, keluarga Yuki
menerima pembeli yang lebih banyak dibanding biasanya. Jadi, keluarganya sangat
sibuk menerima berbagai macam permintaan dari pembeli.
Menjelang sore, pembeli
masih banyak. Padahal, biasanya kios Yuki akan tutup saat mahgrib karena mereka
harus sholat mahrgib.
“Hh… kayaknya kita
bakal kerja ekstra dan harus kerja lembur deh!” ujar ayah.
“Iya nih yah… ini saja
baru setengah dari semua pelanggan. Hh… pasti bakal melelahkan.” Tambah kak
Sandy.
“Sudahlah… jangan
mengeluh. Tetaplah senyum semangat. Suatu pekerjaan jika dikerjakan dengan
senang dan semangat tidak akan terasa dan justru tidak akan melelahkan mungkin
malah jadinya senang.” Tegas Yuki.
“Iya, iya…” jawab kak
Sandy.
“Sudah, sudah… lanjutlah
bekerja! Bantu ayahmu Sandy!” perintah ibu.
“Iya bu!” seru mereka
berdua berbarengan.
Dengan
bersemangat, mereka mengerjakan tugas mereka dengan cepat. Mereka bekerja tidak mengenal lelah. Dan
dengan waktu yang cukup singkat para pembeli akhirnya bisa dilayani seluruhnya.
“Hh…
akhirnya selesai juga pekerjaannya. Nah, sekarang saatnya merapikan kios.”
Perintah ayahnya. Semua keluarga Yuki membersihkan dan merapikan kios milik
keluarga mereka.
“Nah,
sudah waktunya kios ditutup.” Seru ibu.
“Anak
– anak… sudah waktunya kalian sholat mahgrib, dari tadi pasti kalian belum
sholat mahgrib kan?” tanya ayah.
“Iya
yah…” jawab Yuki dan Sandy bareng.
“Eh,
ngomong – ngomong… ayah dan ibu sendiri sudah sholat belum?” tanya Yuki.
Ayah
dan ibu menggeleng.
“Hmm… gimana kalau kita
sholat berjamaah
aja! Hm… Kan pahalanya dua puluh tujuh kali lipat! Bagaimana? Setuju tidak?”
usul Yuki.
“Ide
yang bagus!” puji ibu.
Setelah
itu mereka menuju kamar mandi dan dengan bergiliran mereka mengambil wudhu.
Lalu mereka menuju kamar untuk mengambil perlengkapan sholat dan kembali menuju
mushola keluarga.
Keluarga
Yuki memang memiliki mushola sendiri di dalam rumah yang selalu bersih dan
terkena sinar matahari,
walaupun kecil. Seusai sholat,
mereka berdo’a dan berzikir. Setelah melipat perlengkapan sholat, mereka menuju
ruang makan untuk makan.
Yuki
duduk di sebelah kak Sandy dan berhadapan dengan ibu. Sedangkan kak Sandy
berhadapan dengan ayah.
Ayah
sudah duduk. Ibu sedang membuat makanan di dapur. Cukup lama juga Yuki menunggu,
akhirnya ibu datang juga sembari menghidangkan usus ayan, tempe goreng, ati, ampela, empal,
dan sayur kare.
Semua
anggota keluarga membaca do’a di dalam hati dan setelah itu mereka baru mulai
memakan makanan yang disediakan.
Seusai
makan, anggota keluarga selalu mencuci piring masing – masing. Lalu mereka
berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi atau sekedar mengobrol
saja.
Jam
sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Saatnya untuk Yuki dan kak Sandy tidur.
Kamar Yuki dan kak Sandy berbeda.
“Selamat
tidur anak – anak…” seru ibu.
“Selamat malam, bu...” jawab Yuki dan kak Sandy.
“Have a nice dream, ya!” tambah ibu. Kali ini, Yuki dan kak Sandy
hanya mengangguk karena sudah mengantuk.
Lampu
rumah pun dimatikan. Seketika rumah pun
hening dan gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar