Di sebuah
kerajaan yang makmur, para warga dan pihak kerajaan mendapat berita gembira.
Karena cucu bungsu raja di kerajaan itu telah lahir. Tentu saja keluarga kerajaan sangatlah senang. Kakak kedua Sandara
yang bernama Sandra, ingin menamai adik bungsunya yaitu Sandara. Semua anggota
keluarga pun menyetujuinya.
Tak
lama setelah Sandara lahir, raja meninggal dunia. Penyebabnya belum jelas,
untuk sementara penyebabnya di duga akibat penyakit yang diidap beliau. Akibat
meninggalnya beliau, warga menjadi sangat sedih, bagaimana tidak sedih? Beliau
adalah raja yang baik, dan arif bijaksana. Berkat beliau, keadaan warga sekitar jadi aman,
tenteram, dan tidak ada yang hidup miskin. Selain itu, akibat meninggalnya sang raja, perekonomian
di negri tersebut jadi terganggu dan tidak stabil.
Akibat
kedua dari penyebab meninggalnya beliau adalah pihak kerajaan merebutkan harta
warisan dan tahta kerajaan. Ayahanda Sandara meributkan hal itu dengan adik
iparnya, ayahanda Jessica yang tak lain sepupu Sandara yang seumuran. Untuk
menghentikan keributan itu, mereka memanggil seorang peramal tua yang terkenal,
dan tak lain adalah teman raja atau kakek
Sandara.
Tibalah
hari yang dijanjikan sang peramal. Sang peramal pun mengatakan ramalan tentang
masa depan kerajaan.
“Saya
melihat seorang perempuan cilik yang pintar, baik, dan cantik yang akan membawa
kerajaan ini kembali makmur. Tapi, putri itu butuh perjuangan yang sangat besar
agar bisa menjadi putri menggantikan sang kakek. Dan putri itu adalah...” ucapan sang peramal
terputus.
Semua
hati rakyat dan pihak kerajaan berdegup kencang menanti keputusan sang peramal.
“Tuan
putri Sandara!!!”
Semua
rakyat bersorak gembira, hanya keluarga paman Sandara yang terdiam, mereka
menatap benci putri Sandara yang masih
bayi. Sepertinya mereka iri.
“Apakah
ada ramalan lainnya?” tanya tante Shareen,
tante Sandara kecewa.
“Hmm...
hanya saja, saya melihat seorang perempuan yang akhirnya tertangkap akibat
penculikan salah seorang putri.” omongan sang peramal kembali terputus.
“Apa?
Tidak mungkin! Siapa yang akan diculik? Dan siapa yang menculik?” tanya
ayahanda raja.
“Entahlah,
penglihatanku terputus. Yang jelas, pelaku itu terungkap oleh putri Sandara sendiri.” jelas sang peramal.
“Semoga saja ramalan itu tidak
benar.” gumam ayahanda raja.
Setelah
hari itu, raja hendak mengadakan pesta besar – besaran atas dilantiknya raja
baru. Raja mengundang semua warga untuk merayakan hari itu. Tanpa disadari
raja, pesta itu akan menjadi rencana jahat yang sangat jitu.
Suatu ketika, tante Shareen meminta salah seorang pengawalnya
untuk menemuinya di sebuah kastil rahasia miliknya. Karena pengawal itu adalah
pengawal setia dan kepercayaan kerajaan, tentu saja pengawal itu tidak
menolaknya.
Malam
itu, tante Shareen pergi menuju kastil rahasianya. Cukup lama ia menunggu prajurit itu datang.
“Masuk!”
Pengawal
setia putri pun masuk.
“Duduk!”
perintah tante Shareen.
Pengawal
itu pun duduk. “Terimakasih nyonya.”
Tante Shareen menyediakan teh hangat untuk pengawal itu.
“Terimakasih nyonya... tidak perlu repot – repot...” jawab
pengawal itu.
“Tak apa... tak perlu sungkan – sungkan...” jawab tante Shareen.
“Ada
apa nyonya? Mengapa hamba dipanggil kemari?” lanjut pengawal itu dengan sopan.
“Saya
punya rencana, dimalam perayaan itu, saya yang diminta menjaga putri Sandara
karena semua penjaga diminta menghadiri pesta. Disaat itulah pengawal bebas
keluar masuk istana, begitu pula dengan
para tamu undangan. Nah, kau bisa membawa putri
Sandara keluar dari istana. Saat sudah jauh dari istana, kau harus membunuhnya.
Yang penting dia harus menyingkir dari istana ini.” jelas tante Shareen.
Pengawal
itu tersentak kaget dengan rencana tadi. Jahat sekali dia, tega sekali hendak
membuang bahkan membunuh keponakannya sendiri? Aku saja yang bukan siapa – siapanya
tuan putri Sandara tidak pernah berniat seperti itu. Batin pengawal.
“Kalau boleh saya tahu, mengapa nyonya ingin membunuh tuan putri
Sandara?” tanya pengawal itu sedikit takut dan gugup.
“Hmm... bagaimana yaah? Begini, gara – gara kelahirannya lah tahta
yang seharusnya jatuh di tanganku justru jatuh ditangan keluarganya! Aku sangat
tidak sudi!” jelas tante Shareen.
“Maksud nyonya apa?” tanya pengawal itu, tak mengerti.
“Aku iri dengannya dan... yaah... keluarganya...” jelas tante
Shareen.
Pengawal itu dengan cepat menangkap apa maksud tante Shareen.
Namun pengawal itu ragu untuk melakukannya.
“Bagaimana,
apakah kau setuju?” tanya tante Shareen dengan tatapan jahat.
“Ng...
e... Entahlah nyonya... ha... hamba tidak tahu, ha... hamba baru ingat ada
tugas yang masih harus...”
“Saya
belum selesai bertanya! Jawab dulu! Bila tidak kau kerjakan, saya akan
memfitnahmu, bahkan memecatmu bila perlu! Dan terakhir... bila kau katakan hal
ini pada seseorang... maka... aku tidak akan segan – segan untuk...
membunuhmu...” bentak tante Shareen tak sabar.
Membuat pengawal itu
takut dan tak bisa berkutik. Saking takutnya, pengawal tersebut tak bisa
bergerak bahkan bersuara. Pengawal itu yang
tadinya sudah berdiri segera duduk.
“B...
B... ba... baik... a.. a... akan... s... s... sa... sa... ya... la... la...
kukan p... pe... pe... permintaan nyo...
nyo... nyonya...” jawab pengawal itu tergagap – gagap karena takut.
“Baik,
kamu boleh keluar.” tante Shareen mulai bisa tenang dan tersenyum licik dengan tatapan kemenangan.
“Ba...
baik nyonya... sa... saya permisi dulu...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar