Jumat, 10 Oktober 2014

Putri Sandara Part 1

   Di sebuah kerajaan yang makmur, para warga dan pihak kerajaan mendapat berita gembira. Karena cucu bungsu raja di kerajaan itu telah lahir. Tentu saja keluarga kerajaan sangatlah senang. Kakak kedua Sandara yang bernama Sandra, ingin menamai adik bungsunya yaitu Sandara. Semua anggota keluarga pun menyetujuinya.

   Tak lama setelah Sandara lahir, raja meninggal dunia. Penyebabnya belum jelas, untuk sementara penyebabnya di duga akibat penyakit yang diidap beliau. Akibat meninggalnya beliau, warga menjadi sangat sedih, bagaimana tidak sedih? Beliau adalah raja yang baik, dan arif bijaksana. Berkat beliau, keadaan warga sekitar jadi aman, tenteram, dan tidak ada yang hidup miskin. Selain itu, akibat meninggalnya sang raja, perekonomian di negri tersebut jadi terganggu dan tidak stabil.
   Akibat kedua dari penyebab meninggalnya beliau adalah pihak kerajaan merebutkan harta warisan dan tahta kerajaan. Ayahanda Sandara meributkan hal itu dengan adik iparnya, ayahanda Jessica yang tak lain sepupu Sandara yang seumuran. Untuk menghentikan keributan itu, mereka memanggil seorang peramal tua yang terkenal, dan tak lain adalah teman raja atau kakek Sandara.
   Tibalah hari yang dijanjikan sang peramal. Sang peramal pun mengatakan ramalan tentang masa depan kerajaan.
   “Saya melihat seorang perempuan cilik yang pintar, baik, dan cantik yang akan membawa kerajaan ini kembali makmur. Tapi, putri itu butuh perjuangan yang sangat besar agar bisa menjadi putri menggantikan sang kakek. Dan putri itu adalah...” ucapan sang peramal terputus.
   Semua hati rakyat dan pihak kerajaan berdegup kencang menanti keputusan sang peramal.
   “Tuan putri Sandara!!!”
   Semua rakyat bersorak gembira, hanya keluarga paman Sandara yang terdiam, mereka menatap benci putri Sandara yang masih bayi. Sepertinya mereka iri.
   “Apakah ada ramalan lainnya?” tanya tante Shareen, tante Sandara kecewa.
   “Hmm... hanya saja, saya melihat seorang perempuan yang akhirnya tertangkap akibat penculikan salah seorang putri.” omongan sang peramal kembali terputus.
   “Apa? Tidak mungkin! Siapa yang akan diculik? Dan siapa yang menculik?” tanya ayahanda raja.
   “Entahlah, penglihatanku terputus. Yang jelas, pelaku itu terungkap oleh putri Sandara sendiri.” jelas sang peramal.
   “Semoga saja ramalan itu tidak benar.” gumam ayahanda raja.
   Setelah hari itu, raja hendak mengadakan pesta besar – besaran atas dilantiknya raja baru. Raja mengundang semua warga untuk merayakan hari itu. Tanpa disadari raja, pesta itu akan menjadi rencana jahat yang sangat jitu.
   Suatu ketika, tante Shareen meminta salah seorang pengawalnya untuk menemuinya di sebuah kastil rahasia miliknya. Karena pengawal itu adalah pengawal setia dan kepercayaan kerajaan, tentu saja pengawal itu tidak menolaknya.
   Malam itu, tante Shareen pergi menuju kastil rahasianya. Cukup lama ia menunggu prajurit itu datang.
   “Masuk!”
   Pengawal setia putri pun masuk.
   “Duduk!” perintah tante Shareen.
   Pengawal itu pun duduk. “Terimakasih nyonya.”
   Tante Shareen menyediakan teh hangat untuk pengawal itu.
   “Terimakasih nyonya... tidak perlu repot – repot...” jawab pengawal itu.
   “Tak apa... tak perlu sungkan – sungkan...” jawab tante Shareen.
   “Ada apa nyonya? Mengapa hamba dipanggil kemari?” lanjut pengawal itu dengan sopan.
   “Saya punya rencana, dimalam perayaan itu, saya yang diminta menjaga putri Sandara karena semua penjaga diminta menghadiri pesta. Disaat itulah pengawal bebas keluar masuk istana, begitu pula dengan para tamu undangan. Nah, kau bisa membawa putri Sandara keluar dari istana. Saat sudah jauh dari istana, kau harus membunuhnya. Yang penting dia harus menyingkir dari istana ini.” jelas tante Shareen.
   Pengawal itu tersentak kaget dengan rencana tadi. Jahat sekali dia, tega sekali hendak membuang bahkan membunuh keponakannya sendiri? Aku saja yang bukan siapa – siapanya tuan putri Sandara tidak pernah berniat seperti itu. Batin pengawal.
   “Kalau boleh saya tahu, mengapa nyonya ingin membunuh tuan putri Sandara?” tanya pengawal itu sedikit takut dan gugup.
   “Hmm... bagaimana yaah? Begini, gara – gara kelahirannya lah tahta yang seharusnya jatuh di tanganku justru jatuh ditangan keluarganya! Aku sangat tidak sudi!” jelas tante Shareen.
   “Maksud nyonya apa?” tanya pengawal itu, tak mengerti.
   “Aku iri dengannya dan... yaah... keluarganya...” jelas tante Shareen.
   Pengawal itu dengan cepat menangkap apa maksud tante Shareen. Namun pengawal itu ragu untuk melakukannya.
   “Bagaimana, apakah kau setuju?” tanya tante Shareen dengan tatapan jahat.
   “Ng... e... Entahlah nyonya... ha... hamba tidak tahu, ha... hamba baru ingat ada tugas yang masih harus...”
   “Saya belum selesai bertanya! Jawab dulu! Bila tidak kau kerjakan, saya akan memfitnahmu, bahkan memecatmu bila perlu! Dan terakhir... bila kau katakan hal ini pada seseorang... maka... aku tidak akan segan – segan untuk... membunuhmu...” bentak tante Shareen tak sabar.
Membuat pengawal itu takut dan tak bisa berkutik. Saking takutnya, pengawal tersebut tak bisa bergerak bahkan bersuara. Pengawal itu yang tadinya sudah berdiri segera duduk.
   “B... B... ba... baik... a.. a... akan... s... s... sa... sa... ya... la... la... kukan p... pe... pe... permintaan nyo...  nyo... nyonya...” jawab pengawal itu tergagap – gagap karena takut.
   “Baik, kamu boleh keluar.” tante Shareen mulai bisa tenang dan tersenyum licik dengan tatapan kemenangan.

   “Ba... baik nyonya... sa... saya permisi dulu...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar